Hammock: Ayunan Hits Anak Zaman Sekarang

Tidak semua keinginan anak kami penuhi, tapi kalau keinginannya itu berkaitan dengan adventure dan barang-barang yang bisa digunakan dalam jangka panjang,kami dengan senang hati mengiyakan. Sebagai contoh, ketika Janitra minta tenda, kami penuhi dengan syarat pakai uang sendiri (lhoo…sama aja boong :D). Begitu pula ketika Janitra minta hammock, tidak lama keinginannya terkabul.  Dua barang itu bisa digunakan hingga Janitra dewasa, tak sekedar mainan biasa. Bahkan bapak ibunya bisa ikut pakai 😀

 

Mengapa ia minta hammock kami tidak pikir panjang mengiyakan?

Zaman saya kecil, bapak membuatkan sebuah ayunan di samping rumah di bawah pohon kelengkeng. Ayunan itu hanya terbuat dari seruas bambu yang di dalamnya dimasukkan seutas tali tambang lalu tali itu diikatkan di sebatang cabang pohon kelengkeng.

Bukan main senang  saya dan kakak memainkan ayunan itu. Duduk, berdiri, berayun-ayun sendiri atau diayunkan. Teman-teman yang datang ke rumah ikut main. Bahkan orang lewat di jalan setapak samping rumah pun ada yang berhenti lalu merasakan sebentar berayun-ayun.

Teringat pula saya pada  ‘hammock’ yang dibuat mas Agung, ponakan yang kreatif. Ia membuat jalinan dari rafia lalu memasangnya di samping rumah pakdhe. Benar-benar seru tiduran di atasnya.

Memberikan ayunan kepada anak pastinya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Melihat anak setiap hari berbahagia, orang tua tak kalah bersyukur. Pun kami sebagai orang tua sudah lama ingin memiliki ayunan buat Janitra. Namun tak terealisasi karena pertimbangan di mana membuatnya, bagaimana, dan mau pakai apa, ban bekas, atau bambu. Tapi yang pasti, pertimbangan lama karena ribet membuatnya.

Ketika Janitra minta hammock, kami anggap itu sebagai solusi jitu. Hammock adalah ayunan “portabel” yang simpel.  Harganya pun tidak begitu mahal dibanding memesan ayunan dari kayu atau besi permanen (ya iyalah, pasti jauuuuhhh beda harganya, si biru yang kami beli ini hanya 80an ribu). Hammock bisa dibongkar pasang sesuai keinginan. Mau dipasang di rumah, oke. Saat hujan bisa dilepas. Mau dipasang di dalam rumah, bisa selama bisa ngebor tembok dan memasang pengait. Pingin traveling ke pantai yang ada pohonnya atau ke hutan pinus bawa hammock, cocok sekali. Apalagi naik gunung, pas sekali bawa hammock.  Ini tentu saja buka soal lagi ngehits jalan-jalan lalu swafoto di atas hammock, tapi pengalaman merasakan buaian alam di atas hammock itu memang beda. Nggak percaya, coba saja! 😀

Begitu keinginan terealisasi, saat mudik ke rumah orang tua, kami bawa hammock dan memasangnya di bawah pohon kelengkeng yang tumbuh bersama masa kecil saya.

Kebahagiaan itu tidak hanya dinikmati Janitra seorang. Ia dan kakak-kakak sepupunya dengan terbahak-bahak berebut dan berayun di bawah pohon klengkeng. Hari itu membawa saya dan kakak bernostalgia masa kecil.

IMG_20180121_144453-02

IMG_20180114_085154_HDR-01

Saya dan suami, tentu saja sangat bahagia bisa berbagi senyum dan tawa. Pekan berikutnya, kakak-kakaknya nungguin Janitra datang lagi ke rumah nenek. Mereka ketagihan! 😀

hammoch

di hutan pinus Mangli, Ngablak, Magelang

IMG-20180417-WA0033

Menepi di Gunung Andong

 

[Blog Competition] Mengumpulkan yang Terserak

Saya merindukan masa ketika bocah. Ketika menyambut lebaran dengan perasaan membuncah.  Setelah sebulan berpuasa, rasanya melambung ketika mendengar takbir  Hari Raya. Sekarang rasa yang muncul berbeda.   Semakin mendekati lebaran, rasa pilu merayapi. Rasa sedih menghantui. Ada rasa kehilangan terhadap bulan suci istimewa. Belum-belum sudah rindu Ramadhan lagi ketika bulan Syawal menjelang. Memang, sudut pandang terhadap Ramadhan dulu dan sekarang lain. ah, tapi sesedih apapun kita ditinggalkan Ramadhan, kita tetap harus mensyukuri datangnya Syawal. Mensyukuri usia yang diberikan Allah untuk  bertemu Syawal. Untuk memaknai moment lebaran dengan sebenar-benarnya.u

Hari Raya  Idul Fitri, sering kita maknai dengan salah. Sering kita dengar, dan kita mengikuti makna itu, bahwa Idul Fitri adalah kembali fitri, kembali suci. Saya kemudian mulai mencari makna sebenarnya.  Idul Fithri ialah hari raya kita kembali berbuka puasa (tidak berpuasa lagi setelah selama sebulan berpuasa). Oleh karena itu disunatkan makan terlebih dahulu pada pagi harinya, sebelum kita pergi ke tanah lapang untuk mendirikan shalat I’ed. Supaya umat mengetahui bahwa Ramadhan telah selesai dan hari ini adalah hari kita berbuka bersama-sama.  (sumber dari  sini)

Makna yang salah sering kita jumpai bahwa Idul Fitri diartikan kembali fitroh, kembali suci.  Yang terjadi, kita sering mengucapkan  mohon maaf lahir batin saja, kita meminta maaf karena anggapan di hari raya, kita akan kembali suci sehingga segala kesalahan sebaiknya kita bersihkan. Namun, tak jarang pula kita jumpai orang yang merayakan Idul Fitri dengan ucapan Taqobalallahu minna wa minkum.  Ini lah yang seharusnya kita pakai.

Pemaknaan itu sudah seharusnya kita perbaiki.  Ucapan yang seharusnya kita ucapkan hari raya seusai Ramadhan

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”

Inilah yang selayaknya kita tiru. Berdoa memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan bukan memastikan amal kita diterima. Ini pula yang saya terapkan ketika saya bersalaman bersilaturahmi dengan kerabat, tetangga, dan teman. Saya mulai dengan ucapan ini.

Untuk meminta maaf, seketika melakan kesalahan sebaiknya selalu dilakukan, tak perlu menunggu hari raya tiba. Namun, budaya silaturahmi,  saling meminta maaf ketika hari raya bukanlah budaya yang buruk menurut saya.  Justru  pada saat Idul fitri adalah moment yang tepat untuk bersilaturami karena biasanya sanak keluarga berkumpul merayakan Idul Fitri.  Kerabat yang jarang kita temui rela jauh-jauh datang untuk mudik. Di hari itu, kita tak hanya hanya bertemu bertatap muka namun bisa mengobrol mempererat tali silaturahmi.  Sebagaimana hadist Nabi:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Adapun manfaat silaturahmi menurut Nabi Muhammad antara lain faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi] (sumber dari sini )
Itu sebabnya moment lebaran kami benar-benar kami manfaatkan dengan bersilaturahmi. Kami utamakan mengunjungi kerabat-kerabat yang lebih tua. Tujuannya adalah untuk tetap menjaga persaudaraan, atau dalam bahasa Jawa disebut  agar tidak terjadi kepaten obor (obornya mati)            . Moment saya sebut sebagai mengumpulkan yang terserak.  Ya, dengan silatiurahmi saya akan bertemu kerabat handai taulan yang jauh, mendekatkan kembali hati yang sekian bulan jauh. Mengingat dan  mengingatkan kembali bahwa kita masih punya saudara. Kita masih punya keluarga. Kalau bukan kita yang mudah yang mendekat, bisa jadi hubungan kekerabatan itu akan terputus (kepaten obor) ketika pihak tua, saudara ayah ibu nenek kakek,  meninggal dunia. Tak ada lagi yang menerangkan kalau kita adalah kerabat dari ibu bapak nenek kakek mereka.

Yang paling menyenangkan dari kegiatan silaturahmi itu adalah traveling.  Traveling dalam rangka silaturahmi itu seru. Kita akan mengunjungi tempat-tempat atau kota yang mungkin hanya kita kunjungi setahun sekali. Dalam perjalanannya, akan ada hal menarik yang ditemui, termasuk kuliner yang bikin nagih.

Idul Fitri lalu, saya berkesempatan men gunjungi kerabat yang tinggal di gunung. Menarik bagi saya, tak hanya tempatnya yang berada di perengan gunung, tapi juga karena saya terakhir kali mengunjungi tempat itu dua puluhan tahun lalu. Tentu saja kedatangan kami menjadi kejutan bagi simbah kami. Kemudian saat blusukan ke dusun-dusun mengunjungki kakak sepupu kami menjumpai balon yang siap diterbangkan dalam rangka Syawal.

20160709_083820

 

Masih di hari yang sama dalam rangkaian silaturahmi saya menemukan potret budaya Indonesia. Wayang-wayang berjejer rapi siap dijual.

20160709_110541

 

Yang paling menarik adalah saat mengunjungi kerabat di Purworejo. Tak hanya menyaksikan bedug Pendowo, bedug terbesar di dunia yang terletak di Masjid Agung Purworejo, namun saya berkesempatan mencicipi kuliner khas Purworejo yang sekian lama membuat penasaran: dawet ireng. Dari Masjid Agung Purworejo mengitari alun-alun setengah putarana, akan dijumpai kantor pos. Di halaman kantor pos itu ada beberapa lapak kuliner yang ramai dikunjungi. Di lapak dawet ireng, hal unik saya temukan. Begitu ramainya, sampai-sampai untuk mendapatkan pelayanan kita harus mengambil nomer antrian. Waktu itu saya mendapatkan nomer 94. Bayangkan, sudah ada 93 rombongan atau perseorangan yang antri untuk mencicipi semangkuk kecil dawet ireng asli maupun campur. Rasanya memang segar dan nagih, pantaslah kalau lapak yang walaupun kecil itu menyediakan nomer antrian.

 

 

dawet ireng khas Purworejo

20160712_124455

IMG-20140810-00157

 

di depan bedug Pendowo

Lebaran dan Cerianya Masa Bocah

Salah satu episode lebaran adalah nostalgia masa kecil. Lewat putri kecil saya, saya diingatkan pada masa-masa ceria ketika bocah. Kembang api, adalah satu benda khas yang hanya kami nikmati saat lebaran. Benda langka bagi kami waktu itu. ketika Janitra, putri saya, menyalakan kembang api di suatu malam, kenangan masa kecil itu hadir di benak saya.

20160707_181608

 

Lebaran selalu menyisakan kisah-kisah seru dan ceria yang pasti kita rindukan. Apa moment lebaranmu?

Tulisan ini diikutkan dalam Diary Hijaber Blog Competition.

Oiya, ikutan juga event Diary Hijaber yaitu Hari Hijaber Nasional yang akan diselenggarakan:

waktu: 07—09 Agustus 2016

tempat: Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta

Sepasang Sepatu, Sebuah Sesal

Perbicangan teman-teman di jam makan siang mengenai sepatu yang bisa dipesan di suatu industri kecil mengiring ingatan saya pada satu episode belasan tahun silam bersama bapak.  Kepengen dan memang butuh  sepatu baru, bapak mengajak saya ke sebuah industri rumah tangga sepatu kenalannya di kampung sebelah. Di sana sepatu bisa dipesan dan dijamin awet. Saya diperbolehkan memilih sendiri sepatu sesuai keinginan. Namun karena di sana tidak banyak pilihan sebagai contoh— tidak ada katalog dan sejenisnya yang bisa dipilih, saya malah bingung. Jadilah bapak yang memilihkan spesifikasinya. Saya iya iya saja waktu itu.

Tak berapa lama, hari yang dinanti tibalah. Sepatu saya sudah jadi. Sepatu nampak kuat dan bandel. Bawahnya dari bahan karet mentah dan jahitannya kuat, bapak nampak puas. Sayangnya, tidak demikian dengan saya. Sepatu tali itu sedikit berat bila dipakai.  Satu hal yang membuat saya jarang memakainya, model sepatu itu antimainstream. Di jaman itu, belum model sepatu yang selen. Saya yang pada waktu itu masih bocah, katrok, dan tidak sadar mode, tahunya sepatu yang bagus dan happening ya sepatu seperti kebanyakan, seperti yang dipakai teman-teman saya.  Sepatu itu teramat berbeda dengan sepatu yang ada di pasaran sejauh pandangan saya kala itu.

Saya masih ingat benar rupa sepatu itu, lekat dalam ingatan. Dengan sudut pandang saat ini, sepatu itu nampak keren,beneran keren. Bahannya dari kulit dengan alas yang kuat. Sepatu kets dengan model selen tentu kalau dipakai hari ini akan nampak up to date, bukankah sekarang sepasang sandal dengan corak berbeda sedang happening di pasaran?

Coba kalau sekarang memiliki sepatu itu, pasti saya akan bangga memakainya. Rasa sesal sering kali muncul saat bayangan sepasang sepatu dan kenangan akan bapak berkelebat. Saya menyesal, kenapa dulu saya kurang begitu menghargai pemberian bapak, menyia-nyiakan sepatu bagus  pilihan bapak. Saya menyesal, saya merasa telah mengecewakan bapak.

Guru Killer Itu, Beliaukah?

Saya tersentak dan gelagapan ketika pak Widi menyebut nama saya.  Seketika saya menghentikan keasyikan memainkan halaman demi halaman buku Bahasa Indonesia sembari melamun. Tentu saja pertanyaan dari Pak Widi hanya membuat saya bengong. Apa yang harus saya jawab untuk pertanyaan beliau?  Ketahuan kalau saya tak memperhatikan beliau. Ah… pantaslah kalau saya mendapat malu. Tak sopan jika saya melamun dan mengabaikan beliau sementara sebuah ilmu sedang ditransfer kepada anak-anak didiknya.

Itu satu pengalaman di suatu jam pelajaran Bahasa Indonesia.

Di waktu lain, rasa malu hinggap ketika di depan kelas saya asal saja menuliskan jawaban di papan tulis atas soal yang pada waktu itu sedang dibahas.

“Wah, kalau asal menuliskan subjek, predikat, dan objek sih orang di terminal bisa.”  Saya ingat betul dengan komentarnya. Sebenarnya bukan asal saya mengurai kalimat di papan tulis itu berdasarkan kedudukannya, tapi memang saya belum mengerti. Saya mesem meski sedikit tersinggung dengan komentar beliau. Komentar pedas itu, membuat ‘dendam’: saya harus memperhatikan benar-benar materi itu sehingga saya bisa sepenuhnya mengerti. Nggak  mau malu lagi.  Bermula dari lecutan itu saya mulai paham materi fungsi sintaksis unsur-unsur kalimat. Hingga kini terus melekat dan ilmu itu saya bagikan.

                                                                           ***

Pak Widi, guru Bahasa Indonesia terbaik yang pernah saya miliki. Guru itu terkenal eksentrik.  Sebelum saya masuk SMU tempat beliau mengajar, saya telah mengenalnya dari kakak  yang terlebih dahulu belajar di sana.

“Masuk ke kelas pasti bawa tas kresek dan koran.  Teman-teman suka menebak-nebak, tas kresek warna apa yang akan dibawanya sebelum masuk kelas,” cerita  kakak saya.  Kebiasaan yang tak pernah berubah.  Buku-buku atau berkas-berkas  miliknya  tak pernah dibawanya dengan tas. Tak lupa harian Kompas edisi baru diimpitnya dengan tangan. Selalu. Beliau tak pernah absen meng-update berita terbaru melalui Kompas yang disediakan perpustakaan sekolah.

Surat kabar, perpustakaan, dan buku. Tiga hal itu yang dalam pengamatan saya begitu diakrabinya. Perpustakaan adalah ‘rumah’ baginya selama di sekolah. Ia tak pernah terlihat ngantor bersama guru-guru lain di kantor guru. Perpustakaan adalah kantor baginya.

Sebelum yang lain membaca koran terbaru, koran itu sudah berada di tangan beliau. Namun, untuk koran yang dibawanya ke kelas kadangkaala bukan koran edisi terbaru.  Selain surat kabar, edisi yang tak pernah ketinggalan dilahapnya adalah Majalah Sastra Horison. Dari majalah itulah beliau meng-update segala hal yang berkaitan dengan sastra.

Kecintaan beliau pada sastra ditularkannnya pada anak-anak didiknya. Pelajaran sastra di kelas tak berhenti pada tataran teori.  Beliaulah yang membuka lebar jendela pengetahuan sastra. Sastra itu memanusiakan manusia, ujarnya selalu, begitu lekat dalam ingatan. Kesadaran sebagai manusia bisa tumbuh dari membaca sebuah karya sastra. Tersurat atau tersirat, ada hikmah dan  pencerahan termaktub di dalamnya. Beliau selalu menyinggung karya-karya sastra master piece dari pengarang-pengarang yang dimiliki Indonesia: Belenggu karya Arjmin Pane, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Kemarau dan Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, Atheis karya  Achdiat Kartamihardja, karya-karya Balai Pustaka yang lain, juga majalah sastra Horison yang sering dibawanya ke kelas. Sedikit yang diungkapnya menimbulkan rasa ingin tahu. Saya ingin menyelaminya sendiri, mendapatkan lebih dari yang diceritakan guru. Maka perpustakaan menjadi ruang yang asyik untuk diakrabi meskipun untuk ukuran perpustakaan sekolah, perpus itu masih terbilang kecil. Ruang bukunya mungil memang, tapi saya tak bisa menafikan ruang yang selalu disebut pak Widi sebagai jantung sekolah. Setiap istirahat, tak hanya meminjam mengembalikan buku-buku sastra yang menjadi koleksi perpus, saya juga selalu menantikan cerita bersambung berjudul “Area-X” dari majalah Horison yang ditulis seorang siswi SMU Taruna Nusantara Magelang. Pada tanggal-tanggal majalah Horison terbit, begitu bel tanda istirahat berbunyi, saya selalu mengambur ke perpustakaan, takut majalah itu sudah jatuh ke tangan orang lain.

Tak berhenti sampai di situ, Pak Widi kerap menugaskan kami membaca karya sastra dan mendiskusikannya, dari buku paket ataupun dari majalah Horison. Puncaknya adalah penugasan membuat resensi sebuah buku sastra. Tugas yang bagi sebagian siswa disambut dengan keluhan saya terima dengan senang hati. Saya memilih sebuah karya yang di buku paket dicuplik dan pernah sedikit disinggung oleh beliau. Penasaran dengan konflik yang ditonjolkan,  Kemarau karya A.A Navis menjadi buku yang saya ulas. Tak pernah menyangka, tugas itu memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Setelah semua siswa maju ke depan kelas untuk mempresentasikannya–tanpa teks–, pak Widi mengumumkan peraih nilai tertinggi. Waw, saya terkejut ketika beliau menyebut nama saya. Takjub sebab saya merasa belepotan ketika berbicara di depan kelas kendatipun saya tidak begitu mempedulikannya.

Tugas penulisan resensi berlalu. Buku-buku sastra tetap saya lahap. Dari beliaulah saya mengenal penulis-penulis angkatan Balai Pustaka dan sedikit menikmati karya-karyanya, novel-novel yang saya yakin tak banyak dikenal anak muda kalau tidak diperkenalkan oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.

            Tugas pada ranah sastra yang beliau berikan lebih banyak bertumpu pada kemampuan menulis. Di waktu lain beliau memberikan tugas menulis cerpen, tugas yang pada waktu itu terbilang berat. Pembuatan makalah berdasarkan pengamatan yang berujung pada presentasi di kelas pernah juga membuat kami agak frustasi. Untuk materi-materi di luar sastra, beliau selalu mengedepankan analisis. Beliau selalu membuka ruang diskusi di kelas. Jarang sekali beliau memberikan penyampaian materi yang sifatnya menghafal. Beliau tekankan itu benar-benar, bahwa tidak sepatutnya pelajaran Bahasa Indonesia ditempatkan pada pojok yang isinya hafalan melulu.

Sebagian siswa menganggap beliau guru killer. Judge semacam itu pun saya kenal sebelum saya menjadi siswa beliau. Jadi siap-siap saja lah, begitu kira-kira warning yang diberikan oleh siswa yang terlebih dahulu dididiknya.  Penilaian yang diberikan pada rapot benar-benar objektif. Tak ada istilah nilai belas kasihan. Tak heran jika pada waktu beliau mengajar, jarang sekali siswa yang nenempatkan beliau sebagai guru favorit, mereka yang menganggap segala tugas membangun dari belaiu sebagai beban.  Hanya yang benar-benar menghayati bagaimana beliau mengajarlah yang akan mennepatkan beliau di hati mereka. Terbukti, ketika kami naik kelas dan berganti guru, saya dan beberapa teman merasakan ada kekosongan, hampa. Metode yang diberikan guru pengganti terasa garing. Tak ada lagi tugas-tugas ataupun cara penyampaian materi yang menantang adrenalin maupun mengasah daya pikir kami. Kami merindukan gaya mengajar beliau. Segala judge tentang beliau seketika luntur. Tak ada yang bisa dibandingkan dengan beliau. Ketegangan-ketegangan ketika pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung memang selalu terngiang, namun bagaimana dedikasi beliau dalam mendidik siswa, memberikan pengajaran terbaik pada mata pelajaran Bahasa Indonesia terus melekat dalam diri saya. Ucapan-ucapan beliau ada yang terus bergaung dalam ingatan. Lebih dari itu, beliau menjadi salah satu pribadi yang ikut menumbuhkan kecintaan pada dunia sastra, hingga kini.

 

 

 

*sebuah catatan yang tak lolos diikutkan dalam satu audisi menulis

Kangen Enid Blyton

Siapa tak kenal Enid Blyton, penulis wanita kelahiran Dulwich, London, 11 Agustus 1897? Enid Blyton merupakan pengarang yang namanya tercatat dalam daftar UNESCO 1975 sebagai penulis wanita kedua di dunia yang buku-bukunya paling banyak diterjemahkan–yang pertama siapa ya?–. Berkat kegemarannya membaca sejak kecil, ia berhasil menulis sekitar 700 buku dan beberapa diantaranya telah diterjemahkan dalam 3400 bahasa. Buku pertamanya, Child Whisper, terbit di tahun 1922. Usia 18 tahun ia telah menerbitkan puisi dan cerpen, namun karya-karya berupa cerita anak baru lahir setelah ia menjadi guru. Ia meninggal pada usia 81 namun namanya tetap bersemayam di hati anak-anak seluruh dunia.

Tiba-tiba malam ini saya kangen Enid Blyton. Saya mengenalnya ketika SD. Semua buku Lima Sekawan di rak buku teman saya sudah saya libas, selain semua serial STOP dan Trio Detektif. Untuk ukuran anak-anak waktu itu dan masyarakat di sekitar saya, koleksi teman saya di perpustakaan keluarganya termasuk lengkap, maklum di putri seorang camat, terbilang pejabat lah di desa. Banyak seri yang saya baca, kalau disuruh nyebutin judulnya, ah sudah hilang dari ingatan, cuma ingat Kereta Hantu-kalau tak salah-. Waktu itu saya sedang gandrung-gandrungnya dengan serial petualangan dan detektif. Ada satu lagi yang saya kenal selain Lima Sekawan yaitu Pasukan Mau Tahu. Semua buku itu benar-benar membuat bahagia, petualangan mereka mengajak imajinasi bocah saya mengembara bersama mereka. Meskipun semua buku tersebut bercerita tentang penyelidikan sebuah kasus yang menantang segala rasa ingin tahu, tapi Lima Sekawan berbeda dengan TD, STOP. Trio Detektif lebih kental dengan strategi penyelidikan yang menonjolkan kejeniusan otak, terutama Jupiter Jones, sedangkan Lima Sekawan mengedepankan petualangan di alam. Saya seperti terlibat dalam perkemahan atau jalan-jalan yang mereka lakukan.

Satu lagi karya Enid Blyton yang terekam dalam memori saya, Si Badung. Dulu, saya dibuat kagum dengan segala tingkah laki-laki kecil itu. Kenakalannya menggemaskan dan menghibur jiwa kanak-kanak saya. Si Badung saya temukan di rumah saudara sepupu yang pernah memiliki perpustakaan kecil.

Malam ini tiba-tiba kangen mereka tapi tak ada obatnya. Tak ada satupun karyanya yang saya miliki, sayang sekali. Entah, Si Badung sekarang berada di mana, mengingat buku-buku di tempat saudara tak ketahuan lagi jejaknya, sayang seribu sayang.

*sedikit info tentang Enid Blyton dan foto saya dapatkan dari wikipedia dan sini