[Review] Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan

“Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat,ke pada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah yang tak berbubuh noktah,tiada pesta yang tanpa bubar,tiada pertemuan yang tanpa perpisahan,tiada perjalanan yang tanpa pulang,” (hal.531)

Inilah safarnama. Inilah hidup penulis yang dituliskan dalam sebuah buku yang saya baca seperti membaca sebuah novel. Hidup Agustinus dengan perjalanannya itu seperti sebuah fiksi. Ini kisah nyata, saya berkali-kali menyakinkan diri ini nyata, saking terhanyutnya dibawa jalan-jalan kayak baca novel. Padahal ini buku ke-3 dari penulis yang saya baca, tapi ‘seperti tak percaya’ kalau buku yang saya baca adalah kisah perjalanan.

Berbeda dengan 2 buku sebelumnya yang sepenuhnya berisi cerita perjalanan, kali ini perjalanan Agustinus dibingkai oleh kecintaan pada sang mama. Safarnama penulis sejalan dengan perjalanan sang mama melawan penyakit kanker. Emosi yang saya dapatkan dari satu negara ke negara berpadu dengan emosi kisah perjuangan sang mama menghadapi penyakit.

Saya merasakan panjangnya perjalanan ke Tibet,Nepal, lelahnya melakukan pendakian Anapurna. Lalu masuk India, wajah bobrok kemiskinan, rasa muak dan kesakitan yang berangsur mencapai klimaksnya oleh keindahan. Didorong kemanusiaan menjadi relawan di Pakistan, Agustinus dengan kalimat-kalimatnya mampu membuat saya bisa merasakan ironi-ironi. Kehangangatan keluarga di Pakistan yang tulus menyambut orang asing seperti penulis, punya wajah berbeda ketika berbenturan dengan konflik agama. Kehangatan itu lenyap menjadi keberingasan misalnya ketika demonstrasi besar-besaran saat kasus kartun nabi mencuat. Atau wajah lain penuh simbah darah saat peringatan terbunuhnya Hussain di Karbala.

Terakhir adalah seperti mengulang kisah Selimut Debu. Perjalanan di Afganistan mengungkap wajah di balik perang. Di negara ini, ia sekaligus bisa mendapatkan pekerjaan yang sepadan dengan mimpinya, menjadi fotografer di sebuah kantor berita. Titik baliknya ia dapatkan dari negara ini, mengantarnya pulang ke hadapan sang mama.

Tak pernah bosan membaca kisah perjalanan dari Agustinus, paduan sejarah, lokalitas, dan keindahan beragam tempat diracik dalam kisah penuh makna. Kontemplatif dan inspiratif. Kita menemukan makna perjalanan dan kemerdekaan yang sebernanya.
“Perjalanan itu sesungguhnya adalah belajar untuk menatap cermin. Dalam perjalanan, memang pada pada awalnya kita belajar menghilangkan diri, tapi pada akhirnya kita justru menemukan diri dan menjadi diri. (Hal. 414)

Buku-Buku Sahabat Beradaptasi

Kelas 5 SD, sekitar 1995, seorang siswa baru menjadi teman sekelas. Ia putri seorang camat yang memerintah tempat tinggal kami. Tentu, untuk siswa baru, ia perlu beradaptasi dengan lingkungan barunya. Naik ke kelas 6, entah bagaimana caranya, kami bisa satu kelompok. Karena saat kelas 5 kami sebatas saling tahu, dimulailah perkenalan dan saling beradaptasi. Bertandang ke rumahnya, saya dan teman sekelompok dibuat kagum pada koleksi buku-bukunya. Inilah perkenalan saya dengan Gramedia yang lebih intens. Sebelumnya saya mengenal Gramedia lewat serial Lupus yang membuat terkikik.

 Saya dibuat penasaran dengan petualangan Lima Sekawan, STOP, dan Trio Detektif.  Buku-buku itu membuat saya dan satu teman lebih rajin main ke rumahnya. Bukan untuk belajar namun pinjam dan mengembalikan. Satu hari pinjam kemudian selesai satu petualangan lanjut ke petualangan lain. Begitu seterusnya. Tak terasa buku-buku itu membuat adaptasi kami berjalan saja secara alamiah dan tahu-tahu kita satu kelas lagi di bangku SMP. Di pertengahan kelas 2,  ia harus kembali ke lingkungan asalnya karena tugas ayahnya di kecamatan kami selesai. Ia meninggalkan satu kenangan berupa kesenangan baca yang mengakar pada diri saya.

Babak baru buat saya ketika harus beradaptasi adalah ketika masuk di bangku kuliah di Yogyakarta. Perpustakaan menjadi pelarian saat harus bergelut dengan perasaan jauh dari keluarga. Rasa sepi di kost terisi dengan novel-novel, sebut saja Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Trilogi Jendela Atap Pintu karya Fira Basuki dan banyak buku lain. Lulus kuliah, kerja, dan menikah saya kembali beradaptasi.

Yang berat adalah masuk ke lingkungan baru dan kehidupan baru yang akan menjadi bagian hidup saya selamanya. Masa-masa awal menjadi hal yang berat. Masih saya ingat, buku Agustinus Wibawa berjudul Garis Batas berada di tangan sementara saya belajar mengenal keluarga baru. Di depan televisi mereka menyimak dunia dari kotak ajaib sementara saya berkelana bersama Agustinus. Kami saling menyelami karakter masing-masing dengan cara kami sendiri. Petualangan luar biasa Agustinus di Afganistan dan negara-negara ‘stan’ yang lain,  menemui dan menyelami kehidupan masyarakat lokal membuat saya berayukur. Hidup saya tidak ada apa-apanya dibanding segala keterbatasan dan ketakutan para penduduk di daerah konflik dan perang berkepanjangan.

Sembilan tahun menikah pandemi Covid 19 menerjang dunia. Kami harus berdiam di rumah. Lagi, buku-buku menjadi teman kami. Babak baru seolah menyapa, pandemi membuat perubahan berbagai sendi kehidupan, yang nyata adalah ekonomi. Hidup menjadi serba dibatasi. Bagaiamana caranya, kami harus mengencangkan ikat pinggang.

Ada ambiguitas yang saya rasakan. Ketika hidup dituntut untuk bisa berhemat,namun perdagangan online seperti memborbardir hidup. Setiap detik, tawaran berbagai barang datang. Pasar berada di genggaman. Kita seolah-olah membutuhkan barang-barang  tersebut sebab tampilan iklan begitu menggoda, tawaran harga murah.

Terasa sekali ketika wfh penuh  berakhir dan saya masuk kerja. Kantor tempat saya bekerja tak jauh dari ‘pasar’. Beberapa teman adalah pelapak online. Dari fashion, skincare hingga makanan dan kebutuhan sehari-hari.   Perbincangan seputar fashion, skincare, dan tawaran  barang menjadi perbincangan sehari-hari. Sebagai pedagang mereka berhak menawarkan barang. Tidak jadi masalah.

Namun, mendadak saya merasa tidak satu frekuensi dengan teman-teman. Untungnya, saya sudah punya mind set, tak butuh tak usah beli. Hidup minimalis yang belakangan santer lewat setidaknya mempengaruhi saya. Saya sangat terinspirasi dan dikuatkan oleh kehadiran buku Gaya Hidup Minimalis.

Buku ini tidak sekedar mengajak berbenah namun lebih dari itu, memulai dengan mengubah mind set terhadap barang. Buku yang terdiri dari 4 bagian ini dimulai dengan Dasar Pemikiran. Bagian inilah yang begitu mengena dan paling saya sukai. Banyak hal  dipaparkan  yang membuat saya mengangguk-angguk dan membuka pikiran tentang kepemilikan barang, lebih-lebih di masa pandemi yang segalanya harus diperhitungkan.

Ada banyak sekali barang yang sudah dimiliki atau ingin dimiliki, tidak saja memenuhi tempat, namun lebih dari itu membuat pemiliknya membuang banyak energi, waktu,dan biaya dalam perawatannya. Barang-barang itu begitu mengikat pemiliknya; barang-barang yang tidak seberapa manfaatnya dan pemakaiannya di rumah. Barang-barang seperti itu pula yang sebenarnya sering ditawarkan dan menarik untuk dibeli.

“Sebenarnya, diri diri kita tak bisa diubah oleh produk apapun. Kosmetik mahal tidak akan menjadikan kita model terkenal. Peralatan berkebun mahal tidak akan menjadikan kita tukang kebun andal,kamera canggih tidak akan menjadikan fotografer berprestasi. Namun tetap saja kita merasa ingin membeli dan menyimpan baran yang mengandung semua janji itu”(hal.11).

Kadangkala, saya mengakui, mendapati linkungan yang begitu konsumtif ada pengaruhnya. Ada lintasan di benak, kalau aku pakai itu, aku akan terlihat lebih ini dan itu tidak ya? Namun, sekali lagi, mind set untuk lebih kembali belajar miminalis menguatkan.

“Menerapkan hidup minimalis berarti melawan keinginan untuk menghadirkan dunia luar di dalam rumah kita sendiri.”(hal.37).

Masa pandemi juga memaksa berpikir dan berbuat yang lebih ‘ringkas’. Melihat barang-barang yang terbelengkelai di rumah, ingin rasanya meringkus barang-barang yang tidak begitu manfat. Lalu bagaimana dengan barang yang sudah terlanjur terbeli?

Ada metode STREMLINE dalam buku ini yang akan memandu step by step mengubah mind set hingga berbenah di rumah mulai dari hal sederhana. Harapannya setelah semua langkah dilaksanakan,ada kebebasan dengan memiliki sedikit barang. Sedikit barang=merdeka. Belajar dan berproses menjadi ‘merdeka’ ini yang akan menjadi proses sepanjang waktu.

Prinsip-prinsip yang saya dapatkan dalam buku Gaya Hidup Minimalis ini menguatkan saya untuk bisa melawan keinginan dan memilah mana keinginan dan mana kebutuhan, mana hal-hal yang perlu dipikirkan mana hal-hal yang menjadi ‘sampah’.

***

Di kantor, saya terbilang generasi lama  namun seoalah saya yang harus beradaptasi. Selama saya memiliki prinsip yang saya pegang, semua akan baik-baik saja. Zaman serba cepat berubah. Mungkin saya merindukan teman-teman dan masa ketika fashion, skin care, dan gosip-gosip artis yang viral tidak menjadi topik perbincangan yang hangat  di kantor.                

Namun, bukankah sepanjang hidup manusia, adaptasi menjadi keniscayaan

[Review] Kritik Pendidikan dari Novel Bapangku Bapunkku

Judul       : Bapangku Bapunkku
Penulis   : Pago Hardian
Penerbit : Indiva
Cetakan:  pertama, 2015

IMG_20171225_221808_552[1]

Bapangku Bapunkku diceritakan dari sudut pandang seorang anak.    Ia memiliki bapak berjiwa punk, penganut kebebasan.  Tapi jangan dibayangkan punk yang dianut gaya bebas seperti  remaja di jalan. Bapan memiliki  4 anak . Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Anak pertama,Alap, berjiwa seni. Hobinya desain baju . Anak kedua, Harnum,  suka mengarang. Anak ketiga, Tuah, suka dan pandai matematika. Anak keempat, Anjam, berjiwa seni dan mahir melukis.

Bapang  punya prinsip belajar di sekolah terdekat. Ia juga  ingin semua  anaknya berprestasi di kelas. Namun, mindsetnya berubah ketika ia berdiskusi dengan mas Greta, seorang istimewa , anak dari tukang bakso yang pernah ditolong bapang . Ia tak lagi berprinsip anak harus berprestasi di kelas. Mereka membicarakan tentang  11  macam kecerdasan. Sebelas itu adalah kecerdasa angka-angka/numeric, kecerdasan bahasa/linguistic, kecerdasan gambar/visual, kecerdasan pendengaran/audiomusical, kecerdasan olah tubuh, kecerdasan suara/vocal, kecerdasan pengecapan, kecerdasan agama/spiritual, kecerdasan pribadi diri/personal, kekecerdasan berhubungan dengan orang lain/antarpersonal, dan kecerdasan mengelola keuangan/finansial.

Diskusi dengan mas Greta membuat bapang tidak terlalu menuntut kecerdasan akademik di sekolah. Akibatnya prestasi akademik mereka menurun, sebaliknya kebebasan mengembangkan bakat membuat mereka benar-benar berkembang di kemahiran masing-masing. Alap bahkan pernah menjadi finalis lomba desain baju di salah satu majalah wanita.

 

Akhir tahun pelajaran, bapang  mendadak ingin mengeluarkan anak-anaknya nya dari sekolah karena Anjam tidak naik kelas. Anjam menderita disleksia yang membuatnya mengalami hambatan membaca dan menulis. Tidak naik kelas sebenarnya bukan menjadi masalah. Pemicu utama  adalah guru anjam menganggap Ajam bodoh. Ironisnya, foto Anjam dengan sederet piala tertampang di spanduk promosi sekolah.

Masalah ini sempat membuat bapang  bersitegang dengan istrinya dan hampir ada kata cerai.  Mereka berdebat soal prinsip pendidikan untuk anak-anak mereka. Untung saja, ada jalan tengah yang diambil. Kekecewaan terhadap sekolah membuat bapang menggodog konsep sekolah ala bapang dan mas Greta. Selama sekolah mereka belum terwujud, anak-anak tetap diijinkan sekolah.

Sekolah yang akan didirikan bapang memiliki jurusan yang unik, namun jurusan itu sejatinya adalah wadah bagi anak-anak dengan beragam kecerdasan yang tidak bisa disama ratakan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Banyak pelajaran yang belum dirasakan manfaatnya secara langsung oleh anak-anak .

Jurusan pendidikan yang dirancang bapang dan mas Greta ada jurusan pengecapan, jurusan pendengaran, jurusan penglihatan, jurusan suara, jurusan gerak tubuh, jurusan perhitungan, dan jurusan pengucapan. Masing-masing jurusan punya spesifikasi khusus. Sekolah itu terwujud meski tidak semua jurusan bisa diadakan.

Novel ini dituturkan dengan gaya kocak dan santai. Meski begitu,gaya khas bapang itu tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan penulis.  Novel ini pastilah berangkat dari kegelisan penulis terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang terlampau banyak beban dan mencetak anak-anak Indonesia menjadi pegawai.  Tak hanya soal pendidikan, bapang juga kerap mengkritisi masalah-masalah sosial.
Sistem pembelajaran di sekolah formal negara ini seakan-akan membuat murid-muridnya jadi mesin penghafal! Mending kalau yang dihafal itu pelajaran penting. “(hal. 165)

Kalau kekayaan negara kita Indonesia tercinta ini tidak dikoropsi oleh pejabatnya maka kekayaan itu lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyat. Jadi, kesejahteraan rakyat itu bisa dimulai dengan kampanye untuk jadi pejabat yang jujur, bukan dimulai dengan kampanye kondom atau alat-alat KB lainnya.” (hal. 95)

Kualitas kepintaran anak itu hanya sedikit sekali ditentukan oleh sekolah. Yang paling menentukan adalah didikan di rumah. Walaupun sekolahnya berkualitas dan mahal, kalau orangtuanya tidak menyempatkan waktu secara disiplin untuk mendidik anak di rumah, hasilnya tidak akan terlalu menggembirakan. Paling-paling hanya dapat gengsi doing kerena anaknya sekolah di SD terkenal.” (hal. 60)

Seusai membaca novel ini mustahil pembaca akan begitu saja melupakan novel ini. Ada perenungan mengenai sistem pendidikan di negeri ini. Saya sendiri jadi baper, andai konsep pendidikan seperti yang penulis jeberkan dalam buku ini diterapkan di sekolah formal di Indonesia.  Sekolah formal ya, bukan seperti  home schooling di kota-kota besar yang sudah  menerapkan sistem semacam itu.

Ringan tapi mengena, Inspiratif, itu kesan saya selanjutnya terhadap novel peraih juara II Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva 2014 ini. Penasaran?

Akhir kata, kutipan inspiratif ini jadi penutup review saya
Dunia ini hanya akan dikuasai oleh orang-orang yang gigih. Orang yang suka mengeluh hanya akan berakhir sebagai pecundang.” (hal. 44)

Sebermula Sudut Baca

giveaway-aku-dan-buku

Sudut baca itu kecil adanya. Hanya ada sebuah rak buku mungil berisi buku-buku anak:  sains,biografi tokoh besar, buku cerita bergambar maupun novel,  buku pengetahuan umum, dan buku agama Islam.  Meskipun seadanya, namun ini adalah langkah kecil kami dalam mewujudkan mimpi membangun perpustakaan.

Mulanya buku-buku itu berada di rak baca  di kamar bersama koleksi buku kami yang lain. Ketika anak-anak les datang, kami keluarkan tumpukan buku-buku itu  begitu saja, namun rasanya tidak efektif. Buku-buku juga berserakan di sana-sini, buku yang selesai atau  yang sedang dibaca. Lalu kami berinisiatif mengeluarkan satu rak berisi buku-buku anak. Anak-anak bebas memilih buku apa  yang mereka inginkan. Tepat sasaran, anak yang mulai keranjingan membaca selalu membawa pulang setiap kali satu buku selesai dibaca.

img-20160324-wa0007

sebelum ada sudut baca

img-20161031-wa0002

sudut baca kami, dari kecil harapannya menjadi sebuah ruang

img-20161031-wa0004 img-20161031-wa0005

20160922_193741

Kami punya mimpi membangun perpustakaan yang tidak hanya berkegiatan membaca namun juga kegiatan seru lain yang memberi asupan gizi bagi otak dan jiwa. Dimulai dari lingkungan terdekat, keluarga, lalu anak-anak yang datang belajar ke rumah, kami perkenalkan budaya  membaca. Karena kampanye membaca saat ini sasaran terdekatnya adalah anak-anak, maka rak buku di ruang depan sementara masih berisi buku anak-anak. Ada dua kelompok belajar di rumah, sore dan malam, yang masing-masing terdiri dari 3 anak.

Bagi kami, melihat 1 dari 3 anak kelompok sore mulai ketagihan membaca itu amat luar biasa. Adanya pojok baca membuat rasa ingin tahu mereka bertambah. Sementara kelompok malam telah terlebih dahulu saya perkenalkan buku lewat tumpukan-tumpukan buku yang kami keluarkan. Dua dari mereka sudah membaca.  Ketika pagi membereskan ruang tamu tempat mereka belajar, sering saya mengecek buku peminjaman. Ada kepuasan tersendiri ketika daftar peminjaman selalu terupdate.

20161110_191941

Kami menyebut pembaca buku perpus mini kami dengan  nama  Klub Buku Janitra. Perpus kecil-kecilan kami beri nama perpustakaan Janitra.   Anak kami, Janitra, adalah anggota klub termuda, sementara mbah kakungnya adalah pembaca buku tertua.  Kebahagiaan tak terkira ketika melihat mbah kakung terjangkiti virus membaca. Beliau selalu terlihat membaca di sela-sela kesibukannya di sawah, berkebun, dan beternak. Mbah kakung punya dunia sendiri saat membaca.

untitled

2

Klub buku Janitra tidak hanya berkegiatan belajar karena tuntutan (les),membaca buku, namun juga berkegiatan lain.  Mengajak mereka memasak, bersepeda, berenang, berkunjung ke perpustakaan kota, ke festival buku, dan touring pernah kami lakukan dan harapannya kegiatan menyenangkan itu akan terus berlangsung.   Yang paling sering kami lakukan adalah bersepeda bersama.  Angan-angan kami kelak ketika mimpi itu terealisasi, perpustakaan itu tidak sekedar ruang baca, namun ruang belajar dalam arti luas.

IMG-20151108-00206

membaca sembari bermain di perpus kota Magelang

IMG-20151108-00213

klub buku Janitra di fesbuk (festival buku) Magelang 2015

20160505_073312

Gowes Klub Buku Janitra

img-20151108-00232

Tour Candi Mendut

Untuk menambah koleksi buku, kami selalu memburu event obral buku yang akhir-akhir ini marak di Magelang.  Berburu giveaway buku juga menjadi hobi saya karena impian itu tentu membutuhkan penambahan buku terus-menerus. Senang ketika saya mendapatkan hadiah buku. Alhamdulillah rejeki buku sering Allah berikan berkat ngeblog maupun mainan instagram dan twitter.  Karena pernah posting foto klub buku Janitra,  saya mendapat kejutan paket buku dari seorang  sohib. Wuihh… buntelan buku selalu menghadirkan rasa yang membuncah. Terima kasih buat teman-teman yang secara langsung mendukung impian kami 🙂

12899716_10205547544680310_131181322_n

2 buku anak hadiah GA Jejak Kaki Misterius

mbah

hadiah dari sohib

“Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku

Backpacking Keliling Eropa Ala Aupair

 

20161103_204213

Judul buku : Aupair

Penulis      : Icha Ayu

Penerbit: Stiletto Book

Terbit: Desember, 2012

Beruntung sekali saya mendapatkan buku ini dari Stiletto Book.  Sejak lembar-lembar  pertama saya langsung terkesima oleh cerita awal mula petualangan Icha Ayu di Eropa. Kalau saya seorang mahasiswi sastra Prancis atau bahasa asing lainnya, saya  akan mengikuti jejaknya dan membuka web http://aupair-world.co.uk.  Bagaimana tak kepengen, Icha menjelaskan secara rinci mengenai Aupair,segala persiapan dari administrasi hingga persiapan pribadi. Step by step menjadi Aupair dijelaskan dengan gamblang. Apa daya, saya hanyalah seorang emak yang tak menguasai satu pun bahasa asing jadi cukup pengen saja  mengikuti cerita petualangan Icha menjadi Aupair di benua biru :D. (kalau soal petualangannya berkelana, tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti, amin)

Oiya, Aupair adalah sebuah program yang memungkinkan semua orang dengan batasan usia tertentu, dapat mempelajari bahasa dan budaya negara yang diinginkan dengan bekerja sebagai baby sitter (pengasuh anak) di rumah host family (keluarga penerima) dengan jangka waktu enam hingga delapan belas bulan (hal. 2)

Icha Ayu menceritakan pengalamannya menjadi aupair  dengan gaya bercerita serenyah novel, jadi pembaca tidak akan merasa sedang membaca buku nonfiksi, akan terhanyut  dengan suka dukanya hidup di rumah host family. Secara kebetulan, Icha Ayu mendapatkan keluarga yang sedang menghadapi jurang perceraian.  Karena pengalaman yang sama dialami oleh Icha ketika kecil, ia bisa memberikan motivasi dan gambaran yang berarti terhadap Sarah, anak yang menjadi korban.  Pengalaman menghadapi keluarga yang setiap saat berseteru itu menjadi pengalaman penuh emosi, sebab itu berpengaruh terhadap hidupnya di ujung kontraknya sebagai pengasuh Sarah.

Menjadi Aupair  memungkinkan Icha menjelajah Eropa. Namun, jalan terjal harus dilalui karena masalah keuangan.  Selama menjadi Aupair, Icha harus menghemat keuangan sehingga di akhir pekan ia bisa menjelajah berbagai kota sekitar tempatnya bekerja.  Gaji yang didapat sebagai Aupair tidak lah banyak dibanding dengan biaya hidup di negara Eropa yang terbilang tinggi.

Lepas dari host family pertama, Icha mendapatkan host kedua yang ideal. Selama dua bulan jeda menunggu kontrak dimulai, petualangannya menjelajah Eropa penuh dengan cerita luar biasa. Kota-kota indah yang dimiliki negara Prancis, Italia, Belgia, dan Jerman tak hanya dinikmati pesonanya namun juga mengenal budaya dan penduduk lokal dengan beraneka karakternya yang menarik.

Masalah keungan tidak menjadi hambatan untuk berpetualangan.  Dengan dana yang supermepet untuk hidup di Eropa,  dihadapi Icha dengan 3 solusi:

  1. Cochsurfing

Ini adalah jalinan silaturahmi para traveler internasional.  Dengan jaringan ini, traveler bisa menginap di penduduk lokal sesama teman CS secara gratis bermodalkan kepercayaan. Selain mendapatkan tumpagan gratis, traveler bisa lebih mengenal kebudayaan lokal sebab host CS yang juga seorang traveler akan memberikan banyak pengetahuan bahkan menjadi tour guide.  Jalinan ini akan membuat traveler memiliki saudara di berbagai belahan dunia.

  1. Hitch hike

Mencari tumpangan secara gratis dengan mengacungkan jempol dan senyum manis, plus kertas bertuliskan nama tempat yang akan dituju  tentu membutuhkan keberanian tinggi.  Pengalaman ini menjadi hal yang  luar biasa yang Icha lakukan. Berjam-jam berdiri di pinggir jalan, terkatung-katung di pom bensin, hingga perjalanan ber-hitch hike terpanjang pernah dialami. Semuanya menyisakan kesan manis bahwa banyak orang baik bertebararan di muka bumi

  1. Wwoofing

Travaler menjadi relawan di perkebunan organik.  Tujuannya bukan hanya untuk mendapatkan penginapan dan makanan gratis, tapi juga untuk belajar perkebunan organik itu sendiri (hal.179)

 

Trik dan tips yang diberikan Icha dalam buku ini bermanfaat banget untuk para traveler, jadi buku ini cocok dibaca mereka yang hobi berkelana ke luar negeri.  Nah, buat pembaca pada umumnya, buku ini asyik dibaca karena banyak muatan edukasi di dalamnya.  Selain deskripsi apik kota-kota di Eropa yang dikunjungi Icha, pembaca akan mendapat pengetahuan lebih mengenai sejarah dan budaya kota-kota di Eropa, beserta karakter penduduknya.

Bertemu dengan traveler dari berbagai belahan bumi pun menjadikan Icha memahami karakter mereka. Seperti misalnya ketika ia duduk satu meja makan dengan traveler dari Israel, ia dibuat terkaget-kaget dengan habit mereka yang stereotipikal: suka menyerobot hak milik orang lain. Traveler dari Israel tersebut suka mengambil makanan dari piring orang lain.

“Kalau aku sama temen-temen di Israel sering begitu, that’s one of our habits,” ucapnya berusaha membela diri.

“Oh ternyata memang begitu kebiasaan orang Israel, suka mencomot hak milik orang lain…” candaan dilanjutkan dengan humor yang menyangkut stereotype masing-masing negara yang sebenarnya apabila dilanjutkan akan berubah menjadi humor rasis. (hal.195)

Pengalaman  wwoofing tidak hanya memberikan pengetahuan bertani yang berharga namun juga kesadaran pada lingkungan yang ditularkan oleh petani yang ditumpanginya.

“…betapa pentingnya untuk selalu mengkonsumsi makanan produksi lokal, karena produk impor membutuhkan banyak energi untuk sampai ke perut kita. Mulai dari proses pembekuan, hingga minyak yang digunakan untuk  distribusi. Jadi, untuk membuat makanan sampai ke meja kita membutuhkan benyak energi yang bisa saja berguna untuk makanan para anak kelaparan di belahan dunia sana. Hal yang sama sekali tidak pernah saya pikirkan sebelumnya.” (hal.181)

Pada akhirnya, Aupair bagi Icha memberikan beragam perspekif yang memperkaya hidupnya, seperti film dalam bisokop yang sangat  indah.

Dalam hidup semuanya tergantung pada diri sendiri. Kitalah yang memutuskan apakah gelas ini setengah kosong atau setengah isi. Itulah rahasia kebahagiaan, kitalah, dan hanya kita, yang berhak memutukan apakah kita akan bahagia atau sengsara. Apakah kita  ingin mengeluh atau bersyukur, pesimis atau optimis, melihat sisi negatif atau positif semua kejadian dalam hidup kita. Hanya kita dan selalu kita. (hal.66)

 

[Review] Anakku Sehat Tanpa Dokter

20160929_153213

Judul                           : Anakku Sehat Tanpa Dokter

Penulis                        : Sugi Hartati, S.Psi

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   1, April 2013

Tebal                           :  192 halaman

ISBN                           :  978-602-7572-14-0

 

Setiap orang tua pasti mengingkan yang terbaik untuk anak mereka. Lebih-lebih untuk kesehatan. Pun ketika anak mereka sakit, bagaimana cara  menyembuhkan anak secara cepat. Terkadang berapa uang yang mereka keluarkan tak mereka pedulikan. Datang ke dokter terbaik biasanya solusi yang mereka pakai.

Tak hanya itu, orang tua yang memiliki balita atau batita sering kali sudah menyediakan obat ‘bebas’ yang biasa di simpan di rumah untuk menangani penyakit-penyakit yang umum diderita anak, seperti panas, demam, pilek, atau batuk.  Tidak sedikit ibu yang memiliki persediaan antibiotik di rumah sebab obat itu jamak diberikan dokter ketika para ibu datang dengan keluhan anak panas atau demam.

Kepanikan seorang ibu atau ketidaktahuan ibu akan penyakit yang diderita anak, sekalipun ringan, berdampak pada kesalahan penanganan.  Ketika anak panas mereka terburu-buru memberikan antibiotik karena obat itu dikenal ampuh meredakan panas. Atau terburu-buru membawa ke dokter terbaik biasanya dianggap sebagai solusi jitu. Sayangnya, tidak banyak dokter di Indonesia yang memberikan kesempatan kepada pasien atau ibu pasien untuk menelusur latar belakang penyakit. Dalam buku ini diceritakan, misal untuk penyakit panas, pasien akan diberikan oleh antibiotic dan obat pereda sakit yang bersangkutan (misal batuk atau flu). Ketika beberapa hari kemudian  anak belum sembuh, dokter akan meminta pasien datang lagi dan akan diberi obat lagi. Banyak kasus terjadi, pasien terkesan dijadikan kelinci percobaan.

Dokter bukan penemu obat, dokter hanya akan mengaitkan gejala yang diderita pasiennya dengan pengetahuan suatu obat yang didapatnya dari sang penemu obat. Dokter akan memilihkan obat yang lain untuk dicobakan kembali kepada pasien. Jika belum sembuh, maka dokter akan mengganti dengan obat yang lain lagi, demikian seterusnya. (hal. 37)

Antibiotik, yang sering diberikan ke dokter, atau malah disimpan di kotak obat di rumah untuk diberikan kepada anak jika sewaktu-waktu perlu, ternyata memiliki banyak efek. Antibiotik disamping menyembuhkan juga dapat merugikan. Bisa jadi obat yang diberikan kepada anak dalam jangka waktu yang lama tidak menyembuhkan penyakit tetapi justru melemahkan ketahanan tubuhnya. (hal.11).  Pada dasarnya antibiotik hanya efektif membunuh bakteri atau kuman. Jika digunakan pada anak-anak yang menderita demam ataupun sakit lain yang disebabkan oleh virus, maka antibiotik berakibat fatal. Bakteri baik yang semestinya berfungsi membantu tubuh malah ikut terbunuh. (hal. 16). Nah, penyakit yang disebabkan oleh virus tapi diberi antibiotik, tentu tidak tepat sasaran. Dalam buku ini penulis memberikan penjelasan mengenai efek samping dari obat, khususnya antibiotik. Informatif sekali! 😀

Yang paling penting adalah ibu harus tahu latar belakang penyebab penyakit, apakah karena bakteri atau virus agar tepat penangannya.

Jadi, apakah sebaiknya kita tak perlu ke dokter?

Perlu! Tapi janganlah mengunjungi dokter dengan tujuan mencari obat tapi mencari jawaban atas pertanyaan “Anak saya sakit apa? Apa yang menyebabkannya? Bagaimana penyebaran penyakit tersebut sehingga bisa menyerang anak saya?” (hal. 58).  Kita jangan begitu saja menerima apa yang dituliskan dokter dalam resepnya. Sebaiknya kita tahu obat apa saja yang diberikan, cara kerja, efek samping, dan bila perlu harga obat tersebut. (hal. 53)

Meskipun buku ini bukan ditulis oleh dokter atau ahli kesehatan, namun buku ini cukup lengkap memaparkan tentang latar belakang beragam  penyakit yang sering diderita oleh  anak dan penangannya. Buku ini ditulis  berdasarkan pengalaman penulis sebagai ibu dan  dari berbagai pengetahuan kesehatan yang didapat dari berbagai sumber (buku, artikel di internet).

Buku ini lebih menekankan pada pencegahan sebuah penyakit.  Ada fakta bahwa sebenarnya sebagian besar penyakit disebabkan karena makanan yang masuk ke tubuh (hal. 45) jadi  penulis banyak memeberikan tips pencegahan dan penanganan penyakit dengan memberikan makanan yang tepat.  Apa saja makanan yang sehat dan tidak sehat untuk anak dijabarkan lengkap oleh penulis. Buku ini dilengkapi dengan menu-menu makanan sehat, baik buah sebagai food therapy maupun menu makanan penunjang. Komplet! Selain menu makanan, pelengkap yang lain dari buku ini adalah akupresur (teknik pemijatan dengan menggunakan jari-jari tangan pada titi-titik tertentu pada tubuh) menyehatkan bagi anak. Ada manfaat, cara, dan foto yang menyertai bab akupresur.

Buku ini sangat memadai untuk dimiliki para ibu. Sebagai ibu yang memiliki balita, saya seperti dikuatkan oleh penulis.  Bahwa menghadapi anak yang sakit kita tak perlu panik dan khawatir berlebihan.  Penyakit pasti berlalu, tanpa obat tanpa dokter, bisa!

 

Resensi ini diikutsertakan pada campaign #AkuCintaBuku bersama Stiletto Book  dan Riawani Elyta 

 

 

[Review] Broken Vow

Judul                           : Broken Vow

Penulis                        : Yuris Afrizal.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   Januari 2016

Tebal                           :  271 hlm.

ISBN                           : 978-602-7572-41-6

 

 13052440_10205794354250395_1122596870_o

Amara, Nadya, dan Irena adalah tiga sahabat dengan karir mapan. Mereka berkumpul dalam pesta pernikahan Nadya. Nadya menikah hanya untuk memenuhi tuntutan orang tua dan pertanyaan-pertanyaan yang menganggunya. Ia menikah secara terpaksa, dengan sahabat yang dimintanya menjadi suami. Dion seorang fotografer yang menanjak karirnya begitu mencintai Nadya meskipun ia tahu Nadya belum mencintai dirinya.

Nadya  pernah menjalin hubungan dengan Leo namun tanpa kejelasan status setelah Leo memutuskan bekerja di Prancis. Ada kerinduan terhadap sosok Leo. Hal ini menimbulkan konflik batin dalam dirinya. Pernikahan yang pada awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah dengan orang tua, malah membuat ia stress.

“Atau mungkin aku tambah stress? Menikah sama sekali tidak membantu mengurangi stressku ini. Mungkin karena aku menikah bukan dengan seseorang yang aku mau, bukan dengan orang yang aku inginkan, dan bukan dengan orang yang aku cintai.” (hal.42)

Tanpa rencana, Nadya hamil. Ia  mulai membenci situasi tersebut, kerap  menyesali pernikahan dan kehamilannya.  Beberapa kali konflik hati tersebut menyulut perang mulut dengan Dion.

Semakin besar kehamilannya, diam-diam Nadya mulai menerima sosok Dion. Begitupun Dion secara rahasia  menyiapkan apartemen yang lebih luas untuk Nadya dan calon bayinya. Namun di hari ketika Dion memberi kejutan apartemen tersebut, Leo kembali. Ia meminta bertemu dengan Nadya,  merengek-rengek memohon  kembali padanya. Adegan yang dipaksakan oleh Leo di depan apartemen Dion membuat Dion salah sangka.

Kata cerai tercetus dari mulut Dion karena kejadian yang hanya sepotong dilihatnya.  Nadya hanya menunggu waktu hingga kelahiran bayinya tiba untuk menjadi seorang janda.

Sementara itu pernikahan Nadya membuat Amara mengingat awal perkenalannya dengan Nathan Adiwinata, seorang Don Juan, putra pemilik kerajaan bisnis nomer lima di Indonesia. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama pada pesta tahun baru di sebuah hotel berbintang.  Nathan memandang Amara berbeda dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya. Hanya Amara yang berani menolak ajakannya. Nathan pun melabuhkan cintanya pada Amara.

“Ibu Nathan, sang nyonya besar merasa aku telah mengubah Nathan, membuatnya menjadi anak baik-baik. Nathan  yang suka main wanita, Nathan yang sering mabuk, dan Nathan yang suka menghambur-hamburkan uang. Katanya, saat denganku Nathan berubah. Sejak bertemu denganku, dia menjadi berbeda dan begitu patuh pada orangtuanya.” (hal. 25)

Kebahagiaan Amara bersanding dengan Don Juan tidak lama. Bukti-bukti mengarah pada perselingkuhan Nathan. Amara memiliki Irene dan Nadya sebagai sebagai sahabat berbagi cerita, namun ia ragu untuk menceritakan masalahnya. Takut hanya akan ditertawakan, Amara memilih Xanax, obat yang bisa mengurangi rasa sakit sebagai penawar penderitaannya.

“Aku butuh sahabat-sahabatku. Tapi rasa gengsiku mengalahkan semuanya. Aku terlalu malu menghubugi mereka. Aku tidak mau ada belas kasihan dari siapapun.” (hal. 201).

Tak kalah rumitnya masalah yang menimpa Irena, si superwoman yang memiliki karir menanjak sekaligus menjadi ibu rumah tangga.  Lelah dengan peran yang dilakoni dan melihat anak-anaknya tidak terurus membuat Irena memutuskan berhenti berkerja untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. Saat Irena mengutarakan rencananya untuk berhenti bekerja, Juna, suaminya justru mencegahnya. Keanehan mulai dirasakan ketika Juna kerap berada di rumah dan sikapnya mulai emosional.

Kekerasan demi kekerasan menimpa Irena. Belakangan diketahui bahwa Juna dipecat dari bank tempatnya bekerja karena korupsi. Dalang semuanya adalah  Arlan, adik Juna yang selalu merusuhi  keuangan keluarga Irena.

Kondisi ini membuat keluarga Irena berantakan. KDRT yang dialami Irena membuat sahabat-sahabatnya berpikiran bahwa sudah saatnya Irena mengakhiri rantai kekerasan itu. Namun, titik ini justru membuat hubungan ketiganya retak. Semua masukan dari sahabatnya membuat Irena malah balik menyerang mereka berdua, mencerca  dengan masalah-masalah yang dialami masing-masing sahabatnya.

Kompleks. Novel ini mengetengahkan masalah-masalah yang jamak dialami perempuan di dunia pernikahan.  Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh, pembaca bisa menyelami dunia batin dan perasaan masing-masing tokoh.  Penggunaan bahasa  lugas yang digunakan penulis membuat pembaca larut dalam alur kompleks yang dijalin. Perpindahan peristiwa dan sudut pandang antar tokoh tetap membuat jalinan alur mengalir natural.  Dari dialog dan deskripsi perasaan masing-masing tokoh, pembaca dengan mudah mendapatkan gambaran karakter tokoh. Perpaduan antara penokohan dan setting yang dibangun cukup jelas menggambarkan dari kelas sosial mana ketiga perempuan dalam novel itu.  Kehidupan yang dipaparkan penulis dalam novel itu merupakan representasi kehidupan para perempuan papan atas, termasuk kehidupan selebriti.

Tidak ada gading yang tak retak, begitu pula dalam sebuah pernikahan dan persahabatan. Segala lika-liku serta rasa iri  diam-diam mewarnai hubungan tersebut.

“Kenapa lagi dia? Hidupnya yang paling enak di antara kami. Punya suami yang luar biasa kaya dan tampan, kurang apa coba? Tak ada lagi yang perlu dia keluhkan. (hal.51)

“Jadi siapa bilang hidupku enak? Siapa bilang hidupku sempurna? Pernikahanku sudah tak memiliki wujud lagi. Bolehkah aku iri pada kedua sahabatku? Mereka hidup seperti manusia normal lainnya. Menikah dengan orang-orang biasa pada umumnya. (hal.88)

“Aku melihat mata seseorang yang merindu, seseorang yang begitu mencinta. Aku menelan ludahku. Dalam keadaan hamil oleh laki-laki lain, Nadya masih dicintai Leo. Bolehkah aku iri?” (hal. 231)

Tiga sahabat ini berhasil melewati semua proses yang pada akhirnya membebaskan hati dari belenggu konflik.  Memilih untuk bahagia, adalah satu hal penting yang disampaikan novel ini. Pilihan hidup yang diambil oleh perempuan-perempuan dalam novel  ini mencerminkan mereka perempuan kuat dan mandiri.

“Tak ada hidup yang sempurna. Hidup itu pilihan, begitu juga dengan kebahagiaan.” (hal.270)

 

Tulisan ini diikutkan dalam Broken Vow Book Review 

BV BookReview

 

 

 

 

 

 

Catatan Buku Seorang Angkoter


 Semenjak saya menikah dan memiliki anak, waktu membaca saya otomattis berkurang drastis. Kalau dulu ketika lajang sore hari pulang kerja bisa leyeh-leyeh sembari membaca buku, kini sepulang kerja ada anak dan suami yang harus saya urus. Waktu di  rumah sudah habis untuk perkerjaan  domestik dan mendampingi anak. Hampir tidak ada waktu luang untuk membaca. Malam hari  tenaga sudah habis dan tinggal istirahat. Kesempatan untuk ngeblog maupun menulis jarang-jarang saya dapatkan.

Namun, saya tidak bisa meninggalkan buku. Buku tetap saya baca. Pulang pergi bekerja di angkot saya manfaatkan untuk membaca. Berada selama 20—30 menit di atas angkot dalam perjalanan berangkat dan pulang kerja sayang kalau di lewatkan dengan diam. Sesekali menikmati perjalanan, namun saya lebih senang menghabiskan waktu untuk membaca. Mojok sembari membaca. Buku tidak pernah ketinggalan saya bawa di dalam tas.

Waktu libur sesekali saya manfaatkan mengunjungi perpustakaan atau toko buku.  Tahun ini, beberapa buku yang masuk di dalam goodreads beberapa diantaranya merupakan buku pinjaman dari perpustakaan.  Dari daftar yang saya entri di goodreads ada dua buku yang inspiratif buat saya, meninggalkan jejak kesan di hati dan kepala.

 

  1. Bulan Terbelah di Langit Amerika oleh Hanum Salsabiela Rais

Luar biasa perjalanan yang dituturkan oleh Hanum dan Rangga. Berlatar belakang sebuah pertanyaan Would the world be better without Islam? Jawabannya ditemukan perjalanan Hanum dan Rangga di Amerika. Meski keduanya memiliki misi yang berbeda, tapi ada jalinan yang menyatukan alur perjalanan suami istri tersebut. Peristiwa 9/11 di Amerika menjadi latar novel tersebut.
Pembaca akan disuguhi sebuah sudut pandang yang baru, tak hanya mengenai tragedi tersebut namun juga pertalian sejarah Amerika dengan Islam. Untuk kisah Rangga, misinya di Amerika memberikan sebuah inspirasi dari the power of giving, sadakah. Philipus Brown, menjadi orang yang paling dikerjar Rangga karena kedermawanan tokoh itu bertalian erat dengan papernya yang mengangkat tema the power of giving.

Terlalu banyak kebetulan dan keajaiban dalam novel ini. Alur yang dirangkai Hanum dan Rangga begitu apik sehingga di bagian akhir sukses membuat saya diam-diam menahan isak di angkot, yeah walaupun beberapa titik air mata sempat mengalir 😀

Meski buat saya terlalu manis segala kebetulan dalam alur cerita itu, namun saya tetap menyukai novel ini. Penuh inspirasi dan memberikan wawasan baru. Kisah Azima Hussein/JuliaCollins yang tetap mempertahankan hijabnya memberikan inspirasi bahwa hidayah yang diberikan oleh Allah semestinya tetap teguh kita jaga. Lebih-lebih kita ber-Islam di tengah-tengah masyarakat Islam, berbeda dengan Azima yang minoritas.

2. I’am Malala oleh Malala Yousafzai dan Christina Lamb

Malala adalah seorang gadis yang tinggal di Swat, Pakistan. Ketika lahir, tak seorang pun mengucapkan selamat bagi ayah ibunya. Bagi orang Pasthun, melahirkan anak perempuan merupakan sesuatu yang menyedihkan. Namun tidak bagi ayah ibu Malala. Mereka tidak berpikiran seperti orang-orang Pasthun kebanyakan. Meraka bangga memiliki Malala. Malala tumbuh sebagai gadis periang yang cerdas.
Ayah Malala memiliki sekolah, Khushal. Malala menjalani keseharian dengan riang, belajar, bersaing dengan teman sekelasnya dalam pendidikan, bermain,dan melakukan apa yang disukainya. Semuanya berjalan normal hingga Taliban merenggut semuanya.
Beragam peraturan yang membatasi perempuan diberlakukan dengan tidak adil. Anak-anak perempuan dilarang bersekolah. Banyak sekolah ditutup. Demikian pula yang terjadi di sekolah Khushal. Ayahnya kerap menerima terror dan fitnah, meminta agar sekolah itu ditutup. Ayahnya bersikeras mempertahankan sekolah itu. Hanya ada beberapa perempuan yang bertahan dalam tekanan. Bersama ayahnya, Malala berjuang. Ia berbicara tentang pendidikan. Lewat blog yang ditulisnya dengan nama samaran ia ungkapkan apa yang terjadi di Pakistan. Segala terror, serangan, dan segala tekanan dari Taliban diceritakan lewat blog hingga dunia tahu apa yang terjadi di Paksitan. Perjuangan Malala menarik perhatian Taliban. Sebuah penembakan dilakukan ketika ia berangkat ke sekolah bersama teman-temannya. Sontak, perhatian dunia tersedot. Apa yang terjadi pada Malala menarik simpati dari berbagai pihak di dunia internasional. Selain simpati, ada juga yang berpikiran negatif atas penembakan yang terjadi pada Malala. Ada pihak-pihak yang tidak senang dengan Malala, menganggap sebelah mata apa yang dilakukannya.

Kutipan-kutipan dari buku ini bisa menggambarkan isi buku:

Dan aku mulai melihat bahwa pena dan kata-kata yang muncul dari sana bias jauh lebih perkasadaripada senapan mesin,tank, atau helicopter. Kami belajar cara berjuang. Dan kami menyadari betapa kuatnya diri kami ketika kami berbicara. (hal.185)
Mereka bisa menghentikan kami bersekolah tapi mereka tak bias menghentikan kami belajar (190)
Seorang talib melepaskan tiga tembakan dari jarak dekat kepada tiga anak perempuand alam bus sekolah dan tidak menewakan sorang pun dari mereka. Ini seakan kisah yang mustahil , dan orang mengatakan aku mengalami penyembuhan yang ajaib. Aku tahu Allah menghentikanku agar tidak memasuki liang kubur (hal.351
Jangan takut, jika takut, kau tidak bias melangkah maju (hal.360)
Aku tidak ingin dianggap sebagai “anak perempuan yang ditembak oleh Taliban, tetapi “anak perempuan yang berjuang untuk pendidikan. Untuk tujuan inilah aku ingin membaktikan hidupku (hal(361)
“Marilah kita mengambil buku dan pena kita.” Kataku. Keduanya adalah senjata kita yang paling perkasa. Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena bias mengubah dunia. (hal.361)

Saya selalu suka membaca buku genre semacam ini. Buku ini membuka mata saya terhadap apa yang terjadi di luar. Kisah Malala membuat saya bersyukur dengan keadaan saya. Di negara ini, akses pendidikan begitu mudah saya dapatkan. Beruntung kita masih bebas bersekolah dan keluar rumah dengan bebas. Membayangkan yang terjadi di Pakistan seperti yang digambarkan Malala, sulit rasanya! Mungkin, buku ini membuka rasa penasaran saya atas kondisi Pakistan saat itu dan saat ini. Separah itukah? Atau bagaimana kondisi yang sebenarnya, barangkali saya perlu membaca lebih banyak buku dan mengetahui konflik di sana dari sudut pandang yang berbeda.

 

Kedua buku tersebut saya habiskan semuanya di atas angkot, begitu pula buku-buku lain yang masuk di entri goodreads saya tiga tahun terakhir. Masih ada PR membaca di tahun ini, membaca di atas angkot. Terutama Ramadhan ini, saya ingin menuntaskan seri Muhammad 1 dan 2 yang sudah saya miliki. Sebenarnya, membawa-bawa buku dan membaca buku tebal di angkot selama ini saya hindari, namun saya harus memulainya. Novel Muhammad 1  harus saya selesaikan dan  sudah saya mulai dari atas angkot di pekan-pekan terakhir ini.

 

Moment Spesial dari Buku

Sebab buku sudah menjadi keseharian saya, pastinya saya memiliki moment-moment istimewa berkenaan dengan buku. Beberapa moment tersebut adalah

  1. Terbitnya Buku Antologi

Imbas dari membaca buku adalah timbulnya motivasi. Saya tidak hanya ingin menjadi pembaca buku, tapi karya saya juga ingin dibaca oleh banyak orang.  Hal itu membuat saya di tahun-tahun lalu mengikuti audisi buku antologi. Moment teristimewa adalah di tahun 2011, ketika buku antologi pertama saya diterbitkan. Buku keroyokan yang diterbitkan oleh penerbit indie memberikan perasaan berarti buat saya. Tak percaya, tulisan saya ada di buku tersebut, saya punya buku! Walaupun terbit secara indie, keroyokan pula, saya selalu bersyukur tiap kali buku antologi saya terbit. Ada beberapa buku antologi yang terbit kemudian. Ada jejak karya saya  dalam hidup, menjelma sebuah sejarah.

  1. Mendapat Buntelan Buku Gratis

Siapa yang tidak senang mendapat buku gratis. Mendapati buntelan di atas rak buku atau menerima sendiri dari pak pos atau kurir yang mengantarkan buku buat saya selalu menjadi moment yang mendebarkan. Ada senang yang membuncah. Buku-buku gratis ini saya dapatkan dari mengikuti lomba blog berupa jurnal atau flash fiction, menulis tantangan, menjawab kuis buku, atau dari berbagai giveaway. Setumpuk buku ini saya dapatkan sejak 2007.  Boleh dibilang saya termasuk pemburu buku gratisan, heheh. Sensasi ketika menerima buntelannya itu…hingga kini masih saya rasakan.

Selain hadiah, dua buku ini saya dapatkan dari kontak multiply yang bahkan saya belum pernah bertatap muka dan semenjak MP tergusur saya kehilangan kontak dua teman yang berbaik hati memberikan kepada saya.

a kado 2

Emak saya sampai hafal ketika saya mendapat buntelan buku, selalu berkomentar, “buku dari mana lagi?”

Yang paling wow, adalah ketika mendapat satu kardus buku dari Stiletto, hadiah lomba blog. Buku-buku yang dapatkan semuanya dua judul. Alhamdulillah, masing-masing judul dari hadiah itu sudah saya sumbangkan ke perpustakaan dan para sahabat pecinta buku. Judul satunya masih menjadi PR membaca saya. Itu sebabnya, sementara ini saya hentikan kunjungan ke perpustakaan.

12822148_10205459474518611_936104318_n

  1. Hadiah ulang tahun

Sohib saya selama tiga tahun berturut-turut memberikan hadiah ulang tahun berupa buku. Kami punya tradisi bertukar kado buku selama itu.  Sudah tahu kalau akan mendapatkan buku, namun ketika menerimanya ada perasaan bahagia tak terkira. Begitu mendebarkan karena kejutannya adalah judul buku apa yang akan saya dapatkan. Ketika dibuka, taraaa…isinya adalah buku kesukaan saya. Rasanya waw, lebih-lebih ketika mendapatkan Garis Batas. Seakan mau bilang, tahu saja dengan apa yang kuinginkan!

a kado ultah

 

Tips Membaca untuk yang Sibuk

Karena begitu banyak berkah yang bisa didapatkan dari buku, tidak ada alasan tidak bisa membaca buku untuk yang sibuk. Saya sudah membuktikannya. Tips dari saya hanya satu: membawa buku kemana kita pergi. Tips itu bagi saya jitu. Bagaimana tidak , selalu membawa buku di dalam tas nyatanya bisa membuat saya tetap membaca buku. Saya, dan tentu saja bagi pembaca yang sibuk bisa membuka buku yang selalu dibawa di angkot, saat menunggu, saat antri berjam-jam seperti pernah saya alami di bank (setiap ke bank jangan lupa bawa buku, pasti kebaca saat antri), atau dari pengamatan saya saat orang tua menjemput anaknya dan belum keluar dari kelas karena berbagai alasan bisa diisi dengan membaca buku, dan diberbagai kesempatan lain yang memungkinkan untuk membuka buku. Selamat mencoba!

 

13393133_10206056139194855_1234052029_n

selfi buku saat membaca Jejak Kaki Misterius di Angkot 😀

 

 

Tulisan panjang ini saya ikutkan dalam Giveaway for Booklover. Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.

[Review] Play and Learn

13183184_10205914283568553_1430820694_n

Judul                           : Play and Learn

Penulis                        : dr. Meta Hanindita,Sp.A.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :  Mei 2015

Tebal                           :  194 hlm.

ISBN                            : 978-602-7572-39-3

 

Mendidik anak lewat aneka permainan yang menyenangkan diperkenalkan oleh seorang ibu sekaligus dokter, dr. Meta Hanindita,Sp.A. Bermain  selain bisa menjadi stimulasi untuk tumbuh kembang anak, juga bisa menjadi bonding time untuk ibu dan anak. Bermain dapat membantu anak mempelajari interkasi sosial, gerak motoric, sampai daya pikir kognitifnya, sehingga bermain dibutuhkan untuk perkembangan yang sehat untuk anak. (hal.8).

Permainan yang dimaksud tentu saja bukan permainan instan seperti yang anak-anak kenal saat ini lewat gadget.  Di era digital yang semakin pesat ini, anak-anak, balita sekalipun telah akrab dengan gadget.  Tantangan orang tua jaman sekarang dalam  mendidik anak adalah budaya instan yang salah satunya diperkenalkan oleh gadget.  Padahal, efek gadget untuk anak balita kurang bagus untuk mendukung tumbuh kembangnya. Anak yang menghabiskan waktu bermain dengan gadget, tidak terlatih fisiknya secara aktif, dan terbukti kurang memiliki daya imajinasi dibanding mereka yang bermain tanpa gadget. (hal. 8—9).

Buku ini menjawab tantangan tersebut.  Dibagi menjadi dua bagian besar yaitu Learning by Doing dan  Let’s Play, selanjutnya buku ini dibagi dalam bab-bab yang sistematis. Dalam bab pertama, materi parenting disajikan antara lain lewat sharing pengalaman penulis dalam mendidik putrinya yang masih berusia 4 tahun.

Untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal, seorang anak membutuhkan pemenuhan tiga kebutuhan. Pertama, kebutuhan fisik (asuh) seperti nutrisi yang baik, lingkungan yang sehat, pakaian yang baik, sampai imunisasi.  Kedua, emosi (asih) yang dipenuhi melalui perhatian, kasih sayang (pelukan dan ciuman), serta suasana rumah yang damai dan nyaman. Ketiga, stimulasi mental atau akal (asah), berguna untuk membentuk karakter, kecerdasan, moral, nilai agama, serta kemandirian. (hal.18)

Semakin anak tumbuh, pendidikan karakter begitu penting ditanamkan. Pendidikan karakter  bisa ditumbuhkan lewat pembiasaan dan aneka permainan.  Permainan sederhana misalnya role play (bermain peran). Dengan bermain peran, anak bisa meningkatkan kemampuan berbicara, menambah kosakata, bekerja sama dengan orang lain, serta melatih kesabaran, dan berinterkasi. Ambil contoh saat anak bermain jual-jualan. Anak tidak hanya belajar mengenai angka dari jumlah barang yang dibeli atau uang yang dibayar, namun anak juga belajar bahwa setiap barang di toko ada harganya sehingga ia akan mengerti kalau ada barang yang diinginkan, ada proses untuk mendapatkannya.  Bukan hanya didapat dengan asal tunjuk (hal.35).

Jenis permainan  lain berupa  aktivitas yang bisa diciptakan oleh orang tua untuk membuat anak sibuk bermain.. Aktivitas tersebut tidak mahal dan bahan-bahannya mudah didapat, bahkan memanfaatkan barang-barang bekas di rumah. Orang tua bisa membuat sebuah buku yang disebut  busy book. Buku ini akan membuat anak senang bermain sembari belajar berhitung, mengikat tali sepatu, mengenalkan waktu, mengenal warna, mengelompokan benda, d.l.l.  Beragam aktivitas bermain dalam buku ini sangat gamblang digambarkan  dengan deskripsi bahan, langkah-langkah membuatnya, manfaat aktivitas dari berbagai aspek (kognitif, afektif, dan motorik), dan dilengkapi foto berwarna.  Aktivitas bermain tersebut diperkenalkan oleh dr. Meta untuk menstimulasi anak selalu gembira, cerdas, dan mandiri. Busy book  bukan hanya mengajak anak asyik bermain di rumah, namun dimanapun ia berada sebab buku tersebut bisa dibawa kemanapun anak pergi.

Orang tua bisa mendapatkan beragam inspirasi dalam mendidik anak dari buku ini. Tak hanya memahami tumbuh kembang anak, mendapatkan solusi dan tips dari permasalahan yang sering dihadapi,  orang tua juga diajak menjadi sosok yang kreatif dan smart.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Review] Broken Vow, Membebaskan Hati untuk Bahagia

13052440_10205794354250395_1122596870_o

Judul                           : Broken Vow

Penulis                        : Yuris Afrizal.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :  II, Januari 2016

Tebal                           :  271 hlm.

ISBN                           : 978-602-7572-41-6

 

 

Amara, Nadya, dan Irena adalah tiga sahabat dengan karir mapan. Mereka berkumpul dalam pesta pernikahan Nadya. Nadya menikah hanya untuk memenuhi tuntutan orang tua dan pertanyaan-pertanyaan yang menganggunya. Ia menikah secara terpaksa, dengan sahabat yang dimintanya menjadi suami. Dion seorang fotografer yang menanjak karirnya begitu mencintai Nadya meskipun ia tahu Nadya belum mencintai dirinya.

Nadya  pernah menjalin hubungan dengan Leo namun tanpa kejelasan status setelah Leo memutuskan bekerja di Prancis. Ada kerinduan terhadap sosok Leo. Hal ini menimbulkan konflik batin dalam dirinya. Pernikahan yang pada awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah dengan orang tua, malah membuat ia stress.

“Atau mungkin aku tambah stress? Menikah sama sekali tidak membantu mengurangi stressku ini. Mungkin karena aku menikah bukan dengan seseorang yang aku mau, bukan dengan orang yang aku inginkan, dan bukan dengan orang yang aku cintai.” (hal.42)

Tanpa rencana, Nadya hamil. Ia  mulai membenci situasi tersebut, kerap  menyesali pernikahan dan kehamilannya.  Beberapa kali konflik hati tersebut menyulut perang mulut dengan Dion.

Semakin besar kehamilannya, diam-diam Nadya mulai menerima sosok Dion. Begitupun Dion secara rahasia  menyiapkan apartemen yang lebih luas untuk Nadya dan calon bayinya. Namun di hari ketika Dion memberi kejutan apartemen tersebut, Leo kembali. Ia meminta bertemu dengan Nadya,  merengek-rengek memohon  kembali padanya. Adegan yang dipaksakan oleh Leo di depan apartemen Dion membuat Dion salah sangka.

Kata cerai tercetus dari mulut Dion karena kejadian yang hanya sepotong dilihatnya.  Nadya hanya menunggu waktu hingga kelahiran bayinya tiba untuk menjadi seorang janda.

Sementara itu pernikahan Nadya membuat Amara mengingat awal perkenalannya dengan Nathan Adiwinata, seorang Don Juan, putra pemilik kerajaan bisnis nomer lima di Indonesia. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama pada pesta tahun baru di sebuah hotel berbintang.  Nathan memandang Amara berbeda dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya. Hanya Amara yang berani menolak ajakannya. Nathan pun melabuhkan cintanya pada Amara.

“Ibu Nathan, sang nyonya besar merasa aku telah mengubah Nathan, membuatnya menjadi anak baik-baik. Nathan  yang suka main wanita, Nathan yang sering mabuk, dan Nathan yang suka menghambur-hamburkan uang. Katanya, saat denganku Nathan berubah. Sejak bertemu denganku, dia menjadi berbeda dan begitu patuh pada orangtuanya.” (hal. 25)

Kebahagiaan Amara bersanding dengan Don Juan tidak lama. Bukti-bukti mengarah pada perselingkuhan Nathan. Amara memiliki Irene dan Nadya sebagai sebagai sahabat berbagi cerita, namun ia ragu untuk menceritakan masalahnya. Takut hanya akan ditertawakan, Amara memilih Xanax, obat yang bisa mengurangi rasa sakit sebagai penawar penderitaannya.

“Aku butuh sahabat-sahabatku. Tapi rasa gengsiku mengalahkan semuanya. Aku terlalu malu menghubugi mereka. Aku tidak mau ada belas kasihan dari siapapun.” (hal. 201).

Tak kalah rumitnya masalah yang menimpa Irena, si superwoman yang memiliki karir menanjak sekaligus menjadi ibu rumah tangga.  Lelah dengan peran yang dilakoni dan melihat anak-anaknya tidak terurus membuat Irena memutuskan berhenti berkerja untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. Saat Irena mengutarakan rencananya untuk berhenti bekerja, Juna, suaminya justru mencegahnya. Keanehan mulai dirasakan ketika Juna kerap berada di rumah dan sikapnya mulai emosional.

Kekerasan demi kekerasan menimpa Irena. Belakangan diketahui bahwa Juna dipecat dari bank tempatnya bekerja karena korupsi. Dalang semuanya adalah  Arlan, adik Juna yang selalu merusuhi  keuangan keluarga Irena.

Kondisi ini membuat keluarga Irena berantakan. KDRT yang dialami Irena membuat sahabat-sahabatnya berpikiran bahwa sudah saatnya Irena mengakhiri rantai kekerasan itu. Namun, titik ini justru membuat hubungan ketiganya retak. Semua masukan dari sahabatnya membuat Irena malah balik menyerang mereka berdua, mencerca  dengan masalah-masalah yang dialami masing-masing sahabatnya.

Kompleks. Novel ini mengetengahkan masalah-masalah yang jamak dialami perempuan di dunia pernikahan.  Di ceritakan dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh, pembaca bisa menyelami dunia batin dan perasaan masing-masing tokoh.

Ada persahabatan dengan segala lika-liku serta rasa iri yang diam-diam mewarnai hubungan tersebut. Tiga sahabat ini berhasil melewati semua proses yang pada akhirnya membebaskan hati dari belenggu konflik.  Memilih untuk bahagia, adalah satu hal penting yang disampaikan novel ini.