Warna Lokal dalam Kumcer Kasih Sejuta Bunda

Judul buku       : Kasih Sejuta Bunda

Penulis             : Lisma Laurel, S. Gegge Mappangewa, d.k.k.

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Halaman         : 144 halaman

Harga              : Rp.39.000

Garis Besar Buku

Bukan kumpulan cerpen biasa, Kisah Sejuta Bunda menghadirkan 11 cerpen pemenang dan finalis Kompetisi Menulis Indiva 2019. Para penulisnya pun berpengalaman menulis cerita anak di berbagai media maupun menerbitkan buku. Bahkan, beberapa diantaranya adalah jawara kompetisi menulis nasional.

Buku ini dibuka dengan cerpen yang menjadi judul buku, Kisah Sejuta Bunda. Cerpen ini menceritakan seorang gadis kecil, Clara, yang ibunya meninggal karena sakit. Ia sempat menyalahkan ibu yang meninggalkannya dan ayah tidak bisa mengepang rambutnya sama besar sehingga ia ditertawai teman-temannya saat bermain di taman.  Clara kangen dengan ibunya melihat teman-temannya bersama ibu-ibu mereka. Tapi mendapat kebaikan ibu dari teman-temannya hati Clara terobati. Apalagi ayahnya berjanji  akan melakukan apa saja seperti yang ibunya lakukan.

Beranjak ke cerpen kedua, “Kotak Ajaib Milik Juro”, pembaca akan diajak ke Jepang, berkenalan  dengan kearifan tokoh Juro yang selalu bersemangat dan ceria bekerja di toko pak Yukio. Semangat Juro membuat Etsu  bertanya-tanya, apa yang membuat Juro tidak pernah mengeluh sekalipun pekerjaan mereka melelahkan. Rasa penasaran Etsu makin menjadi mendengar rahasia semangat Juro adalah kotak ajaib. Apa isi kotak itu membuat Etsu ingin tahu dan membukanya ketika Juro belum kembali. Isinya sungguh diluar dugaan. Juro memberi Etsu inspirasi untuk melakukan hal yang sama dengannya. Tokoh Juro memberi pesan mendalam bagi pembaca, ia mengajarkan untuk selalu bersemangat dan mengingat hal-hal yang baik ketimbang berpikir negatif.

“Hal baik yang datang pada kita perlu diingat. Hal buruk, kita lupakan dan buang jauh-jauh.” (hal. 26)

Cerpen ketiga, “Pembatas Buku Gratis” mengetengahkan cerita tentang Katrina yang berjiwa enterpreneur dengan menjual pembatas buku buatannya. Ketika dibawa ke kelas, pembatas buku buatannya membuat Pipit dan teman-temannya ingin mendapatnya secara gratis. Sepulang sekolah, Pipit diminta bantuan ibunya untuk berbelanja bahan kue. Ia bertemu dengan Katrina yang sedang berbelanja bahan-bahan untuk membuat pembatas buku. Sampai di rumah, Pipit mendengar pembicaraan ibunya dengan pelanggan yang melakukan tawar-menawar. Pembicaraan itu membuat Pipit menyadari bahwa untuk membuat sesuatu butuh pengorbanan dan biaya. Jika harga tidak sesuai, maka kerugian yang didapatnya. Kisah itu mengajarkan pentingnya menghargai karya orang lain.

Pada masa pencarian identitas, anak-anak seringkali belum mengenali potensi dan memaknai kelebihan diri. Anak-anak menganggap kelebihan dan  prestasi sebatas juara sekolah. Ada dua cerpen yang mengajarkan untuk menggali potensi dan menghargai kelebihan yang diberikan Allah. Tokoh Rossmalia dalam cerpen “Raibow Rose” ingin memiliki kelebihan seperti teman-teman di asrama yang masing-masing punya kelebihan yang menjadi ciri khasnya. Rossmalia ingin memiliki sesuatu yang istimewa. Ia diam-diam menanam bunga mawar di kebun asrama. Kemampuannya teruji ketika musyrifah sakit. Ia bisa memberikan mawar yang berbeda dan membuat musyrifah bangga. Sementara tokoh “Palai Bada untuk Ayah”, Izzati, iri kepada kakak dan adiknya yang berprestasi di sekolah.  Ia merasa ayahnya tak pernah memujinya. Izzati kemudian ingin menjadi juara di rumah dengan memasak. Ia memasak palai bada untuk ayahnya. Ayahnya memuji Izzati dan masakannya juara.

“Tapi tidak semua orang harus juara kelas, Izza. Orang yang tidak juara kelas bukan berarti bodoh. Mungkin mereka akan juara di bidang yang lainnya.” (hal.74)

Ada keunikan beberapa daerah, terutama  makanan dan minuman yang dikenalkan oleh beberapa pengarang dalam buku ini. Selain cerpen “Palai Bada untuk Ayah”, ada cerita “Sarabba Kakek Agung” karya S. Gegge Mappangewa dan “Seruit Persabatan” karya Siti Atika Azzaharah. Sarabba  menjadi jembatan bagi kakek Agung untuk dekat dengan anak-anak yang selama ini takut padanya karena ia suka tiba-tiba menangkap dan menciumi anak-anak laki-laki. Ada latar belakang mengapa kakek Agung melakukan itu. Kehilangan anak lelakinya di masa lalu membuatnya merindukan anak laki-laki. Anak-anak yang selama ini takut padanya kemudian memberanikan diri untuk datang. Mengenal kakek Agung lebih dekat setelah datang ke rumahnya, ayah si tokoh aku kemudian mencari anak kakek Agung lewat internet.

Jika sarabba menjadi minuman dalam pertemuan kembali ayah dan anak yang lama terpisah, seruit dalam cerpen “Seruit Persabahatan” menjadi jembatan persabahatan antara Andini,seorang siswa baru, dan Jasmine yang selalu mengganggu Andini lantaran iri dan ingin menarik perhatiannya. Seruit itu disajikan dalam acara syukuran di rumah Andini. Dalam acara tersebut, terungkap mengapa Jasmine selalu menganggu Andini dan mereka bisa menjadi sabahat. “Seruit menyatukan perbedaan dalam kebersamaan.”(hal.143)

 Satu lagi cerpen yang mengangat tema itu yaitu “Sahabat-Sabahat Lisa”. Lisa, yang pintar dan berhijab membuat Santi kagum. Lisa datang ke rumah Santi saat Santi bosan karena liburan di rumah. Mengapa Lisa tidak pernah bosan di rumah dan pintar terjawab saat Lisa mengajaknya datang ke rumah Lisa. Lisa menginspirasi Santi untuk melakukan hal yang sama.

Dua cerpen yang lain adalah “Gara-Gara Kemarau”  dan “Nasi Hukuman”. Keduanya bersetting di pedesaan. “Gara-Gara Kemarau” menceritakan Motto yang tiap sore harus mengambil air 4 jeriken dan mengisi bak mandi. Suatu ketika ia ingin lari dari tugas dan makan mangga muda sambal dengan cabai 20. Ia bolak-balik ke belakang dan merasakan penderitaan karena ulahnya.  

Sementra “Nasi Hukuman” mengajarkan pada anak-anak untuk bersyukur dan menghargai hasil kerja petani dengan selalu menghabiskan makanan (nasi) yang sudah diambilnya. Dio  mendapat hukuman karena tidak menghabiskan nasi makan siangnya. Dio menyadari kesalahannya ketika Faiz mengajaknya ke sawah kakeknya dan kakek memberi gambaran mengenai hasil panen dan kerugian yang mungkin diterima petani jika gagal panen.

Penilaian dan Beberapa Catatan Kecil

Tema dan amanat

Tema-tema dalam kumcer Kisah Sejuta Bunda dekat dengan dunia anak. Seperi tema persabatan, semangat dan keihlasan dalam bekerja, bersyukur dengan apa yang berikan Allah, kedisiplinan, keikhlasan, dan tema yang sangat membangun karakter. Tema-tema tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi anak-anak yang tersurat maupun tersirat sebagai pesan (amanat). Penulis berhasil memaksukkan unsur pendidikan karater sebagai visi dari penerbit.

Alur

Kesebelas cerpen dalam buku ini disajikan dengan alur maju. Alur maju sesuai dengan pola pikir anak-anak yang masih sederhana. Anak tidak perlu berpikir njlimet untuk mengingat rangkaian kejadian yang saling berhubungan sebab akibat.

Plot yang memancing rasa penasaran dengan apik misalnya terlihat dalam “Sarabba Kakek Agung.” Pertemuan Kakek Agung dengan Basri anaknya tidak serta merta mengakhiri cerita dengan bahagia. Nyatanya Kakek Agung yang sudah pikun tidak mengakui Basri sebagai anaknya. Kakek Agung kembali ingat ketika Basri menawarkan diri untuk memetik kelapa untuk dibuat sarabba.

Anak juga dibuat bertanya-tanya pada rencana Nada dalam cerpen “Nada yang Tak Biasa” dalam usahanya membuat ibu bisa mengikhlaskan kakak Nada yang baru saja meninggal. Apakah rencana Nada? Berhasilkah?

Sudut pandang

Sebagian besar cerpen dalam buku ini dituturkan dengan sudut pandang orang ketiga pelaku utama. Para penulis dalam buku ini bercerita dari sudut pandang tokoh utama. Cerita tokoh lain diceritakan dari kejadian yang ada di sekitar tokoh utama.

Dua cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama aku yaitu “Sarabba Kakek Agung” dan “Gara-Gara Kemarau”. Kesalahan kecil terlihat dari ketidakonsitenan penyebutan sudut pandang aku dalam cerpen “Sarabba Kakek Agung”. Satu kali penulis menyebut aku dengan saya di halaman 115.

Tokoh dan penokohan

Tokoh-tokoh  dalam buku Kisah Sejuta Bunda mengalami perkembangan watak sesuai dengan perkembangan alur. Watak dari beberapa tokoh yang bertentangan dengan nilai di akhir cerita mengalami perubahan sesuai pesan yang diusung oleh penulis. Anak-anak selain mendapatkan nilai-nilai dari tokoh juga mendapatkan akhir baik yang menghibur.

Pembentukan karakter anak bisa dilakukan salah satunya dengan kisah atau cerita. Ketika anak membaca cerita, seringkali mengindentifikasi diri dengan karakter-karakter maupun peristiwa yang dialami tokoh. Proses ini akan membentuk keterikatan emosi antara anak dengan pesan moral cerita yang dibacanya. Timbul keinginan dalam diri anak untuk melakukan seperti yang tokoh yang dibacanya. Buku yang inspiratif akan mengambil peran ini. Sebelas cerpen dalam buku ini memiliki tokoh yang bisa menjadi contoh bagi anak-anak yang membacanya.

Setting

Bagian ini yang paling menarik perhatian saya. Tidak semua cerpen secara spesifik menyebutkan setting cerita berupa nama daerah/kota/desa tempat peristiwa berlangsung. Patut disayangkan, ada cerita dengan warna lokal yang khas namun settingnnya tidak disebut, seperti “Palai Bada untuk Ayah”. Palai Bada merupakan makanan khas dari Padang. Setelah membaca cerpen itu, saya kemudian googling mencari makanan khas tersebut.

Palai Bada

Begitu pula dengan cerpen “Sarabba Kakek Agung”. Dalam cerpen ini, penulis satu kali menyebut daerah Sidrap dan Makassar. Cerpen-cerpen tersebut bisa digali lebih dalam warna lokal yang menjadi settingnya sehingga bisa memperkaya pengetahuan anak-anak.

Sarabba

Dalam “Seruit Persahabatan”, penulis secara gamblang menjabarkan apa itu seriut dan dari mana asal makanan itu. Wawasan anak akan bertambah membaca cerpen ini. Cerpen semacam ini memberikan nilai lebih bagi anak-anak.

Seruit

Menurut kritikus sastra Melani Budianta, keragaman budaya lokal akan menjadi kekayaan yang menarik bila penulis mampu mengubah kultur dan subkultur dalam karyanya. Cerpen anak pun, punya peluang untuk mengolah keragaman tersebut dalam cerpen.

Saya menyayangkan tidak disebutnya setting dalam cerita “Gara-Gara Kemarau”. Membaca penyebutan mamak dan nama Motto, nama yang khas,  cerpen itu punya kans untuk dikembangkan menjadi cerpen dengan kekayaan lokalitas.

Setting yang lengkap saya temukan dalam cerpen “Kotak Ajaib Milik Juro”. Penyebutan negara, toko, nama-nama tokoh, dan kearifan lokal yang tertuang dalam suasana, karakter yang kuat, dan pesan saling berkaitan sehingga menjadi cerpen yang apik. Jepang punya budaya luhur yang bisa digali dan dikenal anak-anak. Namun, bagi saya rasanya janggal dan njomplang menemukan satu cerpen bersetting negara Jepang bersanding dengan 10 cerpen bersetting lokal.  Mungkin hal itu bisa dipahami sebab dalam syarat lomba yang diadakan Indiva tidak ada syarat tema lokal.

Keterangan foto:


Palai Bada dari http://haeko.blogspot.com/2020/04/samba-palai-anduang.html?m=1

Sarabba dari https://www.makanabis.com/post/article/sarabba-minuman-khas-sulawesi-penangkal-corona

Seruit dari https://www.jalajahnusae.com/kuliner/31/12/2019/mencicipi-ikan-seruit-kuliner-lampung-penanda-kebersamaan/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s