[Berkah Ngeblog] Dari Anak-Anak untuk Anak-Anak

Mulanya, keinginan untuk mengikuti Giveaway Jejak Kaki Misterius  masih maju mundur. Pengalaman mengikuti GA yang diadakan mbak Riawani Elyta itu yang ikut selalu berjubel dan tulisannya bagus-bagus. Dengan kata lain, saya sudah minder duluan dan merasa nggak bakalan menang deh kalau ikutan.

Tapi…ingat kalau saya memiliki materi tulisan yang sama dengan tema GA kok rasanya sayang untuk dilewatkan. Ya, materinya sesuai sekali, tinggal permak, menambah tulisan tentang tiga judul cerpen yang menarik dari buku Jejak Kaki Misterius.

Saya dihantui oleh deadline GA. Antara ikut tidak ikut tidak. Maka dihari terakhir lomba, di jam-jam terakhir. Saya putuskan ikut. Nothing to lose, saya pikir. Yang penting mengikutkan tulisan yang sudah punya, timbang mubadzir. Rasanya sayang melewatkan lomba yang materinya dekat sekali dengan keseharian saya, dunia yang memang saya minati, tentang buku-buku anak.

Pukul 10an malam, saya mulai membuka WP. Saya permak tulisan yang sudah saya punya. Ketak-ketik rasa kantuk mulai menyerang. Ler-leran. Saya sempat tertidur beberapa saat di depan komputer. Sedikit gelagepan ketika bangun karena waktu terus merangkak. Setengah dua belas, tulisan sudah siap publish. Tetapi…. ada masalah dengan jaringan internet dari modem. Sempat panik dan menghidupkan wifi dari smartphone namun entah kenapa waktu itu tidak tersambung. Rasanya kecewa kalau sampai gagal.

Alhamdulillah utek-utek modem jaringan lancar.  Masih harus mencari tulisan sumber lomba dan memasukan link di akhir tulisan.  15 menit menuju deadline, tulisan bisa publis. Selanjutnya, setor tulisan di komentar dan publish link di twitter. Saya pikir saya harus setor link di komentar blog mbak Riawani dulu supaya terekam sebelum pukul 23.59.

Legaa… akhirnya semua bisa saya lakukan sebelum batas waktu. Saya tidak sempat memikirkan judul yang tepat untuk tulisan saya, apa adanya jadilah judulnya sama dengan lombanya GA Jejak Kaki Misterius. 😀

Saya tidak menyangka kalau pengumuman lombanya secepat yang saya kira. Buka twitter di suatu hari, nama saya dimention mbak Riawani. Surprise, tak menyangka saya bisa juara 1. Ini pertama kalinya saya bisa nembus urutan satu. Yang sudah terjadi,  mentok di urutan 3.

Hadiah dari sponsor pun datang secara bertahap, namun terhitung cepat. Yang pertama pulsa dari mbak Hairi Yanti yang datang pagi hari setelahnya. Beberapa hari kemudian, datang secara berbarengan buku Jejak Kaki Misterius dari Penerbit Indiva dan Buku Aku Tambah Tinggi+bekel dari mbak Vanda Arie.

Senangnya Janitra mendapat bekel itu.  Saya kerap dimintanya untuk memainkan. “yee…tangkapan bagus, ibuk!” sorak Janitra selalu menuggui saya bermain.  Dua buku anak yang saya dapatkan, bukan saya saja yang menikmati, kelak Janitra akan membaca.  Segera setelah saya selesai membaca, ada anak-anak les yang akan ikut membacanya.

Senin lalu, dua paket jatuh ke tangan saya, meski satu paket tiba di hari Sabtu: sebuah dompet yang cantik dari mbak Afin Yulia dan 2 buku Sherlock Holmes dari mbak Binta al Mamba.

12899716_10205547544680310_131181322_n

Semua hadianya saya suka. Menang GA dan hadiahnya macem-macem seperti itu, siapa sih yang nggak pengen? 😀

[Berkah Ngeblog] Yang Lucu dan Imut dari Bernostalgia

Bisa  menang lomba blog, meski hanya sebagai juara harapan itu…tetap mendebarkan. Bersyukur, alhamdulillah untuk GA Nostalgia Putih-Abu yang diadakan mbak  Arina Mabruruoh saya dapat nomer bontot sebagai juara harapan. Tapi tetep hadiahnya  saya nanti dan bikin penasaran hehe. Dan inilah penampakan hadiahnya: sebuah notes, kalender, dua bros yang imut dan manis (banyak yang bilang cantik brosnya ketika saya pakai), dua buah vocer diskon  belanja dari Nyonya Nursering Wear dan Mami Belle,dan sebuah stiker.

12834707_10205547562520756_1244876665_n

Mengenai GA-nya sendiri secara tidak sengaja saya ketahui dari postingan teman-teman yang ikutan. Saya buka linknya langsung. Saya berpikir sejenak, sepertinya ada kisah yang sesuai teman.  Tidak ada salahnya mencoba. Rasanya sayang kalau punya kisah yang sesuai tema tidak diikutkan. Maka saat itu juga saya ketik, langsung jadi.  Tulisan yang membawa berkah itu berjudul “Kelas Matahari”. Sepertinya juga saya ikut di waktu-waktu mepet deadline.

 

Terima kasih kepada mbak Arina atas GA dan telah memilih tulisan saya 🙂

[Review] Menanti Cinta oleh Adam Aksara

menanti cinta

 

Judul Buku    : Menanti Cinta
Penulis            : Adam Aksara
Penerbit         : Mozaik Indie Publisher

Cetakan          : 1, Februari 2014
Halaman        : 210

Menanti Cinta, novel karya Adam Aksara berhasil memikat saya dengan prolog dan satu bab pertama. Dua bab itu membuat saya enggan meletakkan novel bersampul pink manis. Dibuka dengan tokoh Alex, seorang yang secara fisik tergantung pada kursi roda karena kakinya terkena polio ketika kecil, bersikeras menempuh jarak 4 km dengan kursi rodanya, hanya untuk menemui Clarie meskipun pada akhirnya ia harus menyerah pada ketakutan-ketakutan yang menderanya. Pada akhirnya juga, ia harus menghubungi Suryo, detektif sewaannya untuk membereskan masalah-masalah yang dihadapi Clarie.

Tanda tanya berkejaran di kepala saya. Siapa sebenarnya Clarie, apa hubungannya dengan Alex? Nama-nama yang dipilih, kenapa Clarie, kenapa Alex,sebenarnya settingnya di mana?

Pada bab pertama, alur kemudian beranjak maju. Seorang penulis lepas mendadak menerima cek yang terbilang tidak sedikir berserta sebuah surat, sebuah permintaan membuat buku biografi Joko Alex Sudono . Dia pun mencari si pengirim surat. Ia tiba di sebuah kota kecil berhawaa dingin. Surat itu membawanya bertemu dengan Clarie Putrie Puspita di sebuah klinik tempat kerja Alex. Penulisan biografi itu kemudian menguak bagaimana hubungan Alex dan Claire.

Clarie terlahir dari seorang perempuan pelacur. Memiliki seorang ibu yang gemar menghambur-hamburkan uang untuk membeli minuman keras, Clarie berperan sebagai tulang punggung keluarga. Beruntung selepas sekolah menengah, Clarie bisa melanjutkan kuliah karena mendapat beasiswa. Namun hidup Clarie jauh dari kata enak. Selain bekerja paruh waktu di Mark’s Burger untuk menghidupi keluarganya, setiap harinya ia terpaksa pulang di atas pukul 10 malam untuk menghindari ayah tirinya, Candra. Berkali-kali ayah tirinya, mantan tentara yang dipecat karena ketahuan melecehkan beberapa wanita, mencoba untuk menyentuhnya namun dibiarkan saja oleh ibunya. Pada jam sepuluh malam , Candra biasanya telah keluar rumah menuju ke tempat-tempat minum atau berada di jalanan. Tak hanya ayahnya, Markus pemilik Mark’s Burger pun berusaha menyentuh Clarie atas tawaran ibunya.

Menunggu waktu hingga pukul 10 malam, Clarie menghabiskan waktu di kampus dengan membaca di keremangan lorong. Tak ada pilihan tempat lain yang nyaman baginya. Apa yang dilakukan Clarie setiap malam menarik perhatian Alex, dosen kimia di kampus itu sekaligus kepala penelitian sebuah pabrik kimia.

Menyadari kerterikannya pada Clarie dari hari ke hari semakin besar, Alex yang bisa melakukan segala hal dengan uang dan kekuasaan yang dimilikinya, pelan-pelan merubah jalan hidup Clarie. Usaha pertamanya adalah membuka perpustakaan lama pada malam hari dengan staf yang dibayar khusus oleh Alex agar Clarie mendapatkan tempat belajar nyaman. Dengan bantuan Suryo, Alex menyelematkan hidup Clarie, tidak saja dari ancaman Markus dan keluarganya sendiri, namun ia juga membuat Clarie bisa bertahan di kampus karena beasiswa. Hal terbesar dalam hidup Clarie adalah tinggal di kediaman Alex. Semua berjalan dengan lancar. Cinta tumbuh di antara mereka. Hingga datang seorang dokter dari Perancis untuk memberikan ceramah singkat kepada para dokter muda dan perawat yang akan segera diwisuda. Kedatangan dokter itu tidak hanya memberikan pilihan sulit bagi Clarie, dalam hubungannya dengan Alex yang hampir menikahinya, namun dokter itu juga menungkap masa lalu Clarie.

“Cinta tidak pernah membebani,ia meringankan orang yang memilikinya dan cintainya.
Setidaknya pria itu mencintai seseorang dengan caranya sendiri. Meski caranya itu akhirnya membunuhnya juga. “ 207

Benarkah keputusan Clarie untuk saling melepaskan dan berjanji akan bertemu lagi adalah keputusan yang tepat?

Mampu mencintai adalah sebuah yang sangat indah. (hal 208)

 

Adam Aksara, sepanjang membaca bab-bab awal, nama penulis itu menggeletik rasa ingin tahu saya. Berkali-kali saya membolak-balik buku untuk mendapatakan profil penulis namun tidak saya temukan. Bidang kimia yang melatarbelakangi kehidupan Alex bagi saya menarik. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Alex kecil membuat alur cerita menarik diikuti. Apakah dunia kimia memang berhubugan dengan latar belakang penulis sendiri, ataukah penulis melakukan riset selama proses penulisan novel? Jika penulis melakukan riset, penulis terlihat berusaha melakukannya dengan rapi untuk menjalin alur meskipun penulis sebenarnya bisa menggalinya lebih untuk menambah detil cerita. Rasa penasaran saya berangsur-angsur menurun ketika cerita memasuki babak kehidupan Clarie. Ia mulai mendapat bantuan-bantuan dari Alex. Beragam kemudahan yang didapatkan Clarie terasa manis namun membuat alur cerita menjadi datar. Alur kembali menjak ketika Dokter Jean datang ke kampus dan membicarakan hal penting dengan Alex.

Alur cerita yang diusung penulis teramat cepat, tak heran saya hanya membutuhkan 2-3 jam untuk merampunkan novel ini. Lebih-lebih gaya bahasa yang digunakan terlampau lugas tanpa pemakain gaya bahasa. Tak hanya lugas, penulis terlihat kurang jeli dalam hal diksi. Hal ini terlihat dari penggunaan kata yang kurang tepat maupun dari segi struktur kalimat berikut ini.

…suhu udara di sekitar terasa dingin dan menyengat ke dalam tulang. (1)

Selain itu, dia juga harus menahan diri dari yang namanya kebahagiaan saat diminta utang-utang sebelumnya yang belum juga dapat dilunasi sebelum waktu gajian. (hal.24)

Dari segi penokohan,di awal-awal cerita saya bertanya kenapa Clarie,kenapa Alex. Kenapa nama Clarie dipilih sedangkan nama belakannya masih tersemat nama khas Indonesia. Pemilihan nama tersebut terbilang cukup cermat. Dari segi setting, kekhasan tempat maupun latar belakang sosial budaya kurang diekspolor oleh penulis.

 

Terima kasih kepada Mozaik Indie Publisher yang memberikan buku ini lewat 100 Buku untuk 100 Resensor

Bagi yang berminat membeli silakan kunjungi Mozaik Indie Publisher. Alamat web kami: http://mozaikindie.com

 

dikutkan dalam http://kubikelromance.blogspot.com/2013/12/update-indonesian-romance-reading.html

Irena si Ratu Sampah

Image

Judul         :Irena si Ratu Sampah

Penulis      :  T Sandi Sitomorang

Penerbit   : Nyonyo Buku Anak (Penerbit Andi), 2010

Halaman   : 136

Cerita-cerita dalam buku ini asyik, dunia anak banget:tentang permasalahan-permasalahan yang dialami anak-anak. Cerita pertama langsung menarik perhatian saya, tentang seorang anak yang begitu mengidolakan artis yang wajahnya mirip dengannya. Terprovokasi teman-temannya, ia ingin merubah penampilannya seperti si artis. Ending ceritanya mengena, memberikan pesan kepada anak-anak yang begitu menggebu dengan idolanya. Cerita yang dijadikan judul buku pun tak kalah menarik. Irena yang biasa dijuluki ratu sampah karena begitu peduli dengan sampah dan kebersihan tak ambil pusing denga julukannya. Siapa sangka, si Ratu Sampah itu mendapat berkah dari kepeduliannya terhadap lingkungan sehingga julukan Ratu Sampah tanggal dengan sendirinya. Permasalahan yang jamak dialami anak-anak diolah oleh penulis sehingga bisa memberikan inspirasi bagaimana menyikapinya, seperti penipuan dengan memperalat kepolosan anak-anak.


Dari keempat belas cerpen dalam buku itu, beberapa diantaranya menurut saya mengangkat tema yang sering muncul. Sebut saja cerpen Bintang di Langit,Sepatu Baru Niko, dan Jangan Menangis, Ambar. Bintang di Langit menceritakan anak jalanan sebatang kara yang akhirnya menemukan ‘keluarga’, seorang nenek yang boleh dianggapnya sebagai neneknya. .Sepatu Baru Niko bercerita tentang keinginan Niko memberikan sepatu untuk adiknya yang terpenuhi karena kebaikannya menggerakkan hati seorang laki-laki untuk membelikannya. Jangan Menangis, Ambar hampir sama dengan Bintang di Langit, anak sebatang kara karena ibunya meninggal akhirnya mendapat keluarga baru, keluarga sahabatnya.
Sebenarnya tidak ada masalah dengan tema yang sering ditulis, masalahnya  alur ketiga cerpen itu tipikal banget,  kurang mengejutkan seperti cerita-cerita yang lain. Tentu saja,penilaian itu lahir dari saya sebagai pembaca dewasa. Untuk anak-anak, ketiga cerpen itu tetap memberikan inspirasi dan pesan kebaikan.

Secara keseluruhan, saya menyukai buku itu.  Saya berterima kasih sekali kepada Nyonyo-Buku Anak yang memberikan buku itu lewat kuis di FB :))

Hadiah Mozaik Blog Competition Sekaligus Hadiah Milad

Ahad, 1 Juli paket itu tiba di rumah, tepat di hari milad saya. Sayangnya, saya tidak bisa menerima paket hadiah itu langsung. Kemarin, posisi saya berada di rumah suami di Sambung sedang hadiah tiba di rumah emak di Grabag. Waw, exited ketika kemarin siang saya mendapat sms dari pihak JNE menanyakan posisi rumah saya sebab ia membawa paket untuk saya. Pas banget dengan hari milad saya. Maka, sejak menerima sms itu, rasa penasaran akan hadiah mengganggu hingga tadi siang akhirnya saya bisa membuka buntelan coklat dari Malang.

Hadiah juara harapan 2 Mozaik Blog Competition: Arti Buku Buatku berupa 2 buah buku itu sekaligus menjadi hadiah milad saya tahun ini. Oia, tak hanya buku, paket itu dilampiri selembar ucapan selamat dan motivasi untuk terus berkarya.


Alhamdulillah. Terima kasih buat Mozaik Indie Publisher (buat mas Ihwan dan mbak Ivone), tim, serta juri yang terlibat dalam kompetisi ini.

Kopdar Kilat Bareng Amarylli

Lima belas-an menit saja. Kalau dihitung secara matematis, waktu super singkat itu mungkin tak sebanding dengan jarak tempuh dan durasi perjalanan yang kami perlukan untuk bertemu. Mary dari Yogyakarta langsung ke Magelang untuk kemudian lanjut pulang ke Jakarta. Sedang saya, butuh 1 jam-an untuk sampai di kedai Kya Kya di alun-alun kota Magelang. Tapiii. . ., meski kilat saya puass dan legaaa bisa berjabat tangan langsung dengan Mary, tepat di bulan yang sama–setahun lalu–ketika kami bersalaman untuk pertama kali di beranda rumah ini.

Namanya juga kopdar kilat, jadi tak sempat kami ngobrol ngalor ngidul. Saya malahan yang datang langsung curcol,hehehe,maaf. Sedikit curcol tentang problem saya di sekolah sembari ngobrol singkat soal aktivitas. Salut sama Mary dengan aktivitasnya. Teramat singkat hingga saya tak sempat ‘kenalan’ dengan Mary. Sampai rumah tepuk jidat, kok sampai lupa sih nanya biodata? ( b i o d a t a? Formil banget! :D). Kalau soal kenalan lupa, tapi foto-foto teteup nggak ketinggalan. “Ketemu cuma foto foto neh,” begitu komentar Mary sembari pasang kamera.

Alhamdulillah, bersyukur sekali sore tadi, dihantar hujan, Allah mempertemukan saya (lagi) dengan kawan MP, menyambung tali silaturahmi. Finally, setelah beberapa kali ngobrol via telp berencana kopdar tiap Mary ke Jogja namun gagal, rupanya di penghujung Maret ini waktu yang tepat untuk kami bertemu.

Terima kasih buat Mary yang menyempatkan mampir di Magelang. Singkat tapi berkesan. Senengg. . .bertemu dengan si misterius,hihi. Oia, maaf, ketemu Mary cuma ngabisin segelas jeruk manis doang! 😀

Istana Pasir

:Mena Larasati

Kau mengajakku bermain ke pantai

mengajariku melihat tiap butir yang terserak:
pasir kata

“kita akan membangun istana,” katamu

sambil menyimak deru ombak

bernyanyi bersama camar

kita bangun miniatur karang

juga puri berperapian di puncak gunung

istana kita berkilau ditempa temaram senja

biar halimun juga malam mengepungnya

mata kita tak terhalang melihatnya

menjulang

ombak boleh menjilat dan menelan

tak peduli angin menghapus tiap inci jejaknya

tapi kita telah membingkainya

di sebuah ruang:
hening

#memperingati satu tahun perkenalan dengan Laras:
suwun telah menemani, mengajari dan mengingatkan pada banyak hal; belajar bersama! :))

makasih atas ide buat postingan ini, hehehe… Tentu ini kalah jauuuhhh sama kata-kata racikan Laras. Yang pasti, ini buat pengingat semoga pertemanan kita langgeng, amin. . . :))

[PR Timpukan] It’s Me Boemisayekti

I. Thank and link to the person who awarded me this award

Jarang OL, eh sekalinya OL dikejutkan dengan satu pm ”ajakan kenalan” dari sodari Hairi Yanti, kyaaa… isinya ternyata timpukan PR untuk ngerjain postingan berantai ini. Udah telat ya… tapi berhubung ini amanah tetap saya kerjakan deh. Makasih banyak buat Yanti untuk PR ini, yang ternyata masih mengenang awal kita kenalan dulu… :)). Trus, ternyata Ario yang baik hati pernah ngasih buku Totto Chan juga nimpuk juga… ! :))

II. Share 8 things about myself

1. boemisayekti
boemisayekti boemisayekti bukan nama yang tertulis di akte kelahiran saya. Boemisayekti sejatinya terjemahan bebas versi saya untuk nama pemberian bapak. Menyuplik dua unsur dari tiga unsur nama saya, Sayekti dan Ardi, jadilah nama yang saya pakai untuk ID maupun email di yahoo. Ardi dalam bahasa Jawa berarti gunung, sedangkan dalam bahasa Arab ada kata yang pengucapannya mirip dengan Ardi, yang memiki arti bumi. Bumi, saya lebih suka menggunakan terjemahan itu, jadilah nama boemisayekti. Sayekti sendiri berarti sejati (kesejatian), kebenaran. Dari rangkaian itu, orang boleh saja mengartikan beda-beda. Namun esensinya pasti sama dengan maksud bapak memberikan nama itu. Seorang kontak saya, mbak Ari Andari yang berID bknpenulis pernah begitu penasaran dengan nama saya hingga ia menanyakannya pada ibunya. Alam semesta, begitu ibunda mbak Ari memberikan bocoran arti nama saya. Exited dengan postingan mbak Ari mengenai nama boemisayekti, saya copas di sini dengan sedikit penambahan.

2. Diari, buku, radio
3 hal itu tak bisa saya lepaskan. Buku diari saya sekarang masuk edisi ke-25. Saya menulis semua luapan hati dan kepala, mimpi, pendapat, atau ulasan berbagai hal dalam buku tulis biasa, bukan buku diari penuh warna maupun bergembok seperti yang dimiliki teman-teman ketika SD, bahkan dalam beberapa edisi saya menulisnya di buku gambar. Alasannya supaya saya lebih bebas menuangkan apa saja, dengan gambar, coret-coretan atau tempelan gambar. Saya merasa telat menulis diari. Kalau membaca buku harian Anne Frank atau Zlata, saya merasa iri. Mereka sudah menulis diari sejak dini.
Saya selalu ingat ucapan ponakan saya—yang jauh lebih tua usianya dari saya–, dia ceritakan pesan bapak saya untuk nulis diari, siapa tahu apa yang kita tulis berguna kelak. Sayang sekali, bapak tak sempat mengungkapnya langsung kepada saya. Saya mangenal bapak hanya sampai kelas 1 SMP. Ponakan sayalah yang dekat dengan bapak sejak ia kecil. Bapak seperti menjadi pengganti ayahnya yang meninggal sejak ia kecil, sama seperti saya.

Saya ingin membudayakan nulis diari, itu sebabnya tahun lalu di kelas 3 saya punya program menulis diari. Saya wajibkan paling tidak seminggu sekali anak menulis diari dan mengumpulkannya. Kalau ada diari yang inspiratif saya bacakan di depan kelas. Satu diari siswa pernah saya posting di sini. Program itu disambut antusias anak-anak bahkan di kelas 4 mereka riquest tugas nulis diari lagi, padahal saya hanya punya 2 jam di kelas 4, mengampu pelajaran PKn. Saya bukan lagi wali kelas mereka, tak juga mengampu pelajran B. Indonesia. Saya penuhi permintaan mereka, di bab Sistem Pemerintahan Pusat, saya beri mereka kesempatan berfantasi, seandainya aku jadi menteri, aku ingin jadi menteri… saya minta mereka menuliskan program-program mereka. Saya minta mereka menuliskannya di buku diari mereka. Exited, beberapa diantara mereka tak hanya menulis tugas tapi juga menulis jurnal lain. Bahkan dengan tugas itu saya jadi tahu beberapa siswa berbakat menulis cerpen dan dongeng. Cerita itu mereka tulis di buku yang mereka kumpulkan.
Buku, apa yang saya lakukan dengan diari tentu saja tak lepas dari buku. Saya menulis karena saya membaca. Seperti buku-buku yang saya baca, sayapun ingin mendokumentasikan hidup dan isi kepala saya dalam tulisan.
Kalau ditanya buku apa saja yang saya sukai, saya tak bisa menyebut genre tertentu. Saya suka membac buku fiksi—cerpen, dongeng novel–, puisi, atau buku nonfiksi,buku-buku traveling—jadi tambah ngiler jalan-jalan. Sekarang sedang merasa butuh membaca banyak buku psikologi. Kalau sedang menulis atau membaca buku saya suka mendengarkan radio. Kenapa radio karena saya bisa mendengar musik dari berbagai aliran yang cocok di telinga saya, ngapdet musik meskipun stasiun radio di Magelang seringkali tertinggal ngapdate musik.

3. Morning tea
Minum teh di pagi hari sudah menjadi budaya dalam keluarga saya. Entah kebiasaan itu ada sejak kapan, saya tidak ingat. Sejak saya kecil emak tak pernah absen menyediakan teh nasgitel untuk kami seisi rumah, bahkan jika ada tamu menginap. Kebiasaan itu berhenti selama 4 tahun saya kost, nggak ada yang buatin teh di kost, hehehe, kadang-kadang saja membuat. Balik lag
i ke rumah selulus kuliah, saya kembali menikmati teh nasgitel buatan emak tiap pagi. Itu sebabnya saya selalu kangen teh buatan emak saat jauh dari rumah, tiada d
uanya deh!

4. Jalan kaki tiap pagi
Kalau ada yang melihat seorang perempuan berpostur kecil berseragam PSH dengan tas selempang biru tiap pagi berjalan di trotoar sepanjang jalan depan Klinik Gumuk Walik sampai jalan Kyai Haji Syiraj Grabag—hingga toko 39—antara pukul 06.30—07.00 itu pasti saya. Saya berangkat kerja dengan jalan kaki. Dari toko 39 saya kemudian berbelok masuk jalan kampung karena sekolah tempat saya bekerja berada di tengah-tengah kampung. Saya terbiasa jalan kaki, sejak saya mengenal sekolah TK,
SD, SMP, kemudian kuliah, saya pulang pergi dengan berjalan kaki. Karena SMU sekolah saya ada di kota Magelang tentu jarak belasan kilometer itu hanya bisa ditempuh dengan naik bus. Jalan kaki sudah menjadi rutinitas saya, makanya saya merasa enjoy dengan kegiatan berjalan jauh—bahkan sangat suka—seperti trekking.

5. Tak suka highheels dan tas jinjing
Saya tidak suka kedua benda itu sehingga tidak ada satupun sepatu high heels dan tas jinjing yang saya miliki. Mobilitas dengan berjalan kaki menjadikan saya lebih suka memakai sepatu yang nyaman buat jalan jauh. Soal tas, saya suka tas yang bisa muat barang banyak, barang apa saja bisa masuk. Selama sekolah dan kuliah tas yang saya pakai selalu tas ransel, sekarang saya memakai tas selempang panjang. Tas jinjing yang biasanya dipakai dengan disampirkan di bahu buat saya tak praktis dan ribet. Saya merasa nggak jaben memakai tas model itu, terlebih sepatu high heels.

6. Susah adaptasi
Saya tipe orang pendiam, pemalu, garing, sehingga susah beradaptasi dengan tempat maupun orang baru. Untuk tempat kerja, saya butuh waktu lama untuk bisa enjoy dengan teman-teman untuk kemudian bisa merasa homy di tempat kerja. Di sekolah kedua tempat saya mengajar, bahkan sudah dua tahun belum bisa merasa sehomy di SD. Saya masih diam saja ketika teman-teman ramai berceletuk atau berhahahihi, lebih jadi pendengar setia. Jadi jangan heran kalau baru bertemu dengan saya banyak diam. Jangan kaget juga kalau saya orangnya gak asyik banget, hehheheh.

7. Kartupos
Saya punya mimpi mendapatkan kartu pos dari seluruh provinsi di Indonesia bahkan seluruh dunia. Filateli pernah menjadi hobi ketika SMP dan SMU. Selain perangko, saya mengumpulkan kartu pos. Sekarang hobi mengumpulakn prangko sudah mandeg, tinggal kartupos. Kartu pos yang masih menjadi favorit adalah kartu pos ini.


Namun rasanya tidak asyik mengumpulkan kartu pos kosongan tanpa perangko. Karenanya, saya punya program mengirim kartu pos untuk diri saya sendiri dari tempat saya jalan-jalan ke alamat rumah. Saya baru memulainya sekali. Ketika beberapa waktu lalu mbak Ari Pres MPID mengirim pm masal untuk bagi-bagi kartupos semangat sekali saya mendaftarkan alamat saya. Dari Guangzhou saya mendapatkan kartu pos cantik krirman mbak Ari.



Kartu pos kiriman teman sepertinya akan bertambah karena saya menemukan satu lagi teman mp dari Malang yang kini tinggal di Blitar sehobi dan bersedia kirim-kiriman kartupos dengan saya. Tak sengaja kami mengobrolkannya di suatu kesempatan smsan. Ada lagi teman yang bersedia mengirimkan kartu pos untuk saya?

8. Jarang nonton TV
Kalau ditanya apa acara TV favorit saya, saya tak bisa menjawab. Saya jarang duduk berlama-lama di depan TV. Dalam sehari, paling tidak hanya setengah jam-an saya nongkrong di depan TV, sore hari ketika siaran berita. Itu bukan acara favorit tapi kebutuhan meskipun boleh dibilang saya bukan seorang yang selalu update dalam hal berita. Malahan saya ini kuper. Tak ada parabola, TV kabel atau antena UHV di rumah, TV kami hanya menyediakan 2 chanel, satu chanel TV nasional dan satu lagi chanel TV swasta jatah dari kecamatan yang isinya sinetron melulu. Tidak banyak pilihan acara yang bisa saya lihat, jadi saya lebih suka nongkrong di kamar, baca buku atau mengerjakan hal lain sambail mendengarkan radio.

III.Pay it forward to 10 bloggers that i have recently discovered

Mengikuti jejak mbak Nita Febri yang nggak bikin daftar korban timpukan, maka saya pun tidak memasukkan dartar blogger yang bakal mengikuti jejak ini. Sadar diri kalau saya jarang OL dan nggak tahu mana kontak yang sudah pernah garap PR mana yang belum… Tapi kalau ada kontak saya yang ingin juga kena timpuk, bolehlah saya timpuk, heheheh…

Catatan Kopdar: Semalam Bersama Laras

Kopdarnya sudah tahun lalu, tapi baru sempat posting catatan ini, kadaluarsa ya. Katakanlah ini sebuah nostalgia,hehe…sayang kalau kenangan manis ini tak berjejak.

Seakan tak percaya ketika Kamis siang (23/12/2010) Laras sms kalau dia dalam perjalanan ke Magelang dan berencana menginap di rumah saya. Laras? Akhirnya, mau kopdar juga dengan Laras.

Awal-awal kenal, Laras pernah ngajakin gabung di kopdar yang akan dilaksanakan di Jogja bersama kontak-kontaknya. Waktu itu kaget mendapati postingan merah alias pm dari Laras. Baru kenal langsung diajakin kopdar?

Maka saya segera merencanakan perjalanan ke Jogja. Deg-degan, baru beberapa bulan aktif ngempi langsung kopdar dengan orang-orang asing. Hanya Laras dan 1 temannya yang tercatat sebagai kontak baru saya. Penasaran, seperti apa rasanya ketemu dengan Mpers.

Rasa penasaran saya tak terbayar. Pagi buta, saya masih tidur-tiduran di rumah paklik di Jogja ketika sms Laras masuk. Ayahnya mendadak sakit sehingga Laras urung ke Jogja. Kopdar gagal. Sebagai gantinya, saya jalan-jalan sendirian,napak tilas ke kampus dan menyambangi toko buku.

Sejak mendapat pm dari Laras, telah beberapa kali kami sms-an. Kegagalan kopdar justru membuat komunikasi makin intens meskipun saat itu Laras off dari MP. Boleh dibilang, saya kenal siapa dan bagaimana Laras dari obrolan-obrolan di sms, bukan karana pertemuan di kampung MP.

Laras berkali-kali bilang, kalau jodoh pasti Allah mempertemukan kita. Harapan kami terkabul. Lebih dari kopdar, Laras bahkan berkunjung dan bermalam di rumah saya.

Setelah melewati perjalanan yang terbilang tidak lancar: terjebak hujan, dan salah jurusan alias nyasar, Laras sampai ke rumah ba’da Isya dihantar gerimis. Komunikasi selama ini telah memberi saya gambaran sosok Laras, foto juga sering saya lihat. Saya langsung bisa mengenali Laras yang menunggu di depan pasar Grabag. Tak ada kejutan di luar bayangan, hanya mungkin Laras yang terkejut melihat saya dan dunia nyata saya,hehehe.

Laras terlihat exited dengan suasana rumah, sepi berselimutkan udara dingin. Sebelum tidur, dalam balutan selimut Laras bahkan bilang, “Aku di Bekasi nggak pernah lho tidur selimutan gini.” Tidak sampai larut malam kami ngbrol sebab kondisi kami sedang tidak begitu fit.

Paginya, saya bersyukur mendapat pengakuan dari Laras kalau tidurnya nyaman, bangun tanpa pegel-pegel. Jujur kan Ras? :D. Semalaman kami hari tidur empet-empetan di amben rumah yang sempit,hehe.

Saya ajak Laras jalan-jalan pagi, memperkenalkan ‘desaku yang kucinta’. Berkali-kali decak heran dan kagum terdengar. Maklum, orang kota yang terbiasa melihat kemacetan dan polusi mendapati suasana desa yang tenang, adem, ndeso, dan masih terdapat banyak sawah dan parit. Lokasi andalan yang saya tunjukkan kepada teman-teman yang datang, termasuk Laras, adalah jalan menuju Ngablak di daerah antara Kaliaji dan Kleteran. Di tempat itu, saat berdiri di satu titik, kami bisa memandang 7 gunung dari 4 penjuru mata angin: Telomoyo, Andong, Merbabu di sebelah timur, bersebelahan dengan Merapi di tenggara, Sumbing Sindoro di barat dan Ungaran di utara berpayung langit bersih. Tak bosan kami bernarsis ria di sana,hahaha. Pulang dari Kaliaji, jalan-jalan lanjut ke areal persawahan belakang rumah (coba sawahnya punya sendiri!)

Ucapan Laras yang diulang-ulang membuat saya GR,” aku langsung betah, hayo kamu harus tanggung jawab.” Tanggung jawab? Salah sendiri datang ke sini, sapa suruh? Hihihi. tambah kembang kempis hidung saya membaca testimonial lewat status fb Laras: Hal yang paling indah saat ini adalah menikmati suasana pedesaan Grabag, memandang gunung ungaran,sindoro,sumbing,merapi,merbabu dari satu titik. Sungguh sempurna cipataanNYA dan sungguh indah hidup ini…….

24 Desember 2010 jam 11:54

Saya bersyukur Laras begitu menikmati silaturahminya. Semoga bisa memberikan inspirasi dan semangat baru yang dibawa ke Bekasi. Terima kasih buat Laras, sudah berkenan datang. Beruntung bisa kenal Laras. Pertemuan dan perbincangan selama di rumah benar-benar saya syukuri. Saya semakin mengenal sosok Laras, kebaikan, kerendahan hati dan ketangguhannya.

Maaf juga buat Laras, nggak bisa nemenin jalan-jalan muter2 Magelang. Jangan kapok ya… trims fotonya 😦

*hiks, ingin nambahin foto lagi MP lagi nggak mau diajak kompromi 😦

Backpacking Hemat ke Australia

Penerbit: Backpacker Dunia Publishing, Oktober 2009 (Cet. Ke-1 )
Tebal Buku: xii+210 halm
ISBN: 978-602-95725-0-6

Buku ini merupakan catatan perjalanan Elok Dyah Messwati memutari benua Australia dalam tiga kali kunjungan. Pertama, datang ke Sydney karena tugas kantor untuk mengikuti Pertemuan Regional Tingkat Menteri Asia Pasifik (Indonesia datang juga) tentang HIV/AIDS Juli 2007. Kedua, lagi-lagi ke Sydney untuk mengikuti World Youth Day (WYD) Juli 2008. Mimpinya adalah bisa bertemu Paus Benedict XVI yang hadir dalam pertemuan itu. Ketiga kalinya, backpackeran dalam rangka cuti besar. Perjalanan yang ketiga kalinya ini lebih panjang dan tentu kaya pengalaman. Elok mengelilingi Perth, Adelaide, Melbourne, Canberra, Sydney, Brisbane, Gold Coast, dan Darwin.

Mulai dari tempat-tempat menarik yang dikunjunginya (lengkap dengan fotonya), pengalaman, rute perjalanan, sampai harga tiket (transportasi dan akomodasi) tersaji secara runut. Tanpa memisahkan jurnal dan tips (panduan), Elok secara langsung sudah berbagi panduan traveling hemat di jurnal perjalanannya seperti memilih rute penerbangan dan memesannya, akses trasnsportasi dan tiketnya, penggunaan Travel Pass untuk menghemat biaya perjalanan, pemilihan tempat belanha, makan, dan hangout yang murah, dan yang terpenting…, di mana travelholic bisa tinggal dan menginap.

Yang mengagumkan buat saya untuk diserap adalah konsep hostpitality exchange. Elok seringkali mendapat kemudahan berkat keikitsertaannya dalam Hostpitality Club. Semua tempat yang diinapinya begitu homy dengan host yang welcome, open minded, dan sangat bersahabat. Konsep ini penuh kekeluargaan, bukan sekedar menginap gratis namun juga bertukar mengenai kisah hidup, pengalaman, berbagi perjalanan, dan kebiasaan sesama travelholic (hal. 183).

Satu yang kurang buat saya sebagai penyuka etnografi—muatan yang seringkali ada dalam catatan backpacker–, saat stay dengan local people, berinteraksi dengan mereka yang dikatakannya memperkaya perjalanannya, elok kurang menjabarkan pengamatannya terhadap kehidupan/ keseharian masyarakat lokal.

trims buat mbak Arie (http://srisariningdiyah.multiply.com) atas hadiah buku ini :))
foto dari :http://elokdyah.multiply.com