Melepas Nelayan di Pantai Gesing

Pantai Gesing terletak di Bolang, Girikarto, Panggang, Yogyakarta. Dibandingkan pantai lain di Gunung Kidul, pantai ini terbilang dekat. Jalur menunuju pantai  bagi saya lebih nyaman lewat Panggang dibanding lewat kota Wonosari yang padat lalu lintasnya. Hanya saja, ada beberapa jalur yang menanjak berkelok.

Pantai ini kecil dengan deretan kapal yang bersandar. Ada kapal-kapal yang membawa penumpang menjelajah laut sekitar, segaaarr.

Yang menarik bagi kami adalah para nelayan yang sedang menyayat ikan di kapal-kapal nelayan. Mereka bergerombol sembari mengobrol. Saya kira mereka sedang membuat ikan asin yang akan dijemur.”Bukan, mereka membuat umpan untuk mencari ikan,”jelas abah Janitra. Benar saja, sore hari mereka siap berlayar. Lihat saya cara mereka berlayar. Dibutuhkan beberapa orang untuk menarik kapal dari pantai ke laut. Kerjasama yang menjadi ciri khas masyarakat lokal. Bahkan pengunjung pun ada yang turun tangan membantu.

Bagi anak-anak, apa yang menarik? Tentu saja bermain ombak! Iya lah, mereka enggan untuk berhenti. Ombak di Pantai Gunung Kidul selalu menggoda dan cenderung aman untuk anak-anak. 

Dengan pasir putih dan air yang jernih, anak-anak makin betah bermain ombak. Selain itu, pemandangan pantai dengan tebing di sekeliling juga indah. Sayangnya, terlihat sampah-sampah di pantai yang mengurangi eksotisme pantai.

Sembari Ngopi Nikmati Waduk Sermo

Ada ketika saya ingin pergi ke suatu tempat semacam telaga yang luas. Saya duduk di tepinya, memandang luasnya air yang tenang, tak bergolak seperti ombak. Saat-saat seperti itu saya tidak merindukan ombak yang bergulung-gulung dengan irama yang khas. Saya hanya ingin ketenangan, mengurai  segala yang berseliweran di kepala: pekerjaan, rutinitas, dan tetek bengek yang membuat lelah.

Sekian lama keinginan itu mengendap. Pada akhirnya, apa yang saya bayangkan di kepala itu saya temukan pada tempat bernama Waduk Sermo. Rasa penasaran pada waduk yang diresmikan pada jaman Presiden Suharto itu membawa kami melakukan perjalanan pada  liburan ini bersama keluarga. Tak dinyana, tempat itu ternyata yang saya cari selama ini.

Saya menyukai perjalanan menuju waduk. Ini perjalanan yang menjadi favorit saya, selalu suka. Ini bukan perjalanan yang dijebak macet dan disekap baliho-baliho kota. Perjalanan dari Magelang, Mendut lalu menyusuri Kalibawang dan Kulon Progo ini disuguhi landskap pedesaan, luasnya sawah yang dibentengi deretan  Pegunungan Menoreh dan langit yang berawan. Sepanjang perjalanan saya dimanjakan kehijauan di kanan kiri jalan. Tiba di tepi rel kereta api, pas kebetulan kereta api yang lewat menjadi selingan. Bukankah ini menyenangkan?

Begitu tiba di waduk, suasana asri terbentang di depan mata. Waduk Sermo terletak di kawasan suaka margasatwa. Luasnya waduk dikelilingi hutan yang mengular dan pegunungan.


IMG_20171226_115005_HDRIMG_20171226_095948_HDR

IMG_20171226_100049_HDR

 

Saya seketika menyukai tempat ini. Tidak banyak pengunjung. Mereka yang datang memang ingin menikmati waduk: piknik, memancing, dan naik kapal menyusuri waduk. Spot foto? Ada di beberapa titik. Ada 3 dermaga yang salah satunya dipakai untuk tempat pengunjung yang ingin menyusuri waduk. Untuk naik kapal, pengunjung ditarik tiket seharga Rp10.000. Sementara beberapa spot selfi dan taman di tepi waduk, ada loket yang harus dilewati pengunjung untuk membayar tiket.

 

bapak dan anak yang mesra menikmati waduk

Tenang dan damai. Itu yang saya rasakan ketika duduk-duduk di gazebo tepi waduk setelah naik kapal. Baca buku atau sekedar ngopi-ngopi, boleh banget. Tempat ini juga jadi pilihan para pecinta kemping.  Mengamati kesibukan di dermaga menjadi pun ketertarikan tersendiri buat saya.

IMG_20171226_111020_HDR

menanti keberangkatan kapal. foto-foto dulu biar nggak jenuh

 

 


IMG_20171226_101443_HDR

satu-satunya foto yang sempat saya beri watermark 🙂

IMG_20171226_103940_HDR

Karena kesengsem dengan tempat ini, kedua kalinya kami mengunjungi dengan anggota keluarga yang berbeda. Kali kedua, kami bawa bekal untuk ngopi. Mantab lah!

 

Ngopi di Ketinggian Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat

“Sugeng rawuh,” sambut pria berblangkon dengan wajah full senyum begitu kami turun dari motor tepat di depan rumah.

“Siapa?”  Sapanya ramah sembari menyalami suami saya.

Pria tadi kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Rohmat, menjawab pertanyaan balik saya setelah berkenalan dengan suami. Beliaulah pemilik kedai kopi menoreh yang tepatnya nylempit di ketinggian deretan Pegunungan Menoreh.

Sambutan hangat itu seketika membuat kami kerasan ngadem  di pekarangan rumah  yang kedainya berbentuk gazebo-gazebo lesehan maupun gazebo dengan meja kursi kayu ala warung.  Aroma kopi menyeruak begitu kami masuk, memilih  salah satu di antaranya.

IMG_20170704_132856[1]

IMG_20170704_120703[1]

IMG_20170704_133130[1]

IMG_20170704_133049[1]

 

Keramahannya tak hanya dalam bentuk sambutan, namun beliau berkeliling dari satu gazebo ke gazebo, melayani segala bentuk pertanyaan maupun berbincang akrab, termasuk menjelaskan daftar menu yang ada pada kami.

IMG_20170704_121518[1]

IMG_20170704_121806[1]

 

Penyajian yang khas dari kedai itu adalah paketan kopi di atas baki yang terdiri dari kopi, 3 jenis pemanis yang terdiri gula jawa, gula pasir, dan sari jahe plus 4 jenis camilan yaitu geblek, kacang rebus, tahu isi, dan tempe mendoan. Mantab bukan? Untuk anak kecil seperti Janitra, tak perlu khawatir, ada kok jenis minuman lain.

IMG_20170704_122821[1]

IMG_20170704_125312[1]

IMG_20170704_124711[1]

salah satu paket menu makan besar

Kedai kopi itu menawarkan kopi yang langsung di produksi di tempat dengan perkebunan yang berjarak 200 meter dari kedai. Sayangnya, ketika kami berkunjung sedang tidak ada produksi karena persediaan masih banyak. Jika persediaan kopi di kedai habis, Pak Rohmat mempersilakan pengunjung untuk menyaksikan proses produksi. Untuk pengunjung yang ingin membawa pulang kopi, tersedia beberapa pilihan kopi kemasan.

Di sela-sela menikmati pekatnya kopi Arabika dan Robusta yang pahit kami bisa berbincang dengan pemilik yang merintis kedai dari 2014. Inspirasi datang dari seorang kota yang datang ke kediaman pak Rohmat. Hanya ngopi sembari berbincang di dalam rumah, sang tamu minta pak Rohmat membuat teras di pekarangan rumahnya. Setelah teras yang dimaksud jadi, datanglah sang tamu dengan komunitas moge berjumlah 70.

“Padahal waktu itu kami hanya memiliki baki seperti ini 10,” kenang Pak Rohmat sambil menunjuk baki di depan kami.

Kunjungan itu menjadi starting point berdirinya Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat. Beliau yang sebelumnya  hanya produsen kopi sejak 2010, meneruskan pengelolaan kebun kopi yang turun temurun diwariskan dari nenek moyang kini melayani tamu-tamu tak hanya lokal namun juga turis mancanegara.  Melayani para tamu yang menikmati kopinya di lokasi, produksi kopi juga terus berjalan untuk didistribusikan di kafe-kafe, restoran, hotel di Yogyakarta maupun luar daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi. Distribusi kopi tak hanya dari kebun miliknya dengan luas 6000 meter persegi, namun beliau juga mengumpulkan dari petani-petani kopi sekitar.

Sebagian besar penduduk di sekitar kedai adalah petani kopi. Ada asosiasi petani kopi di sana. Ya, daerah tempat tinggalnya memang di kepung perkebunan kopi, tak heran jika wangi bunga kopi yang sedang mekar Juli ini menemani perjalanan kami menuju lokasi.

IMG_20170704_140044[1]

Suasana yang menyatu dengan perkebunan itulah yang membuat kami betah berlama-lama, menikmati kopi dan menu makan siang yang kami pilih.  Tak heran jika segala yang diberikan oleh alam di sekitar kedai, juga keterbukaan pemilik kedai membuat turis mancanegara tak cukup ngopi sekali waktu saja, namun juga sepanjang hari dengan menginap di lokasi. Karena memang tidak menyediakan  kamar, home stay ya di gazebo. Berbekal sleeping bag, para turis itu bisa langsung berdekatan dengan alam Menoreh. in pelayanan dua kali ngopi, sore dan pagi, serta satu kali makan besar, para turis asing cukup mengeluarkan kocek Rp.150.000.  Murah meriah bukan? Untuk turis lokal bagaimana?

“Kalau turis lokal, sejauh ini belum ada,” ujar pria yang sudah bercucu itu.

Nah, dengan segala kekhasan kedai kopi yang terletak di Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Yogyakarta pasti deh pengen balik lagi kesana. Tak peduli dengan rute berliku dan menanjak yang dilalui. Sebab rasa capek selama perjalanan akan terbayar dengan aroma dan keramahan. Ya, kami saja rela menempuh perjalanan selama 3 jam bolak balik dari rumah. Bagi kami, rutenya tak membosankan sebab hijau dan aroma ketinggian selalu membuat kami tak bosan melakukan perjalanan di pegunungan.

 

Bonusnya, kami juga bisa foto-foto narsis dong ya… 😀

IMG_20170704_132650[1]

IMG_20170704_132706[1]

IMG_20170704_132949[1]

IMG_20170704_133352[1]

 

Malam Berpelangi di Monjali

Sejak    Desember  2011  halaman sekitar Monumen Jogja Kembali bertabur warna-warni pelangi saat malam. Ada puluhan lampion aneka warna dengan lampu di dalamnya sehingga memancarkan cahaya warna-warni. Sejak masuk lokasi, pengunjung sudah disambut dengan gerbang dari lampion. Sepanjang halaman di sekeliling monumen beragam tema lampion berselang-seling memancarkan keindahan.

img_20170215_193229

Karena kami datang sesaat setelah jam buka, yaitu pukul 17.0,   jadi kami bisa menikmati senja di taman pelangi. Lembayung langit di kejauhan indah berpadu dengan lampion yang mulai memancarkan cahaya lampu.

20170215_181114

20170215_180957

Ada aneka satwa purba, darat, udara, laut bersanding dengan taman dan pepohonan berwarna warni.  Tema ikon wisata dalam negeri seperti tugu Jogja, hinga ikon luar negeri seperti menara eifel, bangunan khas Cina dan Korea juga tersaji indah.  Presiden  Indonesia juga hadir dalam bentuk karikatur wajah yang apik, berjejaran dari presiden pertama hingga terakhir sekarang.

img_20170215_190342

img_20170215_190749

img_20170215_194503

img_20170215_190630

img_20170215_190204

img_20170215_185456

Merasa lapar saat jalan-jalan, jangan khawatir. Ada banyak food court di halaman belakang maupun depan yang terpusat.  Bangku-bangku dan meja kayu bersanding dengan lampion menambah kesan makan malam yang tidak biasa.

img_20170215_185609-1

makan malam di depan menara eifel?

Aneka wahana bermain anak terpusat di depan. Ada trampolin, kora-kora, bom-bom car, kereta mini,  mobil kayuh, becak mini, dunia balon, komidi putar, wahana air, bahkan rumah hantu pun ada bagi yang ingin uji nyali. Semua wahana permainan dikenai tiket sekitar 10 ribu hingga 20 ribu.

img_20170215_194107

Jalan-jalan ke taman pelangi bisa menjadi alternatif jalan-jalan malam yang lengkap bersama keluarga. Dengan htm sebesar Rp.15.000 kebersamaan dengan keluarga akan terasa semarak di taman ini.

img_20170215_190004

dijepret mas @argo_prasetyo

img_20170215_184555

img_20170215_184820

img_20170215_185021

 

Lampion di Monjali menambah semarak Yogyakarta. Yogyakarta punya seribu alasan untuk kembali. Ya… Jogja memang never ending Asia!

img_20170215_190946-1

Debur Ombak Pecah Tawa di Pantai Sadranan

“Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman saja” -St. Agustine*

Pantai selanjutnya  yang harus dikunjungi ketika eksplore Gunung Kidul adalah Sadranan. Agaknya setiap pantai di Gunung Kidul menawarkan kekhasan dan pesonanya sendiri-sendiri. Pantai ini menjadi pilihan bagi pecinta snorkeling.

Dari Pok Tunggal, kami sempatkan untuk mampir Sadranan karena penasaran dengan keindahan bawah lautnya. Begitu tiba di lokasi…waw…komentarnya satu… rameeenyaaa….!!!

img-20170101-wa0047

Suasana ini sangat kontras dengan Pok Tunggal yang baru kami tinggalkan.  Pengunjung memenuhi bibir pantai. Sementara di sepanjang pantai, lapak-lapak yang menyewakan peralatan snorkeling senilai sewa Rp50.000 berjajar. Jasa pendampingan tentu saja tersedia bagi yang belum terbiasa nyemplung dengan peralatan menyelam.

Sempat ingin segera meninggalkan tempat itu sesegara mungkin karena ramenya. Tak tahu kalau ada pengalaman seru yang membuat kami enggan beranjak dari sana.  Karena kami belum ingin mencoba snorkeling di sana, maka kami duduk bersama pengunjung lain di bibir pantai.

img-20170101-wa0037

Inilah  sensasi yang belum pernah saya dapatkan di pantai lain.  Seiring pecah ombak yang datang menerpa kami, pecah pula tawa kami. Jerit bahagia terdengar di sana-sini bersamaan dengan ombak yang menerjang. Ombaknya seruuuu….  komentar kami. Anak-anak tak kalah girang. Saya tak perlu khawatir terseret ombak meski ombaknya kenceng. Iya…berbeda dengan di Pantai Parangtritis yang pernah saya rasakan, tahu-tahu bergeser  seirama ombak. Di pantai ini, dengan saling berpengangan erat-erat, kami cukup terpental namun tak terseret ombak.  Kami selalu penasaran ketika ombak datang.  Tawa pecah bahagia beriringan dengan debur  ombak yang datang dan pergi.

Bagaimana dengan para pengunjung yang mencoba snorkeling? Menurut seorang adik yang duduk di sebelah kami, ada aneka satwa laut yang indah di bawah. Ikan aneka warna berseliweran. Biota laut yang lain juga turut memanjakan mata para pecinta snorkeling.  Tak hanya itu dari tempat saya duduk, saya melihat seorang yang asyik dengan papan seluncurnya.

Jadi, mau pilih mencoba yang mana?

 

 

 

*kutipan dari tulisan Sarra Risman

Geliat Pagi di Pantai Pok Tunggal

Pagi di Pok Tunggal dimulai dari kelap-kelip yang bertebaran di laut. Ombak sudah surut. Banyak penduduk yang menjemput rejeki mencari keong laut dan binatang lain yang bernilai ekonomi. Para penghuni tenda pun mulai keluar. Selepas subuh, ketika langit berangsur terang, kami mulai turun ke bibir pantai. Berjalan di atas karang-karang, anak-anak yang paling senang. Mereka berburu binatang laut. Orang dewasa sibuk mengabadikan moment. Berfoto, selfi, dan merekam suasana sekitar.

20161231_052013

img_20161231_051633

20161231_052710-1

20161231_055429

img_20161231_055645

Semakin pagi, kami semakin seru bermain air. Bercanda dengan ombak menjadi aktivitas wajib yang anak-anak lakukan. Saya sendiri lebih suka menikmati suasana pagi.

img_20161231_060747

img_20161231_060608

20161231_055415

img_20161231_060814

20161231_054739-2

img_20161231_055413

20161231_055231

20161231_055334

Berdua dengan suami karena Janitra asyik bermain dengan kakak-kakaknya, saya mulai mengeksplor lokasi. Berjalan-jalan di sekitar karang sayang untuk dilewatkan. Naik tebing menjadi pilihan kami selanjutnya.  Dari ketinggian, kami bisa menikmati pantai dengan sudut pandang yang berbeda. Banyak gazebo yang disewakan di tebing-tebing dengan biaya Rp20.000.

img_20161231_070111img_20161231_070047

img_20161231_070811

img_20161231_070709

Semakin tinggi matahari, pantai semakin ramai. Payung-payung  mulai berdiri.Ijin pendirian tenda hanya sampai pagi hari.  Kami pun segera merapikan tenda dan bersiap melanjutkan perjalanan.

img_20161231_071623

img_20161231_082915

Senja di Pantai Pok Tunggal

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu (QS. 71:19—20)

 

Liburan akhir 2016 lalu, tapi baru disempetin nulis catatanya sekarang. Karena perjalalan ini sayang untuk dilewatkan tanpa catatan, maka saya kumpulkan segala ingatan satu setengah bulan silam.

 

Berkemah di pantai, sudah masuk dalam rencana liburan berbulan-bulan sebelumnya. Rencana awal kami akan pergi bertiga saja dengan motor, nginep semalam di pantai kemudian eksplore sekitar. Ternyata, keluarga kakak menginginkan piknik bareng. Mereka setuju kami ajak bermalam di hotel seribu bintang, langsung di depan debur ombak di atas pasir.

 

Menghindari kemacetan, kami sengaja berangkat sebelum pergantian tahun. Di hantar hujan pada Jumat, 30 Desember 2016, berangkatlah kami pelan-pelan. Dalam perjalanan terus merapal doa sampai di sana semesta mendukung kami berkemah di pantai.

Selama perjalanan hujan berselang-seling membingkai  kami. Semakin jauh masuk Yogyakarta, hujan semakin merenggang. Satu kali istirahat shalat Jumat di masjid kampus UGM, kami lanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul melewati daerah Panggang yang lebih lancar lalu lintasnya.

 

Sempat terterpa hujan begitu tiba di daerah Gunung Kidul, begitu memasuki jalur pantai cuaca mendukung. Alhamdulillah. Melewati beberapa pantai, terlihat keramaian. Lebih-lebih di Indrayanti. Penuh.

Dari Indrayanti, kendaraan terus melaju. Pantai Pok Tunggal tujuan kami. Pantai yang bersih dengan camping ground di tepi pantai. Beberapa menit dari Indrayanti, sampailah kami di simpang jalan menuju Pok Tunggal. Kalau terus, pantai  selanjutnya adalah  Siung.

Rute menuju lokasi ternyata waw… Jalan yang sempit dengan bopeng di sana-sini, dengan selingan naik turun menjadi tantangan tersendiri. Seru malahan. Pemandangan yang khas di tepi jalan adalah perkebunan srikaya. Ada bebarapa lapak yang menjual buah itu.

Sekitar pukul setengah lima, sampailah kami di hadapan pantai yang sepi dan bersih. Suasananya sangat kontras dengan Indrayanti yang baru saja kami lewati. Pok Tunggal, dengan pohon Durasnya yang khas kini mulai meranggas, menyambut kami dengan pesonanya. Pasir putih, ombak yang tenang, tebing-tebing yang memagari, dan deretan payung warna-warni di atas pasir.

 

img_20161230_170000_hdr

 

 

Sudah ada tenda yang berdiri tepat beberapa meter dari bibir pantai. Maka kami mulai mendirikan dua tenda. Satu tenda dari rumah, satu lagi tenda sewa dari Magelang. Di pantai tersedia juga persewaan tenda dengan biaya Rp.60.000 per malam. Kalau hanya semalam saja jalan-jalannya, lebih irit sewa tenda dari persewaan outdoor adventure. Kalau di Magelang biayanya 30ribu per 24 jam. Tapi jika ingin berhari-hari di sana, sama saja kan jatuhnya, pinjam tenda di lokasi bisa jadi pilihan.

 

img_20161230_175059_hdr

img_20161230_180113_hdr

img_20161230_180004_hdr

Senja yang menakjubkan adalah rejeki dari Allah yang kami nikmati. Cuaca begitu mendukung sehingga kami bisa puas memandang lukisan Allah.  Inilah yang kami cari. Bersama para pemburu senja lain, kami tak melewatkan setiap detik perubahan warna langit.

img_20161230_175432_hdr

 

img_20161230_175819_hdr

img_20161230_175844_hdr

 

img_20161230_180022_hdr

img_20161230_180142_hdrimg_20161230_180318

Semakin petang, semakin banyak tenda berdiri. Pantai ini memang cocok untuk menyepi dan menikmati ombak tanpa keramaian.  Selepas magrib, ada petugas berkeliling dari tenda ke tenda. Ada iuran lima ribu per tenda yang dipungut untuk kebersihan. Murah kan?

Menikmati waktu bersama keluarga adalah moment berarti yang kami lewatkan di depan tenda Semakin malam, langit semakin terang. Ketika berangkat tidur langit begitu gelap, di tengah malam gemintang sudah  memayungi tenda kami. Saya terbangun oleh tawa dan semangat ponakan-ponakan yang menikmati bintang. Janitra, sengaja tidak saya bangunkan karena tidurnya begitu pulas.

 

Apa yang saya nikmati bawah langit adalah hal yang meninggalkan kesan mendalam. Tidur ditemani debur ombak yang semakin malam semakin pasang, riuh rendah suara ponakan, dan tenda tetangga yang menikmati kebersamaan seperti kami.  Kami tak perlu khawatir kelaparan atau kesusahan mencari toilet. Di belakang tenda kami, banyak warung 24 jam dan toilet yang bersih. Sarana ibadah juga tersedia di sana. Cukup lapang dengan tempat wudhu yang memadai. Betapa nyaman melewatkan malam di sana.

 

Menjelang dini hari, terlihat kelap-kelip dari kejauhan. Merekalah penduduk sekitar yang menjemput rejeki dengan mencari keong pantai dan aneka binatang laut lain yang terlihat ketika ombak mulai surut.

 

Pesona Parangtritis

Pantai Parangtritis sudah kondang dengan pesona senjanya. Berpasang-pasang calon pengantin mengambil pantai ini sebagai lokasi foto preweding.  Indah memang.  Namun,  jika tak punya kesempatan menikmati sore di sini, pantai ini tetap memberikan pesona yang menyedot banyak  pengunjung setiap harinya.

Siang bolong sekalipun,banyak pengunjung tetap bersemangat bermain ombak dipapar matahari. Kami juga tak mau ketinggalan. Sudah ketemu ombak dan pasir, Janitra akan  dan tak mau menyudahi permainannya, tak peduli kulit yang terbakar dan tubuh penuh pasir.

20161023_101853

20161023_101743

Mulanya, kami duduk-duduk di tepi pantai dinaungi payung warna-warni. Melihat wira-wiri andong, kami tertarik. Satu andong kami pilih. Pantai ini menawarnakan sensasi berdelman di pantai, disapa ombak dan buih.  Tentu pengalaman yang berbeda dibanding naik andong keliling kampung.

20161023_103349

20161023_111313

Turun dari andong, melihat keseruan pengunjung bermain ombak, kami pun berlarian menyambut ombak. Tak perlu khawatir dengan ramenya berita pengunjung yang terseret ombak hilang atau meninggal.  Ada patok yang digunakan sebagai ambang batas pengunjung bermain ombak.

20161023_104300

 

20161023_10475120161023_104253 20161023_104331 20161023_105517 20161023_110205 20161023_110433 20161023_110716 20161023_110948 20161023_112220

Masalah keselamatan, pengunjung seharusnya bijak dalam bermain. Lagipula, ada tim SAR yang sigap mengawasi dari jauh kondisi pantai.  Kami menyaksikan sendiri kinerja mereka. Ketika kami asyik bermain, mendadak ada sepeda motor melaju cepat dengan pengendara berjaket oranye. Disusul seorang berlarian mendekati ombak. Ada kerumunan kecil yang kemudian tersibak.  Seorang yang agaknya terseret ombak terselamatkan.  Tidak ada kehebohan yang terjadi. Semua kembali bermain dengan asyik.

20161023_105414

Janitra klop ketika sudah bertemu ombak, berlarian dan terbahak-bahak merasakan sensasi diserbu dan ditinggalkan ombak. Berjalan di sepanjang pantai sambil bermain buih tak ada bosannya. Pasir yang berlepotan menjadi keasyikan tersendiri. Meski pasirnya tak seindah pasir putih pantai Gunung Kidul, tapi tak mengurangi keseruan Janitra mencolek-colek dan memainkannya.

20161023_110559

Ya, Parangtritis dengan pantainya yang landai tetap akan memberikan pesonanya, di setiap waktu. Ombak besarnya yang memecah karang  justru memberikan sensasi tersendiri ketika berkejaran.

Ngetrip Bareng Villageria di Deswita Dome Teletubies

Perkenalan

Bisa jalan-jalan gratis itu waw, terlebih jalan-jalan  dengan destinasi sarat ilmu dan inspirasi. Beruntung sekali saya mendapat giveaway dari Villageria dengan ngetrip bareng di Desa Wisata New Nglepen Rumah Dome Teletubies.  Blusukan bersama tim Villageria Ahad (6/11) lalu tak hanya saya nikmati sendiri namun bersama keluarga.  Tiket ngetripnya memang hanya untuk saya, namun dengan hanya menambah tujuh puluh ribu rupiah untuk anak dan suami, semua bisa mbolang seharian di Nglepen, Sleman, Yogyakarta.

img-20161109-wa00001

foto oleh Argo Prasetyo

Tiba pukul 08.15 WIB di lokasi, kami disambut Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) mas Sulasmono dan tim Villageria yang ramah. Sesi perkenalan dengan suguhan cemilan tradisional kacang rebus dan emping garut menjadi pembuka trip Ahad lalu. Perkenalannya bertempat di rumah Dome Teletubies yang disewakan sebagai home stay.  Jadi kami bisa sejenak merasakan bertaeduh di rumah dengan 5 ruang plus 1 loteng.

Tim Villageria memperkenalkan diri sebagai web yang  berdiri pada April 2016. Web ini  berkonsentrasi pada desa wisata. Tim yang ramah- ramah itu terdiri  dari Kamalia Rizqi Amalina sebagai founder, Fendi sebaga tim kreatif, Rahma di bagia social project, dan Vicky di bagian marketing.

Selesai perkenalan tim Villageria dilanjutkan dengan perkenalan Ketua Pokdarwis Sengir yang memperkenalkan desa wisata yang menduduki 5 besar kunjungan wisata di daerah Sleman Yogyakarta.  Cerita  mengenai sejarah Desa Wisata Dome Teletubies  New Nglepen seru untuk disimak. Ada nuansa sejarah dibumbui mistik dan humor yang disampaikan oleh mas Mono yang humoris.

Selain saya dan keluarga, ada peserta lain yang menjadi pemenang giveaway. Keduanya adalah blogger berpengalaman, mbak Elizabeth Elza dan Ima Satrianto yang mengajak suaminya.

Sejarah Kampung Dome Teletubies

20161106_1028311

Awal mula Kampung Dome Teletubies ini dimulai dari gempa yang menimpa Yogyakarta pada Mei 2006. Kampung Nglepen ambles sedalam 7 meter dan sejumlah 36 KK kehilangan tempat tinggal. Untungnya tidak ada korban meninggal sebab masyarakat Nglepen yang sebagian besar adalah petani pada waktu terjadinya gempa sudah beraktivitas di luar rumah. Dua orang, salah satunya seorang bocah,  yang secara logika berpotensi  meninggal karena terkena ambrukan rumah selamat karena keajaiban.  Kondisi ini mengharuskan satu kampung direlokasi.

Sorotan media membawa berkah. Fondasi dari Amerika, yaitu Domes for the World dan seorang Dubai bernama Muh Ali Alabar mengulurkan bantuan pembangunan kampung baru.  Ada  3 bentuk rumah yang ditawarkan: rumah biasa tahan gempa, rumah bulat seperti tempat tinggal Teletubies, dan tempat tinggal seperti rumah Arab. Musyawarah dengan warga memutuskan rumah bulat. Rumah ini tahan gempa, angin, dan kebakaran.

Peletakan batu pertama dilakukan pada Ramadhan 2006 dihadiri Gus Dur.  Pondasi tiap rumah berdiameter 7 meter.  Tiap rumah terdiri 200 biji besi dengan cor sehari selesai membutuhkan 20 tenaga. Tiap rumah menghabiskan biaya sebesar 40 juta. Tidak ada campur tangan pemerintah sehingga bantuan datang langsung tanpa perantara. Karenanya proyek ini terbilang cepat, hanya 6 bulan meskipun prosesnya terlihat rumit. Proses pembuatan rumah ini bisa dilihat pada diagram berikut:

20161106_1005361

Rumah dome di kampung ini terdiri dari 5 ruang dan sebuah loteng sebagai gudang. Besar rumahnya sama.  Tidak ada toilet dalam rumah untuk menjaga kebersihan dan kesehatan serta untuk efektivitas ruangan.   Tiap komplek yang terdiri dari 6 blok 12 KK disediakan 1 unit MCK.  Selain menjaga kebersihan tujuan dibangunnya fasilitas MCK umum untuk menjaga budaya gotong-royong dan tidak individualis. Fasilitas umum lain yang disediakan antara lain poskesdes.  Pembagian rumah dilakukan secara undian.

Diresmikan Maret 2007, kampung ini sudah banyak dikunjungi wisatatawan yang ingin berkegiatan di kampung ini. Dari pengelolaan parkir, didapat hasil yang luar biasa. Dari kondisi itulah kemudian kampung ini didaftarkan ke Dinas Pariwisata Sleman.  Tempat ini menjadi desa wisata semi object. Tahun 2009 kampung ini menjadi desa wisata.  Dalam perkembangannya, pada 2012 bantuan PNPM sebesar  65 juta membuat desa wisata ini mengalami peningkatan pesat. Jadilah desa wisata ini hingga sekarang berkerja sama dengan Villageria dan membawa saya datang menjelajah 😀

My Trip My Adventure… !!! Oooo…..!!!!

20161106_1002421

Keluar dari rumah home stay, kami mulai menjelajah pukul 09.30.  Menyusuri gang demi gang yang diberi nama all about teletubies, tujuan pertama adalah galeri rumah dome. Galeri ini berisi peninggalan-peninggalan kampung yang ambles terkena gempa. Aneka peralatan bertani, menenun, senjata tradisonal untuk melindungi diri, hingga peralatan rumah tangga dari batu dipamerkan dalam rumah ini.

Keluar dari galeri, kami berjalan menuju peternakan sapi milik warga. Melewati sebuah bangunan kelompok bermain, eh Janitra menyempatkan diri untuk bermain di taman.

20161106_1017311

Peternakan sapi  dan kambing jenis jawa dipusatkan di satu tempat demi kenyamanan, kebersihan, dan kesehatan. Dengan alasan kebersihan dan kenyamanan pengunjung, beternak ayam dihindari di desa wisata ini.

20161106_1023171

mas Mono memberikan penjelasan mengenai peternakan sapi

Selesai mengunjungi peternakan sapi, mas  Mono membawa rombongan ke pembuatan emping garut yang menjadi cemilan andalan desa wisata ini.  Kunjungan ini membawa kami berkenalan langsung dengan warga setempat. Rumah pak RW yang ramah itu selain menjadi tempat pembuatan emping garut juga menjadi tempat pembuatan mebel dan rumah jahit baju. Keluarga serba bisa yang hebat.

Di rumah produksi ini kami diberi kesempatan menjajal sendiri bagaimana membuat emping dari bahan ubi kerut yang menyimpan khasiat bagi kesehatan.

img-20161107-wa00211

foto jepretan mbak Ima Satrianto

Pembuatannya memanfaatkan tekonologi sederhana dengan dua papan semacam tlenan yang disatukan dengan engsel pintu sehingga bisa dibuka tutup. Di tengah-tengah papan itulah ubi yang sudah direbus dan dikukus di letakkan beralaskan plastik yang sudah diolesi minyak.  Papan kemudian ditutup dan ditekan. Masih kurang gepeng? Ada palu yang bisa dipakai untuk mengetok-ngetok supaya ubi gepeng sempurna. Setelah itu proses berikutnya adalah penjemuran dilanjutkan penggorengan. Kriuukkk… sembari mengobrol dan praktik, tak terasa emping  yang kriuk itu amblas. Sesekali kami juga mengemil potongan ubi rebus bahan dasar  emping. Hihi, doyan apa lapar? Maklum… enak kok? Boleh dicoba deh, ini nih…

20161106_1341382

Sudah diganjel dengan ubi dan emping, fisik cukup kuat untuk melanjutkan tracking. Penjelajahan ini membutuhkan fisik yang kuat lho, sebab kami harus menyusuri jalan menanjak menuju bukit.  Bagaimana dengan Janitra? Ini ketiga kalinya dia ikut tracking ayah ibunya setelah naik Puntuk Setumbu dan Andong. Tapi… karena trackingnya baru dimulai  tengah hari, jadilah energinya sudah tersita sehingga bapak harus rela sering-sering menggendong, bahkan tidur dalam gendongan.

Dua tempat berikutnya adalah Belik Wunut dan tanah ambles. Belik Wunut ini mata air yang unik dengan dua rasa, yaitu manis dan tawar. Sekat dinding  mata air menjadi pemisah dua rasa.

20161106_1045131

20161106_1043451

Menjajal keunikannya, mbak Elizhabet yang traveller sejati menjajal manisnya mata air. “Beneran”, katanya. Uniknya lagi, mata air itu tetap mengalir meski kemarau. Pada waktu hujan dan sungai  sampingnya berarus, ada mini air terjun yang bisa dinikmati.

Perjalanan mulai menanjak ketika kami menyaksikan lokasi tanah ambles sedalam 7 meter. Hanya ada dua rumah yang terlihat utuh. Mas Mono menunjukkan titik-titik  penting di tempat itu, seperti lokasi si bocah yang selamat dari maut dan candi yang kini ditumbuhi semak belukar.  Tempat itu kini ditumbuhi semak belukar sehingga tidak terlihat secara gaimblang seperti dulu pada saat kejadian, namun terlihat ada cekungan mengangga semacam jurang yang ditumbuhi semak.

img-20161109-wa00021

menyusuri tanah ambles

img-20161109-wa00031

Tanjakan semakin miring namun untunglah, lepas dari dua tempat itu saatnya kami dijamu di sebuah rumah warga di lereng bukit. Ini kedua kalinya kami berbaur dengan masyarakat  setempat. Menu tradisonal dengan pembuka rujak degan benar- benar menggugah selera. Lihat saja, menu sebanyak itu bebas kami nikmati. Terasa pecaaah karena kami makan dalam kondisi lapar dan capek. Ada sayur lodeh yang segar, lauk ayam goreng dan tempe, serta mie goreng sehingga peserta yang tidak makan nasi tetap mendapatkan karbo.  Teh anget yang kemepyar cukup mengobati lelah.  Sementara buah pelengkap berupa semangka dan jeruk menambah kesegaran siang yang panas.

Puas berleha-leha di pendopo, mas Mono melengkapi petualangan kami dengan berkenalan dengan tokoh inspiratif di bidang literasi dari Desa Sengir. Luar biasa, ada sosok yang mau berjuang di desa yang jauh dari keramaian kota ini. Sanggar  Anak Studio Biru menjadi tempat singgah yang cukup lama.  Mas Rendra sang pejuang literasi itu berbagi pengalaman dan inspirasi yang menggugah kami.

20161106_1357281

20161106_1400461

berkaos kuning, mas Rendra berbagi inspirasi

Tak hanya buku yang ditawarkan sehingga ketika Janitra  mulai bosan melihat-lihat buku koleksi Studio Biru dan mulai mengambek kerena harus duduk cukup lama, untunglah saya menemukan permainan unik. Permainan sepak bola dengan kelereng di papan berpaku yang di sekat-sekat dengan karet itu cukup bisa mengalihkan dunia Janitra.  Memiliki suami yang pengertian akan passion istrinya sehingga rela keluar forum dan menunggui Janitra bermain sungguh beruntung. Sebelum meninggalkan Studio Biru, kami sempatkan berfoto salam litarasi.

img-20161107-wa00041

foto kepunyaan mbak Ima Satrianto

Hari beranjak sore ketika kami ngos-ngosan naik menuju Bukit Teletubies. Dalam perjalanan, tak henti Janitra merengek pengen ketemu dan digendong badut gegara melihat gambar teletubies dalam brosur desa wisata. “Mboten enten Dik, niki pun sonten,”kata saya.  “Badute libur Dik“, ucap saya selalu.

Tapi lihat apa yang terjadi? Setelah belelah-lelah dengan perjalanan, kami, khususnya Janitra mendapat kejutan dari tim ketika kami sedang  duduk-duduk menikmati jelang senja di atas bukit. Tetiba badut merah itu menghampiri kami.   Waw, kaget bercampur senang, Janitra mendekati badut itu untuk bersalaman.  Saya menyaksikan wajah luar biasa pada diri Janitra. Ada rasa kaget bercampur tak percaya terbayang di wajahnya. Tekad untuk berani mengalahkan rasa takut karena bahagia mendapatkan apa yang diangankan terbaca lewat sorot matanya ketika beranjak dari duduk. Saya merasa surprised melihat ekspresi itu pada diri anak saya.

img-20161107-wa00061

foto oleh mbak Ima Satrianto

20161106_1607081

difotoin mbak Rahma

Dari atas bukit pemandangan luar biasa tersaji di bawah kami. Landskap Sleman yang hijau di sana-sini terlihat segar di mata. Kampung Teletubies terlihat kecil dari atas. Ada blendukan-blendukan putih diantara rerindang pepohonan. Langit sore yang kekuningan menawan disaput awan kelabu di beberapa titik.

20161106_1610581

20161106_1602461

img-20161107-wa00051

jepretan mbak Ima Satrianto

20161106_1628561

obrolan di atas bukit

Janitra tak sabar untuk pulang sementara hp saya dan suami sudah kehabisan daya sehingga tak bisa menangkap senja, maka kami memilih duduk-duduk di bawah puntuk Teletubies itu.  Ah, sebagai gantinya kami justru bisa kenal lebih dekat dengan mas Rendra.

Langit mulai menghitam ketika kami beranjak turun. Langit di barat semakin emas. Ada kerlap-kerlip di kaki langit,ialah landskap kota Yogyakarta di kejauhan.

Perjalanan yang luar biasa bagi kami. Tak hanya pengalaman dan inspirasi, namun saya juga menemukan teman-teman baru yang hebat di bidangnya masing-masing.Tim Villageria dan Mas Mono serta masyarakat Desa Wisata telah menjamu kami dengan sangat istimewa. Terima kasih. .. 🙂

Ingin merasakan serunya ngetrip seperti kami, bisa klik Villageria yang pasti akan memberikan harga sesuai dengan harga dari desa wisata  🙂

Grebeg Idul Adha

 

Secara kebetulan saya melakukan traveling bersama suami dan anak ketika Yogyakarta punya hajat Grebeg Idul Adha, 5 Oktober lalu. Awalnya kami mengetahui even itu dari kusir andong yang kami tumpangi dari pasar buku menuju Mirota Batik. Suami semangat pengen nonton di alun-alun. Berdasarkan pengalaman dulu ketika menyaksikan grebeg penuh sesak, saya tidak merekomendasikan, kasihan Janitra.  Tepat ketika kami berada di sekitaran 0 km Yogyakarta, iring-iringan pembawa gunungan grebeg lewat. Beruntung kami bisa menyaksikan. Dua gunungan yang kami saksikan tersebut berasal dari alun-alun dan  akan “dirayah” di Puro Pakualaman dan Kepatihan, Malioboro.  Grebeg utama tentu saja sudah dirayah di halaman masjid Agung. Arak-arakan tersebut diawali dengan dua gajah diikuti oleh barisan prajurit kerajaan dan abdi dalem.