[Review] Broken Vow

Judul                           : Broken Vow

Penulis                        : Yuris Afrizal.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   Januari 2016

Tebal                           :  271 hlm.

ISBN                           : 978-602-7572-41-6

 

 13052440_10205794354250395_1122596870_o

Amara, Nadya, dan Irena adalah tiga sahabat dengan karir mapan. Mereka berkumpul dalam pesta pernikahan Nadya. Nadya menikah hanya untuk memenuhi tuntutan orang tua dan pertanyaan-pertanyaan yang menganggunya. Ia menikah secara terpaksa, dengan sahabat yang dimintanya menjadi suami. Dion seorang fotografer yang menanjak karirnya begitu mencintai Nadya meskipun ia tahu Nadya belum mencintai dirinya.

Nadya  pernah menjalin hubungan dengan Leo namun tanpa kejelasan status setelah Leo memutuskan bekerja di Prancis. Ada kerinduan terhadap sosok Leo. Hal ini menimbulkan konflik batin dalam dirinya. Pernikahan yang pada awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah dengan orang tua, malah membuat ia stress.

“Atau mungkin aku tambah stress? Menikah sama sekali tidak membantu mengurangi stressku ini. Mungkin karena aku menikah bukan dengan seseorang yang aku mau, bukan dengan orang yang aku inginkan, dan bukan dengan orang yang aku cintai.” (hal.42)

Tanpa rencana, Nadya hamil. Ia  mulai membenci situasi tersebut, kerap  menyesali pernikahan dan kehamilannya.  Beberapa kali konflik hati tersebut menyulut perang mulut dengan Dion.

Semakin besar kehamilannya, diam-diam Nadya mulai menerima sosok Dion. Begitupun Dion secara rahasia  menyiapkan apartemen yang lebih luas untuk Nadya dan calon bayinya. Namun di hari ketika Dion memberi kejutan apartemen tersebut, Leo kembali. Ia meminta bertemu dengan Nadya,  merengek-rengek memohon  kembali padanya. Adegan yang dipaksakan oleh Leo di depan apartemen Dion membuat Dion salah sangka.

Kata cerai tercetus dari mulut Dion karena kejadian yang hanya sepotong dilihatnya.  Nadya hanya menunggu waktu hingga kelahiran bayinya tiba untuk menjadi seorang janda.

Sementara itu pernikahan Nadya membuat Amara mengingat awal perkenalannya dengan Nathan Adiwinata, seorang Don Juan, putra pemilik kerajaan bisnis nomer lima di Indonesia. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama pada pesta tahun baru di sebuah hotel berbintang.  Nathan memandang Amara berbeda dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya. Hanya Amara yang berani menolak ajakannya. Nathan pun melabuhkan cintanya pada Amara.

“Ibu Nathan, sang nyonya besar merasa aku telah mengubah Nathan, membuatnya menjadi anak baik-baik. Nathan  yang suka main wanita, Nathan yang sering mabuk, dan Nathan yang suka menghambur-hamburkan uang. Katanya, saat denganku Nathan berubah. Sejak bertemu denganku, dia menjadi berbeda dan begitu patuh pada orangtuanya.” (hal. 25)

Kebahagiaan Amara bersanding dengan Don Juan tidak lama. Bukti-bukti mengarah pada perselingkuhan Nathan. Amara memiliki Irene dan Nadya sebagai sebagai sahabat berbagi cerita, namun ia ragu untuk menceritakan masalahnya. Takut hanya akan ditertawakan, Amara memilih Xanax, obat yang bisa mengurangi rasa sakit sebagai penawar penderitaannya.

“Aku butuh sahabat-sahabatku. Tapi rasa gengsiku mengalahkan semuanya. Aku terlalu malu menghubugi mereka. Aku tidak mau ada belas kasihan dari siapapun.” (hal. 201).

Tak kalah rumitnya masalah yang menimpa Irena, si superwoman yang memiliki karir menanjak sekaligus menjadi ibu rumah tangga.  Lelah dengan peran yang dilakoni dan melihat anak-anaknya tidak terurus membuat Irena memutuskan berhenti berkerja untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. Saat Irena mengutarakan rencananya untuk berhenti bekerja, Juna, suaminya justru mencegahnya. Keanehan mulai dirasakan ketika Juna kerap berada di rumah dan sikapnya mulai emosional.

Kekerasan demi kekerasan menimpa Irena. Belakangan diketahui bahwa Juna dipecat dari bank tempatnya bekerja karena korupsi. Dalang semuanya adalah  Arlan, adik Juna yang selalu merusuhi  keuangan keluarga Irena.

Kondisi ini membuat keluarga Irena berantakan. KDRT yang dialami Irena membuat sahabat-sahabatnya berpikiran bahwa sudah saatnya Irena mengakhiri rantai kekerasan itu. Namun, titik ini justru membuat hubungan ketiganya retak. Semua masukan dari sahabatnya membuat Irena malah balik menyerang mereka berdua, mencerca  dengan masalah-masalah yang dialami masing-masing sahabatnya.

Kompleks. Novel ini mengetengahkan masalah-masalah yang jamak dialami perempuan di dunia pernikahan.  Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh, pembaca bisa menyelami dunia batin dan perasaan masing-masing tokoh.  Penggunaan bahasa  lugas yang digunakan penulis membuat pembaca larut dalam alur kompleks yang dijalin. Perpindahan peristiwa dan sudut pandang antar tokoh tetap membuat jalinan alur mengalir natural.  Dari dialog dan deskripsi perasaan masing-masing tokoh, pembaca dengan mudah mendapatkan gambaran karakter tokoh. Perpaduan antara penokohan dan setting yang dibangun cukup jelas menggambarkan dari kelas sosial mana ketiga perempuan dalam novel itu.  Kehidupan yang dipaparkan penulis dalam novel itu merupakan representasi kehidupan para perempuan papan atas, termasuk kehidupan selebriti.

Tidak ada gading yang tak retak, begitu pula dalam sebuah pernikahan dan persahabatan. Segala lika-liku serta rasa iri  diam-diam mewarnai hubungan tersebut.

“Kenapa lagi dia? Hidupnya yang paling enak di antara kami. Punya suami yang luar biasa kaya dan tampan, kurang apa coba? Tak ada lagi yang perlu dia keluhkan. (hal.51)

“Jadi siapa bilang hidupku enak? Siapa bilang hidupku sempurna? Pernikahanku sudah tak memiliki wujud lagi. Bolehkah aku iri pada kedua sahabatku? Mereka hidup seperti manusia normal lainnya. Menikah dengan orang-orang biasa pada umumnya. (hal.88)

“Aku melihat mata seseorang yang merindu, seseorang yang begitu mencinta. Aku menelan ludahku. Dalam keadaan hamil oleh laki-laki lain, Nadya masih dicintai Leo. Bolehkah aku iri?” (hal. 231)

Tiga sahabat ini berhasil melewati semua proses yang pada akhirnya membebaskan hati dari belenggu konflik.  Memilih untuk bahagia, adalah satu hal penting yang disampaikan novel ini. Pilihan hidup yang diambil oleh perempuan-perempuan dalam novel  ini mencerminkan mereka perempuan kuat dan mandiri.

“Tak ada hidup yang sempurna. Hidup itu pilihan, begitu juga dengan kebahagiaan.” (hal.270)

 

Tulisan ini diikutkan dalam Broken Vow Book Review 

BV BookReview

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s