Seekor Kupu Tersesat dalam Angkot

seekor kupu-kupu di depanku, mengepak, menyusuri jendela, tersesat di dalam angkot.



Saya tidak menyadari dari mana dia datang dan kapan. Tahu-tahu ia terbang di atas saya kemudian menyusuri jendela di depan saya. Saya menyadari hadirnya ketika sampai di Payaman. Ahad kemarin (3/04), dalam perjalanan menuju perpus kota Magelang ia menemani saya hingga saya turun. Iseng saya ambil hp kemudian menjepretnya beberapa kali. Sayang selama ia hinggap tak pernah sekalipun sayanpnya kembang. Kupu-kupu hitam itu selalu kuncup.
Langka. Bukan hal yang wajar kupu-kupu masuk angkot dan menjadi bagian deru lalu lalang jalan raya. Kasihan, tidakkah ia terenggut dari dunianya?

2 Hari 2 Kejutan

Senin, 27 Desember 2010

Menyusuri pecinan kota Magelang, langkah tiba-tiba berhenti di satu pertigaan. Beberapa detik saya berdiri memandang satu toko buku kecil beberapa meter di depan mata. Hati tergilitik ingin mampir. Mampir tidak mampir tidak. Saya tahu, saya hanya akan menemukan buku-buku yang tidak up to date di sana. Tapi, hati begitu tertarik, siapa tahu ada judul unik, luar biasa, di luar dugaan atau apalah di sana, yang pasti siapa tahu ada buku yang membuat terkejut. Maka kakipun memilih mengikuti komando hati. Benar saja! Begitu satu kaki memasuki toko, mata tertumbuk pada satu buku yang di masa awal-awal kuliah, di 2003, pernah begitu menghantui beberapa hari saya. Buku itu tertangkap mata pertama kali di sebuah rak pojokan satu supermarket di Yogyakarta-pojok kecil yang menyediakan segelintir koleksi buku. Buku itu begitu ingin saya miliki. Tiap kali datang ke sana saya pandang diam-diam. Saya yang waktu itu hanyalah anak kos yang sangat tergantung pada orang tua dari segi finansial, nggak kuat beli buku. Mau baca buku ya pinjam dari perpus. Karena belum bisa mendapatkannya, saya cukup memasukkannya di list buku yang ingin dimiliki, tertulis di diari tertanggal 8 Januari 2003/14.45: Il Postino karya Antonio Skarmeta.


Mendapati buku impian itu mejeng di rak beberapa langkah dari saya, dengan tempelan harga Rp 10.000 saya benar-benar takjub. Subhanallah, saya benar-benar bisa mendapatkannya 7 tahun kemudian dari pandangan pertama, dengan harga supermiring pula. Secuil mimpi yang tertulis di satu diary–diantara dream lists dan daftar buku pujaan lain di beberapa diari–, tapi betapa Allah tak pernah membiarkannya begitu saja. Satu-satu dikabulkan-NYA.

Selasa, 28 Desember 2010

Perpusda kota Magelang menjadi tempat kedua perjalanan hari ini setelah Desa Buku di areal Taman Kyai Langgeng Magelang. Membuat kartu anggota tidak masuk dalam daftar rencana. Niat itu terbit karena teman saya melakukannya. Mumpung ke sini tak ada salahnya sekalian daftar, pikir saya. Berdiri di depan resepsionis perpustakaan yang melayani ‘administrasi’, saya menunggu beberapa saat sampai tiba giliran saya dan teman saya. Setelah tiba giliran teman, saya mengutarakan hal yang sama. Ibu yang melayani memandang saya dan berkata, “Pernah jadi anggota kan?”
“Pernah, tapi dulu sekali waktu masih SMU,” tak yakin kalau jawaban saya akan ada gunanya.
“Coba saya cari dulu, pasti masih ada.” Ibu itu kemudian meminta KTP saya.
“Emang masih bisa Bu?” Saya masih tak yakin, ah masak data saya masih ‘diopeni’. Wajah ibu yang super ramah itu begitu meyakinkan. Surprised sekaligus tak percaya saya menyerahkan fotokopi KTP.
“Sebentar saya cari.”
Tak lama, beliau kemudian menanyakan data saya untuk mencocokkan. Benar, ternyata masih ada!

Saya terkejut dan takjub dengan ingatan kuat sekaligus keramahan beliau. Saya yang sejak lulus SMU hanya sesekali datang ternyata masih diingatnya. Terakhir saya datang kalau tak salah tahun 2007 atau 2008 awal, sekali saja setelah beberapa bertahun tak menginjakkan kaki di sana, dengan status non-anggota diijinkan masuk ke dalam untuk ngubek-ngubek tumpukan koran bekas.

Saya merasa beruntung hari ini sehingga tak perlu mengisi formulir dan minta cap kelurahan, hanya perlu daftar ulang. Jadi, hari ini bisa langsung pulang membawa 2 buku.

“Ibu, terima kasih masih mengingat saya, padahal tak terhitung berapa wajah pengunjung selama beberapa tahun ini yang mampir di benak ibu.”

foto dari :sini

Allah Maha Menghibur

Pernah-atau sering- merasa takjub dan bahagia karena tiba-tiba doa kecil kita, apa yang terlintas di angan, sedikit dipkikirkan, tiba-tiba dikabulkan Allah?

Begitu sederhananya kebahagiaan itu terlahir…*

Ia pun sering sekali mengalaminya. Doa kecil-doa yang remeh temeh-atau yang sekejap dipikirkan tiba-tiba dikabulkan oleh Allah. Hal itu tak henti membuatnya takjub dan bersyukur, subhanallah…., kemudian ia akan bergumam dalam hati,kok dikabulkan? sudah dikabulkan? finally…dikabulkan! soo amazing!

Hanya yang terlintas tapi ujug-ujug dikabulkan.Tak hanya takjub, ia pun sering geli sendiri, dan sedikit malu,”….aduh…yang sepele itu kokdikabulkan!. Ia bisa terus-terusan tersenyum sepanjang hari jika mengingat dan memikirkannya. DIA Maha Menghibur.

Seringkali kejadian seperti itu ia alami ketika ia merasa “hilang”. DIA hadirkan kebahagiaan yang sederhana itu untuk menghibur. Benar-benar terhibur! DIA buktikan Cinta dan KehadiranNya ketika ia meminta.

Yang terakhir ia alami, ada doa “kecil”nya yang telah lama mengendap dalam diri,karena begitu seringnya hal itu terlintas tapi sebenarnya begitu sepele. Waktu itu ia punya rasa penasaran terhadap suatu hal. Disisi lain, kondisi ia waktu itu sedang “lowbath”. Tiba-tiba DIA menjawab rasa penasaran itu dengan cara lain, dengan cara yang tak terduga, menjawab rasa penasaran yang telah mengendap selama 1,5 tahun. Karenanya, ia merasa ALLH telah Menghiburnya!

Ia tersenyum sepanjang hari dan rasanya ingin becerita pada dunia……….i’m happy! batere full lagi!

Sebenarnya tak hanya dalam hal semacam itu DIA menghibur hambaNya. Diantara rasa ketakutan, kehampaan, dan kesedihan pun, manusia akan selalu merasakan hadirNYa.Meski begitu sulit mendapatkan kesabaran untuk menghadapi semua itu, hati kecil pasti selalu ingin meyakini HadirNya. Ada semacam keindahan dalam ketakutan, kehampaan, dan kesedihan itu kalau hati kecil yakin dan berusaha menghadirkanNya. DIA selalu ada untuk menghibur hambaNya. Dengan berbagai cara…

***

Hari ini tiba-tiba ingat catatan di atas yang saya posting 2 tahun lalu di http://boemisayekti.blog.friendster.com/2008/09/allah-maha-menghibur. Pagi tadi, sambil jalan ke sekolah, hati berdendang pilu, baru aku tahu, capek itu apa…. Ya, beberapa hari ini rasanya capek…banget. Namun, siangnya, diantara rasa capek kerja, tiba-tiba hp bergetar. Seketika hati berbunga-bunga. Ada sms masuk mengabarkan beberapa hari lagi Rumi mau datang ke rumah diantar pak pos. Hwaaa… lagi-lagi teman MP yang kemarin ngirim buku Pandora (http://boemisayekti.multiply.com/journal/item/98/Menjadi_Ibu_di_Mata_Penyair_Oka_Rusmini) mau ngirim buku puisinya Rumi. Subhanallah, sms itu menjadi semilir angin di padang gersang. Allah Maha Menghibur. Seketika capek menguap berganti rasa syukur, bersyukur atas hadiah dari Allah, teman yang begitu perhatian dan “hiburan” tak ternilai. Terima kasih buat sobatku…. Tak sabar menunggu Rumi datang. Sudah lama pengen punya buku itu, eh dapat rejeki via teman. Alhamdulillah…

* mengutip cuplikan sebuah puisi dalam novel Always Laila.

Pada Sepotong Sabit dan Purnama, Hati Kita Bertaut

Sesiang ini senyumku mengembang. Setelah sekian lama kau menghilang, akhirnya siang tadi kita bisa saling sapa.

Kau bilang, beberapa waktu lalu melihat purnama. Seketika ingatanmu melayang padaku. Pengakuan itu membuat bibirku spontan melengkungkan sabit seperti yang selalu kau kagumi. Ternyata seraut wajah di langit malam itu mematri namaku dalam ingatanmu. Kau membuatku GR. Ah,rupanya rasaku tak bertepuk sebelah tangan. Setiap kali menjumpai sabit, ingatanku pun terbang kepadamu. Semuanya bermula dari sebuah obrolan di berandaku. Kemudian kita saling tahu, kita mengagumi hal yang sama. Seperti pagi itu, ketika aku membuka jendela dan sepotong sabit itu masih menyala di langit yang mulai terang, ingin segera kukabarkan padamu. Tapi, bagaimana caranya, kau kan sudah pindah rumah.

Siang tadi kita bisa membagi cerita. Aku bersyukur, Allah masih menautkan ingatan kita: selama purnama dan sabit masih dihadirkan-NYA di antara tebaran bintang, Insya Allah. . .

5 Mei 2010, 16:43
*buat yang lagi mempersiapkan ujian: good luck! Buruan posting tulisan, penasaran pengen segera main ke sana ^__~V

Dia, Saya, Tak Mau Merasakannya Sendiri

Tangi! Ada halo guede n jelas bngt

Subuh-subuh tadi satu sms masuk. Tumben, batin saya ketika smsnya belum saya buka. Tak biasanya teman saya itu sms pagi-pagi. Pikir saya, itu adalah sms jawaban pertanyaan semalam: dia saya seret-seret mendiskusikan soal-soal UCO UN yang membingungkan.

Oh, ngajak nonton halo bareng rupanya!

Segera saya buka pintu belakang rumah, bagian atas saja,melayangkan pandang ke langit. Muram. Nihil.
Saya kemudian melangkah ke ruang depan, menyingkap gorden jendela. Barangkali ada di langit tempat saya kemarin pagi melihat purnama. Nihil juga. Hmm. . .jangan-jangan dari sini tak terlihat,kalau teman saya kan tinggal di gunung, mungkin langit di atas sana tak seperti di sini. Ya sudah, akhirnya kembali ke belakang dan keluar rumah.

Saya melihatnya! Di sana, di langit di samping rumah.

Ternyata halo juga berkenan membingkai bulan separo ya, ketik saya ke nomer dia. Tak ada respon. Huh nyebelin. Saya harus send copy ke nomernya. Biasa, IM3 keseringan error. Jadinya, kami mengobrol ketika hari sudah terang, sambil beraktivitas pagi. Telat bahasannya.

Jadi koyo serabi sing pakai topping irisan pisang, he he. . . ,balas dia.

Tadi pagi bukan pertama kalinya dia mengajak saya nonton halo. Saya tahu apa itu halo dari dia, ketika malam-malam dia sms menyuruh saya keluar rumah dan memandang langit. Saya melihatnya. Halo,sesuatu yang pada awalnya-waktu kecil- dia takuti ketika dipandangnya,sekarang begitu disukainya. Selalu mengabarkan pada saya kalau dia melihatnya.

Suasana semacam itu sering kami alami. Pernah, pagi-pagi, saat berangkat kerja,dia sms: ada pelangi! Benar saja, tepat di depan rumah, saya melihatnya melengkung sempurna,guede,di atas mushola. Subhanallah. Suatu ketika, dia sms hanya untuk berkomentar mengenai senja.

Seperti dia, saya pun tidak tahan menikmati keindahan sendirian. Geregetan kepengen ngajak orang-orang terdekat merasakan juga apa yang saya rasakan, melihat juga apa yang membuat saya takjub. Ketika di suatu petang saya melihat wajah tersenyum di langit, 2 bintang dan 1 bulan sabit yang sempurna membentuk wajah, saya kegirangan dan meluapkannya dengan sms teman-teman. Mereka juga harus tersenyum melihatnya. Pernah juga, magrib mati listrik, saya membuka gorden jendela depan dengan maksud menyadap terang dari luar. Di luar dugaan, yang saya lihat luar biasa. Bulan sabit menyala dengan latar belakang senja. Ck ck ck, tak henti saya berdecak kagum. Rasanya gemez dan harus ada yang ikut menikmatinya. Segera saya ketik sms ke teman yang entah waktu itu ada di Yogya atau Klaten. Saya tak mau sendiri merasakannya. Pun ketika saya pergi ke suatu tempat yang membuat decak kagum. “Kita pengennya orang yang kita sayang ada di sini ya,” komentar teman saya ketika kami rame-rame jalan ke Dieng.

Rasa geregetan saya tak berhenti ketika mendapati keindahan yang tampak di mata. Melahap buku yang menurut saya menggemaskanpun, saya tak ingin kenyang sendiri. Saya juga ingin orang lain tahu, ini lho bukunya keren. Di kantor, saya pernah diledekin sebagai provokator gara-gara rame membahas novelnya kang Abik. Lumayan, teman-teman ikut penasan dan baca Begitulah, dia, saya, dan teman-teman, pasti tak pernah rela kalau menikmati rasa bahagia itu sendiri.

Malam Rabi’ul Awwal–> Malam Ramadhan: Khas

Ada yang khas di malam Rabi’ul Awwal yaitu lantunan barjanji dan tadarus Al-Quran dari berbagai surau dan masjid. Keriuhan itu terdengar dari berbagai penjuru. Ini mengingatkan saya pada malam-malam Ramadhan yang khas. Bedanya, lantunan barjanji atau tadarus itu tak terdengar dari mushola depan rumah, senyap itu tak menyambut keramaian dari jauh. Padahal,saya selalu suka suasana tadarus dari mushola depan rumah. Khas. Malam-malam di bulan Ramadhan, saya tidur dihantar suara bapak-bapak atau pemuda yang melanunkan ayat-ayat Cinta-NYA. Seringkali ketika nglilir-terjaga- suara tadarusan itu masih terdengar. Begitu tentram dan senang mendapatinya. “Wah,aman. . .masih ada yang tadarusan, berarti malam belum begitu larut,” pikir saya kemudian tertidur lagi. Sebaliknya, ketika nglilir tetapi suasana sudah senyap, “ah,malam sudah larut,” pikir saya selalu.

Suasana yang khas itu akan selalu saya rindukan dari bulan ke bulan. Sayang, di bulan-bulan lain kekhasan itu kadang tak saya temukan, harus menunggu Ramadhan yang beberapa bulan lagi menyapa. Semoga Allah mempertemukan dengan bulan penuh jamuan itu, amin. . . .

Life Must Go On. . .

Jalan cerita ini bukan terpotong,sayang. Ia tetap berjalan pada relnya. Garis itu akan sempurna dengan rangkaian titik-titik yang harus kau lanjutkan. Ia tak kan sempurna jika salah satu titik dari rangkaiannya kau hilangkan. Pena-NYA yang menjadikannya ada di sana,jadi jangan pernah kau hapus. Tunggu saja hingga DIA hubungkan titik yang pernah kau anggap noktah itu. Garis tangan-NYA sudah pasti. Tinggal kau gores dengan bimbingan tangan-NYA. Ia akan sampai pada satu yang kau simpan dalam doa dan mimpi selama ini. . .

:buat diri dan seorang sohib,Hepi. . .