[#PostcardFiction] Sebuah Playlist Sebuah Cerita

KARTU POS 2 001

Inikah keping ke sekian? Barangkali, malah keping terakhir sebuah mozaik yang kususun dari serpihan episode penuh tanya: di titik mana sang waktu menentukan endingnya, menunjukkan tempat keping terakhir ini bersembunyi. Dan malam ini aku sudah menemukannya. Siapa sangka keping itu tersembunyi di antara playlist yang sengaja kupilih untuk mengenangmu. Sederet lagu yang pernah membuatku tersenyum mengingatmu, mengomel, atau bahkan mellow. Kadangkala aku tak tahan mencecapnya sendiran lalu kukirim pesan pendek ke beberapa kawan, mengabarkan warna hatiku;biru mendengar lagu tentangmu. Sekarangpun, aku ingin mengabarkan tidak saja kepadamu dan mereka, tapi kepada dunia. Aku ingin berteriak, sedikitpun tak tersisa getaran mendengar lagu-lagu itu!

#postcardfiction ini diikutkan dalam event di kampungfiksi

[#PostcardFiction] Hanya Memandang

KARTU POS 1 001

Aku memandanginya, bidadari yang selama ini kurindukan. Wajahnya begitu  teduh. Rasanya tak sabar mengikrarkan janji suci sebentar lagi. Setelah melewati berbagai pertentangan keluarga, akhirnya hari ini tiba.

“Sudah siap nak Iqbal?”

Aku mengangguk mantab

“Baik, segera dimulai.”

Dengan lancar kuucapkan ikrar itu.

Satu kali saja, pak penghulu kemudian berujar, “Sah?”

“Sah…………..” serentak  saksi  menjawab kompak.

Dia kini  menjadi istriku. Kutatap  wajahnya dengan senyum. Ia  semakin cantik  dengan  binar mata dan wajah penuh senyum. Ingin aku meraih tangan dan mencium keningnya… tapi kami terhalang  jarak samudera dan benua. Aku hanya bisa memandangnya dari  layar yang terpasang webcam.

#postcardfiction ini diikutkan dalam event di sini .

[PR Timpukan] It’s Me Boemisayekti

I. Thank and link to the person who awarded me this award

Jarang OL, eh sekalinya OL dikejutkan dengan satu pm ”ajakan kenalan” dari sodari Hairi Yanti, kyaaa… isinya ternyata timpukan PR untuk ngerjain postingan berantai ini. Udah telat ya… tapi berhubung ini amanah tetap saya kerjakan deh. Makasih banyak buat Yanti untuk PR ini, yang ternyata masih mengenang awal kita kenalan dulu… :)). Trus, ternyata Ario yang baik hati pernah ngasih buku Totto Chan juga nimpuk juga… ! :))

II. Share 8 things about myself

1. boemisayekti
boemisayekti boemisayekti bukan nama yang tertulis di akte kelahiran saya. Boemisayekti sejatinya terjemahan bebas versi saya untuk nama pemberian bapak. Menyuplik dua unsur dari tiga unsur nama saya, Sayekti dan Ardi, jadilah nama yang saya pakai untuk ID maupun email di yahoo. Ardi dalam bahasa Jawa berarti gunung, sedangkan dalam bahasa Arab ada kata yang pengucapannya mirip dengan Ardi, yang memiki arti bumi. Bumi, saya lebih suka menggunakan terjemahan itu, jadilah nama boemisayekti. Sayekti sendiri berarti sejati (kesejatian), kebenaran. Dari rangkaian itu, orang boleh saja mengartikan beda-beda. Namun esensinya pasti sama dengan maksud bapak memberikan nama itu. Seorang kontak saya, mbak Ari Andari yang berID bknpenulis pernah begitu penasaran dengan nama saya hingga ia menanyakannya pada ibunya. Alam semesta, begitu ibunda mbak Ari memberikan bocoran arti nama saya. Exited dengan postingan mbak Ari mengenai nama boemisayekti, saya copas di sini dengan sedikit penambahan.

2. Diari, buku, radio
3 hal itu tak bisa saya lepaskan. Buku diari saya sekarang masuk edisi ke-25. Saya menulis semua luapan hati dan kepala, mimpi, pendapat, atau ulasan berbagai hal dalam buku tulis biasa, bukan buku diari penuh warna maupun bergembok seperti yang dimiliki teman-teman ketika SD, bahkan dalam beberapa edisi saya menulisnya di buku gambar. Alasannya supaya saya lebih bebas menuangkan apa saja, dengan gambar, coret-coretan atau tempelan gambar. Saya merasa telat menulis diari. Kalau membaca buku harian Anne Frank atau Zlata, saya merasa iri. Mereka sudah menulis diari sejak dini.
Saya selalu ingat ucapan ponakan saya—yang jauh lebih tua usianya dari saya–, dia ceritakan pesan bapak saya untuk nulis diari, siapa tahu apa yang kita tulis berguna kelak. Sayang sekali, bapak tak sempat mengungkapnya langsung kepada saya. Saya mangenal bapak hanya sampai kelas 1 SMP. Ponakan sayalah yang dekat dengan bapak sejak ia kecil. Bapak seperti menjadi pengganti ayahnya yang meninggal sejak ia kecil, sama seperti saya.

Saya ingin membudayakan nulis diari, itu sebabnya tahun lalu di kelas 3 saya punya program menulis diari. Saya wajibkan paling tidak seminggu sekali anak menulis diari dan mengumpulkannya. Kalau ada diari yang inspiratif saya bacakan di depan kelas. Satu diari siswa pernah saya posting di sini. Program itu disambut antusias anak-anak bahkan di kelas 4 mereka riquest tugas nulis diari lagi, padahal saya hanya punya 2 jam di kelas 4, mengampu pelajaran PKn. Saya bukan lagi wali kelas mereka, tak juga mengampu pelajran B. Indonesia. Saya penuhi permintaan mereka, di bab Sistem Pemerintahan Pusat, saya beri mereka kesempatan berfantasi, seandainya aku jadi menteri, aku ingin jadi menteri… saya minta mereka menuliskan program-program mereka. Saya minta mereka menuliskannya di buku diari mereka. Exited, beberapa diantara mereka tak hanya menulis tugas tapi juga menulis jurnal lain. Bahkan dengan tugas itu saya jadi tahu beberapa siswa berbakat menulis cerpen dan dongeng. Cerita itu mereka tulis di buku yang mereka kumpulkan.
Buku, apa yang saya lakukan dengan diari tentu saja tak lepas dari buku. Saya menulis karena saya membaca. Seperti buku-buku yang saya baca, sayapun ingin mendokumentasikan hidup dan isi kepala saya dalam tulisan.
Kalau ditanya buku apa saja yang saya sukai, saya tak bisa menyebut genre tertentu. Saya suka membac buku fiksi—cerpen, dongeng novel–, puisi, atau buku nonfiksi,buku-buku traveling—jadi tambah ngiler jalan-jalan. Sekarang sedang merasa butuh membaca banyak buku psikologi. Kalau sedang menulis atau membaca buku saya suka mendengarkan radio. Kenapa radio karena saya bisa mendengar musik dari berbagai aliran yang cocok di telinga saya, ngapdet musik meskipun stasiun radio di Magelang seringkali tertinggal ngapdate musik.

3. Morning tea
Minum teh di pagi hari sudah menjadi budaya dalam keluarga saya. Entah kebiasaan itu ada sejak kapan, saya tidak ingat. Sejak saya kecil emak tak pernah absen menyediakan teh nasgitel untuk kami seisi rumah, bahkan jika ada tamu menginap. Kebiasaan itu berhenti selama 4 tahun saya kost, nggak ada yang buatin teh di kost, hehehe, kadang-kadang saja membuat. Balik lag
i ke rumah selulus kuliah, saya kembali menikmati teh nasgitel buatan emak tiap pagi. Itu sebabnya saya selalu kangen teh buatan emak saat jauh dari rumah, tiada d
uanya deh!

4. Jalan kaki tiap pagi
Kalau ada yang melihat seorang perempuan berpostur kecil berseragam PSH dengan tas selempang biru tiap pagi berjalan di trotoar sepanjang jalan depan Klinik Gumuk Walik sampai jalan Kyai Haji Syiraj Grabag—hingga toko 39—antara pukul 06.30—07.00 itu pasti saya. Saya berangkat kerja dengan jalan kaki. Dari toko 39 saya kemudian berbelok masuk jalan kampung karena sekolah tempat saya bekerja berada di tengah-tengah kampung. Saya terbiasa jalan kaki, sejak saya mengenal sekolah TK,
SD, SMP, kemudian kuliah, saya pulang pergi dengan berjalan kaki. Karena SMU sekolah saya ada di kota Magelang tentu jarak belasan kilometer itu hanya bisa ditempuh dengan naik bus. Jalan kaki sudah menjadi rutinitas saya, makanya saya merasa enjoy dengan kegiatan berjalan jauh—bahkan sangat suka—seperti trekking.

5. Tak suka highheels dan tas jinjing
Saya tidak suka kedua benda itu sehingga tidak ada satupun sepatu high heels dan tas jinjing yang saya miliki. Mobilitas dengan berjalan kaki menjadikan saya lebih suka memakai sepatu yang nyaman buat jalan jauh. Soal tas, saya suka tas yang bisa muat barang banyak, barang apa saja bisa masuk. Selama sekolah dan kuliah tas yang saya pakai selalu tas ransel, sekarang saya memakai tas selempang panjang. Tas jinjing yang biasanya dipakai dengan disampirkan di bahu buat saya tak praktis dan ribet. Saya merasa nggak jaben memakai tas model itu, terlebih sepatu high heels.

6. Susah adaptasi
Saya tipe orang pendiam, pemalu, garing, sehingga susah beradaptasi dengan tempat maupun orang baru. Untuk tempat kerja, saya butuh waktu lama untuk bisa enjoy dengan teman-teman untuk kemudian bisa merasa homy di tempat kerja. Di sekolah kedua tempat saya mengajar, bahkan sudah dua tahun belum bisa merasa sehomy di SD. Saya masih diam saja ketika teman-teman ramai berceletuk atau berhahahihi, lebih jadi pendengar setia. Jadi jangan heran kalau baru bertemu dengan saya banyak diam. Jangan kaget juga kalau saya orangnya gak asyik banget, hehheheh.

7. Kartupos
Saya punya mimpi mendapatkan kartu pos dari seluruh provinsi di Indonesia bahkan seluruh dunia. Filateli pernah menjadi hobi ketika SMP dan SMU. Selain perangko, saya mengumpulkan kartu pos. Sekarang hobi mengumpulakn prangko sudah mandeg, tinggal kartupos. Kartu pos yang masih menjadi favorit adalah kartu pos ini.


Namun rasanya tidak asyik mengumpulkan kartu pos kosongan tanpa perangko. Karenanya, saya punya program mengirim kartu pos untuk diri saya sendiri dari tempat saya jalan-jalan ke alamat rumah. Saya baru memulainya sekali. Ketika beberapa waktu lalu mbak Ari Pres MPID mengirim pm masal untuk bagi-bagi kartupos semangat sekali saya mendaftarkan alamat saya. Dari Guangzhou saya mendapatkan kartu pos cantik krirman mbak Ari.



Kartu pos kiriman teman sepertinya akan bertambah karena saya menemukan satu lagi teman mp dari Malang yang kini tinggal di Blitar sehobi dan bersedia kirim-kiriman kartupos dengan saya. Tak sengaja kami mengobrolkannya di suatu kesempatan smsan. Ada lagi teman yang bersedia mengirimkan kartu pos untuk saya?

8. Jarang nonton TV
Kalau ditanya apa acara TV favorit saya, saya tak bisa menjawab. Saya jarang duduk berlama-lama di depan TV. Dalam sehari, paling tidak hanya setengah jam-an saya nongkrong di depan TV, sore hari ketika siaran berita. Itu bukan acara favorit tapi kebutuhan meskipun boleh dibilang saya bukan seorang yang selalu update dalam hal berita. Malahan saya ini kuper. Tak ada parabola, TV kabel atau antena UHV di rumah, TV kami hanya menyediakan 2 chanel, satu chanel TV nasional dan satu lagi chanel TV swasta jatah dari kecamatan yang isinya sinetron melulu. Tidak banyak pilihan acara yang bisa saya lihat, jadi saya lebih suka nongkrong di kamar, baca buku atau mengerjakan hal lain sambail mendengarkan radio.

III.Pay it forward to 10 bloggers that i have recently discovered

Mengikuti jejak mbak Nita Febri yang nggak bikin daftar korban timpukan, maka saya pun tidak memasukkan dartar blogger yang bakal mengikuti jejak ini. Sadar diri kalau saya jarang OL dan nggak tahu mana kontak yang sudah pernah garap PR mana yang belum… Tapi kalau ada kontak saya yang ingin juga kena timpuk, bolehlah saya timpuk, heheheh…