Buku-Buku Sahabat Beradaptasi

Kelas 5 SD, sekitar 1995, seorang siswa baru menjadi teman sekelas. Ia putri seorang camat yang memerintah tempat tinggal kami. Tentu, untuk siswa baru, ia perlu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Naik ke kelas 6, entah bagaimana caranya, kami bisa satu kelompok. Karena saat kelas 5 kami sebatas saling tahu, dimulailah perkenalan dan saling beradaptasi. Bertandang ke rumahnya, saya dan teman sekelompok dibuat kagum pada koleksi buku-bukunya. Inilah perkenalan saya dengan Gramedia yang lebih intens. Sebelumnya saya mengenal Gramedia lewat serial Lupus yang membuat terkikik.

 Saya dibuat penasaran dengan petualangan Lima Sekawan, STOP, dan Trio Detektif.  Buku-buku itu membuat saya dan satu teman lebih rajin main ke rumahnya. Bukan untuk belajar namun pinjam dan mengembalikan. Satu hari pinjam kemudian selesai satu petualangan lanjut ke petualangan lain. Begitu seterusnya. Tak terasa buku-buku itu membuat adaptasi kami berjalan saja secara alamiah dan tahu-tahu kita satu kelas lagi di bangku SMP. Di pertengahan kelas 2,  ia harus kembali ke lingkungan asalnya karena tugas ayahnya di kecamatan kami selesai. Ia meninggalkan satu kenangan berupa kesenangan baca yang mengakar pada diri saya.

Babak baru buat saya ketika harus beradaptasi adalah ketika masuk di bangku kuliah di Yogyakarta. Perpustakaan menjadi pelarian saat harus bergelut dengan perasaan jauh dari keluarga. Rasa sepi di kost terisi dengan novel-novel, sebut saja Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Trilogi Jendela Atap Pintu karya Fira Basuki dan banyak buku lain. Lulus kuliah, kerja, dan menikah saya kembali beradaptasi.

Yang berat adalah masuk ke lingkungan baru dan kehidupan baru yang akan menjadi bagian hidup saya selamanya. Masa-masa awal menjadi hal yang berat. Masih saya ingat, buku Agustinus Wibawa berjudul Garis Batas berada di tangan sementara saya belajar mengenal keluarga baru. Di depan televisi mereka menyimak dunia dari kotak ajaib sementara saya berkelana bersama Agustinus. Kami saling menyelami karakter masing-masing dengan cara kami sendiri. Petualangan luar biasa Agustinus di Afganistan dan negara-negara ‘stan’ yang lain,  menemui dan menyelami kehidupan masyarakat lokal membuat saya berayukur. Hidup saya tidak ada apa-apanya dibanding segala keterbatasan dan ketakutan para penduduk di daerah konflik dan perang berkepanjangan.

Sembilan tahun menikah pandemi Covid 19 menerjang dunia. Kami harus berdiam di rumah. Lagi, buku-buku menjadi teman kami. Babak baru seolah menyapa, pandemi membuat perubahan berbagai sendi kehidupan, yang nyata adalah ekonomi. Hidup menjadi serba dibatasi. Bagaiamana caranya, kami harus mengencangkan ikat pinggang.

Ada ambiguitas yang saya rasakan. Ketika hidup dituntut untuk bisa berhemat,namun perdagangan online seperti memborbardir hidup. Setiap detik, tawaran berbagai barang datang. Pasar berada di genggaman. Kita seolah-olah membutuhkan barang-barang  tersebut sebab tampilan iklan begitu menggoda, tawaran harga murah.

Terasa sekali ketika wfh penuh  berakhir dan saya masuk kerja. Kantor tempat saya bekerja tak jauh dari ‘pasar’. Beberapa teman adalah pelapak online. Dari fashion, skincare hingga makanan dan kebutuhan sehari-hari.   Perbincangan seputar fashion, skincare, dan tawaran  barang menjadi perbincangan sehari-hari. Sebagai pedagang mereka berhak menawarkan barang. Tidak jadi masalah.

Namun, mendadak saya merasa tidak satu frekuensi dengan teman-teman. Untungnya, saya sudah punya mind set, tak butuh tak usah beli. Hidup minimalis yang belakangan santer lewat setidaknya mempengaruhi saya. Saya sangat terinspirasi dan dikuatkan oleh kehadiran buku Gaya Hidup Minimalis.

Buku ini tidak sekedar mengajak berbenah namun lebih dari itu, memulai dengan mengubah mind set terhadap barang. Buku yang terdiri dari 4 bagian ini dimulai dengan Dasar Pemikiran. Bagian inilah yang begitu mengena dan paling saya sukai. Banyak hal  dipaparkan  yang membuat saya mengangguk-angguk dan membuka pikiran tentang kepemilikan barang, lebih-lebih di masa pandemi yang segalanya harus diperhitungkan.

Ada banyak sekali barang yang sudah dimiliki atau ingin dimiliki, tidak saja memenuhi tempat, namun lebih dari itu membuat pemiliknya membuang banyak energi, waktu,dan biaya dalam perawatannya. Barang-barang itu begitu mengikat pemiliknya; barang-barang yang tidak seberapa manfaatnya dan pemakaiannya di rumah. Barang-barang seperti itu pula yang sebenarnya sering ditawarkan dan menarik untuk dibeli.

“Sebenarnya, diri diri kita tak bisa diubah oleh produk apapun. Kosmetik mahal tidak akan menjadikan kita model terkenal. Peralatan berkebun mahal tidak akan menjadikan kita tukang kebun andal,kamera canggih tidak akan menjadikan fotografer berprestasi. Namun tetap saja kita merasa ingin membeli dan menyimpan baran yang mengandung semua janji itu”(hal.11).

Kadangkala, saya mengakui, mendapati linkungan yang begitu konsumtif ada pengaruhnya. Ada lintasan di benak, kalau aku pakai itu, aku akan terlihat lebih ini dan itu tidak ya? Namun, sekali lagi, mind set untuk lebih kembali belajar miminalis menguatkan.

“Menerapkan hidup minimalis berarti melawan keinginan untuk menghadirkan dunia luar di dalam rumah kita sendiri.”(hal.37).

Masa pandemi juga memaksa berpikir dan berbuat yang lebih ‘ringkas’. Melihat barang-barang yang terbelengkelai di rumah, ingin rasanya meringkus barang-barang yang tidak begitu manfat. Lalu bagaimana dengan barang yang sudah terlanjur terbeli?

Ada metode STREMLINE dalam buku ini yang akan memandu step by step mengubah mind set hingga berbenah di rumah mulai dari hal sederhana. Harapannya setelah semua langkah dilaksanakan,ada kebebasan dengan memiliki sedikit barang. Sedikit barang=merdeka. Belajar dan berproses menjadi ‘merdeka’ ini yang akan menjadi proses sepanjang waktu.

Prinsip-prinsip yang saya dapatkan dalam buku Gaya Hidup Minimalis ini menguatkan saya untuk bisa melawan keinginan dan memilah mana keinginan dan mana kebutuhan, mana hal-hal yang perlu dipikirkan mana hal-hal yang menjadi ‘sampah’.

***

Di kantor, saya terbilang generasi lama  namun seoalah saya yang harus beradaptasi. Selama saya memiliki prinsip yang saya pegang, semua akan baik-baik saja. Zaman serba cepat berubah. Mungkin saya merindukan teman-teman dan masa ketika fashion, skin care, dan gosip-gosip artis yang viral tidak menjadi topik perbincangan yang hangat  di kantor.                

Namun, bukankah sepanjang hidup manusia, adaptasi menjadi keniscayaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s