[Review] Anakku Sehat Tanpa Dokter

20160929_153213

Judul                           : Anakku Sehat Tanpa Dokter

Penulis                        : Sugi Hartati, S.Psi

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   1, April 2013

Tebal                           :  192 halaman

ISBN                           :  978-602-7572-14-0

 

Setiap orang tua pasti mengingkan yang terbaik untuk anak mereka. Lebih-lebih untuk kesehatan. Pun ketika anak mereka sakit, bagaimana cara  menyembuhkan anak secara cepat. Terkadang berapa uang yang mereka keluarkan tak mereka pedulikan. Datang ke dokter terbaik biasanya solusi yang mereka pakai.

Tak hanya itu, orang tua yang memiliki balita atau batita sering kali sudah menyediakan obat ‘bebas’ yang biasa di simpan di rumah untuk menangani penyakit-penyakit yang umum diderita anak, seperti panas, demam, pilek, atau batuk.  Tidak sedikit ibu yang memiliki persediaan antibiotik di rumah sebab obat itu jamak diberikan dokter ketika para ibu datang dengan keluhan anak panas atau demam.

Kepanikan seorang ibu atau ketidaktahuan ibu akan penyakit yang diderita anak, sekalipun ringan, berdampak pada kesalahan penanganan.  Ketika anak panas mereka terburu-buru memberikan antibiotik karena obat itu dikenal ampuh meredakan panas. Atau terburu-buru membawa ke dokter terbaik biasanya dianggap sebagai solusi jitu. Sayangnya, tidak banyak dokter di Indonesia yang memberikan kesempatan kepada pasien atau ibu pasien untuk menelusur latar belakang penyakit. Dalam buku ini diceritakan, misal untuk penyakit panas, pasien akan diberikan oleh antibiotic dan obat pereda sakit yang bersangkutan (misal batuk atau flu). Ketika beberapa hari kemudian  anak belum sembuh, dokter akan meminta pasien datang lagi dan akan diberi obat lagi. Banyak kasus terjadi, pasien terkesan dijadikan kelinci percobaan.

Dokter bukan penemu obat, dokter hanya akan mengaitkan gejala yang diderita pasiennya dengan pengetahuan suatu obat yang didapatnya dari sang penemu obat. Dokter akan memilihkan obat yang lain untuk dicobakan kembali kepada pasien. Jika belum sembuh, maka dokter akan mengganti dengan obat yang lain lagi, demikian seterusnya. (hal. 37)

Antibiotik, yang sering diberikan ke dokter, atau malah disimpan di kotak obat di rumah untuk diberikan kepada anak jika sewaktu-waktu perlu, ternyata memiliki banyak efek. Antibiotik disamping menyembuhkan juga dapat merugikan. Bisa jadi obat yang diberikan kepada anak dalam jangka waktu yang lama tidak menyembuhkan penyakit tetapi justru melemahkan ketahanan tubuhnya. (hal.11).  Pada dasarnya antibiotik hanya efektif membunuh bakteri atau kuman. Jika digunakan pada anak-anak yang menderita demam ataupun sakit lain yang disebabkan oleh virus, maka antibiotik berakibat fatal. Bakteri baik yang semestinya berfungsi membantu tubuh malah ikut terbunuh. (hal. 16). Nah, penyakit yang disebabkan oleh virus tapi diberi antibiotik, tentu tidak tepat sasaran. Dalam buku ini penulis memberikan penjelasan mengenai efek samping dari obat, khususnya antibiotik. Informatif sekali! 😀

Yang paling penting adalah ibu harus tahu latar belakang penyebab penyakit, apakah karena bakteri atau virus agar tepat penangannya.

Jadi, apakah sebaiknya kita tak perlu ke dokter?

Perlu! Tapi janganlah mengunjungi dokter dengan tujuan mencari obat tapi mencari jawaban atas pertanyaan “Anak saya sakit apa? Apa yang menyebabkannya? Bagaimana penyebaran penyakit tersebut sehingga bisa menyerang anak saya?” (hal. 58).  Kita jangan begitu saja menerima apa yang dituliskan dokter dalam resepnya. Sebaiknya kita tahu obat apa saja yang diberikan, cara kerja, efek samping, dan bila perlu harga obat tersebut. (hal. 53)

Meskipun buku ini bukan ditulis oleh dokter atau ahli kesehatan, namun buku ini cukup lengkap memaparkan tentang latar belakang beragam  penyakit yang sering diderita oleh  anak dan penangannya. Buku ini ditulis  berdasarkan pengalaman penulis sebagai ibu dan  dari berbagai pengetahuan kesehatan yang didapat dari berbagai sumber (buku, artikel di internet).

Buku ini lebih menekankan pada pencegahan sebuah penyakit.  Ada fakta bahwa sebenarnya sebagian besar penyakit disebabkan karena makanan yang masuk ke tubuh (hal. 45) jadi  penulis banyak memeberikan tips pencegahan dan penanganan penyakit dengan memberikan makanan yang tepat.  Apa saja makanan yang sehat dan tidak sehat untuk anak dijabarkan lengkap oleh penulis. Buku ini dilengkapi dengan menu-menu makanan sehat, baik buah sebagai food therapy maupun menu makanan penunjang. Komplet! Selain menu makanan, pelengkap yang lain dari buku ini adalah akupresur (teknik pemijatan dengan menggunakan jari-jari tangan pada titi-titik tertentu pada tubuh) menyehatkan bagi anak. Ada manfaat, cara, dan foto yang menyertai bab akupresur.

Buku ini sangat memadai untuk dimiliki para ibu. Sebagai ibu yang memiliki balita, saya seperti dikuatkan oleh penulis.  Bahwa menghadapi anak yang sakit kita tak perlu panik dan khawatir berlebihan.  Penyakit pasti berlalu, tanpa obat tanpa dokter, bisa!

 

Resensi ini diikutsertakan pada campaign #AkuCintaBuku bersama Stiletto Book  dan Riawani Elyta 

 

 

Mengenal Tokoh Inspiratif di Maskam UGM

Me 390

Dalam sebuah obrolan via telepon dengan mbak kost  yang mengikuti tugas suami di Lampung beberapa tahun silam, saya seperti diingatkan kembali pada satu hal yang sudah menguap dari ingatan.Ia  bercerita tentang rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga muda. Memasak, kegiatan yang dahulu tak pernah dilakoninya di kost menjadi bagian dari rutinitasnya. Katanya, dia selalu terngiang cerita saya mengenai keluarga almarhumah ibu Yoyoh Yusroh. Dia ingin sekali meneladaninya. Ingatlah saya akan cerita itu.

Waktu itu saya baru saja mengikuti acara di Masjid Kampus UGM dengan salah satu pembicara Bu Yoyoh Yusroh.  Beliau bercerita  tentang keluarganya. Kisah paling berkesan buat saya adalah soal makanan sehari-hari. Keluarganya selalu dibiasakan untuk makan masakan di rumah, makanan yang  terjamin gizi dan kehalalannya.

Bu Yoyoh mengaku soal makanan menjadi salah satu kunci keberhasilan keluarga berkualitas.  Anak-anaknya berhasil dalam studi dan ada yang menjadi penghafal AlQuran. Beliau sangat menekankan satu hal itu dan meninggalkan kesan mendalam buat saya. Kesan inilah yang kemudian saya bagi  pada mbak kost. Rupanya ia juga sangat terkesan dengan cerita saya. Akunya, ia terus terngiang dan menjadikannya sebagai inspirasi untuk memulai membentuk keluarga berkualitas dari makanan.

Maskam UGM, dalam perjalanan studi saya  banyak menorehkan sejarah. Ia tak hanya menjadi tempat saya berlabuh  mengeluh kepada Allah, namun dari tempat itu saya mengenal tokoh-tokoh inspiratif.

 

Jumlah kata= 209

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid”

a lombamenulis

[Berkah Ngeblog] Dari Anak-Anak untuk Anak-Anak

Mulanya, keinginan untuk mengikuti Giveaway Jejak Kaki Misterius  masih maju mundur. Pengalaman mengikuti GA yang diadakan mbak Riawani Elyta itu yang ikut selalu berjubel dan tulisannya bagus-bagus. Dengan kata lain, saya sudah minder duluan dan merasa nggak bakalan menang deh kalau ikutan.

Tapi…ingat kalau saya memiliki materi tulisan yang sama dengan tema GA kok rasanya sayang untuk dilewatkan. Ya, materinya sesuai sekali, tinggal permak, menambah tulisan tentang tiga judul cerpen yang menarik dari buku Jejak Kaki Misterius.

Saya dihantui oleh deadline GA. Antara ikut tidak ikut tidak. Maka dihari terakhir lomba, di jam-jam terakhir. Saya putuskan ikut. Nothing to lose, saya pikir. Yang penting mengikutkan tulisan yang sudah punya, timbang mubadzir. Rasanya sayang melewatkan lomba yang materinya dekat sekali dengan keseharian saya, dunia yang memang saya minati, tentang buku-buku anak.

Pukul 10an malam, saya mulai membuka WP. Saya permak tulisan yang sudah saya punya. Ketak-ketik rasa kantuk mulai menyerang. Ler-leran. Saya sempat tertidur beberapa saat di depan komputer. Sedikit gelagepan ketika bangun karena waktu terus merangkak. Setengah dua belas, tulisan sudah siap publish. Tetapi…. ada masalah dengan jaringan internet dari modem. Sempat panik dan menghidupkan wifi dari smartphone namun entah kenapa waktu itu tidak tersambung. Rasanya kecewa kalau sampai gagal.

Alhamdulillah utek-utek modem jaringan lancar.  Masih harus mencari tulisan sumber lomba dan memasukan link di akhir tulisan.  15 menit menuju deadline, tulisan bisa publis. Selanjutnya, setor tulisan di komentar dan publish link di twitter. Saya pikir saya harus setor link di komentar blog mbak Riawani dulu supaya terekam sebelum pukul 23.59.

Legaa… akhirnya semua bisa saya lakukan sebelum batas waktu. Saya tidak sempat memikirkan judul yang tepat untuk tulisan saya, apa adanya jadilah judulnya sama dengan lombanya GA Jejak Kaki Misterius. 😀

Saya tidak menyangka kalau pengumuman lombanya secepat yang saya kira. Buka twitter di suatu hari, nama saya dimention mbak Riawani. Surprise, tak menyangka saya bisa juara 1. Ini pertama kalinya saya bisa nembus urutan satu. Yang sudah terjadi,  mentok di urutan 3.

Hadiah dari sponsor pun datang secara bertahap, namun terhitung cepat. Yang pertama pulsa dari mbak Hairi Yanti yang datang pagi hari setelahnya. Beberapa hari kemudian, datang secara berbarengan buku Jejak Kaki Misterius dari Penerbit Indiva dan Buku Aku Tambah Tinggi+bekel dari mbak Vanda Arie.

Senangnya Janitra mendapat bekel itu.  Saya kerap dimintanya untuk memainkan. “yee…tangkapan bagus, ibuk!” sorak Janitra selalu menuggui saya bermain.  Dua buku anak yang saya dapatkan, bukan saya saja yang menikmati, kelak Janitra akan membaca.  Segera setelah saya selesai membaca, ada anak-anak les yang akan ikut membacanya.

Senin lalu, dua paket jatuh ke tangan saya, meski satu paket tiba di hari Sabtu: sebuah dompet yang cantik dari mbak Afin Yulia dan 2 buku Sherlock Holmes dari mbak Binta al Mamba.

12899716_10205547544680310_131181322_n

Semua hadianya saya suka. Menang GA dan hadiahnya macem-macem seperti itu, siapa sih yang nggak pengen? 😀

[Berkah Ngeblog] Buku-Buku Perempuan dari Stiletto

Pulang kerja, Janitra menyambut saya dan katanya tak sabar ingin membuka paket.
Paket? Langsung semangat masuk rumah.

“Jare Janitra isinya sepeda”, kata emak geli.

Saya menduga itu pasti dari Stiletto. Benar saja, paket itu besar. Semangat membuka dan…setumpuk buku menyembul.

“Waa… buku. Nggon It[r] endi?” Janitra selalu bersemangat melihat buku.

“Niki buku-buku buat ibuk,” jawab saya.

Maka saya carikan buku yang sekiranya cocok. Ketemulah buku itu. Play and Learn, buku yang sering saya lirik-lirik di toko buku. Dan sejak detik itu buku itu diklaim sebagai buku Janitra 😀
12596439_10201531932935988_1293952089_n

12822148_10205459474518611_936104318_n
Alhamdulillah, untuk yang keberapa kalinya (lupa) ada rejeki hasil ngeblog. Buku-buku dari Stiletto tersebut adalah hadiah lomba blog ulang tahun kelima yang bertajuk Book Addict is The New Sexy. Tulisan berjudul Saya Membaca Maka Saya Cantik berhasil menyabet juara ke-3.

Selain setumpuk buku (setiap judul 2 eksemplar), ada hadiah merchandise berupa sarung bantal, buku harian, dan blok notes. Sesuai dengan amanat dari Stiletto untuk memberikan buku-buku tersebut untuk orang-orang tercinta, menyebarkan virus baca, maka saya berikan beberapa buku genre novel untuk perpustakaan Madrasah Aliyah tempat saya dahulu pernah mengajar. Di sana buku-buku tersebut pasti akan bermanfaat,bergiliran dibaca siswa.  Dua buah buku selanjutnya saya berikan untuk teman pecinta buku. Rencananya, sisanya akan saya pakai sebagai kado.

 

Deadline!

Deadline,  satu kata itu seringkali menjadi momok bagi para penulis, namun di satu sisi bisa menjadi kekuatan untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Sering saya baca, saya dengar,seseorang berujar deadline, the power of kepepet. 

Bagi penulis, deadline adalah penanda waktu ia harus menyelesaikan sebuah tulisan. Demikian halnya bagi saya yang beberapa kali ikut kompetisi nulis. Saya harus menyelesaikan lalu menyetorkan atau mengirimkan sebuah tulisan sebelum jatuh tempo pada deadline yang ditentukan. Saya seringkali terpatok pada deadline untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Ya.. seperti kompetisi yang saya ikuti ini 😀

Deadline berarti time limit: the time by which something must be done or completed

Dalam bahasa Indonesia berarti: batas waktu: waktu dimana sesuatu (pekerjaan) harus dilakukan atau diselesaikan.

Dalam kehidupan sehari-haripun, sebenarnya kita mempunyai deadline-dealine yang menjadi penanda kita dalam mengerjakan berbagai aktivitas. Deadline itulah yang menjadi penanda waktu bagi kita untuk disiplin menyelesaikan sebuah pekerjaan, kegiatan, dan aktivitas lain. Dalam ranah domestik misalnya, saya harus menyelesaikan pekerjaan memasak, mencuci pakaian dan piring  sebelum kumandang adzan Subuh. Saya harus menyelesaikan pekerjaan rumah dan memandikan anak sebelum pukul 06.15.  Saya harus masuk kerja sebelum pukul 07.00.  Dalam hal ibadah wajib, ada penanda yang menjadi deadline, shalat 5  waktu contohnya. Saya tidak boleh melakukannya melebihi deadline tiap-tiap waktunya.

Pada hakikatnya manusia hidup di dunia ini untuk beribadah kepada Allah. Segala yang kita lakukan di dunia ini pada hakikatnya adalah ibadah jika kita niatkan semata karena Allah. Masing-masing kita memiliki deadline untuk ‘hidup’ yaitu ketika ajal menjemput. Sebab deadline itu menjadi rahasia Allah, kita harus selalu siap ketika deadline itu datang Kemarin, hari ini, dan hari esok adalah sebuah penanda bagi kita. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini merupakan kata bijak agar kita menjadi orang yang beruntung. Hidup kita, ibadah kita harus selalu lebih baik dari waktu ke waktu agar kita menjad orang yang beruntung. Hari esok adalah sebuah harapan yang menjadi semangat kita untuk terus hidup dengan berkarya. Lihatlah, betapa waktu perlu sebuah tanda sebagai patokan, patokan bagi manusia yang hidupnya tidak mau merugi sehingga ketika deadline itu datang, sudah ada bekal yang kita miliki untuk menghadap-Nya.

Tulisan ini diikutkan dalam #Give Away: Untuk Apa Kau Menandai Waktu?

waktu