Me Time: Mencicipi Kerak Telor

Sekali-kali pengen jalan sendiri, me time. Sabtu ini keinginan itu terpenuhi. Suami memberi ijin. Ehm…iya sih memberi ijin tapi teteup ada syarat request oleh-oleh yang akan saya penuhi belakangan nanti :D. Sebenarnya hari ini kepingin sekali nonton film, sayangnya Filosofi Kopi hanya tayang 2x, termasuk hari ini dan jadwal tayangnya pun tidak cocok. Maka destinasi kemudian berubah: jalan ke Festival Kuliner Magelang di Karisidenan.

Setelah muter sekilas melihat stand-stand yang ada, kaki saya terhenti di sebuah pedagang kerak telor betawi. Dagangan itu tidak berada di dalam arena festival  melainkan di halaman depan. Sekian lama penasaran dengan makanan khas Betawi ini karena beberapa kali melihat ada yang jualan di depan eks Bioskop Tidar (samping Gardena). Lebih-lebih ketika Hairi Yanti posting soal kerak telor. Rasa penasaran saya terobati. Selama makan, saya tanya-tanya sedikit soal kerak telor itu. Ternyata selain telor bahan dasarnya adalah beras ketan. Pertama beras ketan yang sudah direndam di air dimasukkan ke wajan, ditambah bumbu dan… pluk dengan satu tangan bapak penjual itu memecah telur bebek dan menumpahkannya pada wajan. Setelah telur melar–heran saya, kok mendadak melar– telor tadi dimatangkan dengan membolak-balik wajannya–nha, nggak tumapah juga. Setelah kering, kayak krispi ,ditambah serundeng dan brambang goreng. Jadilah kerak telor itu. Rasanya gurih enak, kerasa banget ketannya.

 

IMG_20150418_140835

 

IMG_20150418_141059

IMG_20150418_141336

Meskipun khas Betawi, penjual makanan yang saya jumpai tadi adalah perantau asal Wonogiri. Penjual makanan itu adalah pedagang makanan tradisional kedua yang saya temui dari Wonogiri. Sebelumnya saya pernah bertemu dengan wong Wonogiri yang berjualan putu.

Kalau sudah mencoba makanan seharga 15 ribu rupiah tadi, rasa penasaran terobati. Rasanya puas bisa me time kali ini. Saya pulang dengan oleh-oleh buat suami. Sesuai pesanan dan kesukaan suami, saya bawakan Brownis Amanda dari salah satu stand Festival Kuliner dalam rangkaian acara Ayo ke Magelang dalam rangka HUT Magelang.

 

Siulannya Ingatkan pada Masa Kecil

“Ngiiiingggg… ” siulan panjang dibarengi aroma yang meruap itu begitu khas. Aroma dan suara itu membawa saya ke masa kecil, pada masa ketika pikulan yang membawanya begitu sering wira-wiri. Sekarang, saya jarang menemuinya, entah karena sayanya yang nggak tahu kalau putu –begitu sebutan untuk makanan kecil terbuat dari tepung beras ketan, kelapa dan gula Jawa— masih eksis atau memang sudah jarang beredar. Itu sebabnya ketika di suatu sore saya mendengar suaranya lewat depan rumah, saya tertarik membelinya.Aromanya memang masih sama, tapi bentuknya, beda! Putu jaman saya masih kecil lebih besar dari yang sekarang. Meski begitu, cukuplah mengobati rasa kangen pada jajanan murah meriah berasa manis gurih itu. Dulu ketika kecil, siulan yang keluar dari bilah bambu itu teramat menarik. Kalau sekarang, saya tertarik dengan proses pembuatannya yang alamiah sehingga aroma dan rasanya khas: semua bahan dimasukkan ke dalam bilah bambu.

Saya kembali menjumpainya kemarin sore, sepulang dari acara selapanan di jemput suami. Sepanjang jalan berangan-angan pengen beli yang anget-anget, pada mulanya pilihan jatuh pada gorengan. Ketika melihat pikulan itu mangkal di pinggir jalan, saya tawarkan pada suami, “pengen?”
Akhirnya kami berhenti. Hemmm… membaui aromnya saja terasa nikmat.




Sembari menunggu putu selesai diracik, saya sempatkan ngobrol. Saya terkejut ketika bapak yang asli dari Wonogiri itu menyebut dusun Mantenan sebagai tempat kostnya. Waw… dunia begitu sempit. Bapak itu masih satu dusun dengan tempat tinggal emak, bahkan tempat kostnya masih terbilang famili dengan saya. Katanya, ia telah bertahun-tahun kost di sana. Saya yang kuper atau…? Ah, sedikit malu juga, ternyata si bapak malah tahu kalau saya baru saja menikah dan bertanya sekarang saya tinggal di mana? kakak saya tinggal di mana?
Rasa heran saya ungkapkan, “Kok saya nggak tahu ya bapak kost di kediaman mbak Tari? Saya memang pernah tahu kalau ada penjual putu kost di tempat mbak Tari, namun tidak tahu kalau sekarang masih di sana. Jarang saya temui putu beredar.”
“Sekarang saya memang sering pulang kok mbak, satu bulanan saya di rumah lalu ke sini lagi, trus pulang lagi.”
Jadi, bukan karena saya yang kuper kan?

Jajanan tradisonal itu sekarang memang semakin sulit ditemui, barangkali di Grabag hanya satu bapak itu yang masih berkeliling. Terlebih, daerah yang dijelajahnyanya pun tidak begitu jauh. Dusun-dusun yang disebutnya masih terbilang satu kelurahan dengan dusun tempat tinggal kami, bisa dikatakan masih dekat. Hasinya …? Lumayan, menurut pengakuannya, dagangannya sering habis.

Begitu sampai rumah dan dicicipi, lontaran-lontaran komentar keluar,
“Rasanya kaya pethosan ya..,” ujar suami setelah satu gigitan.
“Kalau ini sudah dicampuri, bukan lagi asli beras ketan, tapi dicampur beras cempo,” emak urun komentar.
Tak urun suara, saya ikut menghabiskan saja deh….
Apapun komentarnya, yang penting bisa mengisi kehangatan di sore hari dan ludes!

*sekedar mengobati kangen ngempi :))