[FF] Gelegar Pertama

 

Buku sains pertama yang kudapatkan dari ibu adalah buku bergambar kilatan cahaya  membelah langit yang kelabu. Nyalanya terang.

“Ini apa bu?” Tanyaku waktu itu.

Ibu menyebut satu kata yang menimbulkan rasa ingin tahu sepanjang waktu.

“Suaranya menggelegar memekakkan telinga. Meskipun kau sudah menutup telinga, suara itu akan tetap  membuat jantungmu berdetak kencang karena gelegarnya. Kau akan mendapatinya ketika langit berwarna kelabu, atau hujan deras.” Ibu menceritakannya padaku sembari menunjukkan gambar demi gambar dalam buku itu. Waktu itu aku belum bisa membaca.

“Clap..clap… kilat cahaya itu lebih dahsyat dari blitz kamera ayah. Setelah kilat cahaya menyambar langit, keluarlah gelegar suara itu.”

Aku  penasaran. Saat  hujan, aku tak pernah menjumpai cahaya dahsyat yang disebut dalam buku itu.

Hingga suatu ketika, hujan menyapa sore tanpa henti. Ayah belum pulang. Aku menanti ayah di tepi jendela. Hujan seperti ini, biasanya kami berkumpul di ruang tengah. Ibu akan membuatkan cemilan favorit kami, pisang keju atau pisang goreng.  Ayah yang akan membuatkan minuman hangat, coklat panas untukku dan kopi spesial untuk ibu. Kata ibu, ayah pria romantis yang tahu bagaimana membuat bahagia anak istri.  Ah, tapi sepertinya sudah lama ayah tak melakukannya. Aku merindukan kebiasaan itu.

Malam menyapa. Ibu menyuruhku untuk tidur tetapi aku bersikeras menunggu.

Ayah tiba hampir tengah malam. Wajahnya kusut.

“Dari mana saja?” Ibu bertanya. Pertanyaan ibu berbuntut panjang.

“Duar!” Detak jantungku memburu.  Aku ingin menutup telingaku rapat-rapat. Tapi benar kata ibu, aku masih saja mendengar gelegar itu. Inilah pertama kalinya aku mendapatinya.  Kilat cahaya dari mata ayah. Memar di pipi dan isak tangis ibu yang membekas di kepalaku.

 

#foto pinjam dari sini

 

[Fiksi Kilat] Pada Secangkir Kopi

13293005_10205989687013592_702559419_n

“Mutia, mom bawa tamu spesial..!” step mom yang baru datang berseru sembari masuk.

Mom masuk bersama seorang perempuan berjilbab hijau.

“Kak Yanti?!”

Aku bertemu kak Yanti baru setahun. Kak Yanti sudah seperti saudaraku. Bertemu dengan orang sebangsa, terlebih satu daerah asal di negeri orang sama dengan bertemu saudara. Berkumpul dengan sesama mahasiswa  Indonesia menjadi  pengobat rindu pada tanah air.

“Assalamu’alaikum Mutia. Aku baru saja pulang kampung lho. Aku bawa oleh-oleh spesial buat kamu. Ngobrol sore ini bakalan makin seru.”

“Wa’alaikum salam. Pulang kampung Kak?” terbesit rasa iri. Kembali ke Indonesia, keinginan itu sudah lama ada tapi keberanian untuk melakukannya masih ciut.  Mom mengangatku sebagai anak ketika ia bekerja sebagai relawan di Indonesia ketika aku masih SMP. Mom meberiku kehidupan baru sebab waktu itu aku tak punya siapa-siapa di Indonesia. Jadi kemana jika aku pulang kampung?

Kak Yanti menuju dapur.

“Aku bikin kopi buat kamu.” Rumah ini sudah seperti rumah sendiri bagi teman-temanku. Beruntung aku memiliki keluarga yang selalu welcome terhadap siapapun.

Kak Yanti kembali dengan dua cangkir yang mengepul.

“Hemmm….aromanya… sepertinya….”

Aku mengingat-ingat…sudah lama sekali….

“Ayo tebak, pencinta kopi sepertimu pasti tahu…”

Pelan-pelan aku menyerutup…

Rasanya…,dan bayangan itu berkelebat…

Pagi yang hangat. Aku dengan senang hati membuatkan kopi untuk abi, menunggu diam-diam sampai abi selesai menyerutup untuk menikmati sisanya.

“Tidak salah, ini kopi gayo!” Aku meletakkan cangir dengan sentakan. Kak Yanti tertegun, cangkir kopinya menggantung di depan dagu.

Kopi dalam cangkir menjelma pusaran…memekat, makin besar… guncangan yang begitu dahyat membuat pagi kami tercerai berai, lalu air, gelap, sendiri.

 

 

#Catatan:

Suka banget dengan ilustrasi karya mas Aufa Aqil Ghani untuk FF saya dalam Mahakarya:Kumpulan Flash Fiction Ninelights Vol.1 (2013) yang digawangi oleh mbak  Rana Wijaya Soemadi

kover FF versi 3

Diantara 9 FF saya yang ada dalam buku itu, saya paling suka FF ini. Cerita bertema kopi selalu saya sukai, termasuk kopi, walaupun belakangan jarang ngopi. Malam ini dibuatkan segelas kopi oleh suami jadi pengen posting ff ini 😀

 

 

 

 

Tiramisu Talk

Riani melirik toples kopi di rak dapur. Tinggal beberapa  sendok.  Tapi aku harus bicara sekarang. Paling tidak untuk  yang terakhir.

Lana, putrinya sangat suka kopi. Ngopi bisa ditunda. Ini lebih penting.  Riani menemukan masih ada sponge cake di kulkas. Ini bisa jadi pengganti  lady finger.

Ia cepat memutuskan. Malam  ini  harus selesai! Ia menatap putri semata wayangnya di beranda samping.  Novel tebal menenggelamkan dunianya.

Gerakan tangannya lincah menyiapkan bahan-bahan.  Whipping cream, cream cheese, gula halus, ekstrak vanila, coklat bubuk.

Cekatan, Riani tersenyum  sembari memotong sponge cake kemudian membasahinya dengan seduhan kopi.

***

tiramisu-mini-300x195

“Hemmm…  wangi kopinya…berpadu dengan….apa ya…., “ Lana  meletakkan novel.

“Tiramisu!”  Riani  meletakkanya di meja makan.  “Maaf tak ada secangkir kopi.”

“Waw…terlihat  yummy!”

“Ya, ibu harus bicara lagi.”

Lana  menghela napas.

“Mungkin malam  ini yang terakhir ibu meminta padamu.”

Riani menyodorkan sendok kecil. “Cobalah.”

Lana  menyendok tiramisu dan memasukkan ke mulutnya. Terpejam.  Cuping hidungnya terlihat menikmati aroma yang menguar.

Tersadar kembali, Lana  membuka mata,” kalau ibu masih ingin membahas tawaran kemarin, Lana  sudah capek. Berapa tahun  Lana  kuliah di luar kota, jauh dari ibu, dan sekarang ibu meminta Lana  ke  luar negeri?”

“Ibu rasa alasan kamu  tetap tinggal bukan karena ibu, tapi Reza!”

“Ibu, di Jakarta  toh banyak sekolah desainer ternama.”

“Ini kesempatan langka Nak, tawaran itu tak datang dua kali.”

“Lana  ini anak ibu, tak bolehkah  Lana di sini menemani ibu, setalah bertahun-tahun sekolah merantau. Berat  bagi  Lana  terpisah dengan orang-orang tercinta!”

“Nak, kau rasakan kopi dalam tiramisu? Tak lagi pahit.  Kau rasakan aroma dan rasanya. Merantau, awalnya pahit, tapi kau akan rasakan aroma dan hasilnya kelak.”

“Lana  ingin menemani Ibu.”

“Tak usah  khawatirkan ibu, akan ada yang menemani ibu.”

Riani membuka ponsel  dan memperlihatkannya pada Lana. Ada figur seorang lelaki dengan sorot mata teduh.

“Jadi ibu akan… ?”  Terhenyak, Lana urung  menyendok tiramisu.

 

 

 

 

 

*diikutkan dalam #FlashFictionYummylit dlm rangka Hari Buku Nasional! @bentangpustaka

**gambar tiramisu dari sini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Prompt #43] Januari

Pram menyingkirkan kalender duduk 2013 di meja kerjanya.  Kalender baru bernuansa black and white sudah bertengger menggantikan.

Resolusi…resolusi…kata  itu yang selalu didengung-dengungkan di akhir tahun dan  awal bulan ini.

“Kalau Pram sih pasti resolusinya satu, menikah!” seru sepupunya sembari tertawa dalam pertemuan keluarga  tiga hari lalu.

“Apa sih Pram yang kau tunggu, kurang apa sih Kikan. Cantik, pinter, baik, pintar membawa diri, mapan.  Tunggu apa lagi?” tanya buliknya.

Pram hanya tersenyum. Tidak semudah itu.

Resolusi. Tekad Pram sudah kuat. Kali ini dia menuliskan di daftar teratas.  Menikah. Harus! Dia harus bergerak dari titik yang sekarang membuatnya jalan di tempat.

Ia menimbang-nimbang sebuah cincin di tangannya. Berkali-kali ia mengajak Kikan untuk membicarakan hal itu dengan kedua keluarga, namun Kikan selalu menolak. Belum siaplah, tunggu S2-nya  selesai lah, karirnya sedang menanjak lah. Sederetan alasan yang membuat hubungan mereka stag.  Dan mereka tetap bertahan. Pram tak mau kehilangan Kikan.  Kikan tahu benar akan hal itu.  Makanya Kikan tetap kukuh pada pendiriannya.

                                                                                               ***

Gambar

gambar pinjam dari sini


Malam ini Pram sudah rapi, cincin tak lupa dibawanya serta. Apapun yang terjadi, malam ini ia harus menemui kedua orang tua Kikan untuk secepatnya meresmikan hubungan mereka. Hati sudah ditata, siap menerima apapun jawaban dari Kikan.

“Pram, kenapa harus sekarang? Kita terlalu terburu-buru.”  Lagi-lagi jawaban itu. Pram menghela nafas. Kemungkinan itu sudah diperhitungkannya.

“Ya, harus sekarang. Atau… kita…” Pram sudah lelah dengan tarik-ulur itu. Ia tak mau lagi bertele-tele.  Ia sudah merasa lelah tanpa arah.

“Kenapa Pram?”

“Kita akhiri saja hubungan kita!” Beban berat itu menggelinding.

“Kita, putus? Maksud kamu? Kamu mau mutusin aku sekarang? Apa sih yang kurang dari aku buat kamu?” Kikan terlalu percaya diri untuk mengucapkannya. Ia tahu pasti, sebab Pram menganggap Kikan sudah sempurna untuknya.

“Hanya satu kekuranganmu, maaf” lirih,  terdengar seperti bisikan. Dikuatkannya hatinya.

Kikan menunggu

“Komitmen,”Ujar Pram tegas.

*meminjam judul lagu Januari Glenn Fredly

**diikutkan dalam Monday FlashFiction Prompt #43: Let’s Move On

[#PostcardFiction] Sebuah Playlist Sebuah Cerita

KARTU POS 2 001

Inikah keping ke sekian? Barangkali, malah keping terakhir sebuah mozaik yang kususun dari serpihan episode penuh tanya: di titik mana sang waktu menentukan endingnya, menunjukkan tempat keping terakhir ini bersembunyi. Dan malam ini aku sudah menemukannya. Siapa sangka keping itu tersembunyi di antara playlist yang sengaja kupilih untuk mengenangmu. Sederet lagu yang pernah membuatku tersenyum mengingatmu, mengomel, atau bahkan mellow. Kadangkala aku tak tahan mencecapnya sendiran lalu kukirim pesan pendek ke beberapa kawan, mengabarkan warna hatiku;biru mendengar lagu tentangmu. Sekarangpun, aku ingin mengabarkan tidak saja kepadamu dan mereka, tapi kepada dunia. Aku ingin berteriak, sedikitpun tak tersisa getaran mendengar lagu-lagu itu!

#postcardfiction ini diikutkan dalam event di kampungfiksi

[#PostcardFiction] Hanya Memandang

KARTU POS 1 001

Aku memandanginya, bidadari yang selama ini kurindukan. Wajahnya begitu  teduh. Rasanya tak sabar mengikrarkan janji suci sebentar lagi. Setelah melewati berbagai pertentangan keluarga, akhirnya hari ini tiba.

“Sudah siap nak Iqbal?”

Aku mengangguk mantab

“Baik, segera dimulai.”

Dengan lancar kuucapkan ikrar itu.

Satu kali saja, pak penghulu kemudian berujar, “Sah?”

“Sah…………..” serentak  saksi  menjawab kompak.

Dia kini  menjadi istriku. Kutatap  wajahnya dengan senyum. Ia  semakin cantik  dengan  binar mata dan wajah penuh senyum. Ingin aku meraih tangan dan mencium keningnya… tapi kami terhalang  jarak samudera dan benua. Aku hanya bisa memandangnya dari  layar yang terpasang webcam.

#postcardfiction ini diikutkan dalam event di sini .

[FF Ninelights] Cinta Satu Malam, Oh!

“Cinta satu malam oh …,” bapak sumingrah bersenandung meski dini hari ia baru pulang dan capek.
“Deu… dulu yang anti, sekarang…, dangdutan mlulu,” ibu menggoda. Minggu pagi seperti sekarang, kumpul keluarga menjadi saat langka.
” Ingat dulu Bapak alergi dangdut, rasanya pengen ngeledekin waktu kampanye. Pakai joget-joget segala, enjoy banget nyanyi bareng sama…, “ sambung Radit.
“Eh iya, sekarang sombong banget tuh biduan, udah nggak mau manggung lagi,” sela Rani.
“Ngapain lagi nyanyi kalo kebutuhan sekarang sudah terpenuhi,“ sambar bapak spontan, namun cepat –cepat ia menyibukkan diri dengan koran di depannya.
“Ada klien EO yang ngotot pengen ngundang biduan Mela buat kampanye. Tuh, kampanye bapak jadi inspirasi,” cerocos Rani.
“Bener kamu dulu, bagi duit nggak efektif, rakyat sekarang butuh hiburan.” Bapak mendongak. “Dangdut membawa berkah.”
“Dan bencana! “ seru Radit. Bapak terperangah.
“Pak Bupati makin sibuk, jarang pulang! Kapan dong waktu buat kita.“ Radit protes.
“Bapak sudah jadi milik rakyat, ibumu saja nggak protes, malah kamu yang protes. Ya kan Bu?” kilah Bapak
Ibu mengangguk penuh pengertian meski ia membenarkan perkataan Radit.

***
Calon walikota yang diceritakan Rani tempo hari begitu ngotot ingin menghadirkan Mela si ‘Cinta Satu Malam’ dalam kampanyenya. Ia tak mau tahu kalau Mela sudah berhenti manggung. Apa boleh buat, mereka mendatangi rumahnya, bahkan calon walikota itu diajaknya serta.

Mela terlihat kaget melihat kedatangan Rani c.s
“Silakan masuk,” katanya canggung.
Rani yang pertama kali masuk terlonjak tak kalah kaget, dari ruang tamu, ia melihat siluet yang begitu dikenalnya sedang duduk santai di depan TV.
“Bapak?!!!!!”

jumlah kata : 248
terinspirasi dari berita ini untuk diikutkan dalam Lomba FF Ninelights

[fiksi kilat] Sebatang Pohon Tumbuh di Rumahku

Di masa lalu, kami bertetangga. Kami tinggal di kompleks rumah dinas. Jendela samping rumah kami berhadapan. Suatu sore, beberapa hari setelah dia menghuni rumah samping dan saling berkenalan, kami bercakap dari balik jendela masing-masing. Kami mengobrol sambil makan buah. Habis buahnya, dalam canda tanpa sengaja dia melempar biji buahnya ke arahku, eh masuk ke rumah.

Lama-lama biji itu tumbuh besar. Betapa tidak, tiap pagi dan sore dia rajin menyiraminya dengan sapa dan tawa. Dari jendela ke jendela kami semakin sering bercanda. Tak terasa waktu begitu berpihak pada biji itu dan tumbuhlah menjadi sebatang pohon. Begitu pesat ia mengembangkan setiap batang, dahan, dan rantingnya. Pucuk-pucuk daun muda pun bermekaran, rindang. Sungguh nyaman aku berteduh di bawahnya, lebih-lebih saat aku letih.

Sekarang, dia sudah pindah rumah. Dia yang tak lagi menghuni rumah yang sama dengan kedua orang tuanya, punya rumah baru dengan penghuni baru yang menemani selamanya. Karenanya, aku ingin mencabut pohon itu. Ah, rupanya, itu bukan perkara mudah. Lajur-lajur akarnya begitu kuat mencengkram setiap butir tanah di rumahku. Gawat, kalau tidak segera dicabut, pohon itu akan tumbuh terus menjadi pohon terlarang. Ingin sekali aku datang ke rumahnya dan meminta, maukah kau datang ke rumahku sebentar sekedar mencabut pohon itu? Hff, kalau saja dulu aku tahu, sebuah biji bernama senyum itu ternyata biji kualitas nomer wahid.

###FF pertama yang saya tulis ketika MP sedang rame2nya dengan FF dua tahun silam…penasaran juga pengen belajar nulis

gambar pinjam dan ngedit dari sini

[Batam FF Rindu–Secret Admirer]

Tangannya menggeragap, mencari-cari HP di ranjang. Sedari tadi ia hanya tiduran. Hatinya tak karuan.

Jempolnya lincah berpindah dari satu tuts ke tuts, mengetik beberapa kata yang dirasanya bisa mengobati segala galau, sekedar menayakan kabar sekalipun. Selesai, tanpa mencari ia temukan satu nama yang sengaja diletakknya paling atas di daftar telepon. Nama yang menyebabkan hati dan kepalanya dipenuhi satu kata. Sebelum send dipencet, ditimbangnya lagi, kirim tidak kirim tidak kirim…

Klik. Pada akhirnya ia menyerah pada pilihan: exit. Secara otomatis satu pesan itu masuk ke draft.

Lalu di ketiknya lagi beberapa kata. Tak mau menyerah, diluapkannya segala gelisah, curhat. Di pilihnya satu nama yang selama ini selalu meminjamkan bahunya. Mungkin dengan mengirim uneg-uneg itu dadanya akan melapang lalu bisa kembali meneruskan pekerjaannya.
Lagi-lagi bimbang. Penting nggak sih?
Bisa-bisa ia malah diledek habis-habisan. Pada akhirnya nasib pesan keduapun masuk di kotak draft.

Katanya gak mau ngeluh lagiiiiii….? Begitu pasti ejeknya!

Ia menjabak rambutnya. Aaaarrrrgggg…. rasa ini, menganggu saja!
Rasa itu akan menjadi sampah di kepala andai tak dibuangnya jauh-jauh. Apa yang harus kulakukan saat gelombang ini menyerangku?

Ke kamar mandi, kakinya mengikuti pilihan hati. Menenggelamkan kepalanya ke bak, ia tiba-tiba ingat sesuatu.

Keluar dari kamar mandi, tak hanya muka dan kepalanya saja yang basah. Kedua belah lengan dan telapak kakinya terasa segar terbasuh.

“Allah, ijinkan aku mengeluh.. sebab hanya Engkau yang pasti mengerti perasaan hamba. Hanya Engkau yang mau mengerti. Allah…. aku rindu dia. Tak bolehkah aku mengeluhkan rasa ini, di depanMu saja ya Allah?!”
Di atas sajadah, gundah itu akhirnya tumpah.

#tepat 250 kata di luar judul, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

[Batam FF Lebaran–Sedekah Lebaran]

“Ma, di luar ada pengemis, “ seru Nina.
“Pengemis? Waduh, jatah THR-nya sudah habis pagi tadi.” Bu Sarah melongok ke luar. Seorang perempuan bersimpuh di teras .
“Kasih makanan aja Ma,” usul Nuno tanpa menggeser matanya dari laptop, asyik facebooking.
Bu Sarah menyambar beberapa ketupat dan makanan lalu dimasukkan plastik.

“Maaf Bu. Saya sudah dapat banyak ketupat dari orang-orang kampung.“ Pengemis memperlihatkan ketupat-ketupat dan makanan dalam gendongan begitu Bu Sarah sampai di hadapannya. “Kalau ada uang saja, Bu.”
Mata bening Nina mengawasi diam-diam.
Bu Sarah mengernyitkan kening, “ Tadi saya memang bagi-bagi THR buat anak-anak dan tetangga. Sekarang udah habis jatahnya. Sayang sekali, coba datang agak tadi.”
“Udah, nih, Nina aja yang kasih.” Nina memberikan lembaran dua ribuan baru.
“Makasih Nduk, makasih….” Pengemis berlalu. Ketupat dan makanan di lantai tak disentuhnya.

“Nina dapat uang banyak dari tante Mira. Kasihan deh Ma pengemis itu. Masak teman-teman Nina yang bajunya bagus-bagus Mama kasih … e… pengemis itu malah nggak dapet, “ ujar Nina polos, menjawab berbagai tanya di wajah mamanya.
“Memang jatahnya sudah habis. Kalau buat saudara sih masih. Semua pengeluaran harus terencana. Besarnya THR sudah mama anggar masak-masak, Nina. “
“Alah Ma, cuma satu aja. Pengemis itu lebih butuh kan?”
“Nina mana ngerti Ma sama rencana anggaran, rencana pengeluaran. . . ,” sela Nuno.
“Sayang, bukanya Mama nggak mau ngasih sedekah, tapi….”
“Lihat…. Ma… lihat… banyak pengemis datang,” potong Nina tiba-tiba saat matanya tak sengaja melayang ke luar.

Baru dalam hitungan menit perempuan tadi berlalu, beberapa pengemis berbondong-bondong memasuki halaman rumah.

#tepat 250 kata di luar judul, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam