[Gowes #6] Jelajah Museum BPK RI

Ini salah satu cara mengisi liburan di rumah, ngeblog menuliskan catatan perjalanan yang sekian waktu tertunda. Mengubek-ubek foto lama yang tersimpan. Gowes ini sudah lama sekali,sekitar setahunan silam ketika club buku Janitra masih suka ngumpul melakukan kegiatan bersama.

Dimulai dari Tegalsari, kami menyusuri sungai hingga Kebonpolo, menyebrang hingga rindam. Di rindam berhenti sejenak menikmati car free day dari atas jembatan plengkung.

IMG_20170723_083413

IMG-20170728-WA0029

Jenak mengambil jeda kami lanjutkan perjalanan menyusuri dusun Boton dan sampailah di Museum BPK RI.

Museum BPK RI yang kami kunjungi kini berbeda jauh dengan musem yang terakhir saya kunjungi sendiri bertahun-tahun silam, sekitar 2008-an. Museum yang berlokasi di Kompleks Karisidenan Kedu, Jl. Diponegoro No.1 Magelang, Jawa Tengah ini sejak 2016 memperhatikan tren museum post-modern. Punya tagline “BPK Pengawal Harta Negara” museum ini awalnya merupakan kantor BPK RI.

IMG_20170723_091051

Merunut sejarah, penempatan kantor BPK RI di Magelang bukan tanpa alasan. Pasca proklamasi, kondisi ibu kota Jakarta tidak kondusif sehingga pada awal 1946 memindahkan pusat pemerintahan ke Yogyakarta. Kantor-kantor kementrian/lembaga pun tersebar di sekitar Yogyakarta. Magelang dipilih sebagai kantor BPK RI. Awalnya, kantor bertempat di perusahaan listrik umum Hindia Belanda, kemudian berpindah ke Gedung Bea Cukai Maglang dan berlanjut di Kompleks Karisidenan Kedu terakhir pindah ke Gedung Klooster.

Museum BPK diresmikan pada 4 Desember 1997. Dari tahun ke tahun museum mengalami perluasan hingga kini berpenampilan modern. Pengelola museum adalah Unit Pekaksana Teknis (UPT) Museum BPK dengan kepala museum pejabat eselon IV. Pengelolanya berada di bawah Biro Humas dan Kerjasama Internasional BPK.

Ruangan-ruangan BPK RI memiliki penamaan tersendiri. Dimulai dari lobi sebagai pintu masuk lanjut ke Ruang Audio Visual, Ruang Wajah BPK, Ruang Titik Nol, Ruang BPK, Ruang Rekam Jejak serta terdapat Kids Museum, ruang perpustakaan, storage dan konservasi, ruang temporary exhibition, toko suvenir, kafetaria, dan paling ujung adalah kantor pengawai penglola museum.

Bagaimana rupa dalamnya? Pengunjung akan dibuat berdecak kagum dengan konten museum yang edukatif, tertata rapi,  dan apik. Para penggemar selfi akan menemukan spot-spot yang indah untuk berfoto. Yuk kita intip isi dalamnya…

IMG_20170723_091741

ruang lobi

IMG_20170723_092023

dwi tunggal di balik berdirinya BPK

 

IMG_20170723_091947

filosofi tugas BPK yang digambarkan dalam lukisan batik

IMG_20170723_092831

Ruang wajah BPK RI menampilkan profil BPK dengan visualisasi desain panel yang interaktif, mudah dimengerti, dan paritisipatif.

IMG_20170723_092509

IMG_20170723_092906

dalam Ruang Wajah BPK pengunjung bisa belajar sembil bermain

IMG_20170723_093211

Ruang Titik Nol menampilkan perjalanan sejarah BPK dari titik awal

IMG_20170723_093414

IMG_20170723_094027

ruang BPK berisi profil badan berdasarkan periodisasi

IMG_20170723_093921

IMG_20170723_094513

IMG_20170723_094555

Ruang Rekam jejak menampilkan pengaruh hasil pemeriksaan BPK bagi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan. Kliping surat kabar tertata apik

IMG_20170723_094636

a bpk 2

a bpk 1

Kids Museum diusung ringan, edukatif, dan menyenangkan bagi anak. Selain konten visual ada konten audio visual lewat film animasi

IMG_20170723_095540

 

IMG_20170723_102506

 

IMG_20170723_101733

perpustakaan yang tak kalah menyenangkan

IMG_20170723_094935IMG_20170723_093037IMG_20170723_094238

Nah, menyenangkan bukan jelajah di museum BPK RI. Pengunjung mendapatkan banyak ilmu tanpa dipungut biaya sepeser pun sebab tidak ada tiket masuk menuju museum.

IMG_20170723_113124

Puas belajar sembari bermain, kami pun melanjutkan perjalanan menuju alun-alun kota kemudian pulang. Hati riang dan badan sehat.

 

 

 

 

 

 

Berkebun di Kebun Bibit Senopati

 

 

Salah satu cara mengembangkan kecerdasan naturalis anak adalah mengajak mengekplorasi alam dan melakukan kegiatan berkebun. Di Kebun Bibit Senopati Magelang ini anak-anak akan diajak berkebun dengan fun. Tempat ini beralamat di Jl. Panembahan Senopati, Jurangombo Utara, Magelang Sel., Kota Magelang, Jawa Tengah 56123. Kebunnya indah dan banyak spot yang instagramable.

IMG_20181113_083721

 

IMG_20181113_092449.jpg

IMG_20181113_085118.jpg

IMG_20181113_083858.jpg

 

 

Kunjungan yang  dilakukan dengan kawan-kawan sekolah, pasti seru!!! Ini salah satu kunjungan belajar yang diadakan TK Janitra. Begitu datang, petugas menyambut anak-anak. Mereka dikumpulkan untuk pengarahan lalu diarahkan untuk menanam bunga. IMG_20181113_084350

Kegiatan menamam bunga dipandu oleh seorang petugas. Selanjutnya anak-anak akan diberi sebuah tanaman bunga yang dibawa pulang untuk ditanam di rumah. Selesai tugas menanam, ustadzah mengajak mereka berkeliling kebun.

IMG_20181113_090012_edit

 

Foto-foto tak ketinggalan. Apalagi emak seperti saya, sudah siap dengan gawai yang kameranya tak luput menjepret moment si anak.

IMG_20181113_085435_edit

IMG_20181113_085448

PhotoLab_20181129_161914[1]

PhotoLab_20181129_163419[1]

PhotoLab_20181129_160700[1]

 

Mau coba ke sini? Ajaklah si kecil ke sini,pasti senang. Berlarian dan mengenal aneka flora.

Eksotisme Kali Mangu Mungkid

 

Kamis pagi itu, saya dan rombongan—dengan rekan guru dan anak-anak– menembus  dingin pagi melewati rute naik turun berkelok-kelok menuju Blabak. Tak ada kemacetan kami temui sebab dari Grabag pak sopir memilih rute Banaran—Tegalrejo—Candimulyo—Blabak. Dalam hati saya berpikir, untuk tubing, kenapa  harus jauh-jauh ke Mungkid? Toh tak jauh dari tempat tinggal kami  juga ada. Meskipun berdomisili di Secang, saya bekerja di Grabag. Teringat pula komentar suami, ”Hari gini tubing,tubing sama batu?” Maklumlah, kemarau begini sungai paling airnya sedikit.

Jawabannya baru saya dapatkan setelah nyemplung dan ngeli di kali Mangu  dengan  ban  besar.

Beberapa kru menyambut kami di base camp di Jalan Senden-Ngabean No. 10 Senden Mungkid Magelang, yang di depannya nampak ornamen dari bambu berwarna-warni. Setelah menunggu beberapa saat untuk mempersiapkan peralatan: pelampung, helm, dan ban, kami pun siap berangkat dengan  berjalan kaki.  Kru yang membersamai kami ada 10 orang.

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.24.29

Start tubing berada tak jauh dari base camp.  Gemricik air sungai menyambut kami. Apa yang dikomentari oleh suami tidak terbukti. Air sungai melimpah dan gemricik diantara bebatuan sudah menggoda untuk diarungi.

Para pendamping kembali melakukan pengulangan informasi penting dari pembekalan yang sudah dilakukan di base camp.  Mantab kami memilih ban masing-masing.  Jumlah kru yang sebanding dengan jumlah rombongan dan selalu siap mendampingi menjadikan kami siap terjun.

Duduk di atas ban diombang-ambing dan hanyut mengikuti arus berbeda sensasinya ketika duduk bersama di atas perahu karet. Ini lebih seru.  Pengalaman dan keseruan tiap-tiap orang di atas ban berbeda-beda. Untuk individu yang menyukai tantangan yang memacu adrenalin secara personal tubing ini pilhan tepat.

Ketika arus cenderung tenang, pemandangan tebing sungai yang dinaungi langit biru bisa dinikmati. Ada akar-akar pohon yang menjuntai di sana-sani. Sesesekali ada mini air terjun yang menambah keindahan tebing sungai.  Saya takjub, kalau tidak mengarungi sungai dengan tubing seperti ini, tidak akan pernah tahu bagaimana rupa tebing sungai yang dijuluri akar-akar pepohonan. Terlihat eksotis. Magelang pastilah punya banyak sungai yang indah untuk dijadikan tempat mengambil jeda dari aktivitas dan menyegarkan pikiran. Sayangnya, polusi berupa sampah-sampah yang dibuang penduduk tak jarang ditemui di sepanjang perjalanan.

Melewati jeram-demi jeram, keseruan demi keseruan lebih terasa. Sensasi diombang-ambing dan didorong arus membuat ekspresi kami tak bisa dibendung, teriak dan bersorak. Tidak ada kekhawatiran bagi kami yang tidak memiliki kemampuan berenang sebab ban dan pengaman berupa pelampung dan helm sangat memadai.

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.20.26

Beberapa jeram ekstrim kami lewati, namun para pendamping selalu stand by di lokasi jeram, membantu para peserta bisa mengarungi dengan aman tanpa rasa khawatir. Justru di jeram-jeram yang ekstrim para peserta merasakan adrenalin terpacu.

IMG-20180628-WA0131

Penulis artikel menikmati tubing

Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, jarak tempuh yang Sungai Mangu  di arungi terbilang panjang. Pendamping mengajak beberapa kali break. Ini kesempatan bagi peserta tubing saling berbagi ekspresi dan meluruskan kaki.  Salah satu pendamping selalu siap mengambil foto. Tempat break selalu dipilih tempat dengan latar belakang pemandangan yang indah, berupa air terjun kecil ataupun batu-batu yang instragramable untuk berfoto.  Kerikil-kerikil dan bebatuan kecil terhampar di tepi sungai yang landai. Tak hanya di tempat break, fotografer juga aktif mengambil foto saat kami berayun-ayun atau terlontar oleh arus jeram.

whatsapp-image-2018-06-28-at-12-16-27.jpeg

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.14.54

WhatsApp Image 2018-06-28 at 11.54.36

whatsapp-image-2018-06-28-at-12-15-12.jpeg

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.23.08.jpeg

Tiba di garis finish,  kami bisa berpose dengan pose melingkar  sambil bermain kecipuk air. Foto-foto yang diambil oleh fotografer semua akan dibagikan kepada rombongan sehingga keseruan tubing  bisa dibawa pulang dan menjadi kenangan sepanjang waktu.

IMG-20180628-WA0114

IMG-20180628-WA0107

WhatsApp Image 2018-06-28 at 12.08.48

Magelang memiliki kekayaan sumber daya alam  yang bisa  diekslpore untuk pariwisata. Dari hutan pinus, hutan bambu (papringan), pegunungan, hingga sungai-sungai yang menyimpan keindahan yang seringkali tak diketahui oleh penduduk lokal. Seperti Sungai Mangu Blabak ini yang menawarkan pemandangan eksotisme dan jeram-jeram penuh tantangan.  Ayo ke Magelang. Sebagai wong Magelang  sudah saatnya kita mengenal dan mengeksplorasi daerah sendiri sebelum melalang ke tempat lain.

 

 

**Foto koleksi pribadi atas kiriman pendamping tubing

 

 

 

 

 

 

Menepi di Mangli

Jenuh dengan hiruk pikuk dunia maya yang seringkali beringas: saling nyiyir, saling komentar  dengan tulisan paling benar, menepilah ke desa. Sering-seringlah rasakan keramahan nyata yang tak dibuat-buat. Kita akan tahu bahwa dunia ini tidak hanya dipenuhi orang-orang yang selalu merasa paling benar. Temuilah orang-orang yang tidak pernah dipusingkan dengan masalah-masalah viral.

Sejuk, itu yang rasakan saat bertemu dengan penduduk Mangli, Kaliangkrik. Di sebuah masjid dalam jamaah shalat duhur, ibu-ibu yang selesai melipat mukena  menyalami kami, saya dan Janitra.

“Saking tindak pundi?” sapa salah satunya.

“Mangli,”jawab saya exited dengan keramahan tulus mereka.

“Ngaturi pinarak, nggo..”ajak mereka. Semua ibu yang menyalami saya mengajak kami mampir ke kediaman mereka. Semuanya tanpa kecuali dan saya melihat ketulusan mereka.

Ketika saya tanya rute perjalanan menuju Dlimas pun, mereka menjelaskan dengan ramah.

Mangli, kami memang baru saja turun dari gardu pandang Silancur Mangli. Kesan saya sama dengan ketika bertemu penduduk desa. Sejuk. Dengan tiket seharga Rp 5000 kami bisa mengeksplorasi keindahan sebuah punthuk kecil.

IMG_20171225_102151_HDR

IMG_20171225_102206_HDR

Gardu pandang Silancur tak berbeda dengan wisata ketinggian yang pernah saya datangi. Landskap pedesaan di bawahnya, petak-petak pertanian di lereng gunung yang miring, juga awan-awan berarak di langit tepat di atas gunung yang terlihat sejajar dengan pengunjung gardu pandang. Bedanya, kami sangat menikmati berada di tempat itu. Tak ada antri-antri di spot swafoto. Ada beberapa pengunjung yang kami temui, namun semuanya terlihat menikmati suasana, tak hanya datang untuk cekrek-cekrek foto.

IMG_20171225_111244_HDR-01 (1)

IMG_20171225_111739_HDR

Kalaupun ada spot yang banyak diminati, antriannya tak begitu membuat kami yang datang terlihat menunggu. Kami menunggu sembari menikmati atau bermain-main.

Gardu pandang itu berada di punthuk kecil. Sejuk dan ‘eyup karena ada pepohonan.   Dua hammock diantara dua pasang pohon  bisa pengunjung pakai untuk bersantai maupun foto. Dua ayunan tanpa sabuk pengaman terlihat di dua sisi punthuk.

IMG_20171225_104624_HDR-01

IMG_20171225_105637_HDR

IMG_20171225_103513_HDR

IMG_20171225_103654_HDR

IMG_20171225_104328_HDR

Sebuah menara  berdiri di atas punthuk. Pengunjung bisa bersantai, berfoto, atau mengamati Merapi dan Merbabu yang berdiri kokoh di kejauhan. Sayang, gumpalan awan menutupi pemandangan itu. Mengunjungi tempat-tempat wisata semacam itu memang direkomendasikan dilakukan pagi hari.

IMG_20171225_102903_HDR

Taman bunga dengan aneka bunga warna- warni sangat instagramable untuk berfoto. Beberapa bangku taman atau gazebo menjadi tampat rehat yang memanjakan mata. Mau ngopi di tempat tu, rasanya pasti beda. Sayang, satu warung di sana hanya menyediakan kopi dan beberapa jenis minuman sachet instan. Besok lagi kalau kesana, karena jadi tempat fav, bisa deh bawa perlengkapan piknik dan ngopi-ngopi di atas.

IMG_20171225_112225_HDR

IMG_20171225_110733_HDR

IMG_20171225_113041_HDR

saatnya keluarkan bekal. sayang tak membawa kopi dari rumah

Turun ke bawah dan bertemu penduduk dusun yang membuat saya terkesan akan keramahannya, kamu kemudian lanjut ke Dlimas. Gardu pandang yang terletak di Windusari,Magelang,  ini sangat ramai.

Kontras sekali dengan Mangli. Tempat parkir penuh dengan sepeda motor. Tempat yang diresmikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo setahun lalu ini sedang ngehits di Magelang.

IMG_20171225_134629_HDR

IMG_20171225_133455_HDR

Gardu pandang Dlimas memiliki banyak spot foto yang tersebar di banyak titik. Dibutuhkan stamina untuk jalan dari spot ke spot, lumayan buat olahraga. Tapi jangan khawatir perut kepalaparan. Banyak warung makan yang sekaligus sebagai gardu pandang.

Pemandangan yang terbentang tak jauh beda dengan Mangli. Dengan tiket Rp10.000 pengunjung bisa berfoto di banyak wahana tanpa dipungut biaya lagi.

Oiya, mau olahraga yang lebih lagi, pengunjung bisa mengunjungi curug. Kami cukup menikmati perjalanan menuju curug, berjalan di antara petak-petak pertanian, namun kami urung menuju lokasi karena kaki kami sudah minta berisitirahat. 🙂

IMG_20171225_132636_HDR

Pesona Tersembunyi, dari Mongkrong hingga Sukmojoyo

Magelang, tempat saya lahir , tumbuh, dan tinggal  punya sejuta pesona yang tak habis untuk digali. Kotanya yang bersih berkali-kali mendapatkan anugerah Adipura Kencana. Keindahannya, dari kota hingga pelosok  menarik siapa saja untuk datang. Magelang tak hanya punya Borobudur yang kondang hingga mancanegara. Ada surga-surga tersembunyi yang bisa dinikmati di waktu senggang.

Sebagai wong Magelang, rasanya kok ‘katrok’  jika sampai tidak tahu tempat-tempat yang menyimpan pesona. Liburan, adalah saat yang tepat untuk melakukan eksplorasi.  Maka, di suatu pagi yang berkabut di hari libur, saya, suami, dan anak menerjang dinginnya pagi dengan motor. Motor melaju menuju daerah Borobudur.

Punya wilayah pegunungan yang mengular menjadikan Magelang punya potensi untuk mengembangkan wisata alam di ketinggian.  Di sepanjang pegunungan Menoreh, banyak titik menarik yang menjanjikan keindahan pemandangan matahari terbit.  Kalaupun  tak punya kesempatan melihat matahari terbit, ada lanskap  yang tak henti membuat  decak kagum.

Titik-titik di sepanjang Menoreh yang menjanjikan golden sunrise itu bisa diakses dari wilayah Borobudur. Untuk sampai di puncak Bukit Mongkrong, saya  tak perlu tracking  dengan ngos-ngosan seperti ketika saya naik gunung.  Dari tempat parkir sepeda motor, saya tinggal jalan kaki sebentar saja. Pengunjung yang datang bermobil, ada ojek yang siap mengantar sebab jalan menuju bukit tak memungkinkan mobil untuk naik. Meskipun saya hanya jalan sebentar saja, namun untuk  menuju lokasi parkir,  jalan sempit  terbilang  di sana waw!  Tanjakannya luar biasa bahkan ada yang menikung curam dan terbilang tak lagi mulus. Motor matic yang kami tumpangi sampai-sampai berbau gosong.  Agaknya, naik motor trail bisa menjadi pilihan yang bagus.

Mongkorong, tempat ini membuat diri tak henti berdecak kagum.  Lukisan yang dibentangkan Allah di bukit ini membuat kami betah berlama-lama di tempat ini. Negeri di atas awan tersemat juga dari tempat ini.  Dari titik-titik yang dibangun sebagai spot foto seperti gazebo, semacam dermaga dari anyaman bambu, hingga gardu pandang pada tiang  yang menempel pada pohon memanjakan saya menikmati  deretan gunung Merapi, Merbabu, dan Andong serta Telomoyo yang terlihat kokoh sebagai latar landskap pagi.

20161226_072743

Pada pagi itu, saputan kabut di sana-sini semakin mempercantik .  Di bawahnya, landskap wilayah Borobudur yang hijau dengan kotak-kotak pedusunan membuat mata tak mau beralih. Sungguh, tempat-tempat semacam ini bisa membuat hati banyak mengingat kebesaran Allah.

20161226_074047

Satu pikiran tiba-tiba melintas, hari gini untuk menikmati keindahan ketinggian bahkan matahari terbit ternyata tak perlu tracking ala pendaki gunung.  Ada banyak keindahan pagi yang tersembunyi, yang bisa didatangi tanpa menginap semalaman.  Ini bisa jadi alternatif bagi pemburu golden sunrise yang tak sempat bermalam di ketinggian.

Mongkrong  begitu  memanjakan mata sebab viewnya  luas. Tak heran jika pengunjung tak henti berdatangan pagi itu. Pengunjung harus rela antri jika ingin berfoto di top selfi ini. Saling pengertian dengan sendirinya tercipta antar pengunjung.

 

 

Merasa ngeri dengan ketinggian tapi ingin berfoto di titik yang menjadi top selfi, jangan khawatir. Ada sabuk pengaman yang disediakan di dua sisinya. Sabuk itu di kaitkan dengan bilah kawat di masing-masing sisi. Dari tangkapan kamera, tak terlalu mencolok kok sabuk itu.

20161226_075530

20161226_075613

Kalau titik yang ini memang membutuhkan keberanian. Tapi keseruan duduk diatasnya tentu akan  terbayar.

20161226_074156

20161226_075158

Dari puncak Mongkrong ini, terlihat sebuah bukit  bertuliskan Sukmojoyo Hill di sebelah kiri bawah.  Sudah sampai sini tapi tak mencoba ke sana, rasanya kurang afdol.  Puas menikmati Mongkrong, motor kembali menderu mendatangi Sukmojoyo.

Melewati jalan yang berliku, menanjak, kadang setapak  khas pedusunan, sampailah di punthuk yang  juga merupakan tempat peziarahan.  Punthuk ini belum dikelola seperti Mongkrong. Jika di Mongkrong dikanakan tiket masuk lima ribu rupiah per kepala dewasa plus ongkos parkir sebesar dua ribu rupiah, di Sukmojoyo disediakan kotak tempat pengunjung memberikan uang masuk seikhlasnya.  Biaya parkir ditarik tiga ribu rupiah.

Pagi itu hanya kami pengunjungnya. Kontras sekali dengan Mongkrong yang pengunjungnya tak putus. Kalau untuk menyepi dan bertadabur alam, tempat ini cocok. Banyak sudut yang di bangun sebagai top selfi, lebih banyak ketimbang Mongkrong. Lihat saja spo-spot ini, sambil berfoto saya bisa menikmati pemandangan di bawah yang menyegarkan. Mamang, di banding Mongkrong, untuk  view ke bawah Mongkrong tetap lebih unggul.  Tapi, di tempat ini saya bisa menikmati alam pegunungan Menoreh lebih leluasi sembari menyadari kecil diri saya. Betapa untuk menambah rasa syukur, tempat-tempat yang memperlihatkan kebesaran Tuhan bisa menjadi pilihan untuk didatangi.

20161226_090416

20161226_090312

20161226_083841

20161226_085514

Gunung Merapi sebagai latar dengan bingkai hati

 

Sepulang dari dari sana,satu lagi pikiran melitas, bahwa saya perlu mengagendakan menggali pesona Magelang yang belum saya tahu. Kamu anak Magelang tapi merantau, sekali-kali sempatkan pulang dan mendatangi tempat-tempat yang pasti akan membuatmu semakin rindu pulang.  Kamu yang berada di luar Magelang bisa klik tiket.com untuk akomodasi datang ke Magelang. Liburan di Magelang menjanjikan sejuta eksplorasi.  Ayo ke Magelang dan segera klik tiket.com!

 

 

Wisata Petik Stroberi Ketep

Berlarian di antara tanaman stroberi, memilih buah yang memerah kemudian memetiknya sendiri, anak kecil mana yang tak suka? Keseruan itu barangkali telah lama dibayangkan Janitra sehingga Ahad lalu ia meminta jalan-jalan ke kebun stroberi.

Tidak ada salahnya memenuhi keinginannya, sebab jalan-jalan yang dimintanya bisa jadi ajang belajar, eksplore alam, dan tentu saja bapak ibuknya juga pengen dolan 😀

Berangkat dari rumah pukul 13.30, perjalanan terbilang lancar. Dari Secang, kami memilih menuju kota Magelang kemudian lanjut Sawangan. Perjalanan menuju Ketep Pass dengan jalur Sawangan terbilang lebih mudah dicapai dan lancar, tidak seperti jalur Pakis yang rutenya ekstrim (belokan, tanjakan, sempit, plus jalan bopeng sana-sini). Jalur Sawangan lebih lebar, jalan yang mulus dari cor-coran, dan minim jalan ekstrim.

Dari Ketep Pass kami turun menuju arah Pakis. Di sepanjang jalan, sudah terlihat beberapa kebun stroberi. Kebun pertama yang kami kunjungi hanya menyediakan buah stroberi petik. Stroberi di kebun telah habis. Begitu pula kebun kedua. Stok di kebun habis. Kami tidak menyerah. Masih banyak kebun stroberi yang menyediakan wisata petik.

Kebun Stroberi Inggit terlihat berpengunjung melihat penampakan tempat parkir. Sebelum memutuskan turun, suami bertanya kepada tukang parkir. Beruntung.  Masih ada tapi sedikit, begitu info yang kami dapat. Lumayanlah.

Ada dua petak kebun stroberi atas bawah. Sebelum masuk, ada tarif yang ditarik sebesar Rp5.000/orang. Kami mendapatkan keranjang kecil dan gunting sebagai alat petik.

“Dilarang makan di tempat ya. Satu ons stroberi dihargai Rp.15.000,” pesan ibu penjaga. Kami setuju.

Mulailah kami berburu stroberi. Berjalan di antara tanaman stroberi, memilih stroberi yang layak petik, nyatanya memang pengalaman yang seru. Selain kami, ada beberapa rombongan yang asyik dengan aktivitas mereka. Memetik dan berfoto-foto di sela-sela memetik. Stoberi yang ranum dan bunga yang imut juga bisa menjadi objek foto yang menarik.

 

 

 

 

IMG_20170820_151654

IMG_20170820_151508

 

 

 

 

 

 

IMG_20170820_152457

IMG_20170820_152015

IMG_20170820_154232

IMG_20170820_153916

Kalau dikalkulasi, tentu saja mendapatkan stroberi dengan petik langsung lebih mahal daripada membeli buah di dalam mika, di pasar maupun di lokasi. Tapi, pengalaman dan buah yang kami dapatkan tentu berbeda. Kalau kami sudah mengidentikan stroberi dengan buah yang kecut, tidak demikian dengan buah yang dipetik langsung. Kami bisa memilih buah yang terbaik dan tentu saja  rasanya lebih segar dan manis. Berbeda dengan stroberi yang selama ini kami dapatkan di pasar tradisional.  Jempol deh. Tambahan lagi, stroberi tergolong buah organik, jadi lebih aman dikonsumsi dan sehat.

IMG_20170820_153245

Ingin pulang membawa oleh-oleh olahan buah stroberi maupun suvenir berbentuk stroberi? Tempat itu menyediakan. Buah stoberi telah diolah menjadi aneka snack maupun selai yang variatif.  Pengunjung tinggal pilih. Menikmati makanan dan minuman hangat sembari menikmati panorama sekitar juga bisa menjadi pilihan di kebun itu.  Ada gazebo di tengah-tengah kebun maupun di depan lokasi.

Gowes #5: Melintasi Jembatan ‘Imigrasi’ Kabupaten—Kota Magelang

Sebagai referensi tempat-tempat menarik di sekitar, saya suka stalking IG yang memajang tempat-tempat wisata. Dari IG Magelang misalnya, ada jembatan gantung yang kelihatan apik di foto. Maka, kami merencanakan gowes rute ke sana.

Waktu itu senin pagi, bertetapan dengan hari Maulud Nabi, 13 Desember 2016  dari Tegalsari Jambewangi Secang sepeda kami kayuh menuju Mbugel kemudian Klontong. Dua dusun itu masih berada di desa yang sama dengan tempat tinggal kami. Sepeda mulai masuk kota ketika memasuki kawasan perumahan Depkes. Jembatan sudah dekat tatkala daerah Ngembik Kramat Selatan, Kota Magelang.

 

img-20161218-wa0003-1

img-20161218-wa0002

 

Sampailah di jembatan itu.  Jembatan yang panjangnya sekitar 100 meter dengan lebar 1,5 meter itu ternyata rame dilintasi penduduk dari dua desa di sekitar.   Tinggi jembatan dari permukaan sekitar 20 meter. Kebayang kan tingginya?

Untuk menyebrang, kami harus bergantian sesuai kuota yang ditulis di ujung jembatan. Kuota itu tentu saja untuk menjaga keselamatan pelintas. Ada kejadian di bulan November 2011 yang menelan korban jiwa dan kendaraan ketika jembatan itu putus.

Ada sensasi tersendiri ketika melintasi. Ketika berpapasan, saya harus menunggu yang lain lewat duluan. Goyangannya itu… serong kanan serong kiri. Menyebrang kali Progo di atas jembatan  sepanjang itu  merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sebelumnya, saya hanya pernah menyebrang jembatan kali Manggis yang panjangnya kira-kira sepertiganya.

Sampai di seberang, yang berarti saya telah sampai di Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, saya merasa terkejut mendapati ternyata ada pos. Yang terlintas di benak adalah pengalaman Agustinus Wibowo ketika melintasi batas negara.’ Kantor’ imigrasi seadanya yang dijaga oleh tentara. Hihihi…jauh banget yang ngebayanginnya.  Pos itu dijaga seorang petugas.

img-20161218-wa0008-1

img-20161218-wa0001

Para penduduk yang melintas dikenai biaya untuk kas perawatan jembatan. Mereka adalah penduduk sekitar yang melintas dari kabupaten ke kota Magelang atau sebaliknya.

 

“Satu orang lima juta rupiah,” kata lelaki necis tinggi besar itu kepada saya. Ahahaha, memang bapak lima anak itu penuh humor. Maka, saya bayarkan 1500 rupiah untuk saya, Janitra, dan bapaknya. Kami tak langsung meninggalkan tempat itu. Menyempatkan diri ngobrol dengan bapak di sela-sela membuka tutup plang , saya mendapatkan semangat pada dirinya.

“Saya ini, nggak bisa ngaji. Nggak mau anak-anak saya seperti saya makanya saya saya masukan anak saya ke pesantren.”

img-20161218-wa0010

Sambil istirahat, kami melihat-lihat susanan berkeliling. Sungai Progo di bawah jembatan nyatanya memang apik. Beberapa anak terlihat bermain di tepi sungai yang berbatu kecil-kecil,semacam pantai yang berkerikil berpasir hitam.  Matahari pagi menimbulkan kilau pada air sungai.

img-20161218-wa0006

Puas menikmati Progo, kami lanjutkan perjalanan.    Karena memang pengalaman pertama menyusuri daerah itu, kami main blusukan saja. Mengandalkan plang  petunjuk atau bertanya penduduk sekitar adakalanya kami kesasar.  Tapi, pengalaman blusukan dan kesasar itu menjadi seni tersendiri ketika gowes. Kalau nggak paknda Janitra, bukan blusukan namanya, kata suami suatu ketika saat saya protes karena melintasi gang yang sempit.

img-20161213-wa0035

Ada pengalaman mentok ketika kami mencari penyebrangan Progo menuju   Mbugel, Kec. Secang Kab Magelang   . Menyusuri kebun sawah, ternyata kami bertemu jalan buntu di sawah. Untunglah ada seorang kakek  baik hati yang mengantar kami dan menunjukkan jalan. Berbalik dari sawah kami kemudian memasuki dusun.

Kakek mengajak kami melintasi rumah-rumah penduduk dan menuju papringan lanjut ke sawah di belakang kampung.  Kakek itu menunjukkan agar kami melintasi sawah  lalu menyusuri kali. Blusukan kebun lagi, kami akhirnya sampai di tepi kali Progo. Terus saja kami melintasi kali sesuai petunjuk, akhirnya kami sampai di anak Sungai Progo yang kecil.

img-20161213-wa0029

img-20161213-wa0032

img-20161213-wa0031

Tak ada jembatan di kali itu. My trip my adventure. Kami harus turun kali dan menyebrang bersama sepeda kami. Terlebih dahulu saya dan Janitra yang menyebrang. Secara bergantian paknda Janitra menyebrangkan sepeda kami. Wah…seru….

img-20161213-wa0017

img-20161213-wa0026

img-20161213-wa0021

img-20161213-wa0024

Sejenak Janitra bermain di kali. Anak-anak ketika bertemu air tidak afdol kalau tidak bermain. Mentas dari kali, saya melihat beberapa tumbuhan yang menarik untuk dikenalkan kepada anak. Belajar di alam, saya perkenalkan tumbuhan putri malu yang di mata anak-anak pasti mengasyikan ketika menyentuhnya.

Menyusuri sawah lagi, sampailah kami di jalan bercor. Sepeda kami kayuh, akhirnya tiba di jembatan gantung lagi.  Goyang lagi, kali ini tidak seseru di  Jembatan Kramat. Tak ada petugas di sana. Pos penjagaan tanpa penghuni. Dari jembatan, sudah terlihat kawasan pemecah batu.

img-20161213-wa0018

img-20161213-wa0019

Masuk ke Kelurahan Jambewangi lagi, dusun yang kami lewat adalah Mbugel kemudian masuk komplek Armed lanjut Sambung. Menyebrang jalan raya Yogya-Semarang, melewati perumahan sampailah kami di rumah lagi.

Pengalaman yang seru. Moment Maulud Nabi membuat trip gowes kami tambah berkesan. Perjalanan kami diringi syair syair khas Maulud Nabi yang bergema dari desa ke desa.

Menepi di Hutan Pinus Kragilan

20161016_093654

20161016_093753-1

Lelah dengan rutinitas dan pengen cari tempat ngadem yang asyik tapi murah meriah? Atau bosan dengan tempat nongkrong yang hiruk pikuk semacam mall? Atau malah pengen kumpul keluarga di tempat yang sejuk ditambah selfi-selfi?

Hutan Pinus Kragilan tempat jawabnya. Itu lho tempat wisata yang kini sedang ngehits di Magelang.

Tidak salah jika hutan yang terletak di  Kragilan, jalan menuju Ketep Pass itu kini jadi incaran untuk berwisata.

Ya hutan yang dibelah oleh jalan ini memang adem seperti hutan pinus di kaki gunung pada  umumnya. Kalau untuk saya yang beberapa kali pernah main-main di hutan pinus semacam Mangli atau Andong, tempat semacam ini bukan tempat baru. Tapi tetap saja pengen datang lagi ke sana.  Kenapa?

  1. Tempatnya luas, jadi meskipun waktu saya datang di hari Ahad banyak wisatawan yang datang, tetap saja pengunjung punya ruang untuk duduk berlama-lama menikmati alam. Ada banyak ayunan untuk bersantai. Rumah pohon juga ada kalau ingin selfi-selfi. Kalau pengunjung tidak ramai, mungkin kita  beruntung bisa duduk berlama-lama di atas sana.
  2. Murah meriah. Biaya masuk yang dikenakan dihitung sebagai biaya parkir. Bertiga ke sana naik motor, kami hanya ditarik biaya Rp.3000. Tidak ada biaya lain kecuali kalau ingin menyewa tenda atau hammock yang sedang ngetrend itu. Oiya, kalau nggak bawa makanan sendiri, ada banyak warung yang menyediakan aneka menu yang menghangatkan.
  3. Bisa merasakan berayun-ayun di hammock, ngecamp, ataupun menginap. Di sana pengunjung bisa menyewa beberapa fasilitas yang disewakan seperti hammock, tenda, dan bahkan flying fox.
  4. Tempat kumpul keluarga atau outbond yang seru. Alam akan mendekatkan satu orang dengan orang yang lain. Di sana saya lihat banyak rombongan keluarga, komunitas, atau geng yang mengadakan acara yang seru. Ada yang sekedar duduk-duduk makan bersama, melakukan permainan bersama, outbond, dan foto-foto. Tempatnya luas dan nyaman banget jadi cocok buat kumpul-kumpul. Sedang mencari tempat arisan yang antimainstream? Coba di sini, pasti asyik.
  5. Top selfi pastinya. Yeah, yang dicari kan itu ya, hehe. Bisa selfi-selfi di antara pohon pinus itu, romantis. Mau foto sendiri, bersama pasangan, atau rame-rame bareng keluarga dan teman, setiap sudutnya bisa jadi latar yang apik. Foto prewed atau postwed juga banyak yang melakukannya di sana.

 

 

20161016_093806

20161016_095750

20161016_093437

20161016_093017

20161016_100848

Saya merasakan kesegaran dan keseruan ketika mengunjungi hutan itu tanpa rencana. Janitra sangat menikmati berayun-ayun di bawah pohon pinus. Memandang kehijauan dan menghirup kesegaran. Pengen sekali balik ke sana membawa tenda lalu bersantai bersama keluarga. Eh, bahkan pengen juga nginep di sana. Semoga terkabul suatu saat 🙂

 

Ngopi Sore di Atas Kali Progo

Kami bukan tipe keluarga yang suka hang out di cafe, tapi kalau ada tempat makan yang suasananya menyatu dengan alam kami pasti ingin mencobanya. Di Magelang ada cafe terbuka dengan  pemandangan alam yang cantik. Namanya Supermilk River View Cafe. Memang, cafe ini menawarkan susu sebagai menu utama. Penyuka kopi dan coklat tetap bisa mendapatkan minuman itu meski variannya tidak banyak.

20160910_1722271

 

 

20160910_1721381

20160910_1634471

20160910_1635041

 

Terletak di daerah Cacaban, cafe ini cukup manjur menyegarkan pikiran kami di Sabtu sore ini. Dari tempat makan yang terbuka, kami bisa menikmati Kali Progo yang ada di bawah  kafe dengan latar hijaunya persawahan. Landskap daerah Plikon Magelang terlihat apik di depan dataran tinggi yang penuh pepohonan. Di belakangnya menjulang gunung yang tertutup awan. Sementara di cafenya sendiri, rimbunnya pepohonan menjadi interior alam yang menaungi deretan bangku.

img-20160910-wa00121

20160910_1621371

img-20160910-wa00111

 

Barangkali kami tidak begitu beruntung menyaksikan langit sore di barat yang tersaput awan. Kalau sore cerah, pastilah kami bisa menyaksikan Gunung Sumbing dan Sindoro dan matahari yang tenggelam di baliknya. Matahari sore yang sudah condong ke barat hanya bisa kami nikmati sebatas ini.

20160910_1655411

Meski begitu kami tetap menikmati Sabtu sore ini. Dari tempat kami duduk Janitra bisa menyaksikan barisan bangau putih yang pulang sarang di ufuk barat. Menarik. Sabtu bersama bapak dan ibuk kali ini bagi Janitra sangat menyenangkan. Ia tak hanya mendapatkan menu susu favoritnya, tapi juga bisa menyaksikan sudut lain dari kota Magelang yang diakrabinya.

Menyantap menu sederhana pun rasanya tetap nikmat dengan suasana alam yang segar. Kami tak perlu merogoh kocek dalam. Untuk menu yang kami pesan: segelas susu hangat blueberry, segelas tiramisu coffe milk, segelas coklat pisang hangat, seporsi nasi goreng, dan seporsi pancake+ice cream semuanya dihitung Rp54.500 rupiah. Dari segi makanan saya rasa lumayan lah, untuk minuman kadar manis bisa diatur sendiri sebab gula disediakan dalam bentuk cair di gelas kecil.

20160910_1646441

 

20160910_1646561

fokus moto pancakenya jadi nasgornya tak keliatan

 Untuk yang ingin makan berat, ada beberapa  pilihan  nasi hemat. Menu makanan ringan dan minuman yang lain apa, bisa langsung datang saja ke lokasi

 

[Diari Janitra] Gowes #4: Wah, Bocor…Bocor!

Cuaca sore tadi cenderung mendung, namun tekad kami untuk gowes tak terpengaruh kelabu. Untuk berjaga-jaga, kami membawa 1 jas hujan untuk Janitra. Bapak ibuk hujan-hujanan saja bila hujan.

Pukul 4 sore kami berangkat. Dari Tegalsari, sepeda kami kayuh menuju SMU 5 Magelang. Dari sekolah yang mengedepankan bidang olahraga itu, kami melaju masuk Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeroyo. Keluar RSJ, sepeda melaju memasuki Armada Estate lalu Perumahan Depkes. Rute ini sama dengan rute menuju rumah pada gowes #2.

Yang berbeda dari rute gowes #2, dari Perumahan Depkes kami berbelok ke Gintung, Jambewangi, Secang. Gowes kali ini buat saya punya progres yang berarti. Selain saya menaikkan beberapa senti sedel sepeda, 3 kali tanjakan bisa saya lewati.

Di salah satu tanjakan, sayup-sayup saya dengar Janitra berseru, ” ibuk kuat…. ibuk kuat….!” Hehehe, biasanya di puncak tanjakan saya akan berteriak, Yeee… ibuk menang!

Gintung terlewati berikutnya adalah Armed Naga Pakca Sambung. Masuk Armed, dari belakang bapak berseru, “bocor… bocor…!”

Yaa…ban depan bocor! Terakhir, ban belakang bocor dan telah diganti. Kini giliran ban depan minta ganti.  Ya sudahlah, sepeda kami tuntun. Saya juga ikutan jalan kaki deh. Untung sudah sampai Armed, sudah tidak jauh dari rumah.

IMG-20160115-00303

IMG-20160115-00305

Beberapa langkah kami berjalan, terdengar suara terompet. ” Jam 5!” kata bapak. Terompet itu penanda waktu.  Waw, berarti sudah 1 jam kami mengayuh sepeda.
IMG-20160115-00307
Keluar Armed Sambung, kami menyebarang Jalan Raya Secang, melewati POM bensin, warung Jadul, masuk perumahan Sambung, menysuri beberapa petak sawah, menyebrang kali, sampai deh di rumah.

Gowes ini  kami agendakan dua kali dalam sepekan. Kami bertekad menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga dan pilihan olahraga kami adalah bersepeda 😀

 

 

#diariJanitra_3,5tahun