Saya Membaca Maka Saya Cantik

Cinta Bersemi kepada buku

Saya beruntung memiliki lingkungan yang mencintai buku sejak kecil. Umur saya belum genap 5 tahun saat keluarga sepupu saya mendirikan perpustakaan kecil yang disewakan kepada para tetangga dan teman-teman. Koleksinya tidak banyak namun antusiasme bocah-bocah di sekitar lumayan seingat saya. Rumahnya ramai oleh peminjam.

Ada satu  buku anak hitam putih kecil yang menceritakan tentang cita-cita yang selalu saya lihat-lihat.

“Pinjam di sini saja, tak usah dibawa pulang, Dek,” ujar saudara saya selalu ketika saya menginginkan buku itu.  Masih ingat betul, ada gambar dokter cilik yang mengesankan saya.

Tidak ada kenangan yang terekam tentang buku ketika saya masuk bangku sekolah dasar hingga di kelas 5 SD, ada siswa baru datang ke sekolah.  Perempuan cantik nan lembut itu putri seorang camat baru yang akan memerintah kecamatan tempat saya tinggal.  Saya tidak ingat bagaimana prosesnya saya bisa satu kelompok belajar dengannya.  Kerap bertandang ke rumahnya, saya jadi tahu ia memiliki koleksi buku-buku Trio Detektif, Lima Sekawan, STOP, dan detektif cilik yang lengkap. Beruntung  saya boleh meminjam buku-buku itu. Hampir seluruh buku Trio Detektif, Lima Sekawan, dan STOP saya pinjam secara bergiliran dengan teman. Dia hanya tidak membolehkan buku Detektif Cilik untuk dipinjam.

Begitu gandurngnya saya dengan persahabatan antara Jupiter c.s  saya sampai berkhayal memiliki buku yang sama. Sekarang, saya sering takjub. Di kelas 6 saya bisa memulai menulis. Ini cerita detektif pertama yang saya tulis, sederhana sekali. Dengan tulisan tangan, bahkan untuk format penulisannya pun saya mirip-miripkan dengan novel  :D. Sayangnya, produktifitas hanya berlangsung singkat.

my book5

Masa SMP, tidak banyak buku yang saya baca, sebab aksesnya begitu terbatas. Perpustakaan sekolah tidak banyak menyediakan buku cerita yang saya inginkan. Baru di SMU, gairah untuk membaca kembali meluap. Ada seseorang yang memperkenalkan dunia sastra kepada saya. Pak Widi, guru Bahasa Indonesia terbaik yang pernah saya miliki.

Guru itu terkenal eksentrik.  Sebelum saya masuk SMU tempat beliau mengajar, saya telah mengenalnya dari kakak  yang terlebih dahulu belajar di sana. Kecintaan beliau pada sastra ditularkannnya pada anak-anak didiknya. Pelajaran sastra di kelas tak berhenti pada tataran teori.  Beliaulah yang membuka lebar jendela pengetahuan sastra. Sastra itu memanusiakan manusia, ujarnya selalu, begitu lekat dalam ingatan. Kesadaran sebagai manusia bisa tumbuh dari membaca sebuah karya sastra. Tersurat atau tersirat, ada hikmah dan  pencerahan termaktub di dalamnya. Beliau selalu menyinggung karya-karya sastra master piece dari pengarang-pengarang yang dimiliki Indonesia: Belenggu karya Arjmin Pane, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Kemarau dan Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, Atheis karya  Achdiat Kartamihardja, karya-karya Balai Pustaka yang lain, juga majalah sastra Horison yang sering dibawanya ke kelas. Sedikit yang diungkapnya menimbulkan rasa ingin tahu. Saya ingin menyelaminya sendiri, mendapatkan lebih dari yang diceritakan guru. Maka perpustakaan menjadi ruang yang asyik untuk diakrabi meskipun untuk ukuran perpustakaan sekolah, perpus sekolah waktu itu masih terbilang kecil. Ruang bukunya mungil memang, tapi saya tak bisa menafikan ruang yang selalu disebut pak Widi sebagai jantung sekolah. Setiap istirahat, tak hanya meminjam mengembalikan buku-buku sastra yang menjadi koleksi perpus, saya juga selalu menantikan cerita bersambung berjudul “Area-X” dari majalah Horison yang ditulis seorang siswi SMU Taruna Nusantara Magelang. Pada tanggal-tanggal majalah Horison terbit, begitu bel tanda istirahat berbunyi, saya selalu mengambur ke perpustakaan, takut majalah itu sudah jatuh ke tangan orang lain.

Pada Widi kerap menugaskan kepada kami untuk menganalisis karya, bahkan membuat resensinya. Tugas yang dulu bagi kami terasa berat itu namun seru untuk dijalani.

Duduk di kelas 3 SMU saya memiliki seorang teman kutu buku. Sebut saja D. Dari D inilah saya kadang mendapatkan buku-buku yang tidak tersedia di perpustakaan. Diskusi buku menjadi topik menarik di sela-sela pelajaran. D pula yang memperkenalkan saya pada sastrawan yang membuat saya kagum pada baris- baris kata yang diciptanya: Sapardi Djoko Damono.

Di SMU mimpi saya bermula, mimpi untuk menyelami buku. Mimpi untuk menjadi bagian dari sejarah, meninggalkan jejak hidup lewat tulisan. Buku memberikan motivasi bagi saya hingga ketika tiba peluang untuk menulis, beberapa kali saya mengikutinya. Meski berwujud karya keroyokan, nama saya nyantol di beberapa buku yang diterbitkan secara indie. Sebuah titik awal. Titik yang saya yakin akan terus bertambah menjadi sebuah garis.

beberapa antologi yang memuat karya saya.

Menularkan Virus

 Suatu malam, seorang teman, sebut saja A,  menelpon. Setelah ngobrol sana-sini, pada akhirnya ia mengaku, “ dulu sama sekali nggak suka baca. Pegang buku  5 menit pertama mencoba membaca, 5 menit berikutnya tidur.”

Sekarang? Sohib saya menceritakan teman tersebut, bersemangat, “say, aku lihat ia baca buku! Waaa… mas A baca buku?” sohib saya melihatnya seperti sebuah keajaiban. Ia juga pernah exited bercerita kepada saya, si A jalan-jalan ke toko buku lho, beli buku!

Tentu waktu itu saya tersenyum senang. Perkenalan saya dengan A  menjangkitkan virus baca. Ia yang mulanya begitu asing dengan buku mulai berkenalan dan jatuh cinta. Ia yang pada mulanya mengikuti ‘kajian-kajian’ Cak Nun secara live di Yogya, mulai mengeja kata-kata Cak Nun dalam buku. Ia mengenal saya sebagai penyuka baca. Ia mulai tertarik pada apa yang menarik hati saya. Lebih-lebih, sebagai pencinta dan orang fotografi, ia bisa memadukan foto dengan kata-kata. Saya bahagia bisa meninggalkan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Berharap, ia pun menularkan virus tersebut pada orang-orang yang dicintainya.

Suami saya adalah orang berikutnya yang terjangkit virus membaca. Beberapa hari setelah menikah, ia mulai melihat koleksi buku saya. Saya waktu itu mempromosikan Kitab Omong Kosong karya  Seno Gumira Ajidarma. Ia terpukau oleh paragraf-paragraf yang diracik SGA, tenggelam dalam rekontruksi Ramayana seperti terninabobokan oleh dongeng. Selesai membaca buku itu, dibawanya pulang ke rumah suami. Bapak tertarik.

Selesai buku SGA, lanjut buku berikutnya. Suami seperti menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang dulu baru dikenalnya sambil lalu, kini begitu menenggelamkan. Saya mengajak jalan-jalan ke perpustakaan dan toko buku. Selalu ada buku yang dibawa pulang. Sejak saat itu, saya sering melihat bapak membaca buku. Suami memabaca buku. Bergilir buku baru atau buku yang baru dibawa dari perpustakaan. Rekor membaca yang dilakukan suami adalah saat saya hamil. Ia bisa membaca 1000an halaman e-book gara-gara tergila-gila pada cersil Bende Mataram.       Mulanya ia pinjam di perpustakaan, semakin penasaran,ia mencarinya dari internet.

Begitu Janitra lahir, tidak lama saya menularkan virus membaca pada anak saya. Belum usia enam bulan, saya sudah membacakan cerita untuknya. Ketika jarinya sudah bisa memegang, salah satu “mainan” yang saya berikan padanya adalah boardbook. Memberikan boardbook padanya saya tidak perlu khawatir buku itu akan robek atau rusak. Beberapa boardbook saya berikan dan Janitra senang.

Semakin bertambah usia, koleksi buku Janitra semakin bertambah,tidak hanya boardbook. Janitra saya perkenalkan dengan perpustakaan dan toko buku. Dia selalu bersemangat dan ceria bermain di dua tempat itu. Apalagi di perpustakaan Kota Magelang, memang ada ruangan khusus untuk anak, tempat anak-anak bisa membaca dan bermain.

Image010

Memperkenalkan perpustakaan sejak dini

IMG-20151017-00182

di toko buku sepulang kondangan, bapak asyik memilih buku, Janitra asyik selpi 😀

 

Dari keluarga, saya tularkan virus tersebut ke sekolah, khususnya di kelas saya. Di kelas 5 tahun lalu, saya mulai adakan program tantangan membaca seperti di Goodreads. Ide itu saya dapatkan setelah mengikuti acara seminar Satria Darma di Untid Magelang. Bapak Satria Darma adalah sosok yang rajin mengkampanyekan literasi dan  membaca dari daerah ke daerah di seluruh Indonesia. Pada saat seminar ia banyak bercerita tentang kota literasi Surabaya.

Sepulang dari mengikuti acara itu, saya segera membuat kartu tantangan baca. Dengan buku seadanya di kelas, juga pinjaman buku dari koleksi pribadi yang saya bawa ke sekolah setiap pekannya, alhamdulillah program tersebut berjalan. Hanya saja, saya harus merelakan buku koleksi pribadi saya hilang di kelas. Ini dia kartu-kartu baca dan daftar bacaan anak-anak.

Apa yang saya lakukan diikuti oleh suami. Kampanye baca mula-mula dicanangkan pada beberapa anak yang les di rumah. Buku-buku anak koleksi saya keluarkan untuk mereka pinjam. Kami juga ajak mereka di perpustakaan kota Magelang. Kebetulan ada event Festival buku di Magelang di gedung yang sama dengan perpustakaan. Hari itu jadi hari yang berkesan buat anak-anak. Kami menyebut sendiri anak-anak itu dengan club buku Janitra. Impian kami adalah membuat perpustakaan Janitra dan komunitas baca.

klub buku Janitra di Festival Buku Magelang

IMG-20151108-00206

klub buku Janitra, membaca sambil bermain di perpus kota

Tak cukup di rumah, suami juga mulai membuat tantangan baca di kelasnya. Berbekal kartu yang saya buat, suami mengkopi  kartu tersebut dan membagikannya kepada anak-anak. Agaknya, persaingan di kelasnya cukup ketat. Satu murid les yang kebetulan ada di kelasnya sampai dibuat keder dan sempat menurunkan mood membacanya :D. Untungnya, kini semangat anak-anak itu mulai kembali. Saya kerap mengecek buku peminjaman. Ada kepuasan tersendiri ketika anak-anak mulai menyukai karya-karya klasik yang bukunya pun sudah menguning.

IMG-20160129-00327

buku-buku untuk tantangan membaca klub buku Janitra

 

Di keluarga kami, koleksi buku kami semakin bertambah. Saya tidak lagi sendiri bermimpi.Mimpi saya untuk memiliki perpustakaan pribadi.  Ada suami, anak saya, dan mbah kakung Janitra yang diam-diam mendukung impian kami.

PhotoGrid_1414045845454

Surabaya Kota Literasi

Sayangnya, minat baca yang ada di lingkungan keluarga saya belum tentu terjadi juga di keluarga lain di Indonesia. Minat baca masyarakat  kita masih rendah hingga ada tragedi di Indonesia yang dikenal dengan tragedi 0 baca. Kampanye baca di Indonesia juga belum terbilang marak. Belum semua sekolah di Indonesia memperkenalkan buku kepada siswanya. Pelajaran Bahasa Indonesia yang idealnya bisa memperkenalkan literasi kepada siswa nyatanya belum sepenuhnya melakukan hal itu. Guru Bahasa Indonesia saya pernah menyampaikan, banyak sekolah yang meletakkan sastra dipojok, dipelajari baru dalam tataran menghafal.

Tragedi 0 baca di Indonesia mungkin tidak akan terjadi kalau kota-kota di Indonesia, bahkan pemerintah Indonesia menerapkan apa yang Bu Risma lakukan di Surabaya. Dalam acara yang saya hadiri di Untidar Magelang seperti yang saya ceritakan di atas, Bapak Satria Darma berbagi pengalaman dan inspirasi dari kota Surabaya. Kebetulan saya duduk di samping istri beliau, jadi sesekali saya bisa bertanya banyak kepada beliau. Gerakan yang dicanangkan di kota Surabaya adalah Gerakan Budaya Literasi.

Seluruh sekolah sudah ditaken kontrak  oleh walikota, Ibu Risma.  Seluruh kepala sekolah di Surabaya memang dikumpulkan untuk taken kontrak menjalankan program Gerakan Budaya Literasi. Untuk menjalankan program tersebut tidak butuh dana. Yang penting adalah kemauan dari sekolah dan kerja sama dengan wali murid, seperti yang dikatakan ibu Satria Darma. Yang pertama kali dilakukan adalah sosialisasi dari sekolah kepada wali murid.   Menurut beliau, tidak sulit meminta orang tua membelikan satu buku untuk anaknya. Kalau tiap anak di sekolah membawa satu buku ke sekolah, sudah berapa buku yang bisa dibaca siswa. Mereka bisa bertukar buku.

Dua sekolah yang dijadikan contoh oleh Bapak Satria Darma dalam acara tersebut adalah SMAN 5 dan SMAN 21 Surabaya.

SMAN 5 punya priogram membaca rutin  antara lain:

-Siswa diwajibkan  membeli buku bacaan (novel)

-Siswa membaca setiap hari (silent reading) pada awal jam sekolah (15 menit sebelum jam ke-1). Kegiatan ini dikoordinir oleh kelas dan diawasi oleh guru.

-Setiap selesai membaca siswa diwajibkan menuliskan buku, judul, pengarang, dan penerbit serta membuat sinopsis dari buku yang dibaca.

-Buku yang telah dibaca akan disumbangkan ke perpsutakaan.

Target dan jumlah buku yang dibaca  oleh siswa SMAN 5 bulan Juli—Agustus 2012 adalah setiap anak dalam 1 bulan membaca 2 buku dan satu sekolah  membaca 3000 buku setiap tahun. Jumlah keseluruhan buku yang terbaca adalah 1.851 buku dalam jangkan waktu 2 bulan. Waw… bukan?

Tak kalah menarik adalah fenomena yang terjadi di SMA 21 Surabaya. Sekolah tersebut mengadakan lomba perpustakaan kelas bekerja sama dengan Baperpusip Kota Surabaya. Kelas yang menang akan mendapatkan hadiah dari Baperpusip Kota Surabaya. Penilaian pada jumlah dan jenis koleksi, pengorganisasian buku, susunan pengurus, program baca buku, pengorganisasian peminjaman dan hasil baca buku, keindahan, dll. Buku yang dilombakan adalah buku siswa-siswa sendiri, bukan buku perpustakaan sekolah.

Tantangan membaca seperti di Goodreads.com juga berlaku di Surabaya. Setiap siswa SMALA Surabaya ditantang membaca 12 buku sastra dari Juli 2014—1 Maret 2015. Sekolah berkerja sama dengan UNAIR dan UNESA dalam menyediakan daftar Wajib Baca buku sastra. Sekolah  bekerja sama dengan komite sekolah akan menyediakan buku Wajib Baca tersebut. Siswa yang berhasil menyelesaikan tantangan akan mendapatkan sertifikat “Reading Award” dari Walikota Surabaya.

Menarik sekali apa yang dilakukan di kota Surabaya. Seharusnya, pemerintah Indonesia menerapakan program-program semacam itu di Indonesia. Kalau setiap walikota di Indonesia, bahkan presiden kita mencanangkan seperti yang dicanankan bu Risma, kita bisa membayangkan masa depan Indoesia seperti apa.

Buku dan Cantik

Hobi  membaca yang saya lakukan membawa saya pada satu majalah yang memberi wawasan baru bagi saya. Ada artikel menarik yang pernah saya baca dari  majalah Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H. Begitu menarik sehingga saya mengetik ulang dan menyimpannnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis bisa memotivasi para perempuan untuk membaca. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah.

Pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilahyang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen.

Jadi para perempuan, para pembaca budiman,  masih malas untuk membaca?

Membaca buku tidak hanya kekinian, tapi kebutuhan. Pilihan buku di Indonesia saat ini sangat beragam. Penerbit-penerbit baru bermunculan memenuhi selera pembaca Indonesia. Lebih-lebih  sekarang ada penerbit buku perempuan yang akan memanjakan para perempuan dengan buku-buku sesuai kebutuhan para perempuan Indonesia. Stiletto Book hadir untuk menjawab kebutuhan wanita Indonesia dengan ragam tema yang  akan membantu perempuan menjawab tantangan jaman. Selain  menawarkan buku fiksi karya perempuan bertema perempuan,  bekal pengetahuan yang ditawarkan buku-buku nonfiksi Stiltto Book tidak hanya membuat perempuan smart dan sexy sebagimana tagline penerbit Stiletto, tapi juga membantu peran perempuan bagi keluarga dan lingkungannya.

Jadi tunggu apa lagi?  Jadilah smart dan seksi dengan buku!

Image5145

 

T

ulisan ini dikutkan dalam LOMBA BLOG ULANG TAHUN KELIMA PENERBIT STILETTO BOOK” 

stiletto book

 

nama  : Sayekti Ardiyani
twitter: @sayektiardiyani
fb        : Sayekti Ardiyani
email  : firstyjl6@gmail.com

Iklan

6 pemikiran pada “Saya Membaca Maka Saya Cantik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s