[DiaryRamadhan #1] Poso Bedhug, Langkah Awal Belajar Puasa

Salah satu target Ramadhan ini adalah mengantar anak belajar berpuasa. Janitra sudah 6 tahun Ramadhan ini. Sudah saatnya belajar berpuasa. Maka jelang Ramadhan kemarin, kami sudah gencar memotivasi Janitra untuk belajar berpuasa sembari belajar pembiasaan shalat yang terus berjalan.

Dalam tahap belajar,programnya adalah belajar puasa sampai duhur disambung lagi sampai magrib atau istilah kami poso bedhug. Alhamdulillah hari ini lolos, semoga istiqomah hingga hari terakhir nanti aamiin.

Belajar puasa bagi Janitra dan orang tua adalah perjuangan tersendiri. Kami harus punya pengalih segala laparnya, biar lupa sego. Mulai dari bangun pagi sudah pingin makan (setelah sahur tidur lagi). Bapaknya mengalihkan dengan mainan tripod dan handycam tanpa batre, hehehe…   gaya-gayaan shooting.  Selesai mainan peran itu kemudian mandi.

Inisiatif Janitra untuk fun creation, maka saya ajak untuk mainan air brush dengan dedaunan, sikat, sisir, dan pewarna makan. Ia cukup menikmati meski tak lama.

20180517_084029-01

hasil editan ala-ala dari Janitra, editan asal pencet yang nggak mau kalah dengan ibuknya saat mainan edit foto 😀

Nah, mulailah masuk waktu-waktu kritis ketika selesai mainan tersebut. Ia mulai merengek minta makan. Baru jam setengah sepuluh. Untungnya rengekannya wajar tak sampai marah dan rewel.

 

Kami alihkan lagi dengan Upin Ipin, animasi kesukaan Janitra. Karena di rumah simbah tak ada TV, maka relakan youtube untuk Ipin Upin. Bapak yang jadi Pjnya, hehehe… soal begituan bapak yang lebih telaten.

Ipin Upin lewat, ia minta es krim untuk berbuka. Oke, ibuk belikan. Pas tong duhur saya sudah sampai rumah dengan es krim kecil saja. Alhamdulillah. Masa-masa kritis terlampaui.

Siang hari lewat dengan tidur siang. Setelah ashar, kegiatan Janitra membantu membuat perkedel kesukaan. Tantangan lagi, ia pingin icip-icip. Kami tanggapi dengan becanda. Lolos. Setelahnya, saya tawarkan coret-coret  di komputer dengan  paint. Hanya sebentar saja karena pegel katanya. Iya, memang Janitra tidak dibiasakan main komputer.  Jelang berbuka, saya ajak mengaji. Lumayanlah, meski dapat beberapa ayat saja sambil ibunya juga bisa ikutan.

Alhamdulillah hari ini sukses. Kami ingin memberi kesan menyenangkan buat Janitra. Puasa itu berat, tapi kami tak ingin itu jadi momok sehingga ia mau istiqomah menjalani hingga esok. Buat ibuknya juga tantangan tersendiri, harus punya banyak stok kegiatan.

Iklan

[DiaryEmak] Gara-Gara Kentang?

20180510_095852-02

 

Pernah nggak sih merasa dongkol dan kepingin marah sendiri gara-gara rencana pagi yang disusun berantakan? Trus sibuk nyari-nyari kambing hitam, bahkan kentang yang nggak salah apa-apa pun berubah jadi kambing?

Untuk bekal Janitra, Senin kemarin sudah saya rencanakan bikin perkedel kentang. Janitra request dibuatkan. Pukul 3 dini hari saya bangun, ternyata setengah empat saatnya masuk dapur, sudah ada yang mendahului berkativitas di dapur. Saya tipe ibu yang suka beraktivitas pagi dalam suasana sepi jadi bebas ‘menguasai’ dapur. Jadilah saya enggan masuk dapur nunggu selo.

Ah, memang nasib emak-emak yang sifatnya kayak saya ini ketika harus tinggal serumah dengan mertua dan saudara jadi harus bisa mencari celah agar tetap bisa berekspresi.  Ketika apa yang kita punya,apa yang di depan mata, apa yang kita tempati harus berbagi dengan orang lain, ketika harus berdamai dengan hiruk pikuk sementara kita terbiasa dengan kesunyian dan kedamaian, maka pintar-pintarnya emak memenejemen hati.

Jarum jam sudah beranjak di angka 4. Mau nggak mau saya harus siap di dapur apapun yang terjadi. Pertama saya hidupkan kompor. Goreng kentang kan bisa disambi nyuci beras untuk persiapan masak nasi dan nyuci piring dan gelas di bak cucian.

Rasanya sudah lama kentang digoreng dan dibolak-balik, tapi olalaaa…ternyata susah ditumbuk, keras. Rupanya saya salah memilih kentang, padahal dari segi penampakan besar dan mulus. Masalah kentang ini cukup menyita waktu. Biasanya sekali tekan dengan ulekan kentang hancur, lha ini butuh dipukul-pukul.  Jadilah kentang jadi sasaran kedongkolan saya, pukul-pukul keras hingga sedikit hancur. Saya pukul sembari meluapkan kekesalan.  Hasilnya, setelah dibulat-bulat masih ada ada bagian-bagian kentang yang benjol-benjol karena tumbukan yang tak sempurna halus.

Nyatanya, subuh menjelang perkedel belum siap. Kalau biasanya setelah subuh semua persiapan bekal sekolah anak beres. Lha ini, goreng kentang saja belum kelar.

Jadilah kedongkolan saya mencapai ubun-ubun. Satu saja episode pagi tidak sesuai timing, maka runtutan episode selanjutnya akan bergeser. Mendadak semuanya terasa salah di mata. Nah, inilah peran setan ketika menghembuskan api di kepala. Kudu banyak-banyak istighfar. Emak-emak pekerja dan punya anak kecil, harus menyiapkan sekolah, rentan cepat tua dan banyak dosa kalau stok sabar tidak terus diperbarui. Pagi adalah masa-masa kritis, menentukan apakah senyum ataukah amarah yang akan menjadi catatan amal di awal hari itu.

Kalau kalian, apa catatan pagimu, semoga senyum yang tertoreh! J

ASUS: Si Hitam Bandel yang Tak Membuat Kecewa

Februari 2010

Keputusan untuk membeli netbook semakin bulat. Sebagai guru, saya membutuhkan netbook untuk membuat segala administrasi pembelajaran, dari perangkat pembelajaran hingga  penilaian. Sebagai seorang yang sedang belajar nulis saya membutuhkan alat ketik cerita. Saya butuh menyimpan segala ide dan menuliskannya, juga belajar mengirimkan ke beberapa media. Kala itu, banyak juga audisi menulis yang  berbuah buku antologi menulis. Sebagai blogger pemula, saya sedang getol-getolnya ngeblog dan belajar dari kampung Multiply yang waktu itu masih eksis.

Tempat tinggal yang jauh dari tempat kerja menjatuhkan pilihan pada netbook yang kecil dan enteng.  Atas rekomendasi seorang teman yang mengerti benar akan teknologi, saya memilih ASUS eee pc 1015p. Netbook 10 inci ini terasa pas di ransel dan tak meganggu mobolitas saya.

Di hitam manis itu untuk selanjutnya menemani hari-hari saya beraktivitas. Dia sudah menjelma soulmate saya, menyimpan segala ide dan cerita-cerita acak adut saya. Sudah beberapa cerita yang dengannya cerita saya ikut dalam buku antologi cerita. Si hitam ini juga menjadi saksi bagaimana kehangatan aktivitas ngeblog bersama Mpers. Cerita suka-duka, kopi darat, juga berbagai perlombaan blog yang saya menangkan maupun sekedar saya ikuti.   Hingga patah hati ketika Multiply tutup dan ASUS jugalah yang menjadi saksi kepindahan saya dari Multiply ke WordPress.

Ia menyimpan puluhan foto perjalanan saya dari saya jomblo hingga berkeluarga dan berputri satu. Perkembangan anak saya dari bayi ceprol hingga kini masuk usia sekolah terekam dan tersimpan dalam netbook ini.

Di sekolah, si Asus ini menemani akting saya di depan kelas. Lewat berbagai video yang saya putarkan dan saya sambungkan di LCD si Asus mendukung kesuksesan saya mengajar.  Bahan mengajar, perangkat pembelajaran, laporan-laporan  BOS yang melelahkan semuanya tersaji dari netbook ini.

mengerjakan laporan BOS dengan si hitam kesayangan 

 

Belum lagi ketika saya mengikuti kuliah UT, si hitam manis ini pendukung nomer satu.  Segala tugas kuliah, laporan, dan presentasi saya sukses dengan bantuan si ASUS, bahkan hingga  saya mendapat gelar memuaskan.

Perjalanan bersama ASUS tentu tak selamanya mulus. Bebrapa kalai si ASUS mengalami sedikit-sedikit kerusakan. Saya tidak kecewa karenanya. Ia si bandel yang tak patah oleh kerusakan kecil. Sedikit sentuhan dari tukang servis akan mengobati lukanya.

Jantung saya hampir copot ketika si hitam kesayangan ini jatuh dari meja setinggi perut saya. Pyaarr…. batrenya lepas dan hampir patah jadi dua. Pojok monitornya sedikit cuil. Hampir menangis saya mendapati netbook saya. Saya mengira, riwayatnya habis malam itu ketika tersenggol tangan dan meluncur. Saya ingat data-data saya, laporan BOS yang hanya saya simpan di sana, cerita-cerita dan foto-foto perjalanan.

Screenshot_2018-01-30-20-13-57-742_com.instagram.android[1]

curhatan saya di IG (awal-awal punya IG yang masih sepi :D) saat si hitam ini jatuh

Ajaib, netbook saya masih hidup. Ini nyata. ASUS memang bandel.  Selama berbulan-bulan ke depan bahkan saya masih mempertahankan batrenya yang hampir patah jadi dua.  Saya makin sayang dengan si hitam manis ini.

Pada akhirnya, saya harus mengganti batrenya yang patah dan charger. Setelahnya, ia beberapa kali masuk bengkel, namun itu tak mengurangi kepercayaan saya pada ASUS. Ia tetaplah netbook bandel yang menemani saya mengkikuti kelas menulis online, menulis cerita anak, mengerjakan laporan BOS, dan sarana mengajar saya di kelas,memutarkan video-video pembelajaran dan motivasi untuk anak.  Gangguan-gangguan kecil  tidak mengurangi rasa sayang saya.

Januari, 2018

Muatan si ASUS makin penuh.

“Sudah saatnya ganti Bu, udah berapa tahun coba. Kalau udah dihitung, sudah berapa tuh nilai penyusutannya,” ujar teman saya yang lulusan Fakultas Ekonomi.

“Aku masih sayang, masih bisa dipakai kok,” kilah saya.

Teman-teman saya justru malah yang sering berseloroh saya harus ganti netbook.  Saya tetap setia. Di saat teman-teman lain mengeluhkan netbook dan laptopnya yang tidak mendukung kinerjanya karena terlalu sering rusak, motherboard-nya yang bermasalah, saya masih ingin bertahan dengan si hitam ini.

Tapi, melihat makin banyaknya beban yang harus disimpan dan berbagai hal yang makin banyak yang harus saya kerjakan, ganti laptop sepertinya harus dipikirkan. Kalau saya mendapat rejeki laptop baru, saya sudah pasti memilih ASUS! Berdasarkan pengalaman, ASUS sudah terbukti bandel, tahan banting, dan kualitas nomer satu. Diantara banyaknya spesifikasi dari laptop ASUS, saya ingin memilih  ASUS X555QA.

Saya tidak akan khawatir seperti teman saya yang motherbodardnya bermasalah, sebab ASUS  merupakan top 2 produsen laptop konsumen dunia dan penghasil motherboard terbaik.

X555 Black_Left Open135

ASUS X555QA diperkuat oleh prosesor AMD 10-9620p yang punya empat inti prosesor (quad core) dan grafis berbasis Radeon R5. AMD A10-9620P ini merupakan APU kelas menengah berbasis Bristol Ridge (prosesor APU generasi ke-7) dengan empat core (dua modul Excavator) dan  bekerja di kecepatan 2,5GHz sampai 3,4GHz.  Chip yang dirilis tahun 2017 ini merupakan perbaikan dari seri Carrizo dan hanya menggunakan daya maksimal 15 watt untuk bekerja. Dengan grafis Radeon R5 uang terdiri dari 384 shader core dan 6 compute core serta kontroler memori dual channel DDR4-18600, prosesor ini menawarkan performa yang lebih tinggi dibandingkan dengan FX-8800P yang merupakan versi flagship terdahulu.

 

Dengan kecepatan itu saya tak perlu takut loading lama di depan anak-anak kelas saya saat mengakses sumber belajar, mendownload sumber belajar dari internet, atau saat membuka file-file penting saat menulis. Saya juga tak perlu emosi tinggi saat harus membuka banyak sheet dan memindah-mindahkan data dari satu sheet ke sheet lain saat membuat laporan BOS.

Apalagi mulai  tahun ajaran yang akan datang saya harus menggunakan Kurikulum 13 untuk  mengajar.  Saya butuh laptop yang lebih prima dan optimal untuk menyimpan data-data nilai dan mengolahnya, menyiapkan perangkat pembelajaran, dan menggunakannya di depan kelas untuk mendukung KBM (memutar video pembelajaran dan motivasi, mencari sumber pembelajaran).

ASUS X555QG dilengkapi dengan sistem operasi Windows 10 di dalamnya. Saya tidak perlu repot membeli dan menginstalasikan terlebih dahulu sistem operasi pada notebook ini sebelum mulai menggunakannya. Saya tinggal pakai saja tanpa, jadi praktis.

ASUS X555QA memiliki performa APU yang mumpuni untuk tampilan grafis yang indah. Notebook ini juga dilengkapi dengan audio bersertifikasi ASUS SonicMaster untuk pengalaman audio yang mengesankan.  Kelebihan ini tentu sangat mendukung saya saat harus memutarkan video pembelajaran di kelas dan memberi motivasi lewat video yang seringkali berlatar belakang musik yang apik. Saat mengetik cerita, lantunan musik yang mengiringi pasti makin mantap dengan audio dari laptop ini.

X555 Black_Left Side

Konektivitas USB 3.0 pada laptop ini akan menawarkan kecepatan transfer yang jauh lebih tinggi terhadap penyimpanan eksternal ataupun perangkat input-output lainnya. Saya akan merasa terbantu sekali saat harus memindahkan data-data pekerjaan  dari flash disk maupun saat transfer foto-foto perjalanan dan aktivitas keseharian dari handphone misalnya.

 

Yang tak kalah penting lagi, karena saya selalu bermasalah dengan baterai laptop, kali ini saya tidak perlu khawatir. ASUS seri ini memiliki baterai Li-Polymer yang menawarkan keawetan hingga 2,5 kali lebih baik dibandingkan dnegan baterai silinder Li-Ion biasa. Meski telah mengalami ratusan siklus pengisian ulang, berkat teknologi ekslusif yang digunakan, baterai tersebut masih tetap mampu menyimpan setidaknya hingga 80 persen dari kapasitas aslinya saat baru dibeli. Cocok sekali buat saya yang ketika sudah asyik dengan pekerjaan sering lupa mengecek indikator baterai. Kalau sudah ngetik cerita dan draft blog, sering lupa waktu jadi  masalah.  Saya tidak perlu sering-sering nyolokin charger kan?

Sudah baterainya awet, ketika saya harus berlama-lama ngeblog atau berselancar blogwalking, googling, mencari data, membaca artikel penting, dan segala aktivitas di dunia maya yang sering melenakan, saya tidak akan merasa senut-senut.  Dengan layar  15.6″ HD 1366×768 (16:9) LED Backlit 60Hz Glare Panel with 45% NTSC ini sangat mendukung kenyamanan saat harus berlama-lama di depan layar.

 

Nah, dengan segala kelebihannya,  ASUS X555QA akan mendukung segala aktivitas saya dalam bekerja (mengajar, membuat laporan), menjadi sarana menyalurkan hobi dan belajar menulis, dan menyimpan segala foto dan catatan perjalanan keluarga saya. Jadi tak sabar, semoga saya mendapatkan laptop ini, aamiin.

 

 

*Foto dan spesifikasi ASUS berasal dari web ASUS dan press release ASUS

Artikel ini diikutsertakan pada Blog Competition ASUS AMD – Laptop For Everyone yang diselenggarakan oleh bocahrenyah.com   

Hammock: Ayunan Hits Anak Zaman Sekarang

Tidak semua keinginan anak kami penuhi, tapi kalau keinginannya itu berkaitan dengan adventure dan barang-barang yang bisa digunakan dalam jangka panjang,kami dengan senang hati mengiyakan. Sebagai contoh, ketika Janitra minta tenda, kami penuhi dengan syarat pakai uang sendiri (lhoo…sama aja boong :D). Begitu pula ketika Janitra minta hammock, tidak lama keinginannya terkabul.  Dua barang itu bisa digunakan hingga Janitra dewasa, tak sekedar mainan biasa. Bahkan bapak ibunya bisa ikut pakai 😀

 

Mengapa ia minta hammock kami tidak pikir panjang mengiyakan?

Zaman saya kecil, bapak membuatkan sebuah ayunan di samping rumah di bawah pohon kelengkeng. Ayunan itu hanya terbuat dari seruas bambu yang di dalamnya dimasukkan seutas tali tambang lalu tali itu diikatkan di sebatang cabang pohon kelengkeng.

Bukan main senang  saya dan kakak memainkan ayunan itu. Duduk, berdiri, berayun-ayun sendiri atau diayunkan. Teman-teman yang datang ke rumah ikut main. Bahkan orang lewat di jalan setapak samping rumah pun ada yang berhenti lalu merasakan sebentar berayun-ayun.

Teringat pula saya pada  ‘hammock’ yang dibuat mas Agung, ponakan yang kreatif. Ia membuat jalinan dari rafia lalu memasangnya di samping rumah pakdhe. Benar-benar seru tiduran di atasnya.

Memberikan ayunan kepada anak pastinya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Melihat anak setiap hari berbahagia, orang tua tak kalah bersyukur. Pun kami sebagai orang tua sudah lama ingin memiliki ayunan buat Janitra. Namun tak terealisasi karena pertimbangan di mana membuatnya, bagaimana, dan mau pakai apa, ban bekas, atau bambu. Tapi yang pasti, pertimbangan lama karena ribet membuatnya.

Ketika Janitra minta hammock, kami anggap itu sebagai solusi jitu. Hammock adalah ayunan “portabel” yang simpel.  Harganya pun tidak begitu mahal dibanding memesan ayunan dari kayu atau besi permanen (ya iyalah, pasti jauuuuhhh beda harganya, si biru yang kami beli ini hanya 80an ribu). Hammock bisa dibongkar pasang sesuai keinginan. Mau dipasang di rumah, oke. Saat hujan bisa dilepas. Mau dipasang di dalam rumah, bisa selama bisa ngebor tembok dan memasang pengait. Pingin traveling ke pantai yang ada pohonnya atau ke hutan pinus bawa hammock, cocok sekali. Apalagi naik gunung, pas sekali bawa hammock.  Ini tentu saja buka soal lagi ngehits jalan-jalan lalu swafoto di atas hammock, tapi pengalaman merasakan buaian alam di atas hammock itu memang beda. Nggak percaya, coba saja! 😀

Begitu keinginan terealisasi, saat mudik ke rumah orang tua, kami bawa hammock dan memasangnya di bawah pohon kelengkeng yang tumbuh bersama masa kecil saya.

Kebahagiaan itu tidak hanya dinikmati Janitra seorang. Ia dan kakak-kakak sepupunya dengan terbahak-bahak berebut dan berayun di bawah pohon klengkeng. Hari itu membawa saya dan kakak bernostalgia masa kecil.

IMG_20180121_144453-02

IMG_20180114_085154_HDR-01

Saya dan suami, tentu saja sangat bahagia bisa berbagi senyum dan tawa. Pekan berikutnya, kakak-kakaknya nungguin Janitra datang lagi ke rumah nenek. Mereka ketagihan! 😀

hammoch

di hutan pinus Mangli, Ngablak, Magelang

IMG-20180417-WA0033

Menepi di Gunung Andong

 

Sembari Ngopi Nikmati Waduk Sermo

Ada ketika saya ingin pergi ke suatu tempat semacam telaga yang luas. Saya duduk di tepinya, memandang luasnya air yang tenang, tak bergolak seperti ombak. Saat-saat seperti itu saya tidak merindukan ombak yang bergulung-gulung dengan irama yang khas. Saya hanya ingin ketenangan, mengurai  segala yang berseliweran di kepala: pekerjaan, rutinitas, dan tetek bengek yang membuat lelah.

Sekian lama keinginan itu mengendap. Pada akhirnya, apa yang saya bayangkan di kepala itu saya temukan pada tempat bernama Waduk Sermo. Rasa penasaran pada waduk yang diresmikan pada jaman Presiden Suharto itu membawa kami melakukan perjalanan pada  liburan ini bersama keluarga. Tak dinyana, tempat itu ternyata yang saya cari selama ini.

Saya menyukai perjalanan menuju waduk. Ini perjalanan yang menjadi favorit saya, selalu suka. Ini bukan perjalanan yang dijebak macet dan disekap baliho-baliho kota. Perjalanan dari Magelang, Mendut lalu menyusuri Kalibawang dan Kulon Progo ini disuguhi landskap pedesaan, luasnya sawah yang dibentengi deretan  Pegunungan Menoreh dan langit yang berawan. Sepanjang perjalanan saya dimanjakan kehijauan di kanan kiri jalan. Tiba di tepi rel kereta api, pas kebetulan kereta api yang lewat menjadi selingan. Bukankah ini menyenangkan?

Begitu tiba di waduk, suasana asri terbentang di depan mata. Waduk Sermo terletak di kawasan suaka margasatwa. Luasnya waduk dikelilingi hutan yang mengular dan pegunungan.


IMG_20171226_115005_HDRIMG_20171226_095948_HDR

IMG_20171226_100049_HDR

 

Saya seketika menyukai tempat ini. Tidak banyak pengunjung. Mereka yang datang memang ingin menikmati waduk: piknik, memancing, dan naik kapal menyusuri waduk. Spot foto? Ada di beberapa titik. Ada 3 dermaga yang salah satunya dipakai untuk tempat pengunjung yang ingin menyusuri waduk. Untuk naik kapal, pengunjung ditarik tiket seharga Rp10.000. Sementara beberapa spot selfi dan taman di tepi waduk, ada loket yang harus dilewati pengunjung untuk membayar tiket.

 

bapak dan anak yang mesra menikmati waduk

Tenang dan damai. Itu yang saya rasakan ketika duduk-duduk di gazebo tepi waduk setelah naik kapal. Baca buku atau sekedar ngopi-ngopi, boleh banget. Tempat ini juga jadi pilihan para pecinta kemping.  Mengamati kesibukan di dermaga menjadi pun ketertarikan tersendiri buat saya.

IMG_20171226_111020_HDR

menanti keberangkatan kapal. foto-foto dulu biar nggak jenuh

 

 


IMG_20171226_101443_HDR

satu-satunya foto yang sempat saya beri watermark 🙂

IMG_20171226_103940_HDR

Karena kesengsem dengan tempat ini, kedua kalinya kami mengunjungi dengan anggota keluarga yang berbeda. Kali kedua, kami bawa bekal untuk ngopi. Mantab lah!

 

Menepi di Mangli

Jenuh dengan hiruk pikuk dunia maya yang seringkali beringas: saling nyiyir, saling komentar  dengan tulisan paling benar, menepilah ke desa. Sering-seringlah rasakan keramahan nyata yang tak dibuat-buat. Kita akan tahu bahwa dunia ini tidak hanya dipenuhi orang-orang yang selalu merasa paling benar. Temuilah orang-orang yang tidak pernah dipusingkan dengan masalah-masalah viral.

Sejuk, itu yang rasakan saat bertemu dengan penduduk Mangli, Kaliangkrik. Di sebuah masjid dalam jamaah shalat duhur, ibu-ibu yang selesai melipat mukena  menyalami kami, saya dan Janitra.

“Saking tindak pundi?” sapa salah satunya.

“Mangli,”jawab saya exited dengan keramahan tulus mereka.

“Ngaturi pinarak, nggo..”ajak mereka. Semua ibu yang menyalami saya mengajak kami mampir ke kediaman mereka. Semuanya tanpa kecuali dan saya melihat ketulusan mereka.

Ketika saya tanya rute perjalanan menuju Dlimas pun, mereka menjelaskan dengan ramah.

Mangli, kami memang baru saja turun dari gardu pandang Silancur Mangli. Kesan saya sama dengan ketika bertemu penduduk desa. Sejuk. Dengan tiket seharga Rp 5000 kami bisa mengeksplorasi keindahan sebuah punthuk kecil.

IMG_20171225_102151_HDR

IMG_20171225_102206_HDR

Gardu pandang Silancur tak berbeda dengan wisata ketinggian yang pernah saya datangi. Landskap pedesaan di bawahnya, petak-petak pertanian di lereng gunung yang miring, juga awan-awan berarak di langit tepat di atas gunung yang terlihat sejajar dengan pengunjung gardu pandang. Bedanya, kami sangat menikmati berada di tempat itu. Tak ada antri-antri di spot swafoto. Ada beberapa pengunjung yang kami temui, namun semuanya terlihat menikmati suasana, tak hanya datang untuk cekrek-cekrek foto.

IMG_20171225_111244_HDR-01 (1)

IMG_20171225_111739_HDR

Kalaupun ada spot yang banyak diminati, antriannya tak begitu membuat kami yang datang terlihat menunggu. Kami menunggu sembari menikmati atau bermain-main.

Gardu pandang itu berada di punthuk kecil. Sejuk dan ‘eyup karena ada pepohonan.   Dua hammock diantara dua pasang pohon  bisa pengunjung pakai untuk bersantai maupun foto. Dua ayunan tanpa sabuk pengaman terlihat di dua sisi punthuk.

IMG_20171225_104624_HDR-01

IMG_20171225_105637_HDR

IMG_20171225_103513_HDR

IMG_20171225_103654_HDR

IMG_20171225_104328_HDR

Sebuah menara  berdiri di atas punthuk. Pengunjung bisa bersantai, berfoto, atau mengamati Merapi dan Merbabu yang berdiri kokoh di kejauhan. Sayang, gumpalan awan menutupi pemandangan itu. Mengunjungi tempat-tempat wisata semacam itu memang direkomendasikan dilakukan pagi hari.

IMG_20171225_102903_HDR

Taman bunga dengan aneka bunga warna- warni sangat instagramable untuk berfoto. Beberapa bangku taman atau gazebo menjadi tampat rehat yang memanjakan mata. Mau ngopi di tempat tu, rasanya pasti beda. Sayang, satu warung di sana hanya menyediakan kopi dan beberapa jenis minuman sachet instan. Besok lagi kalau kesana, karena jadi tempat fav, bisa deh bawa perlengkapan piknik dan ngopi-ngopi di atas.

IMG_20171225_112225_HDR

IMG_20171225_110733_HDR

IMG_20171225_113041_HDR

saatnya keluarkan bekal. sayang tak membawa kopi dari rumah

Turun ke bawah dan bertemu penduduk dusun yang membuat saya terkesan akan keramahannya, kamu kemudian lanjut ke Dlimas. Gardu pandang yang terletak di Windusari,Magelang,  ini sangat ramai.

Kontras sekali dengan Mangli. Tempat parkir penuh dengan sepeda motor. Tempat yang diresmikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo setahun lalu ini sedang ngehits di Magelang.

IMG_20171225_134629_HDR

IMG_20171225_133455_HDR

Gardu pandang Dlimas memiliki banyak spot foto yang tersebar di banyak titik. Dibutuhkan stamina untuk jalan dari spot ke spot, lumayan buat olahraga. Tapi jangan khawatir perut kepalaparan. Banyak warung makan yang sekaligus sebagai gardu pandang.

Pemandangan yang terbentang tak jauh beda dengan Mangli. Dengan tiket Rp10.000 pengunjung bisa berfoto di banyak wahana tanpa dipungut biaya lagi.

Oiya, mau olahraga yang lebih lagi, pengunjung bisa mengunjungi curug. Kami cukup menikmati perjalanan menuju curug, berjalan di antara petak-petak pertanian, namun kami urung menuju lokasi karena kaki kami sudah minta berisitirahat. 🙂

IMG_20171225_132636_HDR

[Review] Kritik Pendidikan dari Novel Bapangku Bapunkku

Judul       : Bapangku Bapunkku
Penulis   : Pago Hardian
Penerbit : Indiva
Cetakan:  pertama, 2015

IMG_20171225_221808_552[1]

Bapangku Bapunkku diceritakan dari sudut pandang seorang anak.    Ia memiliki bapak berjiwa punk, penganut kebebasan.  Tapi jangan dibayangkan punk yang dianut gaya bebas seperti  remaja di jalan. Bapan memiliki  4 anak . Semuanya memiliki keunikan tersendiri. Anak pertama,Alap, berjiwa seni. Hobinya desain baju . Anak kedua, Harnum,  suka mengarang. Anak ketiga, Tuah, suka dan pandai matematika. Anak keempat, Anjam, berjiwa seni dan mahir melukis.

Bapang  punya prinsip belajar di sekolah terdekat. Ia juga  ingin semua  anaknya berprestasi di kelas. Namun, mindsetnya berubah ketika ia berdiskusi dengan mas Greta, seorang istimewa , anak dari tukang bakso yang pernah ditolong bapang . Ia tak lagi berprinsip anak harus berprestasi di kelas. Mereka membicarakan tentang  11  macam kecerdasan. Sebelas itu adalah kecerdasa angka-angka/numeric, kecerdasan bahasa/linguistic, kecerdasan gambar/visual, kecerdasan pendengaran/audiomusical, kecerdasan olah tubuh, kecerdasan suara/vocal, kecerdasan pengecapan, kecerdasan agama/spiritual, kecerdasan pribadi diri/personal, kekecerdasan berhubungan dengan orang lain/antarpersonal, dan kecerdasan mengelola keuangan/finansial.

Diskusi dengan mas Greta membuat bapang tidak terlalu menuntut kecerdasan akademik di sekolah. Akibatnya prestasi akademik mereka menurun, sebaliknya kebebasan mengembangkan bakat membuat mereka benar-benar berkembang di kemahiran masing-masing. Alap bahkan pernah menjadi finalis lomba desain baju di salah satu majalah wanita.

 

Akhir tahun pelajaran, bapang  mendadak ingin mengeluarkan anak-anaknya nya dari sekolah karena Anjam tidak naik kelas. Anjam menderita disleksia yang membuatnya mengalami hambatan membaca dan menulis. Tidak naik kelas sebenarnya bukan menjadi masalah. Pemicu utama  adalah guru anjam menganggap Ajam bodoh. Ironisnya, foto Anjam dengan sederet piala tertampang di spanduk promosi sekolah.

Masalah ini sempat membuat bapang  bersitegang dengan istrinya dan hampir ada kata cerai.  Mereka berdebat soal prinsip pendidikan untuk anak-anak mereka. Untung saja, ada jalan tengah yang diambil. Kekecewaan terhadap sekolah membuat bapang menggodog konsep sekolah ala bapang dan mas Greta. Selama sekolah mereka belum terwujud, anak-anak tetap diijinkan sekolah.

Sekolah yang akan didirikan bapang memiliki jurusan yang unik, namun jurusan itu sejatinya adalah wadah bagi anak-anak dengan beragam kecerdasan yang tidak bisa disama ratakan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Banyak pelajaran yang belum dirasakan manfaatnya secara langsung oleh anak-anak .

Jurusan pendidikan yang dirancang bapang dan mas Greta ada jurusan pengecapan, jurusan pendengaran, jurusan penglihatan, jurusan suara, jurusan gerak tubuh, jurusan perhitungan, dan jurusan pengucapan. Masing-masing jurusan punya spesifikasi khusus. Sekolah itu terwujud meski tidak semua jurusan bisa diadakan.

Novel ini dituturkan dengan gaya kocak dan santai. Meski begitu,gaya khas bapang itu tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan penulis.  Novel ini pastilah berangkat dari kegelisan penulis terhadap sistem pendidikan di Indonesia yang terlampau banyak beban dan mencetak anak-anak Indonesia menjadi pegawai.  Tak hanya soal pendidikan, bapang juga kerap mengkritisi masalah-masalah sosial.
Sistem pembelajaran di sekolah formal negara ini seakan-akan membuat murid-muridnya jadi mesin penghafal! Mending kalau yang dihafal itu pelajaran penting. “(hal. 165)

Kalau kekayaan negara kita Indonesia tercinta ini tidak dikoropsi oleh pejabatnya maka kekayaan itu lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyat. Jadi, kesejahteraan rakyat itu bisa dimulai dengan kampanye untuk jadi pejabat yang jujur, bukan dimulai dengan kampanye kondom atau alat-alat KB lainnya.” (hal. 95)

Kualitas kepintaran anak itu hanya sedikit sekali ditentukan oleh sekolah. Yang paling menentukan adalah didikan di rumah. Walaupun sekolahnya berkualitas dan mahal, kalau orangtuanya tidak menyempatkan waktu secara disiplin untuk mendidik anak di rumah, hasilnya tidak akan terlalu menggembirakan. Paling-paling hanya dapat gengsi doing kerena anaknya sekolah di SD terkenal.” (hal. 60)

Seusai membaca novel ini mustahil pembaca akan begitu saja melupakan novel ini. Ada perenungan mengenai sistem pendidikan di negeri ini. Saya sendiri jadi baper, andai konsep pendidikan seperti yang penulis jeberkan dalam buku ini diterapkan di sekolah formal di Indonesia.  Sekolah formal ya, bukan seperti  home schooling di kota-kota besar yang sudah  menerapkan sistem semacam itu.

Ringan tapi mengena, Inspiratif, itu kesan saya selanjutnya terhadap novel peraih juara II Lomba Menulis Novel Inspiratif Indiva 2014 ini. Penasaran?

Akhir kata, kutipan inspiratif ini jadi penutup review saya
Dunia ini hanya akan dikuasai oleh orang-orang yang gigih. Orang yang suka mengeluh hanya akan berakhir sebagai pecundang.” (hal. 44)