[Review] Kritik Pendidikan dari Novel Bapangku Bapunkku

Judul       : Bapangku Bapunkku
Penulis   : Pago Hardian
Penerbit : Indiva
Cetakan:  pertama, 2015

IMG_20171225_221808_552[1]

Bapangku Bapunkku diceritakan dari sudut pandang seorang anak.    Ia memiliki bapak berjiwa punk, penganut kebebasan.  Tapi jangan dibayangkan punk yang dianut gaya bebas seperti  remaja di jalan. Bapan memiliki  4 anak . Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Anak pertama,Alap, berjiwa seni. Hobinya desain baju . Anak kedua, Harnum,  suka mengarang. Anak ketiga, Tuah, suka dan pandai matematika. Anak keempat, Anjam, berjiwa seni dan mahir melukis.

Bapang  punya prinsip belajar di sekolah terdekat. Ia juga  ingin semua  anaknya berprestasi di kelas. Namun, mindsetnya berubah ketika ia berdiskusi dengan mas Greta, seorang istimewa , anak dari tukang bakso yang pernah ditolong bapang . Ia tak lagi berprinsip anak harus berprestasi di kelas. Mereka membicarakan tentang  11  macam kecerdasan. Sebelas itu adalah kecerdasa angka-angka/numeric, kecerdasan bahasa/linguistic, kecerdasan gambar/visual, kecerdasan pendengaran/audiomusical, kecerdasan olah tubuh, kecerdasan suara/vocal, kecerdasan pengecapan, kecerdasan agama/spiritual, kecerdasan pribadi diri/personal, kekecerdasan berhubungan dengan orang lain/antarpersonal, dan kecerdasan mengelola keuangan/finansial.

Diskusi dengan mas Greta membuat bapang tidak terlalu menuntut kecerdasan akademik di sekolah. Akibatnya prestasi akademik mereka menurun, sebaliknya kebebasan mengembangkan bakat membuat mereka benar-benar berkembang di kemahiran masing-masing. Alap bahkan pernah menjadi finalis lomba desain baju di salah satu majalah wanita.

 

Akhir tahun pelajaran, bapang  mendadak ingin mengeluarkan anak-anaknya nya dari sekolah karena Anjam tidak naik kelas. Anjam menderita disleksia yang membuatnya mengalami hambatan membaca dan menulis. Tidak naik kelas sebenarnya bukan menjadi masalah. Pemicu utama  adalah guru anjam menganggap Ajam bodoh. Ironisnya, foto Anjam dengan sederet piala tertampang di spanduk promosi sekolah.

Masalah ini sempat membuat bapang  bersitegang dengan istrinya dan hampir ada kata cerai.  Mereka berdebat soal prinsip pendidikan untuk anak-anak mereka. Untung saja, ada jalan tengah yang diambil. Kekecewaan terhadap sekolah membuat bapang menggodog konsep sekolah ala bapang dan mas Greta. Selama sekolah mereka belum terwujud, anak-anak tetap diijinkan sekolah.

Sekolah yang akan didirikan bapang memiliki jurusan yang unik, namun jurusan itu sejatinya adalah wadah bagi anak-anak dengan beragam kecerdasan yang tidak bisa disama ratakan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Banyak pelajaran yang belum dirasakan manfaatnya secara langsung oleh anak-anak .

Jurusan pendidikan yang dirancang bapang dan mas Greta ada jurusan pengecapan, jurusan pendengaran, jurusan penglihatan, jurusan suara, jurusan gerak tubuh, jurusan perhitungan, dan jurusan pengucapan. Masing-masing jurusan punya spesifikasi khusus. Sekolah itu terwujud meski tidak semua jurusan bisa diadakan.

Novel ini dituturkan dengan gaya kocak dan santai. Meski begitu,gaya khas bapang itu tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan penulis.  Novel ini pastilah berangkat dari kegelisan penulis terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang terlampau banyak beban dan mencetak anak-anak Indonesia menjadi pegawai.  Tak hanya soal pendidikan, bapang juga kerap mengkritisi masalah-masalah sosial.
Sistem pembelajaran di sekolah formal negara ini seakan-akan membuat murid-muridnya jadi mesin penghafal! Mending kalau yang dihafal itu pelajaran penting. “(hal. 165)

Kalau kekayaan negara kita Indonesia tercinta ini tidak dikoropsi oleh pejabatnya maka kekayaan itu lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyat. Jadi, kesejahteraan rakyat itu bisa dimulai dengan kampanye untuk jadi pejabat yang jujur, bukan dimulai dengan kampanye kondom atau alat-alat KB lainnya.” (hal. 95)

Kualitas kepintaran anak itu hanya sedikit sekali ditentukan oleh sekolah. Yang paling menentukan adalah didikan di rumah. Walaupun sekolahnya berkualitas dan mahal, kalau orangtuanya tidak menyempatkan waktu secara disiplin untuk mendidik anak di rumah, hasilnya tidak akan terlalu menggembirakan. Paling-paling hanya dapat gengsi doing kerena anaknya sekolah di SD terkenal.” (hal. 60)

Seusai membaca novel ini mustahil pembaca akan begitu saja melupakan novel ini. Ada perenungan mengenai sistem pendidikan di negeri ini. Saya sendiri jadi baper, andai konsep pendidikan seperti yang penulis jeberkan dalam buku ini diterapkan di sekolah formal di Indonesia.  Sekolah formal ya, bukan seperti  home schooling di kota-kota besar yang sudah  menerapkan sistem semacam itu.

Ringan tapi mengena, Inspiratif, itu kesan saya selanjutnya terhadap novel peraih juara II Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva 2014 ini. Penasaran?

Akhir kata, kutipan inspiratif ini jadi penutup review saya
Dunia ini hanya akan dikuasai oleh orang-orang yang gigih. Orang yang suka mengeluh hanya akan berakhir sebagai pecundang.” (hal. 44)

[Review] Anakku Sehat Tanpa Dokter

20160929_153213

Judul                           : Anakku Sehat Tanpa Dokter

Penulis                        : Sugi Hartati, S.Psi

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   1, April 2013

Tebal                           :  192 halaman

ISBN                           :  978-602-7572-14-0

 

Setiap orang tua pasti mengingkan yang terbaik untuk anak mereka. Lebih-lebih untuk kesehatan. Pun ketika anak mereka sakit, bagaimana cara  menyembuhkan anak secara cepat. Terkadang berapa uang yang mereka keluarkan tak mereka pedulikan. Datang ke dokter terbaik biasanya solusi yang mereka pakai.

Tak hanya itu, orang tua yang memiliki balita atau batita sering kali sudah menyediakan obat ‘bebas’ yang biasa di simpan di rumah untuk menangani penyakit-penyakit yang umum diderita anak, seperti panas, demam, pilek, atau batuk.  Tidak sedikit ibu yang memiliki persediaan antibiotik di rumah sebab obat itu jamak diberikan dokter ketika para ibu datang dengan keluhan anak panas atau demam.

Kepanikan seorang ibu atau ketidaktahuan ibu akan penyakit yang diderita anak, sekalipun ringan, berdampak pada kesalahan penanganan.  Ketika anak panas mereka terburu-buru memberikan antibiotik karena obat itu dikenal ampuh meredakan panas. Atau terburu-buru membawa ke dokter terbaik biasanya dianggap sebagai solusi jitu. Sayangnya, tidak banyak dokter di Indonesia yang memberikan kesempatan kepada pasien atau ibu pasien untuk menelusur latar belakang penyakit. Dalam buku ini diceritakan, misal untuk penyakit panas, pasien akan diberikan oleh antibiotic dan obat pereda sakit yang bersangkutan (misal batuk atau flu). Ketika beberapa hari kemudian  anak belum sembuh, dokter akan meminta pasien datang lagi dan akan diberi obat lagi. Banyak kasus terjadi, pasien terkesan dijadikan kelinci percobaan.

Dokter bukan penemu obat, dokter hanya akan mengaitkan gejala yang diderita pasiennya dengan pengetahuan suatu obat yang didapatnya dari sang penemu obat. Dokter akan memilihkan obat yang lain untuk dicobakan kembali kepada pasien. Jika belum sembuh, maka dokter akan mengganti dengan obat yang lain lagi, demikian seterusnya. (hal. 37)

Antibiotik, yang sering diberikan ke dokter, atau malah disimpan di kotak obat di rumah untuk diberikan kepada anak jika sewaktu-waktu perlu, ternyata memiliki banyak efek. Antibiotik disamping menyembuhkan juga dapat merugikan. Bisa jadi obat yang diberikan kepada anak dalam jangka waktu yang lama tidak menyembuhkan penyakit tetapi justru melemahkan ketahanan tubuhnya. (hal.11).  Pada dasarnya antibiotik hanya efektif membunuh bakteri atau kuman. Jika digunakan pada anak-anak yang menderita demam ataupun sakit lain yang disebabkan oleh virus, maka antibiotik berakibat fatal. Bakteri baik yang semestinya berfungsi membantu tubuh malah ikut terbunuh. (hal. 16). Nah, penyakit yang disebabkan oleh virus tapi diberi antibiotik, tentu tidak tepat sasaran. Dalam buku ini penulis memberikan penjelasan mengenai efek samping dari obat, khususnya antibiotik. Informatif sekali! 😀

Yang paling penting adalah ibu harus tahu latar belakang penyebab penyakit, apakah karena bakteri atau virus agar tepat penangannya.

Jadi, apakah sebaiknya kita tak perlu ke dokter?

Perlu! Tapi janganlah mengunjungi dokter dengan tujuan mencari obat tapi mencari jawaban atas pertanyaan “Anak saya sakit apa? Apa yang menyebabkannya? Bagaimana penyebaran penyakit tersebut sehingga bisa menyerang anak saya?” (hal. 58).  Kita jangan begitu saja menerima apa yang dituliskan dokter dalam resepnya. Sebaiknya kita tahu obat apa saja yang diberikan, cara kerja, efek samping, dan bila perlu harga obat tersebut. (hal. 53)

Meskipun buku ini bukan ditulis oleh dokter atau ahli kesehatan, namun buku ini cukup lengkap memaparkan tentang latar belakang beragam  penyakit yang sering diderita oleh  anak dan penangannya. Buku ini ditulis  berdasarkan pengalaman penulis sebagai ibu dan  dari berbagai pengetahuan kesehatan yang didapat dari berbagai sumber (buku, artikel di internet).

Buku ini lebih menekankan pada pencegahan sebuah penyakit.  Ada fakta bahwa sebenarnya sebagian besar penyakit disebabkan karena makanan yang masuk ke tubuh (hal. 45) jadi  penulis banyak memeberikan tips pencegahan dan penanganan penyakit dengan memberikan makanan yang tepat.  Apa saja makanan yang sehat dan tidak sehat untuk anak dijabarkan lengkap oleh penulis. Buku ini dilengkapi dengan menu-menu makanan sehat, baik buah sebagai food therapy maupun menu makanan penunjang. Komplet! Selain menu makanan, pelengkap yang lain dari buku ini adalah akupresur (teknik pemijatan dengan menggunakan jari-jari tangan pada titi-titik tertentu pada tubuh) menyehatkan bagi anak. Ada manfaat, cara, dan foto yang menyertai bab akupresur.

Buku ini sangat memadai untuk dimiliki para ibu. Sebagai ibu yang memiliki balita, saya seperti dikuatkan oleh penulis.  Bahwa menghadapi anak yang sakit kita tak perlu panik dan khawatir berlebihan.  Penyakit pasti berlalu, tanpa obat tanpa dokter, bisa!

 

Resensi ini diikutsertakan pada campaign #AkuCintaBuku bersama Stiletto Book  dan Riawani Elyta 

 

 

[Review] Play and Learn

13183184_10205914283568553_1430820694_n

Judul                           : Play and Learn

Penulis                        : dr. Meta Hanindita,Sp.A.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :  Mei 2015

Tebal                           :  194 hlm.

ISBN                            : 978-602-7572-39-3

 

Mendidik anak lewat aneka permainan yang menyenangkan diperkenalkan oleh seorang ibu sekaligus dokter, dr. Meta Hanindita,Sp.A. Bermain  selain bisa menjadi stimulasi untuk tumbuh kembang anak, juga bisa menjadi bonding time untuk ibu dan anak. Bermain dapat membantu anak mempelajari interkasi sosial, gerak motoric, sampai daya pikir kognitifnya, sehingga bermain dibutuhkan untuk perkembangan yang sehat untuk anak. (hal.8).

Permainan yang dimaksud tentu saja bukan permainan instan seperti yang anak-anak kenal saat ini lewat gadget.  Di era digital yang semakin pesat ini, anak-anak, balita sekalipun telah akrab dengan gadget.  Tantangan orang tua jaman sekarang dalam  mendidik anak adalah budaya instan yang salah satunya diperkenalkan oleh gadget.  Padahal, efek gadget untuk anak balita kurang bagus untuk mendukung tumbuh kembangnya. Anak yang menghabiskan waktu bermain dengan gadget, tidak terlatih fisiknya secara aktif, dan terbukti kurang memiliki daya imajinasi dibanding mereka yang bermain tanpa gadget. (hal. 8—9).

Buku ini menjawab tantangan tersebut.  Dibagi menjadi dua bagian besar yaitu Learning by Doing dan  Let’s Play, selanjutnya buku ini dibagi dalam bab-bab yang sistematis. Dalam bab pertama, materi parenting disajikan antara lain lewat sharing pengalaman penulis dalam mendidik putrinya yang masih berusia 4 tahun.

Untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal, seorang anak membutuhkan pemenuhan tiga kebutuhan. Pertama, kebutuhan fisik (asuh) seperti nutrisi yang baik, lingkungan yang sehat, pakaian yang baik, sampai imunisasi.  Kedua, emosi (asih) yang dipenuhi melalui perhatian, kasih sayang (pelukan dan ciuman), serta suasana rumah yang damai dan nyaman. Ketiga, stimulasi mental atau akal (asah), berguna untuk membentuk karakter, kecerdasan, moral, nilai agama, serta kemandirian. (hal.18)

Semakin anak tumbuh, pendidikan karakter begitu penting ditanamkan. Pendidikan karakter  bisa ditumbuhkan lewat pembiasaan dan aneka permainan.  Permainan sederhana misalnya role play (bermain peran). Dengan bermain peran, anak bisa meningkatkan kemampuan berbicara, menambah kosakata, bekerja sama dengan orang lain, serta melatih kesabaran, dan berinterkasi. Ambil contoh saat anak bermain jual-jualan. Anak tidak hanya belajar mengenai angka dari jumlah barang yang dibeli atau uang yang dibayar, namun anak juga belajar bahwa setiap barang di toko ada harganya sehingga ia akan mengerti kalau ada barang yang diinginkan, ada proses untuk mendapatkannya.  Bukan hanya didapat dengan asal tunjuk (hal.35).

Jenis permainan  lain berupa  aktivitas yang bisa diciptakan oleh orang tua untuk membuat anak sibuk bermain.. Aktivitas tersebut tidak mahal dan bahan-bahannya mudah didapat, bahkan memanfaatkan barang-barang bekas di rumah. Orang tua bisa membuat sebuah buku yang disebut  busy book. Buku ini akan membuat anak senang bermain sembari belajar berhitung, mengikat tali sepatu, mengenalkan waktu, mengenal warna, mengelompokan benda, d.l.l.  Beragam aktivitas bermain dalam buku ini sangat gamblang digambarkan  dengan deskripsi bahan, langkah-langkah membuatnya, manfaat aktivitas dari berbagai aspek (kognitif, afektif, dan motorik), dan dilengkapi foto berwarna.  Aktivitas bermain tersebut diperkenalkan oleh dr. Meta untuk menstimulasi anak selalu gembira, cerdas, dan mandiri. Busy book  bukan hanya mengajak anak asyik bermain di rumah, namun dimanapun ia berada sebab buku tersebut bisa dibawa kemanapun anak pergi.

Orang tua bisa mendapatkan beragam inspirasi dalam mendidik anak dari buku ini. Tak hanya memahami tumbuh kembang anak, mendapatkan solusi dan tips dari permasalahan yang sering dihadapi,  orang tua juga diajak menjadi sosok yang kreatif dan smart.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Review] Broken Vow, Membebaskan Hati untuk Bahagia

13052440_10205794354250395_1122596870_o

Judul                           : Broken Vow

Penulis                        : Yuris Afrizal.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :  II, Januari 2016

Tebal                           :  271 hlm.

ISBN                           : 978-602-7572-41-6

 

 

Amara, Nadya, dan Irena adalah tiga sahabat dengan karir mapan. Mereka berkumpul dalam pesta pernikahan Nadya. Nadya menikah hanya untuk memenuhi tuntutan orang tua dan pertanyaan-pertanyaan yang menganggunya. Ia menikah secara terpaksa, dengan sahabat yang dimintanya menjadi suami. Dion seorang fotografer yang menanjak karirnya begitu mencintai Nadya meskipun ia tahu Nadya belum mencintai dirinya.

Nadya  pernah menjalin hubungan dengan Leo namun tanpa kejelasan status setelah Leo memutuskan bekerja di Prancis. Ada kerinduan terhadap sosok Leo. Hal ini menimbulkan konflik batin dalam dirinya. Pernikahan yang pada awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah dengan orang tua, malah membuat ia stress.

“Atau mungkin aku tambah stress? Menikah sama sekali tidak membantu mengurangi stressku ini. Mungkin karena aku menikah bukan dengan seseorang yang aku mau, bukan dengan orang yang aku inginkan, dan bukan dengan orang yang aku cintai.” (hal.42)

Tanpa rencana, Nadya hamil. Ia  mulai membenci situasi tersebut, kerap  menyesali pernikahan dan kehamilannya.  Beberapa kali konflik hati tersebut menyulut perang mulut dengan Dion.

Semakin besar kehamilannya, diam-diam Nadya mulai menerima sosok Dion. Begitupun Dion secara rahasia  menyiapkan apartemen yang lebih luas untuk Nadya dan calon bayinya. Namun di hari ketika Dion memberi kejutan apartemen tersebut, Leo kembali. Ia meminta bertemu dengan Nadya,  merengek-rengek memohon  kembali padanya. Adegan yang dipaksakan oleh Leo di depan apartemen Dion membuat Dion salah sangka.

Kata cerai tercetus dari mulut Dion karena kejadian yang hanya sepotong dilihatnya.  Nadya hanya menunggu waktu hingga kelahiran bayinya tiba untuk menjadi seorang janda.

Sementara itu pernikahan Nadya membuat Amara mengingat awal perkenalannya dengan Nathan Adiwinata, seorang Don Juan, putra pemilik kerajaan bisnis nomer lima di Indonesia. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama pada pesta tahun baru di sebuah hotel berbintang.  Nathan memandang Amara berbeda dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya. Hanya Amara yang berani menolak ajakannya. Nathan pun melabuhkan cintanya pada Amara.

“Ibu Nathan, sang nyonya besar merasa aku telah mengubah Nathan, membuatnya menjadi anak baik-baik. Nathan  yang suka main wanita, Nathan yang sering mabuk, dan Nathan yang suka menghambur-hamburkan uang. Katanya, saat denganku Nathan berubah. Sejak bertemu denganku, dia menjadi berbeda dan begitu patuh pada orangtuanya.” (hal. 25)

Kebahagiaan Amara bersanding dengan Don Juan tidak lama. Bukti-bukti mengarah pada perselingkuhan Nathan. Amara memiliki Irene dan Nadya sebagai sebagai sahabat berbagi cerita, namun ia ragu untuk menceritakan masalahnya. Takut hanya akan ditertawakan, Amara memilih Xanax, obat yang bisa mengurangi rasa sakit sebagai penawar penderitaannya.

“Aku butuh sahabat-sahabatku. Tapi rasa gengsiku mengalahkan semuanya. Aku terlalu malu menghubugi mereka. Aku tidak mau ada belas kasihan dari siapapun.” (hal. 201).

Tak kalah rumitnya masalah yang menimpa Irena, si superwoman yang memiliki karir menanjak sekaligus menjadi ibu rumah tangga.  Lelah dengan peran yang dilakoni dan melihat anak-anaknya tidak terurus membuat Irena memutuskan berhenti berkerja untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. Saat Irena mengutarakan rencananya untuk berhenti bekerja, Juna, suaminya justru mencegahnya. Keanehan mulai dirasakan ketika Juna kerap berada di rumah dan sikapnya mulai emosional.

Kekerasan demi kekerasan menimpa Irena. Belakangan diketahui bahwa Juna dipecat dari bank tempatnya bekerja karena korupsi. Dalang semuanya adalah  Arlan, adik Juna yang selalu merusuhi  keuangan keluarga Irena.

Kondisi ini membuat keluarga Irena berantakan. KDRT yang dialami Irena membuat sahabat-sahabatnya berpikiran bahwa sudah saatnya Irena mengakhiri rantai kekerasan itu. Namun, titik ini justru membuat hubungan ketiganya retak. Semua masukan dari sahabatnya membuat Irena malah balik menyerang mereka berdua, mencerca  dengan masalah-masalah yang dialami masing-masing sahabatnya.

Kompleks. Novel ini mengetengahkan masalah-masalah yang jamak dialami perempuan di dunia pernikahan.  Di ceritakan dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh, pembaca bisa menyelami dunia batin dan perasaan masing-masing tokoh.

Ada persahabatan dengan segala lika-liku serta rasa iri yang diam-diam mewarnai hubungan tersebut. Tiga sahabat ini berhasil melewati semua proses yang pada akhirnya membebaskan hati dari belenggu konflik.  Memilih untuk bahagia, adalah satu hal penting yang disampaikan novel ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Review Jejak Kaki Misterius

13020514_10205759500499073_278865681_n

Sesuai dengan judulnya, kelima belas cerpen dalam buku Jejak Kaki Misterius memiliki satu benang merah: misteri. Meskipun  misteri dalam buku ini tidak semuanya mengenai penyelidikan sebuah kasus, namun secara keseluruhan  pembaca khususnya anak-anak, akan dipenuhi rasa penasaran sepanjang membaca buku.

Cerpen yang pertama merupakan cerpen yang dijadikan judul buku: Jejak Kaki Misterius karya Riawani Elyta.  Ceritanya tentang kakak adik Daffa dan Anto yang menemukan bekas tapak-tapak kaki mencurigakan di sepanjang jalan samping rumah mereka. Beberapa hari mereka dibuat penasaran oleh pemilik tapak kaki yang besarnya tidak sama antara kanan dan kiri itu. Mereka memutuskan menyelidiki ala detektif.

Ketika hari Minggu seharian mereka mengintai namun tak membuahkan hasil, hari berikutnya mereka memutuskan tidak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Hampir  putus harapan karena hingga sore tidak muncul juga yang diburu, akhirnya rasa penasaran mereka terjawab.  Penyelidikan yang berakhir tidak serta merta mengakhiri cerita. Mereka terkejut mengetahui siapa pemilik jejak itu, terlebih setelah mengenal sosoknya. Tidak sekedar menuntaskan penyilidikan, kedua tokoh menunjukan akhlak mulia yang bisa dijadikan teladan oleh anak-anak.  “Menolong orang bisa membuat hati jadi lega. “(hal.12)

Pesan moral tersebut sesuai dengan label buku, seri pendidikan akhlak untuk anak. Hal ini terlihat pula dalam cerpen Misteri Matinya Ikan di Kolam Nino karya Pujia Achmad. Nino tak hanya memcahkan misteri matinya ikan-ikan milik ayahnya, namun juga menemukan sebuah solusi dari permasalahan yang melatarbelakangi misteri itu. Kemuliaan akhlak tokoh-tokoh di dalamnya memberi teladan kepada anak-anak dalam pembentukan karakter.

Petualangan yang seru dan menegangkan ditawarkan oleh cerpen Kebun Misterius, karya Pujia Achmad. Penemuan sebuah buntelan misterius mengantar Iwan dan Adit pada penjelajahan sebuah bukit yang dianggap angker oleh masyarakat sekitar. Bahaya mengancam mereka. Ketika sebuah kejutan berada di depan mata, penemuan akan sebuah ladang terlarang, seorang bergolok menangkap dan menyekap mereka di sebuah rumah di tengah-tengah ladang itu. Adit dan Iwan tidak gentar. Berusahan melawan rasa takut dan berusaha memutar otak menemukan jalan keluar, mereka berdua  justru berhasil membongkar kedok gerombolan yang menangkap mereka.

Cerita dengan motif sejenis bisa ditemukan dalam Misteri Rumah Kosong karya Anik Nuraeni. Seru dan menegangkan.

Ada pula cerita misteri yang temanya bukan tentang penyelidikan. Ketika Ban Sepeda Rasad Pecah karya Dian Onasis unik idenya. Siapa sangka ban sepeda yang pecah membuat Rasad menemukan  jawaban atas misteri hutan bambu kuning yang selalu memunculkan suara yang menyeramkan.

Cerpen-cerpen dalam buku ini menyodorkan tema-tema unik dan tema-tema sederhana namun menjadi cerita luar biasa. Penulis-penulisnya membuktikan bahwa sebuah tema sederhana sekalipun jika diolah dengan apik bisa menjadi cerita yang mengesankan bagi anak-anak, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan keteladanan. Bagi saya, buku ini memberi banyak pelajaran menulis, terutama tentang ide-ide luar biasa yang diolah para penulisnya menjadi cerita yang mengalir.

Oiya, di postingan giveaway buku ini saya menyebut tiga judul yang paling membuat penasaran. Benar saja, memang  cerpen-cerpen  yang membuat saya penasaran seru ceritanya.

Buku-Buku di 2015

Saya suka tampilan My Year 2015 in Books di Goodreads . Saya tidak hanya bisa melihat buku-buku yang berhasil saya tuntaskan namun juga total halaman, rata-rata, rating tertinggi, dan buku populer dan tidak yang saya baca. Berikut tampilannya:

Untitled

gr 2

gr 3

 

gr 4

gr 5

gr 6

gr 7

Tahun 2015 saya memasang tantangan 40 buku di goodreads gara-gara tahun sebelumnya tuntas 40 buku. Nyatanya saya hanya bisa menyelesaikan 24 buku, jauh banget (entah mengapa 1 buku, Sekali Peristiwa di Banten Selatan-Pramoedya Ananta Toer- fotonya tidak tampil) . Tidak semua buku yang saya baca koleksi pribadi. Banyak diantaranya saya pinjam dari perpustakaan. Alhamdulillah ada 4 buku yang saya dapatkan gratis:

  1. Perempuan yang Menggetarkan Surga, saya dapatkan dari Bentang karena menang salah satu cermin
  2. Koala Kumal, GA dari Luckty Giyan di WordPress
  3. Sunshine Becomes You, menang kuis dari Binta Al Mamba di FB
  4. Rust in Pieces, GA dari Goodreads

Semoga tahun ini buku yang terbaca makin banyak dan makin beragam, amin 🙂

Inspirasi dari Kota Literasi Surabaya

          Beruntung sekali saya berkesempatan menghadiri acara Sosialisasi Literasi bertajuk Membumikan Membaca di Kota Magelang yang diadakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Fakulatas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Tidar Magelang, 2 Desember 2014 lalu. Pembicara kali itu spesial, pakar literasi dari Surabaya. Beliau adalah Ketua Ikatan Guru Indonesia wilayah Jawa Timur, Bapak Satria Darma.

          Keberuntungan yang lain adalah, nggak sengaja, karena tempat duduk di sebelah saya kosong, seorang ibu cantik mendekati dan duduk di samping saya. Beliau istri bapak Satria Darma. Jadi saya bisa sesekali ngobrol sembari mendengarkan paparan pak Satria Darma. “Hiasan di rumah saya ya buku,” ujar Ibu Satria Darma memulai obrolan kecil kami.

         Sementara itu Bapak Satria Darma memulai paparannya dengan pertanyaan besar: Seberapa pentingkah literasi itu? Apa bukti bahwa literasi itu sangat penting? Bapak Satria Darma mengutip pendapat beberapa tokoh penting dunia.

“Membaca adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca pendidikan akan mati.” (Dr.Roger Ferr) “Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.” (Glenn Doman) “Jadi literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil di sekolah dan kehidupan selanjutnya.”(Rod Welford, Mendikbud Queensland)

            Tak kalah pentingnya adalah bahwa surat pertama yang turun kepada nabi Muhammad SAW dari Allah adalah Al-Alaq 1—5. Ayat pertama yang turun adalah perintah untuk membaca. Nabi Muhhamad, rasul terakhir dan penutup yang diutus Tuhan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk masyarakat Quraisy saat itu. Ajarannya  untuk membangun peradaban dan kesejahteraan seluruh alam semesta. Perintah membaca ditujukan kepada semua umat manusia karena kemampuan literasi adalah syarat utama untuk membangun peradaban. Kemampuan literasi adalah kunci dari ilmu pengetahuan.

               Ada kisah dari perang Badar yang disampaikan beliau sebagai bukti pentingnya literasi di jaman nabi. Nabi Muhammad membuat sebuah kebijakan yang sangat tidak lazim. Nabi tidak meminta tebusan dari tawanan yang jumlahnya 70 orang. Tebusan tawanan berkisar antara 1.000—4.000 dirham/orang. Namun nabi meminta ganti yang lebih berharga dari harta. Rasulullah melepaskan para tawanan kaum Quraisy yang pandai baca tulis dengan menebus dirinya dengan mengajarkan tulis baca kepada 10 orang anak Madinah.

          Begitu pentingnya literasi terbukti kejayaan Islam tidak lepas dari budaya tersebut. Zaman kejayaan Islam adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di dunia Islam menghasilkan kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Peradaban Islam tak hanya melahirkan generasi yang mumpuni di bidang keagamaan tapi juga berbagai ilmu pengetahuan.  Beberapa ilmuwan Islam tersebut antara lain Ibnu Rusd (Averros), Ibnu Sina (Avicena), Al-Biruni, Muhammad Ibn Musa Al-Kharizmi, dan Nizam Al Mulk. Setelah memaparkan pengantar pentingnya literasi, bapak Satria Darma memberikan gambaran tentang budaya baca di Indonesia yang masih rendah, khususnya di kalangan pelajar. Untuk itu beliau berkeliling ke beberapa kota di Indonenesia untuk mensosialisasikan Gerakan Membaca.

           Beberapa program litrasi yang bisa dilakukan di sekolah antara lain sustained silent reading, perpustakaan kelas, tantangan membaca, dan menerbitkan kumpulan cerpen dan puisi siswa. Beliau membawa insiprasi dari kota Surabaya. Seluruh sekolah di Surabaya, dari SD hingga SMU  sudah menerapkan program tersebut.

             “Seluruh sekolah sudah ditaken kontrak oleh walikota, Ibu Risma,” ujar Ibu Satria Darma kepada saya. Jadi seluruh kepala sekolah di Surabaya memang dikumpulkan untuk taken kontrak menjalankan program Gerakan Budaya Literasi.

          “Untuk menjalankan program tersebut tidak butuh dana. Yang penting adalah kemauan dari sekolah dan kerja sama dengan wali murid.” Lanjut beliau. Tentu saja, yang pertama kali dilakukan adalah sosialisasi dari sekolah kepada wali murid. Menurut beliau, tidak sulit meminta orang tua membelikan satu buku untuk anaknya. Kalau tiap anak di sekolah membawa satu buku ke sekolah, sudah berapa buku yang bisa dibaca siswa. Mereka bisa bertukar buku.

               Dua sekolah yang dijadikan contoh oleh Bapak Satria Darma dalam acara tersebut adalah SMAN 5 dan SMAN 21 Surabaya. SMAN 5 punya priogram membaca rutin antara lain: -Siswa diwajibkan membeli buku bacaan (novel) -Siswa membaca setiap hari (silent reading) pada awal jam sekolah (15 menit sebelum jam ke-1). Kegiatan ini dikoordinir oleh kelas dan diawasi oleh guru. -Setiap selesai membaca siswa diwajibkan menuliskan buku, judul, pengarang, dan penerbit serta membuat sinopsis dari buku yang dibaca. -Buku yang telah dibaca akan disumbangkan ke perpsutakaan.

             Target dan jumlah buku yang dibaca oleh siswa SMAN 5 bulan Juli—Agustus 2012 adalah setiap anak dalam 1 bulan membaca 2 buku dan satu sekolah membaca 3000 buku setiap tahun. Jumlah keseluruhan buku yang terbaca adalah 1.851 buku dalam jangkan waktu 2 bulan. Waw… bukan?

        Tak kalah menarik adalah fenomena yang terjadi di SMA 21 Surabaya. Sekolah tersebut mengadakan lomba perpustakaan kelas bekerja sama dengan Baperpusip Kota Surabaya. Kelas yang menang akan mendapatkan hadiah dari Baperpusip Kota Surabaya. Penilaian pada jumlah dan jenis koleksi, pengorganisasian buku, susunan pengurus, program baca buku, pengorganisasian peminjaman dan hasil baca buku, keindahan, dll. Buku yang dilombakan adalah buku siswa-siswa sendiri, bukan buku perpustakaan sekolah.

           Tantangan membaca seperti di Goodreads.com juga berlaku di Surabaya. Setiap siswa SMALA Surabaya ditantang membaca 12 buku sastra dari Juli 2014—1 Maret 2015. Sekolah berkerja sama dengan UNAIR dan UNESA dalam menyediakan daftar Wajib Baca buku sastra. Sekolah bekerja sama dengan komite sekolah akan menyediakan buku Wajib Baca tersebut. Siswa yang berhasil menyelesaikan tantangan akan mendapatkan sertifikat “Reading Award” dari Walikota Surabaya.

           Waw, saya membayangkan, kalau setiap kota di Indonesia memiliki walikota inspiratif seperti Bu Risma, masa depan negeri ini tentu akan semakin maju peradabannya.

Mengikuti Jejak

          Paparan dari Bapak Satria Darma berhasil menggugah saya. Ingin sekali saya mempraktikan apa yang sudah terlaksana di Surabaya dari kelas saya sendiri. Ketika menjadi wali kelas VA di sebuah sekolah swasta di desa Grabag tempat tinggal saya,di tahun 2012 ,saya pernah mewajibkan anak membaca buku untuk dilaporkan. Karena buku perpustakaan sekolah tidak bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut, maka saya mengeluarkan koleksi buku saya untuk dipinjam anak-anak. Sayangnya, program tersebut hanya berjalan satu putaran karena kendala koleksi buku. Permasalahan tersebut saya sampaikan dalam forum. Solusinya adalah seperti yang sudah disampaikan di atas, setiap anak membawa satu buku. Ibu Satria Darma menguatkan saya, cobalah, orang tua pasti tidak keberatan memebelikan anaknya satu buku.

         Maka pada pertengahan Desember lalu, selesai anak-anak melaksanakan Ujian Akhir Semester, saya meluncurkan program Tantangan Membaca. Untuk memberi contoh pada anak-anak agar membawa buku, saya membawa setumpuk buku koleksi dari rumah. Anak-anak terlihat antusias melihat saya membawa setumpuk buku.

         Untuk mendukung program tersebut, saya membagikan Kartu Tantangan Membaca yang berisi judul buku, nama pengarang, penerbit, tahun, bintang, tanggal memulai dan selesai memabaca. Siswa di kelas VA yang berhasil mencapai jumlah buku tertinggi akan saya beri hadiah buku yang jenisnya bisa memilih sendiri. Saya juga berangan-angan akan memeberikan sertifikat yang ditandatangani kepala sekolah.

       Beragam reaksi yang saya dapatkan di hari saya meluncurkan program tersebut. Umumnya anak-anak antusias dan terlihat bersemangat.

           “Bu, saya tidak suka membaca,” ungkap Yoga kepada saya.

           “Nanti mas Yoga akan Bu Guru paksa jadi suka membaca,” jawab saya sembari tertawa.

         “Tapi saya nggak punya buku Bu,” lanjut Yoga. Ucapan serupa keluar dari beberapa siswa. Saya masih memaklumi, tidak apa-apa ujar saya kepada mereka. Untuk langkah pertama, saya akan mencobanya pelan-pelan.

        Saya tidak membutuhkan jeda hari untuk melihat hasilnya. Luar biasa, di hari yang sama, anak-anak sudah mengisi kartu mereka. Mereka yang belum paham yang mana penulis, penerbit, tahun terbit dalam buku yang mereka baca ribut menanyakan kepada saya. Wah, saya sampai geli campur gembira menaggapinya.

Image5615Image5618Image5619

Image5617

                                                                   kartu tantangan membaca

                  Semakin hari saya kian berbahagia melihat semangat mereka.

            “Bu, saya bawa buku sekarang,” kata Yoga dua hari kemudian. Saya yakin ia termotivasi, kepengen melihat teman-temannya membawa buku di hari sebelumnya.

                 “Saya bawa dua bu, beli di 39 pulang sekolah,” lanjut Yoga ketika saya tanya beli di mana.

                  Hari berikutnya, ia juga laporan kalau beli buku lagi. “Beli di Indo Maret Bu.“

               Wah… wah… semoga semangat mas Yoga terus menyala beli bukunya. Begitu pula semangat teman-teman yang lain untuk memenangkan tantangan membaca. Saya yakin, bermula dari tantangan, lama-lama hal tersebut akan menjadi kebiasaan ketika anak sudah merasakan asyiknya membaca, serunya isi bacaan dari buku di hadapan mereka. Setiap saya masuk kelas, anak-anak sedang terlihat khusyuk membaca buku. Good…. :D. Harapan selanjutnya, sekolah saya akan menerapkan juga program tersebut.

Image5609

asyik membaca ketika saya masuk kelas

 Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca

banner baru giveaway untuk blog

Waktu Demi Waktu

the hoursKalau baca The Hours karya Michael Cunningham pasti tak mau berhenti,pengen lanjut lanjut dan lanjut. Yang pernah nonton filmnya pasti tahu [hiks,belum nonton!]. Film yang dibintangi oleh Nicole Kidman,Meryl Streep,dan Julianne Moore itu meraih Piala Oscar (Academy Award) dan Golden Globe. Sedangkan novelnya sendiri memenangkan Pulitzer Prize untuk fiksi 1999 dan PEN/Faulkner Award 1999, dan GLBT Award.

Novel itu berbicara tentang suara 3 wanita 3 zaman,waktu demi waktu:Virginia Wolf,Laura Brown,dan Clarissa Vaughan(Mrs.Dalloway). Cunningham menggambarkan ketiga tokoh itu seakurat mungkin. Tak main-main sebab ia mengambil sejumlah sumber diantaranya biografi dan diary Virginia Wolf.

Penerjemahan novel itu memuaskan sebab bahasanya indah,mengajak pembaca menjelajahi pikiran dan perasaan wanita,yang paling pribadi sekalipun. Saya mendapati berbagai lintasan pikiran dan perasaan tiga wanita itu sering saya alami. Apakah memang seperti itu perempuan berpikir? Apakah memang seperti itu perempuan merasa?

*foto dari google

Menikmati 3 Cangkir Teh dari Korphe, Yukkkk…

[Catatan ini boleh dibilang sudah usang. Buku yang saya bicarakan pun bukan buku keluaran anyar, meskipun saya menulis catatan ini begitu selesai membacanya Agustus tahun lalu, hanya saja tersimpan tak tersentuh-daripada mubazir saya posting aja sekarang-. Nggak papalah, semoga tetap bermanfaat, syukur-syukur bisa jadi bahan pertimbangan teman-teman seandainya nemu buku ini di toko buku atau perpustakaan. Selamat menikmati 3 cangkir teh…]

Judul buku : Three Cups of Tea
Penulis : Greg Mortenson dan David Oliver Relin
Penerjemah : Dian Guci
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan : September 2008 (cet.1)
Tebal : 630 hlm.

“Di Pakistan dan Afganistan, kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis;pada cangkir pertama engkau masih orang asing, cangkir kedua engkau teman;dan cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap berbuat apapun-bahkan untuk mati-“ ungkap Haji Ali, kepala desa Korphe, pegunungan Karakoram, Pakistan.

Greg Mortenson meskipun seorang angrezi, orang kulit putih asing, namun ia sudah termasuk yang terakhir di mata keluarga Haji Ali, bahkan di lingkungan warga desa. Pendaki gunung asal Amerika itu pada mulanya gagal ketika menaklukan puncak gunung tertinggi ke-2 sedunia di Himalaya. Setelah tersesat, mengalami keletiahan luar biasa, dan berjalan kaki tertatih-tatih turun gunung selama 7 hari, ia sampai di desa Korphe. Di rumah Haji Ali, Mortenson dirawat dengan penuh perhatian dan diperlakukan teramat istimewa.
Selama tinggal di Korphe, ia mendapati bagaimana anak-anak bersekolah. Begitu memprihatinkan. Karenanya, timbul niat di hatinya untuk mendirikan sekolah. Janjinya ia ungkapkan kepada Haji Ali. Bagaimana ‘petualangan’ Mortenson dalam memenuhi janji tersebut disajikan dengan gamblang dalam buku ini. Tak hanya di Korphe, selama dekade berikutnya Mortenson membangun puluhan sekolah, terutama untuk anak-anak perempuan di Pakistan dan Afganistan. Usahanya mengharuskan ia bolak-balik Amerika—Pakistan&Afganistan dan rela meninggalkan keluarganya.

Dalam perjalanannya, Mortenson punya alasan lebih untuk mendirikan sekolah di daerah lahirnya Taliban tersebut, terlebih setelah peristiwa 11/9: tidak saja memerangi kebodahan tapi juga terorisme. Menurutnya, terorisme tidak terjadi lantaran segelintir orang di suatu tempat seperti Pakistan dan Afganistan tahu-tahu memutuskan membenci Amerika. Hal ini terjadi karena anak-anak tidak ditawari masa depan yang cukup baik agar mereka memilki alasan untuk hidup daripada mati.
Selain alasan tersebut, Greg Mortenson merasa sangat gelisah dengan pembangunan masdrasah-madrasah Wahabi. Dalam buku berjudul Taliban yang ditulis Ahmed Rashid,wartawan yang berbasis di Lahore, dipaparkan bahwa murid-murid dari madrasah ini adalah mereka yang tidak memiliki akar dan gelisah, pengangguran, serta secara ekonomi kekurangan, dan sangat sedikit atau bahkan sama sekali tidak memiliki pengetahuan umum. Mereka menyukai perang karena perang adalah satu-satunya lapangan pekerjaan yang sesuai untuk mereka. (hal 455—456)

Kerja keras selama satu dekade, membuat tercengang seorang mantan editor majalah Outside, Kevin Fedarko, suatu pagi. Fedarko datang bersama Mortenson ke Korphe untuk melaporkan sebuah cerita yang ingin diterbitkannya dalam Outside berjudul “The Coldest War”. Suatu yang jauh di luar kebiasaan terjadi di desa Korphe. Seorang gadis penuh rasa percaya diri menyeruak masuk ke arena rapat desa. Dia langung bergabung,melewati sekitar 30 pria yang tengah bersila di atas bantal seraya menyerutup the, menghadap Greg Moretenson. Jehan, gadis cantik itu menginterupsi rapat tetua desa dan langsung berbicara kepada Mortenson untuk menagih sebuah janji, janji untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter.

Sangat beralasan bila jurnalis itu menganggap kejadian yang dilihatnya sangat luar biasa. Di sebuah kampong Islam konservatif, gadis itu telah mendobrak 16 lapis tradisi sekaligus. Dia telah lulus sekolah, merupakan wanita terdidik pertama di lembah Braldu berpenghuni tiga ribu jiwa. Ia tanpa takut-takut masuk di tengah-tengah lingkaran pria, duduk di hadapan Greg Mortenson dan memberikan hasil pelajarannya yang paling revolusioner: sebuah proposal yang ditulis dalam bahasa Inggris, untuk memperbaiki kehidupannya dan kehidupan masyarakat desanya.

Greg Mortenson dan kisahnya memberikan inspirasi bagi misi kemanusiaan. Buku ini menjadi buku terlaris New York Times. Petualangan di pekarangan Taliban itu dipaparkan dengan detail sehingga pembaca bisa memperoleh wawasan mengenai kebudayaan dua negara tersebut. Gambaran mengenai tokoh-tokoh pendukung misi Mortenson semakin nyata dengan sisipan beberapa foto. Hanya satu hal yang kadang membuat saya terganggu ketika membaca yaitu perpindahan situasi dalam ruang dan waktu yang sangat tiba-tiba sehingga seperti dipaksa meloncat begitu jauh. Namun selebihnya, Three Cup of Tea is inspiring book.

Mgl, 23 Agustus 2009. 23:00.

Torey Heyden, Pertama Mengenalnya…

Mereka Bukan Anakku mengisahkan pengalaman Torey Heyden, seorang ahli psikologi anak dalam menangani empat siswa bermasalah di kelas pendampingan. Siswa pertama adalah Lori, gadis cilik yang menderita kerusakan otak akibat penyiksaan yang diterima dari orang tuanya. Lori mengalami kesulitan membaca yang sangat parah. Beruntung ia dan saudara kembarnya kemudian mendapatkan orang tua angkat yang sangat baik. Kedua, Boo, laki-laki kecil keturunan negro, penderita Autis. Selain mengalami kesulitan berbicara Boo suka berputar-putar di kelas sembari melepas pakaian yang dikenakannya selapis demi selapis. Siswa ketiga ialah Tomaso, siswa super brutal akibat kekerasan kedua orang tua yang sering dilihatnya. Ayahnya meninggal secara mengenaskan di depan matanya. Kematian ayahnya membawa Tomaso berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain. Malangnya, Tomaso tak pernah mendapatkan keteduhan dari keluarga yang mengasuhnya. Ia tak pernah memiliki figur seorang ayah. Dampaknya begitu luar biasa, Tomaso hidup dalam imaji bahwa ayahnya masih ada.Siswa terakhir adalah Claudia, gadis 12 tahun yang hamil di luar nikah. Permasalahan tentu akan muncul ketika ia melahirkan bayinya.
Teramat rumit menghadapi empat siswa bermasalah itu, namun karena sudah menjadi bagian dari hidup Torey, dia curahkan segenap dirinya untuk anak-anak itu. Berbagai konflik dengan keempat anak itu, sesama guru, maupun dengan kekasihnya menjadi keseharian Torey. Dia kerap bertengkar denga kekasihnya, Joc, karena menurut Joc hidup Torey terlalu dibayangi anak-anak. Begitu lekat dunia anak didik dengan hidupnya hingga konflik dengan Joc berakhir dengan perpisahan.

Mata saya terbuka membaca novel itu, saya yang sering mengeluh menghadapi anak-anak banyak belajar dari Torey: bahwa memang seperti itulah dunia pendidikan anak dengan segala corak persoalannya. Pengalamanku tak ada apa-apanya dibanding pengalaman Torey, begitu pikir saya selalu sepanjang baca. Beragam konflik batin sebagai seorang pendidik saya temukan dalam buku ini, begitu dekat dengan dunia yang sedang saya hadapi. Dari Torey saya banyak bercermin dan berusaha menguatkan diri, menemukan saya dan dunia saya. Saya suka novel ini. Komentar saya setelah membaca: kenapa saya baru kenal Torey sekarang? SEbelumnya saya baru sekedar kenal nama dan nove-novenya yang bertebaran di toko buku seperti Sheila.

foto dari google