Di Balik Cernak untuk Majalah Adzkia

Siang itu panas. Berjalan dari sekolah tempat saya mengajar, saya menghentikan langkah di tepi jalan. Saya menunggu angkot yang lewat menuju pasar. Sebenarnya, jarak dari saya berdiri hingga pasar tidak begitu jauh, 10 hingga 15 menit bisa saya tempuh dengan berjalan kaki. Bahkan,simpang empat pasar bisa saya lihat dari tempat saya berdiri, sebab jalannya lurus. Melayangkan pandang menuju simpang 4 pasar, tak satupun angkot biru yang saya lihat. Jadi benar, ada demo gojek di kota Magelang. Demo di kota, tapi angkot pedesaan ikut korsa mogok. Saya terpaksa berjalan kaki sampai pasar. Sekembali dari pasar, malang benar, becakpun tak ada. Celingak celinguk mencari becak, seorang sopir angkot melihat saya. Dikiranya mungkin mencari angkot, sopir itu menyapa saya, “Mbae mau pulang Sambung, itu mbak, sama pak polisi saja.” Saya biasa menumpangi angkotnya sehingga tahu dimana saya pulang.

Tak jauh dari sana standy polisi dan mobil patroli yang hari itu khusus mengangkut anak-anak sekolah yang kesulitan transportasi sebab angkot mogok. Tersenyum sembari menjawab, saya belum mau pulang.  Maka saya berjalan lagi menuju sekolah. Masih panas. Jam istirahat kedua anak-anak matahari sedang berada di atas kepala.

Cling! Mendadak muncul ide ketika saya tiba di depan sebuah Sekolah Dasar Negeri tak jauh dari simpang 4 pasar. Dalam perjalanan itu, saya berangan-angan bagaimana seandainya hujan? Sambil berjalan, saya mengeksekusi ide yang mendadak muncul itu. Saya mengandaikan seorang anak yang bersekolah di SD yang saya lewati harus kecewa karena tak ada angkot. Dengan jarak yang tidak jauh, ia terpaksa berjalan pulang di bawah terik matahari. Sama seperti saya.

cerpen-1.png

 

Hasil eksekusi itu saya tuliskan dalam sebuah cerita anak berjudul “Mogok Angkot” dan dimuat dalam majalah Adzkia edisi 145 Vol.XIII No. 01 Juni 2018. “Mogok Angkot” adalah cerita anak kelima yang dimuat di majalah Adzkia. Saya ingin mengingatkan diri sendiri terutama dan anak-anak,untuk selalu bersyukur dengan cuaca yang diberi oleh Allah. Tidak mengeluh saat panas terik maupun saat hujan turun. Dengan kaki yang dimiliki, bisa pulang sekolah di hari yang terik adalah hal yang pantas disyukuri.

cerpen-2.png

 

Majalah Adzkia merupakan majalah anak muslim yang terbit sebulan sekali. Kantor redaksinya berada di Jl. DR. Muh. Hatta Kp. Madegondo RT 05 RW 04 Sukoharjo Jawa Tengah.  Dibanding majalah Bobo yang sulit sekali ditembus, majalah Adzkia lebih menjanjikan karya saya dimuat. Honornya pun lumayan. Satu pertimbangan mengirimkan karya ke majalah Adzkia adalah menulis sambil berdakwah.  Cerita anak yang dalam majalah Adzkia disebut “Kisah  Berhikmah” mengandung syiar.

Sama seperti “Mogok Angkot”, cerita yang saya kirimkan di majalah Adzkia kesemuanya berangkat dari ide yang saya temukan dalam keseharian saya di sekolah.  Cerita “Dokter Kecil” dalam majalah Adzkia edisi 140 Vol XII No. 08 Januari 2018  adalah pengalaman yang saya hadapi ketika memilih tiga siswa saya untuk maju mengikuti pelatihan dokter kecil di Puskesmas Kecamatan Grabag. Saya tidak memilih anak yang  pandai secara akademik, juara kelas, tapi anak yang telaten dan peduli. Setahun kemudian, muncul ide untuk menuliskannya dalam cerita anak. Saya ingin menekankan kepada anak-anak, bahwa tiap anak memiiliki kelebihan, tak hanya pintar akademik namun juga kelebihan dalam akhlak dan bergaul. Semua bisa berprestasi. Cerita dengan tokoh bernama Syifa itu ingin mengambil inspirasi dari tokoh muslimah Syifa binti Abdullah. Selain berbagi hikmah, saya pun ingin memperkenalkan shahabiyah yang mungkin belum banyak dikenal anak-anak.

cerpen-3.png

Syiar itu pula yang mendorong saya mengeksekusi ide dari hadist yang dihafalkan anak-anak saya di sekolah. Terutama hadist yang berkaitan dengan adab dan diamalkan dalam keseharian.  Barangkali, tidak semua anak tahu, bahwa  meniup makanan dan minuman  tidak diperbolehkan.  Dari hadist larangan bernapas di tempat makan dan minum, saya kemudian melakukan riset. Sesuatu dilarang oleh agama, pasti ada hikmahnya. Data mengenai larangan bernapas/ meniup makanan dan mimunam saya dapatkan secara ilmiah.

cerpen 4

Data yang temukan saya eksekusi, kira-kira minuman apa yang sering dalam keadaan panas lebih enak disajikan. Maka, premis seorang anak yang terburu-buru sarapan karena bangun siang dan meniup susunya yang masih panas menjadi  sebuah cerita anak berjudul “Gara-Gara Novel” dalam majalah Adzkia  Vol X No.6, November 2015. Gara-gara membaca novel hingga larut malam, seorang anak kesiangan bangun dan sarapan dengan tergesa. Ayahnya mengingatkan untuk tidak meniup minuman sebagaimana dijarkan Nabi Muhammad lewat hadistnya. Pertanyaan mengapa dilarang meniup dijawab dengan data yang sebelumnya saya lakukan riset.

Cerita berhikmah lain berjudul “Hari Membawa Bekal” dalam Adzkia Vol XI No. 9, Februari 2017 saya gali dari hadist adab makan, yaitu larangan makan sambil bersandar.  Saya melakukan eksekusi dengan sebuah pertanyaan, momen apa yang mungkin anak bisa makan bersama sehingga guru melihat ada anak yang cara makannya belum sesuai sunah. Muncul ide, pada hari ada pelajaran olahraga, siswa diperbolehkan membawa bekal dan makan bersama di taman kota. Dari sekolah hingga taman kota, siswa berjalan kaki. Saat makan bersama itulah guru dalam cerita “Hari Membawa Bekal” mengingatkan anak-anak tentang cara makan sesuai sunah. Setelah ide muncul, saya kemudian melakukan riset, mengapa secara ilmiah makan tidak disarankan sambil bersandar?

cerpen-5.png

 

Setelah menemukan ide, eksekusi, riset, dan data komplet, alur akan terbangun. Langkah saya selanjutnya biasanya  mengetik cepat atau melakukan free writting (menulis bebas). Saya mengetik saja apa yang terlintas di kepala, tanpa aturan dan tanpa mengedit. Setelah saya lega mengeluarkan isi kepala, dan cerita sudah terbangun,barulah saya membaca ulang sembari mengedit. Ketika membaca ulang seringkali berkembang cerita. Saya juga melakukan penyesuaian jumlah kata sesuai aturan dalam media yang dituju.

Ada kepuasan tersendiri ketika karya dimuat dan diapresasi beberapa teman, bahkan siswa sendiri. Cerita-cerita yang saya tulis adalah cerita-cerita yang terserak di sekolah tempat saya mengajar sehingga lebih mudah menuliskannya

 

 

*tulisan yang tidak lolos lomba menulis proses kreatif

Tantangan Nulis Blue Valley

Perahu Kertas

 

“Aku pulang sekarang….”

“Di luar hujan begitu deras, tunggulah agak reda.”

“Tak masalah, aku harus pulang sekarang.”

“Nekat sekali kamu. Bawa payung kan?”

“Selalu.”

Aku ingin segera sampai rumah. Bergelung di kasur  menenggelamkan kepalaku di bawah bantal. Entah apa jadinya dadaku kalau aku tak segera keluar dari sini, terus menerus menahan gemuruh yang harusnya sudah meletus. Tentu seharian ini aku tak bisa konsentrasi bekerja. Bibirku sampai sakit karena berulang-ulang kugigit untuk membendung tangis. Aku tak tahan lama-lama berada di pantry menyembunyikan rasa sakit yang membuncah.  Tidakkah mereka rasakan getaran dalam suaraku. Susah payah kutahan agar hari ini aku tak banyak cakap. Sebenarnya bukan hal yang aneh, aku memang tak suka banyak bicara di tempat kerja. Ya, hari ini aku menjawab segala pertanyaan yang datang padaku seperlunya saja. Lebih bayak gerakan kepala; menggeleng, mengangguk, melengkungkan senyum, mengerutkan kening,  atau dengan gerakan bahu.

“Kamu sariawan atau napa sih?”

“Sori, lagi dapet, lagi nggak mood ngomong,” jawabku bohong.

“PMS nih… .” celetuk yang lain, kutingkahi dengan cengiran.

Hari ini menjadi hari terlama, detik  demi detik menetes serupa  sampo di dalam botol yang nyaris kosong. Kalau berkali-kali melirik jam dinding, tentu waktu bagiku seperti merangkak.

***

Tepat ketika aku keluar dari pintu kantor, angkot biru  langgananku melintas. Aku menggeleng pada pak sopir. Tidak. Aku sedang ingin sendiri, berjalan di bawah hujan.

Benar, hujan kali ini terlampau deras. Inginku, payung biru ini kubiarkan tetap kuncup agar langkahku terbingkai hujan sempurna. Tapi aku masih tahu diri. Sayang pada tubuhku. Bisa-bisa tubuhku remuk kalau aku nekat.  Bukanya menikmati hujan tapi menyiksa diri. Aku tak mau menambah rasa sakit di sekujur  tubuh.Sebenarnya aku benci berjalan di dalam hujan semacam ini. Hujan deras begini lebih nikmat diresapi  dari  bawah selimut atau di tepi jendela kamar ditemani secangkir kopi.  Ah, tapi setidaknya di bawah payung ini kepundan di dadaku ini akhirnya meledakkan leleran lava, hangat mederas  dari kedua sudu t mataku.  Air mata mengalir sejalan dengan langkah kakiku.

Pertokoan yang biasanya kunikmati dari balik jendela angkot kini terpampang di sampingku. Pelan-pelan berkelebatan saja.  Aku biasanya suka mengamati beberapa toko baju, menatap manekuin  yang dalam beberapa hari selalu berganti gaun. Menebak-nebak apakah gaun atau rok yang di hari sebelumya kulihat apakah masih di sana, menebak sudah berganti model seperti apa.  Gaun sebelumnya, sudah masuk almari di sebuah kamar? Atau sekedar berganti untuk menarik hati para perempuan sepertiku. Ah, kalau mau menuruti keinginan, aku ingin membeli rok-rok bermodel etnik atau gaun panjang yang kubayangkan akan menyulap diriku menjadi sosok anggun.  Sudahlah, aku  sedang tidak ingin berangan-angan kapan aku bisa masuk dan membawa pulang salah satu koleksinya.

Mendekati sebuah kedai kopi, hatiku gamang. Menghangatkan diri dengan secangkir kopi sembari menikmati gemericik liris, memandang bulir-bulir yang membuat kaca memburam sepertinya nikmati. Itu di sana, di meja pojok  tepi jendela aku suka melewatkan waktu   berjam-jam untuk membaca, menghabiskan cangkir demi cangkir, atau sekedar melamun.  Hampir saja langkahku kebelokkan ke kedai kalau bukan karena bayangmu  mendadak hadir di meja itu mengurungkan niatku. Sejak mengenalmu, kursi di seberang aku duduk tak pernah kosong. Mengisi akhir pekan dengan berbincang  berbagai hal denganmu tak pernah ada habisnya.  Akhir pekan yang selalu kunanti. Kedai kopi menjadi tempat yang selalu kurindu.  Ah, hari ini kedai itu membuatku muak. Langkah  kupercepat.  Aroma yang meruap hingga ke setiap sudutnya tak lagi menggodaku.

“Aku akan ajak kamu ketemu mama,” ujarmu di kedai sore itu.

“Ketemu mama kamu?” Aku tak bisa mendefinisikan perasaan yang berkecemuk. Aku takut bertanya ataupun menebak-nebak sendiri, main ke rumahnya berarti…

“Sudah saatnya kamu kukenalkan pada mama,”

Aku tak bilang ya atau tidak, tahu-tahu aku sudah duduk di ruang tamu bernuansa klasik.

“Ini lho Mah, gadis yang pernah kuceritakan, emm… yang kemarin bukunya nongol di ‘Buku Baru”. Kamu menunjuk majalah yang masih tergeletak di meja.

Wanita itu tersenyum, lalu meneliti.

Perasaan tidak nyaman mendadak menelusup, rasanya risih dipandang seperti itu, seperti sebuah barang yang sedang ditaksir.

“ Belajar nulis dari mana?”

“Otodidak Tante,”

“ Sekolahnya dulu?”

“Saya hanya lulusan SMK Tante,”

“Hem…lulusan SMK tapi bisa menulis novel?”

Mamamu mengangguk-angguk. Entah apa yang bersarang di kepalanya. Pastilah kamu belum pernah menceritakannya pada mamamu. Majalah yang memuat novelku tentu saja hanya menampilkan sinopsis.

Pertemuan pertama dan kedua di rumahmu masih diwarnai sedikit kehangatan. Namun berangsur-angsur  kehangatan itu menguap. Dingin menyambutku setiap kali kamu mengajakku mengunjungi keluargamu. Hingga suatu hari, mamamu sudah bersama seorang perempuan cantik ketika aku datang.

Aku menjabat tangannya. Dia sosok yang anggun. Penampilan dan gaya bicaranya sudah mewakili dari kelas mana dia berasal.

“Katanya kamu baru naik jabatan, direktur pemasaran.” Mamamu menyebut sebuah perusahaan  kosmetik yang punya produk  berbahan herbal. Mereka terlibat pembicaraan seru dan akrab. Aku? Seperti tidak ada diantara mereka. Selanjutnya kamu tidak pernah lagi mengajakku ke rumahmu.

Masih di kedai itu, pertemuan kita masih tetap berlanjut. Namun, aku tidak lagi mendapati binar di kedua matamu. Murung, wajah itu yang selalu menemani akhir pekanku. Bahkan, kadangkala aku menjumpai kamu mendadak menjadi begitu temperamental dan tidak sabaran.

“Maafkan aku…” selalu itu yang kamu ucapkan tiapkali kamu berusaha melawan temperamentalmu yang spontan muncul. Mana sosok riang dan hangat darimu yang kukenal? Mungkinkah  perempuan itu yang telah merenggutnya darimu?

“Emm… mama memaksaku menikah.” Seperti ada sengatan tiba-tiba menjalari tubuhku. Aku sebisa mungkin menyembunyikannya. Juga gigil  yang mendadak muncul.

“Maaf, mamaku….” Aku sudah bisa menebaknya, jadi aku tak ingin mendengar kelanjutan ucapanmu.

“Tapi aku masih berjuang untuk membatalkan rencana Mama.” Kamu sendiri seperti tidak yakin mengucapkan itu, bagaimana aku bisa mempercayainya? Bagaimanapun, aku tak bisa berbohong kalau aku begitu berharap kamu benar-benar membuktikan ucapanmu. Tak butuh waktu lama hingga undangan itu tiba.

***

Berkecipuk  dengan air hujan yang pelan mereda, tak setapakpun langkahku terhenti. Dadaku berangsur  melapang. Nafas yang kuhela kian lega.  Tiba di jalan masuk kampung berparit di kanan kirinya, langkahku baru berhenti, tertarik mendengar celoteh para bocah di tepi parit. Sambil menyusut air mata dengan punggung tanganku, kudekati mereka. Ada perahu-perahu kecil  yang sedang berlayar. Rupanya mereka mengeluhkan perahu kertas yang terancam karam.

“Kertas itu terlalu tipis. Hmmm…kakak punya kertas yang tebal. Pasti akan menjelma perahu kokoh.“

Mereka menoleh kompak. Sejenak memandangiku heran.

“Perahu kokoh?”

Aku mengangguk. “Sebentar kakak ambilkan. Air tak akan begitu saja menelannya.”

“Asyik… asyik… mana Kak, mana Kak?”

Aku merogoh messenger bag, menarik  selembar kertas yang terbungkus plastik. Buru-buru kukeluarkan isinya.

“Waw, bagus Kak!”

Mereka memandang kertas yang kupengang, takjub.

“Lho, itu kan undangan? Pernikahannya siapa Kak? Nggak sayang?”  Raut takjub itu digelayuti tanya.

Aku menggeleng. Menanggapi celoteh mereka dengan senyum saja. Tanpa terlebih dahulu membaca isinya aku mulai melipatnya. Selembar kertas ini sebenarnya ingin kuremas-remas begitu kudapati sudah tergeletak di meja pantry. Mereka memuji-muji betapa elegannnya desain undangan itu. Betapa manis nan romantis foto prewedding berlatar ilalang itu. Si pemilik undangan begitu saja berlalu setelah meletakkan segepok undangan di pantry. Tak  tahan dengan olok-olokkan mereka? Atau   tak tega melihatku membuka undangannya?

Kau pasti sengaja menaruh undangan ini sebelum aku datang, menghindari pertemuan denganku.  Huh, dulu saja kau sengaja mencari-cari alasan agar bisa bertemu denganku.  Pura-pura sibuk berjalan membaca kertas-kertas di tanganmu, untuk kemudian masuk pantry sedekar meracik kopi sendiri atau bercanda dengan Bagas dan Agus waktu istirahat tiba.

Ah, undangan itu hanya kusentuh ketika kumasukkan begitu saja ke dalam tas.Kapan mereka menikah, aku tidak mau tahu.  Aku toh tak akan menghadirinya. Biarlah kertas ini menjelma mainan untuk bocah-bocah ini.

“Nah selesai. Bagus kan?”

“Buruan Kak, layarkan.”

Aku berjongkok dan meletakkan perahu itu di permukaan bening yang gemericik. Pelan sekali aku melepasnya seolah aku tak rela kalau perahu ini tak akan kembali. Kuhela nafas dalam-dalam.

“Horrreeeeee…horeeeee… .” Mereka bersorak.

Kupandangi wajah mereka satu-satu. Tawa mereka teramat ringan tak berbeban. Mereka seperti menghanyutkanku ke dunia mereka. Keriangan mereka menjalari tubuhku. Spontan aku ajak mereka ber-high five satu-satu lalu segera kupalingkan mataku pada perahuku sebelum mendapatinya mengecil. Tatapanku lekat bersama arus yang membawa perahuku melaju.

dukaku tersemat di selembar tubuhmu

perahuku,

berlayarlah… berlayarlah…

larungkan luka lara

akhiri segala cerita

aku dan dia…

 

 

#mengambil judul “Perahu Kertas”  dari puisi “Perahu Kertas” dalam Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas, Balai Pustaka, Jakarta, 1983, hal 46

 

blue-valley

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”

[CerNak] Pindah Rumah

Dimuat di Majalah Adzkia Edisi 108 Volume IX No.12 Mei 2015 

Image5752

Hari kedua membereskan rumah, seluruh ruangan  menjadi terlihat lengang. Barang-barang sudah dipak ke dalam kardus-kardus besar.  Keluarga Rina sudah siap untuk pindah. Ayah Rina dipindahtugaskan ke kantor di  kota lain.

Saatnya ibu  mengecek kamar Rina.

“Lho kak, kok belum diberes-beresi?” Ibu kaget mendapati isi kamar Rina masih utuh. Benda-benda masih di tempat semula, belum ada satupun yang dimasukkan ke dalam kardus. “Ini hari terakhir kita beres-beres Nak, “lanjut ibu.

“Rina nggak mau pindah Bu. Rina mau tetap di sini,” ujar Rina sedih.

Ibu mendekati Rina.“Rina, Ibu kan sudah berkali-kali bilang.  Kita meninggalkan rumah ini karena Bapak pindah tugas, untuk menjadi lebih baik, Nak”.

“Rina mau di sini saja bu, Rina mau tinggal di rumah nenek saja kalau semua ikut pindah” sahut Rina lemas.

“Rina nggak mau ikut bapak, ibu, dan adik?” tanya ibu.

“Emm… tentu saja mau Bu, tapi kenapa sih bapak harus pindah segala? Kenapa bapak nggak kerja di sini saja, jadi kita tak perlu pindah?” sesal Rina.

Ibu mecoba menjelaskan pelan-pelan, “Rina, seperti juga kamu yang setiap tahun menerima rapor dan berprestasi bagus sehingga naik kelas, bapakpun sama. Atasan bapak  juga melakukan penilaian seperti bu guru. Nilai bapak sangat bagus dan berprestasi sehingga bapak harus naik tingkat, naik pangkat begitu.”.

Rina mulai gusar, “Kenapa harus di tempat lain, Bu? Kenapa nggak di kantor bapak sekarang saja Bapak naik tingkat?”  Rina merasa tidak terima  harus segera meninggalkan kamar kesayangannya.

“Kalau Rina naik ke kelas yang lebih tinggi, bapak naik pangkat ke kantor yang lebih besar. Nah, kantor yang besar itu adanya di kota Malang tempat kita mau pindah. Apa Rina mau, bapak tetap tinggal kelas?” tawar ibu.

Rina menggeleng. Dia mulai terisak. “Rina belum kepengen pindah bu, Rina masih senang di sini.”

“Sebenarnya, apa sih yang Rina khawatirkan?” Ibu mulai menangkap adanya kekahawatiran kenapa Rina tidak mau pindah.

“Rina nggak mau pisah sama teman-teman.  Gimana nanti kalau di sana Rina nggak punya teman?” sedu Rina.

Ibu tersenyum, “Kamu  nggak perlu khawatir, di sana pasti banyak teman. Kalau kita baik, orang lain juga pasti baik sama kita.”

“Ah, apakah teman-teman di sana seperti teman-teman di sini. Bagaimana kalau di sana Rina tetap kesepian? Ah, pasti hari-hari pertama di sana Rina membosankan!” Rina mengungkapkan kekhawatirannya yang datang bertubi-tubi.

“Kok bilang seperti itu, Rina harus optimis dong!” Ibu kemudian mendekati meja  belajar Rina. Diambilnya sebuah foto Rina yang masih imut, berpakaian putih merah yang masih baru.

“Coba lihat foto ini, masih ingat dengan hari pertama ketika bapak  mengambil foto ini?” tanya ibu sembari mengelus foto Rina.

Rina mengangguk. “Hari pertama masuk SD.”

“Rina berangkat sekolah dan pulang sekolah dengan riang meskipun Rina belum punya satu temanpun di sekolah ini. Rina bisa percaya diri meskipun Rina harus mengenal teman-teman satu persatu sendirian.” Ibu berhenti sejenak.

“Tapi Rina bisa kan? Apakah di hari pertama Rina punya teman baru?” lanjut ibu.

Ragu-ragu menjawab “Rina bahkan langsung punya tiga teman, Dewi, Wulan, dan Rani.”

“Nah kan?” seru ibu.

“Rina tak perlu khawatir, Rina sudah pernah melewati hal baru tanpa kesulitan, bahkan temanmu menjadi banyak kan?” ibu terus meyakinkan Rina.

Rina memandang  foto dirinya lekat-lekat. Samar-samar bayangan dirinya ketika bapak mengambil foto itu di suatu pagi hadir di benaknya. Potongan-potongan kenangan di kelas 1 SD  masih ia ingat dengan jelas.

Rina kemudian beralih memandang ibu. Ibu memberi anggukan dan  keyakinan lewat binar matanya. Seketika Rina mengangguk bersemangat.

“Rina dulu saja bisa ya Bu, dan Rina malah merasa bangga dulu,masuk sekolah baru dan punya pengalaman baru,”  ucap Rina mulai bersemangat.

“Kamu putri Ibu yang mandiri, Rina pasti bisa. Berjauhan dengan teman-teman lama bukan berarti kamu putus hubungan. Ada telepon, surat elektronik, sms yang bisa Rina gunakan sehingga Rina masih bisa dekat dengan teman-teman lama.”

“Teman Rina malah jadi tambah banyak ya bu”, tambah Rina mantab.

[Review] Kenapa Mataku Cuma Satu (Jo Pakagula)

Gambar

Judul                     : Kenapa Mataku Cuma Satu

Penulis                 : Jo Pakagula

Penerbit              : Mitra Bocah Muslim,

Tahun terbit       : Maret 2010

Jumlah halaman: 99 halaman

Kumpulan cerpen Kenapa Mataku Cuma Satu berisi 10 cerpen yang tidak saja memberika pesan untuk pembaca anak-anak, tapi juga pembaca seperti saya.  Cerpen “Kenapa Mataku Cuma Satu” menceritakan Rara, seorang yang cacat matanya sejak kecil, sehingga ia, keluarga, dan lingkungannya tidak pernah menganggap kekurangan itu sebagai hal yang mengganjal, menganggap seakan Rara normal lahir batin. Rara bergaul secara wajar, terlebih ia dikaruniai kelebihan lari cepat, lompat jauh dan tinggi yang selalu mengalahkan anak laki-laki.  Ketenangan kehidupan Rara mendadak terusik dengan hadirnya teman baru, Widuri. Sikapnya yang suka mencemooh membuat hati Rara terluka, hal yang tak pernah dirasakannya.  Rara menumpahkan rasa sedihnya pada ibunya. Lewat  analogi gelas yang tidak terisi sepenuhnya ibunya membesarkan hati Rara.
“Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik, yang tidak kita ketahui. Kita harus yakin bisa meraih sukses meski memiliki cacat tubuh.”

“Jika yang melihat—gelas yang tidak terisi sepenuhnya—seseorang  yang tidak mau bersyukur dan bersikap pesimistis, maka akan mengeluh karena isi gelasnya tidak penuh” (hal. 16).

Pesan yang hampir sama dijumpai dalam cerpen “Susahnya Bertubuh Kecil”.  Cerpen itu memberikan pelajaran tentang syukur. Bagaimana tubuh kecil Utami yang tadinya disesalinya ternyata membawa hikmah. Tubuh ringannya membawanya pada kejuaraan lari.

“Usil  Membawa Bencana”  menceritakan kelakuan Bagyo dan Fathoni yang menimbulkan masalah  bagi temannya.  Sikap usil Bagyo dan Fathoni ketika menyembunyikan sandal Adi di atas pohon membawa bencana.  Terpeleset saat mengambil sandal  karena pohon licin, Adi mengalami patah tulang dan harus dioperasi.  Bagaimana rasa bersalah itu mendera Bagyo dan Fathoni membawa mereka untuk berbesar hati meminta maaf. Ada pelajaran berharga dari cerita itu, bagaimana seorang anak belajar mengakui kesalahan dan mereka mencarikan solusi untuk menolong Adi.

              “. . .bahwa manusia itu tempat salah dan lupa. Jadi alangkah mulianya jika seseorang mau memaafkan kesalahan orang lain dengan penuh keikhalasan. Tuhan saja mau mengampuni dosa manusia seberapa pun besar kesalahannya, asal mereka bertobat dengan sungguh-sungguh.” (hal. 28).

Kutipan itu ditemukan dalam cerpen “Dendam Itupun Sirna.”Awalnya soal buku. Buku kesayangan Nanik hadiah dari ayahnya dipinjam oleh Sisri, sahabat terbaiknya.  Awalnya ia berat meminjamkan buku kesayangan itu pada Sisri, namun karena Sisri memaksa, ia akhrinya membolehkan dengan syarat ia harus menjaga buku itu baik-baik. Ketika dikembalikan buku itu dalam keadaan amburadul. Nanik marah dan mendiamkan Sisri. Permintaan maafnya tak digubris.  Cerita dari pak ustad yang mengajarkannya mengaji, tentang bagaimana akhlak nabi Muhammad memberikan tekad kepada Nanik untuk memaafkan Sisri. Ketika di bulan Ramadhan  Sisri datang kepada Nunik untuk meminta maaf ia dengan tulus bisa memaafkannya .

Tulusnya meminta maaf ditemukan juga dalam cerpen “Fitnah Sang Juara”. Anita seorang juara kelas. Yuli teman sekelasnya kehilangan tempat pensil dan tempat pensil itu ditemukan dalam tas Anita. Karena kejadian itu ayah Anita dipanggil pihak sekolahnya. Anita pun menceritakan kronologi kejadian itu  kepada ayahnya. Selebihnya ia berusahan melupakan kejadian itu  hingga pada sebuah jam pelajaran agama, Eni, teman Anita merasa gelisah.  Saat itu  Ibu Siti berkisah tentang tobat. Ternyata Enilah yang menjebak Anita. Eni kemudian dengan tulus meinta maaf kepada Anita

Dalam  cerita  “Racun Tikus”, penulis ingin mengajak anak-anak lebih peka pada persoalan di sekiling, persoalan yang menimpa bangsa Indonesia.  Di rumah Andi banyak tikus. Untuk membasminya ayah Andi menggunakan racun tikus yang dicampur pada makanan.  Sisa makanan yang bercampur racun tikus dibuang di tempat sampah dengan membungkusnya terlebih dahulu. Konfilk dalam diri Andi muncul ketika ia mendapati pengemis yang mati di dekat pos ronda. Andi merasa bersalah, kalau-kalau pengemis itu mati karena makan makanan sisa yang dibuangnya. Dari sinilah kemudian penulis memberikan perenungan kepada pembaca

               “Bukan hanya dirinya, seharusnya seluruh bangsa ini merasa bersalah. Mengapa harus ada yang teraksa jadi pengemis, bukankah banyak orang kaya yang sebetulnya bisa menolong mereka? Mengapa banyak rakyat miskin. Mengapa banyak pengangguran, mengapa ada pejabat korupso sedangkan rakyat tetap saja menderita?” Hal 45

Selain cerpen-cerpen di atas, masih ada cerpen lain yang memberikan pesan kebaikan kepada pembaca anak-anak. Persoalan yang diangkat persoalan sehari-hari yang sering dialami anak-anak seperti menghadapi puasa pertama, kasih sayang terhadap orang tua, kesedihan ditinggalkan orang terdekat. Bahasanya lugas, sangat mudah dipahami anak-anak tanpa pengkiasan.

Jo Pakagula yang merupakan nama pena dari Joko Purwanto telah menulis  berbagai karya mulai artikel masalah-masalah aktual, tulisan ilmiah, juga tema-tema keagamaan. Di antara karya-karyanya yang telah dipublikasikan adalah Kumpulan Cerpen Penikmat Kata (UNS Press, Solo, 2007). Cerpen Panggilan dari Surga (Majalah Hai, 2006). Cerpen Lindu (tabloid Cempaka, 2006). Cerpen Kugapai Nirwana (Solopos, 2006), Cerpen Libas (Joglo, 2008). Sedangkan, esai-esainya dimuat di harian nasional maupun media-media sastra lokal. *

*mengutip dari sini

Diikutkan dalam Short Stories Reading Challenge 2014

Lelaki Bertopi

Sepulang dari pasar, sudah ada lelaki bertopi menunggu di depan pintu rumah Jinah.  Ia menyilakannya masuk sementara ia meletakkan tenggok dari  gendongannya. Di tenggok itu ada beberapa butir kelapa dan beberapa keping kelapa yang sudah terpecah-pecah.  Setiap hari sengaja membawa beberapa butir atau beberapa keping kelapa dari pasar.  seringkali  tetangganya yang enggan beranjak ke pasar membeli kelapanya di rumah.

Lelaki bertopi mengeluarkan buku batik gelatik kembar panjang  berwarana biru. Ditariknya pena yang terselip di saku kemeja.

“Hari ini ada uang kan Yu?”

“ Aku setor seperti biasa, tapi aku minta tambah lagi.”

“Yakin minta tambah lagi, cuma tinggal dua lagi lho Yu utangmu lunas.” Ia mengulum senyum.

“Sudah catat saja, aku pasti bisa mengembalikan.” Jinah mengeluarkan tiga lembar lima ribuan dari dompet yang di sana sini sudah koyak, meninggalkan selapis kain dalam.  Resetlingnya sudah berkali-kali dibetulkan oleh sebab  lepas jahitannya maupun hampir lepas pengaitnya.

“Lelaki bertopi menyematkan satu catatan di sebuah kolom. Berapa kau butuh uang?”

“Seratus lagi.”

Selembar berwarna merah diangsurkannya. Lelaki bertopi kembali menyematkan catatan di kolom-kolom. “Aku lansung saja Yu, masih belum selesai di kampung ini.”

Jinah mengantar lelaki bertopi sampai di pintu. Bersamaan dengan itu dua gadis berseragam abu-abu putih memasuki teras. Seorang mencium tangan Jinah. Disusul temannya.

“Baru pulang Bu?”

Jinah mengangguk sambil menyilakan tamu putrinya masuk.”Seperti biasa nak, masih berabtakan begini.”

“Ah, sami mawon Bu.”

“Eh, itu apa bu, di tenggok ada yang baru.” Arum putri sulungnya melihat ke dalam tenggok. “Teko baru?” Arum mengertukan keningnya.  Ia tahu ibunya tak punya uang. Uang yang dimintanya kemarin saja masih ditangguhkan.

“Ambil di mendre.”

“Ah, mendre lagi bu? Kapan selesainya?” Arum menghela nafas dalam.

“Sudah dua hari tak ada teh anget, Nduk. Oiya, jangan khawatir lagi, minggu depan kamu bisa beragkat  studi banding.,” ujar ibunya  gagap mengucapkan kata studi banding, sembari membereskan bawaannya dari pasar kemudian lekas membuatkan teh dalam teko baru. Sebentar lagi suaminya pulang.  dari dapur yang hanya tersekat selembar tripleks dengan bilik depan,masih di dengarnya pecakapan dua gadis yang ia tahu persis, sengaja direndahkan suaranya.

“Itu tadi rentenir yang diam-diam terkenal paling kejam kan?”bisik teman Arum

“He’eh”

“Ibumu utang pada rentenir Rum?”

“He’eh.”

“Kenapa harus ke rentenir? Kita tahu rentenir itu mencekik dengan bunganya. Bunga yang dibayarkan sudah bisa kalian gunakan untuk beli beras kan?  Kasihan ibumu Rum, kalau di bank pasti bebannya tak seberat di rentenir.”

“Di bank? Tahu apa ibu dengan segala tetek bengek administrasi di bank. Kami tak punya apa-apa. Kami hanya mau tahu ada uang siap pakai. Apa yang kami pakai sebagai jaminan kalau utang di bank? Tak ada surat-surat berharga ada pada kami.  Paling-paling surat perjanjian kontrak rumah, “ Arum tertawa getir.

***

“Belum ada nasi lagi, Buk?!”  Tidak beselang lama Supar, suami Jinah pulang.  Ia datangi meja dapur.

“Aku baru saja nempur. Sabar sebentar, nasi baru aku masak,“ timpal Jinah, ia melirik suaminya, apa yang akan dibantingnya kali ini karena belum tersedia makanan di  meja.

Kalau tidak  melihat sebuah teko baru yang disampingnya tersedia secangkir teh hangat,barangkali ringan tangannya akan melempar pecah belah terdekatnya.  Teko baru itu sejenak membuatnua tertegun. Namun ia segera menarik cangkir tehnya. Dalam beberapa serutupan, teh hangatnya kandas.

Ia  menyambar pancing yang tergantung di gedek dapurnya.”Nang….., ”
Anang, si bungsu yang dipanggil Supar mendekat.  “Ayo ikut Bapak. “  Tanpa banyak tanya, Anang membututi bapaknya.

Air kali di tepi kampungnya begitu tenang. Beberapa pemancing suka melewatkan waktu sore hari menunggui pancingnya bergerak-gerak. Bagi Supar, memancing adalah hiburannya sepulang ia kerja  sebagai tukang kebun di sebuah sekolah dasar di kelurahan tempat tinggalnya. Ia senang mengajak anak-anaknya. Di tepi sungai itu, ia bisa sejenak mengambil jarak dengan perguatan hidup keluarganya. Di tempat ini pula ia biasa berdialog dengan anak-anaknya. Barangkali di tempat itu ia bisa dengan kepala dingin ia mendengar keluh kesah putra putrinya. Di rumah, seringkali ia tak bisa menahan emosinya hingga beberapa benda pecah belah yang tak seberapa di dapurnya menjadi sasarannya.  Secepat sebuah piring melayang, secepat itu pula emosinya reda. Ia akan cepat-cepat meminta maaf pada perempuan yang  berani diajaknya susah, mencari kelapa dari kebun ke kebun selepas tugasnya sebagai tukang kebun.

“Pak …pak.. pancingku gerak… !” seru Anang.  Dengan sekali hentak, pancing di tariknya. Seekor tawes menggelepar-gelepar di ujung kail.

“Bagus, sore ini kita makan enak,” Supar terkekeh.

Ia sendiri berkali-kali menarik pancing dengan beberapa ekor tawes dan ikan emas menggantung di kailnya.

Kira –kira ikan di ember bekas labur yang mereka bawa sudah mencukupi untuk makan seisi rumah, mereka beranjak meninggalkan sungai.

***

Lelaki bertopi itu berdiri di depan pintu. Anang ada di sana menjelaskan kalau ibu bapaknya belum pulang. Jinah hampir akan berbalik ke pasar, sudah tiga kali ia  nunggak. Berbalik ke pasar lagi lalu mencari pinjaman untuk menutupi  satu lubang yang sudah digalinya bertahun-tahun? Percuma. Seperti yang sudah-sudah, bukankah ia tahu kalau laki-laki itu akan berdiri di depan pintu rumahnya kali ini lalu akan di hadapinya seperti biasa?  Kalaupun mencari pinjaman di pasar, harusnyan sudah dilakukannya sejak tadi pagi.  Bagaimana dengan kang Supar, adakah hari ini ia memabawa uang lebih?

Langkah kaki dimantapkannya, menghadapi laki-laki bertopi yang sudah memaksanya bekerja lebih keras, alasan  bagi ia dan suaminya untuk setiap pagi keluar rumah dengan harapan ada uang yang akan disetorkan.

“Gimana Yu, sudah ada kan? Atau radio itu kubawa? Yah… walaupun radio seperti itu tidak ada ajinya, tapi itu benda berharga yang kalian miliki kan?”  Begitu Jinah sampai rumah ia mendekati radio di  meja pojokan bilik depan.

“Jangan, hanya dari sana anak-anakku dapat hiburan, “ Jinah berkata tegas. Ia juga ingat, beberapa kali, Arum dan Anang mengerjakan tugas dengan radio itu.

“Tolonglah, apa aku pernah ingkar? Hanya kali ini aku tak bisa memenuhi setoran.  Tolong, tunggu sebentar, suamiku akan pulang. “

“Aku masih banyak urusan, sudah ini aku bawa.” Lelaki bertopi itu mencabut paksa radio yang masih tercolok pada stop kontak

“Nah… nah… itu suamiku pulang.”

Jinah menyongsong suaminya. “Kau bawa uang ‘kan Kang?”

“Tidak bisa menutup setorannya penuh. Aku sudah usahakan minta bayaran ngecat yang harusnya kuterima besok ketika pekerjaanku selesai,” bisik suaminya.

“Ini aku bayar setengahnya, sisanya aku cukupi besok, aku janji.”

Lelaki bertopi itu menerima uang lalu mencatat pada buku batik birunya.

“Ingat, aku besok akan panggil kawanku kalau kalian ingkar!”

Jinah dan suaminya tercekat.  Ia tahu siapa kawan yang dimaksud oleh lelaki bertopi itu.  Suami istri itu sudah sepakat, anak-anaknya tak akan dibiarkannya melihat ada lelaki-lelaki berperawakan kekar memasuki halaman tempat tinggal mereka.

Supar menyambar pancingnya. “Jinah kau ikut. Kita jalan ke kali gede.  Semoga tetangga kita sedang ingin makan ikan.”

***

Lelaki itu duduk di kursi roda di teras rumahnya.  Ada teh yang tinggal setengah dalam gelas di meja sampingnya.  Beberapa kerat roti nampak  dalam piring kecil.  Pandangannya kosong menatap  halaman rumah yang di sana-sini ditumbuhi rumput  liar.  Tak ada lagi tanaman-tanaman berdaun lebar yang pernah menjadi buruan, juga bunga-bunga bulat yang batangnya berduri runcing panjang.

Sepasang suami istri mendekati dengan sedikit rikuh.

“Masih ingat kami Bang?” Jinah memulai  membuka percakapan.

Lelaki itu memandang dengan mata memicing.
“Yu Nah, ngapain kalian kemari?”  Suaranya terdengar sedikit  membentak.

“Kami  bawakan oleh-oleh dari Arum. Kalau bukan karena Abang, mungkin Arum sekarang  tak jadi sarjana dan sampai ke luar negeri. “  Supar memberikan sebuah bungkusan dengan kerendahan hatinya.

“ Anak kau itu sudah jadi orang rupanya?!”Lelaki yang botaknya dulu selalu disembunyikan dengan topi itu memandang  bungkusan dengan mata kosong.

Ket:

Tenggok: wadah dari anyaman bambu yang biasa digendong di belakang

Aji: berharga

Yu: mbak

Labur: cat tembok dari kapur

Nempur: beli beras

mendre: penjual keliling dengan sistem kredit berbunga

belajar nulis cerpen untuk ikutan Giveaway #IwritetoInspire

V