3 ODGJ dalam Kenangan Masa Kecil

Bercerita tentang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dalam kehidupan saya sama halnya dengan mengenang masa kanak-kanak. Dalam pengalaman saya, ODGJ sering berseliweran di pasar. Kebetulan tempat tinggal saya berada di belakang pasar dan dekat dengan terminal. Praktis setiap hari saya harus melewati dua tempat itu setiap pergi dan pulang sekolah.

Sosok ODGJ  sering saya jumpai di sekitara pasar maupun terminal, namun ada 3 ODGJ yang mengendap dalam kenangan masa kecil saya:Thongthong, Tun, dan Mu’ilah. Ketiganya meninggalkan kesan unik tersendiri buat saya, dan saya yakin juga buat orang-orang di daerah tempat tinggal saya.

Yang paling sedikit kenangannya adalah Mu’ilah. Sosok ODGJ ini banyak dibicarakan orang. Konon, ia memiliki anak yang cantik. Namun mengapa ia tega membiarkan ibu berkeliaran di pasar? Entahlah. Setiap kali berada di pasar Mui’lah sering saya lihat duduk atau berdiri di dekat los pasar. Mu’ilah biasa makan dari belas kasihan para pedagang pasar. Mu’ilah yang saya kenal adalah sosok ODGJ yang cenderung diam, tak banyak bertingkah macam-macam, dan jarang berkomunikasi. Ia sebenarnya bukan sosok yang harus dihindari. Namun, bagi saya bertemu dengan ODGJ secara langsung tetap hal yang mendebarkan. Riwayat Mu’ilah habis terhanyut di sungai di suatu musim hujan.

Mu’ilah berbeda dengan Tun. Tun bagi anak-anak seusia saya ketika SD adalah seseorang yang bisa memacu adrenalin ketika mendekatinya. Lebih dari itu, Tun bagi saya adalah teror.  Saat tersebar kabar Tun berkeliaran, saya harus waspada setiap kali pergi dan pulang sekolah. Begitu dari kejauhan Tun saya lihat sedang berjoget di dekat toko kaset atau terminal, saya memilih pulang sekolah melewati jalur yang berbeda.  Saat seperti itu bagi saya menjadi momen yang menakutkan. Mirisnya, saat Tun berjoget justru menjadi tontonan menarik bagi orang-orang dewasa.

Tun bagi kami sudah menjelma ‘mitos’ ODGJ yang suka mengamuk dan mengejar. Saya pulang sekolah diliputi ketengangan, dihantui khayalan kalau Tun mendadak muncul dan mengejar. Atmosfer waktu itu campur aduk, antara rasa penasaran, takut, dan seru untuk dibicarakan. Sering kami dengar Tun mengamuk.  Kabar kabur semacam itu seperti bumbu yang mewarnai kisah tentang Tun. Saya sendiri belum pernah menyaksikan Tun bertingkah seperti cerita yang saya dengar. Bagaimana mau melihat, mendekat saja saya tidak punya nyali. Teror itu menghantui saya karena sewaktu kecil, kami mudah percaya dengan cerita-cerita yang terdengar seru namun menegangkan.

Klimaks dari teror itu datang ketika Tun mengunjugi dusun tempat saya tinggal, bahkan berkeliaran di pekarangan rumah saya. Sontak para tetangga heboh dan keluar berkerumun. Saya sendiri tidak berani keluar rumah. Terperangkap dalam rasa takut, alih-alih ikut berkerumun dengan orang-orang sehingga merasa aman. Diliputi ketegangan, saya menyaksikan Tun dari balik jendela rumah. Tun memetik labu yang mulai membesar di pekarangan samping  dan melemparkannya di parit sebelah rumah.  Orang-orang, termasuk bapak, hanya berani mengusir dan mengarak beramai-ramai.

Bagi kami, Tun harus berada jauh-jauh karena mengganggu ketentraman. Selalu, ketika ada ODGJ asing masuk kampung, ketentraman kami terusik. Sejak kejadian itu, sosok Tun mendadak hilang. Ia meninggalkan jejak dalam ingatan masa kanak-kanak saya.

Kalau Tun adalah semacam ancaman bagi orang kampung, berbeda dengan Thonthong.  Thonthong tinggal di kampung tempat tinggal saya.  Ia sudah menjadi bagian dari keseharian orang-orang kampung.  Bagaimana sejarah Thonthong saya tidak mengenalnya. Konon Thonthong bukan nama sebenarnya. Ia berasala dari Salatiga dan terbuang dari keluarganya.  Saya tidak ingat, tahu-tahu Thongtong begitu saja ada dalam lingkungan tempat saya tumbuh.

De Marie, sepupu bapak (Bude kami panggil dengan singkat, de), menyediakan teras rumahnya sebagai tempat tinggal Thonthong. Sebenarnya, beliau tidak keberatan jika Thonthong tidur di ruangan paling belakang dari rumahnya. Namun Thonthong  menolak. Lagipula, ia yang sering berkeliaran malam-malam,  semaunya keluar masuk rumah dan membahayakan keamanan rumah. Pintu bisa saja ditinggalkannya terbuka. Thonthong makan dan minum dari jatah harian de Marie yang pemurah. Sering saya dapati segelas teh dan bubur di teras samping rumahnya. Ia juga mendapatkan makanan dari orang-orang pasar dan tetangga yang punya welas asih terhadap ODGJ.

Thontong seperti sahabat bagi anak-anak. Kami sering menyapanya, “seko ngendi Thong?” (dari mana Thong?)  Ia yang gagu ketika berbicara hanya menjawab dengan eee… sembari menunjukkan pasar atau tempat dari mana ia bertandang. Di tangannya sering kali ada kresek berisi makanan. Thontong juga bercerita dengan bahasa tubunya, ia baru saja mendapat makanan dari tetangga. Jika tidak berjalan-jalan, ia akan duduk di teras rumah de Marie. Kami akan bertanya apa saja dan ia akan bercerita dengan caranya sendiri.

Melihat Thonthong berseliweran bukan gangguan bagi kami. Ia paling suka dengan anak-anak kecil (balita).  Ia gemar menyapa dan menggoda (ngliling dalam  bahasa Jawa) anak kecil yang ditemuinya. Saat saya bermain dengan ponakan yang masih balita, Thongthong akan berhenti dan ngliling dengan bahasa wajah dan suara-suara dari mulutnya. Tentu, mendapat lilingan dari Thonthong para balita akan terkekeh. Thontong akan semakin senang melakukannya.

Kalau ia seorang yang normal, mungkin ia akan fasih ketika menjadi guru TK.  Barangkali ia akan menjadi sosok yang keibuan.  Karakter cinta anak-anak inilah yang dikenang oleh orang-orang.

Sayangnya, Thonthong yang dekat dengan anak-anak bisa berubah marah ketika ada segorombolan anak yang muncul keisengannya. Mereka akan menggoda Thonthong dengan lagu, Thong diundang mbokmu… Thong diundang mbokmu. Begitu seterusnya sampai Thonthong marah, menangis meraung-raung, dan mengambil sebuah batu.  Uniknya, ia melempar batu dari bawah dan titis (tepat).

Kami merasa kehilangan Thonthong ketika mendadak Thonthong hilang dari peredaran. Kemana dia? Kami bertanya-tanya.  Perihal hilangnya Thonthong menjadi bahan pembicaraan selama berhari-hari.  Semacam ada harapan Thongthong akan kembali. Bagaimana pun, ia telah menjadi bagian dari keseharian warga Rejosari.  Thongthong menjadi sejarah  sosok ODGJ yang dekat dengan anak-anak di dusun kami. Sama dengan Tun, kisahnya hilang begitu saja bersamaan dengan kepergiannya.

Ketiga ODGJ di atas adalah orang-orang yang terbuang dari keluarganya.  Kebanyakan keluarga yang memiliki anggota ODGJ namun tidak dibawa ke rumah sakit alasannya karena biaya. Apakah ketiga orang di atas mengalami hal yang sama? Mungkinkah keluarganya malu memiliki anggota keluarga seperti itu? Entahlah.  Yang pasti, pemerintah setempat atau departemen sosial sepertinya abai terhadap ODGJ. Terbukti orang-orang tersebut bebas berkeliaran. Yang membahayakan adalah perilaku agresif seperti Tun.

Yang menarik rasa ingin tahu saya adalah, kenapa ketiga ODGJ yang saya temui bisa begitu berbeda karakternya? Kebanyakan ODGJ berlaku agresif.  Namun tidak demikian dengan Thonthong dan Mu’ilah. Apakah karakter asli ketika normal berpengaruh ketika ia mengalami gangguan jiwa? Terutama yang terjadi pada Thonthong. Barangkali mbak  Fardelyn Hacky sebagai juri bisa berkomentar menjawab rasa penasaran saya? 🙂

 

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Aku dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diselenggarakan oleh Liza Fathia dan Si Tunis

odgj

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “3 ODGJ dalam Kenangan Masa Kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s