Ngetrip Bareng Villageria di Deswita Dome Teletubies

Perkenalan

Bisa jalan-jalan gratis itu waw, terlebih jalan-jalan  dengan destinasi sarat ilmu dan inspirasi. Beruntung sekali saya mendapat giveaway dari Villageria dengan ngetrip bareng di Desa Wisata New Nglepen Rumah Dome Teletubies.  Blusukan bersama tim Villageria Ahad (6/11) lalu tak hanya saya nikmati sendiri namun bersama keluarga.  Tiket ngetripnya memang hanya untuk saya, namun dengan hanya menambah tujuh puluh ribu rupiah untuk anak dan suami, semua bisa mbolang seharian di Nglepen, Sleman, Yogyakarta.

img-20161109-wa00001

foto oleh Argo Prasetyo

Tiba pukul 08.15 WIB di lokasi, kami disambut Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) mas Sulasmono dan tim Villageria yang ramah. Sesi perkenalan dengan suguhan cemilan tradisional kacang rebus dan emping garut menjadi pembuka trip Ahad lalu. Perkenalannya bertempat di rumah Dome Teletubies yang disewakan sebagai home stay.  Jadi kami bisa sejenak merasakan bertaeduh di rumah dengan 5 ruang plus 1 loteng.

Tim Villageria memperkenalkan diri sebagai web yang  berdiri pada April 2016. Web ini  berkonsentrasi pada desa wisata. Tim yang ramah- ramah itu terdiri  dari Kamalia Rizqi Amalina sebagai founder, Fendi sebaga tim kreatif, Rahma di bagia social project, dan Vicky di bagian marketing.

Selesai perkenalan tim Villageria dilanjutkan dengan perkenalan Ketua Pokdarwis Sengir yang memperkenalkan desa wisata yang menduduki 5 besar kunjungan wisata di daerah Sleman Yogyakarta.  Cerita  mengenai sejarah Desa Wisata Dome Teletubies  New Nglepen seru untuk disimak. Ada nuansa sejarah dibumbui mistik dan humor yang disampaikan oleh mas Mono yang humoris.

Selain saya dan keluarga, ada peserta lain yang menjadi pemenang giveaway. Keduanya adalah blogger berpengalaman, mbak Elizabeth Elza dan Ima Satrianto yang mengajak suaminya.

Sejarah Kampung Dome Teletubies

20161106_1028311

Awal mula Kampung Dome Teletubies ini dimulai dari gempa yang menimpa Yogyakarta pada Mei 2006. Kampung Nglepen ambles sedalam 7 meter dan sejumlah 36 KK kehilangan tempat tinggal. Untungnya tidak ada korban meninggal sebab masyarakat Nglepen yang sebagian besar adalah petani pada waktu terjadinya gempa sudah beraktivitas di luar rumah. Dua orang, salah satunya seorang bocah,  yang secara logika berpotensi  meninggal karena terkena ambrukan rumah selamat karena keajaiban.  Kondisi ini mengharuskan satu kampung direlokasi.

Sorotan media membawa berkah. Fondasi dari Amerika, yaitu Domes for the World dan seorang Dubai bernama Muh Ali Alabar mengulurkan bantuan pembangunan kampung baru.  Ada  3 bentuk rumah yang ditawarkan: rumah biasa tahan gempa, rumah bulat seperti tempat tinggal Teletubies, dan tempat tinggal seperti rumah Arab. Musyawarah dengan warga memutuskan rumah bulat. Rumah ini tahan gempa, angin, dan kebakaran.

Peletakan batu pertama dilakukan pada Ramadhan 2006 dihadiri Gus Dur.  Pondasi tiap rumah berdiameter 7 meter.  Tiap rumah terdiri 200 biji besi dengan cor sehari selesai membutuhkan 20 tenaga. Tiap rumah menghabiskan biaya sebesar 40 juta. Tidak ada campur tangan pemerintah sehingga bantuan datang langsung tanpa perantara. Karenanya proyek ini terbilang cepat, hanya 6 bulan meskipun prosesnya terlihat rumit. Proses pembuatan rumah ini bisa dilihat pada diagram berikut:

20161106_1005361

Rumah dome di kampung ini terdiri dari 5 ruang dan sebuah loteng sebagai gudang. Besar rumahnya sama.  Tidak ada toilet dalam rumah untuk menjaga kebersihan dan kesehatan serta untuk efektivitas ruangan.   Tiap komplek yang terdiri dari 6 blok 12 KK disediakan 1 unit MCK.  Selain menjaga kebersihan tujuan dibangunnya fasilitas MCK umum untuk menjaga budaya gotong-royong dan tidak individualis. Fasilitas umum lain yang disediakan antara lain poskesdes.  Pembagian rumah dilakukan secara undian.

Diresmikan Maret 2007, kampung ini sudah banyak dikunjungi wisatatawan yang ingin berkegiatan di kampung ini. Dari pengelolaan parkir, didapat hasil yang luar biasa. Dari kondisi itulah kemudian kampung ini didaftarkan ke Dinas Pariwisata Sleman.  Tempat ini menjadi desa wisata semi object. Tahun 2009 kampung ini menjadi desa wisata.  Dalam perkembangannya, pada 2012 bantuan PNPM sebesar  65 juta membuat desa wisata ini mengalami peningkatan pesat. Jadilah desa wisata ini hingga sekarang berkerja sama dengan Villageria dan membawa saya datang menjelajah 😀

My Trip My Adventure… !!! Oooo…..!!!!

20161106_1002421

Keluar dari rumah home stay, kami mulai menjelajah pukul 09.30.  Menyusuri gang demi gang yang diberi nama all about teletubies, tujuan pertama adalah galeri rumah dome. Galeri ini berisi peninggalan-peninggalan kampung yang ambles terkena gempa. Aneka peralatan bertani, menenun, senjata tradisonal untuk melindungi diri, hingga peralatan rumah tangga dari batu dipamerkan dalam rumah ini.

Keluar dari galeri, kami berjalan menuju peternakan sapi milik warga. Melewati sebuah bangunan kelompok bermain, eh Janitra menyempatkan diri untuk bermain di taman.

20161106_1017311

Peternakan sapi  dan kambing jenis jawa dipusatkan di satu tempat demi kenyamanan, kebersihan, dan kesehatan. Dengan alasan kebersihan dan kenyamanan pengunjung, beternak ayam dihindari di desa wisata ini.

20161106_1023171

mas Mono memberikan penjelasan mengenai peternakan sapi

Selesai mengunjungi peternakan sapi, mas  Mono membawa rombongan ke pembuatan emping garut yang menjadi cemilan andalan desa wisata ini.  Kunjungan ini membawa kami berkenalan langsung dengan warga setempat. Rumah pak RW yang ramah itu selain menjadi tempat pembuatan emping garut juga menjadi tempat pembuatan mebel dan rumah jahit baju. Keluarga serba bisa yang hebat.

Di rumah produksi ini kami diberi kesempatan menjajal sendiri bagaimana membuat emping dari bahan ubi kerut yang menyimpan khasiat bagi kesehatan.

img-20161107-wa00211

foto jepretan mbak Ima Satrianto

Pembuatannya memanfaatkan tekonologi sederhana dengan dua papan semacam tlenan yang disatukan dengan engsel pintu sehingga bisa dibuka tutup. Di tengah-tengah papan itulah ubi yang sudah direbus dan dikukus di letakkan beralaskan plastik yang sudah diolesi minyak.  Papan kemudian ditutup dan ditekan. Masih kurang gepeng? Ada palu yang bisa dipakai untuk mengetok-ngetok supaya ubi gepeng sempurna. Setelah itu proses berikutnya adalah penjemuran dilanjutkan penggorengan. Kriuukkk… sembari mengobrol dan praktik, tak terasa emping  yang kriuk itu amblas. Sesekali kami juga mengemil potongan ubi rebus bahan dasar  emping. Hihi, doyan apa lapar? Maklum… enak kok? Boleh dicoba deh, ini nih…

20161106_1341382

Sudah diganjel dengan ubi dan emping, fisik cukup kuat untuk melanjutkan tracking. Penjelajahan ini membutuhkan fisik yang kuat lho, sebab kami harus menyusuri jalan menanjak menuju bukit.  Bagaimana dengan Janitra? Ini ketiga kalinya dia ikut tracking ayah ibunya setelah naik Puntuk Setumbu dan Andong. Tapi… karena trackingnya baru dimulai  tengah hari, jadilah energinya sudah tersita sehingga bapak harus rela sering-sering menggendong, bahkan tidur dalam gendongan.

Dua tempat berikutnya adalah Belik Wunut dan tanah ambles. Belik Wunut ini mata air yang unik dengan dua rasa, yaitu manis dan tawar. Sekat dinding  mata air menjadi pemisah dua rasa.

20161106_1045131

20161106_1043451

Menjajal keunikannya, mbak Elizhabet yang traveller sejati menjajal manisnya mata air. “Beneran”, katanya. Uniknya lagi, mata air itu tetap mengalir meski kemarau. Pada waktu hujan dan sungai  sampingnya berarus, ada mini air terjun yang bisa dinikmati.

Perjalanan mulai menanjak ketika kami menyaksikan lokasi tanah ambles sedalam 7 meter. Hanya ada dua rumah yang terlihat utuh. Mas Mono menunjukkan titik-titik  penting di tempat itu, seperti lokasi si bocah yang selamat dari maut dan candi yang kini ditumbuhi semak belukar.  Tempat itu kini ditumbuhi semak belukar sehingga tidak terlihat secara gaimblang seperti dulu pada saat kejadian, namun terlihat ada cekungan mengangga semacam jurang yang ditumbuhi semak.

img-20161109-wa00021

menyusuri tanah ambles

img-20161109-wa00031

Tanjakan semakin miring namun untunglah, lepas dari dua tempat itu saatnya kami dijamu di sebuah rumah warga di lereng bukit. Ini kedua kalinya kami berbaur dengan masyarakat  setempat. Menu tradisonal dengan pembuka rujak degan benar- benar menggugah selera. Lihat saja, menu sebanyak itu bebas kami nikmati. Terasa pecaaah karena kami makan dalam kondisi lapar dan capek. Ada sayur lodeh yang segar, lauk ayam goreng dan tempe, serta mie goreng sehingga peserta yang tidak makan nasi tetap mendapatkan karbo.  Teh anget yang kemepyar cukup mengobati lelah.  Sementara buah pelengkap berupa semangka dan jeruk menambah kesegaran siang yang panas.

Puas berleha-leha di pendopo, mas Mono melengkapi petualangan kami dengan berkenalan dengan tokoh inspiratif di bidang literasi dari Desa Sengir. Luar biasa, ada sosok yang mau berjuang di desa yang jauh dari keramaian kota ini. Sanggar  Anak Studio Biru menjadi tempat singgah yang cukup lama.  Mas Rendra sang pejuang literasi itu berbagi pengalaman dan inspirasi yang menggugah kami.

20161106_1357281

20161106_1400461

berkaos kuning, mas Rendra berbagi inspirasi

Tak hanya buku yang ditawarkan sehingga ketika Janitra  mulai bosan melihat-lihat buku koleksi Studio Biru dan mulai mengambek kerena harus duduk cukup lama, untunglah saya menemukan permainan unik. Permainan sepak bola dengan kelereng di papan berpaku yang di sekat-sekat dengan karet itu cukup bisa mengalihkan dunia Janitra.  Memiliki suami yang pengertian akan passion istrinya sehingga rela keluar forum dan menunggui Janitra bermain sungguh beruntung. Sebelum meninggalkan Studio Biru, kami sempatkan berfoto salam litarasi.

img-20161107-wa00041

foto kepunyaan mbak Ima Satrianto

Hari beranjak sore ketika kami ngos-ngosan naik menuju Bukit Teletubies. Dalam perjalanan, tak henti Janitra merengek pengen ketemu dan digendong badut gegara melihat gambar teletubies dalam brosur desa wisata. “Mboten enten Dik, niki pun sonten,”kata saya.  “Badute libur Dik“, ucap saya selalu.

Tapi lihat apa yang terjadi? Setelah belelah-lelah dengan perjalanan, kami, khususnya Janitra mendapat kejutan dari tim ketika kami sedang  duduk-duduk menikmati jelang senja di atas bukit. Tetiba badut merah itu menghampiri kami.   Waw, kaget bercampur senang, Janitra mendekati badut itu untuk bersalaman.  Saya menyaksikan wajah luar biasa pada diri Janitra. Ada rasa kaget bercampur tak percaya terbayang di wajahnya. Tekad untuk berani mengalahkan rasa takut karena bahagia mendapatkan apa yang diangankan terbaca lewat sorot matanya ketika beranjak dari duduk. Saya merasa surprised melihat ekspresi itu pada diri anak saya.

img-20161107-wa00061

foto oleh mbak Ima Satrianto

20161106_1607081

difotoin mbak Rahma

Dari atas bukit pemandangan luar biasa tersaji di bawah kami. Landskap Sleman yang hijau di sana-sini terlihat segar di mata. Kampung Teletubies terlihat kecil dari atas. Ada blendukan-blendukan putih diantara rerindang pepohonan. Langit sore yang kekuningan menawan disaput awan kelabu di beberapa titik.

20161106_1610581

20161106_1602461

img-20161107-wa00051

jepretan mbak Ima Satrianto

20161106_1628561

obrolan di atas bukit

Janitra tak sabar untuk pulang sementara hp saya dan suami sudah kehabisan daya sehingga tak bisa menangkap senja, maka kami memilih duduk-duduk di bawah puntuk Teletubies itu.  Ah, sebagai gantinya kami justru bisa kenal lebih dekat dengan mas Rendra.

Langit mulai menghitam ketika kami beranjak turun. Langit di barat semakin emas. Ada kerlap-kerlip di kaki langit,ialah landskap kota Yogyakarta di kejauhan.

Perjalanan yang luar biasa bagi kami. Tak hanya pengalaman dan inspirasi, namun saya juga menemukan teman-teman baru yang hebat di bidangnya masing-masing.Tim Villageria dan Mas Mono serta masyarakat Desa Wisata telah menjamu kami dengan sangat istimewa. Terima kasih. .. 🙂

Ingin merasakan serunya ngetrip seperti kami, bisa klik Villageria yang pasti akan memberikan harga sesuai dengan harga dari desa wisata  🙂

Iklan

4 pemikiran pada “Ngetrip Bareng Villageria di Deswita Dome Teletubies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s