[Gado-Gado Sekolah #23] Berlatih Pembagian dengan Menangkap Ubur-Ubur

Pelajaran matematika seringkali menjadi momok bagi anak-anak.  Matematika dasar, seperti perkalian dan pembagian, bila tidak dipelajari dengan serius dan penuh pemahaman, maka hingga materi lanjutan anak akan malas dan menganggap sulit. Belajar matematika dasar dengan menyenangkan  bisa mengubah paradigma anak terhadap matematika.

Ketika ilmu dasarnya sudah dikuasai namun kurang berlatih pun, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Sebagai contoh pembagian. Anak yang sudah menguasai poro gapit namun kurang berlatih, tentu kecepatan dan ketepatan berhitungnya tidak akan maksimal jika kurang berlatih. Pengulangan, hal yang tidak setiap anak mau melakukannya karena bosan atau momok tadi.

 

Sebagai sarana melatih ketrampilan berhitung khususnya anak-anak, saya memberikan permainan menangkap ubur-ubur yang idenya saya dapatkan dari blog Cerivitas. Blog ini penuh dengan ide permainan matematika yang seru dan menyenangkan. Saya terapkan permainan ini pada kelas matematika di Sabtu Ceria.

Dalam permainan menangkap ubur-ubur,anak-anak dibagi dalam kelompok. Anak yang paling banyak menangkap ubur-ubur akan mendapatkan hadiah. Ada kartu-kartu soal pembagian yang harus diambil anak untuk dihitung.  Anak akan menghitung dengan poro gapit atau yang menguasai jarimatika menggunakan jarimatika. Jawabannya  mereka cari pada ubur-ubur. Ubur-ubur yang mereka tangkap mereka warnai.  Di sinilah sisi menyenangkannya. Meskipun mereka harus berjuang menghitung, ketika berhasil mewarnai ubur-ubur anak akan senang. Kompetisi dalam ketrampilan berhitung terlihat dari banyaknya ubur-ubur yang berhasil diwarnai.

20170211_093044-1

Kalau menilik taksonomi Bloom, permainan ini melibatkan ketiga aspek, baik kognitif, piskomotorik, maupun afektif. Kognitif terlihat pada saat anak menghitung, psikomotorik terlihat dari ketrampilan anak mewarnai gambar, dan afektif tentu saja ada pada sifat teliti menghitung, gigih, dan sabar menunggu giliran bermain, sabar menunggu teman menghitung dan mewarnai.

20170204_094242

20170204_094308

Permainan ini disukai anak-anak. Terbukti, pada pertemuan berikutnya anak meminta memainkannya lagi, namun dengan gambar yang berbeda. Anak meminta dibuatkan gambar makanan. Maka, saya mengulang permainan itu dengan gambar aneka makanan dan minuman.

 

 

 

 

[Gado-Gado Sekolah #22] Pekan Wirausaha

Pekan lalu menjadi pekan yang luar biasa seru bagi siswa kelas 5, kelas tempat saya belajar bersama anak-anak. Ada dua program belajar yang selalu disambut sukacita oleh mereka: kunjungan belajar dan hari berjualan (market day). Kebetulan, tema kedua kegiatan itu adalah wirausaha.

Kunjungan ke Rumah Industri Pembuatan Yogurt Mayummy

Kunjungan belajar Senin lalu (14/11) melibatkan tiga materi pembelajaran yaitu:

1.IPS:  Kegiatan Perekonomian

2.IPA: Perubahan Wujud Benda

3. Bahasa Indonesia: menulis laporan pengamatan

Tempat kunjungan belajar Senin lalu sudah pasti disukai anak-anak. Kebetulan rumah industri pembuatan mayumi yogurt di Donorejo, Secang, Magelang dimiliki oleh seorang wali siswa tempat saya belajar, jadi saya tidak perlu kesulitan mencari dan meminta ijin kunjungan ke tempat suatu kegiatan ekonomi yang cocok untuk anak-anak.

Begitu tiba di lokasi, anak-anak disambut ramah  oleh Pak Edi, pemilik rumah industri pembuatan mayummy yogurt. Anak-anak langsung diajak mendekati dapur pembuatan.

20161114_1025141

20161114_1021171

20161114_1022391

Karena dapur pembuatan yogurt tidak muat menampung semua anak, maka Pak Edi, pemiliknya, menunjukkan dan menerangkan di pintu masuk dengan dua gelombang, siswi dahulu diikuti siswa. Ada tempat pasteurisasi besar tepat di depan pintu untuk menyeteril susu hingga maksimal suhu delapan puluh derajat celsius.  Pendinginan susu dilakukan dengan air yang mengalir. Ada kotak-kotak susu besar tempat susu yang sudah dingin diproses menjadi yogurt. Proses berikutnya diterangkan pak Edi hingga tuntas.

Setelah diterangkan prosesnya, anak-anak diajak melihat proses pengemasan yogurt. Bagian ini menyenangkan bagi mereka.  Mereka berkesempatan membantu ibu-ibu yang bertugas membungkus  yogurt menjadi dua jenis kemasan, kemasan Rp500 dan Rp.1000 dan  mengemasnya ke dalam kantong-kantong besar berisi 20 batang.  Di bagian ini, terutama siswi begitu asyik membungkus yogurt dengan enam varian rasa buah.  Ibu-ibu yang merupakan tetangga dekat rumah industri itu dengan ramah dan sabar melayani semua pertanyaan maupun mengarahkan cara pengemasan.

20161114_1037571

20161114_1032121

Mereka belum puas membantu ketika berpindah ke acara berikutnya, yaitu sharing usaha mayummy yogurt. Anak-anak cermat mencatat penjelasan Bapak Edi mengenai segala hal yang berkaitan dengan rumah industri ini, dari proses produksi hingga distribusi. Sesekali anak-anak maupun guru pendamping menungkapkan rasa ingin tahu mengenai bisnis yang terbilang sukses itu.  Suka duka, rintangan, dan tips dari pak Edi cukup memberikan gambaran mengenai dunia wirasusaha, juga inspirasi untuk gigih dan pantang menyerah dalam berbisnis.

20161114_1106441

Sekembali dari kunjungan, tugas mereka melaporkan hasil kunjungan dalam bentuk laporan pengamatan. Jadi belajar Senin itu terasa komplet dan menyenangkan.

20161121_1457571

 

Market Day

Setelah mendapatkan inspirasi dan gambaran mengenai dunia usaha, saatnya mereka belajar menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dengan praktik berjualan. Di sekolah kami, market day sudah menjadi program sekolah.  Tiap semester diadakan sekali  kegiatan market day besar: semester 1 tiga  kelas besar berjualan dan tiga kelas kecil membeli, dan sebaliknya di semester 2. Antusiasme anak-anak terhadap kegiatan ini selalu besar.

Melaksanakan program sekolah, Jumat lalu (18/11) kelas saya, kelas 5, tidak sendiran dalam belajar wirausaha. Ada kelas 4 dan kelas 6 yang dihari itu sangat bersemangat menghadirkan dagangan terbaik mereka.  Dagangan utama dari market day ini adalah makanan. Makanan boleh disiapkan dari rumah maupun dimasak di sekolah. Beberapa siswa juga menjual hasil kerajinan tangan mereka.

20161118_0752461

persiapan kelas 5

20161118_0747451

20161118_0758371

persiapan di kelas 6

Uniknya, masing-masing kelas punya gaya sendiri-sendiri dalam berjualan.  Di kelas 4, ada 5  kelompok  masing-masing siswa dan siswi membuat lapak secara terpisah. Sementara di kelas 5 siswa dan siswi berkolaborasi dan dibagi menjadi 4 kelompok. Yang menarik adalah konsep di kelas 6. Satu kelas berkongsi membuat usaha rumah makan semacam pujasera.

20161118_0854361

20161118_0845351

persiapain tim kasir dan marketing kelas 6

Ada beberapa lapak di kelas 6, dari makanan besar semacam bakso dan spagheti hingga makanan kecil gorengan dan minuman segar. Masing-masing lapak berlabel huruf alfabet. Pembeli yang datang di tiap-tiap lapak akan mendapatkan kartu huruf untuk membayar di kasir. Besarnya harga tiap lapak berbeda. Kartu huruf yang diberikan kepada tim kasir memudahkan proses pembayaran.  Strategi penjualan mereka juga mantab, memberikan suvenir untuk 3 jenis pembelian. Terang saja, kelas 6 dibanjiri pembeli.

20161118_0921251

kelas 6 banjir pembeli

20161118_0904521

lapak-lapak kelas 5

Bagaimana dengan kelas 4 dan 5? Saya melihat kegigihan anak-anak di tengah persaingan. Anak-anak dengan sabar menunggui lapak mereka dengan beberapa siswa berkoar-koar  menawarkan dagangannya dengan gaya masing-masing.

20161118_0852191

20161118_0848101

20161118_0847391

20161118_0847161

tim kelas 5

Kegiatan ini memang sejatinya pembelajaran.  Ranah afektif terutama  benar-benar menonjol dalam pembelajaran ini.  Kerjasama, menghargai, cermat, teliti, telaten, sabar, jujur, gigih, tidak mudah putus asa, dan karakter  lain akan terlihat pada saat siswa menyiapkan dagangan dari rumah maupun di sekolah dan pada proses penjualan.  Lihat saja, kelompok yang tidak sabar ketika melihat lapak lain ramai pembeli dan mulai habis dagangannya serta merta membanting harga atau melakukan obral. Seru ketika melihat sepak terjang mereka :D.  Di saat yang sama, kelompok yang danganganya mulai tak dilirik pembeli tetap tak terpengaruh jika mereka memiliki karakter sabar dan pantang menyerah.  Mereka kemudian memakai strategi menawarkan dagangan dengan berkeliling, membawa dangangan yang tersisa pada nampan.

20161118_0832511

kreasi handycraft

20161118_0827511

kreatifnya siswi, bungkus makanan kecil dibuat pemanis sedotan

Beragam trik yang mereka gunakan pada akhirnya membuat makanan yang mereka jajakan ludes. Yang tersisa adalah barang-barang berupa handycraft. Kami para guru sering berkomentar seusai kegiatan market day yang sudah-sudah bahwa makanan apapun yang dijajakan di sekolah  saat market day pasti laku. Masalah untung ruginya, nanti dulu….  Setelah tanya masing-masing kelompok, beragam jawaban mereka: ada yang untung (cuma dikit), untung lumayan, maupun balik modal saja. Nah, ini lagi letak pembelajarannya!

20161118_0952101

menawarkan dagangan keliling

Bagi anak-anak sendiri, saya lihat untung rugi itu nomer sekian. Mereka begitu senang dan bersemangat melakukan jual  beli. Menerima uang dari pembeli itu berjuta rasanya! Ngetung uang belakangan, yang penting uangnya berjubel-jebel di kasir, hehehe….

[Gado-Gado Sekolah #21]Learning by Doing

Bagi sebagian besar anak, pelajaran matematika punya imej menyebalkan, momok, menakutkan, membosankan, dan sederet kata-kata negatif lain. Bagi mereka rumus-rumus dan angka yang dimasukkan di dalamnya terasa abstrak. Tak hanya matematika, beberapa pelajaran lain pun bagi anak SD terasa jauh dari jangkauan nalar. Itu sebabnya, model pembelajaran yang ideal bagi  anak-anak adalah belajar sambil bermain, belajar sambil melakukan.  Yang terpenting adalah memberikan pemahaman yang nyata bagi anak-anak. Tak perlu jauh-jauh sebenarnya, anak-anak idealnya belajar dari yang dekat dengan mereka.

Pagi ini, dalam usaha mendekatkan konsep pengukuran bagi anak-anak, saya mengajak  mereka belajar di    luar. Dengan Standar Kompetensi “Menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak, dan kecepatan dalam pemecahan masalah,” serta Kompetensi Dasar “Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan waktu, jarak, dan kecepatan “, saya mengajak anak-anak menghitung kecepatan lari tiap-tiap siswa. Setelah menyiapkan alat ukur meteran dan stopwatch, anak-anak mengukur jarak lintasan lari di halaman sekolah. Tidak jauh, jaraknya hanya 24 meter.

20161116_0800361

20161116_0808481

20161116_0809012

Mulailah anak-anak secara bergiliran lari di lintasan. Anak yang tidak mendapat giliran mencatat waktu yang diperlukan temannya untuk berlari pada tabel yang telah disiapkan. Tabelnya berisi no, nama, jarak, waktu, dan kecepatan. Setelah semua anak mendapat giliran berlari, barulah mereka menghitung kecepatan berlari seluruh siswa kelas 5.

Kegiatan semacam ini melibatkan 3 aspek  menurut taksonomi Bloom yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif.  Dari segi kognitif, anak diajak belajar menghitung sesuai materi. Ketika anak berlari, aspek psikomotorik lah yang diasah, sementara dari sisi afektif, anak dilatih bersabar dalam menanti semua temannya berlari dan cermat dalam menghitung.

Pembelajaran semacam ini lebih menyenangkan bagi anak. Belajar melalui pengalaman. Konsep yang abstrak menjadi nyata. Kasus serupa pernah terjadi ketika dalam pembelajaran materi FPB, seorang siswa yang dalam kesehariannya terdepan dalam pelajaran matematika, lambat dalam memahami soal cerita:

Bu Alena mempunyai 45 buah jeruk dan 60 buah manggis. Ia akan mengemas buah-buah tersebut dalam beberapa plastik tersebut dalam plastik. Tiap plastik berisi jeruk dan manggis dengan jumlah yang sama.
        a. Berapa banyak plastik yang diperlukan Bu Alena

         b.Berapa banyak buah jeruk dan manggis tiap plastik?

Setelah pembahasan, siswa tersebut bilang belum paham. Kebetulan, saat itu anak-anak membawa uang logam dan kelereng untuk perlengkapan membatik celup. Maka saya pinjam logam dan uang dari dua siswa. Kami  menjumlah banyaknya benda tersebut  bersama-sama, jumlahnya 50 kelereng dan 20 uang logam. Setelah dihitung FPB-nya, saya meminta anak mengambil plasik sejumlah angka yang didapatkan dari hasil menghitung FPB. Langkah selanjutnya menghitung berapa masing-masing kelereng dan uang logam yang akan dimasukkan plastik. Dengan praktik semacam ini,mereka terlihat mendapat pencerahan,
“Bu, berarti kalau seperti ini harus bisa ngitung FPB ya…,” kata seorang siswa.

“Nah, itulah gunanya matematika,” ujar saya.

Dalam materi menghitung luas, pendekatan ini saya pakai dengan cara menggambar bangun trapesium, belah ketupat, dan layang-layang sebab  siswa yang sedianya mau membawa layang-layang lupa. Gambar itu kemudian digunting sesuai bentuknya, barulah dihitung luasnya. Jadi mereka mereka tidak sekedar menghitung luas gambar namun bangun yang nyata.

20161116_1443001

Apakah pengalaman semacam ini bisa meningkatkan hasil belajar siswa? Bisa jadi iya, bisa jadi belum menjamin, namun saya ingin memberikan pengalaman belajar yang dekat dengan keseharian dan melatih pemahaman siswa. Semoga bermanfaat!

 

[Gado-Gado Sekolah #20] Nggosipin Buku di Perpus Manca Grabag

Kamis lalu (1/9) proses pembelajaran siswa saya laksanakan di Perpustakaan Manca Kecamatan Grabag yang berada di komplek kantor Kecamatan Grabag. Pelajaran Bahasa Indonesia kali itu begitu terasa singkat karena anak-anak enjoy di perpus.

Sebelum berangkat, saya berikan 3 pilihan kegiatan yang akan dilaporkan siswa selesai pembelajaran. Siswa saya ajak untuk membuat laporan membaca buku, laporan pengamatan (lingkungan perpustakaan), dan wawancara dengan narasumber petugas perpustakaan atau pengunjung bila ada.

Heboh tentu saja. Mendapati buku-buku yang beragam ada yang bingung milih-milih buku, berganti-ganti membaca buku, ada yang khusyuk dengan satu buku kemudian menulis laporannya, ada yang cekikikan membaca buku bareng, ada yang takjub kemudian membaginya dengan teman, dan ada yang asyik menulis hasil pengamatan. Kebanyakan mereka nggosipin buku yang menarik buat mereka. Sepertinya seru mendapati satu buku yang bagus kemudian membaginya dengan teman-teman lain. Ambil contoh ketika Salwa menemukan 3 Manula Keliling Singapura, dia cekikikan membaca kemudian diceritakan teman-teman, ” Lucu ini,”

“Bagus itu, ada pengetahuannya,” ujar saya ikut berkomentar.  Sayangnya, saya tidak menemukan edisi keliling Indonesia, 3 Manula Keliling Pantura.

Teman-teman lain pun ikut membaca.

Untuk wawancara hanya satu siswa yang berani melakukannya. Saya dorong-dorong dia supaya berani dan melakukan tanya jawab dengan petugas perpustakaan.

Baiklah, ini adalah proses belajar. Masing-masing anak memiliki ketertarikan yang berbeda-beda. Hal ini terlihat dari pemilihan kegiatan dan pemilihan buku yang mereka baca dan laporkan.  Kamis itu mereka mendapatkan banyak hal dari perpustakaan.

 

20160901_112634[1]

wawancara dengan petugas

yang lagi milih-milih tak pernah puas dengan satu buku 

20160901_105608[1]

20160901_105805[1]

20160901_110806[1]

nggegosip buku yang seru, yang serius juga tak mau kalah 

20160901_115144[1]

 

Inspirasi dari Kota Literasi Surabaya

          Beruntung sekali saya berkesempatan menghadiri acara Sosialisasi Literasi bertajuk Membumikan Membaca di Kota Magelang yang diadakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Fakulatas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Tidar Magelang, 2 Desember 2014 lalu. Pembicara kali itu spesial, pakar literasi dari Surabaya. Beliau adalah Ketua Ikatan Guru Indonesia wilayah Jawa Timur, Bapak Satria Darma.

          Keberuntungan yang lain adalah, nggak sengaja, karena tempat duduk di sebelah saya kosong, seorang ibu cantik mendekati dan duduk di samping saya. Beliau istri bapak Satria Darma. Jadi saya bisa sesekali ngobrol sembari mendengarkan paparan pak Satria Darma. “Hiasan di rumah saya ya buku,” ujar Ibu Satria Darma memulai obrolan kecil kami.

         Sementara itu Bapak Satria Darma memulai paparannya dengan pertanyaan besar: Seberapa pentingkah literasi itu? Apa bukti bahwa literasi itu sangat penting? Bapak Satria Darma mengutip pendapat beberapa tokoh penting dunia.

“Membaca adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca pendidikan akan mati.” (Dr.Roger Ferr) “Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.” (Glenn Doman) “Jadi literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil di sekolah dan kehidupan selanjutnya.”(Rod Welford, Mendikbud Queensland)

            Tak kalah pentingnya adalah bahwa surat pertama yang turun kepada nabi Muhammad SAW dari Allah adalah Al-Alaq 1—5. Ayat pertama yang turun adalah perintah untuk membaca. Nabi Muhhamad, rasul terakhir dan penutup yang diutus Tuhan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk masyarakat Quraisy saat itu. Ajarannya  untuk membangun peradaban dan kesejahteraan seluruh alam semesta. Perintah membaca ditujukan kepada semua umat manusia karena kemampuan literasi adalah syarat utama untuk membangun peradaban. Kemampuan literasi adalah kunci dari ilmu pengetahuan.

               Ada kisah dari perang Badar yang disampaikan beliau sebagai bukti pentingnya literasi di jaman nabi. Nabi Muhammad membuat sebuah kebijakan yang sangat tidak lazim. Nabi tidak meminta tebusan dari tawanan yang jumlahnya 70 orang. Tebusan tawanan berkisar antara 1.000—4.000 dirham/orang. Namun nabi meminta ganti yang lebih berharga dari harta. Rasulullah melepaskan para tawanan kaum Quraisy yang pandai baca tulis dengan menebus dirinya dengan mengajarkan tulis baca kepada 10 orang anak Madinah.

          Begitu pentingnya literasi terbukti kejayaan Islam tidak lepas dari budaya tersebut. Zaman kejayaan Islam adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di dunia Islam menghasilkan kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Peradaban Islam tak hanya melahirkan generasi yang mumpuni di bidang keagamaan tapi juga berbagai ilmu pengetahuan.  Beberapa ilmuwan Islam tersebut antara lain Ibnu Rusd (Averros), Ibnu Sina (Avicena), Al-Biruni, Muhammad Ibn Musa Al-Kharizmi, dan Nizam Al Mulk. Setelah memaparkan pengantar pentingnya literasi, bapak Satria Darma memberikan gambaran tentang budaya baca di Indonesia yang masih rendah, khususnya di kalangan pelajar. Untuk itu beliau berkeliling ke beberapa kota di Indonenesia untuk mensosialisasikan Gerakan Membaca.

           Beberapa program litrasi yang bisa dilakukan di sekolah antara lain sustained silent reading, perpustakaan kelas, tantangan membaca, dan menerbitkan kumpulan cerpen dan puisi siswa. Beliau membawa insiprasi dari kota Surabaya. Seluruh sekolah di Surabaya, dari SD hingga SMU  sudah menerapkan program tersebut.

             “Seluruh sekolah sudah ditaken kontrak oleh walikota, Ibu Risma,” ujar Ibu Satria Darma kepada saya. Jadi seluruh kepala sekolah di Surabaya memang dikumpulkan untuk taken kontrak menjalankan program Gerakan Budaya Literasi.

          “Untuk menjalankan program tersebut tidak butuh dana. Yang penting adalah kemauan dari sekolah dan kerja sama dengan wali murid.” Lanjut beliau. Tentu saja, yang pertama kali dilakukan adalah sosialisasi dari sekolah kepada wali murid. Menurut beliau, tidak sulit meminta orang tua membelikan satu buku untuk anaknya. Kalau tiap anak di sekolah membawa satu buku ke sekolah, sudah berapa buku yang bisa dibaca siswa. Mereka bisa bertukar buku.

               Dua sekolah yang dijadikan contoh oleh Bapak Satria Darma dalam acara tersebut adalah SMAN 5 dan SMAN 21 Surabaya. SMAN 5 punya priogram membaca rutin antara lain: -Siswa diwajibkan membeli buku bacaan (novel) -Siswa membaca setiap hari (silent reading) pada awal jam sekolah (15 menit sebelum jam ke-1). Kegiatan ini dikoordinir oleh kelas dan diawasi oleh guru. -Setiap selesai membaca siswa diwajibkan menuliskan buku, judul, pengarang, dan penerbit serta membuat sinopsis dari buku yang dibaca. -Buku yang telah dibaca akan disumbangkan ke perpsutakaan.

             Target dan jumlah buku yang dibaca oleh siswa SMAN 5 bulan Juli—Agustus 2012 adalah setiap anak dalam 1 bulan membaca 2 buku dan satu sekolah membaca 3000 buku setiap tahun. Jumlah keseluruhan buku yang terbaca adalah 1.851 buku dalam jangkan waktu 2 bulan. Waw… bukan?

        Tak kalah menarik adalah fenomena yang terjadi di SMA 21 Surabaya. Sekolah tersebut mengadakan lomba perpustakaan kelas bekerja sama dengan Baperpusip Kota Surabaya. Kelas yang menang akan mendapatkan hadiah dari Baperpusip Kota Surabaya. Penilaian pada jumlah dan jenis koleksi, pengorganisasian buku, susunan pengurus, program baca buku, pengorganisasian peminjaman dan hasil baca buku, keindahan, dll. Buku yang dilombakan adalah buku siswa-siswa sendiri, bukan buku perpustakaan sekolah.

           Tantangan membaca seperti di Goodreads.com juga berlaku di Surabaya. Setiap siswa SMALA Surabaya ditantang membaca 12 buku sastra dari Juli 2014—1 Maret 2015. Sekolah berkerja sama dengan UNAIR dan UNESA dalam menyediakan daftar Wajib Baca buku sastra. Sekolah bekerja sama dengan komite sekolah akan menyediakan buku Wajib Baca tersebut. Siswa yang berhasil menyelesaikan tantangan akan mendapatkan sertifikat “Reading Award” dari Walikota Surabaya.

           Waw, saya membayangkan, kalau setiap kota di Indonesia memiliki walikota inspiratif seperti Bu Risma, masa depan negeri ini tentu akan semakin maju peradabannya.

Mengikuti Jejak

          Paparan dari Bapak Satria Darma berhasil menggugah saya. Ingin sekali saya mempraktikan apa yang sudah terlaksana di Surabaya dari kelas saya sendiri. Ketika menjadi wali kelas VA di sebuah sekolah swasta di desa Grabag tempat tinggal saya,di tahun 2012 ,saya pernah mewajibkan anak membaca buku untuk dilaporkan. Karena buku perpustakaan sekolah tidak bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut, maka saya mengeluarkan koleksi buku saya untuk dipinjam anak-anak. Sayangnya, program tersebut hanya berjalan satu putaran karena kendala koleksi buku. Permasalahan tersebut saya sampaikan dalam forum. Solusinya adalah seperti yang sudah disampaikan di atas, setiap anak membawa satu buku. Ibu Satria Darma menguatkan saya, cobalah, orang tua pasti tidak keberatan memebelikan anaknya satu buku.

         Maka pada pertengahan Desember lalu, selesai anak-anak melaksanakan Ujian Akhir Semester, saya meluncurkan program Tantangan Membaca. Untuk memberi contoh pada anak-anak agar membawa buku, saya membawa setumpuk buku koleksi dari rumah. Anak-anak terlihat antusias melihat saya membawa setumpuk buku.

         Untuk mendukung program tersebut, saya membagikan Kartu Tantangan Membaca yang berisi judul buku, nama pengarang, penerbit, tahun, bintang, tanggal memulai dan selesai memabaca. Siswa di kelas VA yang berhasil mencapai jumlah buku tertinggi akan saya beri hadiah buku yang jenisnya bisa memilih sendiri. Saya juga berangan-angan akan memeberikan sertifikat yang ditandatangani kepala sekolah.

       Beragam reaksi yang saya dapatkan di hari saya meluncurkan program tersebut. Umumnya anak-anak antusias dan terlihat bersemangat.

           “Bu, saya tidak suka membaca,” ungkap Yoga kepada saya.

           “Nanti mas Yoga akan Bu Guru paksa jadi suka membaca,” jawab saya sembari tertawa.

         “Tapi saya nggak punya buku Bu,” lanjut Yoga. Ucapan serupa keluar dari beberapa siswa. Saya masih memaklumi, tidak apa-apa ujar saya kepada mereka. Untuk langkah pertama, saya akan mencobanya pelan-pelan.

        Saya tidak membutuhkan jeda hari untuk melihat hasilnya. Luar biasa, di hari yang sama, anak-anak sudah mengisi kartu mereka. Mereka yang belum paham yang mana penulis, penerbit, tahun terbit dalam buku yang mereka baca ribut menanyakan kepada saya. Wah, saya sampai geli campur gembira menaggapinya.

Image5615Image5618Image5619

Image5617

                                                                   kartu tantangan membaca

                  Semakin hari saya kian berbahagia melihat semangat mereka.

            “Bu, saya bawa buku sekarang,” kata Yoga dua hari kemudian. Saya yakin ia termotivasi, kepengen melihat teman-temannya membawa buku di hari sebelumnya.

                 “Saya bawa dua bu, beli di 39 pulang sekolah,” lanjut Yoga ketika saya tanya beli di mana.

                  Hari berikutnya, ia juga laporan kalau beli buku lagi. “Beli di Indo Maret Bu.“

               Wah… wah… semoga semangat mas Yoga terus menyala beli bukunya. Begitu pula semangat teman-teman yang lain untuk memenangkan tantangan membaca. Saya yakin, bermula dari tantangan, lama-lama hal tersebut akan menjadi kebiasaan ketika anak sudah merasakan asyiknya membaca, serunya isi bacaan dari buku di hadapan mereka. Setiap saya masuk kelas, anak-anak sedang terlihat khusyuk membaca buku. Good…. :D. Harapan selanjutnya, sekolah saya akan menerapkan juga program tersebut.

Image5609

asyik membaca ketika saya masuk kelas

 Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca

banner baru giveaway untuk blog

[Gado-Gado Sekolah #18] K13 di Mata Anak-Anak

Kesenyapan ujian akhir semester tema 3 subtema 1 dan 2 di kelas VA pagi tadi mendadak pecah oleh pertanyaan seorang siswa di sela-sela mengerjakan.

“Bu, katanya Kurikulum 2013 mau dihentikan ya?”

Saya tak menyangka ada pertanyaan seperti itu, saya tanggapi seperlunya,”semester depan insya Allah kita kembali ke KTSP.”

Suasana gembira seketika menyeruak, ada yang bilang yes, ada yang berseru gembira, ada yang mengangkat tangan, ada yang wajahnya berseri-seri. Sekolah kami baru memberlakukan K13 semester ini, jadi semester depan tentu akan balik ke KTSP.

Saya kemudian balik bertanya, “kalian tidak suka ya dengan kurikulum 2013? Kenapa?”

Riuh, anak-anak mengemukakan tanggapannya sendiri-sendiri. “Belum biasa, bu.”

Emm… kalau soal itu sih, lama-lama juga biasa kan… tapi, dengarkan dulu tanggapan yang ini…

“Bingung bu, jadi nggak fokus belajarnya, “ kurang lebih seperti ini yang dikatakan Asa.

“Matematikanya Bu, nggak enak. Yang satu belum mudeng, sudah ganti materi,” ujar Diwan sambil mecucu.

Nah, kalau yang ini saya setuju. Saya merasakan hal yang sama, emm… gurunya aja mumet, apalagi siswanya. Tentu, itu satu masalah disamping masalah administrasi yang njlimet bagi saya.

Tak puas mendengar tanggapan kontra K13, saya kemudian menyelidik dengan bertanya kepada mereka, “Itu tadi soal ketidaksukaan kalian dengan kurikulum 2013, tapi pasti ada kan hal yang kalian sukai, satu atau dua sisi.”

Mereka punya versi sendiri-diri. “Suka sama IPA Bu, banyak praktik,” jawab Diwan,

“Kalau soal praktik, KTSP juga ada praktik. Kalian waktu kelas 4 kemarin sering praktik kan?” balik saya.

Anak-anak mengangguk.

“Nggak banyak nyatet bu,” seru Syifa dengan senyum.

Saya setuju,tapi,“Pakai kurikulum apapuun, kalau kalian punya buku sendiri-sendiri nggak akan banyak nyatet.”

“Nggak banyak soal,” timpal Sofi sembari tertawa kecil.

Saya sependapat, memang iya. Emm… bagaimana mau memperbanyak soal kalau untuk pembahasan dan pemahaman materi saja terbilang kepontal-pontal (terburu-buru) karena mengejar target tema yang harus diselesaikan? 😀

 

 

 

 

 

 

 

#pengen nambahin foto kenapa galat terus ya?

[gado-gado sekolah #17] Mendongeng Kancil yang Baik, Mestakung!

Gambar

Pagi tadi sebagai pembuka pelajaran, seperti biasanya, saya memberikan dongeng.  Saya memilih Kancil yang Baik oleh Clara Ng. Dongeng ini tidak saja apik ilustrasinya namun pesannya pun dapat. Clara Ng ingin meluruskan dongeng  “Kancil Nyolong Timun” dan “Kancil dan Buaya”  yang tidak mendidik. Dalam dongeng Kancil yang Baik, Kancil ingin membuktikan bahwa dirinya baik. Ini memberikan inspirasi pada anak-anak untuk berbuat baik, bukan berbuat licik dan curang meskipun cerdik seperti Kancil.

Selesai mendongeng, saya masuk ke materi. Kali ini adalah karmina. Anak-anak saya bagi kedalam kelompok  2—3 anak (karena jumlah ganjil)  untuk belajar berbalas pantun.

Ada satu perempuan yang menolak kelompok yang saya bagi, “Nggak mau  Bu, Mas S suka bandel dan usil, saya nggak mau!”

Si lelaki yang dikatakan bandel pun nggak terima dan marah. Ia juga menolak  mau berkerja sama dengan si perempuan. Maka saya dekati si lelaki. Mestakung.   Agaknya dongeng yang telah saya bacakan pas sekali dengan situasi itu.  Saya katakan pada si bocah lelaki bahwa dia harus menunjukkan kalau  dirinya  tidak seperti yang dikatakan temannya. Seperti Kancil, dia bisa membuktikan kalau dirinya baik.

Saya juga besarkan hati meraka berdua, bahwa pemilihan kelompok itu tidak sembarangan. “Bu guru sudah pertimbangakan  kenapa ada kelompok yang  hanya bertiga dan kenapa ada yang hanya berdua, Bu Guru sudah mempertimbangkan berdasarkan kemampuan kalian dalam berpantun.”

Mereka berdua akhirnya berdamai. Ketika saya meminta kepada si bocah perempuan untuk meminta maaf karena mengatakan temannya bandel dan usil, dia dengan senang hati melakukannya. Alhamdulillah, pelajaran berjalan seru. Berikut saya kutipkan  pantun berbalas antar dua kelompok.

Buah rambutan buah nanas

Jika memberi harus ikhlas

 

Buah apel buah kelapa

Jika ikhlas mendapat pahala

 

Buah apel buah mangga

Kita akan masuk surga

 

Kakak pergi ke Jakarta

Di surga akan hidup bahagia

 

Hewan serigala hewan naga

Senang sekali dapat masuk surga

 

Adik sedang bermain di taman kota

Di surga banyak sekali nikmatnya

 

Lampu itu ada di atas

Nikmat di surga tak terbatas

Di akhir pelajaran, ketika saya bilang dalam kegiatan selanjutnya kelompok akan diacak, si bocah lelaki tadi menolak, “jangan buuu…”. nah lho?! 😀

*foto hasil googling

[gado-gado sekolah #15] Tuhan Punya Hati?

“Bu, Tuhan itu punya hati?”
Saya terhenyak mendengar satu pertanyaan dari Rafel, siswa saya siang tadi, begitu di luar dugaan. Pertanyaan yang dilontarkan di sela-sela mengerjakan soal remidi dan pengayaan ulangan harian Bahasa Indonesia itu sejenak membuat saya ‘kelabakan’, mau jawab gimana? Satu soal yang saya ajukan,yaitu melanjutkan sebuah puisi yang menyebut nama Tuhan di dalam satu lariknya agaknya telah memunculkan satu penasaran akan Tuhan.

Untungnya, saya segera ingat Al Quran surat Al-Fatihah ayat ke-3: “ArRahmaan NirRahiim“. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Setelah saya baca ayat tersebut, saya jelaskan, bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Cinta, dan beberapa sifat Allah yang bisa ditumbuhkan juga di dalam hati [manusia]. Sementara, saya tidak [belum] menjelaskan Allah punya hati atau tidak. Sifat-sifat yang dimiliki Allah dalam Asmaul Husna hari ini semoga sudah bisa menjawab rasa ingin tahu Rafel yang kritis.

Barangkali ada yang mau menambahkan? 🙂

[gado-gado sekolah #14] Les

“Bu, kalo les di pak X berapa?” tanya seorang siswa pada saya tadi pagi.
“Coba tanya sama pak X, bu guru kurang tahu. Mas Y mau les?” saya balik tanya.
Dia mengangguk. Saya diam memandangi wajahnya. Pikir saya, kenapa nggak belajar di rumah saja sama ibunya, ayahnya, atau kakaknya? Saya tahu bagaimana keluarganya.

Siang hari, pulang sekolah dia sudah ikut les di pak X. Saya heran, banyak orang tua yang buru-buru mengikutkan putranya untuk les karena ujian sebentar lagi tiba. Untuk anak kelas satu SD tadi, dia terbilang cerdas, bisa belajar secara natural tanpa dijejali les. Apa karena orang tua di rumah merasa kurang bisa menfasilitasi ‘kecerdasannya’? Sayang sekali.

[gado-gado sekolah #13] Serasa Aktris!

Awal masuk sekolah tempat saya mengajar hingga saat ini, saya hanya mendapatkan kontrak 3 bulan. Selama 3 bulan itulah kinerja saya akan dievaluasi,apakah kontrak layak diperpanjang atau tidak. Sekolah itu adalah SD baru, satu–satunya SD swasta di kecamatan–dengan 3 pengajar (satu diantaranya saya) yang baru semua: fresh graduated tanpa pengalaman mengajar sebelumnya. Alhamdulillah, jangankan 3 bulan, 3 tahun berhasil saya lewati. Ini masuk tahun ke-4 karir saya. Angkatan pertama di sekolah itu kini duduk di kelas 4.

Bukan perkara mudah melewati angka 3 itu. Bekerja di luar minat dan bidang adalah beban tersendiri bagi saya. Saya yang tidak pernah berkeinginan menjadi guru dan tidak memiliki bekal pendidikan di bidang itu harus mengajari dan membimbing anak-anak membaca dan menulis. Menjadi pengajar untuk anak-anak tidak cukup berbekal materi seperti mengajar di sekolah menengah. Pemahaman terhadap psikologi anak dan kesabaran menjadi modal penting. Dua hal itu minim saya miliki. Kesabaran itu lebih sering pasang surut. Tiap hari ada saja tingkah anak-anak yang membuat saya geleng-geleng. Tiada hari tanpa mengeluh. Begitulah, daftar keluhan itu bisa bergerbong-gerbong kalau ditulis. Tapi, saya sadar, bagaimana bisa bersyukur kalau yang saya gubris hanya hal-hal yang berpotensi menimbulkan keluh? Mengimbanginya, saya punya kebiasaan membuat jurnal dan daftar apa saja yang sudah saya dapatkan di sekolah, daftar yang tak mungkin saya peroleh di tempat lain. Diantara sederet list itu, ada satu moment yang pernah dan masih menjadi moment favorit. Moment itulah yang ‘membesarkan’ diri saya sendiri dan menguapkan segala keluh kesah: mendongeng.

Saat mendongeng, saya serasa aktris di depan kelas, benar-benar saya nikmati. Saya menikmati tatapan antusias anak-anak, tatapan ingin tahu, penasaran,dan tatapan-tatapan tak terdefinisi :D. Tatapan-tatapan mereka begitu lekat di kepala dan menumbuhkan perasaan puas. Ketika kelas bisa senyap dan mereka terbawa oleh cerita, saya merasa berhasil ‘berakting’! Padahal, saya tidak piawai mendongeng, cerita saya bagi secara apa adanya, tak mampu berekspresi dan menciptakan/menirukan suara-suara aneh dari berbagai karakter dalam dongeng. Dengan penyampaian yang begitu apa adanya saja anak-anak suka, saya bersyukur sekali.

Itu baru mendengarkan. Belum lagi kalau saya memberi kesempatan bermain peran setelah mendengarkan. Mereka berebut maju ke depan tampil pertama. Satu kelompok belum selesai bermain, beberapa anak sudah berdiri di depan tak sabar ingin tampil. Ada juga anak yang selalu minta tampil ulang. Mereka menikmati bermain peran, padahal suara mereka kadang tak keluar, permainan mereka lebih sekedar ‘bermain-main’ sambil bercanda daripada berakting. Namun saya tak pernah keberatan dengan tingkah lucu mereka.

Diantara ulah mereka, pernah terselip ide cemerlang yang meninggalkan tawa dan kesan buat saya. Seorang siswa, Fafa namanya, yang berperan sebagai gajah penolong dalam dongeng ” Ikan dan Gajah”, berkeliling kelas memeragakan adegan gajah mencari sumber air. Sungai tempat hidup ikan kering sehingga gajah berinisiatif mengisi sungai itu dengan air lewat belalainya. Ketika gajah sampai di belang kelas, di mana terdapat sebuah dispenser terletak di atas meja, dia berhenti. Dia mengambil segelas air dan meminumnya, berlagak sebagai gajah mengisap air. Selesai minum dia lari ke depan kelas dan berlagak menyemprotkan air. Spontan kami tertawa menyaksikan tontotan itu. Saya geli bercampur takjub melihat tingkah Fafa. Fafa dan teman-temannya waktu itu masih duduk di kelas 1. Sekarang mereka kelas 4. Tiga tahun berlalu tapi moment itu masih terekam jelas di kepala saya.