Ngopi Sore di Atas Kali Progo

Kami bukan tipe keluarga yang suka hang out di cafe, tapi kalau ada tempat makan yang suasananya menyatu dengan alam kami pasti ingin mencobanya. Di Magelang ada cafe terbuka dengan  pemandangan alam yang cantik. Namanya Supermilk River View Cafe. Memang, cafe ini menawarkan susu sebagai menu utama. Penyuka kopi dan coklat tetap bisa mendapatkan minuman itu meski variannya tidak banyak.

20160910_1722271

 

 

20160910_1721381

20160910_1634471

20160910_1635041

 

Terletak di daerah Cacaban, cafe ini cukup manjur menyegarkan pikiran kami di Sabtu sore ini. Dari tempat makan yang terbuka, kami bisa menikmati Kali Progo yang ada di bawah  kafe dengan latar hijaunya persawahan. Landskap daerah Plikon Magelang terlihat apik di depan dataran tinggi yang penuh pepohonan. Di belakangnya menjulang gunung yang tertutup awan. Sementara di cafenya sendiri, rimbunnya pepohonan menjadi interior alam yang menaungi deretan bangku.

img-20160910-wa00121

20160910_1621371

img-20160910-wa00111

 

Barangkali kami tidak begitu beruntung menyaksikan langit sore di barat yang tersaput awan. Kalau sore cerah, pastilah kami bisa menyaksikan Gunung Sumbing dan Sindoro dan matahari yang tenggelam di baliknya. Matahari sore yang sudah condong ke barat hanya bisa kami nikmati sebatas ini.

20160910_1655411

Meski begitu kami tetap menikmati Sabtu sore ini. Dari tempat kami duduk Janitra bisa menyaksikan barisan bangau putih yang pulang sarang di ufuk barat. Menarik. Sabtu bersama bapak dan ibuk kali ini bagi Janitra sangat menyenangkan. Ia tak hanya mendapatkan menu susu favoritnya, tapi juga bisa menyaksikan sudut lain dari kota Magelang yang diakrabinya.

Menyantap menu sederhana pun rasanya tetap nikmat dengan suasana alam yang segar. Kami tak perlu merogoh kocek dalam. Untuk menu yang kami pesan: segelas susu hangat blueberry, segelas tiramisu coffe milk, segelas coklat pisang hangat, seporsi nasi goreng, dan seporsi pancake+ice cream semuanya dihitung Rp54.500 rupiah. Dari segi makanan saya rasa lumayan lah, untuk minuman kadar manis bisa diatur sendiri sebab gula disediakan dalam bentuk cair di gelas kecil.

20160910_1646441

 

20160910_1646561

fokus moto pancakenya jadi nasgornya tak keliatan

 Untuk yang ingin makan berat, ada beberapa  pilihan  nasi hemat. Menu makanan ringan dan minuman yang lain apa, bisa langsung datang saja ke lokasi

 

Dieng: dari Telaga Warna hingga Mie Ongklok

Ahad lalu (28/8) pertama kalinya Janitra menempuh perjalanan terjauh dan tentu saja terlama di atas motor. Bapak mengajak Janitra dan saya mengikuti Wisata Dakwah Aisiyah di alun-alun Wonosobo. Dari rumah Tegalsari pukul 07.30 WIB kami sampai di Wonosobo pukul 10.10 WIB dengan istirahat sebentar di rest area untuk ngopi sembari melihat kakak-kakak yang panjat tebing.

Sampai di alun-alun, tentu saja Janitra tergiur dengan warna-warni mainan yang tersebar di sekitar tenda acara. Kalau untuk jajan bisa ngerem, tapi untuk menikmati wahana permainan tidak bisa ditolak. Baiklah, karena penasaran naik motor mini, Janitra rela menunggu antrian yang cukup lama. Ibu pasti tahu rasanya penasaran itu bagaimana, jadi saya juga sabar menemaninya, heheh.

20160828_104743[1]

 

Selepas dhuhur, acara belum selesai, bapak dan beberapa teman (4 rombongan motor) melanjutkan jalan-jalan ke Dieng. Waw, mengunjungi negeri di atas awan, pasti…..

Perjalanan ke Dieng yang menanjak beberapa kali terhenti karena hujan. Hujan pula yang membuat rombongan terpencar. Alhamdulillah, pukul 13.00-an kami sampai di depan Candi Bima. Karena saya pernah mengunjungi komplek candi Arjuna, maka kunjungan ke sana tidak masuk list. Lagipula, denger-denger rombongan lain penasaran dengan Telaga Warna, siip lah karena saya juga belum pernah mengunjungi ke sana. Di pelataran candi, istirahat sebentar untuk kontak dengan rombongan lain yang terpencar.

 

Setelah jelas posisi rombongan lain, masuklah kami ke area Telaga Warna. Di bawah derai hujan, kami nikmati keindahan telaga warna-warni yang terjadi karena kandungan sulfur di dalamnya. Saat itu yang  kami saksikan air telaga berwarna degradasi hijau kekuningan kebiruan. Kalau tidak hujan, menikmati keindahannya di tepi telaga sembari merenung pasti asyik. Panonaram indah sebab di sekeliling telaga terlihat hijaunya alam dengan sentuhan kabut yang di sana-sini.

20160828_140807[1]

20160828_140939[1]

20160828_141141[1]

20160828_141451[1]

20160828_141249[1]

20160828_142240[1]

Karena tergesa, kami juga hanya mengunjungi sekilas Telaga Pengilon. Mungkin karena di sisi telaga terdapat warna hitam semacam bingkai/frame kemudian disebut pengilon (cermin)?

Yang terasa nikmat saat itu, hujan dingin, adalah gorengan jamur dan kentang hangat. Rasanya nikmat 😀 Gorengan khas Wonosobo itu tersedia di sekitar tempat wisata selain tempe kemul.

Dari Telaga Warna kami putuskan berpisah dari rombongan yang akan melanjutkan eksplore Dieng. Pertimbangan waktu dan daya tubuh maka kami putuskan untuk turun.

Perut yang lapar menuntun kami mampir di Gardu Pandang Tieng 1789 MDPL. Di sinilah saya pertama kali menikmati mie ongklok yang unik. Baru kali ini makan mie basah dilengkapi sate ayam dengan merica bubuk yang kerasa banget.  Rasa mie pun sate banget. Minumnya terasa hangat dan nikmat dengan teh tambi dan kopi dieng. Wangi tehnya kentel banget. Kopinya pun mantab. Selain menikmati kehangatan kuliner khas Wonosobo, dari tempat ini kami dimanjakan oleh keindahan landskap Wonosobo dari ketinggian yang terlihat diantara kabut yang berangsur menyingkir.

20160828_154727[1]

20160828_152459[1]

20160828_151611[1]

20160828_152056[1]

20160828_154032[1]

20160828_151002[1]

Turun dari gardu pandang, kami mampir sebentar ke toko oleh-oleh. Yang khas dari Wonosobo tentu saja carica. Karena kami penggemar kripik, kripik combro yang gurih dan kentang khas Dieng yang kriuk kami bawa untuk melengkapi carica yang seger. Sayang, lupa jepret!

Lepas dari pusat oleh-oleh, kami disambut hujan. Sepanjang jalan Wonosobo–Magelang kami berkendara dibingkai hujan. Kebayang dinginnya dari Magrib hingga lepas Isya’ kurang lebih 19.30 sampai rumah diguyur hujan. Alhamdulillah Janitra sepanjang jalan bobok jadi perjalanan terbilang tenang. Puji syukur lagi, alhamdulillah kami sampai rumah dengan sehat tanpa gangguan. Janitra diberi kekuatan oleh Allah sehingga sehat. Begitu sampai rumah dalam keadaan bobok saya ganti bajunya dengan terlebih dahulu diseko dan dibalur minyak kayu putih untuk menghangatkan.  Ini pengalaman luar biasa dan mendebarkan untuk saya sebagai ibu yang  jujur agak khawatir karena   dingin yang menyekap. Namun sepanjang jalan saya tepis segala khawatir, mantabkan diri bahwa hujan adalah rahmat Allah yang tidak akan membuat manusia sakit karenanya.

 

 

#Diari_Janitra_4tahun1bulan

 

 

Me Time: Mencicipi Kerak Telor

Sekali-kali pengen jalan sendiri, me time. Sabtu ini keinginan itu terpenuhi. Suami memberi ijin. Ehm…iya sih memberi ijin tapi teteup ada syarat request oleh-oleh yang akan saya penuhi belakangan nanti :D. Sebenarnya hari ini kepingin sekali nonton film, sayangnya Filosofi Kopi hanya tayang 2x, termasuk hari ini dan jadwal tayangnya pun tidak cocok. Maka destinasi kemudian berubah: jalan ke Festival Kuliner Magelang di Karisidenan.

Setelah muter sekilas melihat stand-stand yang ada, kaki saya terhenti di sebuah pedagang kerak telor betawi. Dagangan itu tidak berada di dalam arena festival  melainkan di halaman depan. Sekian lama penasaran dengan makanan khas Betawi ini karena beberapa kali melihat ada yang jualan di depan eks Bioskop Tidar (samping Gardena). Lebih-lebih ketika Hairi Yanti posting soal kerak telor. Rasa penasaran saya terobati. Selama makan, saya tanya-tanya sedikit soal kerak telor itu. Ternyata selain telor bahan dasarnya adalah beras ketan. Pertama beras ketan yang sudah direndam di air dimasukkan ke wajan, ditambah bumbu dan… pluk dengan satu tangan bapak penjual itu memecah telur bebek dan menumpahkannya pada wajan. Setelah telur melar–heran saya, kok mendadak melar– telor tadi dimatangkan dengan membolak-balik wajannya–nha, nggak tumapah juga. Setelah kering, kayak krispi ,ditambah serundeng dan brambang goreng. Jadilah kerak telor itu. Rasanya gurih enak, kerasa banget ketannya.

 

IMG_20150418_140835

 

IMG_20150418_141059

IMG_20150418_141336

Meskipun khas Betawi, penjual makanan yang saya jumpai tadi adalah perantau asal Wonogiri. Penjual makanan itu adalah pedagang makanan tradisional kedua yang saya temui dari Wonogiri. Sebelumnya saya pernah bertemu dengan wong Wonogiri yang berjualan putu.

Kalau sudah mencoba makanan seharga 15 ribu rupiah tadi, rasa penasaran terobati. Rasanya puas bisa me time kali ini. Saya pulang dengan oleh-oleh buat suami. Sesuai pesanan dan kesukaan suami, saya bawakan Brownis Amanda dari salah satu stand Festival Kuliner dalam rangkaian acara Ayo ke Magelang dalam rangka HUT Magelang.

 

Ayam Goreng Tulang Lunak Ninit

Ada yang aneh, tidak biasa, di mata saya ketika suatu siang makan di Ayam Goreng Ninit yang berlokasi di Jalan Ikhlas Magelang.  Begitu duduk setelah memesan menu, ayam goreng tentu saja karena di sana hanya menyediakan satu menu. Pelayan rumah makan terlihat mondar-mandir mengantar pesanan tanpa baki, dan dicicil—pakai bahasa saya—. Pertama meraka akan membawa dua cangkir minuman. Lalu datang lagi yang membawa dua tatakan—piring kecil— berisi ayam goreng, disusul pembawa  nasi dan lalapan di mangkuk kecil. Kesannya semrawut dan kurang rapi.   Maksudnya mungkin agar pengunjung tidak menunggu lama. Ketidakbiasaan lagi yang saya temukan adalah sambalnya. Ya, sambalnya tersaji dalam  teko plastik yang lazimnya digunakan untuk mewadahi  minuman.  Mau menuang sambal sebanyak apapun, bebas.  Penampilan dan penyajian menu teramat sederhana dan apa adanya.

Image

Saatnya makan, lha piringnya mana? Saya melihat suami mengambil piring dari bawah meja. Oalah, ternyata piring-piring memang sengaja  diletakkan di rak  bawah meja.

Image
Pelayanan yang kurang rapi terbayar oleh nikmatnya ayam goreng. Ayam goreng Ninit terkenal dengan tulangnya yang lunak. Setelah daging yang hangat-hangat panas ditambah sambal yang pedas mantab  sudah habis, penggemar tulang—ada kan yang suka mencecap-cepat  tulangnya setelah dagingnya tandas?  bisa menikmati  lunaknya tulang. Minuman yang disediakan ada teh, jeruk,serta air putih  yang bisa diambil bebas.   Meskipun hanya ada menu ayam goreng, namun tempat itu menyediakan beberapa pepes seperti pepes jamur dan ikan.  Satu porsi ayam goreng dibrandol Rp15.000;.  Sederhana memang tempat dan pelayanan tempat makan itu, namun tempat itu terlihat ramai. Tak heran, sebab ayam goreng itu sudah eksis sejak 1983, seperti yang tertampang di depan warungnya: Ayam Goreng Ninit:  Sejak 1983

Me Time

Dihantui oleh akreditasi selama 6 bulan tanpa kejelasan membuat saya dan teman-teman merasa begitu lelah. Hingga Jum’at lalu, saat Pra Akreditasi, pengawas yang datang ke sekolah kami memberikan informasi bahwa akreditasi siap dilaksanakan pekan setelah ujian akhir semester. Sedikit lega.

Jum’at itu menjadi hari yang melelahkan, pulang ke rumah menjelang Magrib. Malamnya, saya utarakan maksud hati kepada suami kalau Sabtu saya ingin melepaskan ketegangan dengan makan es krim. Sendirian. Pengen pulang gasek trus me time, ujar saya. Sebenarnya suami ingin ikut, tapi karena harus mengantar anak-anak di sekolahnya mengikuti lomba, jadilah rencana me time berjalan sukses, hehehe.

Saya memilih Rumah Es Krim, satu-satunya kedai es krim di desa Grabag. Kali itu saya ingin mencicipi yang segar-segar,rujak es krim jadi pilihan.

IMG_20131130_134923

Saya tidak salah memilih, segar memang. Berangsur-angsur benang ruwet di kepala terurai. Es krimnya  nyami hanya masih kurang lumer di lidah, rujaknya pun pedas segar.

IMG_20131130_135141

Es krim tandas, pikiran pun kembali seger, dan… ide kecil mendadak melintas. Alhamdulillah.

Oiya, ingin mencicipi varian es krim yang lain? Rumah es krim menyediakan 13 es krim dan 3 cemilan (nugget, sosis, dan kentang goreng). Untuk setiap rasa es krim dan cemilan, harga berkisar  Rp2.500; hingga Rp5.000;.

IMG_20131130_135515