Dieng: dari Telaga Warna hingga Mie Ongklok

Ahad lalu (28/8) pertama kalinya Janitra menempuh perjalanan terjauh dan tentu saja terlama di atas motor. Bapak mengajak Janitra dan saya mengikuti Wisata Dakwah Aisiyah di alun-alun Wonosobo. Dari rumah Tegalsari pukul 07.30 WIB kami sampai di Wonosobo pukul 10.10 WIB dengan istirahat sebentar di rest area untuk ngopi sembari melihat kakak-kakak yang panjat tebing.

Sampai di alun-alun, tentu saja Janitra tergiur dengan warna-warni mainan yang tersebar di sekitar tenda acara. Kalau untuk jajan bisa ngerem, tapi untuk menikmati wahana permainan tidak bisa ditolak. Baiklah, karena penasaran naik motor mini, Janitra rela menunggu antrian yang cukup lama. Ibu pasti tahu rasanya penasaran itu bagaimana, jadi saya juga sabar menemaninya, heheh.

20160828_104743[1]

 

Selepas dhuhur, acara belum selesai, bapak dan beberapa teman (4 rombongan motor) melanjutkan jalan-jalan ke Dieng. Waw, mengunjungi negeri di atas awan, pasti…..

Perjalanan ke Dieng yang menanjak beberapa kali terhenti karena hujan. Hujan pula yang membuat rombongan terpencar. Alhamdulillah, pukul 13.00-an kami sampai di depan Candi Bima. Karena saya pernah mengunjungi komplek candi Arjuna, maka kunjungan ke sana tidak masuk list. Lagipula, denger-denger rombongan lain penasaran dengan Telaga Warna, siip lah karena saya juga belum pernah mengunjungi ke sana. Di pelataran candi, istirahat sebentar untuk kontak dengan rombongan lain yang terpencar.

 

Setelah jelas posisi rombongan lain, masuklah kami ke area Telaga Warna. Di bawah derai hujan, kami nikmati keindahan telaga warna-warni yang terjadi karena kandungan sulfur di dalamnya. Saat itu yang  kami saksikan air telaga berwarna degradasi hijau kekuningan kebiruan. Kalau tidak hujan, menikmati keindahannya di tepi telaga sembari merenung pasti asyik. Panonaram indah sebab di sekeliling telaga terlihat hijaunya alam dengan sentuhan kabut yang di sana-sini.

20160828_140807[1]

20160828_140939[1]

20160828_141141[1]

20160828_141451[1]

20160828_141249[1]

20160828_142240[1]

Karena tergesa, kami juga hanya mengunjungi sekilas Telaga Pengilon. Mungkin karena di sisi telaga terdapat warna hitam semacam bingkai/frame kemudian disebut pengilon (cermin)?

Yang terasa nikmat saat itu, hujan dingin, adalah gorengan jamur dan kentang hangat. Rasanya nikmat 😀 Gorengan khas Wonosobo itu tersedia di sekitar tempat wisata selain tempe kemul.

Dari Telaga Warna kami putuskan berpisah dari rombongan yang akan melanjutkan eksplore Dieng. Pertimbangan waktu dan daya tubuh maka kami putuskan untuk turun.

Perut yang lapar menuntun kami mampir di Gardu Pandang Tieng 1789 MDPL. Di sinilah saya pertama kali menikmati mie ongklok yang unik. Baru kali ini makan mie basah dilengkapi sate ayam dengan merica bubuk yang kerasa banget.  Rasa mie pun sate banget. Minumnya terasa hangat dan nikmat dengan teh tambi dan kopi dieng. Wangi tehnya kentel banget. Kopinya pun mantab. Selain menikmati kehangatan kuliner khas Wonosobo, dari tempat ini kami dimanjakan oleh keindahan landskap Wonosobo dari ketinggian yang terlihat diantara kabut yang berangsur menyingkir.

20160828_154727[1]

20160828_152459[1]

20160828_151611[1]

20160828_152056[1]

20160828_154032[1]

20160828_151002[1]

Turun dari gardu pandang, kami mampir sebentar ke toko oleh-oleh. Yang khas dari Wonosobo tentu saja carica. Karena kami penggemar kripik, kripik combro yang gurih dan kentang khas Dieng yang kriuk kami bawa untuk melengkapi carica yang seger. Sayang, lupa jepret!

Lepas dari pusat oleh-oleh, kami disambut hujan. Sepanjang jalan Wonosobo–Magelang kami berkendara dibingkai hujan. Kebayang dinginnya dari Magrib hingga lepas Isya’ kurang lebih 19.30 sampai rumah diguyur hujan. Alhamdulillah Janitra sepanjang jalan bobok jadi perjalanan terbilang tenang. Puji syukur lagi, alhamdulillah kami sampai rumah dengan sehat tanpa gangguan. Janitra diberi kekuatan oleh Allah sehingga sehat. Begitu sampai rumah dalam keadaan bobok saya ganti bajunya dengan terlebih dahulu diseko dan dibalur minyak kayu putih untuk menghangatkan.  Ini pengalaman luar biasa dan mendebarkan untuk saya sebagai ibu yang  jujur agak khawatir karena   dingin yang menyekap. Namun sepanjang jalan saya tepis segala khawatir, mantabkan diri bahwa hujan adalah rahmat Allah yang tidak akan membuat manusia sakit karenanya.

 

 

#Diari_Janitra_4tahun1bulan

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s