Backpacking Keliling Eropa Ala Aupair

 

20161103_204213

Judul buku : Aupair

Penulis      : Icha Ayu

Penerbit: Stiletto Book

Terbit: Desember, 2012

Beruntung sekali saya mendapatkan buku ini dari Stiletto Book.  Sejak lembar-lembar  pertama saya langsung terkesima oleh cerita awal mula petualangan Icha Ayu di Eropa. Kalau saya seorang mahasiswi sastra Prancis atau bahasa asing lainnya, saya  akan mengikuti jejaknya dan membuka web http://aupair-world.co.uk.  Bagaimana tak kepengen, Icha menjelaskan secara rinci mengenai Aupair,segala persiapan dari administrasi hingga persiapan pribadi. Step by step menjadi Aupair dijelaskan dengan gamblang. Apa daya, saya hanyalah seorang emak yang tak menguasai satu pun bahasa asing jadi cukup pengen saja  mengikuti cerita petualangan Icha menjadi Aupair di benua biru :D. (kalau soal petualangannya berkelana, tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti, amin)

Oiya, Aupair adalah sebuah program yang memungkinkan semua orang dengan batasan usia tertentu, dapat mempelajari bahasa dan budaya negara yang diinginkan dengan bekerja sebagai baby sitter (pengasuh anak) di rumah host family (keluarga penerima) dengan jangka waktu enam hingga delapan belas bulan (hal. 2)

Icha Ayu menceritakan pengalamannya menjadi aupair  dengan gaya bercerita serenyah novel, jadi pembaca tidak akan merasa sedang membaca buku nonfiksi, akan terhanyut  dengan suka dukanya hidup di rumah host family. Secara kebetulan, Icha Ayu mendapatkan keluarga yang sedang menghadapi jurang perceraian.  Karena pengalaman yang sama dialami oleh Icha ketika kecil, ia bisa memberikan motivasi dan gambaran yang berarti terhadap Sarah, anak yang menjadi korban.  Pengalaman menghadapi keluarga yang setiap saat berseteru itu menjadi pengalaman penuh emosi, sebab itu berpengaruh terhadap hidupnya di ujung kontraknya sebagai pengasuh Sarah.

Menjadi Aupair  memungkinkan Icha menjelajah Eropa. Namun, jalan terjal harus dilalui karena masalah keuangan.  Selama menjadi Aupair, Icha harus menghemat keuangan sehingga di akhir pekan ia bisa menjelajah berbagai kota sekitar tempatnya bekerja.  Gaji yang didapat sebagai Aupair tidak lah banyak dibanding dengan biaya hidup di negara Eropa yang terbilang tinggi.

Lepas dari host family pertama, Icha mendapatkan host kedua yang ideal. Selama dua bulan jeda menunggu kontrak dimulai, petualangannya menjelajah Eropa penuh dengan cerita luar biasa. Kota-kota indah yang dimiliki negara Prancis, Italia, Belgia, dan Jerman tak hanya dinikmati pesonanya namun juga mengenal budaya dan penduduk lokal dengan beraneka karakternya yang menarik.

Masalah keungan tidak menjadi hambatan untuk berpetualangan.  Dengan dana yang supermepet untuk hidup di Eropa,  dihadapi Icha dengan 3 solusi:

  1. Cochsurfing

Ini adalah jalinan silaturahmi para traveler internasional.  Dengan jaringan ini, traveler bisa menginap di penduduk lokal sesama teman CS secara gratis bermodalkan kepercayaan. Selain mendapatkan tumpagan gratis, traveler bisa lebih mengenal kebudayaan lokal sebab host CS yang juga seorang traveler akan memberikan banyak pengetahuan bahkan menjadi tour guide.  Jalinan ini akan membuat traveler memiliki saudara di berbagai belahan dunia.

  1. Hitch hike

Mencari tumpangan secara gratis dengan mengacungkan jempol dan senyum manis, plus kertas bertuliskan nama tempat yang akan dituju  tentu membutuhkan keberanian tinggi.  Pengalaman ini menjadi hal yang  luar biasa yang Icha lakukan. Berjam-jam berdiri di pinggir jalan, terkatung-katung di pom bensin, hingga perjalanan ber-hitch hike terpanjang pernah dialami. Semuanya menyisakan kesan manis bahwa banyak orang baik bertebararan di muka bumi

  1. Wwoofing

Travaler menjadi relawan di perkebunan organik.  Tujuannya bukan hanya untuk mendapatkan penginapan dan makanan gratis, tapi juga untuk belajar perkebunan organik itu sendiri (hal.179)

 

Trik dan tips yang diberikan Icha dalam buku ini bermanfaat banget untuk para traveler, jadi buku ini cocok dibaca mereka yang hobi berkelana ke luar negeri.  Nah, buat pembaca pada umumnya, buku ini asyik dibaca karena banyak muatan edukasi di dalamnya.  Selain deskripsi apik kota-kota di Eropa yang dikunjungi Icha, pembaca akan mendapat pengetahuan lebih mengenai sejarah dan budaya kota-kota di Eropa, beserta karakter penduduknya.

Bertemu dengan traveler dari berbagai belahan bumi pun menjadikan Icha memahami karakter mereka. Seperti misalnya ketika ia duduk satu meja makan dengan traveler dari Israel, ia dibuat terkaget-kaget dengan habit mereka yang stereotipikal: suka menyerobot hak milik orang lain. Traveler dari Israel tersebut suka mengambil makanan dari piring orang lain.

“Kalau aku sama temen-temen di Israel sering begitu, that’s one of our habits,” ucapnya berusaha membela diri.

“Oh ternyata memang begitu kebiasaan orang Israel, suka mencomot hak milik orang lain…” candaan dilanjutkan dengan humor yang menyangkut stereotype masing-masing negara yang sebenarnya apabila dilanjutkan akan berubah menjadi humor rasis. (hal.195)

Pengalaman  wwoofing tidak hanya memberikan pengetahuan bertani yang berharga namun juga kesadaran pada lingkungan yang ditularkan oleh petani yang ditumpanginya.

“…betapa pentingnya untuk selalu mengkonsumsi makanan produksi lokal, karena produk impor membutuhkan banyak energi untuk sampai ke perut kita. Mulai dari proses pembekuan, hingga minyak yang digunakan untuk  distribusi. Jadi, untuk membuat makanan sampai ke meja kita membutuhkan benyak energi yang bisa saja berguna untuk makanan para anak kelaparan di belahan dunia sana. Hal yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.” (hal.181)

Pada akhirnya, Aupair bagi Icha memberikan beragam perspekif yang memperkaya hidupnya, seperti film dalam bisokop yang sangat  indah.

Dalam hidup semuanya tergantung pada diri sendiri. Kitalah yang memutuskan apakah gelas ini setengah kosong atau setengah isi. Itulah rahasia kebahagiaan, kitalah, dan hanya kita, yang berhak memutukan apakah kita akan bahagia atau sengsara. Apakah kita  ingin mengeluh atau bersyukur, pesimis atau optimis, melihat sisi negatif atau positif semua kejadian dalam hidup kita. Hanya kita dan selalu kita. (hal.66)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s