Catatan Buku Seorang Angkoter


 Semenjak saya menikah dan memiliki anak, waktu membaca saya otomattis berkurang drastis. Kalau dulu ketika lajang sore hari pulang kerja bisa leyeh-leyeh sembari membaca buku, kini sepulang kerja ada anak dan suami yang harus saya urus. Waktu di  rumah sudah habis untuk perkerjaan  domestik dan mendampingi anak. Hampir tidak ada waktu luang untuk membaca. Malam hari  tenaga sudah habis dan tinggal istirahat. Kesempatan untuk ngeblog maupun menulis jarang-jarang saya dapatkan.

Namun, saya tidak bisa meninggalkan buku. Buku tetap saya baca. Pulang pergi bekerja di angkot saya manfaatkan untuk membaca. Berada selama 20—30 menit di atas angkot dalam perjalanan berangkat dan pulang kerja sayang kalau di lewatkan dengan diam. Sesekali menikmati perjalanan, namun saya lebih senang menghabiskan waktu untuk membaca. Mojok sembari membaca. Buku tidak pernah ketinggalan saya bawa di dalam tas.

Waktu libur sesekali saya manfaatkan mengunjungi perpustakaan atau toko buku.  Tahun ini, beberapa buku yang masuk di dalam goodreads beberapa diantaranya merupakan buku pinjaman dari perpustakaan.  Dari daftar yang saya entri di goodreads ada dua buku yang inspiratif buat saya, meninggalkan jejak kesan di hati dan kepala.

 

  1. Bulan Terbelah di Langit Amerika oleh Hanum Salsabiela Rais

Luar biasa perjalanan yang dituturkan oleh Hanum dan Rangga. Berlatar belakang sebuah pertanyaan Would the world be better without Islam? Jawabannya ditemukan perjalanan Hanum dan Rangga di Amerika. Meski keduanya memiliki misi yang berbeda, tapi ada jalinan yang menyatukan alur perjalanan suami istri tersebut. Peristiwa 9/11 di Amerika menjadi latar novel tersebut.
Pembaca akan disuguhi sebuah sudut pandang yang baru, tak hanya mengenai tragedi tersebut namun juga pertalian sejarah Amerika dengan Islam. Untuk kisah Rangga, misinya di Amerika memberikan sebuah inspirasi dari the power of giving, sadakah. Philipus Brown, menjadi orang yang paling dikerjar Rangga karena kedermawanan tokoh itu bertalian erat dengan papernya yang mengangkat tema the power of giving.

Terlalu banyak kebetulan dan keajaiban dalam novel ini. Alur yang dirangkai Hanum dan Rangga begitu apik sehingga di bagian akhir sukses membuat saya diam-diam menahan isak di angkot, yeah walaupun beberapa titik air mata sempat mengalir 😀

Meski buat saya terlalu manis segala kebetulan dalam alur cerita itu, namun saya tetap menyukai novel ini. Penuh inspirasi dan memberikan wawasan baru. Kisah Azima Hussein/JuliaCollins yang tetap mempertahankan hijabnya memberikan inspirasi bahwa hidayah yang diberikan oleh Allah semestinya tetap teguh kita jaga. Lebih-lebih kita ber-Islam di tengah-tengah masyarakat Islam, berbeda dengan Azima yang minoritas.

2. I’am Malala oleh Malala Yousafzai dan Christina Lamb

Malala adalah seorang gadis yang tinggal di Swat, Pakistan. Ketika lahir, tak seorang pun mengucapkan selamat bagi ayah ibunya. Bagi orang Pasthun, melahirkan anak perempuan merupakan sesuatu yang menyedihkan. Namun tidak bagi ayah ibu Malala. Mereka tidak berpikiran seperti orang-orang Pasthun kebanyakan. Meraka bangga memiliki Malala. Malala tumbuh sebagai gadis periang yang cerdas.
Ayah Malala memiliki sekolah, Khushal. Malala menjalani keseharian dengan riang, belajar, bersaing dengan teman sekelasnya dalam pendidikan, bermain,dan melakukan apa yang disukainya. Semuanya berjalan normal hingga Taliban merenggut semuanya.
Beragam peraturan yang membatasi perempuan diberlakukan dengan tidak adil. Anak-anak perempuan dilarang bersekolah. Banyak sekolah ditutup. Demikian pula yang terjadi di sekolah Khushal. Ayahnya kerap menerima terror dan fitnah, meminta agar sekolah itu ditutup. Ayahnya bersikeras mempertahankan sekolah itu. Hanya ada beberapa perempuan yang bertahan dalam tekanan. Bersama ayahnya, Malala berjuang. Ia berbicara tentang pendidikan. Lewat blog yang ditulisnya dengan nama samaran ia ungkapkan apa yang terjadi di Pakistan. Segala terror, serangan, dan segala tekanan dari Taliban diceritakan lewat blog hingga dunia tahu apa yang terjadi di Paksitan. Perjuangan Malala menarik perhatian Taliban. Sebuah penembakan dilakukan ketika ia berangkat ke sekolah bersama teman-temannya. Sontak, perhatian dunia tersedot. Apa yang terjadi pada Malala menarik simpati dari berbagai pihak di dunia internasional. Selain simpati, ada juga yang berpikiran negatif atas penembakan yang terjadi pada Malala. Ada pihak-pihak yang tidak senang dengan Malala, menganggap sebelah mata apa yang dilakukannya.

Kutipan-kutipan dari buku ini bisa menggambarkan isi buku:

Dan aku mulai melihat bahwa pena dan kata-kata yang muncul dari sana bias jauh lebih perkasadaripada senapan mesin,tank, atau helicopter. Kami belajar cara berjuang. Dan kami menyadari betapa kuatnya diri kami ketika kami berbicara. (hal.185)
Mereka bisa menghentikan kami bersekolah tapi mereka tak bias menghentikan kami belajar (190)
Seorang talib melepaskan tiga tembakan dari jarak dekat kepada tiga anak perempuand alam bus sekolah dan tidak menewakan sorang pun dari mereka. Ini seakan kisah yang mustahil , dan orang mengatakan aku mengalami penyembuhan yang ajaib. Aku tahu Allah menghentikanku agar tidak memasuki liang kubur (hal.351
Jangan takut, jika takut, kau tidak bias melangkah maju (hal.360)
Aku tidak ingin dianggap sebagai “anak perempuan yang ditembak oleh Taliban, tetapi “anak perempuan yang berjuang untuk pendidikan. Untuk tujuan inilah aku ingin membaktikan hidupku (hal(361)
“Marilah kita mengambil buku dan pena kita.” Kataku. Keduanya adalah senjata kita yang paling perkasa. Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena bias mengubah dunia. (hal.361)

Saya selalu suka membaca buku genre semacam ini. Buku ini membuka mata saya terhadap apa yang terjadi di luar. Kisah Malala membuat saya bersyukur dengan keadaan saya. Di negara ini, akses pendidikan begitu mudah saya dapatkan. Beruntung kita masih bebas bersekolah dan keluar rumah dengan bebas. Membayangkan yang terjadi di Pakistan seperti yang digambarkan Malala, sulit rasanya! Mungkin, buku ini membuka rasa penasaran saya atas kondisi Pakistan saat itu dan saat ini. Separah itukah? Atau bagaimana kondisi yang sebenarnya, barangkali saya perlu membaca lebih banyak buku dan mengetahui konflik di sana dari sudut pandang yang berbeda.

 

Kedua buku tersebut saya habiskan semuanya di atas angkot, begitu pula buku-buku lain yang masuk di entri goodreads saya tiga tahun terakhir. Masih ada PR membaca di tahun ini, membaca di atas angkot. Terutama Ramadhan ini, saya ingin menuntaskan seri Muhammad 1 dan 2 yang sudah saya miliki. Sebenarnya, membawa-bawa buku dan membaca buku tebal di angkot selama ini saya hindari, namun saya harus memulainya. Novel Muhammad 1  harus saya selesaikan dan  sudah saya mulai dari atas angkot di pekan-pekan terakhir ini.

 

Moment Spesial dari Buku

Sebab buku sudah menjadi keseharian saya, pastinya saya memiliki moment-moment istimewa berkenaan dengan buku. Beberapa moment tersebut adalah

  1. Terbitnya Buku Antologi

Imbas dari membaca buku adalah timbulnya motivasi. Saya tidak hanya ingin menjadi pembaca buku, tapi karya saya juga ingin dibaca oleh banyak orang.  Hal itu membuat saya di tahun-tahun lalu mengikuti audisi buku antologi. Moment teristimewa adalah di tahun 2011, ketika buku antologi pertama saya diterbitkan. Buku keroyokan yang diterbitkan oleh penerbit indie memberikan perasaan berarti buat saya. Tak percaya, tulisan saya ada di buku tersebut, saya punya buku! Walaupun terbit secara indie, keroyokan pula, saya selalu bersyukur tiap kali buku antologi saya terbit. Ada beberapa buku antologi yang terbit kemudian. Ada jejak karya saya  dalam hidup, menjelma sebuah sejarah.

  1. Mendapat Buntelan Buku Gratis

Siapa yang tidak senang mendapat buku gratis. Mendapati buntelan di atas rak buku atau menerima sendiri dari pak pos atau kurir yang mengantarkan buku buat saya selalu menjadi moment yang mendebarkan. Ada senang yang membuncah. Buku-buku gratis ini saya dapatkan dari mengikuti lomba blog berupa jurnal atau flash fiction, menulis tantangan, menjawab kuis buku, atau dari berbagai giveaway. Setumpuk buku ini saya dapatkan sejak 2007.  Boleh dibilang saya termasuk pemburu buku gratisan, heheh. Sensasi ketika menerima buntelannya itu…hingga kini masih saya rasakan.

Selain hadiah, dua buku ini saya dapatkan dari kontak multiply yang bahkan saya belum pernah bertatap muka dan semenjak MP tergusur saya kehilangan kontak dua teman yang berbaik hati memberikan kepada saya.

a kado 2

Emak saya sampai hafal ketika saya mendapat buntelan buku, selalu berkomentar, “buku dari mana lagi?”

Yang paling wow, adalah ketika mendapat satu kardus buku dari Stiletto, hadiah lomba blog. Buku-buku yang dapatkan semuanya dua judul. Alhamdulillah, masing-masing judul dari hadiah itu sudah saya sumbangkan ke perpustakaan dan para sahabat pecinta buku. Judul satunya masih menjadi PR membaca saya. Itu sebabnya, sementara ini saya hentikan kunjungan ke perpustakaan.

12822148_10205459474518611_936104318_n

  1. Hadiah ulang tahun

Sohib saya selama tiga tahun berturut-turut memberikan hadiah ulang tahun berupa buku. Kami punya tradisi bertukar kado buku selama itu.  Sudah tahu kalau akan mendapatkan buku, namun ketika menerimanya ada perasaan bahagia tak terkira. Begitu mendebarkan karena kejutannya adalah judul buku apa yang akan saya dapatkan. Ketika dibuka, taraaa…isinya adalah buku kesukaan saya. Rasanya waw, lebih-lebih ketika mendapatkan Garis Batas. Seakan mau bilang, tahu saja dengan apa yang kuinginkan!

a kado ultah

 

Tips Membaca untuk yang Sibuk

Karena begitu banyak berkah yang bisa didapatkan dari buku, tidak ada alasan tidak bisa membaca buku untuk yang sibuk. Saya sudah membuktikannya. Tips dari saya hanya satu: membawa buku kemana kita pergi. Tips itu bagi saya jitu. Bagaimana tidak , selalu membawa buku di dalam tas nyatanya bisa membuat saya tetap membaca buku. Saya, dan tentu saja bagi pembaca yang sibuk bisa membuka buku yang selalu dibawa di angkot, saat menunggu, saat antri berjam-jam seperti pernah saya alami di bank (setiap ke bank jangan lupa bawa buku, pasti kebaca saat antri), atau dari pengamatan saya saat orang tua menjemput anaknya dan belum keluar dari kelas karena berbagai alasan bisa diisi dengan membaca buku, dan diberbagai kesempatan lain yang memungkinkan untuk membuka buku. Selamat mencoba!

 

13393133_10206056139194855_1234052029_n

selfi buku saat membaca Jejak Kaki Misterius di Angkot 😀

 

 

Tulisan panjang ini saya ikutkan dalam Giveaway for Booklover. Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.

Iklan

6 pemikiran pada “Catatan Buku Seorang Angkoter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s