Gowes #5: Melintasi Jembatan ‘Imigrasi’ Kabupaten—Kota Magelang

Sebagai referensi tempat-tempat menarik di sekitar, saya suka stalking IG yang memajang tempat-tempat wisata. Dari IG Magelang misalnya, ada jembatan gantung yang kelihatan apik di foto. Maka, kami merencanakan gowes rute ke sana.

Waktu itu senin pagi, bertetapan dengan hari Maulud Nabi, 13 Desember 2016  dari Tegalsari Jambewangi Secang sepeda kami kayuh menuju Mbugel kemudian Klontong. Dua dusun itu masih berada di desa yang sama dengan tempat tinggal kami. Sepeda mulai masuk kota ketika memasuki kawasan perumahan Depkes. Jembatan sudah dekat tatkala daerah Ngembik Kramat Selatan, Kota Magelang.

 

img-20161218-wa0003-1

img-20161218-wa0002

 

Sampailah di jembatan itu.  Jembatan yang panjangnya sekitar 100 meter dengan lebar 1,5 meter itu ternyata rame dilintasi penduduk dari dua desa di sekitar.   Tinggi jembatan dari permukaan sekitar 20 meter. Kebayang kan tingginya?

Untuk menyebrang, kami harus bergantian sesuai kuota yang ditulis di ujung jembatan. Kuota itu tentu saja untuk menjaga keselamatan pelintas. Ada kejadian di bulan November 2011 yang menelan korban jiwa dan kendaraan ketika jembatan itu putus.

Ada sensasi tersendiri ketika melintasi. Ketika berpapasan, saya harus menunggu yang lain lewat duluan. Goyangannya itu… serong kanan serong kiri. Menyebrang kali Progo di atas jembatan  sepanjang itu  merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sebelumnya, saya hanya pernah menyebrang jembatan kali Manggis yang panjangnya kira-kira sepertiganya.

Sampai di seberang, yang berarti saya telah sampai di Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, saya merasa terkejut mendapati ternyata ada pos. Yang terlintas di benak adalah pengalaman Agustinus Wibowo ketika melintasi batas negara.’ Kantor’ imigrasi seadanya yang dijaga oleh tentara. Hihihi…jauh banget yang ngebayanginnya.  Pos itu dijaga seorang petugas.

img-20161218-wa0008-1

img-20161218-wa0001

Para penduduk yang melintas dikenai biaya untuk kas perawatan jembatan. Mereka adalah penduduk sekitar yang melintas dari kabupaten ke kota Magelang atau sebaliknya.

 

“Satu orang lima juta rupiah,” kata lelaki necis tinggi besar itu kepada saya. Ahahaha, memang bapak lima anak itu penuh humor. Maka, saya bayarkan 1500 rupiah untuk saya, Janitra, dan bapaknya. Kami tak langsung meninggalkan tempat itu. Menyempatkan diri ngobrol dengan bapak di sela-sela membuka tutup plang , saya mendapatkan semangat pada dirinya.

“Saya ini, nggak bisa ngaji. Nggak mau anak-anak saya seperti saya makanya saya saya masukan anak saya ke pesantren.”

img-20161218-wa0010

Sambil istirahat, kami melihat-lihat susanan berkeliling. Sungai Progo di bawah jembatan nyatanya memang apik. Beberapa anak terlihat bermain di tepi sungai yang berbatu kecil-kecil,semacam pantai yang berkerikil berpasir hitam.  Matahari pagi menimbulkan kilau pada air sungai.

img-20161218-wa0006

Puas menikmati Progo, kami lanjutkan perjalanan.    Karena memang pengalaman pertama menyusuri daerah itu, kami main blusukan saja. Mengandalkan plang  petunjuk atau bertanya penduduk sekitar adakalanya kami kesasar.  Tapi, pengalaman blusukan dan kesasar itu menjadi seni tersendiri ketika gowes. Kalau nggak paknda Janitra, bukan blusukan namanya, kata suami suatu ketika saat saya protes karena melintasi gang yang sempit.

img-20161213-wa0035

Ada pengalaman mentok ketika kami mencari penyebrangan Progo menuju   Mbugel, Kec. Secang Kab Magelang   . Menyusuri kebun sawah, ternyata kami bertemu jalan buntu di sawah. Untunglah ada seorang kakek  baik hati yang mengantar kami dan menunjukkan jalan. Berbalik dari sawah kami kemudian memasuki dusun.

Kakek mengajak kami melintasi rumah-rumah penduduk dan menuju papringan lanjut ke sawah di belakang kampung.  Kakek itu menunjukkan agar kami melintasi sawah  lalu menyusuri kali. Blusukan kebun lagi, kami akhirnya sampai di tepi kali Progo. Terus saja kami melintasi kali sesuai petunjuk, akhirnya kami sampai di anak Sungai Progo yang kecil.

img-20161213-wa0029

img-20161213-wa0032

img-20161213-wa0031

Tak ada jembatan di kali itu. My trip my adventure. Kami harus turun kali dan menyebrang bersama sepeda kami. Terlebih dahulu saya dan Janitra yang menyebrang. Secara bergantian paknda Janitra menyebrangkan sepeda kami. Wah…seru….

img-20161213-wa0017

img-20161213-wa0026

img-20161213-wa0021

img-20161213-wa0024

Sejenak Janitra bermain di kali. Anak-anak ketika bertemu air tidak afdol kalau tidak bermain. Mentas dari kali, saya melihat beberapa tumbuhan yang menarik untuk dikenalkan kepada anak. Belajar di alam, saya perkenalkan tumbuhan putri malu yang di mata anak-anak pasti mengasyikan ketika menyentuhnya.

Menyusuri sawah lagi, sampailah kami di jalan bercor. Sepeda kami kayuh, akhirnya tiba di jembatan gantung lagi.  Goyang lagi, kali ini tidak seseru di  Jembatan Kramat. Tak ada petugas di sana. Pos penjagaan tanpa penghuni. Dari jembatan, sudah terlihat kawasan pemecah batu.

img-20161213-wa0018

img-20161213-wa0019

Masuk ke Kelurahan Jambewangi lagi, dusun yang kami lewat adalah Mbugel kemudian masuk komplek Armed lanjut Sambung. Menyebrang jalan raya Yogya-Semarang, melewati perumahan sampailah kami di rumah lagi.

Pengalaman yang seru. Moment Maulud Nabi membuat trip gowes kami tambah berkesan. Perjalanan kami diringi syair syair khas Maulud Nabi yang bergema dari desa ke desa.

Malam Berpelangi di Monjali

Sejak    Desember  2011  halaman sekitar Monumen Jogja Kembali bertabur warna-warni pelangi saat malam. Ada puluhan lampion aneka warna dengan lampu di dalamnya sehingga memancarkan cahaya warna-warni. Sejak masuk lokasi, pengunjung sudah disambut dengan gerbang dari lampion. Sepanjang halaman di sekeliling monumen beragam tema lampion berselang-seling memancarkan keindahan.

img_20170215_193229

Karena kami datang sesaat setelah jam buka, yaitu pukul 17.0,   jadi kami bisa menikmati senja di taman pelangi. Lembayung langit di kejauhan indah berpadu dengan lampion yang mulai memancarkan cahaya lampu.

20170215_181114

20170215_180957

Ada aneka satwa purba, darat, udara, laut bersanding dengan taman dan pepohonan berwarna warni.  Tema ikon wisata dalam negeri seperti tugu Jogja, hinga ikon luar negeri seperti menara eifel, bangunan khas Cina dan Korea juga tersaji indah.  Presiden  Indonesia juga hadir dalam bentuk karikatur wajah yang apik, berjejaran dari presiden pertama hingga terakhir sekarang.

img_20170215_190342

img_20170215_190749

img_20170215_194503

img_20170215_190630

img_20170215_190204

img_20170215_185456

Merasa lapar saat jalan-jalan, jangan khawatir. Ada banyak food court di halaman belakang maupun depan yang terpusat.  Bangku-bangku dan meja kayu bersanding dengan lampion menambah kesan makan malam yang tidak biasa.

img_20170215_185609-1

makan malam di depan menara eifel?

Aneka wahana bermain anak terpusat di depan. Ada trampolin, kora-kora, bom-bom car, kereta mini,  mobil kayuh, becak mini, dunia balon, komidi putar, wahana air, bahkan rumah hantu pun ada bagi yang ingin uji nyali. Semua wahana permainan dikenai tiket sekitar 10 ribu hingga 20 ribu.

img_20170215_194107

Jalan-jalan ke taman pelangi bisa menjadi alternatif jalan-jalan malam yang lengkap bersama keluarga. Dengan htm sebesar Rp.15.000 kebersamaan dengan keluarga akan terasa semarak di taman ini.

img_20170215_190004

dijepret mas @argo_prasetyo

img_20170215_184555

img_20170215_184820

img_20170215_185021

 

Lampion di Monjali menambah semarak Yogyakarta. Yogyakarta punya seribu alasan untuk kembali. Ya… Jogja memang never ending Asia!

img_20170215_190946-1

Debur Ombak Pecah Tawa di Pantai Sadranan

“Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman saja” -St. Agustine*

Pantai selanjutnya  yang harus dikunjungi ketika eksplore Gunung Kidul adalah Sadranan. Agaknya setiap pantai di Gunung Kidul menawarkan kekhasan dan pesonanya sendiri-sendiri. Pantai ini menjadi pilihan bagi pecinta snorkeling.

Dari Pok Tunggal, kami sempatkan untuk mampir Sadranan karena penasaran dengan keindahan bawah lautnya. Begitu tiba di lokasi…waw…komentarnya satu… rameeenyaaa….!!!

img-20170101-wa0047

Suasana ini sangat kontras dengan Pok Tunggal yang baru kami tinggalkan.  Pengunjung memenuhi bibir pantai. Sementara di sepanjang pantai, lapak-lapak yang menyewakan peralatan snorkeling senilai sewa Rp50.000 berjajar. Jasa pendampingan tentu saja tersedia bagi yang belum terbiasa nyemplung dengan peralatan menyelam.

Sempat ingin segera meninggalkan tempat itu sesegara mungkin karena ramenya. Tak tahu kalau ada pengalaman seru yang membuat kami enggan beranjak dari sana.  Karena kami belum ingin mencoba snorkeling di sana, maka kami duduk bersama pengunjung lain di bibir pantai.

img-20170101-wa0037

Inilah  sensasi yang belum pernah saya dapatkan di pantai lain.  Seiring pecah ombak yang datang menerpa kami, pecah pula tawa kami. Jerit bahagia terdengar di sana-sini bersamaan dengan ombak yang menerjang. Ombaknya seruuuu….  komentar kami. Anak-anak tak kalah girang. Saya tak perlu khawatir terseret ombak meski ombaknya kenceng. Iya…berbeda dengan di Pantai Parangtritis yang pernah saya rasakan, tahu-tahu bergeser  seirama ombak. Di pantai ini, dengan saling berpengangan erat-erat, kami cukup terpental namun tak terseret ombak.  Kami selalu penasaran ketika ombak datang.  Tawa pecah bahagia beriringan dengan debur  ombak yang datang dan pergi.

Bagaimana dengan para pengunjung yang mencoba snorkeling? Menurut seorang adik yang duduk di sebelah kami, ada aneka satwa laut yang indah di bawah. Ikan aneka warna berseliweran. Biota laut yang lain juga turut memanjakan mata para pecinta snorkeling.  Tak hanya itu dari tempat saya duduk, saya melihat seorang yang asyik dengan papan seluncurnya.

Jadi, mau pilih mencoba yang mana?

 

 

 

*kutipan dari tulisan Sarra Risman

Geliat Pagi di Pantai Pok Tunggal

Pagi di Pok Tunggal dimulai dari kelap-kelip yang bertebaran di laut. Ombak sudah surut. Banyak penduduk yang menjemput rejeki mencari keong laut dan binatang lain yang bernilai ekonomi. Para penghuni tenda pun mulai keluar. Selepas subuh, ketika langit berangsur terang, kami mulai turun ke bibir pantai. Berjalan di atas karang-karang, anak-anak yang paling senang. Mereka berburu binatang laut. Orang dewasa sibuk mengabadikan moment. Berfoto, selfi, dan merekam suasana sekitar.

20161231_052013

img_20161231_051633

20161231_052710-1

20161231_055429

img_20161231_055645

Semakin pagi, kami semakin seru bermain air. Bercanda dengan ombak menjadi aktivitas wajib yang anak-anak lakukan. Saya sendiri lebih suka menikmati suasana pagi.

img_20161231_060747

img_20161231_060608

20161231_055415

img_20161231_060814

20161231_054739-2

img_20161231_055413

20161231_055231

20161231_055334

Berdua dengan suami karena Janitra asyik bermain dengan kakak-kakaknya, saya mulai mengeksplor lokasi. Berjalan-jalan di sekitar karang sayang untuk dilewatkan. Naik tebing menjadi pilihan kami selanjutnya.  Dari ketinggian, kami bisa menikmati pantai dengan sudut pandang yang berbeda. Banyak gazebo yang disewakan di tebing-tebing dengan biaya Rp20.000.

img_20161231_070111img_20161231_070047

img_20161231_070811

img_20161231_070709

Semakin tinggi matahari, pantai semakin ramai. Payung-payung  mulai berdiri.Ijin pendirian tenda hanya sampai pagi hari.  Kami pun segera merapikan tenda dan bersiap melanjutkan perjalanan.

img_20161231_071623

img_20161231_082915

Senja di Pantai Pok Tunggal

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu (QS. 71:19—20)

 

Liburan akhir 2016 lalu, tapi baru disempetin nulis catatanya sekarang. Karena perjalalan ini sayang untuk dilewatkan tanpa catatan, maka saya kumpulkan segala ingatan satu setengah bulan silam.

 

Berkemah di pantai, sudah masuk dalam rencana liburan berbulan-bulan sebelumnya. Rencana awal kami akan pergi bertiga saja dengan motor, nginep semalam di pantai kemudian eksplore sekitar. Ternyata, keluarga kakak menginginkan piknik bareng. Mereka setuju kami ajak bermalam di hotel seribu bintang, langsung di depan debur ombak di atas pasir.

 

Menghindari kemacetan, kami sengaja berangkat sebelum pergantian tahun. Di hantar hujan pada Jumat, 30 Desember 2016, berangkatlah kami pelan-pelan. Dalam perjalanan terus merapal doa sampai di sana semesta mendukung kami berkemah di pantai.

Selama perjalanan hujan berselang-seling membingkai  kami. Semakin jauh masuk Yogyakarta, hujan semakin merenggang. Satu kali istirahat shalat Jumat di masjid kampus UGM, kami lanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul melewati daerah Panggang yang lebih lancar lalu lintasnya.

 

Sempat terterpa hujan begitu tiba di daerah Gunung Kidul, begitu memasuki jalur pantai cuaca mendukung. Alhamdulillah. Melewati beberapa pantai, terlihat keramaian. Lebih-lebih di Indrayanti. Penuh.

Dari Indrayanti, kendaraan terus melaju. Pantai Pok Tunggal tujuan kami. Pantai yang bersih dengan camping ground di tepi pantai. Beberapa menit dari Indrayanti, sampailah kami di simpang jalan menuju Pok Tunggal. Kalau terus, pantai  selanjutnya adalah  Siung.

Rute menuju lokasi ternyata waw… Jalan yang sempit dengan bopeng di sana-sini, dengan selingan naik turun menjadi tantangan tersendiri. Seru malahan. Pemandangan yang khas di tepi jalan adalah perkebunan srikaya. Ada bebarapa lapak yang menjual buah itu.

Sekitar pukul setengah lima, sampailah kami di hadapan pantai yang sepi dan bersih. Suasananya sangat kontras dengan Indrayanti yang baru saja kami lewati. Pok Tunggal, dengan pohon Durasnya yang khas kini mulai meranggas, menyambut kami dengan pesonanya. Pasir putih, ombak yang tenang, tebing-tebing yang memagari, dan deretan payung warna-warni di atas pasir.

 

img_20161230_170000_hdr

 

 

Sudah ada tenda yang berdiri tepat beberapa meter dari bibir pantai. Maka kami mulai mendirikan dua tenda. Satu tenda dari rumah, satu lagi tenda sewa dari Magelang. Di pantai tersedia juga persewaan tenda dengan biaya Rp.60.000 per malam. Kalau hanya semalam saja jalan-jalannya, lebih irit sewa tenda dari persewaan outdoor adventure. Kalau di Magelang biayanya 30ribu per 24 jam. Tapi jika ingin berhari-hari di sana, sama saja kan jatuhnya, pinjam tenda di lokasi bisa jadi pilihan.

 

img_20161230_175059_hdr

img_20161230_180113_hdr

img_20161230_180004_hdr

Senja yang menakjubkan adalah rejeki dari Allah yang kami nikmati. Cuaca begitu mendukung sehingga kami bisa puas memandang lukisan Allah.  Inilah yang kami cari. Bersama para pemburu senja lain, kami tak melewatkan setiap detik perubahan warna langit.

img_20161230_175432_hdr

 

img_20161230_175819_hdr

img_20161230_175844_hdr

 

img_20161230_180022_hdr

img_20161230_180142_hdrimg_20161230_180318

Semakin petang, semakin banyak tenda berdiri. Pantai ini memang cocok untuk menyepi dan menikmati ombak tanpa keramaian.  Selepas magrib, ada petugas berkeliling dari tenda ke tenda. Ada iuran lima ribu per tenda yang dipungut untuk kebersihan. Murah kan?

Menikmati waktu bersama keluarga adalah moment berarti yang kami lewatkan di depan tenda Semakin malam, langit semakin terang. Ketika berangkat tidur langit begitu gelap, di tengah malam gemintang sudah  memayungi tenda kami. Saya terbangun oleh tawa dan semangat ponakan-ponakan yang menikmati bintang. Janitra, sengaja tidak saya bangunkan karena tidurnya begitu pulas.

 

Apa yang saya nikmati bawah langit adalah hal yang meninggalkan kesan mendalam. Tidur ditemani debur ombak yang semakin malam semakin pasang, riuh rendah suara ponakan, dan tenda tetangga yang menikmati kebersamaan seperti kami.  Kami tak perlu khawatir kelaparan atau kesusahan mencari toilet. Di belakang tenda kami, banyak warung 24 jam dan toilet yang bersih. Sarana ibadah juga tersedia di sana. Cukup lapang dengan tempat wudhu yang memadai. Betapa nyaman melewatkan malam di sana.

 

Menjelang dini hari, terlihat kelap-kelip dari kejauhan. Merekalah penduduk sekitar yang menjemput rejeki dengan mencari keong pantai dan aneka binatang laut lain yang terlihat ketika ombak mulai surut.

 

Pesona Parangtritis

Pantai Parangtritis sudah kondang dengan pesona senjanya. Berpasang-pasang calon pengantin mengambil pantai ini sebagai lokasi foto preweding.  Indah memang.  Namun,  jika tak punya kesempatan menikmati sore di sini, pantai ini tetap memberikan pesona yang menyedot banyak  pengunjung setiap harinya.

Siang bolong sekalipun,banyak pengunjung tetap bersemangat bermain ombak dipapar matahari. Kami juga tak mau ketinggalan. Sudah ketemu ombak dan pasir, Janitra akan  dan tak mau menyudahi permainannya, tak peduli kulit yang terbakar dan tubuh penuh pasir.

20161023_101853

20161023_101743

Mulanya, kami duduk-duduk di tepi pantai dinaungi payung warna-warni. Melihat wira-wiri andong, kami tertarik. Satu andong kami pilih. Pantai ini menawarnakan sensasi berdelman di pantai, disapa ombak dan buih.  Tentu pengalaman yang berbeda dibanding naik andong keliling kampung.

20161023_103349

20161023_111313

Turun dari andong, melihat keseruan pengunjung bermain ombak, kami pun berlarian menyambut ombak. Tak perlu khawatir dengan ramenya berita pengunjung yang terseret ombak hilang atau meninggal.  Ada patok yang digunakan sebagai ambang batas pengunjung bermain ombak.

20161023_104300

 

20161023_10475120161023_104253 20161023_104331 20161023_105517 20161023_110205 20161023_110433 20161023_110716 20161023_110948 20161023_112220

Masalah keselamatan, pengunjung seharusnya bijak dalam bermain. Lagipula, ada tim SAR yang sigap mengawasi dari jauh kondisi pantai.  Kami menyaksikan sendiri kinerja mereka. Ketika kami asyik bermain, mendadak ada sepeda motor melaju cepat dengan pengendara berjaket oranye. Disusul seorang berlarian mendekati ombak. Ada kerumunan kecil yang kemudian tersibak.  Seorang yang agaknya terseret ombak terselamatkan.  Tidak ada kehebohan yang terjadi. Semua kembali bermain dengan asyik.

20161023_105414

Janitra klop ketika sudah bertemu ombak, berlarian dan terbahak-bahak merasakan sensasi diserbu dan ditinggalkan ombak. Berjalan di sepanjang pantai sambil bermain buih tak ada bosannya. Pasir yang berlepotan menjadi keasyikan tersendiri. Meski pasirnya tak seindah pasir putih pantai Gunung Kidul, tapi tak mengurangi keseruan Janitra mencolek-colek dan memainkannya.

20161023_110559

Ya, Parangtritis dengan pantainya yang landai tetap akan memberikan pesonanya, di setiap waktu. Ombak besarnya yang memecah karang  justru memberikan sensasi tersendiri ketika berkejaran.

Ngetrip Bareng Villageria di Deswita Dome Teletubies

Perkenalan

Bisa jalan-jalan gratis itu waw, terlebih jalan-jalan  dengan destinasi sarat ilmu dan inspirasi. Beruntung sekali saya mendapat giveaway dari Villageria dengan ngetrip bareng di Desa Wisata New Nglepen Rumah Dome Teletubies.  Blusukan bersama tim Villageria Ahad (6/11) lalu tak hanya saya nikmati sendiri namun bersama keluarga.  Tiket ngetripnya memang hanya untuk saya, namun dengan hanya menambah tujuh puluh ribu rupiah untuk anak dan suami, semua bisa mbolang seharian di Nglepen, Sleman, Yogyakarta.

img-20161109-wa00001

foto oleh Argo Prasetyo

Tiba pukul 08.15 WIB di lokasi, kami disambut Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) mas Sulasmono dan tim Villageria yang ramah. Sesi perkenalan dengan suguhan cemilan tradisional kacang rebus dan emping garut menjadi pembuka trip Ahad lalu. Perkenalannya bertempat di rumah Dome Teletubies yang disewakan sebagai home stay.  Jadi kami bisa sejenak merasakan bertaeduh di rumah dengan 5 ruang plus 1 loteng.

Tim Villageria memperkenalkan diri sebagai web yang  berdiri pada April 2016. Web ini  berkonsentrasi pada desa wisata. Tim yang ramah- ramah itu terdiri  dari Kamalia Rizqi Amalina sebagai founder, Fendi sebaga tim kreatif, Rahma di bagia social project, dan Vicky di bagian marketing.

Selesai perkenalan tim Villageria dilanjutkan dengan perkenalan Ketua Pokdarwis Sengir yang memperkenalkan desa wisata yang menduduki 5 besar kunjungan wisata di daerah Sleman Yogyakarta.  Cerita  mengenai sejarah Desa Wisata Dome Teletubies  New Nglepen seru untuk disimak. Ada nuansa sejarah dibumbui mistik dan humor yang disampaikan oleh mas Mono yang humoris.

Selain saya dan keluarga, ada peserta lain yang menjadi pemenang giveaway. Keduanya adalah blogger berpengalaman, mbak Elizabeth Elza dan Ima Satrianto yang mengajak suaminya.

Sejarah Kampung Dome Teletubies

20161106_1028311

Awal mula Kampung Dome Teletubies ini dimulai dari gempa yang menimpa Yogyakarta pada Mei 2006. Kampung Nglepen ambles sedalam 7 meter dan sejumlah 36 KK kehilangan tempat tinggal. Untungnya tidak ada korban meninggal sebab masyarakat Nglepen yang sebagian besar adalah petani pada waktu terjadinya gempa sudah beraktivitas di luar rumah. Dua orang, salah satunya seorang bocah,  yang secara logika berpotensi  meninggal karena terkena ambrukan rumah selamat karena keajaiban.  Kondisi ini mengharuskan satu kampung direlokasi.

Sorotan media membawa berkah. Fondasi dari Amerika, yaitu Domes for the World dan seorang Dubai bernama Muh Ali Alabar mengulurkan bantuan pembangunan kampung baru.  Ada  3 bentuk rumah yang ditawarkan: rumah biasa tahan gempa, rumah bulat seperti tempat tinggal Teletubies, dan tempat tinggal seperti rumah Arab. Musyawarah dengan warga memutuskan rumah bulat. Rumah ini tahan gempa, angin, dan kebakaran.

Peletakan batu pertama dilakukan pada Ramadhan 2006 dihadiri Gus Dur.  Pondasi tiap rumah berdiameter 7 meter.  Tiap rumah terdiri 200 biji besi dengan cor sehari selesai membutuhkan 20 tenaga. Tiap rumah menghabiskan biaya sebesar 40 juta. Tidak ada campur tangan pemerintah sehingga bantuan datang langsung tanpa perantara. Karenanya proyek ini terbilang cepat, hanya 6 bulan meskipun prosesnya terlihat rumit. Proses pembuatan rumah ini bisa dilihat pada diagram berikut:

20161106_1005361

Rumah dome di kampung ini terdiri dari 5 ruang dan sebuah loteng sebagai gudang. Besar rumahnya sama.  Tidak ada toilet dalam rumah untuk menjaga kebersihan dan kesehatan serta untuk efektivitas ruangan.   Tiap komplek yang terdiri dari 6 blok 12 KK disediakan 1 unit MCK.  Selain menjaga kebersihan tujuan dibangunnya fasilitas MCK umum untuk menjaga budaya gotong-royong dan tidak individualis. Fasilitas umum lain yang disediakan antara lain poskesdes.  Pembagian rumah dilakukan secara undian.

Diresmikan Maret 2007, kampung ini sudah banyak dikunjungi wisatatawan yang ingin berkegiatan di kampung ini. Dari pengelolaan parkir, didapat hasil yang luar biasa. Dari kondisi itulah kemudian kampung ini didaftarkan ke Dinas Pariwisata Sleman.  Tempat ini menjadi desa wisata semi object. Tahun 2009 kampung ini menjadi desa wisata.  Dalam perkembangannya, pada 2012 bantuan PNPM sebesar  65 juta membuat desa wisata ini mengalami peningkatan pesat. Jadilah desa wisata ini hingga sekarang berkerja sama dengan Villageria dan membawa saya datang menjelajah 😀

My Trip My Adventure… !!! Oooo…..!!!!

20161106_1002421

Keluar dari rumah home stay, kami mulai menjelajah pukul 09.30.  Menyusuri gang demi gang yang diberi nama all about teletubies, tujuan pertama adalah galeri rumah dome. Galeri ini berisi peninggalan-peninggalan kampung yang ambles terkena gempa. Aneka peralatan bertani, menenun, senjata tradisonal untuk melindungi diri, hingga peralatan rumah tangga dari batu dipamerkan dalam rumah ini.

Keluar dari galeri, kami berjalan menuju peternakan sapi milik warga. Melewati sebuah bangunan kelompok bermain, eh Janitra menyempatkan diri untuk bermain di taman.

20161106_1017311

Peternakan sapi  dan kambing jenis jawa dipusatkan di satu tempat demi kenyamanan, kebersihan, dan kesehatan. Dengan alasan kebersihan dan kenyamanan pengunjung, beternak ayam dihindari di desa wisata ini.

20161106_1023171

mas Mono memberikan penjelasan mengenai peternakan sapi

Selesai mengunjungi peternakan sapi, mas  Mono membawa rombongan ke pembuatan emping garut yang menjadi cemilan andalan desa wisata ini.  Kunjungan ini membawa kami berkenalan langsung dengan warga setempat. Rumah pak RW yang ramah itu selain menjadi tempat pembuatan emping garut juga menjadi tempat pembuatan mebel dan rumah jahit baju. Keluarga serba bisa yang hebat.

Di rumah produksi ini kami diberi kesempatan menjajal sendiri bagaimana membuat emping dari bahan ubi kerut yang menyimpan khasiat bagi kesehatan.

img-20161107-wa00211

foto jepretan mbak Ima Satrianto

Pembuatannya memanfaatkan tekonologi sederhana dengan dua papan semacam tlenan yang disatukan dengan engsel pintu sehingga bisa dibuka tutup. Di tengah-tengah papan itulah ubi yang sudah direbus dan dikukus di letakkan beralaskan plastik yang sudah diolesi minyak.  Papan kemudian ditutup dan ditekan. Masih kurang gepeng? Ada palu yang bisa dipakai untuk mengetok-ngetok supaya ubi gepeng sempurna. Setelah itu proses berikutnya adalah penjemuran dilanjutkan penggorengan. Kriuukkk… sembari mengobrol dan praktik, tak terasa emping  yang kriuk itu amblas. Sesekali kami juga mengemil potongan ubi rebus bahan dasar  emping. Hihi, doyan apa lapar? Maklum… enak kok? Boleh dicoba deh, ini nih…

20161106_1341382

Sudah diganjel dengan ubi dan emping, fisik cukup kuat untuk melanjutkan tracking. Penjelajahan ini membutuhkan fisik yang kuat lho, sebab kami harus menyusuri jalan menanjak menuju bukit.  Bagaimana dengan Janitra? Ini ketiga kalinya dia ikut tracking ayah ibunya setelah naik Puntuk Setumbu dan Andong. Tapi… karena trackingnya baru dimulai  tengah hari, jadilah energinya sudah tersita sehingga bapak harus rela sering-sering menggendong, bahkan tidur dalam gendongan.

Dua tempat berikutnya adalah Belik Wunut dan tanah ambles. Belik Wunut ini mata air yang unik dengan dua rasa, yaitu manis dan tawar. Sekat dinding  mata air menjadi pemisah dua rasa.

20161106_1045131

20161106_1043451

Menjajal keunikannya, mbak Elizhabet yang traveller sejati menjajal manisnya mata air. “Beneran”, katanya. Uniknya lagi, mata air itu tetap mengalir meski kemarau. Pada waktu hujan dan sungai  sampingnya berarus, ada mini air terjun yang bisa dinikmati.

Perjalanan mulai menanjak ketika kami menyaksikan lokasi tanah ambles sedalam 7 meter. Hanya ada dua rumah yang terlihat utuh. Mas Mono menunjukkan titik-titik  penting di tempat itu, seperti lokasi si bocah yang selamat dari maut dan candi yang kini ditumbuhi semak belukar.  Tempat itu kini ditumbuhi semak belukar sehingga tidak terlihat secara gaimblang seperti dulu pada saat kejadian, namun terlihat ada cekungan mengangga semacam jurang yang ditumbuhi semak.

img-20161109-wa00021

menyusuri tanah ambles

img-20161109-wa00031

Tanjakan semakin miring namun untunglah, lepas dari dua tempat itu saatnya kami dijamu di sebuah rumah warga di lereng bukit. Ini kedua kalinya kami berbaur dengan masyarakat  setempat. Menu tradisonal dengan pembuka rujak degan benar- benar menggugah selera. Lihat saja, menu sebanyak itu bebas kami nikmati. Terasa pecaaah karena kami makan dalam kondisi lapar dan capek. Ada sayur lodeh yang segar, lauk ayam goreng dan tempe, serta mie goreng sehingga peserta yang tidak makan nasi tetap mendapatkan karbo.  Teh anget yang kemepyar cukup mengobati lelah.  Sementara buah pelengkap berupa semangka dan jeruk menambah kesegaran siang yang panas.

Puas berleha-leha di pendopo, mas Mono melengkapi petualangan kami dengan berkenalan dengan tokoh inspiratif di bidang literasi dari Desa Sengir. Luar biasa, ada sosok yang mau berjuang di desa yang jauh dari keramaian kota ini. Sanggar  Anak Studio Biru menjadi tempat singgah yang cukup lama.  Mas Rendra sang pejuang literasi itu berbagi pengalaman dan inspirasi yang menggugah kami.

20161106_1357281

20161106_1400461

berkaos kuning, mas Rendra berbagi inspirasi

Tak hanya buku yang ditawarkan sehingga ketika Janitra  mulai bosan melihat-lihat buku koleksi Studio Biru dan mulai mengambek kerena harus duduk cukup lama, untunglah saya menemukan permainan unik. Permainan sepak bola dengan kelereng di papan berpaku yang di sekat-sekat dengan karet itu cukup bisa mengalihkan dunia Janitra.  Memiliki suami yang pengertian akan passion istrinya sehingga rela keluar forum dan menunggui Janitra bermain sungguh beruntung. Sebelum meninggalkan Studio Biru, kami sempatkan berfoto salam litarasi.

img-20161107-wa00041

foto kepunyaan mbak Ima Satrianto

Hari beranjak sore ketika kami ngos-ngosan naik menuju Bukit Teletubies. Dalam perjalanan, tak henti Janitra merengek pengen ketemu dan digendong badut gegara melihat gambar teletubies dalam brosur desa wisata. “Mboten enten Dik, niki pun sonten,”kata saya.  “Badute libur Dik“, ucap saya selalu.

Tapi lihat apa yang terjadi? Setelah belelah-lelah dengan perjalanan, kami, khususnya Janitra mendapat kejutan dari tim ketika kami sedang  duduk-duduk menikmati jelang senja di atas bukit. Tetiba badut merah itu menghampiri kami.   Waw, kaget bercampur senang, Janitra mendekati badut itu untuk bersalaman.  Saya menyaksikan wajah luar biasa pada diri Janitra. Ada rasa kaget bercampur tak percaya terbayang di wajahnya. Tekad untuk berani mengalahkan rasa takut karena bahagia mendapatkan apa yang diangankan terbaca lewat sorot matanya ketika beranjak dari duduk. Saya merasa surprised melihat ekspresi itu pada diri anak saya.

img-20161107-wa00061

foto oleh mbak Ima Satrianto

20161106_1607081

difotoin mbak Rahma

Dari atas bukit pemandangan luar biasa tersaji di bawah kami. Landskap Sleman yang hijau di sana-sini terlihat segar di mata. Kampung Teletubies terlihat kecil dari atas. Ada blendukan-blendukan putih diantara rerindang pepohonan. Langit sore yang kekuningan menawan disaput awan kelabu di beberapa titik.

20161106_1610581

20161106_1602461

img-20161107-wa00051

jepretan mbak Ima Satrianto

20161106_1628561

obrolan di atas bukit

Janitra tak sabar untuk pulang sementara hp saya dan suami sudah kehabisan daya sehingga tak bisa menangkap senja, maka kami memilih duduk-duduk di bawah puntuk Teletubies itu.  Ah, sebagai gantinya kami justru bisa kenal lebih dekat dengan mas Rendra.

Langit mulai menghitam ketika kami beranjak turun. Langit di barat semakin emas. Ada kerlap-kerlip di kaki langit,ialah landskap kota Yogyakarta di kejauhan.

Perjalanan yang luar biasa bagi kami. Tak hanya pengalaman dan inspirasi, namun saya juga menemukan teman-teman baru yang hebat di bidangnya masing-masing.Tim Villageria dan Mas Mono serta masyarakat Desa Wisata telah menjamu kami dengan sangat istimewa. Terima kasih. .. 🙂

Ingin merasakan serunya ngetrip seperti kami, bisa klik Villageria yang pasti akan memberikan harga sesuai dengan harga dari desa wisata  🙂

Menepi di Hutan Pinus Kragilan

20161016_093654

20161016_093753-1

Lelah dengan rutinitas dan pengen cari tempat ngadem yang asyik tapi murah meriah? Atau bosan dengan tempat nongkrong yang hiruk pikuk semacam mall? Atau malah pengen kumpul keluarga di tempat yang sejuk ditambah selfi-selfi?

Hutan Pinus Kragilan tempat jawabnya. Itu lho tempat wisata yang kini sedang ngehits di Magelang.

Tidak salah jika hutan yang terletak di  Kragilan, jalan menuju Ketep Pass itu kini jadi incaran untuk berwisata.

Ya hutan yang dibelah oleh jalan ini memang adem seperti hutan pinus di kaki gunung pada  umumnya. Kalau untuk saya yang beberapa kali pernah main-main di hutan pinus semacam Mangli atau Andong, tempat semacam ini bukan tempat baru. Tapi tetap saja pengen datang lagi ke sana.  Kenapa?

  1. Tempatnya luas, jadi meskipun waktu saya datang di hari Ahad banyak wisatawan yang datang, tetap saja pengunjung punya ruang untuk duduk berlama-lama menikmati alam. Ada banyak ayunan untuk bersantai. Rumah pohon juga ada kalau ingin selfi-selfi. Kalau pengunjung tidak ramai, mungkin kita  beruntung bisa duduk berlama-lama di atas sana.
  2. Murah meriah. Biaya masuk yang dikenakan dihitung sebagai biaya parkir. Bertiga ke sana naik motor, kami hanya ditarik biaya Rp.3000. Tidak ada biaya lain kecuali kalau ingin menyewa tenda atau hammock yang sedang ngetrend itu. Oiya, kalau nggak bawa makanan sendiri, ada banyak warung yang menyediakan aneka menu yang menghangatkan.
  3. Bisa merasakan berayun-ayun di hammock, ngecamp, ataupun menginap. Di sana pengunjung bisa menyewa beberapa fasilitas yang disewakan seperti hammock, tenda, dan bahkan flying fox.
  4. Tempat kumpul keluarga atau outbond yang seru. Alam akan mendekatkan satu orang dengan orang yang lain. Di sana saya lihat banyak rombongan keluarga, komunitas, atau geng yang mengadakan acara yang seru. Ada yang sekedar duduk-duduk makan bersama, melakukan permainan bersama, outbond, dan foto-foto. Tempatnya luas dan nyaman banget jadi cocok buat kumpul-kumpul. Sedang mencari tempat arisan yang antimainstream? Coba di sini, pasti asyik.
  5. Top selfi pastinya. Yeah, yang dicari kan itu ya, hehe. Bisa selfi-selfi di antara pohon pinus itu, romantis. Mau foto sendiri, bersama pasangan, atau rame-rame bareng keluarga dan teman, setiap sudutnya bisa jadi latar yang apik. Foto prewed atau postwed juga banyak yang melakukannya di sana.

 

 

20161016_093806

20161016_095750

20161016_093437

20161016_093017

20161016_100848

Saya merasakan kesegaran dan keseruan ketika mengunjungi hutan itu tanpa rencana. Janitra sangat menikmati berayun-ayun di bawah pohon pinus. Memandang kehijauan dan menghirup kesegaran. Pengen sekali balik ke sana membawa tenda lalu bersantai bersama keluarga. Eh, bahkan pengen juga nginep di sana. Semoga terkabul suatu saat 🙂

 

Ngopi Sore di Atas Kali Progo

Kami bukan tipe keluarga yang suka hang out di cafe, tapi kalau ada tempat makan yang suasananya menyatu dengan alam kami pasti ingin mencobanya. Di Magelang ada cafe terbuka dengan  pemandangan alam yang cantik. Namanya Supermilk River View Cafe. Memang, cafe ini menawarkan susu sebagai menu utama. Penyuka kopi dan coklat tetap bisa mendapatkan minuman itu meski variannya tidak banyak.

20160910_1722271

 

 

20160910_1721381

20160910_1634471

20160910_1635041

 

Terletak di daerah Cacaban, cafe ini cukup manjur menyegarkan pikiran kami di Sabtu sore ini. Dari tempat makan yang terbuka, kami bisa menikmati Kali Progo yang ada di bawah  kafe dengan latar hijaunya persawahan. Landskap daerah Plikon Magelang terlihat apik di depan dataran tinggi yang penuh pepohonan. Di belakangnya menjulang gunung yang tertutup awan. Sementara di cafenya sendiri, rimbunnya pepohonan menjadi interior alam yang menaungi deretan bangku.

img-20160910-wa00121

20160910_1621371

img-20160910-wa00111

 

Barangkali kami tidak begitu beruntung menyaksikan langit sore di barat yang tersaput awan. Kalau sore cerah, pastilah kami bisa menyaksikan Gunung Sumbing dan Sindoro dan matahari yang tenggelam di baliknya. Matahari sore yang sudah condong ke barat hanya bisa kami nikmati sebatas ini.

20160910_1655411

Meski begitu kami tetap menikmati Sabtu sore ini. Dari tempat kami duduk Janitra bisa menyaksikan barisan bangau putih yang pulang sarang di ufuk barat. Menarik. Sabtu bersama bapak dan ibuk kali ini bagi Janitra sangat menyenangkan. Ia tak hanya mendapatkan menu susu favoritnya, tapi juga bisa menyaksikan sudut lain dari kota Magelang yang diakrabinya.

Menyantap menu sederhana pun rasanya tetap nikmat dengan suasana alam yang segar. Kami tak perlu merogoh kocek dalam. Untuk menu yang kami pesan: segelas susu hangat blueberry, segelas tiramisu coffe milk, segelas coklat pisang hangat, seporsi nasi goreng, dan seporsi pancake+ice cream semuanya dihitung Rp54.500 rupiah. Dari segi makanan saya rasa lumayan lah, untuk minuman kadar manis bisa diatur sendiri sebab gula disediakan dalam bentuk cair di gelas kecil.

20160910_1646441

 

20160910_1646561

fokus moto pancakenya jadi nasgornya tak keliatan

 Untuk yang ingin makan berat, ada beberapa  pilihan  nasi hemat. Menu makanan ringan dan minuman yang lain apa, bisa langsung datang saja ke lokasi

 

Dieng: dari Telaga Warna hingga Mie Ongklok

Ahad lalu (28/8) pertama kalinya Janitra menempuh perjalanan terjauh dan tentu saja terlama di atas motor. Bapak mengajak Janitra dan saya mengikuti Wisata Dakwah Aisiyah di alun-alun Wonosobo. Dari rumah Tegalsari pukul 07.30 WIB kami sampai di Wonosobo pukul 10.10 WIB dengan istirahat sebentar di rest area untuk ngopi sembari melihat kakak-kakak yang panjat tebing.

Sampai di alun-alun, tentu saja Janitra tergiur dengan warna-warni mainan yang tersebar di sekitar tenda acara. Kalau untuk jajan bisa ngerem, tapi untuk menikmati wahana permainan tidak bisa ditolak. Baiklah, karena penasaran naik motor mini, Janitra rela menunggu antrian yang cukup lama. Ibu pasti tahu rasanya penasaran itu bagaimana, jadi saya juga sabar menemaninya, heheh.

20160828_104743[1]

 

Selepas dhuhur, acara belum selesai, bapak dan beberapa teman (4 rombongan motor) melanjutkan jalan-jalan ke Dieng. Waw, mengunjungi negeri di atas awan, pasti…..

Perjalanan ke Dieng yang menanjak beberapa kali terhenti karena hujan. Hujan pula yang membuat rombongan terpencar. Alhamdulillah, pukul 13.00-an kami sampai di depan Candi Bima. Karena saya pernah mengunjungi komplek candi Arjuna, maka kunjungan ke sana tidak masuk list. Lagipula, denger-denger rombongan lain penasaran dengan Telaga Warna, siip lah karena saya juga belum pernah mengunjungi ke sana. Di pelataran candi, istirahat sebentar untuk kontak dengan rombongan lain yang terpencar.

 

Setelah jelas posisi rombongan lain, masuklah kami ke area Telaga Warna. Di bawah derai hujan, kami nikmati keindahan telaga warna-warni yang terjadi karena kandungan sulfur di dalamnya. Saat itu yang  kami saksikan air telaga berwarna degradasi hijau kekuningan kebiruan. Kalau tidak hujan, menikmati keindahannya di tepi telaga sembari merenung pasti asyik. Panonaram indah sebab di sekeliling telaga terlihat hijaunya alam dengan sentuhan kabut yang di sana-sini.

20160828_140807[1]

20160828_140939[1]

20160828_141141[1]

20160828_141451[1]

20160828_141249[1]

20160828_142240[1]

Karena tergesa, kami juga hanya mengunjungi sekilas Telaga Pengilon. Mungkin karena di sisi telaga terdapat warna hitam semacam bingkai/frame kemudian disebut pengilon (cermin)?

Yang terasa nikmat saat itu, hujan dingin, adalah gorengan jamur dan kentang hangat. Rasanya nikmat 😀 Gorengan khas Wonosobo itu tersedia di sekitar tempat wisata selain tempe kemul.

Dari Telaga Warna kami putuskan berpisah dari rombongan yang akan melanjutkan eksplore Dieng. Pertimbangan waktu dan daya tubuh maka kami putuskan untuk turun.

Perut yang lapar menuntun kami mampir di Gardu Pandang Tieng 1789 MDPL. Di sinilah saya pertama kali menikmati mie ongklok yang unik. Baru kali ini makan mie basah dilengkapi sate ayam dengan merica bubuk yang kerasa banget.  Rasa mie pun sate banget. Minumnya terasa hangat dan nikmat dengan teh tambi dan kopi dieng. Wangi tehnya kentel banget. Kopinya pun mantab. Selain menikmati kehangatan kuliner khas Wonosobo, dari tempat ini kami dimanjakan oleh keindahan landskap Wonosobo dari ketinggian yang terlihat diantara kabut yang berangsur menyingkir.

20160828_154727[1]

20160828_152459[1]

20160828_151611[1]

20160828_152056[1]

20160828_154032[1]

20160828_151002[1]

Turun dari gardu pandang, kami mampir sebentar ke toko oleh-oleh. Yang khas dari Wonosobo tentu saja carica. Karena kami penggemar kripik, kripik combro yang gurih dan kentang khas Dieng yang kriuk kami bawa untuk melengkapi carica yang seger. Sayang, lupa jepret!

Lepas dari pusat oleh-oleh, kami disambut hujan. Sepanjang jalan Wonosobo–Magelang kami berkendara dibingkai hujan. Kebayang dinginnya dari Magrib hingga lepas Isya’ kurang lebih 19.30 sampai rumah diguyur hujan. Alhamdulillah Janitra sepanjang jalan bobok jadi perjalanan terbilang tenang. Puji syukur lagi, alhamdulillah kami sampai rumah dengan sehat tanpa gangguan. Janitra diberi kekuatan oleh Allah sehingga sehat. Begitu sampai rumah dalam keadaan bobok saya ganti bajunya dengan terlebih dahulu diseko dan dibalur minyak kayu putih untuk menghangatkan.  Ini pengalaman luar biasa dan mendebarkan untuk saya sebagai ibu yang  jujur agak khawatir karena   dingin yang menyekap. Namun sepanjang jalan saya tepis segala khawatir, mantabkan diri bahwa hujan adalah rahmat Allah yang tidak akan membuat manusia sakit karenanya.

 

 

#Diari_Janitra_4tahun1bulan