[Gado-Gado Sekolah #22] Pekan Wirausaha

Pekan lalu menjadi pekan yang luar biasa seru bagi siswa kelas 5, kelas tempat saya belajar bersama anak-anak. Ada dua program belajar yang selalu disambut sukacita oleh mereka: kunjungan belajar dan hari berjualan (market day). Kebetulan, tema kedua kegiatan itu adalah wirausaha.

Kunjungan ke Rumah Industri Pembuatan Yogurt Mayummy

Kunjungan belajar Senin lalu (14/11) melibatkan tiga materi pembelajaran yaitu:

1.IPS:  Kegiatan Perekonomian

2.IPA: Perubahan Wujud Benda

3. Bahasa Indonesia: menulis laporan pengamatan

Tempat kunjungan belajar Senin lalu sudah pasti disukai anak-anak. Kebetulan rumah industri pembuatan mayumi yogurt di Donorejo, Secang, Magelang dimiliki oleh seorang wali siswa tempat saya belajar, jadi saya tidak perlu kesulitan mencari dan meminta ijin kunjungan ke tempat suatu kegiatan ekonomi yang cocok untuk anak-anak.

Begitu tiba di lokasi, anak-anak disambut ramah  oleh Pak Edi, pemilik rumah industri pembuatan mayummy yogurt. Anak-anak langsung diajak mendekati dapur pembuatan.

20161114_1025141

20161114_1021171

20161114_1022391

Karena dapur pembuatan yogurt tidak muat menampung semua anak, maka Pak Edi, pemiliknya, menunjukkan dan menerangkan di pintu masuk dengan dua gelombang, siswi dahulu diikuti siswa. Ada tempat pasteurisasi besar tepat di depan pintu untuk menyeteril susu hingga maksimal suhu delapan puluh derajat celsius.  Pendinginan susu dilakukan dengan air yang mengalir. Ada kotak-kotak susu besar tempat susu yang sudah dingin diproses menjadi yogurt. Proses berikutnya diterangkan pak Edi hingga tuntas.

Setelah diterangkan prosesnya, anak-anak diajak melihat proses pengemasan yogurt. Bagian ini menyenangkan bagi mereka.  Mereka berkesempatan membantu ibu-ibu yang bertugas membungkus  yogurt menjadi dua jenis kemasan, kemasan Rp500 dan Rp.1000 dan  mengemasnya ke dalam kantong-kantong besar berisi 20 batang.  Di bagian ini, terutama siswi begitu asyik membungkus yogurt dengan enam varian rasa buah.  Ibu-ibu yang merupakan tetangga dekat rumah industri itu dengan ramah dan sabar melayani semua pertanyaan maupun mengarahkan cara pengemasan.

20161114_1037571

20161114_1032121

Mereka belum puas membantu ketika berpindah ke acara berikutnya, yaitu sharing usaha mayummy yogurt. Anak-anak cermat mencatat penjelasan Bapak Edi mengenai segala hal yang berkaitan dengan rumah industri ini, dari proses produksi hingga distribusi. Sesekali anak-anak maupun guru pendamping menungkapkan rasa ingin tahu mengenai bisnis yang terbilang sukses itu.  Suka duka, rintangan, dan tips dari pak Edi cukup memberikan gambaran mengenai dunia wirasusaha, juga inspirasi untuk gigih dan pantang menyerah dalam berbisnis.

20161114_1106441

Sekembali dari kunjungan, tugas mereka melaporkan hasil kunjungan dalam bentuk laporan pengamatan. Jadi belajar Senin itu terasa komplet dan menyenangkan.

20161121_1457571

 

Market Day

Setelah mendapatkan inspirasi dan gambaran mengenai dunia usaha, saatnya mereka belajar menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dengan praktik berjualan. Di sekolah kami, market day sudah menjadi program sekolah.  Tiap semester diadakan sekali  kegiatan market day besar: semester 1 tiga  kelas besar berjualan dan tiga kelas kecil membeli, dan sebaliknya di semester 2. Antusiasme anak-anak terhadap kegiatan ini selalu besar.

Melaksanakan program sekolah, Jumat lalu (18/11) kelas saya, kelas 5, tidak sendiran dalam belajar wirausaha. Ada kelas 4 dan kelas 6 yang dihari itu sangat bersemangat menghadirkan dagangan terbaik mereka.  Dagangan utama dari market day ini adalah makanan. Makanan boleh disiapkan dari rumah maupun dimasak di sekolah. Beberapa siswa juga menjual hasil kerajinan tangan mereka.

20161118_0752461

persiapan kelas 5

20161118_0747451

20161118_0758371

persiapan di kelas 6

Uniknya, masing-masing kelas punya gaya sendiri-sendiri dalam berjualan.  Di kelas 4, ada 5  kelompok  masing-masing siswa dan siswi membuat lapak secara terpisah. Sementara di kelas 5 siswa dan siswi berkolaborasi dan dibagi menjadi 4 kelompok. Yang menarik adalah konsep di kelas 6. Satu kelas berkongsi membuat usaha rumah makan semacam pujasera.

20161118_0854361

20161118_0845351

persiapain tim kasir dan marketing kelas 6

Ada beberapa lapak di kelas 6, dari makanan besar semacam bakso dan spagheti hingga makanan kecil gorengan dan minuman segar. Masing-masing lapak berlabel huruf alfabet. Pembeli yang datang di tiap-tiap lapak akan mendapatkan kartu huruf untuk membayar di kasir. Besarnya harga tiap lapak berbeda. Kartu huruf yang diberikan kepada tim kasir memudahkan proses pembayaran.  Strategi penjualan mereka juga mantab, memberikan suvenir untuk 3 jenis pembelian. Terang saja, kelas 6 dibanjiri pembeli.

20161118_0921251

kelas 6 banjir pembeli

20161118_0904521

lapak-lapak kelas 5

Bagaimana dengan kelas 4 dan 5? Saya melihat kegigihan anak-anak di tengah persaingan. Anak-anak dengan sabar menunggui lapak mereka dengan beberapa siswa berkoar-koar  menawarkan dagangannya dengan gaya masing-masing.

20161118_0852191

20161118_0848101

20161118_0847391

20161118_0847161

tim kelas 5

Kegiatan ini memang sejatinya pembelajaran.  Ranah afektif terutama  benar-benar menonjol dalam pembelajaran ini.  Kerjasama, menghargai, cermat, teliti, telaten, sabar, jujur, gigih, tidak mudah putus asa, dan karakter  lain akan terlihat pada saat siswa menyiapkan dagangan dari rumah maupun di sekolah dan pada proses penjualan.  Lihat saja, kelompok yang tidak sabar ketika melihat lapak lain ramai pembeli dan mulai habis dagangannya serta merta membanting harga atau melakukan obral. Seru ketika melihat sepak terjang mereka :D.  Di saat yang sama, kelompok yang danganganya mulai tak dilirik pembeli tetap tak terpengaruh jika mereka memiliki karakter sabar dan pantang menyerah.  Mereka kemudian memakai strategi menawarkan dagangan dengan berkeliling, membawa dangangan yang tersisa pada nampan.

20161118_0832511

kreasi handycraft

20161118_0827511

kreatifnya siswi, bungkus makanan kecil dibuat pemanis sedotan

Beragam trik yang mereka gunakan pada akhirnya membuat makanan yang mereka jajakan ludes. Yang tersisa adalah barang-barang berupa handycraft. Kami para guru sering berkomentar seusai kegiatan market day yang sudah-sudah bahwa makanan apapun yang dijajakan di sekolah  saat market day pasti laku. Masalah untung ruginya, nanti dulu….  Setelah tanya masing-masing kelompok, beragam jawaban mereka: ada yang untung (cuma dikit), untung lumayan, maupun balik modal saja. Nah, ini lagi letak pembelajarannya!

20161118_0952101

menawarkan dagangan keliling

Bagi anak-anak sendiri, saya lihat untung rugi itu nomer sekian. Mereka begitu senang dan bersemangat melakukan jual  beli. Menerima uang dari pembeli itu berjuta rasanya! Ngetung uang belakangan, yang penting uangnya berjubel-jebel di kasir, hehehe….

[Review] Anakku Sehat Tanpa Dokter

20160929_153213

Judul                           : Anakku Sehat Tanpa Dokter

Penulis                        : Sugi Hartati, S.Psi

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   1, April 2013

Tebal                           :  192 halaman

ISBN                           :  978-602-7572-14-0

 

Setiap orang tua pasti mengingkan yang terbaik untuk anak mereka. Lebih-lebih untuk kesehatan. Pun ketika anak mereka sakit, bagaimana cara  menyembuhkan anak secara cepat. Terkadang berapa uang yang mereka keluarkan tak mereka pedulikan. Datang ke dokter terbaik biasanya solusi yang mereka pakai.

Tak hanya itu, orang tua yang memiliki balita atau batita sering kali sudah menyediakan obat ‘bebas’ yang biasa di simpan di rumah untuk menangani penyakit-penyakit yang umum diderita anak, seperti panas, demam, pilek, atau batuk.  Tidak sedikit ibu yang memiliki persediaan antibiotik di rumah sebab obat itu jamak diberikan dokter ketika para ibu datang dengan keluhan anak panas atau demam.

Kepanikan seorang ibu atau ketidaktahuan ibu akan penyakit yang diderita anak, sekalipun ringan, berdampak pada kesalahan penanganan.  Ketika anak panas mereka terburu-buru memberikan antibiotik karena obat itu dikenal ampuh meredakan panas. Atau terburu-buru membawa ke dokter terbaik biasanya dianggap sebagai solusi jitu. Sayangnya, tidak banyak dokter di Indonesia yang memberikan kesempatan kepada pasien atau ibu pasien untuk menelusur latar belakang penyakit. Dalam buku ini diceritakan, misal untuk penyakit panas, pasien akan diberikan oleh antibiotic dan obat pereda sakit yang bersangkutan (misal batuk atau flu). Ketika beberapa hari kemudian  anak belum sembuh, dokter akan meminta pasien datang lagi dan akan diberi obat lagi. Banyak kasus terjadi, pasien terkesan dijadikan kelinci percobaan.

Dokter bukan penemu obat, dokter hanya akan mengaitkan gejala yang diderita pasiennya dengan pengetahuan suatu obat yang didapatnya dari sang penemu obat. Dokter akan memilihkan obat yang lain untuk dicobakan kembali kepada pasien. Jika belum sembuh, maka dokter akan mengganti dengan obat yang lain lagi, demikian seterusnya. (hal. 37)

Antibiotik, yang sering diberikan ke dokter, atau malah disimpan di kotak obat di rumah untuk diberikan kepada anak jika sewaktu-waktu perlu, ternyata memiliki banyak efek. Antibiotik disamping menyembuhkan juga dapat merugikan. Bisa jadi obat yang diberikan kepada anak dalam jangka waktu yang lama tidak menyembuhkan penyakit tetapi justru melemahkan ketahanan tubuhnya. (hal.11).  Pada dasarnya antibiotik hanya efektif membunuh bakteri atau kuman. Jika digunakan pada anak-anak yang menderita demam ataupun sakit lain yang disebabkan oleh virus, maka antibiotik berakibat fatal. Bakteri baik yang semestinya berfungsi membantu tubuh malah ikut terbunuh. (hal. 16). Nah, penyakit yang disebabkan oleh virus tapi diberi antibiotik, tentu tidak tepat sasaran. Dalam buku ini penulis memberikan penjelasan mengenai efek samping dari obat, khususnya antibiotik. Informatif sekali! 😀

Yang paling penting adalah ibu harus tahu latar belakang penyebab penyakit, apakah karena bakteri atau virus agar tepat penangannya.

Jadi, apakah sebaiknya kita tak perlu ke dokter?

Perlu! Tapi janganlah mengunjungi dokter dengan tujuan mencari obat tapi mencari jawaban atas pertanyaan “Anak saya sakit apa? Apa yang menyebabkannya? Bagaimana penyebaran penyakit tersebut sehingga bisa menyerang anak saya?” (hal. 58).  Kita jangan begitu saja menerima apa yang dituliskan dokter dalam resepnya. Sebaiknya kita tahu obat apa saja yang diberikan, cara kerja, efek samping, dan bila perlu harga obat tersebut. (hal. 53)

Meskipun buku ini bukan ditulis oleh dokter atau ahli kesehatan, namun buku ini cukup lengkap memaparkan tentang latar belakang beragam  penyakit yang sering diderita oleh  anak dan penangannya. Buku ini ditulis  berdasarkan pengalaman penulis sebagai ibu dan  dari berbagai pengetahuan kesehatan yang didapat dari berbagai sumber (buku, artikel di internet).

Buku ini lebih menekankan pada pencegahan sebuah penyakit.  Ada fakta bahwa sebenarnya sebagian besar penyakit disebabkan karena makanan yang masuk ke tubuh (hal. 45) jadi  penulis banyak memeberikan tips pencegahan dan penanganan penyakit dengan memberikan makanan yang tepat.  Apa saja makanan yang sehat dan tidak sehat untuk anak dijabarkan lengkap oleh penulis. Buku ini dilengkapi dengan menu-menu makanan sehat, baik buah sebagai food therapy maupun menu makanan penunjang. Komplet! Selain menu makanan, pelengkap yang lain dari buku ini adalah akupresur (teknik pemijatan dengan menggunakan jari-jari tangan pada titi-titik tertentu pada tubuh) menyehatkan bagi anak. Ada manfaat, cara, dan foto yang menyertai bab akupresur.

Buku ini sangat memadai untuk dimiliki para ibu. Sebagai ibu yang memiliki balita, saya seperti dikuatkan oleh penulis.  Bahwa menghadapi anak yang sakit kita tak perlu panik dan khawatir berlebihan.  Penyakit pasti berlalu, tanpa obat tanpa dokter, bisa!

 

Resensi ini diikutsertakan pada campaign #AkuCintaBuku bersama Stiletto Book  dan Riawani Elyta 

 

 

[Diary Janitra] Eh, Nggak Boleh Nyanyi di Kamar Mandi!

Ada yang membuat saya terperangah lalu tersenyum sepanjang sore tadi. Saya berada di dapur untuk belajar mencoba resep martabak manis (yang hasilnya belum sukses! :D) dan mendengar celoteh Janitra ketika di kamar mandi bersama bapaknya untuk pipis lalu buang air besar. Sembari melakukan aktivitas tadi mereka berdua menyanyikan lagu “awe mo we awe mo we” OST Madagaskar. Mendadak Janitra berhenti dan berkata,” eh…mboten pareng nyanyi teng kamar mandi” (eh, tidak boleh menyanyi di kamar mandi).

Saya pun takjub sendiri, ingat kalau soal adab di kamar mandi tersebut pernah saya sampaikan sekali ketika menemaninya di kamar mandi. Ketika itu Janitra menyanyi dan mendadak terpikir di kepala untuk mulai menyampaikan adab di kamar mandi kepada Janitra. Pikir saya, yang penting saya sampaikan, soal Janitra mengerti atau tidak, saya sudah mencoba untuk mengajarkan soal adab sejak dini. Saya bilang kepada Janitra, “Dek, teng kamar mandi mboten pareng nyanyi nggeh,” Begitu pula ketika Janitra mengucapkan salam di depan pintu kamar mandi untuk “bermain-main”.

Nyatanya, di usia ke-2 tahun 10 bulan (34 bulan) Janitra sudah bisa mengingat informasi penting yang diterimanya dan dimunculkan kembali. Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kami untuk mendidik Janitra, amin.

Mengajarkan Bahasa Daerah kepada Anak

Di sekolah saya kerap menemui siswa yang kesulitan berbahasa Jawa. Ketika mengerjakan ujian bahasa Jawa, nilai anak-anak jeblok. Akar masalahnya jelas, bahasa Jawa bagi anak seperti bahasa asing. Ya, kami orang Jawa namun kebiasaan kami menggunakan bahasa Jawa seadanya, lebih sering menggunakan bahasa Jawa ngoko. Untuk siswa-siswa saya, sudah parah banget karena mereka terbiasa menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi sehari-hari di rumah.

Saya kesulitan mengajarkan bahasa Jawa kepada anak-anak di kelas. Tantangan tersendiri sebab, kebanyakan bahasa ibu mereka bukan bahasa Jawa melainkan bahasa Indonesia. Di tambah lagi, pengetahuan saya sendiri terhadap bahasa Jawa dangkal banget. Parah juga kan? :D.  Bagaimana dengan di rumah saya  sekarang?

Saya dan suami, juga keluarga sudah berkomitmen untuk mengajarkan bahasa Jawa kepada Janitra. Sebisa mungkin kami ajak Janitra berbahasa Jawa kromo. Saya tidak mau, apa yang saya alami terjadi juga pada Janitra, wong Jowo tapi tak bisa boso Jowo.

Berhasilkah kami? Belum. Meski kami melakukan hal itu, kenyataannya Janitra dengan kami masih berbahasa ngoko, atau istilah kami ora boso. Salah satu faktor penyebabnya adalah di luar rumah, komunikasi yang didengar dan digunakan Janitra lebih banyak bahasa Jawa ngoko. Faktor lingkungan itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami.

Kami tetap berbahasa Jawa kromo dengan Janitra. Prihatin juga dengan komunikasi yang dilakukan Janitra terhadap kami. Upaya kami kok sepertinya tidak berhasil. Hingga suatu malam saya tersadarkan oleh teman suami yang datang ke rumah dan mendengar komunikasi antara kami dan Janitra.

Si om tersebut mengomentari Janitra, “sama ibuk kok nggak boso,”

“Iya, masih campur-campur,” jawab saya.

Malam itu saya seperti dielengke, diingatkan kembali. Iya ya, Janitra memang belum bisa berkomunikasi kepada kami seperti kami terhadap Janitra. Maka, saya harus mulai memperbaikinya. Caranya dengan pengulangan. Cara tersebut terlintas begitu saja.

Sejak malam itu, saya mulai melakukan pengulangan ketika Janitra masih menggunakan bahasa ngoko untuk berkomunikasi dengan kami. Kami membenarkan apa yang masih salah diucapkan Janitra. Dengan begitu Janitra paham bagaimana ia seharusnya berkomunikasi. Kadang Janitra spontan mengulang apa yang kami ucapkan, namun kadang lewat.

Sebagai contoh, Janitra mengucapkan, “bapak endi buk?”

Saya akan mengulangi perkataan Janitra, “Bapak teng pundi buk?” Kadang saya bilang, “Jal, diwangsuli dek, dibaleni (diulang).”

Cara tersebut sudah sedikit terlihat hasilnya. Janitra sudah sedikit-demi sedikit belajar berbahasa Jawa kromo. Namun, sekarang tantangan kami masih kecil. Ketika kelak Janitra masuk sekolah, tantangan itu akan semakin besar. Komunikasi di sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia biasanya akan terbawa sampai ke rumah. Hal ini sering terjadi. Banyak keluarga teman-teman kami yang mengalami. Ketika belum sekolah sudah terbiasa bahasa Jawa dengan baik, mendadak kebiasaan itu terkikis ketika anak masuk sekolah. Anak lebih suka berbahasa Indonesia untuk komunikasi di rumah, barangkali karena lebih mudah. Bagaimana dengan Janitra nanti? Semoga kami dimudahkan untuk terus berusaha dan belajar bersama, amin.

[Gado-Gado Sekolah #19] Anak Tak Mandiri, Salah Nenek?

Dalam sebuah perjalanan pulang, saya berada satu angkot dengan salah seorang ibu wali murid. Kebetulan saya mengajar putra dari ibu tersebut selama satu semester dan menunggui si anak menjalani test psikologi ketika proses seleksi peserta didik baru berlangsung.

“Bagaimana mas D di kelas?” Pertanyaan dari si ibu saya jawab dengan apa adanya.
“Tidak ada masalah Bu, bisa mengkikuti pelajaran saya dan tidak ada hambatan. Mas D sangat mudah untuk dibimbing dan mandiri. Sangat berbeda sekali dengan dulu ketika mengikuti seleksi siswa baru.”

Si D yang saya kenal sekarang begitu bertolak belakang dengan ketika pertama kali saya mengenalnya. D tidak mau masuk kelas ketika seleksi siswa baru. Setelah dia masuk kelas pun. Dia bertingkah tidak seperti teman-teman yang dengan rela menuruti prosedur psikolog, mengikuti serangkaian test psikologi. D tidak mau duduk. Dia ingin terus ditunggui ibunya , bahkan mengamuk ingin keluar dari kelas, naik ke atas meja, dsb. Serangkain tesnya dikerjakan dengan asal-asalan. Lembar kerjanya dicoret- coret dan di kerjakan dengan asal coret.
“Mas D ini memang unik Bu,” cerita si ibu dulu sambil membujuk anaknya. Yang dibujuk tetap tidak mau dan memberontak. Itu sebabbya saya heran. Setelah D mengikuti proses belajar mengajar. Kejadian itu tidak terulang lagi. D justru bisa mandiri. Mengamuk atau memberontak tidak pernah lagi kami temui. Kami para gurunya pun heran.

Keheranan itu terjawab siang itu.
“Ya Bu, mas D dulu itu tidak mau ikut tes masuk. Baginya kata test itu menakutkan, makanya dia ingin lari.”

Ini pelajaran pertama buat saya. Jangan pernah mengatakan kata tes kepada anak TK, anak kecil, atau calon siswa, kepada anak kita yang mau masuk sekolah. Mungkin kita bisa mengatakan, adik mau masuk sekolah, sekarang adik berkenalan dulu dengan sekolahnya, dengan guru-gurunya, kenalan dengan nulis. Atau apalah. Kenyataanya, sekolah kami sebenarnya tidak menerapan test masuk kok. Serangkaian proses yang dilabeli ‘test’ tersebut sejatinya adalah pemetaan si anak sebagai langkah awal masuk sekolah. ‘Test’ psikologi tersebut berguna bagi kami sebagai referensi bagaimana anak tersebut sehingga kita punya ‘sedikit’ bekal atau bocoran mengenai diri anak, sebagai langkah awal tindak lanjut jika pada saat masuk anak mengalami masalah. Kemudian ‘test’ mengaji sejatinya adalah pemetaan kemampuan anak dalam mengaji dan hafalan sehingga kami mudah mengelompokkan anak tersebut dalam belajar mengaji sesuai dengan kemampuannya.

Soal kemandirian D di sekolah, si ibu punya cerita tersendiri. Si D menjadi seorang anak yang berbeda ketika di rumah dan sekolah. Kemandirian yang kami temui di sekolah konon kata si ibu tidak terjadi di rumah. Si ibu bercerita bahwa si D pernah diajak datang ke psikolog untuk berkonsultasi mengenai masalah yang menimpanya, tentang dia yang mengamuk saat seleksi masuk , tentang si D yang bertolak belakang saat di rumah dan sekolah.
Kemandirian yang ditemui di sekolah namun tidak dijumpai di rumah menurut psikolog yang ditemuinya karena adanya prinsip yang berbeda di rumah. Dualisme prinsip itu terjadi antara orang tua sendiri dan nenek/kakek. Orang tua dan nenek tidak sejalan dalam prinsip mendidik anak. Orang tua menerapkan prinsip mendidik yang membentuk karakter mandiri dan tidak manja sedangkan nenek cenderung memanjakan anak karena tidak ingin membuat cucunya sedih, menangis, dan asal senang.

Contoh kasus yang diberikan si ibu adalah ketika bola D hilang. Kedua orangtuanya mengatakan kepada D bahwa bolanya tidak hilang, dicari dahulu pasti ada. Ibu dan ayah sudah satu prinsip. Malangnya, tidak demikian dengan nenek. Nenek yang penuh kasih tidak tega melihat cucunya sedih karena kehilangan bola. Menghibur sekaligus menyelesaikan masalah dengan cara instan dilakukannya dengan memberikan bola baru.

Prinsip yang tidak sejalan dalam mendidik anak dalam sebuah keluarga bisa membentuk pribadi anak yang tidak konsisten pula. Ketika ia jauh dari keluarganya, misal di sekolah ia bisa menjadi anak yang mandiri namun ketika ia berada di tengah-tengah keluarganya kemandirian itu mendadak lenyap.
Menemui akar masalah yang sudah diketahuinya, saya kemudian bertanya pada si ibu solusi apa yang sudah dijalankannya. Pelan-pelan mengkomunikasikan dengan nenek sudah dicoba dilakoni si ibu. Berangsur-angsur proses itu dilakoninya.
“Sekarang sudah mendingan Bu,” ujar si ibu.
“Mas D sebenarnya sudah saya ajak berkonsultasi lagi ke psikolog tapi nggak mau.”

Cerita si ibu menjadi sharing pengalaman yang bermanfaat buat saya yang masih tinggal bersama nenek si kecil. Tulisan ini tentu saja bukan untuk menyalahkan sosok nenek, namun sebagai sebuah peringatan bahwa kasih sayang nenek adakalanya bila menjadi bumerang bagi anak bila tidak sejalan dengan prinsip orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap si anak. Terlebih nenek yang masih berpola pikir lama dan enggan menerima masukan.