Doesoen Kopi Sirap Tawarkan Pengalaman Ngopi Tak Biasa

Jelajah kampung kopi menjadi daya tarik wisata yang kini banyak dikembangkan oleh kelompok tani di  beberapa daerah. Sebut saja  kabupaten Semarang yang memiliki areal perkebunan kopi luas. Selain Kampung Kopi Banaran yang lebih dahulu populer, kini mulai berkembang Doesen Kopi Sirap. Terletak di Dusun  Sirap, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang,  kafe dan   wisata edukasi dusun ini kembangkan oleh kelompok tani Rahayu Empat. Berkembang sejak tahun 2014, kafe yang menawarkan pengalaman ngopi yang unik dimulai dua tahun belakangan. Ada beberapa paket wisata yang ditawarkan antara lain terlihat dalam brosur berikut20181227_175709

Paket wisata tersebut diikuti oleh jumlah peserta minimal 10. Selain paket wisata, pada bulan tertentu ada event spesial seperti panen raya di sekitar Juli- Agustus dan  festival kopi. Paket yang bisa diikuti oleh peserta terbatas antara lain berisi pengalaman menyangrai kopi secara manual tradisional oleh penduduk lokal. Tidak menutup kemungkinan penghunjung lain melihat prosesi tersebut.

 

Datang  secara mandiri, liburan kali ini kami bertiga melakukan penjelajahan di Doesoen Kopi Sirap. Dimulai dengan perjalanan menanjak, masuk dari jalur utama Magelang-Semarang, kami dimanjakan dengan hijauannya perkebunan kopi. Bukan  hanya perkebunan kopi, di sana-sini terlihat pohon nangka yang mulai berbuah. Tak heran jika di jalan masuk dari jalan raya utama terdapat warung yang menjajakan buah nangka besar-besar yang menguning menggiurkan. Komoditas lain areal perkebunan itu adalah durian dan salak.  Di tingkahi cericit burung, perjalanan menuju lokasi terasa  adem dimanjakan perkebunan beraneka ragam.

20181227_123442

pusat kegiatan wisata edukatif sekaligus kafe

20181227_120925

 

Begitu tiba, kami disambut area kafe  diantara perkebunan. Coba dulu menu khas kafe ini. Kami memilih  menu khas dari Doesoen Sirap yaitu kopi arabaika dan robusta Kelir, serta nasi jagung goreng. Pengolahan kopi sebelum menjadi bji kopi siap saji di lakukan di dusun sebelum area kafe. Sementara pembibitan dilakukan di atas, diantara perkebunan kopi.

20181227_120136

20181227_120001

Menu nasi jagung  dihasilkan oleh petani dusun tetangga. Setiap pagi, biasanya ada pedagang yang membawa dagangan nasi jagung urap khas Jawa. Sementara kafe ini hanya menawarkan nasi jagung yang diolah menjadi nasi goreng. Cobalah, dengan lauk petho goreng yang kriuk, beberapa potong telur dadar, kerupuk dan sayuran, rasanya boleh juga.  Namun, untuk lidah kami yang penyuaka makanan original, nasi jagung original lebih diterima lidah ketimbang nasi jagung yang digoreng dengan bumbu.

20181227_110022.jpg

menu utama kopi dan nasi jagung ditambah cemilan pisang dan kentang goreng membuat betah berlama-lama sembari menikmati rerimbunan kebun kopi

20181227_110118

Bagaimana dengan kopinya?  Arabika khas masamnya, sementara Robusta mantab pahitnya. Kopinya disajikan dengan botol kopi dan gelas kecil. Kadar manis bisa disesuaikan dengan selera sehingga tersedia gula di wadah kecil.

20181227_105320

20181227_111147

20181227_105221.jpg

Untuk Janitra yang belum ngopi, kami pesankan coklat panas. Coklat racikan ini terasa legit coklatnya, mantablah!

Setelah puas menikmati kopi, kami pun mulai menjelajah perkebunan.. Yang demen selfi tak usah khawatir, ada beberapa spot selfi di antara perkebunan. Tracking sampai tempat pembibitan cukup membuat kami berkeringat lho. Apa lagi kalau blusukan sampai tengah-tengah kebun.

20181227_123502

tempat ngopi di gazebo di antara perkebunan yang asri

a kopi 1

20181227_124939

20181227_124852

20181227_124834

20181227_115632

20181227_104547

20181227_104627

20181227_124457

tempat pembibitan

Sayangnya kami datang saat pohon kopi sudah dipanen bijinya. Membayangkan saat tanaman sedang berbunga, waawww… pasti indah. Menjelajah sembari menghirup wangi bunga kopi waa…sedap.

 

Menjelajah kebun seperti ini buat kami lebih mengasyikan ketimbang jajan dan main di mall. Salah satu cara mengasah kecerdasan naturalis anak dan menambah bonding ortu dan anak  dengan mendekatkan dengan alam.

a kopi 2

20181227_124119

20181227_104736

Oiya, selain ngopi di tempat, pengunjung juga bisa membeli kopi dalam bentuk biji maupun bubuk untuk dinikmati di rumah. Tertarik untuk mencoba mencicipi kopinya sambil menjelajah?

20181227_120033

20181227_120151

20181227_120300

Sembari Ngopi Nikmati Waduk Sermo

Ada ketika saya ingin pergi ke suatu tempat semacam telaga yang luas. Saya duduk di tepinya, memandang luasnya air yang tenang, tak bergolak seperti ombak. Saat-saat seperti itu saya tidak merindukan ombak yang bergulung-gulung dengan irama yang khas. Saya hanya ingin ketenangan, mengurai  segala yang berseliweran di kepala: pekerjaan, rutinitas, dan tetek bengek yang membuat lelah.

Sekian lama keinginan itu mengendap. Pada akhirnya, apa yang saya bayangkan di kepala itu saya temukan pada tempat bernama Waduk Sermo. Rasa penasaran pada waduk yang diresmikan pada jaman Presiden Suharto itu membawa kami melakukan perjalanan pada  liburan ini bersama keluarga. Tak dinyana, tempat itu ternyata yang saya cari selama ini.

Saya menyukai perjalanan menuju waduk. Ini perjalanan yang menjadi favorit saya, selalu suka. Ini bukan perjalanan yang dijebak macet dan disekap baliho-baliho kota. Perjalanan dari Magelang, Mendut lalu menyusuri Kalibawang dan Kulon Progo ini disuguhi landskap pedesaan, luasnya sawah yang dibentengi deretan  Pegunungan Menoreh dan langit yang berawan. Sepanjang perjalanan saya dimanjakan kehijauan di kanan kiri jalan. Tiba di tepi rel kereta api, pas kebetulan kereta api yang lewat menjadi selingan. Bukankah ini menyenangkan?

Begitu tiba di waduk, suasana asri terbentang di depan mata. Waduk Sermo terletak di kawasan suaka margasatwa. Luasnya waduk dikelilingi hutan yang mengular dan pegunungan.


IMG_20171226_115005_HDRIMG_20171226_095948_HDR

IMG_20171226_100049_HDR

 

Saya seketika menyukai tempat ini. Tidak banyak pengunjung. Mereka yang datang memang ingin menikmati waduk: piknik, memancing, dan naik kapal menyusuri waduk. Spot foto? Ada di beberapa titik. Ada 3 dermaga yang salah satunya dipakai untuk tempat pengunjung yang ingin menyusuri waduk. Untuk naik kapal, pengunjung ditarik tiket seharga Rp10.000. Sementara beberapa spot selfi dan taman di tepi waduk, ada loket yang harus dilewati pengunjung untuk membayar tiket.

 

bapak dan anak yang mesra menikmati waduk

Tenang dan damai. Itu yang saya rasakan ketika duduk-duduk di gazebo tepi waduk setelah naik kapal. Baca buku atau sekedar ngopi-ngopi, boleh banget. Tempat ini juga jadi pilihan para pecinta kemping.  Mengamati kesibukan di dermaga menjadi pun ketertarikan tersendiri buat saya.

IMG_20171226_111020_HDR

menanti keberangkatan kapal. foto-foto dulu biar nggak jenuh

 

 


IMG_20171226_101443_HDR

satu-satunya foto yang sempat saya beri watermark 🙂

IMG_20171226_103940_HDR

Karena kesengsem dengan tempat ini, kedua kalinya kami mengunjungi dengan anggota keluarga yang berbeda. Kali kedua, kami bawa bekal untuk ngopi. Mantab lah!

 

Ngopi di Ketinggian Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat

“Sugeng rawuh,” sambut pria berblangkon dengan wajah full senyum begitu kami turun dari motor tepat di depan rumah.

“Siapa?”  Sapanya ramah sembari menyalami suami saya.

Pria tadi kemudian memperkenalkan diri sebagai Pak Rohmat, menjawab pertanyaan balik saya setelah berkenalan dengan suami. Beliaulah pemilik kedai kopi menoreh yang tepatnya nylempit di ketinggian deretan Pegunungan Menoreh.

Sambutan hangat itu seketika membuat kami kerasan ngadem  di pekarangan rumah  yang kedainya berbentuk gazebo-gazebo lesehan maupun gazebo dengan meja kursi kayu ala warung.  Aroma kopi menyeruak begitu kami masuk, memilih  salah satu di antaranya.

IMG_20170704_132856[1]

IMG_20170704_120703[1]

IMG_20170704_133130[1]

IMG_20170704_133049[1]

 

Keramahannya tak hanya dalam bentuk sambutan, namun beliau berkeliling dari satu gazebo ke gazebo, melayani segala bentuk pertanyaan maupun berbincang akrab, termasuk menjelaskan daftar menu yang ada pada kami.

IMG_20170704_121518[1]

IMG_20170704_121806[1]

 

Penyajian yang khas dari kedai itu adalah paketan kopi di atas baki yang terdiri dari kopi, 3 jenis pemanis yang terdiri gula jawa, gula pasir, dan sari jahe plus 4 jenis camilan yaitu geblek, kacang rebus, tahu isi, dan tempe mendoan. Mantab bukan? Untuk anak kecil seperti Janitra, tak perlu khawatir, ada kok jenis minuman lain.

IMG_20170704_122821[1]

IMG_20170704_125312[1]

IMG_20170704_124711[1]

salah satu paket menu makan besar

Kedai kopi itu menawarkan kopi yang langsung di produksi di tempat dengan perkebunan yang berjarak 200 meter dari kedai. Sayangnya, ketika kami berkunjung sedang tidak ada produksi karena persediaan masih banyak. Jika persediaan kopi di kedai habis, Pak Rohmat mempersilakan pengunjung untuk menyaksikan proses produksi. Untuk pengunjung yang ingin membawa pulang kopi, tersedia beberapa pilihan kopi kemasan.

Di sela-sela menikmati pekatnya kopi Arabika dan Robusta yang pahit kami bisa berbincang dengan pemilik yang merintis kedai dari 2014. Inspirasi datang dari seorang kota yang datang ke kediaman pak Rohmat. Hanya ngopi sembari berbincang di dalam rumah, sang tamu minta pak Rohmat membuat teras di pekarangan rumahnya. Setelah teras yang dimaksud jadi, datanglah sang tamu dengan komunitas moge berjumlah 70.

“Padahal waktu itu kami hanya memiliki baki seperti ini 10,” kenang Pak Rohmat sambil menunjuk baki di depan kami.

Kunjungan itu menjadi starting point berdirinya Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat. Beliau yang sebelumnya  hanya produsen kopi sejak 2010, meneruskan pengelolaan kebun kopi yang turun temurun diwariskan dari nenek moyang kini melayani tamu-tamu tak hanya lokal namun juga turis mancanegara.  Melayani para tamu yang menikmati kopinya di lokasi, produksi kopi juga terus berjalan untuk didistribusikan di kafe-kafe, restoran, hotel di Yogyakarta maupun luar daerah seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi. Distribusi kopi tak hanya dari kebun miliknya dengan luas 6000 meter persegi, namun beliau juga mengumpulkan dari petani-petani kopi sekitar.

Sebagian besar penduduk di sekitar kedai adalah petani kopi. Ada asosiasi petani kopi di sana. Ya, daerah tempat tinggalnya memang di kepung perkebunan kopi, tak heran jika wangi bunga kopi yang sedang mekar Juli ini menemani perjalanan kami menuju lokasi.

IMG_20170704_140044[1]

Suasana yang menyatu dengan perkebunan itulah yang membuat kami betah berlama-lama, menikmati kopi dan menu makan siang yang kami pilih.  Tak heran jika segala yang diberikan oleh alam di sekitar kedai, juga keterbukaan pemilik kedai membuat turis mancanegara tak cukup ngopi sekali waktu saja, namun juga sepanjang hari dengan menginap di lokasi. Karena memang tidak menyediakan  kamar, home stay ya di gazebo. Berbekal sleeping bag, para turis itu bisa langsung berdekatan dengan alam Menoreh. in pelayanan dua kali ngopi, sore dan pagi, serta satu kali makan besar, para turis asing cukup mengeluarkan kocek Rp.150.000.  Murah meriah bukan? Untuk turis lokal bagaimana?

“Kalau turis lokal, sejauh ini belum ada,” ujar pria yang sudah bercucu itu.

Nah, dengan segala kekhasan kedai kopi yang terletak di Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Kulonprogo, Yogyakarta pasti deh pengen balik lagi kesana. Tak peduli dengan rute berliku dan menanjak yang dilalui. Sebab rasa capek selama perjalanan akan terbayar dengan aroma dan keramahan. Ya, kami saja rela menempuh perjalanan selama 3 jam bolak balik dari rumah. Bagi kami, rutenya tak membosankan sebab hijau dan aroma ketinggian selalu membuat kami tak bosan melakukan perjalanan di pegunungan.

 

Bonusnya, kami juga bisa foto-foto narsis dong ya… 😀

IMG_20170704_132650[1]

IMG_20170704_132706[1]

IMG_20170704_132949[1]

IMG_20170704_133352[1]

 

Ayo, Racik Sendiri Kopimu!

Ingin merasakan kopi ala kafe, bisa kok buat sendiri di rumah. Dengan cara simpel menggunakan alat-alat yang ada di dapur, kita bisa mengecap secangkir kopi susu driper.  Ada   8  langkah  membuat kopi ala suami saya, mas Prasetyo. Soal kuliner, suami saya lebih jago. Istrinya tinggal nungguin, jadi deh secangkir kopi nikmat.  Berikut langkah-langkahnya.

Bahan:

2 sdm biji kopi hitam

1 sachet susu kental manis putih

150 ml air panas untuk menyeduh kopi

100 ml air panas untuk menyeduh skm

Alat:

Blender

Saringan

Gelas ukur

Cangkir

Langkah membuat

  1. Siapkan 2 sendok biji kopi hitamimg_20161227_103134
  2. Blender biji kopi sesuai selera, halus atau kasarimg_20161227_103724-1
  3. Letakkan kopi yang sudah diblender di atas saringan, tata di atas cangkirimg_20161227_104043
  4. Tuang air panas sedikit diatas kopi hingga kopi mengembang.img_20161227_104501
  5. Tuang sisa air panas sedikit demi sedikit sampai habis.img_20161227_104112-1
  6. Tuang kopi ke dalam cangkirimg_20161227_105202
  7. Campurkan SKM kedalam 100 ml air panas.img_20161227_105023-1
  8. Tuangkan susu ke dalam kopi seduh.img_20161227_105315

 

Secangkir kopi siap dinikmati. Eh, karena kami berdua, racik satu lagi buat berdua 😀 Selamat mencoba!

img_20161227_105457

 

 

 

 

#semua foto diambil dengan Redme 3S. Bikin kopi sembari mencoba kamera henpon 🙂

[Fiksi Kilat] Pada Secangkir Kopi

13293005_10205989687013592_702559419_n

“Mutia, mom bawa tamu spesial..!” step mom yang baru datang berseru sembari masuk.

Mom masuk bersama seorang perempuan berjilbab hijau.

“Kak Yanti?!”

Aku bertemu kak Yanti baru setahun. Kak Yanti sudah seperti saudaraku. Bertemu dengan orang sebangsa, terlebih satu daerah asal di negeri orang sama dengan bertemu saudara. Berkumpul dengan sesama mahasiswa  Indonesia menjadi  pengobat rindu pada tanah air.

“Assalamu’alaikum Mutia. Aku baru saja pulang kampung lho. Aku bawa oleh-oleh spesial buat kamu. Ngobrol sore ini bakalan makin seru.”

“Wa’alaikum salam. Pulang kampung Kak?” terbesit rasa iri. Kembali ke Indonesia, keinginan itu sudah lama ada tapi keberanian untuk melakukannya masih ciut.  Mom mengangatku sebagai anak ketika ia bekerja sebagai relawan di Indonesia ketika aku masih SMP. Mom meberiku kehidupan baru sebab waktu itu aku tak punya siapa-siapa di Indonesia. Jadi kemana jika aku pulang kampung?

Kak Yanti menuju dapur.

“Aku bikin kopi buat kamu.” Rumah ini sudah seperti rumah sendiri bagi teman-temanku. Beruntung aku memiliki keluarga yang selalu welcome terhadap siapapun.

Kak Yanti kembali dengan dua cangkir yang mengepul.

“Hemmm….aromanya… sepertinya….”

Aku mengingat-ingat…sudah lama sekali….

“Ayo tebak, pencinta kopi sepertimu pasti tahu…”

Pelan-pelan aku menyerutup…

Rasanya…,dan bayangan itu berkelebat…

Pagi yang hangat. Aku dengan senang hati membuatkan kopi untuk abi, menunggu diam-diam sampai abi selesai menyerutup untuk menikmati sisanya.

“Tidak salah, ini kopi gayo!” Aku meletakkan cangir dengan sentakan. Kak Yanti tertegun, cangkir kopinya menggantung di depan dagu.

Kopi dalam cangkir menjelma pusaran…memekat, makin besar… guncangan yang begitu dahyat membuat pagi kami tercerai berai, lalu air, gelap, sendiri.

 

 

#Catatan:

Suka banget dengan ilustrasi karya mas Aufa Aqil Ghani untuk FF saya dalam Mahakarya:Kumpulan Flash Fiction Ninelights Vol.1 (2013) yang digawangi oleh mbak  Rana Wijaya Soemadi

kover FF versi 3

Diantara 9 FF saya yang ada dalam buku itu, saya paling suka FF ini. Cerita bertema kopi selalu saya sukai, termasuk kopi, walaupun belakangan jarang ngopi. Malam ini dibuatkan segelas kopi oleh suami jadi pengen posting ff ini 😀

 

 

 

 

Kopi Vs Tipi

Tak ada yang bisa menahan wangi meruap hilang
sementara ampas mengendap di jurang gelas
Kata-kata berkelebat bersama iklan demi iklan
mereka punya cerita
tapi apa peduliku?
Seperti kata acuh tak acuh saja
ketika kupaksa tinggal
“Jangan harap aku menetas jadi puisi!”

Grabag, 22092011, 19.50
#yihaaa. . . .akhire ngempiiii, ra ketung asal posting! ^.^

Saya, Emak, dan Wedang Bubuk

“Kok ambune enak? Gawe kopi?” tebak emak sambil mendekat. Pasti tergoda dengan aroma khas yang meruap dari cangkir saya. Sore, saat favorit untuk menikmati wedang bubuk.
“Rada-rada semriwing?!” ujar emak suatu ketika seraya meletakkan sendok kecil di tepi cangkir. Saya pernah menfavoritkan kopi instan dengan sensasi dingin di lidah. Senang merasakannya berlama-lama. Judulnya memang ‘cooling’, rasa yang pastinya baru di lidah emak yang hanya mengenal kopi hitam tubruk.

Emak paling sering berkomentar begini,” Mesti nek nggawe kakean banyu.”
Perasaan, kopi saya sudah pas. Memang pernah sih terlalu banyak menuang air panas, tapi tak sesering komentar emak. Terang saja kalau emak kerap berujar begitu. Emak pernah menjadi pecandu kopi, dulu sekali, kopi tubruk, kental, hitam pekat, tapi manis. Waktu itu saya masih kecil dan tak sedikitpun melirik wedang bubuk ( istilah yang dipakai emak dan bapak). Saya pernah dimintai tolong membeli kopi dari tetangga kampung karena sudah sore dan pasar tempat biasa beli kopi sudah tutup. Saya heran sekaligus takjub dengan aroma yang menyeruak dari wajan saat kopi disangrai. Kebetulan sekali, kala saya datang proses pembuatan kopi sedang berlangsung (sekarang sepertinya keluarga itu tidak lagi membuat bubuk kopi). Saya menikmati aromanya. Meski begitu, saya tidak lantas suka kopi.

Toples kecil yang mulanya diisi kopi tubruk dari pasar mendadak berubah menjadi wadah lain karena vonis satu penyakit untuk bapak. Emak juga disarankan menghentikan konsumsi kopi ( yang suka kopi duluan emak atau bapak, entah, keduanya pecandu kopi). Tak sedikitpun keluarga saya mencium aroma kopi sesudah itu. Saya kemudian kenal kopi (instan) karena butuh melek untuk mengerjakan skripsi di kost. Lama-lama biasa dan suka. Sekarang, emak kadangkala pastilah tergiur mencium kepulan dari cangkir wedang bubuk yang saya aduk. Aroma yang dulu lekat di hidungnya. Satu dua sendok emak nyicip kopi instan seduhan saya. Sekali-kali saja saya ‘merebus’ kopi hitam tubruk. Saya lebih sering tak tahan dengan pahitnya sehingga secangkir pun tak sampai tandas. Menyitir “Buku Besar Peminum Kopi” ala Ikal dalam Cinta dalam Gelas, saya mungkin pantas bersyukur, itu artinya nasib saya tak sepahit kopi hitam itu, hihi.

*sekedar curcol selepas ngopi 😀
ket:
Kok ambune enak? Gawe kopi?= kok baunya enak? membuat kopi?
Mesti nek nggawe kakean banyune= tiap kali buat pasti kebanyakan air

foto minjam punya Laras dari sini

Jadi Selama Ini Saya Juga Minum Lumpur?

Ada pernyataan Suad Amiry, seorang penulis Palestina, mengenai kopi yang begitu menggelitik saya. Saat ini saya sedang membaca catatan hariannya yang terangkum dalam buku Palestinaku dalam Cengkraman Ariel Sharon. Ketika ia berada di kantor Kapten Yossi dari “Administrasi Sipil” Israel dan kopi yang dimintanya datang, ia menyebut secangkir kopi Israel itu seperti lumpur,

“Aku tidak pernah mengerti mengapa orang Israel mau meminum minuman menjijikan itu. Aku pernah diceritakan bahwa tentara tidak punya waktu untuk mendidihkan kopi dan air sekaligus, jadi mereka hanya menuangkan air hangat ke dalam serbuk kopi dan minum lumpur. Tentu saja mereka tidak punya waktu karena mereka mengusik kami selama dua puluh empat jam sehari….

Lihatlah orang Italia, Turki, dan Perancis; mereka semuanya mempunyai kopi yang bagus.
(halm. 29)

Wadoh, jadi selama ini saya juga minum lumpur? Sebelum membaca buku ini, belum pernah sekalipun saya minum kopi dengan mendidihkan kopi–baik kopi tubruk maupun instan– dan air sekaligus. Saya hanya menuangkan air panas dari termos ke dalam serbuk kopi lalu mengaduknya pelan-pelan. Hmmm…, meskipun minum lumpur, nikmat juga kok. . .

Nha, terprovokasi oleh Suad Amiry, akhirnya saya pun mencoba mendidihkan keduanya meskipun tidak dengan perangkat yang dipakai oleh barista di kafe-kafe kopi itu. Hasilnya…. jauuhhh lebih nikmat memang, terlebih aromanya saat mendidih dengan busa dipermukaan yang semakin menebal naik… wanginya kentel banget!

Secangkir Kopi, Roman, dan Hujan

646 km jarak harus kutempuh,baru sampai di km ke-51. Masih jauh perjalanan,hfff. Di luar rinai, tapi aku tidak kedinginan, apalagi sampai kuyup, sebab aku duduk di sini, dengan secangkir kopi. Hangat di telapak tangan, nikmat di lidah, dan segar di kepala: beliau mengajakku ngobrol soalnya.

🙂