[Diary Ramadhan #4] Menu Takjil dari Dapoer Ibu Mertua

Ramadhan ke 4,5,6 dan 7 hari ini Alhamdulillah Janitra masih istiqomah belajar puasa bedhug. Lolos dengan tantangan yang sama: bangun sahur. Masih susah makan. Pada hari ke -4 Ahad lalu terbilang mudah, setelah sahur ceria banget. Hanya hari ini, pada hari ke-7 nangis dibangunin. Lama banget bangunnya. Jadi saya beri toleransi adzan subuh berkumandang masih makan. Pelan-pelan saja, untuk pembelajaran, bagi saya perlu menurunkan ekspektasi terhadap anak.

Setiap dibangunin sahur ditanya, mau puasa tidak, sambil merem pasti jawab puasa. Harus puasa sepertinya jadi prinsipnya, hanya untuk sahur perlu perjuangan.  Semangat ketika puasa siangnya selalu full.

Mulai Ahad lalu, Ramadhan ke-4, Janitra mulai mengikuti dauroh menghafal Alquran juz ke-30 di Yayasan Hidayatullah tempat ia sekolah TK. Kami antusias mendaftarkan Janitra untuk mendekatkannya pada Alquran sejak dini, mulai mengenalkan hafalan Alquran. Janitra antusias juga menyambut, ngaji di sekolah. Di hari-hari biasa ia mengaji TPQ di kampung, Ramadhan pun ia masih semangat. Ia bilang, ngaji dua kali. Asal anak semangat, kami tak mau menarget yang muluk-muluk. Asal mau belajar, capaian sesuai kemampuannya.

Ramadhan bulan mulia, bulan penuh pahala. Saatnya kita memberi kesan dan kegiatan positif untuk mendekatkan pada Allah, memperkenalkan keutamaannya.

Mulai Senin sekolah sudah masuk, kegiatannya jadi full. Awalnya saya agak khawatir, melatih puasa sementara saya tidak seharian di rumah karena kerja. Nyatanya, puasanya tanpa hambatan di siang hari karena waktunya terisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Di rumah pun ia punya teman bermain kakak-kakak sepupunya yang tinggal serumah.

Karena kegiatannya full, saya wanti-wanti Janitra untuk terus terang jika merasa capek. Kami tidak mau memaksakan Janitra belajar. Ia harus riang melakukannya. Asal siang pulang sekolah mau tidur, pukul 4 pulang dauroh ia semangat sekali masuk TPQ. Hanya hari ini, Ramadhan ke-7 ia mengaku ngantuk karena tidak mau tidur siang. Kami tak memaksa ketika selesai dauroh ia minta pulang.

Setiap pulang dauroh, pasti ada takjil spesial yang dibawanya. Dengan biaya pendaftaran Rp.130.000 ia akan mendapatkan sertifikat, juz amma kecil full color di hari pertama,  dan free takjil setiap sore. Di TPQ juga ada takjil yang dibawa pulang.  Ibuk tak perlu mencari-cari takjil untuk Janitra, jadi menambah semangatnya berbuka. Seperti Selasa lalu, Ramadhan ke-6, ada menu spesial dari Dapoer Ibu Mertua: cocktail dan siomay.

IMG-20180522-WA0030

Coctailnya seger… cess di waktu berbuka. Sementara siomay selalu jadi makanan favorit kami. Siomay Dapoer Ibu Mertua terasa banget udangnya. Sambalnya juga enyaakk..

Teman-teman punya menu spesial apa?

2 pemikiran pada “[Diary Ramadhan #4] Menu Takjil dari Dapoer Ibu Mertua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s