Tantangan Nulis Blue Valley

Perahu Kertas

 

“Aku pulang sekarang….”

“Di luar hujan begitu deras, tunggulah agak reda.”

“Tak masalah, aku harus pulang sekarang.”

“Nekat sekali kamu. Bawa payung kan?”

“Selalu.”

Aku ingin segera sampai rumah. Bergelung di kasur  menenggelamkan kepalaku di bawah bantal. Entah apa jadinya dadaku kalau aku tak segera keluar dari sini, terus menerus menahan gemuruh yang harusnya sudah meletus. Tentu seharian ini aku tak bisa konsentrasi bekerja. Bibirku sampai sakit karena berulang-ulang kugigit untuk membendung tangis. Aku tak tahan lama-lama berada di pantry menyembunyikan rasa sakit yang membuncah.  Tidakkah mereka rasakan getaran dalam suaraku. Susah payah kutahan agar hari ini aku tak banyak cakap. Sebenarnya bukan hal yang aneh, aku memang tak suka banyak bicara di tempat kerja. Ya, hari ini aku menjawab segala pertanyaan yang datang padaku seperlunya saja. Lebih bayak gerakan kepala; menggeleng, mengangguk, melengkungkan senyum, mengerutkan kening,  atau dengan gerakan bahu.

“Kamu sariawan atau napa sih?”

“Sori, lagi dapet, lagi nggak mood ngomong,” jawabku bohong.

“PMS nih… .” celetuk yang lain, kutingkahi dengan cengiran.

Hari ini menjadi hari terlama, detik  demi detik menetes serupa  sampo di dalam botol yang nyaris kosong. Kalau berkali-kali melirik jam dinding, tentu waktu bagiku seperti merangkak.

***

Tepat ketika aku keluar dari pintu kantor, angkot biru  langgananku melintas. Aku menggeleng pada pak sopir. Tidak. Aku sedang ingin sendiri, berjalan di bawah hujan.

Benar, hujan kali ini terlampau deras. Inginku, payung biru ini kubiarkan tetap kuncup agar langkahku terbingkai hujan sempurna. Tapi aku masih tahu diri. Sayang pada tubuhku. Bisa-bisa tubuhku remuk kalau aku nekat.  Bukanya menikmati hujan tapi menyiksa diri. Aku tak mau menambah rasa sakit di sekujur  tubuh.Sebenarnya aku benci berjalan di dalam hujan semacam ini. Hujan deras begini lebih nikmat diresapi  dari  bawah selimut atau di tepi jendela kamar ditemani secangkir kopi.  Ah, tapi setidaknya di bawah payung ini kepundan di dadaku ini akhirnya meledakkan leleran lava, hangat mederas  dari kedua sudu t mataku.  Air mata mengalir sejalan dengan langkah kakiku.

Pertokoan yang biasanya kunikmati dari balik jendela angkot kini terpampang di sampingku. Pelan-pelan berkelebatan saja.  Aku biasanya suka mengamati beberapa toko baju, menatap manekuin  yang dalam beberapa hari selalu berganti gaun. Menebak-nebak apakah gaun atau rok yang di hari sebelumya kulihat apakah masih di sana, menebak sudah berganti model seperti apa.  Gaun sebelumnya, sudah masuk almari di sebuah kamar? Atau sekedar berganti untuk menarik hati para perempuan sepertiku. Ah, kalau mau menuruti keinginan, aku ingin membeli rok-rok bermodel etnik atau gaun panjang yang kubayangkan akan menyulap diriku menjadi sosok anggun.  Sudahlah, aku  sedang tidak ingin berangan-angan kapan aku bisa masuk dan membawa pulang salah satu koleksinya.

Mendekati sebuah kedai kopi, hatiku gamang. Menghangatkan diri dengan secangkir kopi sembari menikmati gemericik liris, memandang bulir-bulir yang membuat kaca memburam sepertinya nikmati. Itu di sana, di meja pojok  tepi jendela aku suka melewatkan waktu   berjam-jam untuk membaca, menghabiskan cangkir demi cangkir, atau sekedar melamun.  Hampir saja langkahku kebelokkan ke kedai kalau bukan karena bayangmu  mendadak hadir di meja itu mengurungkan niatku. Sejak mengenalmu, kursi di seberang aku duduk tak pernah kosong. Mengisi akhir pekan dengan berbincang  berbagai hal denganmu tak pernah ada habisnya.  Akhir pekan yang selalu kunanti. Kedai kopi menjadi tempat yang selalu kurindu.  Ah, hari ini kedai itu membuatku muak. Langkah  kupercepat.  Aroma yang meruap hingga ke setiap sudutnya tak lagi menggodaku.

“Aku akan ajak kamu ketemu mama,” ujarmu di kedai sore itu.

“Ketemu mama kamu?” Aku tak bisa mendefinisikan perasaan yang berkecemuk. Aku takut bertanya ataupun menebak-nebak sendiri, main ke rumahnya berarti…

“Sudah saatnya kamu kukenalkan pada mama,”

Aku tak bilang ya atau tidak, tahu-tahu aku sudah duduk di ruang tamu bernuansa klasik.

“Ini lho Mah, gadis yang pernah kuceritakan, emm… yang kemarin bukunya nongol di ‘Buku Baru”. Kamu menunjuk majalah yang masih tergeletak di meja.

Wanita itu tersenyum, lalu meneliti.

Perasaan tidak nyaman mendadak menelusup, rasanya risih dipandang seperti itu, seperti sebuah barang yang sedang ditaksir.

“ Belajar nulis dari mana?”

“Otodidak Tante,”

“ Sekolahnya dulu?”

“Saya hanya lulusan SMK Tante,”

“Hem…lulusan SMK tapi bisa menulis novel?”

Mamamu mengangguk-angguk. Entah apa yang bersarang di kepalanya. Pastilah kamu belum pernah menceritakannya pada mamamu. Majalah yang memuat novelku tentu saja hanya menampilkan sinopsis.

Pertemuan pertama dan kedua di rumahmu masih diwarnai sedikit kehangatan. Namun berangsur-angsur  kehangatan itu menguap. Dingin menyambutku setiap kali kamu mengajakku mengunjungi keluargamu. Hingga suatu hari, mamamu sudah bersama seorang perempuan cantik ketika aku datang.

Aku menjabat tangannya. Dia sosok yang anggun. Penampilan dan gaya bicaranya sudah mewakili dari kelas mana dia berasal.

“Katanya kamu baru naik jabatan, direktur pemasaran.” Mamamu menyebut sebuah perusahaan  kosmetik yang punya produk  berbahan herbal. Mereka terlibat pembicaraan seru dan akrab. Aku? Seperti tidak ada diantara mereka. Selanjutnya kamu tidak pernah lagi mengajakku ke rumahmu.

Masih di kedai itu, pertemuan kita masih tetap berlanjut. Namun, aku tidak lagi mendapati binar di kedua matamu. Murung, wajah itu yang selalu menemani akhir pekanku. Bahkan, kadangkala aku menjumpai kamu mendadak menjadi begitu temperamental dan tidak sabaran.

“Maafkan aku…” selalu itu yang kamu ucapkan tiapkali kamu berusaha melawan temperamentalmu yang spontan muncul. Mana sosok riang dan hangat darimu yang kukenal? Mungkinkah  perempuan itu yang telah merenggutnya darimu?

“Emm… mama memaksaku menikah.” Seperti ada sengatan tiba-tiba menjalari tubuhku. Aku sebisa mungkin menyembunyikannya. Juga gigil  yang mendadak muncul.

“Maaf, mamaku….” Aku sudah bisa menebaknya, jadi aku tak ingin mendengar kelanjutan ucapanmu.

“Tapi aku masih berjuang untuk membatalkan rencana Mama.” Kamu sendiri seperti tidak yakin mengucapkan itu, bagaimana aku bisa mempercayainya? Bagaimanapun, aku tak bisa berbohong kalau aku begitu berharap kamu benar-benar membuktikan ucapanmu. Tak butuh waktu lama hingga undangan itu tiba.

***

Berkecipuk  dengan air hujan yang pelan mereda, tak setapakpun langkahku terhenti. Dadaku berangsur  melapang. Nafas yang kuhela kian lega.  Tiba di jalan masuk kampung berparit di kanan kirinya, langkahku baru berhenti, tertarik mendengar celoteh para bocah di tepi parit. Sambil menyusut air mata dengan punggung tanganku, kudekati mereka. Ada perahu-perahu kecil  yang sedang berlayar. Rupanya mereka mengeluhkan perahu kertas yang terancam karam.

“Kertas itu terlalu tipis. Hmmm…kakak punya kertas yang tebal. Pasti akan menjelma perahu kokoh.“

Mereka menoleh kompak. Sejenak memandangiku heran.

“Perahu kokoh?”

Aku mengangguk. “Sebentar kakak ambilkan. Air tak akan begitu saja menelannya.”

“Asyik… asyik… mana Kak, mana Kak?”

Aku merogoh messenger bag, menarik  selembar kertas yang terbungkus plastik. Buru-buru kukeluarkan isinya.

“Waw, bagus Kak!”

Mereka memandang kertas yang kupengang, takjub.

“Lho, itu kan undangan? Pernikahannya siapa Kak? Nggak sayang?”  Raut takjub itu digelayuti tanya.

Aku menggeleng. Menanggapi celoteh mereka dengan senyum saja. Tanpa terlebih dahulu membaca isinya aku mulai melipatnya. Selembar kertas ini sebenarnya ingin kuremas-remas begitu kudapati sudah tergeletak di meja pantry. Mereka memuji-muji betapa elegannnya desain undangan itu. Betapa manis nan romantis foto prewedding berlatar ilalang itu. Si pemilik undangan begitu saja berlalu setelah meletakkan segepok undangan di pantry. Tak  tahan dengan olok-olokkan mereka? Atau   tak tega melihatku membuka undangannya?

Kau pasti sengaja menaruh undangan ini sebelum aku datang, menghindari pertemuan denganku.  Huh, dulu saja kau sengaja mencari-cari alasan agar bisa bertemu denganku.  Pura-pura sibuk berjalan membaca kertas-kertas di tanganmu, untuk kemudian masuk pantry sedekar meracik kopi sendiri atau bercanda dengan Bagas dan Agus waktu istirahat tiba.

Ah, undangan itu hanya kusentuh ketika kumasukkan begitu saja ke dalam tas.Kapan mereka menikah, aku tidak mau tahu.  Aku toh tak akan menghadirinya. Biarlah kertas ini menjelma mainan untuk bocah-bocah ini.

“Nah selesai. Bagus kan?”

“Buruan Kak, layarkan.”

Aku berjongkok dan meletakkan perahu itu di permukaan bening yang gemericik. Pelan sekali aku melepasnya seolah aku tak rela kalau perahu ini tak akan kembali. Kuhela nafas dalam-dalam.

“Horrreeeeee…horeeeee… .” Mereka bersorak.

Kupandangi wajah mereka satu-satu. Tawa mereka teramat ringan tak berbeban. Mereka seperti menghanyutkanku ke dunia mereka. Keriangan mereka menjalari tubuhku. Spontan aku ajak mereka ber-high five satu-satu lalu segera kupalingkan mataku pada perahuku sebelum mendapatinya mengecil. Tatapanku lekat bersama arus yang membawa perahuku melaju.

dukaku tersemat di selembar tubuhmu

perahuku,

berlayarlah… berlayarlah…

larungkan luka lara

akhiri segala cerita

aku dan dia…

 

 

#mengambil judul “Perahu Kertas”  dari puisi “Perahu Kertas” dalam Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas, Balai Pustaka, Jakarta, 1983, hal 46

 

blue-valley

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”

Iklan

5 pemikiran pada “Tantangan Nulis Blue Valley

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s