[Gado-Gado Sekolah #23] Berlatih Pembagian dengan Menangkap Ubur-Ubur

Pelajaran matematika seringkali menjadi momok bagi anak-anak.  Matematika dasar, seperti perkalian dan pembagian, bila tidak dipelajari dengan serius dan penuh pemahaman, maka hingga materi lanjutan anak akan malas dan menganggap sulit. Belajar matematika dasar dengan menyenangkan  bisa mengubah paradigma anak terhadap matematika.

Ketika ilmu dasarnya sudah dikuasai namun kurang berlatih pun, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Sebagai contoh pembagian. Anak yang sudah menguasai poro gapit namun kurang berlatih, tentu kecepatan dan ketepatan berhitungnya tidak akan maksimal jika kurang berlatih. Pengulangan, hal yang tidak setiap anak mau melakukannya karena bosan atau momok tadi.

 

Sebagai sarana melatih ketrampilan berhitung khususnya anak-anak, saya memberikan permainan menangkap ubur-ubur yang idenya saya dapatkan dari blog Cerivitas. Blog ini penuh dengan ide permainan matematika yang seru dan menyenangkan. Saya terapkan permainan ini pada kelas matematika di Sabtu Ceria.

Dalam permainan menangkap ubur-ubur,anak-anak dibagi dalam kelompok. Anak yang paling banyak menangkap ubur-ubur akan mendapatkan hadiah. Ada kartu-kartu soal pembagian yang harus diambil anak untuk dihitung.  Anak akan menghitung dengan poro gapit atau yang menguasai jarimatika menggunakan jarimatika. Jawabannya  mereka cari pada ubur-ubur. Ubur-ubur yang mereka tangkap mereka warnai.  Di sinilah sisi menyenangkannya. Meskipun mereka harus berjuang menghitung, ketika berhasil mewarnai ubur-ubur anak akan senang. Kompetisi dalam ketrampilan berhitung terlihat dari banyaknya ubur-ubur yang berhasil diwarnai.

20170211_093044-1

Kalau menilik taksonomi Bloom, permainan ini melibatkan ketiga aspek, baik kognitif, piskomotorik, maupun afektif. Kognitif terlihat pada saat anak menghitung, psikomotorik terlihat dari ketrampilan anak mewarnai gambar, dan afektif tentu saja ada pada sifat teliti menghitung, gigih, dan sabar menunggu giliran bermain, sabar menunggu teman menghitung dan mewarnai.

20170204_094242

20170204_094308

Permainan ini disukai anak-anak. Terbukti, pada pertemuan berikutnya anak meminta memainkannya lagi, namun dengan gambar yang berbeda. Anak meminta dibuatkan gambar makanan. Maka, saya mengulang permainan itu dengan gambar aneka makanan dan minuman.

 

 

 

 

[Gado-Gado Sekolah #22] Pekan Wirausaha

Pekan lalu menjadi pekan yang luar biasa seru bagi siswa kelas 5, kelas tempat saya belajar bersama anak-anak. Ada dua program belajar yang selalu disambut sukacita oleh mereka: kunjungan belajar dan hari berjualan (market day). Kebetulan, tema kedua kegiatan itu adalah wirausaha.

Kunjungan ke Rumah Industri Pembuatan Yogurt Mayummy

Kunjungan belajar Senin lalu (14/11) melibatkan tiga materi pembelajaran yaitu:

1.IPS:  Kegiatan Perekonomian

2.IPA: Perubahan Wujud Benda

3. Bahasa Indonesia: menulis laporan pengamatan

Tempat kunjungan belajar Senin lalu sudah pasti disukai anak-anak. Kebetulan rumah industri pembuatan mayumi yogurt di Donorejo, Secang, Magelang dimiliki oleh seorang wali siswa tempat saya belajar, jadi saya tidak perlu kesulitan mencari dan meminta ijin kunjungan ke tempat suatu kegiatan ekonomi yang cocok untuk anak-anak.

Begitu tiba di lokasi, anak-anak disambut ramah  oleh Pak Edi, pemilik rumah industri pembuatan mayummy yogurt. Anak-anak langsung diajak mendekati dapur pembuatan.

20161114_1025141

20161114_1021171

20161114_1022391

Karena dapur pembuatan yogurt tidak muat menampung semua anak, maka Pak Edi, pemiliknya, menunjukkan dan menerangkan di pintu masuk dengan dua gelombang, siswi dahulu diikuti siswa. Ada tempat pasteurisasi besar tepat di depan pintu untuk menyeteril susu hingga maksimal suhu delapan puluh derajat celsius.  Pendinginan susu dilakukan dengan air yang mengalir. Ada kotak-kotak susu besar tempat susu yang sudah dingin diproses menjadi yogurt. Proses berikutnya diterangkan pak Edi hingga tuntas.

Setelah diterangkan prosesnya, anak-anak diajak melihat proses pengemasan yogurt. Bagian ini menyenangkan bagi mereka.  Mereka berkesempatan membantu ibu-ibu yang bertugas membungkus  yogurt menjadi dua jenis kemasan, kemasan Rp500 dan Rp.1000 dan  mengemasnya ke dalam kantong-kantong besar berisi 20 batang.  Di bagian ini, terutama siswi begitu asyik membungkus yogurt dengan enam varian rasa buah.  Ibu-ibu yang merupakan tetangga dekat rumah industri itu dengan ramah dan sabar melayani semua pertanyaan maupun mengarahkan cara pengemasan.

20161114_1037571

20161114_1032121

Mereka belum puas membantu ketika berpindah ke acara berikutnya, yaitu sharing usaha mayummy yogurt. Anak-anak cermat mencatat penjelasan Bapak Edi mengenai segala hal yang berkaitan dengan rumah industri ini, dari proses produksi hingga distribusi. Sesekali anak-anak maupun guru pendamping menungkapkan rasa ingin tahu mengenai bisnis yang terbilang sukses itu.  Suka duka, rintangan, dan tips dari pak Edi cukup memberikan gambaran mengenai dunia wirasusaha, juga inspirasi untuk gigih dan pantang menyerah dalam berbisnis.

20161114_1106441

Sekembali dari kunjungan, tugas mereka melaporkan hasil kunjungan dalam bentuk laporan pengamatan. Jadi belajar Senin itu terasa komplet dan menyenangkan.

20161121_1457571

 

Market Day

Setelah mendapatkan inspirasi dan gambaran mengenai dunia usaha, saatnya mereka belajar menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dengan praktik berjualan. Di sekolah kami, market day sudah menjadi program sekolah.  Tiap semester diadakan sekali  kegiatan market day besar: semester 1 tiga  kelas besar berjualan dan tiga kelas kecil membeli, dan sebaliknya di semester 2. Antusiasme anak-anak terhadap kegiatan ini selalu besar.

Melaksanakan program sekolah, Jumat lalu (18/11) kelas saya, kelas 5, tidak sendiran dalam belajar wirausaha. Ada kelas 4 dan kelas 6 yang dihari itu sangat bersemangat menghadirkan dagangan terbaik mereka.  Dagangan utama dari market day ini adalah makanan. Makanan boleh disiapkan dari rumah maupun dimasak di sekolah. Beberapa siswa juga menjual hasil kerajinan tangan mereka.

20161118_0752461

persiapan kelas 5

20161118_0747451

20161118_0758371

persiapan di kelas 6

Uniknya, masing-masing kelas punya gaya sendiri-sendiri dalam berjualan.  Di kelas 4, ada 5  kelompok  masing-masing siswa dan siswi membuat lapak secara terpisah. Sementara di kelas 5 siswa dan siswi berkolaborasi dan dibagi menjadi 4 kelompok. Yang menarik adalah konsep di kelas 6. Satu kelas berkongsi membuat usaha rumah makan semacam pujasera.

20161118_0854361

20161118_0845351

persiapain tim kasir dan marketing kelas 6

Ada beberapa lapak di kelas 6, dari makanan besar semacam bakso dan spagheti hingga makanan kecil gorengan dan minuman segar. Masing-masing lapak berlabel huruf alfabet. Pembeli yang datang di tiap-tiap lapak akan mendapatkan kartu huruf untuk membayar di kasir. Besarnya harga tiap lapak berbeda. Kartu huruf yang diberikan kepada tim kasir memudahkan proses pembayaran.  Strategi penjualan mereka juga mantab, memberikan suvenir untuk 3 jenis pembelian. Terang saja, kelas 6 dibanjiri pembeli.

20161118_0921251

kelas 6 banjir pembeli

20161118_0904521

lapak-lapak kelas 5

Bagaimana dengan kelas 4 dan 5? Saya melihat kegigihan anak-anak di tengah persaingan. Anak-anak dengan sabar menunggui lapak mereka dengan beberapa siswa berkoar-koar  menawarkan dagangannya dengan gaya masing-masing.

20161118_0852191

20161118_0848101

20161118_0847391

20161118_0847161

tim kelas 5

Kegiatan ini memang sejatinya pembelajaran.  Ranah afektif terutama  benar-benar menonjol dalam pembelajaran ini.  Kerjasama, menghargai, cermat, teliti, telaten, sabar, jujur, gigih, tidak mudah putus asa, dan karakter  lain akan terlihat pada saat siswa menyiapkan dagangan dari rumah maupun di sekolah dan pada proses penjualan.  Lihat saja, kelompok yang tidak sabar ketika melihat lapak lain ramai pembeli dan mulai habis dagangannya serta merta membanting harga atau melakukan obral. Seru ketika melihat sepak terjang mereka :D.  Di saat yang sama, kelompok yang danganganya mulai tak dilirik pembeli tetap tak terpengaruh jika mereka memiliki karakter sabar dan pantang menyerah.  Mereka kemudian memakai strategi menawarkan dagangan dengan berkeliling, membawa dangangan yang tersisa pada nampan.

20161118_0832511

kreasi handycraft

20161118_0827511

kreatifnya siswi, bungkus makanan kecil dibuat pemanis sedotan

Beragam trik yang mereka gunakan pada akhirnya membuat makanan yang mereka jajakan ludes. Yang tersisa adalah barang-barang berupa handycraft. Kami para guru sering berkomentar seusai kegiatan market day yang sudah-sudah bahwa makanan apapun yang dijajakan di sekolah  saat market day pasti laku. Masalah untung ruginya, nanti dulu….  Setelah tanya masing-masing kelompok, beragam jawaban mereka: ada yang untung (cuma dikit), untung lumayan, maupun balik modal saja. Nah, ini lagi letak pembelajarannya!

20161118_0952101

menawarkan dagangan keliling

Bagi anak-anak sendiri, saya lihat untung rugi itu nomer sekian. Mereka begitu senang dan bersemangat melakukan jual  beli. Menerima uang dari pembeli itu berjuta rasanya! Ngetung uang belakangan, yang penting uangnya berjubel-jebel di kasir, hehehe….

[Gado-Gado Sekolah #21]Learning by Doing

Bagi sebagian besar anak, pelajaran matematika punya imej menyebalkan, momok, menakutkan, membosankan, dan sederet kata-kata negatif lain. Bagi mereka rumus-rumus dan angka yang dimasukkan di dalamnya terasa abstrak. Tak hanya matematika, beberapa pelajaran lain pun bagi anak SD terasa jauh dari jangkauan nalar. Itu sebabnya, model pembelajaran yang ideal bagi  anak-anak adalah belajar sambil bermain, belajar sambil melakukan.  Yang terpenting adalah memberikan pemahaman yang nyata bagi anak-anak. Tak perlu jauh-jauh sebenarnya, anak-anak idealnya belajar dari yang dekat dengan mereka.

Pagi ini, dalam usaha mendekatkan konsep pengukuran bagi anak-anak, saya mengajak  mereka belajar di    luar. Dengan Standar Kompetensi “Menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak, dan kecepatan dalam pemecahan masalah,” serta Kompetensi Dasar “Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan waktu, jarak, dan kecepatan “, saya mengajak anak-anak menghitung kecepatan lari tiap-tiap siswa. Setelah menyiapkan alat ukur meteran dan stopwatch, anak-anak mengukur jarak lintasan lari di halaman sekolah. Tidak jauh, jaraknya hanya 24 meter.

20161116_0800361

20161116_0808481

20161116_0809012

Mulailah anak-anak secara bergiliran lari di lintasan. Anak yang tidak mendapat giliran mencatat waktu yang diperlukan temannya untuk berlari pada tabel yang telah disiapkan. Tabelnya berisi no, nama, jarak, waktu, dan kecepatan. Setelah semua anak mendapat giliran berlari, barulah mereka menghitung kecepatan berlari seluruh siswa kelas 5.

Kegiatan semacam ini melibatkan 3 aspek  menurut taksonomi Bloom yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif.  Dari segi kognitif, anak diajak belajar menghitung sesuai materi. Ketika anak berlari, aspek psikomotorik lah yang diasah, sementara dari sisi afektif, anak dilatih bersabar dalam menanti semua temannya berlari dan cermat dalam menghitung.

Pembelajaran semacam ini lebih menyenangkan bagi anak. Belajar melalui pengalaman. Konsep yang abstrak menjadi nyata. Kasus serupa pernah terjadi ketika dalam pembelajaran materi FPB, seorang siswa yang dalam kesehariannya terdepan dalam pelajaran matematika, lambat dalam memahami soal cerita:

Bu Alena mempunyai 45 buah jeruk dan 60 buah manggis. Ia akan mengemas buah-buah tersebut dalam beberapa plastik tersebut dalam plastik. Tiap plastik berisi jeruk dan manggis dengan jumlah yang sama.
        a. Berapa banyak plastik yang diperlukan Bu Alena

         b.Berapa banyak buah jeruk dan manggis tiap plastik?

Setelah pembahasan, siswa tersebut bilang belum paham. Kebetulan, saat itu anak-anak membawa uang logam dan kelereng untuk perlengkapan membatik celup. Maka saya pinjam logam dan uang dari dua siswa. Kami  menjumlah banyaknya benda tersebut  bersama-sama, jumlahnya 50 kelereng dan 20 uang logam. Setelah dihitung FPB-nya, saya meminta anak mengambil plasik sejumlah angka yang didapatkan dari hasil menghitung FPB. Langkah selanjutnya menghitung berapa masing-masing kelereng dan uang logam yang akan dimasukkan plastik. Dengan praktik semacam ini,mereka terlihat mendapat pencerahan,
“Bu, berarti kalau seperti ini harus bisa ngitung FPB ya…,” kata seorang siswa.

“Nah, itulah gunanya matematika,” ujar saya.

Dalam materi menghitung luas, pendekatan ini saya pakai dengan cara menggambar bangun trapesium, belah ketupat, dan layang-layang sebab  siswa yang sedianya mau membawa layang-layang lupa. Gambar itu kemudian digunting sesuai bentuknya, barulah dihitung luasnya. Jadi mereka mereka tidak sekedar menghitung luas gambar namun bangun yang nyata.

20161116_1443001

Apakah pengalaman semacam ini bisa meningkatkan hasil belajar siswa? Bisa jadi iya, bisa jadi belum menjamin, namun saya ingin memberikan pengalaman belajar yang dekat dengan keseharian dan melatih pemahaman siswa. Semoga bermanfaat!

 

[Lomba Blog Dies Natalis Universitas Terbuka ke-32] Menjadi Mahasiswa UT yang Berkarakter

Salah satu pilar peradaban bangsa adalah pendidikan. Pendidikan  menentukan maju mundurnya sebuah bangsa.  Bagaimana generasi suatu bangsa itu dilihat bagaimana kualitas sistem pendidikan bangsa tersebut dan tentu saja guru sebagai agen pendidikan.  Guru yang berkualitas dan profesional akan mencetak generasi yang berkarakter. Nasib para pemimpin bangsa salah satunya berada di tangan seorang guru. Guru yang menginspirasi akan memberikan motivasi kepada seseorang untuk menjadi pribadi berjiwa pembaharu.

 

Menjadi guru yang berkualitas dan profesional adalah tuntutan saat ini.  Bukan hanya mengejar tunjangan profesi namun adanya tunjangan profesi merupakan konskuensi tuntutan jaman akan guru professional.  Menjadi guru professional nyatanya membutuhkan kualifikasi akademik di kelas dan bidangnya masing-masing.  Sementara itu, banyak guru yang secara kualitas  dan kinerja telah memenuhi syarat namun dilihat dari kualifikasi akademiknya belum memenuhi syarat. Guru tersebut dituntut untuk menempuh pendidikan sesuai kualifikasi namun tetap harus menjalankan kewajibannya mengajar di kelas. Untuk itulah Universitas Terbuka menjawab tantangan tersebut.

 

Universitas Terbuka (UT) adalah Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia yang diresmikan pada tanggal 4 September 1984, berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 41 Tahun 1984. UT memiliki 4 Fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi (FEKON), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) untuk jenjang Diploma dan Sarjana. Sejak tahun 2004, UT membuka jenjang Magister pada Program Pascasarjana.

UT menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka. Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi). Makna terbuka adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Batasan yang ada hanyalah bahwa setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah atas (SMA atau yang sederajat). (sumber dari sini )

 

Adanya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan sistem belajar jarak jauh dan terbuka memungkinkan guru menimba ilmu dan tetap memberikan pendidikan di kelasnya masing-masing. UT menjangkau hingga daerah-daerah. Terlebih,   pembelajaran UT semakin mudah dengan adanya aplikasi UT online yang dapat diunduh melalui playstore. Lewat aplikasi ini, mahasiswa dapat mengakses materi kuliah, perpustakaan digital, memeriksa nilai secara daring, mengenal teman sekelas dan ujian secara daring.

Melihat profil di atas, jelaslah  Universitas Terbuka berperan dalam membangun negri ini. Di usia NKRI yang ke-71, telah empat windu UT melahirkan generasi pembangun negeri.  Berusia 32 tahun,saya menjadi mahasiswa yang lulus tepat pada perayaan empat windu ini.

 

Pengalaman Saya Sebagai Mahasiswa UT

Saya seorang guru di sebuah sekolah dasar swasta yang terletak di daerah, tepatnya di Kelurahan Grabag, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Saya merasakan kemudahan sebagai seorang mahasiswa UT. Tuntutan kualifikasi akademik memaksa saya menempuh pendidikan lagi sebab gelar sarjana yang telah saya raih bukan dari bidang pendidikan.  Sementara itu, untuk menempuh pendidikan lagi, jarak dan waktu tidak memungkinkan saya duduk di ruang kelas perkuliahan.  Pilihan saya jatuh pada Universitas Terbuka. Untuk duduk di kelas di kampus UT pun tidak memungkinkan sebab saya tinggal jauh di daerah. Beruntung, ada Universitas Terbuka  yang  menerapkan sistem belajar jarak jauh dan membuka kelompok belajar di daerah saya. Sebenarnya, kelompok belajar yang saya ikuti letaknya di kecamatan yang berlainan dengan tempat saya mengajar, tepatnya di Kelurahan Payaman Kecamatan Secang.  Inilah fleksibilitas dari sistem yang diterapkan UT UPBJJ Yogyakarta tempat saya menginduk. Karena peserta di kecamatan tempat saya mengajar cukup banyak, dibukalah dua kelas dari kelompok belajar Payaman namun lokasi pembelajaran di Kelurahan Grabag.

Berbagai kemudahan dan kenyamanan belajar saya rasakan selama menjadi mahasiswa UT. Saya tidak pernah meninggalkan kewajiban mengajar di kelas untuk kuliah sebab perkuliahan di laksanakan di akhir pekan.  Sabtu siang dan Minggu adalah waktu kosong mengajar yang dijadwalkan untuk kuliah sistem jarak jauh.

Karena minimnya pertemuan, berbeda dengan mahasiswa regular yang bisa bertatap muka di kelas setiap hari, kami dituntut untuk belajar secara mandiri.  Dibimbing oleh seorang tutor di setiap mata kuliah dan ditunjang oleh buku-buku dari UT, kami tidak merasa kesulitan dalam belajar. Buku-buku yang diterbitkan UT selain menjadi sumber referensi dalam proses pembelajaran kelompok , materinya juga akan dipakai sepanjang mahasiswa tersebut menjadi guru.  Meski berisi banyak teori pendidikan dan pembelajaran yang diambil dari berbagai sumber, namun materinya aplikatif untuk dipakai oleh setiap guru.

IMG-20160814-WA0000[1]

Sistem tutorial yang berlangsung hanya dua hari setiap pekannya terasa efektif karena proses pembelajarannya lebih menitikberatkan pada keaktifan mahasiswa . Tutor yang datang lebih berperan sebagai fasilitator. Mahasiswa dituntut belajar mandiri lewat beragam tugas yang nantinya akan dipakai sebagai bekal mengajar di kelas. Tugas yang bersumber dari buku-buku UT menggiring mahasiswa menjadi kreatif dan aktif dalam setiap pertemuan.

Saya merasakan banyak manfaat dari beragam tugas yang diberikan. Membuat materi presentasi memaksa mahasiswa mencari dan membaca berbagai sumber referensi. Menampilkan materi yang diminta tutor melatih mahasiswa percaya diri tampil di depan, sebagaimana keseharian guru di depan kelas.  Kemampuan ini secara langsung juga menggiring guru untuk melakukan hal yang sama kepada siswa, membentuk karakter berani dan percaya diri tampil di depan.

 

Materi yang diberikan dalam proses perkuliahan jauh dari teori. Mahasiswa diajak praktik langsung menerapkan teori-teori pembelajaran yang ada dalam buku.  Sebab siswa harus memiliki pengalaman belajar yang menyenangkan, guru sebagai mahasiswa pun diajak melakukan praktik perkuliahan yang aplikatif dan menyenangkan.  Saya ambil contoh perkuliahan Pembelajaran IPA. Setiap pertemuan diisi dengan praktikum yang nantinya diterapkan guru di kelas.

Berikut adalah contoh pembelajaran IPA yang kami lakukan di luar kelas. Alam kami jadikan sebagai sumber belajar.

IMG_7707

IMG_7709

IMG_7710

IMG_7708

 

Mahasiswa memiliki pengalaman belajar yang nyata dan menyenangkan. Ada beragam ilmu yang didapatkan sekaligus melakukan refreshing dari rutinitas mengajar. Inilah potret kelompok belajar di UT yang kompak dan menyenangkan.  Keakraban antar mahasiswa dan tutor terjalin.

 

IMG_7943

Begitu nyata pengalaman belajar yang saya dapatkan di UT, sangat menyatu dengan keseharian saya sebagai guru sekolah dasar sehingga tak terasa ketika SKS demi SKS telah selesai saya tempuh. Ada jeda waktu antara selesai belajar dan proses kelulusan tidak menjadikan ini sebagai masalah berarti. Banyak ilmu dan pengalaman belajar yang aplikatif yang saya dapatkan dari UT.  Sistem pembelajaran UT pun secara langsung membentuk karakter  mahasiswa dalam hal ini guru menjadi guru yang kreatif, inovatif, percaya diri, berwawasan dengan tak lupa karakter spiritual yang turut ditularkan oleh tutor-tutor yang membimbing. Karakter inilah yang akan dimiliki oleh generasi penerus membangun bangsa.  Selama empat windu ini, UT telah berperan melahirkan generasi yang diharapkan mampu  membangun bangsa yang berkarakter.

 

Selamat merayakan Dies Natalis ke-32. Semoga UT terus melahirkan generasi-generasi pembangun bangsa yang berkualitas dan professional.

 

 

 

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

 

 

*berterima kasih kepada pak Aat Ahmad untuk foto-foto praktikum di alam.

 

[Diary Janitra] Eh, Nggak Boleh Nyanyi di Kamar Mandi!

Ada yang membuat saya terperangah lalu tersenyum sepanjang sore tadi. Saya berada di dapur untuk belajar mencoba resep martabak manis (yang hasilnya belum sukses! :D) dan mendengar celoteh Janitra ketika di kamar mandi bersama bapaknya untuk pipis lalu buang air besar. Sembari melakukan aktivitas tadi mereka berdua menyanyikan lagu “awe mo we awe mo we” OST Madagaskar. Mendadak Janitra berhenti dan berkata,” eh…mboten pareng nyanyi teng kamar mandi” (eh, tidak boleh menyanyi di kamar mandi).

Saya pun takjub sendiri, ingat kalau soal adab di kamar mandi tersebut pernah saya sampaikan sekali ketika menemaninya di kamar mandi. Ketika itu Janitra menyanyi dan mendadak terpikir di kepala untuk mulai menyampaikan adab di kamar mandi kepada Janitra. Pikir saya, yang penting saya sampaikan, soal Janitra mengerti atau tidak, saya sudah mencoba untuk mengajarkan soal adab sejak dini. Saya bilang kepada Janitra, “Dek, teng kamar mandi mboten pareng nyanyi nggeh,” Begitu pula ketika Janitra mengucapkan salam di depan pintu kamar mandi untuk “bermain-main”.

Nyatanya, di usia ke-2 tahun 10 bulan (34 bulan) Janitra sudah bisa mengingat informasi penting yang diterimanya dan dimunculkan kembali. Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kami untuk mendidik Janitra, amin.

Mengajarkan Bahasa Daerah kepada Anak

Di sekolah saya kerap menemui siswa yang kesulitan berbahasa Jawa. Ketika mengerjakan ujian bahasa Jawa, nilai anak-anak jeblok. Akar masalahnya jelas, bahasa Jawa bagi anak seperti bahasa asing. Ya, kami orang Jawa namun kebiasaan kami menggunakan bahasa Jawa seadanya, lebih sering menggunakan bahasa Jawa ngoko. Untuk siswa-siswa saya, sudah parah banget karena mereka terbiasa menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi sehari-hari di rumah.

Saya kesulitan mengajarkan bahasa Jawa kepada anak-anak di kelas. Tantangan tersendiri sebab, kebanyakan bahasa ibu mereka bukan bahasa Jawa melainkan bahasa Indonesia. Di tambah lagi, pengetahuan saya sendiri terhadap bahasa Jawa dangkal banget. Parah juga kan? :D.  Bagaimana dengan di rumah saya  sekarang?

Saya dan suami, juga keluarga sudah berkomitmen untuk mengajarkan bahasa Jawa kepada Janitra. Sebisa mungkin kami ajak Janitra berbahasa Jawa kromo. Saya tidak mau, apa yang saya alami terjadi juga pada Janitra, wong Jowo tapi tak bisa boso Jowo.

Berhasilkah kami? Belum. Meski kami melakukan hal itu, kenyataannya Janitra dengan kami masih berbahasa ngoko, atau istilah kami ora boso. Salah satu faktor penyebabnya adalah di luar rumah, komunikasi yang didengar dan digunakan Janitra lebih banyak bahasa Jawa ngoko. Faktor lingkungan itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami.

Kami tetap berbahasa Jawa kromo dengan Janitra. Prihatin juga dengan komunikasi yang dilakukan Janitra terhadap kami. Upaya kami kok sepertinya tidak berhasil. Hingga suatu malam saya tersadarkan oleh teman suami yang datang ke rumah dan mendengar komunikasi antara kami dan Janitra.

Si om tersebut mengomentari Janitra, “sama ibuk kok nggak boso,”

“Iya, masih campur-campur,” jawab saya.

Malam itu saya seperti dielengke, diingatkan kembali. Iya ya, Janitra memang belum bisa berkomunikasi kepada kami seperti kami terhadap Janitra. Maka, saya harus mulai memperbaikinya. Caranya dengan pengulangan. Cara tersebut terlintas begitu saja.

Sejak malam itu, saya mulai melakukan pengulangan ketika Janitra masih menggunakan bahasa ngoko untuk berkomunikasi dengan kami. Kami membenarkan apa yang masih salah diucapkan Janitra. Dengan begitu Janitra paham bagaimana ia seharusnya berkomunikasi. Kadang Janitra spontan mengulang apa yang kami ucapkan, namun kadang lewat.

Sebagai contoh, Janitra mengucapkan, “bapak endi buk?”

Saya akan mengulangi perkataan Janitra, “Bapak teng pundi buk?” Kadang saya bilang, “Jal, diwangsuli dek, dibaleni (diulang).”

Cara tersebut sudah sedikit terlihat hasilnya. Janitra sudah sedikit-demi sedikit belajar berbahasa Jawa kromo. Namun, sekarang tantangan kami masih kecil. Ketika kelak Janitra masuk sekolah, tantangan itu akan semakin besar. Komunikasi di sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia biasanya akan terbawa sampai ke rumah. Hal ini sering terjadi. Banyak keluarga teman-teman kami yang mengalami. Ketika belum sekolah sudah terbiasa bahasa Jawa dengan baik, mendadak kebiasaan itu terkikis ketika anak masuk sekolah. Anak lebih suka berbahasa Indonesia untuk komunikasi di rumah, barangkali karena lebih mudah. Bagaimana dengan Janitra nanti? Semoga kami dimudahkan untuk terus berusaha dan belajar bersama, amin.

Inspirasi dari Kota Literasi Surabaya

          Beruntung sekali saya berkesempatan menghadiri acara Sosialisasi Literasi bertajuk Membumikan Membaca di Kota Magelang yang diadakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Fakulatas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Tidar Magelang, 2 Desember 2014 lalu. Pembicara kali itu spesial, pakar literasi dari Surabaya. Beliau adalah Ketua Ikatan Guru Indonesia wilayah Jawa Timur, Bapak Satria Darma.

          Keberuntungan yang lain adalah, nggak sengaja, karena tempat duduk di sebelah saya kosong, seorang ibu cantik mendekati dan duduk di samping saya. Beliau istri bapak Satria Darma. Jadi saya bisa sesekali ngobrol sembari mendengarkan paparan pak Satria Darma. “Hiasan di rumah saya ya buku,” ujar Ibu Satria Darma memulai obrolan kecil kami.

         Sementara itu Bapak Satria Darma memulai paparannya dengan pertanyaan besar: Seberapa pentingkah literasi itu? Apa bukti bahwa literasi itu sangat penting? Bapak Satria Darma mengutip pendapat beberapa tokoh penting dunia.

“Membaca adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca pendidikan akan mati.” (Dr.Roger Ferr) “Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.” (Glenn Doman) “Jadi literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil di sekolah dan kehidupan selanjutnya.”(Rod Welford, Mendikbud Queensland)

            Tak kalah pentingnya adalah bahwa surat pertama yang turun kepada nabi Muhammad SAW dari Allah adalah Al-Alaq 1—5. Ayat pertama yang turun adalah perintah untuk membaca. Nabi Muhhamad, rasul terakhir dan penutup yang diutus Tuhan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk masyarakat Quraisy saat itu. Ajarannya  untuk membangun peradaban dan kesejahteraan seluruh alam semesta. Perintah membaca ditujukan kepada semua umat manusia karena kemampuan literasi adalah syarat utama untuk membangun peradaban. Kemampuan literasi adalah kunci dari ilmu pengetahuan.

               Ada kisah dari perang Badar yang disampaikan beliau sebagai bukti pentingnya literasi di jaman nabi. Nabi Muhammad membuat sebuah kebijakan yang sangat tidak lazim. Nabi tidak meminta tebusan dari tawanan yang jumlahnya 70 orang. Tebusan tawanan berkisar antara 1.000—4.000 dirham/orang. Namun nabi meminta ganti yang lebih berharga dari harta. Rasulullah melepaskan para tawanan kaum Quraisy yang pandai baca tulis dengan menebus dirinya dengan mengajarkan tulis baca kepada 10 orang anak Madinah.

          Begitu pentingnya literasi terbukti kejayaan Islam tidak lepas dari budaya tersebut. Zaman kejayaan Islam adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di dunia Islam menghasilkan kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Peradaban Islam tak hanya melahirkan generasi yang mumpuni di bidang keagamaan tapi juga berbagai ilmu pengetahuan.  Beberapa ilmuwan Islam tersebut antara lain Ibnu Rusd (Averros), Ibnu Sina (Avicena), Al-Biruni, Muhammad Ibn Musa Al-Kharizmi, dan Nizam Al Mulk. Setelah memaparkan pengantar pentingnya literasi, bapak Satria Darma memberikan gambaran tentang budaya baca di Indonesia yang masih rendah, khususnya di kalangan pelajar. Untuk itu beliau berkeliling ke beberapa kota di Indonenesia untuk mensosialisasikan Gerakan Membaca.

           Beberapa program litrasi yang bisa dilakukan di sekolah antara lain sustained silent reading, perpustakaan kelas, tantangan membaca, dan menerbitkan kumpulan cerpen dan puisi siswa. Beliau membawa insiprasi dari kota Surabaya. Seluruh sekolah di Surabaya, dari SD hingga SMU  sudah menerapkan program tersebut.

             “Seluruh sekolah sudah ditaken kontrak oleh walikota, Ibu Risma,” ujar Ibu Satria Darma kepada saya. Jadi seluruh kepala sekolah di Surabaya memang dikumpulkan untuk taken kontrak menjalankan program Gerakan Budaya Literasi.

          “Untuk menjalankan program tersebut tidak butuh dana. Yang penting adalah kemauan dari sekolah dan kerja sama dengan wali murid.” Lanjut beliau. Tentu saja, yang pertama kali dilakukan adalah sosialisasi dari sekolah kepada wali murid. Menurut beliau, tidak sulit meminta orang tua membelikan satu buku untuk anaknya. Kalau tiap anak di sekolah membawa satu buku ke sekolah, sudah berapa buku yang bisa dibaca siswa. Mereka bisa bertukar buku.

               Dua sekolah yang dijadikan contoh oleh Bapak Satria Darma dalam acara tersebut adalah SMAN 5 dan SMAN 21 Surabaya. SMAN 5 punya priogram membaca rutin antara lain: -Siswa diwajibkan membeli buku bacaan (novel) -Siswa membaca setiap hari (silent reading) pada awal jam sekolah (15 menit sebelum jam ke-1). Kegiatan ini dikoordinir oleh kelas dan diawasi oleh guru. -Setiap selesai membaca siswa diwajibkan menuliskan buku, judul, pengarang, dan penerbit serta membuat sinopsis dari buku yang dibaca. -Buku yang telah dibaca akan disumbangkan ke perpsutakaan.

             Target dan jumlah buku yang dibaca oleh siswa SMAN 5 bulan Juli—Agustus 2012 adalah setiap anak dalam 1 bulan membaca 2 buku dan satu sekolah membaca 3000 buku setiap tahun. Jumlah keseluruhan buku yang terbaca adalah 1.851 buku dalam jangkan waktu 2 bulan. Waw… bukan?

        Tak kalah menarik adalah fenomena yang terjadi di SMA 21 Surabaya. Sekolah tersebut mengadakan lomba perpustakaan kelas bekerja sama dengan Baperpusip Kota Surabaya. Kelas yang menang akan mendapatkan hadiah dari Baperpusip Kota Surabaya. Penilaian pada jumlah dan jenis koleksi, pengorganisasian buku, susunan pengurus, program baca buku, pengorganisasian peminjaman dan hasil baca buku, keindahan, dll. Buku yang dilombakan adalah buku siswa-siswa sendiri, bukan buku perpustakaan sekolah.

           Tantangan membaca seperti di Goodreads.com juga berlaku di Surabaya. Setiap siswa SMALA Surabaya ditantang membaca 12 buku sastra dari Juli 2014—1 Maret 2015. Sekolah berkerja sama dengan UNAIR dan UNESA dalam menyediakan daftar Wajib Baca buku sastra. Sekolah bekerja sama dengan komite sekolah akan menyediakan buku Wajib Baca tersebut. Siswa yang berhasil menyelesaikan tantangan akan mendapatkan sertifikat “Reading Award” dari Walikota Surabaya.

           Waw, saya membayangkan, kalau setiap kota di Indonesia memiliki walikota inspiratif seperti Bu Risma, masa depan negeri ini tentu akan semakin maju peradabannya.

Mengikuti Jejak

          Paparan dari Bapak Satria Darma berhasil menggugah saya. Ingin sekali saya mempraktikan apa yang sudah terlaksana di Surabaya dari kelas saya sendiri. Ketika menjadi wali kelas VA di sebuah sekolah swasta di desa Grabag tempat tinggal saya,di tahun 2012 ,saya pernah mewajibkan anak membaca buku untuk dilaporkan. Karena buku perpustakaan sekolah tidak bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut, maka saya mengeluarkan koleksi buku saya untuk dipinjam anak-anak. Sayangnya, program tersebut hanya berjalan satu putaran karena kendala koleksi buku. Permasalahan tersebut saya sampaikan dalam forum. Solusinya adalah seperti yang sudah disampaikan di atas, setiap anak membawa satu buku. Ibu Satria Darma menguatkan saya, cobalah, orang tua pasti tidak keberatan memebelikan anaknya satu buku.

         Maka pada pertengahan Desember lalu, selesai anak-anak melaksanakan Ujian Akhir Semester, saya meluncurkan program Tantangan Membaca. Untuk memberi contoh pada anak-anak agar membawa buku, saya membawa setumpuk buku koleksi dari rumah. Anak-anak terlihat antusias melihat saya membawa setumpuk buku.

         Untuk mendukung program tersebut, saya membagikan Kartu Tantangan Membaca yang berisi judul buku, nama pengarang, penerbit, tahun, bintang, tanggal memulai dan selesai memabaca. Siswa di kelas VA yang berhasil mencapai jumlah buku tertinggi akan saya beri hadiah buku yang jenisnya bisa memilih sendiri. Saya juga berangan-angan akan memeberikan sertifikat yang ditandatangani kepala sekolah.

       Beragam reaksi yang saya dapatkan di hari saya meluncurkan program tersebut. Umumnya anak-anak antusias dan terlihat bersemangat.

           “Bu, saya tidak suka membaca,” ungkap Yoga kepada saya.

           “Nanti mas Yoga akan Bu Guru paksa jadi suka membaca,” jawab saya sembari tertawa.

         “Tapi saya nggak punya buku Bu,” lanjut Yoga. Ucapan serupa keluar dari beberapa siswa. Saya masih memaklumi, tidak apa-apa ujar saya kepada mereka. Untuk langkah pertama, saya akan mencobanya pelan-pelan.

        Saya tidak membutuhkan jeda hari untuk melihat hasilnya. Luar biasa, di hari yang sama, anak-anak sudah mengisi kartu mereka. Mereka yang belum paham yang mana penulis, penerbit, tahun terbit dalam buku yang mereka baca ribut menanyakan kepada saya. Wah, saya sampai geli campur gembira menaggapinya.

Image5615Image5618Image5619

Image5617

                                                                   kartu tantangan membaca

                  Semakin hari saya kian berbahagia melihat semangat mereka.

            “Bu, saya bawa buku sekarang,” kata Yoga dua hari kemudian. Saya yakin ia termotivasi, kepengen melihat teman-temannya membawa buku di hari sebelumnya.

                 “Saya bawa dua bu, beli di 39 pulang sekolah,” lanjut Yoga ketika saya tanya beli di mana.

                  Hari berikutnya, ia juga laporan kalau beli buku lagi. “Beli di Indo Maret Bu.“

               Wah… wah… semoga semangat mas Yoga terus menyala beli bukunya. Begitu pula semangat teman-teman yang lain untuk memenangkan tantangan membaca. Saya yakin, bermula dari tantangan, lama-lama hal tersebut akan menjadi kebiasaan ketika anak sudah merasakan asyiknya membaca, serunya isi bacaan dari buku di hadapan mereka. Setiap saya masuk kelas, anak-anak sedang terlihat khusyuk membaca buku. Good…. :D. Harapan selanjutnya, sekolah saya akan menerapkan juga program tersebut.

Image5609

asyik membaca ketika saya masuk kelas

 Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca

banner baru giveaway untuk blog

[Gado-Gado Sekolah #18] K13 di Mata Anak-Anak

Kesenyapan ujian akhir semester tema 3 subtema 1 dan 2 di kelas VA pagi tadi mendadak pecah oleh pertanyaan seorang siswa di sela-sela mengerjakan.

“Bu, katanya Kurikulum 2013 mau dihentikan ya?”

Saya tak menyangka ada pertanyaan seperti itu, saya tanggapi seperlunya,”semester depan insya Allah kita kembali ke KTSP.”

Suasana gembira seketika menyeruak, ada yang bilang yes, ada yang berseru gembira, ada yang mengangkat tangan, ada yang wajahnya berseri-seri. Sekolah kami baru memberlakukan K13 semester ini, jadi semester depan tentu akan balik ke KTSP.

Saya kemudian balik bertanya, “kalian tidak suka ya dengan kurikulum 2013? Kenapa?”

Riuh, anak-anak mengemukakan tanggapannya sendiri-sendiri. “Belum biasa, bu.”

Emm… kalau soal itu sih, lama-lama juga biasa kan… tapi, dengarkan dulu tanggapan yang ini…

“Bingung bu, jadi nggak fokus belajarnya, “ kurang lebih seperti ini yang dikatakan Asa.

“Matematikanya Bu, nggak enak. Yang satu belum mudeng, sudah ganti materi,” ujar Diwan sambil mecucu.

Nah, kalau yang ini saya setuju. Saya merasakan hal yang sama, emm… gurunya aja mumet, apalagi siswanya. Tentu, itu satu masalah disamping masalah administrasi yang njlimet bagi saya.

Tak puas mendengar tanggapan kontra K13, saya kemudian menyelidik dengan bertanya kepada mereka, “Itu tadi soal ketidaksukaan kalian dengan kurikulum 2013, tapi pasti ada kan hal yang kalian sukai, satu atau dua sisi.”

Mereka punya versi sendiri-diri. “Suka sama IPA Bu, banyak praktik,” jawab Diwan,

“Kalau soal praktik, KTSP juga ada praktik. Kalian waktu kelas 4 kemarin sering praktik kan?” balik saya.

Anak-anak mengangguk.

“Nggak banyak nyatet bu,” seru Syifa dengan senyum.

Saya setuju,tapi,“Pakai kurikulum apapuun, kalau kalian punya buku sendiri-sendiri nggak akan banyak nyatet.”

“Nggak banyak soal,” timpal Sofi sembari tertawa kecil.

Saya sependapat, memang iya. Emm… bagaimana mau memperbanyak soal kalau untuk pembahasan dan pemahaman materi saja terbilang kepontal-pontal (terburu-buru) karena mengejar target tema yang harus diselesaikan? 😀

 

 

 

 

 

 

 

#pengen nambahin foto kenapa galat terus ya?