[Blog Competition] Mengumpulkan yang Terserak

Saya merindukan masa ketika bocah. Ketika menyambut lebaran dengan perasaan membuncah.  Setelah sebulan berpuasa, rasanya melambung ketika mendengar takbir  Hari Raya. Sekarang rasa yang muncul berbeda.   Semakin mendekati lebaran, rasa pilu merayapi. Rasa sedih menghantui. Ada rasa kehilangan terhadap bulan suci istimewa. Belum-belum sudah rindu Ramadhan lagi ketika bulan Syawal menjelang. Memang, sudut pandang terhadap Ramadhan dulu dan sekarang lain. ah, tapi sesedih apapun kita ditinggalkan Ramadhan, kita tetap harus mensyukuri datangnya Syawal. Mensyukuri usia yang diberikan Allah untuk  bertemu Syawal. Untuk memaknai moment lebaran dengan sebenar-benarnya.u

Hari Raya  Idul Fitri, sering kita maknai dengan salah. Sering kita dengar, dan kita mengikuti makna itu, bahwa Idul Fitri adalah kembali fitri, kembali suci. Saya kemudian mulai mencari makna sebenarnya.  Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama.  (sumber dari  sini)

Makna yang salah sering kita jumpai bahwa Idul Fitri diartikan kembali fitroh, kembali suci.  Yang terjadi, kita sering mengucapkan  mohon maaf lahir batin saja, kita meminta maaf karena anggapan di hari raya, kita akan kembali suci sehingga segala kesalahan sebaiknya kita bersihkan. Namun, tak jarang pula kita jumpai orang yang merayakan Idul Fitri dengan ucapan Taqobalallahu minna wa minkum.  Ini lah yang seharusnya kita pakai.

Pemaknaan itu sudah seharusnya kita perbaiki.  Ucapan yang seharusnya kita ucapkan hari raya seusai Ramadhan

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”

Inilah yang selayaknya kita tiru. Berdoa memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan bukan memastikan amal kita diterima. Ini pula yang saya terapkan ketika saya bersalaman bersilaturahmi dengan kerabat, tetangga, dan teman. Saya mulai dengan ucapan ini.

Untuk meminta maaf, seketika melakan kesalahan sebaiknya selalu dilakukan, tak perlu menunggu hari raya tiba. Namun, budaya silaturahmi,  saling meminta maaf ketika hari raya bukanlah budaya yang buruk menurut saya.  Justru  pada saat Idul fitri adalah moment yang tepat untuk bersilaturami karena biasanya sanak keluarga berkumpul merayakan Idul Fitri.  Kerabat yang jarang kita temui rela jauh-jauh datang untuk mudik. Di hari itu, kita tak hanya hanya bertemu bertatap muka namun bisa mengobrol mempererat tali silaturahmi.  Sebagaimana hadist Nabi:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Adapun manfaat silaturahmi menurut Nabi Muhammad antara lain faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi] (sumber dari sini )
Itu sebabnya moment lebaran kami benar-benar kami manfaatkan dengan bersilaturahmi. Kami utamakan mengunjungi kerabat-kerabat yang lebih tua. Tujuannya adalah untuk tetap menjaga persaudaraan, atau dalam bahasa Jawa disebut  agar tidak terjadi kepaten obor (obornya mati)            . Moment saya sebut sebagai mengumpulkan yang terserak.  Ya, dengan silatiurahmi saya akan bertemu kerabat handai taulan yang jauh, mendekatkan kembali hati yang sekian bulan jauh. Mengingat dan  mengingatkan kembali bahwa kita masih punya saudara. Kita masih punya keluarga. Kalau bukan kita yang mudah yang mendekat, bisa jadi hubungan kekerabatan itu akan terputus (kepaten obor) ketika pihak tua, saudara ayah ibu nenek kakek,  meninggal dunia. Tak ada lagi yang menerangkan kalau kita adalah kerabat dari ibu bapak nenek kakek mereka.

Yang paling menyenangkan dari kegiatan silaturahmi itu adalah traveling.  Traveling dalam rangka silaturahmi itu seru. Kita akan mengunjungi tempat-tempat atau kota yang mungkin hanya kita kunjungi setahun sekali. Dalam perjalanannya, akan ada hal menarik yang ditemui, termasuk kuliner yang bikin nagih.

Idul Fitri lalu, saya berkesempatan men gunjungi kerabat yang tinggal di gunung. Menarik bagi saya, tak hanya tempatnya yang berada di perengan gunung, tapi juga karena saya terakhir kali mengunjungi tempat itu dua puluhan tahun lalu. Tentu saja kedatangan kami menjadi kejutan bagi simbah kami. Kemudian saat blusukan ke dusun-dusun mengunjungki kakak sepupu kami menjumpai balon yang siap diterbangkan dalam rangka Syawal.

20160709_083820

 

Masih di hari yang sama dalam rangkaian silaturahmi saya menemukan potret budaya Indonesia. Wayang-wayang berjejer rapi siap dijual.

20160709_110541

 

Yang paling menarik adalah saat mengunjungi kerabat di Purworejo. Tak hanya menyaksikan bedug Pendowo, bedug terbesar di dunia yang terletak di Masjid Agung Purworejo, namun saya berkesempatan mencicipi kuliner khas Purworejo yang sekian lama membuat penasaran: dawet ireng. Dari Masjid Agung Purworejo mengitari alun-alun setengah putarana, akan dijumpai kantor pos. Di halaman kantor pos itu ada beberapa lapak kuliner yang ramai dikunjungi. Di lapak dawet ireng, hal unik saya temukan. Begitu ramainya, sampai-sampai untuk mendapatkan pelayanan kita harus mengambil nomer antrian. Waktu itu saya mendapatkan nomer 94. Bayangkan, sudah ada 93 rombongan atau perseorangan yang antri untuk mencicipi semangkuk kecil dawet ireng asli maupun campur. Rasanya memang segar dan nagih, pantaslah kalau lapak yang walaupun kecil itu menyediakan nomer antrian.

 

 

dawet ireng khas Purworejo

20160712_124455

IMG-20140810-00157

 

di depan bedug Pendowo

Lebaran dan Cerianya Masa Bocah

Salah satu episode lebaran adalah nostalgia masa kecil. Lewat putri kecil saya, saya diingatkan pada masa-masa ceria ketika bocah. Kembang api, adalah satu benda khas yang hanya kami nikmati saat lebaran. Benda langka bagi kami waktu itu. ketika Janitra, putri saya, menyalakan kembang api di suatu malam, kenangan masa kecil itu hadir di benak saya.

20160707_181608

 

Lebaran selalu menyisakan kisah-kisah seru dan ceria yang pasti kita rindukan. Apa moment lebaranmu?

Tulisan ini diikutkan dalam Diary Hijaber Blog Competition.

Oiya, ikutan juga event Diary Hijaber yaitu Hari Hijaber Nasional yang akan diselenggarakan:

waktu: 07—09 Agustus 2016

tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta

Iklan

4 pemikiran pada “[Blog Competition] Mengumpulkan yang Terserak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s