[Gado-Gado Sekolah #20] Nggosipin Buku di Perpus Manca Grabag

Kamis lalu (1/9) proses pembelajaran siswa saya laksanakan di Perpustakaan Manca Kecamatan Grabag yang berada di komplek kantor Kecamatan Grabag. Pelajaran Bahasa Indonesia kali itu begitu terasa singkat karena anak-anak enjoy di perpus.

Sebelum berangkat, saya berikan 3 pilihan kegiatan yang akan dilaporkan siswa selesai pembelajaran. Siswa saya ajak untuk membuat laporan membaca buku, laporan pengamatan (lingkungan perpustakaan), dan wawancara dengan narasumber petugas perpustakaan atau pengunjung bila ada.

Heboh tentu saja. Mendapati buku-buku yang beragam ada yang bingung milih-milih buku, berganti-ganti membaca buku, ada yang khusyuk dengan satu buku kemudian menulis laporannya, ada yang cekikikan membaca buku bareng, ada yang takjub kemudian membaginya dengan teman, dan ada yang asyik menulis hasil pengamatan. Kebanyakan mereka nggosipin buku yang menarik buat mereka. Sepertinya seru mendapati satu buku yang bagus kemudian membaginya dengan teman-teman lain. Ambil contoh ketika Salwa menemukan 3 Manula Keliling Singapura, dia cekikikan membaca kemudian diceritakan teman-teman, ” Lucu ini,”

“Bagus itu, ada pengetahuannya,” ujar saya ikut berkomentar.  Sayangnya, saya tidak menemukan edisi keliling Indonesia, 3 Manula Keliling Pantura.

Teman-teman lain pun ikut membaca.

Untuk wawancara hanya satu siswa yang berani melakukannya. Saya dorong-dorong dia supaya berani dan melakukan tanya jawab dengan petugas perpustakaan.

Baiklah, ini adalah proses belajar. Masing-masing anak memiliki ketertarikan yang berbeda-beda. Hal ini terlihat dari pemilihan kegiatan dan pemilihan buku yang mereka baca dan laporkan.  Kamis itu mereka mendapatkan banyak hal dari perpustakaan.

 

20160901_112634[1]

wawancara dengan petugas

yang lagi milih-milih tak pernah puas dengan satu buku 

20160901_105608[1]

20160901_105805[1]

20160901_110806[1]

nggegosip buku yang seru, yang serius juga tak mau kalah 

20160901_115144[1]

 

Ayo ke Telaga Bleder Lagi!

 

 

 

Image5926

Dalam ingatan masa kecil saya, Telaga Bleder yang terletak di Desa Bleder, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang  dikenal dengan telaga yang singup. Beragam mitos menyelimuti telaga itu sehingga banyak orang yang takut mengunjungi. Kalaupun datang, enggan untuk menyusuri telaga dengan berperahu. Terbukti, ketika saya bersama rombongan sekolah tempat saya mengajar datang, tidak banyak anak yang berani naik perahu. Ketika saya tanya, mereka bilang tidak diperbolehkan orang tua.

Benarkah mitos itu? Silakan datang dan buktikan sendiri. Nyatanya asyik kok mengunjungi telaga yang masih terjaga keasriannya itu. Kedalaman telaga itu 4 meter. Permukaannya merupakan tanah berlumpur, maka orang Jawa bilang “mbelet”. Nah, barangkali inilah penyebab mitos yang dulu pernah berkembang: terjebur telaga hilanglah badan tak ketemu.

 

Image5921

Image5922

Setahu saya, Telaga Bleder lama tidak aktif aktivitas pariwisatanya. Tapi ketika saya ngobrol dengan bapak pengemudi perahu, katanya selama ini tetap aktif. Telaga Bleder kini banyak berbenah. Tempat wisata yang dikelola oleh pemerintah daerah itu pada 21-22 November 2015 lalu mengadakan festival. Event ini merupakan ajang promosi sekaligus peresmian oleh bupati. Dalam event itu, ada acara festival dayung dan mancing. Pasti seru acaranya, sayangnya terlewat. Ada pembaruan yang terlihat, salah satunya adalah penambahan sebuah kolam renang anak di samping telaga. Kedepannya, akan ada jalur transportasi yang tembus dari Bleder ke lokasi air terjun Sekar Langit.

Telaga yang menjadi milik pemda setempat diisi oleh ikan dari warga sekitar. Tiap tahun, telaga dikuras untuk acara Merti Desa. Dari penuturan bapak pengemudi perahu, meski sudah dipancing beberapa waktu lalu dan dikuras, ikan yang ada di dalamnya kurang lebih ada 2 ton.

Apa serunya datang ke Bleder? Selain menikmati telaga yang asri, pengunjung bisa menikmati ketenangan telaganya dengan menyusuri telaga. Ada bebek kayuh, perahu sampan, dan perahu bermesin. Pelan-pelan menyusuri telaga itu saya merasa tenang dan segar. Kesegaran dedaunan di sekitarnya memanjakan mata.

Image5920

Image5928

Image5925

Image5929
Hobi mancing?  Bisa. Di sekitaran telaga, ada beberapa pemancingan milik warga yang diisi dengan ikan mujahir dengan harga mancing Rp.25.000/kg. Pemandangan di sana bisa membuat mata segar dan badan bugar.

Image5937

IMG_20140316_111454

 

Oiya, yang suka naik dokar, bisa kok wisata puter-puter dengan dokar. Saya pernah melakukannya dengan keluarga. Dijamin puas, karena kusir dokar ramah dan setia menanti penumpang.
IMG_20140316_111859

IMG_20140316_111701

IMG_20140316_111547

 

Satu hal yang masih kurang dari tempat wisata ini, yaitu belum adanya tempat kuliner. Namun, jangan khawatir, di sekitar tempat itu, 5 atau 10 menit berkendara menembus desa Bleder, di daerah Ngeter dan Tirto ditemukan tempat kuliner seperti Simbar dan Kamandanu yang menawarkan menu bakar maupun goreng.

Me Time

Dihantui oleh akreditasi selama 6 bulan tanpa kejelasan membuat saya dan teman-teman merasa begitu lelah. Hingga Jum’at lalu, saat Pra Akreditasi, pengawas yang datang ke sekolah kami memberikan informasi bahwa akreditasi siap dilaksanakan pekan setelah ujian akhir semester. Sedikit lega.

Jum’at itu menjadi hari yang melelahkan, pulang ke rumah menjelang Magrib. Malamnya, saya utarakan maksud hati kepada suami kalau Sabtu saya ingin melepaskan ketegangan dengan makan es krim. Sendirian. Pengen pulang gasek trus me time, ujar saya. Sebenarnya suami ingin ikut, tapi karena harus mengantar anak-anak di sekolahnya mengikuti lomba, jadilah rencana me time berjalan sukses, hehehe.

Saya memilih Rumah Es Krim, satu-satunya kedai es krim di desa Grabag. Kali itu saya ingin mencicipi yang segar-segar,rujak es krim jadi pilihan.

IMG_20131130_134923

Saya tidak salah memilih, segar memang. Berangsur-angsur benang ruwet di kepala terurai. Es krimnya  nyami hanya masih kurang lumer di lidah, rujaknya pun pedas segar.

IMG_20131130_135141

Es krim tandas, pikiran pun kembali seger, dan… ide kecil mendadak melintas. Alhamdulillah.

Oiya, ingin mencicipi varian es krim yang lain? Rumah es krim menyediakan 13 es krim dan 3 cemilan (nugget, sosis, dan kentang goreng). Untuk setiap rasa es krim dan cemilan, harga berkisar  Rp2.500; hingga Rp5.000;.

IMG_20131130_135515