Tantangan Nulis Blue Valley

Perahu Kertas

 

“Aku pulang sekarang….”

“Di luar hujan begitu deras, tunggulah agak reda.”

“Tak masalah, aku harus pulang sekarang.”

“Nekat sekali kamu. Bawa payung kan?”

“Selalu.”

Aku ingin segera sampai rumah. Bergelung di kasur  menenggelamkan kepalaku di bawah bantal. Entah apa jadinya dadaku kalau aku tak segera keluar dari sini, terus menerus menahan gemuruh yang harusnya sudah meletus. Tentu seharian ini aku tak bisa konsentrasi bekerja. Bibirku sampai sakit karena berulang-ulang kugigit untuk membendung tangis. Aku tak tahan lama-lama berada di pantry menyembunyikan rasa sakit yang membuncah.  Tidakkah mereka rasakan getaran dalam suaraku. Susah payah kutahan agar hari ini aku tak banyak cakap. Sebenarnya bukan hal yang aneh, aku memang tak suka banyak bicara di tempat kerja. Ya, hari ini aku menjawab segala pertanyaan yang datang padaku seperlunya saja. Lebih bayak gerakan kepala; menggeleng, mengangguk, melengkungkan senyum, mengerutkan kening,  atau dengan gerakan bahu.

“Kamu sariawan atau napa sih?”

“Sori, lagi dapet, lagi nggak mood ngomong,” jawabku bohong.

“PMS nih… .” celetuk yang lain, kutingkahi dengan cengiran.

Hari ini menjadi hari terlama, detik  demi detik menetes serupa  sampo di dalam botol yang nyaris kosong. Kalau berkali-kali melirik jam dinding, tentu waktu bagiku seperti merangkak.

***

Tepat ketika aku keluar dari pintu kantor, angkot biru  langgananku melintas. Aku menggeleng pada pak sopir. Tidak. Aku sedang ingin sendiri, berjalan di bawah hujan.

Benar, hujan kali ini terlampau deras. Inginku, payung biru ini kubiarkan tetap kuncup agar langkahku terbingkai hujan sempurna. Tapi aku masih tahu diri. Sayang pada tubuhku. Bisa-bisa tubuhku remuk kalau aku nekat.  Bukanya menikmati hujan tapi menyiksa diri. Aku tak mau menambah rasa sakit di sekujur  tubuh.Sebenarnya aku benci berjalan di dalam hujan semacam ini. Hujan deras begini lebih nikmat diresapi  dari  bawah selimut atau di tepi jendela kamar ditemani secangkir kopi.  Ah, tapi setidaknya di bawah payung ini kepundan di dadaku ini akhirnya meledakkan leleran lava, hangat mederas  dari kedua sudu t mataku.  Air mata mengalir sejalan dengan langkah kakiku.

Pertokoan yang biasanya kunikmati dari balik jendela angkot kini terpampang di sampingku. Pelan-pelan berkelebatan saja.  Aku biasanya suka mengamati beberapa toko baju, menatap manekuin  yang dalam beberapa hari selalu berganti gaun. Menebak-nebak apakah gaun atau rok yang di hari sebelumya kulihat apakah masih di sana, menebak sudah berganti model seperti apa.  Gaun sebelumnya, sudah masuk almari di sebuah kamar? Atau sekedar berganti untuk menarik hati para perempuan sepertiku. Ah, kalau mau menuruti keinginan, aku ingin membeli rok-rok bermodel etnik atau gaun panjang yang kubayangkan akan menyulap diriku menjadi sosok anggun.  Sudahlah, aku  sedang tidak ingin berangan-angan kapan aku bisa masuk dan membawa pulang salah satu koleksinya.

Mendekati sebuah kedai kopi, hatiku gamang. Menghangatkan diri dengan secangkir kopi sembari menikmati gemericik liris, memandang bulir-bulir yang membuat kaca memburam sepertinya nikmati. Itu di sana, di meja pojok  tepi jendela aku suka melewatkan waktu   berjam-jam untuk membaca, menghabiskan cangkir demi cangkir, atau sekedar melamun.  Hampir saja langkahku kebelokkan ke kedai kalau bukan karena bayangmu  mendadak hadir di meja itu mengurungkan niatku. Sejak mengenalmu, kursi di seberang aku duduk tak pernah kosong. Mengisi akhir pekan dengan berbincang  berbagai hal denganmu tak pernah ada habisnya.  Akhir pekan yang selalu kunanti. Kedai kopi menjadi tempat yang selalu kurindu.  Ah, hari ini kedai itu membuatku muak. Langkah  kupercepat.  Aroma yang meruap hingga ke setiap sudutnya tak lagi menggodaku.

“Aku akan ajak kamu ketemu mama,” ujarmu di kedai sore itu.

“Ketemu mama kamu?” Aku tak bisa mendefinisikan perasaan yang berkecemuk. Aku takut bertanya ataupun menebak-nebak sendiri, main ke rumahnya berarti…

“Sudah saatnya kamu kukenalkan pada mama,”

Aku tak bilang ya atau tidak, tahu-tahu aku sudah duduk di ruang tamu bernuansa klasik.

“Ini lho Mah, gadis yang pernah kuceritakan, emm… yang kemarin bukunya nongol di ‘Buku Baru”. Kamu menunjuk majalah yang masih tergeletak di meja.

Wanita itu tersenyum, lalu meneliti.

Perasaan tidak nyaman mendadak menelusup, rasanya risih dipandang seperti itu, seperti sebuah barang yang sedang ditaksir.

“ Belajar nulis dari mana?”

“Otodidak Tante,”

“ Sekolahnya dulu?”

“Saya hanya lulusan SMK Tante,”

“Hem…lulusan SMK tapi bisa menulis novel?”

Mamamu mengangguk-angguk. Entah apa yang bersarang di kepalanya. Pastilah kamu belum pernah menceritakannya pada mamamu. Majalah yang memuat novelku tentu saja hanya menampilkan sinopsis.

Pertemuan pertama dan kedua di rumahmu masih diwarnai sedikit kehangatan. Namun berangsur-angsur  kehangatan itu menguap. Dingin menyambutku setiap kali kamu mengajakku mengunjungi keluargamu. Hingga suatu hari, mamamu sudah bersama seorang perempuan cantik ketika aku datang.

Aku menjabat tangannya. Dia sosok yang anggun. Penampilan dan gaya bicaranya sudah mewakili dari kelas mana dia berasal.

“Katanya kamu baru naik jabatan, direktur pemasaran.” Mamamu menyebut sebuah perusahaan  kosmetik yang punya produk  berbahan herbal. Mereka terlibat pembicaraan seru dan akrab. Aku? Seperti tidak ada diantara mereka. Selanjutnya kamu tidak pernah lagi mengajakku ke rumahmu.

Masih di kedai itu, pertemuan kita masih tetap berlanjut. Namun, aku tidak lagi mendapati binar di kedua matamu. Murung, wajah itu yang selalu menemani akhir pekanku. Bahkan, kadangkala aku menjumpai kamu mendadak menjadi begitu temperamental dan tidak sabaran.

“Maafkan aku…” selalu itu yang kamu ucapkan tiapkali kamu berusaha melawan temperamentalmu yang spontan muncul. Mana sosok riang dan hangat darimu yang kukenal? Mungkinkah  perempuan itu yang telah merenggutnya darimu?

“Emm… mama memaksaku menikah.” Seperti ada sengatan tiba-tiba menjalari tubuhku. Aku sebisa mungkin menyembunyikannya. Juga gigil  yang mendadak muncul.

“Maaf, mamaku….” Aku sudah bisa menebaknya, jadi aku tak ingin mendengar kelanjutan ucapanmu.

“Tapi aku masih berjuang untuk membatalkan rencana Mama.” Kamu sendiri seperti tidak yakin mengucapkan itu, bagaimana aku bisa mempercayainya? Bagaimanapun, aku tak bisa berbohong kalau aku begitu berharap kamu benar-benar membuktikan ucapanmu. Tak butuh waktu lama hingga undangan itu tiba.

***

Berkecipuk  dengan air hujan yang pelan mereda, tak setapakpun langkahku terhenti. Dadaku berangsur  melapang. Nafas yang kuhela kian lega.  Tiba di jalan masuk kampung berparit di kanan kirinya, langkahku baru berhenti, tertarik mendengar celoteh para bocah di tepi parit. Sambil menyusut air mata dengan punggung tanganku, kudekati mereka. Ada perahu-perahu kecil  yang sedang berlayar. Rupanya mereka mengeluhkan perahu kertas yang terancam karam.

“Kertas itu terlalu tipis. Hmmm…kakak punya kertas yang tebal. Pasti akan menjelma perahu kokoh.“

Mereka menoleh kompak. Sejenak memandangiku heran.

“Perahu kokoh?”

Aku mengangguk. “Sebentar kakak ambilkan. Air tak akan begitu saja menelannya.”

“Asyik… asyik… mana Kak, mana Kak?”

Aku merogoh messenger bag, menarik  selembar kertas yang terbungkus plastik. Buru-buru kukeluarkan isinya.

“Waw, bagus Kak!”

Mereka memandang kertas yang kupengang, takjub.

“Lho, itu kan undangan? Pernikahannya siapa Kak? Nggak sayang?”  Raut takjub itu digelayuti tanya.

Aku menggeleng. Menanggapi celoteh mereka dengan senyum saja. Tanpa terlebih dahulu membaca isinya aku mulai melipatnya. Selembar kertas ini sebenarnya ingin kuremas-remas begitu kudapati sudah tergeletak di meja pantry. Mereka memuji-muji betapa elegannnya desain undangan itu. Betapa manis nan romantis foto prewedding berlatar ilalang itu. Si pemilik undangan begitu saja berlalu setelah meletakkan segepok undangan di pantry. Tak  tahan dengan olok-olokkan mereka? Atau   tak tega melihatku membuka undangannya?

Kau pasti sengaja menaruh undangan ini sebelum aku datang, menghindari pertemuan denganku.  Huh, dulu saja kau sengaja mencari-cari alasan agar bisa bertemu denganku.  Pura-pura sibuk berjalan membaca kertas-kertas di tanganmu, untuk kemudian masuk pantry sedekar meracik kopi sendiri atau bercanda dengan Bagas dan Agus waktu istirahat tiba.

Ah, undangan itu hanya kusentuh ketika kumasukkan begitu saja ke dalam tas.Kapan mereka menikah, aku tidak mau tahu.  Aku toh tak akan menghadirinya. Biarlah kertas ini menjelma mainan untuk bocah-bocah ini.

“Nah selesai. Bagus kan?”

“Buruan Kak, layarkan.”

Aku berjongkok dan meletakkan perahu itu di permukaan bening yang gemericik. Pelan sekali aku melepasnya seolah aku tak rela kalau perahu ini tak akan kembali. Kuhela nafas dalam-dalam.

“Horrreeeeee…horeeeee… .” Mereka bersorak.

Kupandangi wajah mereka satu-satu. Tawa mereka teramat ringan tak berbeban. Mereka seperti menghanyutkanku ke dunia mereka. Keriangan mereka menjalari tubuhku. Spontan aku ajak mereka ber-high five satu-satu lalu segera kupalingkan mataku pada perahuku sebelum mendapatinya mengecil. Tatapanku lekat bersama arus yang membawa perahuku melaju.

dukaku tersemat di selembar tubuhmu

perahuku,

berlayarlah… berlayarlah…

larungkan luka lara

akhiri segala cerita

aku dan dia…

 

 

#mengambil judul “Perahu Kertas”  dari puisi “Perahu Kertas” dalam Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas, Balai Pustaka, Jakarta, 1983, hal 46

 

blue-valley

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”

Catatan Buku Seorang Angkoter


 Semenjak saya menikah dan memiliki anak, waktu membaca saya otomattis berkurang drastis. Kalau dulu ketika lajang sore hari pulang kerja bisa leyeh-leyeh sembari membaca buku, kini sepulang kerja ada anak dan suami yang harus saya urus. Waktu di  rumah sudah habis untuk perkerjaan  domestik dan mendampingi anak. Hampir tidak ada waktu luang untuk membaca. Malam hari  tenaga sudah habis dan tinggal istirahat. Kesempatan untuk ngeblog maupun menulis jarang-jarang saya dapatkan.

Namun, saya tidak bisa meninggalkan buku. Buku tetap saya baca. Pulang pergi bekerja di angkot saya manfaatkan untuk membaca. Berada selama 20—30 menit di atas angkot dalam perjalanan berangkat dan pulang kerja sayang kalau di lewatkan dengan diam. Sesekali menikmati perjalanan, namun saya lebih senang menghabiskan waktu untuk membaca. Mojok sembari membaca. Buku tidak pernah ketinggalan saya bawa di dalam tas.

Waktu libur sesekali saya manfaatkan mengunjungi perpustakaan atau toko buku.  Tahun ini, beberapa buku yang masuk di dalam goodreads beberapa diantaranya merupakan buku pinjaman dari perpustakaan.  Dari daftar yang saya entri di goodreads ada dua buku yang inspiratif buat saya, meninggalkan jejak kesan di hati dan kepala.

 

  1. Bulan Terbelah di Langit Amerika oleh Hanum Salsabiela Rais

Luar biasa perjalanan yang dituturkan oleh Hanum dan Rangga. Berlatar belakang sebuah pertanyaan Would the world be better without Islam? Jawabannya ditemukan perjalanan Hanum dan Rangga di Amerika. Meski keduanya memiliki misi yang berbeda, tapi ada jalinan yang menyatukan alur perjalanan suami istri tersebut. Peristiwa 9/11 di Amerika menjadi latar novel tersebut.
Pembaca akan disuguhi sebuah sudut pandang yang baru, tak hanya mengenai tragedi tersebut namun juga pertalian sejarah Amerika dengan Islam. Untuk kisah Rangga, misinya di Amerika memberikan sebuah inspirasi dari the power of giving, sadakah. Philipus Brown, menjadi orang yang paling dikerjar Rangga karena kedermawanan tokoh itu bertalian erat dengan papernya yang mengangkat tema the power of giving.

Terlalu banyak kebetulan dan keajaiban dalam novel ini. Alur yang dirangkai Hanum dan Rangga begitu apik sehingga di bagian akhir sukses membuat saya diam-diam menahan isak di angkot, yeah walaupun beberapa titik air mata sempat mengalir 😀

Meski buat saya terlalu manis segala kebetulan dalam alur cerita itu, namun saya tetap menyukai novel ini. Penuh inspirasi dan memberikan wawasan baru. Kisah Azima Hussein/JuliaCollins yang tetap mempertahankan hijabnya memberikan inspirasi bahwa hidayah yang diberikan oleh Allah semestinya tetap teguh kita jaga. Lebih-lebih kita ber-Islam di tengah-tengah masyarakat Islam, berbeda dengan Azima yang minoritas.

2. I’am Malala oleh Malala Yousafzai dan Christina Lamb

Malala adalah seorang gadis yang tinggal di Swat, Pakistan. Ketika lahir, tak seorang pun mengucapkan selamat bagi ayah ibunya. Bagi orang Pasthun, melahirkan anak perempuan merupakan sesuatu yang menyedihkan. Namun tidak bagi ayah ibu Malala. Mereka tidak berpikiran seperti orang-orang Pasthun kebanyakan. Meraka bangga memiliki Malala. Malala tumbuh sebagai gadis periang yang cerdas.
Ayah Malala memiliki sekolah, Khushal. Malala menjalani keseharian dengan riang, belajar, bersaing dengan teman sekelasnya dalam pendidikan, bermain,dan melakukan apa yang disukainya. Semuanya berjalan normal hingga Taliban merenggut semuanya.
Beragam peraturan yang membatasi perempuan diberlakukan dengan tidak adil. Anak-anak perempuan dilarang bersekolah. Banyak sekolah ditutup. Demikian pula yang terjadi di sekolah Khushal. Ayahnya kerap menerima terror dan fitnah, meminta agar sekolah itu ditutup. Ayahnya bersikeras mempertahankan sekolah itu. Hanya ada beberapa perempuan yang bertahan dalam tekanan. Bersama ayahnya, Malala berjuang. Ia berbicara tentang pendidikan. Lewat blog yang ditulisnya dengan nama samaran ia ungkapkan apa yang terjadi di Pakistan. Segala terror, serangan, dan segala tekanan dari Taliban diceritakan lewat blog hingga dunia tahu apa yang terjadi di Paksitan. Perjuangan Malala menarik perhatian Taliban. Sebuah penembakan dilakukan ketika ia berangkat ke sekolah bersama teman-temannya. Sontak, perhatian dunia tersedot. Apa yang terjadi pada Malala menarik simpati dari berbagai pihak di dunia internasional. Selain simpati, ada juga yang berpikiran negatif atas penembakan yang terjadi pada Malala. Ada pihak-pihak yang tidak senang dengan Malala, menganggap sebelah mata apa yang dilakukannya.

Kutipan-kutipan dari buku ini bisa menggambarkan isi buku:

Dan aku mulai melihat bahwa pena dan kata-kata yang muncul dari sana bias jauh lebih perkasadaripada senapan mesin,tank, atau helicopter. Kami belajar cara berjuang. Dan kami menyadari betapa kuatnya diri kami ketika kami berbicara. (hal.185)
Mereka bisa menghentikan kami bersekolah tapi mereka tak bias menghentikan kami belajar (190)
Seorang talib melepaskan tiga tembakan dari jarak dekat kepada tiga anak perempuand alam bus sekolah dan tidak menewakan sorang pun dari mereka. Ini seakan kisah yang mustahil , dan orang mengatakan aku mengalami penyembuhan yang ajaib. Aku tahu Allah menghentikanku agar tidak memasuki liang kubur (hal.351
Jangan takut, jika takut, kau tidak bias melangkah maju (hal.360)
Aku tidak ingin dianggap sebagai “anak perempuan yang ditembak oleh Taliban, tetapi “anak perempuan yang berjuang untuk pendidikan. Untuk tujuan inilah aku ingin membaktikan hidupku (hal(361)
“Marilah kita mengambil buku dan pena kita.” Kataku. Keduanya adalah senjata kita yang paling perkasa. Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena bias mengubah dunia. (hal.361)

Saya selalu suka membaca buku genre semacam ini. Buku ini membuka mata saya terhadap apa yang terjadi di luar. Kisah Malala membuat saya bersyukur dengan keadaan saya. Di negara ini, akses pendidikan begitu mudah saya dapatkan. Beruntung kita masih bebas bersekolah dan keluar rumah dengan bebas. Membayangkan yang terjadi di Pakistan seperti yang digambarkan Malala, sulit rasanya! Mungkin, buku ini membuka rasa penasaran saya atas kondisi Pakistan saat itu dan saat ini. Separah itukah? Atau bagaimana kondisi yang sebenarnya, barangkali saya perlu membaca lebih banyak buku dan mengetahui konflik di sana dari sudut pandang yang berbeda.

 

Kedua buku tersebut saya habiskan semuanya di atas angkot, begitu pula buku-buku lain yang masuk di entri goodreads saya tiga tahun terakhir. Masih ada PR membaca di tahun ini, membaca di atas angkot. Terutama Ramadhan ini, saya ingin menuntaskan seri Muhammad 1 dan 2 yang sudah saya miliki. Sebenarnya, membawa-bawa buku dan membaca buku tebal di angkot selama ini saya hindari, namun saya harus memulainya. Novel Muhammad 1  harus saya selesaikan dan  sudah saya mulai dari atas angkot di pekan-pekan terakhir ini.

 

Moment Spesial dari Buku

Sebab buku sudah menjadi keseharian saya, pastinya saya memiliki moment-moment istimewa berkenaan dengan buku. Beberapa moment tersebut adalah

  1. Terbitnya Buku Antologi

Imbas dari membaca buku adalah timbulnya motivasi. Saya tidak hanya ingin menjadi pembaca buku, tapi karya saya juga ingin dibaca oleh banyak orang.  Hal itu membuat saya di tahun-tahun lalu mengikuti audisi buku antologi. Moment teristimewa adalah di tahun 2011, ketika buku antologi pertama saya diterbitkan. Buku keroyokan yang diterbitkan oleh penerbit indie memberikan perasaan berarti buat saya. Tak percaya, tulisan saya ada di buku tersebut, saya punya buku! Walaupun terbit secara indie, keroyokan pula, saya selalu bersyukur tiap kali buku antologi saya terbit. Ada beberapa buku antologi yang terbit kemudian. Ada jejak karya saya  dalam hidup, menjelma sebuah sejarah.

  1. Mendapat Buntelan Buku Gratis

Siapa yang tidak senang mendapat buku gratis. Mendapati buntelan di atas rak buku atau menerima sendiri dari pak pos atau kurir yang mengantarkan buku buat saya selalu menjadi moment yang mendebarkan. Ada senang yang membuncah. Buku-buku gratis ini saya dapatkan dari mengikuti lomba blog berupa jurnal atau flash fiction, menulis tantangan, menjawab kuis buku, atau dari berbagai giveaway. Setumpuk buku ini saya dapatkan sejak 2007.  Boleh dibilang saya termasuk pemburu buku gratisan, heheh. Sensasi ketika menerima buntelannya itu…hingga kini masih saya rasakan.

Selain hadiah, dua buku ini saya dapatkan dari kontak multiply yang bahkan saya belum pernah bertatap muka dan semenjak MP tergusur saya kehilangan kontak dua teman yang berbaik hati memberikan kepada saya.

a kado 2

Emak saya sampai hafal ketika saya mendapat buntelan buku, selalu berkomentar, “buku dari mana lagi?”

Yang paling wow, adalah ketika mendapat satu kardus buku dari Stiletto, hadiah lomba blog. Buku-buku yang dapatkan semuanya dua judul. Alhamdulillah, masing-masing judul dari hadiah itu sudah saya sumbangkan ke perpustakaan dan para sahabat pecinta buku. Judul satunya masih menjadi PR membaca saya. Itu sebabnya, sementara ini saya hentikan kunjungan ke perpustakaan.

12822148_10205459474518611_936104318_n

  1. Hadiah ulang tahun

Sohib saya selama tiga tahun berturut-turut memberikan hadiah ulang tahun berupa buku. Kami punya tradisi bertukar kado buku selama itu.  Sudah tahu kalau akan mendapatkan buku, namun ketika menerimanya ada perasaan bahagia tak terkira. Begitu mendebarkan karena kejutannya adalah judul buku apa yang akan saya dapatkan. Ketika dibuka, taraaa…isinya adalah buku kesukaan saya. Rasanya waw, lebih-lebih ketika mendapatkan Garis Batas. Seakan mau bilang, tahu saja dengan apa yang kuinginkan!

a kado ultah

 

Tips Membaca untuk yang Sibuk

Karena begitu banyak berkah yang bisa didapatkan dari buku, tidak ada alasan tidak bisa membaca buku untuk yang sibuk. Saya sudah membuktikannya. Tips dari saya hanya satu: membawa buku kemana kita pergi. Tips itu bagi saya jitu. Bagaimana tidak , selalu membawa buku di dalam tas nyatanya bisa membuat saya tetap membaca buku. Saya, dan tentu saja bagi pembaca yang sibuk bisa membuka buku yang selalu dibawa di angkot, saat menunggu, saat antri berjam-jam seperti pernah saya alami di bank (setiap ke bank jangan lupa bawa buku, pasti kebaca saat antri), atau dari pengamatan saya saat orang tua menjemput anaknya dan belum keluar dari kelas karena berbagai alasan bisa diisi dengan membaca buku, dan diberbagai kesempatan lain yang memungkinkan untuk membuka buku. Selamat mencoba!

 

13393133_10206056139194855_1234052029_n

selfi buku saat membaca Jejak Kaki Misterius di Angkot 😀

 

 

Tulisan panjang ini saya ikutkan dalam Giveaway for Booklover. Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.

[Review] Play and Learn

13183184_10205914283568553_1430820694_n

Judul                           : Play and Learn

Penulis                        : dr. Meta Hanindita,Sp.A.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :  Mei 2015

Tebal                           :  194 hlm.

ISBN                            : 978-602-7572-39-3

 

Mendidik anak lewat aneka permainan yang menyenangkan diperkenalkan oleh seorang ibu sekaligus dokter, dr. Meta Hanindita,Sp.A. Bermain  selain bisa menjadi stimulasi untuk tumbuh kembang anak, juga bisa menjadi bonding time untuk ibu dan anak. Bermain dapat membantu anak mempelajari interkasi sosial, gerak motoric, sampai daya pikir kognitifnya, sehingga bermain dibutuhkan untuk perkembangan yang sehat untuk anak. (hal.8).

Permainan yang dimaksud tentu saja bukan permainan instan seperti yang anak-anak kenal saat ini lewat gadget.  Di era digital yang semakin pesat ini, anak-anak, balita sekalipun telah akrab dengan gadget.  Tantangan orang tua jaman sekarang dalam  mendidik anak adalah budaya instan yang salah satunya diperkenalkan oleh gadget.  Padahal, efek gadget untuk anak balita kurang bagus untuk mendukung tumbuh kembangnya. Anak yang menghabiskan waktu bermain dengan gadget, tidak terlatih fisiknya secara aktif, dan terbukti kurang memiliki daya imajinasi dibanding mereka yang bermain tanpa gadget. (hal. 8—9).

Buku ini menjawab tantangan tersebut.  Dibagi menjadi dua bagian besar yaitu Learning by Doing dan  Let’s Play, selanjutnya buku ini dibagi dalam bab-bab yang sistematis. Dalam bab pertama, materi parenting disajikan antara lain lewat sharing pengalaman penulis dalam mendidik putrinya yang masih berusia 4 tahun.

Untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara optimal, seorang anak membutuhkan pemenuhan tiga kebutuhan. Pertama, kebutuhan fisik (asuh) seperti nutrisi yang baik, lingkungan yang sehat, pakaian yang baik, sampai imunisasi.  Kedua, emosi (asih) yang dipenuhi melalui perhatian, kasih sayang (pelukan dan ciuman), serta suasana rumah yang damai dan nyaman. Ketiga, stimulasi mental atau akal (asah), berguna untuk membentuk karakter, kecerdasan, moral, nilai agama, serta kemandirian. (hal.18)

Semakin anak tumbuh, pendidikan karakter begitu penting ditanamkan. Pendidikan karakter  bisa ditumbuhkan lewat pembiasaan dan aneka permainan.  Permainan sederhana misalnya role play (bermain peran). Dengan bermain peran, anak bisa meningkatkan kemampuan berbicara, menambah kosakata, bekerja sama dengan orang lain, serta melatih kesabaran, dan berinterkasi. Ambil contoh saat anak bermain jual-jualan. Anak tidak hanya belajar mengenai angka dari jumlah barang yang dibeli atau uang yang dibayar, namun anak juga belajar bahwa setiap barang di toko ada harganya sehingga ia akan mengerti kalau ada barang yang diinginkan, ada proses untuk mendapatkannya.  Bukan hanya didapat dengan asal tunjuk (hal.35).

Jenis permainan  lain berupa  aktivitas yang bisa diciptakan oleh orang tua untuk membuat anak sibuk bermain.. Aktivitas tersebut tidak mahal dan bahan-bahannya mudah didapat, bahkan memanfaatkan barang-barang bekas di rumah. Orang tua bisa membuat sebuah buku yang disebut  busy book. Buku ini akan membuat anak senang bermain sembari belajar berhitung, mengikat tali sepatu, mengenalkan waktu, mengenal warna, mengelompokan benda, d.l.l.  Beragam aktivitas bermain dalam buku ini sangat gamblang digambarkan  dengan deskripsi bahan, langkah-langkah membuatnya, manfaat aktivitas dari berbagai aspek (kognitif, afektif, dan motorik), dan dilengkapi foto berwarna.  Aktivitas bermain tersebut diperkenalkan oleh dr. Meta untuk menstimulasi anak selalu gembira, cerdas, dan mandiri. Busy book  bukan hanya mengajak anak asyik bermain di rumah, namun dimanapun ia berada sebab buku tersebut bisa dibawa kemanapun anak pergi.

Orang tua bisa mendapatkan beragam inspirasi dalam mendidik anak dari buku ini. Tak hanya memahami tumbuh kembang anak, mendapatkan solusi dan tips dari permasalahan yang sering dihadapi,  orang tua juga diajak menjadi sosok yang kreatif dan smart.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Review Jejak Kaki Misterius

13020514_10205759500499073_278865681_n

Sesuai dengan judulnya, kelima belas cerpen dalam buku Jejak Kaki Misterius memiliki satu benang merah: misteri. Meskipun  misteri dalam buku ini tidak semuanya mengenai penyelidikan sebuah kasus, namun secara keseluruhan  pembaca khususnya anak-anak, akan dipenuhi rasa penasaran sepanjang membaca buku.

Cerpen yang pertama merupakan cerpen yang dijadikan judul buku: Jejak Kaki Misterius karya Riawani Elyta.  Ceritanya tentang kakak adik Daffa dan Anto yang menemukan bekas tapak-tapak kaki mencurigakan di sepanjang jalan samping rumah mereka. Beberapa hari mereka dibuat penasaran oleh pemilik tapak kaki yang besarnya tidak sama antara kanan dan kiri itu. Mereka memutuskan menyelidiki ala detektif.

Ketika hari Minggu seharian mereka mengintai namun tak membuahkan hasil, hari berikutnya mereka memutuskan tidak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Hampir  putus harapan karena hingga sore tidak muncul juga yang diburu, akhirnya rasa penasaran mereka terjawab.  Penyelidikan yang berakhir tidak serta merta mengakhiri cerita. Mereka terkejut mengetahui siapa pemilik jejak itu, terlebih setelah mengenal sosoknya. Tidak sekedar menuntaskan penyilidikan, kedua tokoh menunjukan akhlak mulia yang bisa dijadikan teladan oleh anak-anak.  “Menolong orang bisa membuat hati jadi lega. “(hal.12)

Pesan moral tersebut sesuai dengan label buku, seri pendidikan akhlak untuk anak. Hal ini terlihat pula dalam cerpen Misteri Matinya Ikan di Kolam Nino karya Pujia Achmad. Nino tak hanya memcahkan misteri matinya ikan-ikan milik ayahnya, namun juga menemukan sebuah solusi dari permasalahan yang melatarbelakangi misteri itu. Kemuliaan akhlak tokoh-tokoh di dalamnya memberi teladan kepada anak-anak dalam pembentukan karakter.

Petualangan yang seru dan menegangkan ditawarkan oleh cerpen Kebun Misterius, karya Pujia Achmad. Penemuan sebuah buntelan misterius mengantar Iwan dan Adit pada penjelajahan sebuah bukit yang dianggap angker oleh masyarakat sekitar. Bahaya mengancam mereka. Ketika sebuah kejutan berada di depan mata, penemuan akan sebuah ladang terlarang, seorang bergolok menangkap dan menyekap mereka di sebuah rumah di tengah-tengah ladang itu. Adit dan Iwan tidak gentar. Berusahan melawan rasa takut dan berusaha memutar otak menemukan jalan keluar, mereka berdua  justru berhasil membongkar kedok gerombolan yang menangkap mereka.

Cerita dengan motif sejenis bisa ditemukan dalam Misteri Rumah Kosong karya Anik Nuraeni. Seru dan menegangkan.

Ada pula cerita misteri yang temanya bukan tentang penyelidikan. Ketika Ban Sepeda Rasad Pecah karya Dian Onasis unik idenya. Siapa sangka ban sepeda yang pecah membuat Rasad menemukan  jawaban atas misteri hutan bambu kuning yang selalu memunculkan suara yang menyeramkan.

Cerpen-cerpen dalam buku ini menyodorkan tema-tema unik dan tema-tema sederhana namun menjadi cerita luar biasa. Penulis-penulisnya membuktikan bahwa sebuah tema sederhana sekalipun jika diolah dengan apik bisa menjadi cerita yang mengesankan bagi anak-anak, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan keteladanan. Bagi saya, buku ini memberi banyak pelajaran menulis, terutama tentang ide-ide luar biasa yang diolah para penulisnya menjadi cerita yang mengalir.

Oiya, di postingan giveaway buku ini saya menyebut tiga judul yang paling membuat penasaran. Benar saja, memang  cerpen-cerpen  yang membuat saya penasaran seru ceritanya.

[Diari Janitra] Ini Matahariku!

12781986_10205407017927229_1659728586_n

“Buk, iki apa?” tanya Janitra di depan gambarnya sore tadi.
“Iki mat-ta-har-ri,” jawabnya sendiri sebelum ibuk menjawab.
Ibuk memberi pujian, exited, tak menyangka Janitra akan menyelesaikan coretannya sebentuk matahari. Disangkanya Janitra hanya akan menggambar pororo, figur gambar yang dicoretkan dalam bentuk sebuah lingkaran besar, ada 2 mata di dalamnya dan dua garis yang diartikannya sebagai kaki. Itu yang biasa digambarnya.

“Janitra nggambar pororo,” katanya selalu bangga memperlihatkan gambarnya.

12804402_10205407354335639_1563924501_n

Menarik mengamati perkembangan seni rupa anak. Janitra yang dulunya hanya mengambar garis-garis bertalian semacam benang ruwet atau seperti cacing, heheh sekarang sudah berbentuk minimal seperti kepala dengan dua mata.

Sore tadi ibuk menyangka Janitra akan menggambar pororo. Garis-garis di luar lingkaran yang dicoretkannya bermula dari samping. Ibuk menyangka Janitra akan menggambar telinga. Eh, ternyata berlanjut hingga menjadi sinar.

Ibuk sendiri tidak pernah mengajari Janitra menggambar. Matahari atau pororo yang digambarnya mungkin diketahuinya berdasarkan gambar-gambar yang Janitra lihat. Gambar yang sering digambar ibuk kebanyakan hanya bebek, es krim, dan donat. Menggambar es krim dan donat karena Janitra sering menirukan mbak-mbak dan mas-mas yang belajar dengan bapak ketika menyebut belajar matematika, IPA, dll. Janitra akan meminta hal yang sama dengan ibuk, “Buk, it(r)a belajar matematika.” Maka ibuk akan menggambar sembari berkata, “satu donat ditambah dua donat,” atau “dua es krim ditambah dua es krim,” dan sebagainya. Begitu saja Janitra akan senang dan merasa ia juga les seperti mbak-mbak dan mas-mas. :D. Tidak lebih. Hanya menggambar di buku sembari bermain. Yang penting pegang buku dan pensil, rasanya Janitra seperti anak sekolah.

Saat ini, umur Janitra 3 tahun  9 bulan. Menurut periodesasi dan karakteristik seni rupa anak, gambar yang dicoretkannya masuk masa coreng moreng (2–4 tahun). Paparan mengenai periode ini dapat saya kutipkan dari hasil googling berikut ini:

Masa Mencoreng (scribbling)   : 2-4 tahun

Goresan-goresan  yang  dibuat  anak  usia  2-3  tahun  belum  menggambarkan  suatu  bentuk  objek.  Pada  awalnya,  coretan  hanya  mengikuti  perkembangan  gerak motorik.  Biasanya,  tahap  pertama  hanya  mampu  menghasilkan  goresan  terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal  ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik  anak  yang  masih  mengunakan  motorik  kasar.  Kemudian,  pada perekembangan  berikutnya  penggambaran  garis  mulai  beragam  dengan  arah  yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar.

Periode ini  terbagi ke dalam  tiga tahap, yaitu:

1) corengan tak beraturan,

2) corengan terkendali, dan

3) corengan bernama.

Ciri  gambar yang dihasilkan anak pada tahap  corengan tak beraturan  adalah bentuk  gembar  yang  sembarang,  mencoreng  tanpa  melihat  ke  kertas,  belum  dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.

Corengan  terkendali  ditandai  dengan  kemampuan  anak  menemukan  kendali  visualnya  terhadap  coretan  yang  dibuatnya.  Hal  ini  tercipta  dengan  telah  adanya kerjasama  antara  koordiani  antara  perkembangan  visual  dengan  perkembamngan motorik.  Hal  ini  terbukti  dengan  adanya  pengulangan  coretan  garis  baik  yang  horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.

Corengan  bernama  merupakan  tahap  akhir  masa  coreng  moreng.  Biasanya terjadi  menjelang  usia  3-4  tahun,  sejalan  dengan  perkembangan  bahasanya  anak  mulai  mengontrol  goresannya  bahkan  telah  memberinya  nama,  misalnya:  “rumah”, “mobil”,  “kuda”.  Hal  ini  dapat  digunakan  oleh  orang  tua  atau  guru  pada  jenjang pendidikan  usia  dini  (TK)  dalam  membangkitkan  keberanianan  anak  untuk mengemukakan  kata-kata  tertentu  atau  pendapat  tertentu  berdasarkan  hal  yang digambarkannya.

Materi yang sama (yang saya kutip) pernah saya baca pula di Modul Perkembangan Seni Rupa dari Universitas Terbuka. Malas ngetik ulang jadi cari di google saja :D.

GA Jejak Kaki Misterius

Buku anak selalu menarik buat saya. Saya mulai mengoleksi buku anak bahkan ketika masih kuliah. Ketika ada book fair atau obral buku, buku anak murah meriah selalu menjadi incaran. Saya sudah berfikir untuk mengumpulkan buku-buku untuk anak saya kelak.  Terlebih sekarang, sudah ada seorang putri yang wajib saya tulari virus membaca dan ada anak-anak les yang haus bacaan baru karena kami beri tantangan membaca.

Mengetahui ada giveaway buku anak, saya tertarik untuk ikut. Siapa tahu menjadi rejeki anak saya.  Jejak Kaki Misterius menimbulkan rasa penasaran tersendiri untuk calon pembaca, dari segi judul maupun kover.   Yang paling membuat saya penasaran adalah 3 judul berikut:

  1. Peta Ingatan Ule

Nama Ule membuat saya penasaran, dari mana ia berasal? Selama ini saya menyukai cerita dengan warna lokalitas. Pengetahuan bertambah karena warna lokal yang menjadi setting. Nama Ule di benak saya adalah anak dari luar Jawa karena nama itu masih asing di sini.  Peta Ingatan sendiri menimbulkan rasa ingin tahu, peta ingatan tentang apa?  Kenapa harus dipetakan? Apakah peta itu semacam mind map?

  1. Pencuri Berlonceng

Judulnya menimbulkan sesuatu yang kontras sehingga menarik rasa penasaran saya. Pencuri lazimnya datang secara sembunyi, sebisa mungkin menyembunyikan semua gerak dan suaranya sehingga tidak ketahuan. Namun kenapa pencuri itu justru berlonceng, tindakan yang justru menimbulkan kegaduhan. Jadi kenapa judulnya seperti itu?

  1. Pengendara Perahu Asing

Unsur yang membuat penasaran adalah settingnya. Penulis pastilah setting lautan. Ini adalah setting yang saya sukai. Perahu asing itu datangnya dari mana juga membuat penasaran. Perahu terdamparkah? Atau….?

 

Rasa ingin tahu memenuhi benak melihat dan membaca sekilas judul-judulnya. Nah, itu salah satu kriteria buku anak yang baik menurut saya. Buku anak yang baik tentu bisa menimbulkan rasa ingin tahu anak sehingga ia mau membacanya. Kalau sudah membaca, rasa ingin tahu terhadap hal lain bisa  ditimbulkan dari buku itu  pula. Buku yang baik juga mendorong anak untuk kreatif.

Itu kriteria pertama. Yang kedua adalah temanya dekat dengan anak-anak, menggambarkan dunia anak-anak, bukan dunia orang dewasa yang diperankan oleh anak-anak.  Sebagai contoh, cerita tentang anak yang sudah menggilai gaya hidup artis atau budaya negara lain yang sedang ngehits. Hal itu misalnya terlihat dari percakapan antar tokoh yang membicarakan hal tersebut. Menurut saya yang semacam ini kurang cocok untuk anak-anak.

Ketiga, bahasanya mudah dicerna. Bahasanya ringan, runtut,dan kalimatnya tidak panjang-panjang.  Bahasa menurut saya penting. Kalau dari segi bahasa saja sudah membosankan, anak-anak akan mudah berganti hati 😀 Selain ringan, bahasa untuk cerita anak juga tidak dipenuhi oleh bahasa-bahasa asing.

Keempat, harus ada nilai  yang dibagi.  Buku yang baik idealnya memberikan pesan  kebaikan kepada anak-anak, tidak sekedar menghibur. Demikian pula untuk buku-buku pengetahuan, tentu harus sarat dengan pengetahuan, tidak hanya menampilkan gambar saja misalnya.

Kelima, kalau untuk buku cerita,  menurut saya ceritanya tidak berakhir tragis. Happy ending justru bagus. Anak- anak dengan segala kepolosan, keceriaan, tentu membutuhkan bacaan yang menimbulkan rasa gembira dan ceria. Tidak dibebani oleh kesedihan.  Cerita seperti petualangan dan penejelajahan yang berakhir dengan gembira tentu akan memberikan efek yang positif bagi anak.

 

Saya berharap, buku anak-anak di Indonesia memiliki beberapa kriteria seperti di atas.  Selain itu, saya punya harapan khusus untuk buku anak di Indonesia.  Saya berharap, buku-buku anak  Indonesia lebih banyak menggali inspirasi dari tokoh-tokoh besar. Indonesia kini sedang diserang oleh budaya asing yang cenderung instan dan hedonis. Buku-buku anak yang menceritakan tokoh-tokoh besar, baik itu dari tokoh muslim besar maupun dari tokoh-tokoh bersejarah di Indonesia tidak hanya memberikan wawasan mengenai tokoh tersebut namun juga teladan yang baik. Saya berharap, buku-buku anak terjemahan, seperti komik, yang  ikut mewarnai buku anak di Indonesia juga lebih selektif, buku yang banyak mengedepankan akhlak dan sesuai dengan budaya di Indonesia.

 

Cermat memilih buku bacaan untuk anak bagi saya penting. Seperti buku-buku anak yang saya baca, selain buku berisi cerita-cerita yang menghibur,fantastis, buku sains dan pengetahuan,  ada juga buku yang sarat nilai-nilai: nilai kebijaksanaan dan keberanian. Namun…….. bagi saya, kok rasanya ada yang kurang. Untuk saya pribadi ada kriteria satu lagi yang perlu saya tambahkan dalam memilih buku untuk perpustakaan impian kelak, buku yang saya berikan untuk anak saya khususnya. Saya ingin buku-buku yang saya miliki selain mengajarkan nilai-nilai kebaikan, inspiratif, juga harus mendekatkan pada Sang Khalik, pada Sang Pemilik Hidup. Saya ingin mengoleksi buku-buku yang bisa mengenalkan anak kepada agama Islam dan tokoh-tokoh besar yang dimilikinya.20160229_231915[1]

buku-buku tentang tokoh Islam untuk anak saya

Saya merasakan sendiri perbedaannya, ketika membaca buku buku-buku atau novel-novel yang inspiratif saja dengan membaca buku-buku yang selain inspiratif juga memuat nilai-nilai agama. Ketika membaca buku yang menghibur dan inspiratif, saya hanya mendapatkan dua hal itu. Ketika membaca buku yang mengandung muatan pengetahuan, hanya itu juga yang saya dapatkan. Namun ketika membaca buku insipratif atau buku pengetahuan yang didalamnya nama Allah disebut, ada nilai-nilai agama yang dibagi, saya merasakan adanya motivasi untuk lebih mendekatkan diri pada Allah.  Ada ajakan untuk lebih mengingat Allah, ada inspirasi untuk berusaha memperbaiki diri dalam hal ibadah.

Itu yang saya rasakan, itu sebabnya dalam memilih bacaan untuk Janitra saya juga ingin ia membaca buku-buku yang di dalamnya ada nama Allah disebut, buku-buku tentang tokoh kebesaran Islam, buku-buku pengetahuan  yang membuat dan mengajak ia lebih mengingat Allah. Saya ingin ia tak hanya mendapatkan pesan-pesan kebaikan saja secara universal, pengetahuan tentang  alam dan isinya, namun buku-buku itu juga mengingatkan ia pada Sang Pemilik Hidup, mengajak ia untuk dekat dengan Allah.

 

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Jejak Kaki Misterius” 

jejak

Judul : Jejak Kaki Misterius

Penulis : Riawani Elyta, Kayla Mubara, Pujia Achmad, Dian Onasis, Diannur Fajria, Afin Yulia, Anik Nuraeni, Yurie Zhafiera, Hairi Yanti, Erlita Pratiwi, Ilham Fauzi, Binta Al Mamba, Wawat Smart, Vanda Arie

Lini : Lintang (Penerbit Indiva)

ISBN : 978-602-1614-86-0

Harga : 30K

Kelas Matahari

Kalau semasa kuliah, Soe Hok Gie punya tiga dunia yaitu buku, cinta, dan pesta, saya punya dua dunia dari tiga yang disebut Soe Hok Gie dalam Catatan Demonstrannya. Buku dan cinta.  Tapi bukan di bangku kuliah seperti Gie. Ini cerita di bangku SMU.

Cinta pertama saya pada sastra Indonesia bermula dari bangku abu-abu putih. Pak Widi, guru Bahasa Indonesia saya yang membuat saya jatuh cinta pada sastra Indonesia lewat karya-karya besar sastrawan Indonesia yang sering disebut-sebut pada jam pelajaran Bahasa Indonesia. Ada Belenggu karya Arjmin Pane, Siti Nurbaya karya Marah Rusli, Kemarau dan Robohnya Surau Kami karya A.A Navis, Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka, Atheis karya  Achdiat Kartamihardja, karya-karya Balai Pustaka yang lain, juga majalah sastra Horison. Majalah Horison  pula yang membuat saya selalu tergesa ke perpustakaan ketika bel istirahat berbunyi karena mengejar serial Area-X karya siswi Taruna Nusantara. Perpustakaan yang kecil di sudut sekolah itu akan selalu saya kenang, bersama ‘cinta’ di kelas yang saya punya. Cinta pertama itu seperti titik pertama. Titik yang memulai sebuah garis sehingga saya menjadi seperti sekarang. Kalau tidak karena cinta itu, mungkin saya tidak akan pernah belajar menulis, sekedar menuliskan uneg-uneg di blog ini, bahkan mengisi beberapa antologi buku yang terbit secara indie.

Cinta dan persahabatan di kelas 3 IPS 1 pernah mewarnai saya. Selepas SMU,di buku harian  saya menuliskan kenangan tentang kelas itu dengan sebutan kelas matahari. Kelas matahari pernah membiaskan warna-warni pelangi di hati saya. Sinar-sinar dari wajah teman-teman saya lewat senyum, canda, dan tawa pernah membuat hari-hari saya terasa hangat.

Pacaran, tidak ada dalam kamus hidup saya. Namun di kelas itu saya merasakan banyak cinta dari teman-teman saya, dari teman-teman terdekat yang selalu membuat dunia abu-abu putih itu tak pernah kelabu. Membahas lagu yang diputar di stasiun radio favorit, bercanda di sela-sela jam kosong, atau sekedar membahas adik kelas yang jadi gebetan teman-teman dekat adalah hal yang membuat waktu tak pernah jemu.

Salah satu warna pelangi itu lagi-lagi juga bertautan dengan buku. Selain memiliki sahabat, teman sebangku,  yang hingga kini masih tetap terjalin silaturahminya, saya juga menemukan teman yang seru ketika mengobrol soal buku. D, sebut saja begitu, ia yang memperkenalkan saya pada sastrawan yang saya kagumi larik-lariknya: Sapardi Djoko Damono.  Perkenalan saya dengan Dewi Lestari lewat Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh pun bermula  oleh sebab D yang membawa buku bersampul biru itu di kelas. Menerbitkan rasa iri terhadap sohib sebangku adalah perasaan bangga tersendiri ketika D meminjamkan buku itu kepada saya. Merasa disepesialkan karena buku baru itu bisa jatuh ke tangan saya, ehm…ehmmm…Saya bisa terbahak-bahak di depan sohib saya sebab buku incaran itu jatuh ke tangan saya :D. “Aku yang dipinjami, bukan kamu!” Perasaan bangga yang remeh temeh dan norak itu nyatanya memberi warna tersendiri bagi kami.

Juga ketika remaja dihebohkan film Ada Apa dengan Cinta. Sekedar membahas gantengnya Nicolas Saputra atau cakepnya Dian Sastro yang diidolakan D adalah kelaziman masa remaja yang saya alami. Kelas saya turut heboh. Lagi-lagi, membuat iri sohib itu begitu menyenangkan ketika kaset soundtrack itu jatuh ke tangan saya untuk dipinjamkan. Hehehehe. Ya, perasaan iri namun tetap berbagi itu yang membuat perasaan kami justru dinamis. Perasaan itu pula yang membuat hubungan kami selalu awet. Nyatanya, dari remeh-temeh seperti itu persahabatan saya dengan teman sebangku tak lekang oleh waktu. Kami disatukan oleh ketertarikan yang sama. Hingga kini kami menjadi sama-sama berstatus sebagai emak, persahabatan itu tetap terawat di hati. Cinta yang tumbuh dari bangku abu-abu putih bersama buku itu selalu terjaga.

*sekedar catatan kilat yang ditulis untuk mengikuti Giveaway Nostalgia Putih-Abu

a ga smu

[Diari Janitra] Gowes #4: Wah, Bocor…Bocor!

Cuaca sore tadi cenderung mendung, namun tekad kami untuk gowes tak terpengaruh kelabu. Untuk berjaga-jaga, kami membawa 1 jas hujan untuk Janitra. Bapak ibuk hujan-hujanan saja bila hujan.

Pukul 4 sore kami berangkat. Dari Tegalsari, sepeda kami kayuh menuju SMU 5 Magelang. Dari sekolah yang mengedepankan bidang olahraga itu, kami melaju masuk Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeroyo. Keluar RSJ, sepeda melaju memasuki Armada Estate lalu Perumahan Depkes. Rute ini sama dengan rute menuju rumah pada gowes #2.

Yang berbeda dari rute gowes #2, dari Perumahan Depkes kami berbelok ke Gintung, Jambewangi, Secang. Gowes kali ini buat saya punya progres yang berarti. Selain saya menaikkan beberapa senti sedel sepeda, 3 kali tanjakan bisa saya lewati.

Di salah satu tanjakan, sayup-sayup saya dengar Janitra berseru, ” ibuk kuat…. ibuk kuat….!” Hehehe, biasanya di puncak tanjakan saya akan berteriak, Yeee… ibuk menang!

Gintung terlewati berikutnya adalah Armed Naga Pakca Sambung. Masuk Armed, dari belakang bapak berseru, “bocor… bocor…!”

Yaa…ban depan bocor! Terakhir, ban belakang bocor dan telah diganti. Kini giliran ban depan minta ganti.  Ya sudahlah, sepeda kami tuntun. Saya juga ikutan jalan kaki deh. Untung sudah sampai Armed, sudah tidak jauh dari rumah.

IMG-20160115-00303

IMG-20160115-00305

Beberapa langkah kami berjalan, terdengar suara terompet. ” Jam 5!” kata bapak. Terompet itu penanda waktu.  Waw, berarti sudah 1 jam kami mengayuh sepeda.
IMG-20160115-00307
Keluar Armed Sambung, kami menyebarang Jalan Raya Secang, melewati POM bensin, warung Jadul, masuk perumahan Sambung, menysuri beberapa petak sawah, menyebrang kali, sampai deh di rumah.

Gowes ini  kami agendakan dua kali dalam sepekan. Kami bertekad menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga dan pilihan olahraga kami adalah bersepeda 😀

 

 

#diariJanitra_3,5tahun

[Diari Janitra]Gowes #2: Dari Tepi Kalibening hingga Kota Magelang

Baru pulang kerja belum sampai rumah, satu sms dari paknda Janitra sudah masuk: “Hari yang cerah untuk pit-pitan”. Maka saya pun bergegas. Begitu tiba di rumah, ganti baju langsung berangkat. Kring…kring.. gowes… gowes.

Sore tadi Janitra yang masih duduk di boncengan bapak menyusuri Secang bagian utara, tepatnya masih kelurahan Jambewangi. Dari rumah Tegalsari, kami masuk Armed Sambung, selanjutnya masuk dusun Mbugel. Keberanian saya teruji ketika menuruni jalan-jalan berlubang dengan tebaran kerikil. Ah, saya ragu, maka saya memilih menuntun sepeda. Ngeri melihat tebaran kerikil, air yang menggenang, dan bopeng di sana-sini. Jalan itu memang sering dilewati truk bermuatan karena tak jauh dari nGugel terdapat lokasi pemecahan batu-batu split untuk bangunan. Lokasi berada di tengah-tengah persawahan.

Ini Pengalaman baru buat Janitra. Setelah menukik di turunan, lepas dari jalanan berlubang, jalan setapak tepi kali sungguh enak dilewati. Kalibening yang tak lagi bening, kami susuri. Tentu saja ini bukan Kalibening yang biasa sebagai tempat pemandian. Kali yang kami susuri ini aliran Kalibening dari kali yang sumbernya masih bening. Kalibening yang berada di daerah “Kalibening yang itu” airnya belum tercemar. Makin jauh mengalir, alirannya makin keruh. Meski begitu, kami mendapat beberapa orang yang memanfaatnya airnya untuk mencuci bahkan mandi.

Pemandangan yang menyegarkan sore itu memanjakan kami. Mata disuguhi dengan persawahan berlatar gunung Sumbing Sindoro.

Image5961

Image5962

Image5963

Menyusuri Kalibening, kami kemudian memasuki Kota Magelang. Perumahan depkes menjadi daerah yang pertama kami susuri.

 

Keluar dari perumahan depkes, Armada Estate menjadi rute selanjutnya. Perumahan itu terbilang asri. Pepohonan menaungi kami sepanjang perjalanan yang terbilang singkat.

Image5970

Keluar dari Armada Estate, istirahat sejenak di Milky Moo dulu. Masing-masing dari kami memilih varian susu yang berbeda.

Image5971

Kami tak lama sebab  minuman itu kami bawa pulang. Berikutnya adalah menyusuri bagian depan Rumah Sakit Jiwa  Dr. Soeroyo, rumah sakit jiwa terbesar di Indonesia. Tempat yang beberapa bangunannya masih klasik itu terbilang teduh.

Image5976

Dari RSJ kami masuk daerah Secang lagi melewati Pagiren. Lokasi SMU 5 Magelang sudah kerap kami lalui setiap kali gowes.

Lagi-lagi menyusuri sungai lagi, Kali Manggis, sampai deh di rumah. Saatnya menikmati Milky Moo yang masih hangat. Segar rasanya, susu tersebut manisnya pas sebab tanpa pemanis buatan. Strawberi yogurt yang dipilih Janitra ternyata yang paling mantab dibanging tiramisu dan green tea yang dipilih bapak ibuk :D.

Image5979

 

#diariJanitra_3,5tahun

 

 

Buku-Buku di 2015

Saya suka tampilan My Year 2015 in Books di Goodreads . Saya tidak hanya bisa melihat buku-buku yang berhasil saya tuntaskan namun juga total halaman, rata-rata, rating tertinggi, dan buku populer dan tidak yang saya baca. Berikut tampilannya:

Untitled

gr 2

gr 3

 

gr 4

gr 5

gr 6

gr 7

Tahun 2015 saya memasang tantangan 40 buku di goodreads gara-gara tahun sebelumnya tuntas 40 buku. Nyatanya saya hanya bisa menyelesaikan 24 buku, jauh banget (entah mengapa 1 buku, Sekali Peristiwa di Banten Selatan-Pramoedya Ananta Toer- fotonya tidak tampil) . Tidak semua buku yang saya baca koleksi pribadi. Banyak diantaranya saya pinjam dari perpustakaan. Alhamdulillah ada 4 buku yang saya dapatkan gratis:

  1. Perempuan yang Menggetarkan Surga, saya dapatkan dari Bentang karena menang salah satu cermin
  2. Koala Kumal, GA dari Luckty Giyan di WordPress
  3. Sunshine Becomes You, menang kuis dari Binta Al Mamba di FB
  4. Rust in Pieces, GA dari Goodreads

Semoga tahun ini buku yang terbaca makin banyak dan makin beragam, amin 🙂