[DiaryEmak] Gara-Gara Kentang?

20180510_095852-02

 

Pernah nggak sih merasa dongkol dan kepingin marah sendiri gara-gara rencana pagi yang disusun berantakan? Trus sibuk nyari-nyari kambing hitam, bahkan kentang yang nggak salah apa-apa pun berubah jadi kambing?

Untuk bekal Janitra, Senin kemarin sudah saya rencanakan bikin perkedel kentang. Janitra request dibuatkan. Pukul 3 dini hari saya bangun, ternyata setengah empat saatnya masuk dapur, sudah ada yang mendahului berkativitas di dapur. Saya tipe ibu yang suka beraktivitas pagi dalam suasana sepi jadi bebas ‘menguasai’ dapur. Jadilah saya enggan masuk dapur nunggu selo.

Ah, memang nasib emak-emak yang sifatnya kayak saya ini ketika harus tinggal serumah dengan mertua dan saudara jadi harus bisa mencari celah agar tetap bisa berekspresi.  Ketika apa yang kita punya,apa yang di depan mata, apa yang kita tempati harus berbagi dengan orang lain, ketika harus berdamai dengan hiruk pikuk sementara kita terbiasa dengan kesunyian dan kedamaian, maka pintar-pintarnya emak memenejemen hati.

Jarum jam sudah beranjak di angka 4. Mau nggak mau saya harus siap di dapur apapun yang terjadi. Pertama saya hidupkan kompor. Goreng kentang kan bisa disambi nyuci beras untuk persiapan masak nasi dan nyuci piring dan gelas di bak cucian.

Rasanya sudah lama kentang digoreng dan dibolak-balik, tapi olalaaa…ternyata susah ditumbuk, keras. Rupanya saya salah memilih kentang, padahal dari segi penampakan besar dan mulus. Masalah kentang ini cukup menyita waktu. Biasanya sekali tekan dengan ulekan kentang hancur, lha ini butuh dipukul-pukul.  Jadilah kentang jadi sasaran kedongkolan saya, pukul-pukul keras hingga sedikit hancur. Saya pukul sembari meluapkan kekesalan.  Hasilnya, setelah dibulat-bulat masih ada ada bagian-bagian kentang yang benjol-benjol karena tumbukan yang tak sempurna halus.

Nyatanya, subuh menjelang perkedel belum siap. Kalau biasanya setelah subuh semua persiapan bekal sekolah anak beres. Lha ini, goreng kentang saja belum kelar.

Jadilah kedongkolan saya mencapai ubun-ubun. Satu saja episode pagi tidak sesuai timing, maka runtutan episode selanjutnya akan bergeser. Mendadak semuanya terasa salah di mata. Nah, inilah peran setan ketika menghembuskan api di kepala. Kudu banyak-banyak istighfar. Emak-emak pekerja dan punya anak kecil, harus menyiapkan sekolah, rentan cepat tua dan banyak dosa kalau stok sabar tidak terus diperbarui. Pagi adalah masa-masa kritis, menentukan apakah senyum ataukah amarah yang akan menjadi catatan amal di awal hari itu.

Kalau kalian, apa catatan pagimu, semoga senyum yang tertoreh! J

[Diari Emak] Godaan

Godaan  selalu datang ketika melaksanakan tugas setrika setumpuk. Mendadak ingin sekali membaca buku. Dalam hati kemudian membuat syarat, “boleh baca buku asal selesai sekarang juga!”

Seri buku  Tempo Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim ngawe-ngawe untuk segera diselesaikan karena pengen segera membaca The Lady in  Red karya Arleen A.  Tinggal separo lagi buku Natsir selesai dan sudah ada antrian mbah kakung Janitra yang akan membacanya.

20160829_204948[1]

Setrika masih lanjut sembari kepikiran godaan itu. Eh, mendadak teringat soal ulangan untuk besok pagi yang sama sekali belum diedit. Yaelah, emak-emak sudah di rumah kok ya masih punya tanggungan kerjaan dari sekolah.

Pada akhirnya, setrika terhenti, membuka file soal untuk diedit. Malam ini harus rapi karena jam ke-2 harus dikerjakan anak-anak. Godaan itu pun datang, melipir mampir update blog! Dasar! 😀

Di luar godaan itu, sebenarnya godaan terbesar hanya satu: kantuk!

 

 

 

 

Ketika Saya Di-complain Wali Siswa

 

Jumat ini ada teguran masuk untuk saya. Seusai piket siang, saya beranjak naik tangga menuju kantor. Di ujung tangga, Pak Kepala Sekolah dengan ekspresi dan nada super biasa menyapa saya,

“ Bu yang ngasih buku ke I (menyebut nama siswa), rangking II, siapa?”

“I… ? saya Pak,” jawab saya

Ada tulisan Marry Chirstmas, lanjut Pak Kepsek. Rupanya bapak siswa tersebut ‘complain’ ke pak kepsek. Kok nggak langsung kepada saya ya? Barusan saya ketemu ibunya diam saja.

“Oh… malah saya nggak tahu, itu buku pengetahuan kok Pak. Biasanya buku itu  juga aman-aman saja.”

“Ya besok kalau mau ngasih buku lebih hati-hati lagi,” lanjut beliau.

“Oke…!”

Baru masuk kantor, bu Nisa bilang, “ Bu, sudah baca WA?”

“Soal buku?”

“Iya.”

“Oh, pak ipul sudah bilang.”

Ooh… rupanya hal itu dishare di grup WA ta? Ngapain? Bilang langsung saja bisa, pikir saya. Saya membuka hp dan klik WA. Ada dua foto ini di grup sekolah.

IMG-20160722-WA0013

IMG-20160722-WA0014

“Itu buku sains kok. Isinya pengetahuan, ujar saya. Kalau ada gambar itu, satu halaman saja, wajar wong yang nulis bukan muslim.”

“Mungkin ada misinya,” lanjut dua teman.

Karena saya belum baca bukunya saya nggak tahu ada misi atau tidak.  Buku seri pertama yang saya baca aman dan isinya bagus kok.

“Oke, besok kalau mau ngasih buku lebih hati-hati deh, harus yang Islamiiiiiii bangetttt!” jawab saya geli.

Saya tak mau berpanjang lebar berkomentar. Tak ada gunanya meski banyak hal berkecamuk di kepala.  Sepertinya tak ada gunanya memuntahkan isi kepala kepada teman-teman. Kesannya nanti saya tidak terima atau sewot, hehe. Lagi pula saya bukan tipe orang yang suka berpanjang lebar berbicara mengeluarkan argumen jika dirasa tak perlu buat orang lain.

Nah, ketimbang segala uneg-uneg itu jadi sampah di kepala, saya tulis saja disini.  Selain jadi terapi buat saya, menghilangkan sampah, menyalurkan ide, mengorganisir pikiran, juga akan menjadi sejarah buat  saya sendiri, ehmmm…  Kalau dikeluarkan secara lisan akan menguap oleh waktu. Dalam tulisan akan abadi, kata Pram.

 

Saya memberikan buku tersebut kepada siswa, buku sains, sebagai hadiah prestasi akademik di kelas. Saya biasa memberikan buku sebagai hadiah prestasi anak untuk menyebarkan virus membaca. Anak tersebut sudah 4 kali ini mendapatkan hadiah buku. Sebenarnya, saya selalu metmilih buku yang  pas untuk siswa saya, biasanya buku sains atau kalau siswi–mereka suka baca novel– saya pilihkan buku Islam buku yang saya berikan untuk siswa tersebut buku sains dan saya punya satu serinya, isinya bagus dan terbilang ‘aman’ jadi saya berikan buku itu sebagai hadiah.

Seandainya saya jadi wali siswa yang mendapat buku itu, saya tidak akan serta merta menganggap satu gambar itu jadi masalah. Dibanding dengan isi buku yang sarat pengetahuan, satu hal itu bisa disikapi dengan bijak. Saya akan menjelaskan arti gambar itu kepada anak saya. Kenapa gambar itu bisa ada di sana. Penjelasan akan melebar ke soal agama, ke soal akidah. Tentang Islam sebagai satu-satunya agama rohmatalil ‘alamin. Tentang sejarah agama lain.  Tentu saja penanaman akidah kepada anak mendapat porsi lebih. Arguman soal misi bisa dipatahkan dengan penyikapan orang tua!  Dengan begitu saya tidak akan buru-buru komplen kepada guru yang memberi buku itu, malah berterima kasih sudah diberi hadiah buku. Susah lho di kota kecil nyari buku seperti itu, halah! 😀

Tidak semua penerbit Islam menyediakan buku-buku bermuatan pengetahuan yang kita butuhkan. Nah, ini PR buat penerbit Islam: menerbitkan sebanyak-banyaknya buku pengetahuan yang anak muslim butuhkan. Nyatanya, buku-buku pengetahuan yang sarat ilmu dan bergizi  diterbitkan oleh penerbit  umum.  Saya sebagai orang tua tidak saklek membelikan buku-buku  untuk Janitra yang berlabel Islami saja. Untuk buku-buku sains lebih banyak dari penerbit segala buku dengan segala label.  Apesnya mungkin di dalamnya ada muatan-muatan yang tidak sesuai dengan visi misi kita mendidik anak, tapi hal itu tidak akan melunturkan akidah kita kan? Selama kita siap argumen berdasar ilmu yang kita yakini. Boleh saja kita mengoleksi buku-buku yang berlabel Islami saja, tapi apa nggak rugi kalau di buku lain banyak ilmu yang akan kita dapatkan?

Jadi kalau di dalam buku-buku sains itu ada secuil hal yang kita anggap gangguan, ya wajar toh.  Wong kita hidup saja bermasyarakat saja kita bertemu dengan keberagaman yang berbeda dengan keyakinan kita.

Oke, itu argumen saya. Saya tidak akan memaksa orang lain menerima argumen saya, seperti halnya wali siswa tersebut yang pastinya punya argumen sendiri soal itu. Kenapa beliau komplen kepada kepala sekolah, pasti punya alasan. Kenapa tidak komplen kepada saya langsung. Beliau tentu punya alasan. Silakan, saya tidak akan balik komplen :D. Kita tidak bisa kan saling paksa untuk menerima argumen masing-masing :D.  Tak ada salah benar soal itu.

Pelajaran buat saya hari ini adalah, pelajaran kesekian selama mendampingi anak-anak kelas saya, saya harus ingat hal ini:

  1. dengan siapa saya berhadapan, kalau memberi hadiah harus hati-hati. Tidak semua orang tua punya pandangan dan pikiran yang sama dengan kita. Menyesuaikan diri itu penting bu guru!
  2. Saya lagi-lagi mendapat tamparan dari Allah.  Ini bukan pertama kalinya saya mendapat komplen dari wali siswa, baik langsung maupun tidak langsung (komplen kok tidak langsung? ). Ini artinya saya sedang diuji oleh Allah. Anak-anak saja naik kelas 5 dari kelas 4 yang saya dampingi, gurunya juga mau naik kelas dong! Dalam perjalanan mengajar, tentu ada kerikil kecil sebagai gangguan, singkirkan saja!

 

Yah, ini uneg-uneg saya. Menulis adalah cara jitu saya untuk melepaskan segala sampah di kepala. Jadi jiwa akan lebih sehat. Menulis juga menjadi sarana untuk mengingatkan diri sendiri.

Dengan menulis, saya lega dan blog jadi ter-update! Wah, terima kasih atas komplen hari ini ya! 😀

Oiya, ada satu hal lagi.  Out of the topic tapi masih berhubungan. Ternyata, teknologi, khususnya gadget telah mewadahi sebuah kebiasaan yang mestinya tak perlu dibudayakan. Banyak hal, banyak masalah yang idealnya bisa disampaikan langsung namun justru dibagi kepada banyak orang di medsos atau grup. Hal-hal yang sepele jadi tranding topic atau jadi bahan bualan.  Masalah yang bisa dibicarakan langsung jadi omong kosong panjang di grup. Contoh kecilnya komplen kepada saya di atas. Untungnya, tidak banyak tanggapan muncul. Saya sendiri malas menanggapi karena hal itu sudah disampaikan langsung face to face.

Sebuah Apresiasi Kecil

Seusai upacara, seperti biasa, siswa-siswi bersalaman dengan bapak ibu guru. Tiba seorang siswi kelas 5 berwajah manis di hadapan, sembari bersalaman, tersenyum dia berkata,”Bu Yani nulis cerita di facebook ya?”

Saya mengerutkan kening, cerita? di fecebook, perasaaan saya nggak nulis cerita?

“Cerita apa?” bingung saya.

“Itu lho cerita dek Janitra,” ujarnya sambil terus berjalan.
“Blog,” teman saya menyahut.

Oalah, ternyata diari Janitra yang saya tautkan di Facebook. Em… ternyata ada siswa saya yang membaca blog saya, “namanya boemisayekti kan Bu?” lanjutnya ketika istirahat. Meski sepi, saya bersyukur ada orang dekat yang singgah di rumah maya saya, dan itu siswa saya. Senang rasanya. Harapannya, kalau mereka membaca blog saya, atau tulisan saya yang lain, saya bisa sedikiiiittt, secuil saja, menginspirasi mereka untuk menulis juga. Bahwa ketika saya mengajak mereka menulis pada pelajaran Bahasa Indonesia, saya tidak njarkoni atau NATO.

Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ketika saya baru saja menaruh  satu buku antologi cerita anak yang terbit secara indie  ke perpustakaan,
“Bu  Yani nulis cerita di buku ya?”seorang siswa bertanya exited.
“Iya Mbak, gimana?” saya balik bertanya kalem. Lalu muncul satu tanggapannya.

     dua buku antogi yang terbit  secara indie

Begitu pula, ketika salah anak-anak menemukan ada nama saya pada antologi HomeTown #1, mereka seperti gumun.

Belum selesai sampai di situ, ketika cerpen pertama saya muncul di majalah Adzkia, seorang lelaki kecil di kelas saya berlari-lari mendekati saya, “bu Yani nulis cerita di Adzkia ya, judulnya Pindah Rumah.”

Beberapa siswa melakukan yang sama sambil menunjukkan majalah itu. Pun ketika yang kedua kalinya cernak saya muncul di majalah yang sama. Saya bisa tersenyum sepanjang hari mengingat apresiasi dari siswa saya. Bahkan ada seorang siswa dari sekolah tempat suami mengajar yang menanyakannya kepada suami.

Jadi, kurang bersyukur apa sebenarnya saya? Kurang apalagi semangat menulis yang Allah berikan lewat siswa-siswi saya? Jadi kenapa saya masih malas-malasan menulis? Masih enggan mengisi blog ini secara rutin meski hanya coretan-coretan curcol? Mengapa saya masih belum produktif menulis?

 

Me Time

Dihantui oleh akreditasi selama 6 bulan tanpa kejelasan membuat saya dan teman-teman merasa begitu lelah. Hingga Jum’at lalu, saat Pra Akreditasi, pengawas yang datang ke sekolah kami memberikan informasi bahwa akreditasi siap dilaksanakan pekan setelah ujian akhir semester. Sedikit lega.

Jum’at itu menjadi hari yang melelahkan, pulang ke rumah menjelang Magrib. Malamnya, saya utarakan maksud hati kepada suami kalau Sabtu saya ingin melepaskan ketegangan dengan makan es krim. Sendirian. Pengen pulang gasek trus me time, ujar saya. Sebenarnya suami ingin ikut, tapi karena harus mengantar anak-anak di sekolahnya mengikuti lomba, jadilah rencana me time berjalan sukses, hehehe.

Saya memilih Rumah Es Krim, satu-satunya kedai es krim di desa Grabag. Kali itu saya ingin mencicipi yang segar-segar,rujak es krim jadi pilihan.

IMG_20131130_134923

Saya tidak salah memilih, segar memang. Berangsur-angsur benang ruwet di kepala terurai. Es krimnya  nyami hanya masih kurang lumer di lidah, rujaknya pun pedas segar.

IMG_20131130_135141

Es krim tandas, pikiran pun kembali seger, dan… ide kecil mendadak melintas. Alhamdulillah.

Oiya, ingin mencicipi varian es krim yang lain? Rumah es krim menyediakan 13 es krim dan 3 cemilan (nugget, sosis, dan kentang goreng). Untuk setiap rasa es krim dan cemilan, harga berkisar  Rp2.500; hingga Rp5.000;.

IMG_20131130_135515

Sebuah Buku, Sebuah Inspirasi, Sebuah Batu Loncatan

Dulu sekali… saya pernah punya cita-cita kerja kantoran, jadi bankir atau akuntan  [hmmm… sebatas mimpi kerja begituan], pokoknya kerja kantoran. Duduk  di bangku SMU, saya begitu menyenangi pelajaran akuntansi dan berharap kelak saya akan menekuninya. Harapan itu mendadak luntur karena satu novel NH Dini berjudul Pertemuan Dua Hati.

Bermula  di kelas dua SMU,  ketika guru bahasa Indonesia begitu gencar memperkenalkan sastra, saya menggemari  karya-karya NH Dini, kemudian  berlanjut sampai masa-masa awal kuliah. Bapak Widi, beliaulah yang membuka lebar jendela pengetahuan sastra. Sastra itu memanusiakan manusia, ujarnya selalu, begitu lekat dalam ingatan. Kesadaran sebagai manusia bisa tumbuh dari membaca sebuah karya sastra. Tersurat atau tersirat, ada hikmah dan  pencerahan termaktub di dalamnya. Beliau selalu menyinggung karya-karya sastra master piece dari pengarang-pengarang yang dimiliki Indonesia: Belenggu karya Arjmin Pane, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Kemarau dan Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, Atheis karya  Achdiat Kartamihardja, karya-karya Balai Pustaka yang lain, juga majalah sastra Horison yang sering dibawanya ke kelas. Sedikit yang diungkapnya menimbulkan rasa ingin tahu. Saya ingin menyelaminya sendiri, mendapatkan lebih dari yang diceritakan guru. Maka perpustakaan menjadi ruang yang asyik untuk diakrabi meskipun untuk ukuran perpustakaan sekolah, perpus itu masih terbilang kecil. Ruang bukunya mungil memang, tapi saya tak bisa menafikan ruang yang selalu disebut pak Widi sebagai jantung sekolah. Setiap istirahat, tak hanya meminjam mengembalikan buku-buku sastra yang menjadi koleksi perpus, saya juga selalu menantikan cerita bersambung berjudul “Area-X” dari majalah Horison yang ditulis seorang siswi SMU Taruna Nusantara Magelang. Pada tanggal-tanggal majalah Horison terbit, begitu bel tanda istirahat berbunyi, saya selalu mengambur ke perpustakaan, takut majalah itu sudah jatuh ke tangan orang lain.

Perpustakaan, kendati kecil dan seadanya, telah saya kenal sebelum masuk TK. Keluarga sepupu yang memiliki beberapa koleksi buku membuka perpustakaan atau istilah yang dipakai waktu itu persewaan buku untuk anak-anak sekitar rumah. Ada satu buku yang selalu saya pegang dan membuka-bukanya selalu. Buku tentang cita-cita itu jadi favorit. Gambarnya lucu, bocah imut dan ipel-ipel. Ada yang berpakaian dokter, guru, dan beragam profesi lain. Lekat dalam  ingatan, saya selalu nembung untuk pinjam, tapi setiap kali itu pula selalu dijawab, “Dibaca di sini aja Dek.” Mungkin kalau saya bawa pulangpun, saya toh hanya melihat-lihat saja seperti di rumah sepupu karena belum bisa membaca dan masih terlalu kecil untuk menjadi member persewaan itu. Barangkali itu alasan kenapa saya tak pernah diijinkan meminjam dibawa pulang.

Perpustakaan sepupu tak berumur panjang. Sebabnya, banyak penyewa yang tak bertanggung jawab mengembalikan lagi buku yang dipinjamnya. Setelah tutup, saudara-saudara saya beralih menjadi peminjam di persewaan buku yang terkenal di daerah saya kala itu, Era namanya. Hingga duduk dibangku SD bahkan SMP kalau tidak salah ingat, persewaan buku itu masih hidup. Novel Wiro Sableng menjadi favorit kakak, saudara, dan teman-teman kecil saya. Anehnya, saya sama sekali tak tertarik untuk ikut membacanya.

Meskipun di rumah tidak ada akses buku sama sekali, namun lingkungan yang kental dengan budaya baca terus melingkupi saya. Keluarga kerabat yang anak-anaknya sepantaran dengan saya memiliki beberapa majalah remaja yang bisa menjadi alternatif bacaan kala itu. Yang paling menggembirakan adalah kedatangan seorang siswi baru di kelas 5 SD, seorang putri camat baru di kecamatan saya. Ia  memiilki koleksi buku yang raknya menempel di kamar tidurnya. Beruntung sekali, saya bisa menjadi anggota kelompok belajar siswa yang terbilang pejabat di desa itu. Saya turut menikmati koleksi-koleksi bukunya, komik berseri Pansy, majalah Donal Bebek dan Paman Gober, serial Trio Detektif, Lima Sekawan, dan STOP.  Novel petualangan dan detekif-detektif itu begitu saya gemari sampai-sampai waktu itu saya dan satu teman dekat  memiliki obsesi menjadi penulis cerita detektif semacam itu. Iseng-iseng, jadilah satu judul cerita sederhana, tertulis rapi dengan pena ketika saya duduk di kelas 6 SD dan  masih saya simpan hingga kini.

Di kelas 2 SMP, teman saya pindah lagi ke Muntilan mengikuti tugas ayahnya. Satu akses buku terputus. Tinggal satu teman yang juga memiliki koleksi komik disamping perpustakaan sekolah dengan koleksi buku diluar buku paket pelajaran yang begitu minim. Hasrat membaca itu terpuaskan kembali setelah masuk dunia SMU, mengenal perpustakaan yang sedikit lebih banyak koleksinya dan memiliki seorang guru yang yang membukakan kaki langit dunia sastra.

***

Pak Widi kerap menugaskan kami membaca karya sastra dan mendiskusikannya, dari buku paket ataupun dari majalah Horison. Kecintaan beliau pada sastra ingin ditularkan kepada anak didiknya. Puncaknya adalah penugasan membuat resensi sebuah buku sastra. Tugas yang bagi sebagian siswa disambut dengan keluhan saya terima dengan senang hati. Saya memilih sebuah karya yang di buku paket dicuplik dan pernah sedikit disinggung oleh beliau. Penasaran dengan konflik yang ditonjolkan,  Kemarau karya A.A Navis menjadi buku yang saya ulas. Tak pernah menyangka, tugas itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Setelah semua siswa maju ke depan kelas untuk mempresentasikannya–tanpa teks–, pak Widi mengumumkan peraih nilai tertinggi. Waw, saya terkejut ketika beliau menyebut nama saya. Takjub sebab saya merasa belepotan ketika berbicara di depan kelas kendatipun saya tidak begitu mempedulikannya.

Tugas penulisan resensi berlalu. Buku-buku sastra tetap saya lahap. Selain A.A Navis, satu pengarang yang mencuri hati saya adalah NH. Dini. Perkenalan saya dengan perempuan penulis itu terjadi ketika SMP. Kakak saya membawa pulang satu novel dari perpustakaan sekolah yang nantinya juga menjadi tempat belajar saya. Saya terpesona dengan eksplorasi bahasa yang ditulis NH Dini dalam novel tentang seorang indo keturunan Belanda yang memutuskan untuk meninggalkan Indonesia lantaran kegagalannya menjalin asmara dengan laki-laki Jawa. Keberangkatan, tak hanya detail cerita dan  konfliknya, masalah-masalah kecil yang dekat keseharian justru meninggalkan kesan tersendiri bagi saya.

Satu novel kemudian disusul novel-novel lain setelah saya mengukuti jejak kakak melanjutkan belajar di SMU 2 Magelang. Keberangkatan disusul dengan Padang Ilalang di Belakang Rumah, Langit dan Bumi Sahabat Kami, Sekayu, Kuncup Berseri, Tanah Baru Tanah Air Kedua, La Barka, Hati yang Damai, dan Pada Sebuah Kapal.                         Hampir semua karya NH Dini yang dimiliki perpustakaan sudah saya tuntaskan, rasanya ada yang kurang kalau tidak membaca buku Pertemuan Dua Hati. Novel  bersampul hijau yang pernah diulas  teman sekelas dalam tugas penulisan resensi itu pun segera berpindah dari rak perpus ke tangan. Sebenarnya, saya tidak begitu respek ketika  teman saya mengupas karya itu. Presentasinya saya ikuti tanpa antusias. Apanya yang menarik, pikir saya.  Tentang guru dan siswa SD?  Saya belum melihat permasalahan yang membangkitkan rasa ingin tahu.

Gambar

Siapa sangka, Pertemuan Dua Hati,  berhasil mengubah mindset saya setelah saya membacanya sendiri. Sebuah titik tertoreh, mempengaruhi diri saya untuk menjadi apa kelak. Pertemuan Dua Hati mengetengahkan tema pendidikan, khususnya di sekolah dasar. Seorang guru bernama Bu Suci  harus menghadapi seorang siswa dengan segala problematika di rumah yang berimbas pada belajarnya di sekolah. Tanpa mendapat dukungan dari guru-guru lain, ia berjuang merebut hati Waskito. Lika-liku perjuangan bu Suci nyatanya begitu menarik saya ikuti. Lebih dari itu, sosok bu Suci rasanya juga begitu dekat.

             Bu guru Suci mengubah opini saya bahwa kerja di kantor itu enak. Apa yang dirasakan bu Suci mempengaruhi saya, bahwa  ia tak pernah betah terjebak  kerja di sebuah ruangan dan bertemu beberapa orang saja setiap harinya, betapa bosan setiap hari menghadapi pekerjaan yang itu-itu saja. Saya kemudian berefleksi dari bu Suci. Tak jauh beda dengan bu Suci, saya pun tipe orang yang mudah bosan. Benar kata bu Suci, saya tidak akan suka kerja di ‘kantor’, rasanya akan lebih dinamis kerja di lapangan. Bu Suci yang mengajar di SD  menghadapi berbagai tingkah anak-anak yang tak tertebak  setiap harinya, terlebih ia menghadapi siswa bermasalah, Waskito, yang selalu berubah perangainya,  menguras pikiran dan tenaganya. Pengalaman menghadapi satu siswa itu begitu mendebarkan namun dinamis. Novel itu menjadi awal mula ketertarikan saya pada dunia pendidikan, meskipun belum sedikitpun terbesit keinginan menjadi seeorang guru. Belum, karena saya waktu itu punya cita-cita baru yang kemudian berubah karena satu alasan ketika kuliah. Namun begitu, sosok bu Suci sebagai guru yang berhasil menaklukan hati Waskito, terus membekas dalam diri saya. Pendekatan-pendekatan psikologis yang dilakukan bu Suci sebagai seorang guru sangat inspiratif. Sosok bu Suci dengan kelembutan di balik ketegasannya dan pengabdiannya sebagai pendidik telah mengendap dalam memori saya. Kisahnya terus bergaung, betapa mulia bisa berbagi menjadi seperti sosok bu Suci.

Ajakan sastra yang mempertemukan pengalaman kita dengan pengalaman yang ada dalam teks itu sendiri rupanya saya alami sungguh-sungguh. Bisa saya pahami bahwa perjumpaan saya dengan karya sastra memang melibatkan harapan, gambaran, dan fantasi.[1] Pengalaman-pengalaman bu Suci yang saya temui kemudian saya refleksikan dengan keadaan diri saya sendiri, dengan apa yang ada pada diri saya sehingga dari sana kemudian tumbuh harapan baru, gambaran yang sama sekali tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dan inilah saya sekarang, menjadi seorang tenaga pengajar di sekolah memang bukan impian saya. Profesi ini masuk dalam plan B yang saya tulis di diary ketika lulus kuliah, meskipun saya tidak menulisnya sebagai GURU namun saya tulis dekat dengan dunia anak-anak–seperti bu Suci kan? Bu Suci menjadi referensi bagi saya ketika saya memilah-milah bidang pekerjaan apa yang akan saya masukkan dalam plan A maupun B.  N.H Dini, disamping telah merekomendasikan satu bidang pekerjaan,  agaknya juga telah berhasil memperkenalkan saya pada dunia pendidikan yang sebenarnya lewat bu Suci. Ia memberikan satu pengalaman batin, menapaki satu-satu harapan demi harapan dalam hidup, menjadi jalan untuk mewujudkan harapan di plan A.

 

 

 


[1] Sindhunata, “Ambil dan Bacalah” dalam Bukuku Kakiku, Gramedia, Jakarta, 2004, hal. 348

*foto hasil googling

**tulisan yang diikutkan dalam satu event beberapa tahun silam tapi tak ada kabar

 

Believe or Not: Be A Mother

Ketika pagi disibukkan dengan aktivitas domestik: bangun tidur dini hari nyuci baju,pakaian-pakaian Janitra beraroma ompol sembari menyiapkan makan buat Janitra, menyeteril botol susunya, lalu menghadapi tumpukan piring kotor,berasa sibuk. Di sela-sela itu sering terlintas pikiran,beginilah seorang ibu, inilah aku,sudah menjadi seorang ibu. Rasanya antara percaya nggak percaya, saya sudah menjadi ibu?!

Ada satu sisi yang berbeda dari diri saya dengan peran itu tapi di sisi lain,kok rasanya tak ada yang berbeda dengan ketika masih lajang. Rasane kok yo mung ngene. Apa itu, pola pikirkah dalam hal-hal tertentu? Entah, sukar untuk mendefinisikan. Ketika pagi seperti bergelut dengan waktu, masih ngantuk, pekerjaan belum beres, anak sudah bangun dan butuh ditangani, sementara hari semakin pagi dan harus segera bersiap ke tempat kerja, hem…inilah menjadi seorang ibu. Bukan hanya saya yang mengalami hal demikian, ibu-ibu di luar sana pun tak berbeda, merelakan sebagian waktu istirahatnya demi keluarga tercinta.

#angkot, 06.27 [repost dari FB, belum bisa ngeblog WP dari HP]

Pilih Sehat, Pilih Jalan Kaki

Saya merasakan, ketika masih lajang, ketika jalan kaki masih menjadi rutinitas saya, pulang pergi ke sekolah, badan terasa segar, kencang dan tidak mudah sakit. Terbiasa berjalan kaki membuat tubuh tidak mudah capek  berjalan jauh. Rasanya enjoy saja ketika traveling harus berjalan kaki  berpanas-panas ria.

Masa berganti. Setelah menikah, intensitas berjalan kaki  menjadi berkurang. Ada suami yang bisa mengantar jemput dengan motor. Pulang pergi ke sekolah naik angkot karena tempat tinggal ikut suami. Rute jalan kaki berkurang, hanya dari tepi jalan turun angkot sampai sekolah yang jaraknya tak seberapa. Pulang sekolah, melewati jalan kampung dari jalan raya sudah ada suami yang stand by menunggu :D.  Ketika hamil, saya merasakan benar manfaat berjalan kaki. Karena sudah terbiasa dengan aktivitas berjalan kaki di keseharian saya sebelumnya, ringan rasanya langkah kaki meski perut terus membuncit. Tubuh tak gampang capek. Alhamdulillah, selama hamil saya sehat sepanjang waktu. Hingga H-1 melahirkan saya masih berangkat kerja dengan angkot [ putri saya lahir lebih cepat dari HPL].

Waktu luang menjadi hal yang langka buat saya setelah melahirkan. Rutinitas pekerjaan ditambah kesibukan momong buah hati sudah sangat menyita waktu. Aktivitas berolahraga menjadi hal yang sangat saya rindukan.  Saya kangen saat-saat bisa berolahraga dan tentu saja…. kangen tubuh saya yang dulu… heehe.

Balakangan saya berpikir, bagaimana tubuh mau segar kalau jalan kaki aja jarang. Kemana-mana  mboncang motor. Jalan dikit saja rasanya ngos-ngosan. Kemudian saya teringat orang-orang di sekitar saya yang dalam keseharian kurang bergerak karena sudah dimanjakan dengan teknologi. Kemana-mana dengan kendaraan. Penyakit rentan datang. Lalu ada teman yang mengalami kesulitan bersalin karena minimnya aktivitas bergerak.

Pilihan ada di tangan, pengen sehat, fit,  atau gampang sakit? Saya harus merubah rutinitas aktivitas keseharian. Saya punya kesempatan untuk berjalan kaki tapi selama ini kesempatan itu saya lewatkan karena keenakan fasilitas mbonceng suami :D.  Jika di suatu siang saya pulang ke rumah jalan, orang rumah pasti tanya, kok nggak dijemput? beneran, lama-lama manja deh.

Maka, kemarin saya bilang suami, sekarang saya pengen jalan kaki saja pulang kerja seturun dari angkot. Sekali-kali minta jemput kalau kondisi tak memungkinkan untuk melenggang santai. Menikmati jalan kaki itu mengasyikkan, kalau dulu saya suka menyaksikan kesibukan jalan raya dijam-jam sibuk, manusia dengan segala style-nya, kemudian langit pagi yang bening, matahari yang hangat, sekarang saya bisa menikmati langit, parit, dan sawah dengan nyanyian para penghuninya yang menjadi back sound. Kalaupun hari hujan, berkecipuk dibingkai hujan juga nikmat bila diresapi sembari jalan.

Gambar

#gambar dari google

Maaf, Uang Saja!

Menjumpai kembalian sejumlah seratus atau dua ratus rupiah yang diwujudkan dalam bentuk permen sudah sering saya jumpai di supermarket-supermarket, bahkan toko kecil. Beberapa kali saya mengalami. Dalihnya pasti tak ada receh. Ah, tahu kalau mengembalikan uang kecil itu hal yang biasa dalam transaksi kenapa mereka tidak mau menyediakan receh? Saya pernah bilang pada mas fotokopian yang menukar receh dengan permen,”mas, berarti besok saya boleh bayar dengan permen?”
Eh, dia begitu enteng menjawab, “boleh tapi permennya se-truk.”

Itu baru permen untuk sekeping 200 atau 100 rupiah. Siang ini, saya dibuat mengernyit ketika menjumpai kasir salah satu swalayan berjenis ‘mart’ di Jalan Pahlawan Magelang memberikan Fulo. Hah? Untuk lima ratus rupiah kasir itu pun tak mau mengembalikannya? Ibu di depan saya mau saja menerima wafer itu. Tiba giliran saya yang hanya membeli air mineral dan 2 snack ringan sejumlah Rp 8.400, kasir itu menawarkan hal yang sama. Dia hendak mengambil wafer sejenis Fulo dengan merk yang berbeda sembari berkata, “kembaliannya enam ratus rupiah ini saja Mbak?”
Dengan tegas saya tolak, “Emm. . .uang saja mbak!”
Dia pun memberikan enam ratus rupiah dan struk belanjanya. Enak saja memaksakan transaksi,pikir saya. Toh mereka juga menyediakan uang receh. Berapapun uang kembalian, itu hak konsumen dan mereka harus mengembalikannya. Tak perlu gengsi untuk memintanya. Kendati hanya receh kecil, toh ia juga menggenapi uang kita manakala kita membutuhkan sejumlah tertentu dan terjadi kekurangan.

Saya kemudian berpikir, kalau setiap konsumen seperti ibu di depan saya, berapa konsumen saja yang telah dipaksa membeli barang yang tidak mereka butuhkan? Pemborosan. Di mata kasir, itu cara mengambil keuntungan dengan pemaksaan yang halus.

Saya pernah membaca tulisan semacam ini di rumah mbak Nesia. Siang ini, saya begitu geram dan ingin menumpahkannya juga di sini.

[Diari Bumil] Berganti Nama

Bangun tidur pagi tadi, suami komentar kalau saya nampak lebih ceria, aura ceria begitu terlihat. Kenapa? Ehm… keceriaan itu awalnya saya rasakan sejak semalam. Rasanya ingin tersenyum terus begitu keluar dari ruang periksa. Perasaan lega,bahagia, dan berjuta syukur menjadi senandung hati mengetahui hasil USG. Bukan untuk mengetahui apa jenis kelamin si kecil, hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja di dalam perut ini.

Selesai di-USG begitu saya duduk, Dr. Adi langsung membaca hasil USG. Saya maupun suami belum sempat bilang apa-apa, bahkan kalau kami tidak ingin mengetahui jenis kelamin si kecil. Beliau mengatakan, bagus, sehat, posis normal, organ lengkap, plasenta bagus, ketuban bagus, dan jenis kelamin…. Degh, seketika hati ini mencelos mendengar jenis kelamin yang berkebalikan dengan harapan. Yah… sebenarnya saya memang menduga kalau si kecil berjenis kelamin seperti yang dokter katakan kalau menilik dari pola makan saya sebelum menikah—sebelum hamil—, tapi namanya punya harapan boleh kan?

Apapun itu, yang pasti kami tetap bersyukur… berjuta syukur untuk kesehatan anak kami, kebahagiaan yang tak ternilai bagi saya mengingat saya selama ini begitu khawatir dan deg-degan mengalami beberapa keluhan-keluhan kecil yang sebenarnya wajar dan normal dialami bumil. Kalau bercakap-cakap dengan para ibu yang sehat dan mudah menjalani kehamilan saya sangat termotivasi. Sebaliknya, ketika ingat dua sahabat saya yang mengalami masalah kehamilan, satunya menderita kista di rahim dan satu lagi plasenta bermasalah, saya jadi takut.
Alhamdulillah keluhan-keluhan kecil itu tidak berefek pada si kecil.

Selanjutnya, setelah tahu–prediksi saja sih, Allah Maha Berkehendak dan USG belum tentu benar—jenis kelamin si kecil, sejak semalam kami mengganti nama panggilan si kecil. Kami sudah siapkan dua nama, namun nama yang selama ini kami panggil adalah nama dengan jenis kelamin yang [sedikit] kami harapkan. Dalam doa sih laki perempuan sama saja yang penting sehat, sempurna, sholih/shalihah, amin…