Ketika Saya Di-complain Wali Siswa

 

Jumat ini ada teguran masuk untuk saya. Seusai piket siang, saya beranjak naik tangga menuju kantor. Di ujung tangga, Pak Kepala Sekolah dengan ekspresi dan nada super biasa menyapa saya,

“ Bu yang ngasih buku ke I (menyebut nama siswa), rangking II, siapa?”

“I… ? saya Pak,” jawab saya

Ada tulisan Marry Chirstmas, lanjut Pak Kepsek. Rupanya bapak siswa tersebut ‘complain’ ke pak kepsek. Kok nggak langsung kepada saya ya? Barusan saya ketemu ibunya diam saja.

“Oh… malah saya nggak tahu, itu buku pengetahuan kok Pak. Biasanya buku itu  juga aman-aman saja.”

“Ya besok kalau mau ngasih buku lebih hati-hati lagi,” lanjut beliau.

“Oke…!”

Baru masuk kantor, bu Nisa bilang, “ Bu, sudah baca WA?”

“Soal buku?”

“Iya.”

“Oh, pak ipul sudah bilang.”

Ooh… rupanya hal itu dishare di grup WA ta? Ngapain? Bilang langsung saja bisa, pikir saya. Saya membuka hp dan klik WA. Ada dua foto ini di grup sekolah.

IMG-20160722-WA0013

IMG-20160722-WA0014

“Itu buku sains kok. Isinya pengetahuan, ujar saya. Kalau ada gambar itu, satu halaman saja, wajar wong yang nulis bukan muslim.”

“Mungkin ada misinya,” lanjut dua teman.

Karena saya belum baca bukunya saya nggak tahu ada misi atau tidak.  Buku seri pertama yang saya baca aman dan isinya bagus kok.

“Oke, besok kalau mau ngasih buku lebih hati-hati deh, harus yang Islamiiiiiii bangetttt!” jawab saya geli.

Saya tak mau berpanjang lebar berkomentar. Tak ada gunanya meski banyak hal berkecamuk di kepala.  Sepertinya tak ada gunanya memuntahkan isi kepala kepada teman-teman. Kesannya nanti saya tidak terima atau sewot, hehe. Lagi pula saya bukan tipe orang yang suka berpanjang lebar berbicara mengeluarkan argumen jika dirasa tak perlu buat orang lain.

Nah, ketimbang segala uneg-uneg itu jadi sampah di kepala, saya tulis saja disini.  Selain jadi terapi buat saya, menghilangkan sampah, menyalurkan ide, mengorganisir pikiran, juga akan menjadi sejarah buat  saya sendiri, ehmmm…  Kalau dikeluarkan secara lisan akan menguap oleh waktu. Dalam tulisan akan abadi, kata Pram.

 

Saya memberikan buku tersebut kepada siswa, buku sains, sebagai hadiah prestasi akademik di kelas. Saya biasa memberikan buku sebagai hadiah prestasi anak untuk menyebarkan virus membaca. Anak tersebut sudah 4 kali ini mendapatkan hadiah buku. Sebenarnya, saya selalu metmilih buku yang  pas untuk siswa saya, biasanya buku sains atau kalau siswi–mereka suka baca novel– saya pilihkan buku Islam buku yang saya berikan untuk siswa tersebut buku sains dan saya punya satu serinya, isinya bagus dan terbilang ‘aman’ jadi saya berikan buku itu sebagai hadiah.

Seandainya saya jadi wali siswa yang mendapat buku itu, saya tidak akan serta merta menganggap satu gambar itu jadi masalah. Dibanding dengan isi buku yang sarat pengetahuan, satu hal itu bisa disikapi dengan bijak. Saya akan menjelaskan arti gambar itu kepada anak saya. Kenapa gambar itu bisa ada di sana. Penjelasan akan melebar ke soal agama, ke soal akidah. Tentang Islam sebagai satu-satunya agama rohmatalil ‘alamin. Tentang sejarah agama lain.  Tentu saja penanaman akidah kepada anak mendapat porsi lebih. Arguman soal misi bisa dipatahkan dengan penyikapan orang tua!  Dengan begitu saya tidak akan buru-buru komplen kepada guru yang memberi buku itu, malah berterima kasih sudah diberi hadiah buku. Susah lho di kota kecil nyari buku seperti itu, halah! 😀

Tidak semua penerbit Islam menyediakan buku-buku bermuatan pengetahuan yang kita butuhkan. Nah, ini PR buat penerbit Islam: menerbitkan sebanyak-banyaknya buku pengetahuan yang anak muslim butuhkan. Nyatanya, buku-buku pengetahuan yang sarat ilmu dan bergizi  diterbitkan oleh penerbit  umum.  Saya sebagai orang tua tidak saklek membelikan buku-buku  untuk Janitra yang berlabel Islami saja. Untuk buku-buku sains lebih banyak dari penerbit segala buku dengan segala label.  Apesnya mungkin di dalamnya ada muatan-muatan yang tidak sesuai dengan visi misi kita mendidik anak, tapi hal itu tidak akan melunturkan akidah kita kan? Selama kita siap argumen berdasar ilmu yang kita yakini. Boleh saja kita mengoleksi buku-buku yang berlabel Islami saja, tapi apa nggak rugi kalau di buku lain banyak ilmu yang akan kita dapatkan?

Jadi kalau di dalam buku-buku sains itu ada secuil hal yang kita anggap gangguan, ya wajar toh.  Wong kita hidup saja bermasyarakat saja kita bertemu dengan keberagaman yang berbeda dengan keyakinan kita.

Oke, itu argumen saya. Saya tidak akan memaksa orang lain menerima argumen saya, seperti halnya wali siswa tersebut yang pastinya punya argumen sendiri soal itu. Kenapa beliau komplen kepada kepala sekolah, pasti punya alasan. Kenapa tidak komplen kepada saya langsung. Beliau tentu punya alasan. Silakan, saya tidak akan balik komplen :D. Kita tidak bisa kan saling paksa untuk menerima argumen masing-masing :D.  Tak ada salah benar soal itu.

Pelajaran buat saya hari ini adalah, pelajaran kesekian selama mendampingi anak-anak kelas saya, saya harus ingat hal ini:

  1. dengan siapa saya berhadapan, kalau memberi hadiah harus hati-hati. Tidak semua orang tua punya pandangan dan pikiran yang sama dengan kita. Menyesuaikan diri itu penting bu guru!
  2. Saya lagi-lagi mendapat tamparan dari Allah.  Ini bukan pertama kalinya saya mendapat komplen dari wali siswa, baik langsung maupun tidak langsung (komplen kok tidak langsung? ). Ini artinya saya sedang diuji oleh Allah. Anak-anak saja naik kelas 5 dari kelas 4 yang saya dampingi, gurunya juga mau naik kelas dong! Dalam perjalanan mengajar, tentu ada kerikil kecil sebagai gangguan, singkirkan saja!

 

Yah, ini uneg-uneg saya. Menulis adalah cara jitu saya untuk melepaskan segala sampah di kepala. Jadi jiwa akan lebih sehat. Menulis juga menjadi sarana untuk mengingatkan diri sendiri.

Dengan menulis, saya lega dan blog jadi ter-update! Wah, terima kasih atas komplen hari ini ya! 😀

Oiya, ada satu hal lagi.  Out of the topic tapi masih berhubungan. Ternyata, teknologi, khususnya gadget telah mewadahi sebuah kebiasaan yang mestinya tak perlu dibudayakan. Banyak hal, banyak masalah yang idealnya bisa disampaikan langsung namun justru dibagi kepada banyak orang di medsos atau grup. Hal-hal yang sepele jadi tranding topic atau jadi bahan bualan.  Masalah yang bisa dibicarakan langsung jadi omong kosong panjang di grup. Contoh kecilnya komplen kepada saya di atas. Untungnya, tidak banyak tanggapan muncul. Saya sendiri malas menanggapi karena hal itu sudah disampaikan langsung face to face.

Iklan

10 pemikiran pada “Ketika Saya Di-complain Wali Siswa

  1. Dulu saya juga pernah ditegur manajer pas masih ngajar di kursus. Rasanya sungguh ga enak dan kayak ga terima gitu ditegur hehe…. Gara gara ada wali murid yg komplain katanya saya terlalu menekan anaknya dg banyak PR. Ya sudahlah saya minta maaf meskipun sy ga merasa begitu.
    Emang disayangkan kenapa ga komplain langsung ke Mbak sebagai gurunya. Plus lagi kok dibagi di grup. Memang sekarang orang kadang kurang bijak gunakan teknologi ya mbak. Semua emosi dan kemarahan, juga kebahagiaan dimuntahin di medsos, kadang tanpa takaran. Sampai kadang tak sadar mbeberin aib sendiri. Diingetin malah marah hehe.
    Yang sabar, Mbak. Guru hebat kudu kuat hehe. Saya di rumah juga beli macam macam buku, baik yg islami maupun yg umum. Justru bila ada muatan lain, kita jd punya kesempatan buat jelasin ke anak. Ya pintar pintarnya kitalah kasih pengertian ke anak. Cemungud, Mbak!

  2. Sepertinya, kalau saya yg jadi wali siswa juga ngerasa kurang sreg kalau ada yg seperti itu, mbak 😀

    Nah, teknologi jadi menjauhkan yg dekat. Padahal bisa ngomong pas ketemu. Kalau ketemu langsung dg orang pertama kan bisa lebih clear. Tidak pakai berantai seperti di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s