Malam Berpelangi di Monjali

Sejak    Desember  2011  halaman sekitar Monumen Jogja Kembali bertabur warna-warni pelangi saat malam. Ada puluhan lampion aneka warna dengan lampu di dalamnya sehingga memancarkan cahaya warna-warni. Sejak masuk lokasi, pengunjung sudah disambut dengan gerbang dari lampion. Sepanjang halaman di sekeliling monumen beragam tema lampion berselang-seling memancarkan keindahan.

img_20170215_193229

Karena kami datang sesaat setelah jam buka, yaitu pukul 17.0,   jadi kami bisa menikmati senja di taman pelangi. Lembayung langit di kejauhan indah berpadu dengan lampion yang mulai memancarkan cahaya lampu.

20170215_181114

20170215_180957

Ada aneka satwa purba, darat, udara, laut bersanding dengan taman dan pepohonan berwarna warni.  Tema ikon wisata dalam negeri seperti tugu Jogja, hinga ikon luar negeri seperti menara eifel, bangunan khas Cina dan Korea juga tersaji indah.  Presiden  Indonesia juga hadir dalam bentuk karikatur wajah yang apik, berjejaran dari presiden pertama hingga terakhir sekarang.

img_20170215_190342

img_20170215_190749

img_20170215_194503

img_20170215_190630

img_20170215_190204

img_20170215_185456

Merasa lapar saat jalan-jalan, jangan khawatir. Ada banyak food court di halaman belakang maupun depan yang terpusat.  Bangku-bangku dan meja kayu bersanding dengan lampion menambah kesan makan malam yang tidak biasa.

img_20170215_185609-1

makan malam di depan menara eifel?

Aneka wahana bermain anak terpusat di depan. Ada trampolin, kora-kora, bom-bom car, kereta mini,  mobil kayuh, becak mini, dunia balon, komidi putar, wahana air, bahkan rumah hantu pun ada bagi yang ingin uji nyali. Semua wahana permainan dikenai tiket sekitar 10 ribu hingga 20 ribu.

img_20170215_194107

Jalan-jalan ke taman pelangi bisa menjadi alternatif jalan-jalan malam yang lengkap bersama keluarga. Dengan htm sebesar Rp.15.000 kebersamaan dengan keluarga akan terasa semarak di taman ini.

img_20170215_190004

dijepret mas @argo_prasetyo

img_20170215_184555

img_20170215_184820

img_20170215_185021

 

Lampion di Monjali menambah semarak Yogyakarta. Yogyakarta punya seribu alasan untuk kembali. Ya… Jogja memang never ending Asia!

img_20170215_190946-1

Iklan

Debur Ombak Pecah Tawa di Pantai Sadranan

“Dunia ini bagaikan buku raksasa. Dan mereka yang tidak melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman saja” -St. Agustine*

Pantai selanjutnya  yang harus dikunjungi ketika eksplore Gunung Kidul adalah Sadranan. Agaknya setiap pantai di Gunung Kidul menawarkan kekhasan dan pesonanya sendiri-sendiri. Pantai ini menjadi pilihan bagi pecinta snorkeling.

Dari Pok Tunggal, kami sempatkan untuk mampir Sadranan karena penasaran dengan keindahan bawah lautnya. Begitu tiba di lokasi…waw…komentarnya satu… rameeenyaaa….!!!

img-20170101-wa0047

Suasana ini sangat kontras dengan Pok Tunggal yang baru kami tinggalkan.  Pengunjung memenuhi bibir pantai. Sementara di sepanjang pantai, lapak-lapak yang menyewakan peralatan snorkeling senilai sewa Rp50.000 berjajar. Jasa pendampingan tentu saja tersedia bagi yang belum terbiasa nyemplung dengan peralatan menyelam.

Sempat ingin segera meninggalkan tempat itu sesegara mungkin karena ramenya. Tak tahu kalau ada pengalaman seru yang membuat kami enggan beranjak dari sana.  Karena kami belum ingin mencoba snorkeling di sana, maka kami duduk bersama pengunjung lain di bibir pantai.

img-20170101-wa0037

Inilah  sensasi yang belum pernah saya dapatkan di pantai lain.  Seiring pecah ombak yang datang menerpa kami, pecah pula tawa kami. Jerit bahagia terdengar di sana-sini bersamaan dengan ombak yang menerjang. Ombaknya seruuuu….  komentar kami. Anak-anak tak kalah girang. Saya tak perlu khawatir terseret ombak meski ombaknya kenceng. Iya…berbeda dengan di Pantai Parangtritis yang pernah saya rasakan, tahu-tahu bergeser  seirama ombak. Di pantai ini, dengan saling berpengangan erat-erat, kami cukup terpental namun tak terseret ombak.  Kami selalu penasaran ketika ombak datang.  Tawa pecah bahagia beriringan dengan debur  ombak yang datang dan pergi.

Bagaimana dengan para pengunjung yang mencoba snorkeling? Menurut seorang adik yang duduk di sebelah kami, ada aneka satwa laut yang indah di bawah. Ikan aneka warna berseliweran. Biota laut yang lain juga turut memanjakan mata para pecinta snorkeling.  Tak hanya itu dari tempat saya duduk, saya melihat seorang yang asyik dengan papan seluncurnya.

Jadi, mau pilih mencoba yang mana?

 

 

 

*kutipan dari tulisan Sarra Risman

Geliat Pagi di Pantai Pok Tunggal

Pagi di Pok Tunggal dimulai dari kelap-kelip yang bertebaran di laut. Ombak sudah surut. Banyak penduduk yang menjemput rejeki mencari keong laut dan binatang lain yang bernilai ekonomi. Para penghuni tenda pun mulai keluar. Selepas subuh, ketika langit berangsur terang, kami mulai turun ke bibir pantai. Berjalan di atas karang-karang, anak-anak yang paling senang. Mereka berburu binatang laut. Orang dewasa sibuk mengabadikan moment. Berfoto, selfi, dan merekam suasana sekitar.

20161231_052013

img_20161231_051633

20161231_052710-1

20161231_055429

img_20161231_055645

Semakin pagi, kami semakin seru bermain air. Bercanda dengan ombak menjadi aktivitas wajib yang anak-anak lakukan. Saya sendiri lebih suka menikmati suasana pagi.

img_20161231_060747

img_20161231_060608

20161231_055415

img_20161231_060814

20161231_054739-2

img_20161231_055413

20161231_055231

20161231_055334

Berdua dengan suami karena Janitra asyik bermain dengan kakak-kakaknya, saya mulai mengeksplor lokasi. Berjalan-jalan di sekitar karang sayang untuk dilewatkan. Naik tebing menjadi pilihan kami selanjutnya.  Dari ketinggian, kami bisa menikmati pantai dengan sudut pandang yang berbeda. Banyak gazebo yang disewakan di tebing-tebing dengan biaya Rp20.000.

img_20161231_070111img_20161231_070047

img_20161231_070811

img_20161231_070709

Semakin tinggi matahari, pantai semakin ramai. Payung-payung  mulai berdiri.Ijin pendirian tenda hanya sampai pagi hari.  Kami pun segera merapikan tenda dan bersiap melanjutkan perjalanan.

img_20161231_071623

img_20161231_082915

Senja di Pantai Pok Tunggal

Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu (QS. 71:19—20)

 

Liburan akhir 2016 lalu, tapi baru disempetin nulis catatanya sekarang. Karena perjalalan ini sayang untuk dilewatkan tanpa catatan, maka saya kumpulkan segala ingatan satu setengah bulan silam.

 

Berkemah di pantai, sudah masuk dalam rencana liburan berbulan-bulan sebelumnya. Rencana awal kami akan pergi bertiga saja dengan motor, nginep semalam di pantai kemudian eksplore sekitar. Ternyata, keluarga kakak menginginkan piknik bareng. Mereka setuju kami ajak bermalam di hotel seribu bintang, langsung di depan debur ombak di atas pasir.

 

Menghindari kemacetan, kami sengaja berangkat sebelum pergantian tahun. Di hantar hujan pada Jumat, 30 Desember 2016, berangkatlah kami pelan-pelan. Dalam perjalanan terus merapal doa sampai di sana semesta mendukung kami berkemah di pantai.

Selama perjalanan hujan berselang-seling membingkai  kami. Semakin jauh masuk Yogyakarta, hujan semakin merenggang. Satu kali istirahat shalat Jumat di masjid kampus UGM, kami lanjutkan perjalanan ke Gunung Kidul melewati daerah Panggang yang lebih lancar lalu lintasnya.

 

Sempat terterpa hujan begitu tiba di daerah Gunung Kidul, begitu memasuki jalur pantai cuaca mendukung. Alhamdulillah. Melewati beberapa pantai, terlihat keramaian. Lebih-lebih di Indrayanti. Penuh.

Dari Indrayanti, kendaraan terus melaju. Pantai Pok Tunggal tujuan kami. Pantai yang bersih dengan camping ground di tepi pantai. Beberapa menit dari Indrayanti, sampailah kami di simpang jalan menuju Pok Tunggal. Kalau terus, pantai  selanjutnya adalah  Siung.

Rute menuju lokasi ternyata waw… Jalan yang sempit dengan bopeng di sana-sini, dengan selingan naik turun menjadi tantangan tersendiri. Seru malahan. Pemandangan yang khas di tepi jalan adalah perkebunan srikaya. Ada bebarapa lapak yang menjual buah itu.

Sekitar pukul setengah lima, sampailah kami di hadapan pantai yang sepi dan bersih. Suasananya sangat kontras dengan Indrayanti yang baru saja kami lewati. Pok Tunggal, dengan pohon Durasnya yang khas kini mulai meranggas, menyambut kami dengan pesonanya. Pasir putih, ombak yang tenang, tebing-tebing yang memagari, dan deretan payung warna-warni di atas pasir.

 

img_20161230_170000_hdr

 

 

Sudah ada tenda yang berdiri tepat beberapa meter dari bibir pantai. Maka kami mulai mendirikan dua tenda. Satu tenda dari rumah, satu lagi tenda sewa dari Magelang. Di pantai tersedia juga persewaan tenda dengan biaya Rp.60.000 per malam. Kalau hanya semalam saja jalan-jalannya, lebih irit sewa tenda dari persewaan outdoor adventure. Kalau di Magelang biayanya 30ribu per 24 jam. Tapi jika ingin berhari-hari di sana, sama saja kan jatuhnya, pinjam tenda di lokasi bisa jadi pilihan.

 

img_20161230_175059_hdr

img_20161230_180113_hdr

img_20161230_180004_hdr

Senja yang menakjubkan adalah rejeki dari Allah yang kami nikmati. Cuaca begitu mendukung sehingga kami bisa puas memandang lukisan Allah.  Inilah yang kami cari. Bersama para pemburu senja lain, kami tak melewatkan setiap detik perubahan warna langit.

img_20161230_175432_hdr

 

img_20161230_175819_hdr

img_20161230_175844_hdr

 

img_20161230_180022_hdr

img_20161230_180142_hdrimg_20161230_180318

Semakin petang, semakin banyak tenda berdiri. Pantai ini memang cocok untuk menyepi dan menikmati ombak tanpa keramaian.  Selepas magrib, ada petugas berkeliling dari tenda ke tenda. Ada iuran lima ribu per tenda yang dipungut untuk kebersihan. Murah kan?

Menikmati waktu bersama keluarga adalah moment berarti yang kami lewatkan di depan tenda Semakin malam, langit semakin terang. Ketika berangkat tidur langit begitu gelap, di tengah malam gemintang sudah  memayungi tenda kami. Saya terbangun oleh tawa dan semangat ponakan-ponakan yang menikmati bintang. Janitra, sengaja tidak saya bangunkan karena tidurnya begitu pulas.

 

Apa yang saya nikmati bawah langit adalah hal yang meninggalkan kesan mendalam. Tidur ditemani debur ombak yang semakin malam semakin pasang, riuh rendah suara ponakan, dan tenda tetangga yang menikmati kebersamaan seperti kami.  Kami tak perlu khawatir kelaparan atau kesusahan mencari toilet. Di belakang tenda kami, banyak warung 24 jam dan toilet yang bersih. Sarana ibadah juga tersedia di sana. Cukup lapang dengan tempat wudhu yang memadai. Betapa nyaman melewatkan malam di sana.

 

Menjelang dini hari, terlihat kelap-kelip dari kejauhan. Merekalah penduduk sekitar yang menjemput rejeki dengan mencari keong pantai dan aneka binatang laut lain yang terlihat ketika ombak mulai surut.

 

[Gado-Gado Sekolah #23] Berlatih Pembagian dengan Menangkap Ubur-Ubur

Pelajaran matematika seringkali menjadi momok bagi anak-anak.  Matematika dasar, seperti perkalian dan pembagian, bila tidak dipelajari dengan serius dan penuh pemahaman, maka hingga materi lanjutan anak akan malas dan menganggap sulit. Belajar matematika dasar dengan menyenangkan  bisa mengubah paradigma anak terhadap matematika.

Ketika ilmu dasarnya sudah dikuasai namun kurang berlatih pun, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Sebagai contoh pembagian. Anak yang sudah menguasai poro gapit namun kurang berlatih, tentu kecepatan dan ketepatan berhitungnya tidak akan maksimal jika kurang berlatih. Pengulangan, hal yang tidak setiap anak mau melakukannya karena bosan atau momok tadi.

 

Sebagai sarana melatih ketrampilan berhitung khususnya anak-anak, saya memberikan permainan menangkap ubur-ubur yang idenya saya dapatkan dari blog Cerivitas. Blog ini penuh dengan ide permainan matematika yang seru dan menyenangkan. Saya terapkan permainan ini pada kelas matematika di Sabtu Ceria.

Dalam permainan menangkap ubur-ubur,anak-anak dibagi dalam kelompok. Anak yang paling banyak menangkap ubur-ubur akan mendapatkan hadiah. Ada kartu-kartu soal pembagian yang harus diambil anak untuk dihitung.  Anak akan menghitung dengan poro gapit atau yang menguasai jarimatika menggunakan jarimatika. Jawabannya  mereka cari pada ubur-ubur. Ubur-ubur yang mereka tangkap mereka warnai.  Di sinilah sisi menyenangkannya. Meskipun mereka harus berjuang menghitung, ketika berhasil mewarnai ubur-ubur anak akan senang. Kompetisi dalam ketrampilan berhitung terlihat dari banyaknya ubur-ubur yang berhasil diwarnai.

20170211_093044-1

Kalau menilik taksonomi Bloom, permainan ini melibatkan ketiga aspek, baik kognitif, piskomotorik, maupun afektif. Kognitif terlihat pada saat anak menghitung, psikomotorik terlihat dari ketrampilan anak mewarnai gambar, dan afektif tentu saja ada pada sifat teliti menghitung, gigih, dan sabar menunggu giliran bermain, sabar menunggu teman menghitung dan mewarnai.

20170204_094242

20170204_094308

Permainan ini disukai anak-anak. Terbukti, pada pertemuan berikutnya anak meminta memainkannya lagi, namun dengan gambar yang berbeda. Anak meminta dibuatkan gambar makanan. Maka, saya mengulang permainan itu dengan gambar aneka makanan dan minuman.

 

 

 

 

Menjadi Seperti Mbak Cyra?

“Amek, apa kabar negeri kita ini?”

“Indonesia main bola.”

Di lain kesempatan, Amek kembali ditanya,

“Amek, apa kabar negeri kita ini?”

“Bima kemarau panjang, Jakarta banjir.”

Pertanyaan apa kabar negeri kita, adalah sapaan pertama yang selalu diajukan orang-orang terdekat Amek setiap kali bertemu dengannya. Amek begitu getol menyaksikan berita apapun  dari televisi. Ia juga dengan lugas bisa menceritakan berita apa yang baru dilihatnya. Tak hanya itu, Amek juga gemar menirukan presenter berita beraksi. Di tepi jendela yang dianggapnya sebagai layar, Amek menyiarkan berita secara fasih.  Itu sebabnya, ia pernah dianggap ganjil karena berbicara sendiri.

amek-2

Suatu ketika di kelas, bu guru menanyakan cita-cita anak-anak. Tidak seperti teman-temannya yang bisa menyebutkan cita-cita mereka, Amek justru terdiam.  Ia tak ungkapkan apa yang menjadi impiannya, apa yang selama ini ia gemari. Menonton berita dan menceritakan berita, sejatinya adalah harapannya.  Amek juga enggan menggantungkan cita-citanya pada botol pada pohon besar di bukit, tempat segala harapan dan impian digantungkan oleh teman-temannya.  Barangkali, bagi Amek yang hidup amat sederhana, mempunyai cita-cita adalah hal yang tak mudah. Seperti halnya kelulusan di sekolahnya. Jalan cerita membawa Amek pada satu titik ia bisa bersyukur dan berani menuangkan cita-citanya pada selembar kertas yang ia ikatkan pada kumbang yang terbang.

amek-1

Itulah  sekelumit cerita dari film Serdadu Kumbang, film lama yang baru-baru ini saya tonton bersama anak-anak SMPIT di kelas dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Dari berbagai aspek saya menyukai film itu. Inspirasinya mengena buat anak-anak di kelas saya.

Melihat sosok Amek, saya teringat Janitra anak saya. Ia sedang getol-getolnya menonton acara Fun Time. Sosok Cyra rupanya menjadi model bagi Janitra. Ia kerap menirukan aksi Cyra. Menjejerkan peralatan ketrampilan semacam gunting, kertas, lem, lalu ia berbicara seperti  Cyra.  Tak hanya itu, ketika Janitra memegang sesuatu yang potensial dijadikan bahan ketrampilan semacam kain flanel, ia akan melipat-lipat ngawur dan berbiicara, “jadinya seperti ini ya fun friend.” Heheh, dianggapnya lipatan-lipatan itu dompet barangkali.

Janitra kerap menirukan closing dari sesi fun creation  yang dipandu Cyra. “Fun friend, kamu punya karya yang bla…bla…”  ia akan menirukan gaya dan logat bicara Cyra. Kemunculan mbak Cyra, begitu Janitra memanggilnya, selalu dinanti-nanti.

Jauh sebelumnya, Janitra suka sekali melihat rekaman video pembelajaran bahasa Indonesia yang saya ambil saat anak-anak bermain drama. Ada adegan yang begitu disukai dan ditirukan, saat mbak Rena menjadi MC dari sebuah acara dalam drama itu.

Janitra kerap beraksi di samping kipas angin besar yang kabelnya menjulur. Kabel itu dipakainya sebagai mic lalu ia membuat acara penyerahan hadiah seperti yang mbak Rena lakukan.

Suka saya melihatnya. Apakah itu bakat dan minat Janitra?

Anak-anak seusia Janitra, 4,5an tahun (di bawah 7 th)  belum terlihat bakat dan dominan anak. Banyak hal yang diminati dan disukai anak. Bisa saja berubah-ubah. Saya belum bisa menentukan kalau Janitra berbakat dan minat dalam public speaking. Belum. Ia masih suka bereksplorasi dan melakukan beraneka kegiatan. Namun, sebagai orang tua tidak ada salahnya saya mendokumentasikan dan menandai apa yang menjadi ketertarikannya saat ini.  Kalau apa yang ia gemari sekarang ternyata akan terus digemari dan berkembang serta perlu terus dikembangkan saya tentu akan mendukung sepenuhnya.

Nah, bagaiman dengan minat putra putri  Anda saat ini?

 

 

 

 

#DiaryJanitra_4y7m

Ada yang Masih Mengingat Saya!

“Masih kerja di perpus,Bu?” sapa seorang lelaki tinggi besar ketika saya turun dari angkot sore ini. Saya tidak langsung berlalu gegara eyel-eyelan dengan sopir angkot baik hati yang tidak mau saya bayar.  Sopir angkot menurunkan saya di terminal, bukan di tempat semestinya saya turun.

Saya tidak mengenali dia. “Kok tahu saya dulu kerja di perpus?” tanya saya meski sebenarnya pertanyaan dalam hati, “Kok masih bisa mengingat saya?”

Sudah saya tebak dalam hati kalau dia pastilah dulu sering datang ke perpus. Ah, ini luar biasa, ada pengunjung perpus yang tiba-tiba menyapa.

“Saya dulu masih SMP sering ke perpus.”  Ia  pasti melihat saya berkerut-kerut  mengingat sebab exited melihat lelaki yang sama sekali tak saya sangka dulu adalah pengunjung perpus. Tak menyangka lelaki itu mengenal saya ketika masih bocah.

“Sudah lama sekali bu, dulu sekali…”

Saya senyum-senyum mendapati ada orang yang mengingat saya sebagai petugas perpus.

“tahun 2003 atau 2004,” lanjutnya menerawang.

“2007 ta mas,” ujar saya. Waktu itu penjaga perpus adalah karir transisi saya begitu lulus kuliah dan masih menanti pekerjaan yang akan saya jalani.

“Iya, 2007..” Ia mengiyakan.

“dulu SMP mana?”

“SMP satu,”  jawabnya. Iya, memang dulu anak SMP satu banyak yang menjadi anggota perpus kecamatan.

Anak yang dulu masih bercelana pendek itu kini sudah menjelma lelaki tinggi besar, tentu saya tidak akan mengenali. Lagipula, ada banyak siswa yang datang.

Sembilan tahun berlalu. Ternyata bukan waktu yang singkat. Waktu yang mampu mengubah orang menjadi sosok yang jauuuh berbeda. Ia yang dulu berwajah bocah, kini menjelma lelaki dewasa.

Tak menyangka ada orang yang masih mengingat wajah saya. Barangkali, tak banyak yang berubah dalam diri saya. Sementara pada diri orang lain, terjadi metamorfosa yang perubahannya begitu mencolok di mata orang lain yang tak pernah berjumpa.

Lulus kuliah, ada waktu jeda beberapa bulan sampai saya memantabkan hati menjadi guru sampai sekarang. Perpustakaan menjadi tempat mengisi waktu luang. Hanya karena saya seorang yang dekat dengan petugas perpus dan sering datang, saya ditawari menggantikan tugasnya.

Banyak orang yang saya temui selama 3 bulan menggantikan petugas perpus yang cuti melahirkan.  Waktu telah mengubah hidup mereka. Ada yang sudah menikah dan memiliki anak. Ada siswi SMU yang kini sudah menjadi pengajar seperti saya. Sebagian dari mereka masih saya kenal dan masih bersay hallo ketika saya temui. Tapi, kalau anak-anak, mereka sungguh menjadi sosok yang berbeda kan?

Tak hanya para anggota perpus saja yang berbeda. Ketika saya bekerja, perpus itu hanya menempati satu bilik sempit di pojokan gedung pertemuaan di kompleks kecamatan.  Raknya pun hanya dua. Sekarang, wajahnya berubah.

Perpustakaan Manca Grabag kini memiliki gedung sendiri.  Lumayan sebagai perpus kecamatan yang bisa dijadikan pilihan mencari ilmu.

20160324_120846