Sebermula Sudut Baca

giveaway-aku-dan-buku

Sudut baca itu kecil adanya. Hanya ada sebuah rak buku mungil berisi buku-buku anak:  sains,biografi tokoh besar, buku cerita bergambar maupun novel,  buku pengetahuan umum, dan buku agama Islam.  Meskipun seadanya, namun ini adalah langkah kecil kami dalam mewujudkan mimpi membangun perpustakaan.

Mulanya buku-buku itu berada di rak baca  di kamar bersama koleksi buku kami yang lain. Ketika anak-anak les datang, kami keluarkan tumpukan buku-buku itu  begitu saja, namun rasanya tidak efektif. Buku-buku juga berserakan di sana-sini, buku yang selesai atau  yang sedang dibaca. Lalu kami berinisiatif mengeluarkan satu rak berisi buku-buku anak. Anak-anak bebas memilih buku apa  yang mereka inginkan. Tepat sasaran, anak yang mulai keranjingan membaca selalu membawa pulang setiap kali satu buku selesai dibaca.

img-20160324-wa0007

sebelum ada sudut baca

img-20161031-wa0002

sudut baca kami, dari kecil harapannya menjadi sebuah ruang

img-20161031-wa0004 img-20161031-wa0005

20160922_193741

Kami punya mimpi membangun perpustakaan yang tidak hanya berkegiatan membaca namun juga kegiatan seru lain yang memberi asupan gizi bagi otak dan jiwa. Dimulai dari lingkungan terdekat, keluarga, lalu anak-anak yang datang belajar ke rumah, kami perkenalkan budaya  membaca. Karena kampanye membaca saat ini sasaran terdekatnya adalah anak-anak, maka rak buku di ruang depan sementara masih berisi buku anak-anak. Ada dua kelompok belajar di rumah, sore dan malam, yang masing-masing terdiri dari 3 anak.

Bagi kami, melihat 1 dari 3 anak kelompok sore mulai ketagihan membaca itu amat luar biasa. Adanya pojok baca membuat rasa ingin tahu mereka bertambah. Sementara kelompok malam telah terlebih dahulu saya perkenalkan buku lewat tumpukan-tumpukan buku yang kami keluarkan. Dua dari mereka sudah membaca.  Ketika pagi membereskan ruang tamu tempat mereka belajar, sering saya mengecek buku peminjaman. Ada kepuasan tersendiri ketika daftar peminjaman selalu terupdate.

20161110_191941

Kami menyebut pembaca buku perpus mini kami dengan  nama  Klub Buku Janitra. Perpus kecil-kecilan kami beri nama perpustakaan Janitra.   Anak kami, Janitra, adalah anggota klub termuda, sementara mbah kakungnya adalah pembaca buku tertua.  Kebahagiaan tak terkira ketika melihat mbah kakung terjangkiti virus membaca. Beliau selalu terlihat membaca di sela-sela kesibukannya di sawah, berkebun, dan beternak. Mbah kakung punya dunia sendiri saat membaca.

untitled

2

Klub buku Janitra tidak hanya berkegiatan belajar karena tuntutan (les),membaca buku, namun juga berkegiatan lain.  Mengajak mereka memasak, bersepeda, berenang, berkunjung ke perpustakaan kota, ke festival buku, dan touring pernah kami lakukan dan harapannya kegiatan menyenangkan itu akan terus berlangsung.   Yang paling sering kami lakukan adalah bersepeda bersama.  Angan-angan kami kelak ketika mimpi itu terealisasi, perpustakaan itu tidak sekedar ruang baca, namun ruang belajar dalam arti luas.

IMG-20151108-00206

membaca sembari bermain di perpus kota Magelang

IMG-20151108-00213

klub buku Janitra di fesbuk (festival buku) Magelang 2015

20160505_073312

Gowes Klub Buku Janitra

img-20151108-00232

Tour Candi Mendut

Untuk menambah koleksi buku, kami selalu memburu event obral buku yang akhir-akhir ini marak di Magelang.  Berburu giveaway buku juga menjadi hobi saya karena impian itu tentu membutuhkan penambahan buku terus-menerus. Senang ketika saya mendapatkan hadiah buku. Alhamdulillah rejeki buku sering Allah berikan berkat ngeblog maupun mainan instagram dan twitter.  Karena pernah posting foto klub buku Janitra,  saya mendapat kejutan paket buku dari seorang  sohib. Wuihh… buntelan buku selalu menghadirkan rasa yang membuncah. Terima kasih buat teman-teman yang secara langsung mendukung impian kami 🙂

12899716_10205547544680310_131181322_n

2 buku anak hadiah GA Jejak Kaki Misterius

mbah

hadiah dari sohib

“Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku

[Berkah Ngeblog] Buku-Buku Perempuan dari Stiletto

Pulang kerja, Janitra menyambut saya dan katanya tak sabar ingin membuka paket.
Paket? Langsung semangat masuk rumah.

“Jare Janitra isinya sepeda”, kata emak geli.

Saya menduga itu pasti dari Stiletto. Benar saja, paket itu besar. Semangat membuka dan…setumpuk buku menyembul.

“Waa… buku. Nggon It[r] endi?” Janitra selalu bersemangat melihat buku.

“Niki buku-buku buat ibuk,” jawab saya.

Maka saya carikan buku yang sekiranya cocok. Ketemulah buku itu. Play and Learn, buku yang sering saya lirik-lirik di toko buku. Dan sejak detik itu buku itu diklaim sebagai buku Janitra 😀
12596439_10201531932935988_1293952089_n

12822148_10205459474518611_936104318_n
Alhamdulillah, untuk yang keberapa kalinya (lupa) ada rejeki hasil ngeblog. Buku-buku dari Stiletto tersebut adalah hadiah lomba blog ulang tahun kelima yang bertajuk Book Addict is The New Sexy. Tulisan berjudul Saya Membaca Maka Saya Cantik berhasil menyabet juara ke-3.

Selain setumpuk buku (setiap judul 2 eksemplar), ada hadiah merchandise berupa sarung bantal, buku harian, dan blok notes. Sesuai dengan amanat dari Stiletto untuk memberikan buku-buku tersebut untuk orang-orang tercinta, menyebarkan virus baca, maka saya berikan beberapa buku genre novel untuk perpustakaan Madrasah Aliyah tempat saya dahulu pernah mengajar. Di sana buku-buku tersebut pasti akan bermanfaat,bergiliran dibaca siswa.  Dua buah buku selanjutnya saya berikan untuk teman pecinta buku. Rencananya, sisanya akan saya pakai sebagai kado.

 

Buku-Buku di 2015

Saya suka tampilan My Year 2015 in Books di Goodreads . Saya tidak hanya bisa melihat buku-buku yang berhasil saya tuntaskan namun juga total halaman, rata-rata, rating tertinggi, dan buku populer dan tidak yang saya baca. Berikut tampilannya:

Untitled

gr 2

gr 3

 

gr 4

gr 5

gr 6

gr 7

Tahun 2015 saya memasang tantangan 40 buku di goodreads gara-gara tahun sebelumnya tuntas 40 buku. Nyatanya saya hanya bisa menyelesaikan 24 buku, jauh banget (entah mengapa 1 buku, Sekali Peristiwa di Banten Selatan-Pramoedya Ananta Toer- fotonya tidak tampil) . Tidak semua buku yang saya baca koleksi pribadi. Banyak diantaranya saya pinjam dari perpustakaan. Alhamdulillah ada 4 buku yang saya dapatkan gratis:

  1. Perempuan yang Menggetarkan Surga, saya dapatkan dari Bentang karena menang salah satu cermin
  2. Koala Kumal, GA dari Luckty Giyan di WordPress
  3. Sunshine Becomes You, menang kuis dari Binta Al Mamba di FB
  4. Rust in Pieces, GA dari Goodreads

Semoga tahun ini buku yang terbaca makin banyak dan makin beragam, amin 🙂

Inspirasi dari Kota Literasi Surabaya

          Beruntung sekali saya berkesempatan menghadiri acara Sosialisasi Literasi bertajuk Membumikan Membaca di Kota Magelang yang diadakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Fakulatas Ilmu Kependidikan Universitas Negeri Tidar Magelang, 2 Desember 2014 lalu. Pembicara kali itu spesial, pakar literasi dari Surabaya. Beliau adalah Ketua Ikatan Guru Indonesia wilayah Jawa Timur, Bapak Satria Darma.

          Keberuntungan yang lain adalah, nggak sengaja, karena tempat duduk di sebelah saya kosong, seorang ibu cantik mendekati dan duduk di samping saya. Beliau istri bapak Satria Darma. Jadi saya bisa sesekali ngobrol sembari mendengarkan paparan pak Satria Darma. “Hiasan di rumah saya ya buku,” ujar Ibu Satria Darma memulai obrolan kecil kami.

         Sementara itu Bapak Satria Darma memulai paparannya dengan pertanyaan besar: Seberapa pentingkah literasi itu? Apa bukti bahwa literasi itu sangat penting? Bapak Satria Darma mengutip pendapat beberapa tokoh penting dunia.

“Membaca adalah jantungnya pendidikan. Tanpa membaca pendidikan akan mati.” (Dr.Roger Ferr) “Membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca.” (Glenn Doman) “Jadi literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil di sekolah dan kehidupan selanjutnya.”(Rod Welford, Mendikbud Queensland)

            Tak kalah pentingnya adalah bahwa surat pertama yang turun kepada nabi Muhammad SAW dari Allah adalah Al-Alaq 1—5. Ayat pertama yang turun adalah perintah untuk membaca. Nabi Muhhamad, rasul terakhir dan penutup yang diutus Tuhan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk masyarakat Quraisy saat itu. Ajarannya  untuk membangun peradaban dan kesejahteraan seluruh alam semesta. Perintah membaca ditujukan kepada semua umat manusia karena kemampuan literasi adalah syarat utama untuk membangun peradaban. Kemampuan literasi adalah kunci dari ilmu pengetahuan.

               Ada kisah dari perang Badar yang disampaikan beliau sebagai bukti pentingnya literasi di jaman nabi. Nabi Muhammad membuat sebuah kebijakan yang sangat tidak lazim. Nabi tidak meminta tebusan dari tawanan yang jumlahnya 70 orang. Tebusan tawanan berkisar antara 1.000—4.000 dirham/orang. Namun nabi meminta ganti yang lebih berharga dari harta. Rasulullah melepaskan para tawanan kaum Quraisy yang pandai baca tulis dengan menebus dirinya dengan mengajarkan tulis baca kepada 10 orang anak Madinah.

          Begitu pentingnya literasi terbukti kejayaan Islam tidak lepas dari budaya tersebut. Zaman kejayaan Islam adalah masa ketika para filsuf, ilmuwan, dan insinyur di dunia Islam menghasilkan kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan kebudayaan, baik dengan menjaga tradisi yang telah ada ataupun dengan menambahkan penemuan dan inovasi mereka sendiri. Peradaban Islam tak hanya melahirkan generasi yang mumpuni di bidang keagamaan tapi juga berbagai ilmu pengetahuan.  Beberapa ilmuwan Islam tersebut antara lain Ibnu Rusd (Averros), Ibnu Sina (Avicena), Al-Biruni, Muhammad Ibn Musa Al-Kharizmi, dan Nizam Al Mulk. Setelah memaparkan pengantar pentingnya literasi, bapak Satria Darma memberikan gambaran tentang budaya baca di Indonesia yang masih rendah, khususnya di kalangan pelajar. Untuk itu beliau berkeliling ke beberapa kota di Indonenesia untuk mensosialisasikan Gerakan Membaca.

           Beberapa program litrasi yang bisa dilakukan di sekolah antara lain sustained silent reading, perpustakaan kelas, tantangan membaca, dan menerbitkan kumpulan cerpen dan puisi siswa. Beliau membawa insiprasi dari kota Surabaya. Seluruh sekolah di Surabaya, dari SD hingga SMU  sudah menerapkan program tersebut.

             “Seluruh sekolah sudah ditaken kontrak oleh walikota, Ibu Risma,” ujar Ibu Satria Darma kepada saya. Jadi seluruh kepala sekolah di Surabaya memang dikumpulkan untuk taken kontrak menjalankan program Gerakan Budaya Literasi.

          “Untuk menjalankan program tersebut tidak butuh dana. Yang penting adalah kemauan dari sekolah dan kerja sama dengan wali murid.” Lanjut beliau. Tentu saja, yang pertama kali dilakukan adalah sosialisasi dari sekolah kepada wali murid. Menurut beliau, tidak sulit meminta orang tua membelikan satu buku untuk anaknya. Kalau tiap anak di sekolah membawa satu buku ke sekolah, sudah berapa buku yang bisa dibaca siswa. Mereka bisa bertukar buku.

               Dua sekolah yang dijadikan contoh oleh Bapak Satria Darma dalam acara tersebut adalah SMAN 5 dan SMAN 21 Surabaya. SMAN 5 punya priogram membaca rutin antara lain: -Siswa diwajibkan membeli buku bacaan (novel) -Siswa membaca setiap hari (silent reading) pada awal jam sekolah (15 menit sebelum jam ke-1). Kegiatan ini dikoordinir oleh kelas dan diawasi oleh guru. -Setiap selesai membaca siswa diwajibkan menuliskan buku, judul, pengarang, dan penerbit serta membuat sinopsis dari buku yang dibaca. -Buku yang telah dibaca akan disumbangkan ke perpsutakaan.

             Target dan jumlah buku yang dibaca oleh siswa SMAN 5 bulan Juli—Agustus 2012 adalah setiap anak dalam 1 bulan membaca 2 buku dan satu sekolah membaca 3000 buku setiap tahun. Jumlah keseluruhan buku yang terbaca adalah 1.851 buku dalam jangkan waktu 2 bulan. Waw… bukan?

        Tak kalah menarik adalah fenomena yang terjadi di SMA 21 Surabaya. Sekolah tersebut mengadakan lomba perpustakaan kelas bekerja sama dengan Baperpusip Kota Surabaya. Kelas yang menang akan mendapatkan hadiah dari Baperpusip Kota Surabaya. Penilaian pada jumlah dan jenis koleksi, pengorganisasian buku, susunan pengurus, program baca buku, pengorganisasian peminjaman dan hasil baca buku, keindahan, dll. Buku yang dilombakan adalah buku siswa-siswa sendiri, bukan buku perpustakaan sekolah.

           Tantangan membaca seperti di Goodreads.com juga berlaku di Surabaya. Setiap siswa SMALA Surabaya ditantang membaca 12 buku sastra dari Juli 2014—1 Maret 2015. Sekolah berkerja sama dengan UNAIR dan UNESA dalam menyediakan daftar Wajib Baca buku sastra. Sekolah bekerja sama dengan komite sekolah akan menyediakan buku Wajib Baca tersebut. Siswa yang berhasil menyelesaikan tantangan akan mendapatkan sertifikat “Reading Award” dari Walikota Surabaya.

           Waw, saya membayangkan, kalau setiap kota di Indonesia memiliki walikota inspiratif seperti Bu Risma, masa depan negeri ini tentu akan semakin maju peradabannya.

Mengikuti Jejak

          Paparan dari Bapak Satria Darma berhasil menggugah saya. Ingin sekali saya mempraktikan apa yang sudah terlaksana di Surabaya dari kelas saya sendiri. Ketika menjadi wali kelas VA di sebuah sekolah swasta di desa Grabag tempat tinggal saya,di tahun 2012 ,saya pernah mewajibkan anak membaca buku untuk dilaporkan. Karena buku perpustakaan sekolah tidak bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut, maka saya mengeluarkan koleksi buku saya untuk dipinjam anak-anak. Sayangnya, program tersebut hanya berjalan satu putaran karena kendala koleksi buku. Permasalahan tersebut saya sampaikan dalam forum. Solusinya adalah seperti yang sudah disampaikan di atas, setiap anak membawa satu buku. Ibu Satria Darma menguatkan saya, cobalah, orang tua pasti tidak keberatan memebelikan anaknya satu buku.

         Maka pada pertengahan Desember lalu, selesai anak-anak melaksanakan Ujian Akhir Semester, saya meluncurkan program Tantangan Membaca. Untuk memberi contoh pada anak-anak agar membawa buku, saya membawa setumpuk buku koleksi dari rumah. Anak-anak terlihat antusias melihat saya membawa setumpuk buku.

         Untuk mendukung program tersebut, saya membagikan Kartu Tantangan Membaca yang berisi judul buku, nama pengarang, penerbit, tahun, bintang, tanggal memulai dan selesai memabaca. Siswa di kelas VA yang berhasil mencapai jumlah buku tertinggi akan saya beri hadiah buku yang jenisnya bisa memilih sendiri. Saya juga berangan-angan akan memeberikan sertifikat yang ditandatangani kepala sekolah.

       Beragam reaksi yang saya dapatkan di hari saya meluncurkan program tersebut. Umumnya anak-anak antusias dan terlihat bersemangat.

           “Bu, saya tidak suka membaca,” ungkap Yoga kepada saya.

           “Nanti mas Yoga akan Bu Guru paksa jadi suka membaca,” jawab saya sembari tertawa.

         “Tapi saya nggak punya buku Bu,” lanjut Yoga. Ucapan serupa keluar dari beberapa siswa. Saya masih memaklumi, tidak apa-apa ujar saya kepada mereka. Untuk langkah pertama, saya akan mencobanya pelan-pelan.

        Saya tidak membutuhkan jeda hari untuk melihat hasilnya. Luar biasa, di hari yang sama, anak-anak sudah mengisi kartu mereka. Mereka yang belum paham yang mana penulis, penerbit, tahun terbit dalam buku yang mereka baca ribut menanyakan kepada saya. Wah, saya sampai geli campur gembira menaggapinya.

Image5615Image5618Image5619

Image5617

                                                                   kartu tantangan membaca

                  Semakin hari saya kian berbahagia melihat semangat mereka.

            “Bu, saya bawa buku sekarang,” kata Yoga dua hari kemudian. Saya yakin ia termotivasi, kepengen melihat teman-temannya membawa buku di hari sebelumnya.

                 “Saya bawa dua bu, beli di 39 pulang sekolah,” lanjut Yoga ketika saya tanya beli di mana.

                  Hari berikutnya, ia juga laporan kalau beli buku lagi. “Beli di Indo Maret Bu.“

               Wah… wah… semoga semangat mas Yoga terus menyala beli bukunya. Begitu pula semangat teman-teman yang lain untuk memenangkan tantangan membaca. Saya yakin, bermula dari tantangan, lama-lama hal tersebut akan menjadi kebiasaan ketika anak sudah merasakan asyiknya membaca, serunya isi bacaan dari buku di hadapan mereka. Setiap saya masuk kelas, anak-anak sedang terlihat khusyuk membaca buku. Good…. :D. Harapan selanjutnya, sekolah saya akan menerapkan juga program tersebut.

Image5609

asyik membaca ketika saya masuk kelas

 Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca

banner baru giveaway untuk blog

[Review] First Time in Beijing

Gambar

Judul buku: First Time in Beijing: Nostalgia Kisah Cinta Semusim Lalu

Penulis      : Riawani Elyta

Penerbit    : Bukune, 2013

Jml. hal.     : 352

Saat pahitnya kenyataan itu mengitariku dari segenap arah, aku hanyapunya satu pilihan,menjalaninya (hal. 31)

Itu yang dirasakan Lisa setelah kehilangan ibunya, keluarga satu-satunya yang dimilikinya selepas perceraian dengan ayahnya. Sepeninggal ibu, ia harus menyusul ayahnya ke Beijing, pemilik Shan Restaurant, Asian Food&Beverage.

Menjadi satu-satunya pewaris Shan Restaurant, Asian Food&Beverage, Lisa kerap menerima ultimatum dari ayahnya, tuntutan bahwa ia tidak saja harus piawai memasak namun juga mengelola restoran. Mulanya, ia hanya menggantikan posisi koki yang terampil mengolah sup namun keluar dari restoran itu. Usahaya membuat sup membuat membawa Lisa pada pengalaman yang menguras emosinya. Menerima kritik secara frontal dari pelanggan, ayahnya mengajarkan satu hal tentang kesetiaan.

Bagaiamanapun, kesetiaan tetap  membutuhkan kerikil, bukan? Agar kita tahu apakah hanya karena satu kerikil itu, bisa menghancurkan kesetiaan yang sudah dipupuk bertahun-tahun (hal. 55). Kesetiaan, hal yang bagi Lisa justru paradoks. Ayahnya berbicara tentang kesetiaan, namun justru ia tak bisa mempertahankannya dengan ibunya.

Usaha kerasnya, dengan bimbingan Daniel berangsur-angsur membuahkan hasil. “Kesulitan seharusnya mendorong kita untuk menaklukannya, bukannya malah membuat kita menyerah, begitu kata Daniel. (hal. 43).  Lisa berhasil membuktikan dirinya bisa memasak beragam sup.

Nyatanya, Daniel tak hanya menjadi pembimbingannya dalam memasak. Kedekatannya memunculkan getar-getar halus dalam hati Lisa, juga Daniel.  Bagi Daniel, mengucapkan wo ai ni itu tidak semudah perempuan ketika menyatakan ya atau tidak. Untuk mengungapkan perasaannya, Daniel mewakilkannya pada sebentuk cincin putih bermata tiga safir biru, cantik.  Sekian lama memendam perasaan untuk Daniel nyatanya Lisa justru memungkirinya ketika Daniel  mendeklarasikan perasaannya lewat cincin itu.

Peristiwa itu merubah segalanya. Daniel menghilang. Tak hanya rasa hampa yang tersisa, Lisa lagi-lagi mendapat ultimatum dari ayahnya. Ia harus bisa menggantikan posisi Daniel.  Rasa kehilangan itu pada akhirnya menjadi kekuatan bagi Lisa untuk belajar banyak hal: penerimaan, kepercayaan diri, rasa tanggung jawab, dan pelajaran berharga lain yang membuat ayahnya puas dengan sosok Lisa yang bisa dipercaya sebagai pewaris restaurannya.

Lalu apakah hubungan dengan Daniel kandas begitu saja, ataukah sosok Alex, tour guide yang dekat dengan Lisa bisa menggantikan posisi Daniel, Riawani Elyta meracik alurnya sedemikian berliku namun tetap terasa plausibel. Saya menikmati jalinan alur yang dirangkainya. Dimulai dengan satu episode ketika Lisa memutuskan untuk membatalkan cooking competition yang diikutinya, pembaca  kemudian diajak mundur ke belakang, masuk ke dalam episode-episode yang membawa Lisa ke panggung yang diimpikannya itu. Dengan sudut pandang orang pertama yang berpusat pada Lisa, alurnya membuat saya terhanyut.

Saya paling suka dengan setting restaurannya. Satu tempat ini  lebih menyita perhatian saya dibanding setting Beijing berserta tempat-tempat menarik yang diperkenalkan oleh tokoh Alex.  Tuturan Riawani menyeret imaji saya ke dalam segala dinamika dapur.  Membayangkan bagaimana kesibukan di sana, ikut menikmati beragam aroma yang membenuhi sudut-sudut dapur, saya merasa terpancing, jadi pengen bisa memasak seperti Lisa :D. Oiya, satu lagi yang oke dari novel ini, di setiap pergantian bab ada kutipan inspiratif yang mengawalinya.

diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014

Geek in High Heels

 

 Image

Judul     : Geek in High Heels

Penulis   : Octa NH

Penerbit : Stiletto

Cetakan  : I, Desember 2013Jml. hal    : 208

Geek in High Heels bercerita tentang Athaya, seorang geek, web designer, yang diusia ke-27  mengalami kegaulauan soal pasangan hidup.  Desakan untuk menikah bukan datang dari orang tuanya sendiri  melainkan dari keluarga besar, terutama tante yang begitu sering mempertanyakan kelajangannya. Cerita dimulai dari peristiwa kaburnya Athaya dari acara makan malam perkenalan keluarga besar Silvi—sepupunya—dengan sang pacar. Merasa disudutkan dengan topik pernikahan yang akhirnya menjurus pada desakan menikah, Atthaya menghilang dan melewatkan makan malam di restoran sendirian. Di restoran itulah,  suatu kebetulan berebut meja mempertemukannya dengan Kelana, seseoang yang di kemudian hari di kenalnya sebagai seorang penulis novel best seller.  Tanpa percakapan panjang, perkenalan kilat berlangsung, Athaya memberikan kartu namanya pada Kelana.

Ide aneh mendadak muncul. Di blognya, ia kemudian membuat postingan iklan diri.  Apa yang terjadi selanjutnya nyatanya membuat ia melupakan postingan itu karena berbagai kesibukan dan hadirnya dua orang laki-laki dalam kehidupannya.  Selain Kelana yang kemudian ia kenal—lagi— dalam acara book signing di sebuah toko buku tanpa sengaja, ada Ibra, sosok workaholic yang perusahaannya membutuhkan jasa Athaya.

Pertemuan demi pertemuan dengan Ibra karena urusan pekerjaan menggiring kedekatan mereka. Pun dengan Kelana, beberapa kali bertemu di toko buku berakhir dengan kencan.  Alur bergulir dengan kebimbangan-kebimbangan Athaya soal siapa yang akan dipilihnya. Ibra yang menawarkan komitmen namun hubungannya berjalan datar dan semua serba terjadwal  ataukah Kelana, sosok penulis karismatik yang datang dan menghilang sesuka hati karena ritme menulisnya.

Kebimbangan itu semakin meruncing justru ketika Ibra melamarnya.  Dia baru saja mengalami mimpi buruk. Perasaannya tidak enak dan pikirannya jadi kusut.  Beberapa bulan lalu yang lalu, dia sangat ingin dilamar cowok. Dia ingin merasakan deg-degan dan antusias ketika seorang cowok mengatakan ingin menikahinya. Tapi ketika saat itu benar-benar datang, dia malah merasa hampa dan aneh. Hampa karena dia sendiri tidak paham dengan perasaannya sendiri (hal. 148).  Athaya juga merasa bahwa di mata Ibra, ia hanyalah ‘pengganti’  tunangan yang meninggalkannya. Apa yang dilakukan Ibra padanya, seperti mengajak ke toko kue, mengirimi kue adalah seperti apa yang dilakukan Ibra terhadap mantan tunangannya.

Mengahadapi kegalauan semacam itu, Manda sahabatnya mengingatkan bahwa kadang ada yang lebih penting dijadikan bahan pertimbangan selain cinta, komitmen. (hal. 153)

Cerita tidak selesai dengan lamaran Ibra kepada Athaya. Masih ada lika-liku yang digambarkan penulis untuk membuat rasa penasaran pembaca, emm… walaupun ending bisa ditebak (kalau saya penasaran apa dengan motif Athaya saat menjatuhkan pilihan)  Hanya saja, sayang sekali, konflik yang mewarnai alur cerita masih terasa kurang tajam. Konflik yang   digarap hanyalah konflik batin yang dialami Athaya.  Belum optimalnya konflik mungkin juga karena penulis kurang memaksimalkan penokohan dan perannya dalam memunculkan konflik.

Meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, namun pusat penceritaan lebih banyak tertuju pada karakter Athaya . Dari sisi karakter, ada yang menarik dari diri Athya, seorang geek namun modis dan mengoleksi high heels.  Passionnya pada sepatu tidak sekedar mengoleksi, namun sepatu-sepatu   adalah pelariannya saat galau, bahkan saat menulis artikelpun, sepatu itu diletakkannya di samping laptop.  Setiap beberapa menit sekali, Athaya melirik sepatu yang berwarna kuning terang itu. Warnanya membuat perasaan Athaya menjadi lebih baik. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu. Sepatu itu seperti memberikan harapan bahwa hidupnya akan jadi lebih baik walaupun banyak masalah yang dihadapinya. (hal. 37).  Emm… agaknya, karakter Athaya ini mewakili penerbit bukunya, Stiletto.

Karena dibawakan dengan bahasa yang lugas, buku  ini bisa dengan cepat saya lahap. Hanya saja, efeknya buat saya, bacanya berasa datar-datar saja.  Pada akhirnya, buku ini memberikan satu ruang perenungan untuk perempuan, bagaimana menentukan pilihan hati.

Berterima kasih sekali kepada Stiletto yang memberikan buku ini secara gratis lewat satu kuisnya di FB.

Postingan ini diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2014

 Image

Sepotong Hati yang Baru

Gambar

Judul : Sepotong Hati yang Baru
Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka (imprint Penerbit Republika)

Cetakan: IV, 2013

Halaman: 204 halaman

Terwakili oleh gambar cover dan judulnya, perasaan,cinta terutama, menjadi tema kedelapan cerita dalam buku ini. Namun,kedelapan cerita itu memiliki latar beragam dan unik. Unik sebab, Tere Liye mengambil latar dari jaman kolonial, legenda dari Cina, kisah cinta Rama Shinta, hingga latar modern dengan era digital.
Cerpen pertama, “Hiks Kupikir Ini Sungguhan”, memotret fenomena mutakhir, Facebook yang potensial menimbulkan perasaan GR, cinta,dan salah paham lewat interaksi di dalamnya: update status, bertukar komentar,dan bertukar like.

Kehidupan perempuan Singkawang yang mengenal istilah nikah foto dan istri belian diperkenalkan oleh penulis lewat “Kisah Sie Sie”. Sie Sie yang keluarganya terjerat masalah ekonomi bersedia menjadi istri belian pemuda Taiwan. Sebelum berangkat ke Taiwan ia berjanji kepada ibunya untuk mencintai suaminya apa adanya dan ia akan memaksaperasaan yang sama muncul di hati suaminya. Bersuamikan pria kasar dan gemar hura-hura, perjuangannya dalam membuktikan janjinya serta perjuangan hidupnya di Taiwan begitu mengagumkan.

Dua cerita yang terinspirasi dari cerita lama adalah “Mimpi-Mimpi Sampek-Engtay” dan “Percayakah Kau Padaku”. Lewat Mimpi-Mimpi Sampek-Engtay ini saya jadi tahu kisah dari negeri Cina yang melegenda itu. Sebelumnya saya hanya kenal judul saja (parah!). Perayakah Kau Padaku adalah cerita ayah kepada (pusara)anaknya tentang kisah cinta sang ayah dan ibu yang dibingkai dengan cerita Rama Sinta. Tere Liye membidik persoalan kepercayaan dalam sebuah hubungan.

Satu cerita yang unik adalah “Itje Noerbaja dan Kang Djalil”. Seperti judulnya, cerita ini ditulis dengan ejaan lama sesuai dengan setting, jaman kolonial. Kisah cinta kedua bawahan di sebuah keluarga Belanda itu bukan semata-mata kisah percintaan biasa namun cinta mereka letakkan di bawah cinta kepada tanah air. Cita-cita yang diwujudkan dengan pengorbanan mereka adalah Indonesia merdeka.

Nah, khusus untuk perempuan, ada cerita yang menyentil soal kecantikan. Bagaimana memaknai sebuah kecantikan ditemukan dalam “Kalau Semua Wanita Jelek”.

Cerita-cerita dalam Sepotong Hati yang Baru membuka hati bagaimana mengelola perasaan, cinta terutama. Seperti buku-buku Tere Liye yang lain, bahasa dan alur cerita yang dibangunnya bisa membawa emosi pembaca masuk ke dalamnya hingga tak heran kalau sampai ada air mata yang menitik. 🙂

[Mozaik Blog Competition] Sebermula Membaca, Kemudian Karya

April , 2006

Di UPT Perpustakaan Pusat siang itu, setelah mencatat beberapa kalimat dari buku Pak Djoko Pradopo, Kritik Sastra Indonesia Modern (2002), saya membaca buku kumpulan cerpen Radhar Panca Dahana berjudul Masa Depan Kesunyian. Hanya satu cerpen yang sempat saya baca. Sebelum membaca cerpen yang berjudul “Menjadi Djaka”, saya membaca pengantar buku yang ditulis oleh pengarangnya sendiri. Baru membaca kalimat pertama, tiba-tiba melesat sebuah ide. Ide itu juga datang karena kalimat tersebut mengingatkan saya pada sebuah puisi Faiz–penyair cilik favorit saya, putra dari Helvy Tiana Rosa– yang pernah saya baca di blognya. Sudah lama saya tidak menulis puisi. Alhamdullilah, melesat sebuah ide untuk dijadikan puisi. Nggak puitis sih, tapi saya besyukur bisa menulisnya:

aku ingin mencipta sebuah dunia
dengan kertas dan pena
dari kata-kata yang berlari
dari angan dan mimpi
semesta kujaring lewat pendengaran, penglihatan, dan hati
aku ingin mencipta sebuah dunia
dengan kertas dan pena
dari limpahan rasa
sebutir keyakinan
yang Ia tiup dan berdenyut
dalam qalbu

Puisi itu tidak selesai dalam sekali buat. Saya menambah di sana-sini disela-sela membaca buku Sastra Baru Sastra Indonesia I oleh Teeuw. Asyik juga membaca kritik sastra atas karya-karya Pramoedya( bab ini yang sempat saya baca). Buku lain yang saya baca adalah buku Taufik Ismail Dalam Konstelasi Pendidikan Sastra karya Suminto A Sayuti ( buku ini juga saya baca selektif). Puisi-puisi Taufik yang dikutip dalam buku itu, subhanallah, bagus-bagus dan menambah inspirasi.

***
Saya tidak mahir dan jarang menulis puisi. Beruntung sekali kalau saya bisa membuat puisi yang benar-benar jadi. Bahkan setelah puisi itu jadi, saya malah merasa heran, kok bisa membuat puisi seperti itu? Seperti juga puisi di atas, ada peran buku yang membangkitkan inspirasi dan memberi masukan bagi saya ketika menulis. Saya ingat, ada bebarapa puisi yang saya buat karena pada waktu itu saya sedang membaca sebuah buku. Pertama, puisi yang saya buat tatkala membaca buku Aku karya Sumandjaya (bukan karena ikut-ikutkan Rangga dan Cinta lho, yang karena membaca buku itu trus bikin puisi). Saya suka pada puisi-puisi Chairil Anwar dalam buku itu. Asyik: kata-katanya singkat, padat jelas, terkesan bahasa percakapan, dan jauh dari kiasan yang kadang susah dimengerti.

“Coba aku bisa bikin puisi seperti Chairil,” pikir saya waktu itu. Lalu saya mencari-cari, pengalaman apa yang bisa saya tulis dalam bentuk puisi? Saya terus berpikir dan mengingat-ingat. Entah kenapa, saya lupa, tba-tiba saya menghadirkan kembali pengalaman jatuh cinta ketika duduk di bangku sekolah menengah. Yang saya ingat dari pengalaman itu, saya tidak punya keberanian untuk menatap mata teman yang saya suka. Bahkan saya takut menatap guru yang memberikan pelajaran di depan kelas. Saya takut guru favorit saya yang memang terkenal care itu mengetahui ada yang bergejolak dalam hati saya lewat mata. Pengalaman jatuh cinta itu seperti benar-benar hadir di depan saya. Maka setelah coret sana coret sini, edit sana edit sini, sambil terus membaca puisi-puisi Chairil, jadilah puisi itu:

jatuh cinta I

takut rahasia batinku tercuri
menatap maanya kutak berani
sebab ia pun akan terlonjak sendiri
menyaksikan dirinya telah menjadi ombak dalam bahtera jiwa ini
deburannya sungguh kunikmati
meriakkan airnya menjadi:
buih-buih kangen
buih-buih angan

Beberapa bulan kemudian, saat saya membaca buku kumpulan puisi Perahu Kertas karya Sapardi Djoko Damono, timbul rasa iri dan keinginan untuk membuat puisi. Saya kembali berpikir dan mencari. Yang hadir kemudian lagi-lagi pengalaman jatuh cinta. Puisi yang saya tulis hampir sama dengan puisi jatuh cinta pertama, bedanya saya tidak menulis/berbicara sebagai orang pertama.

jatuh cinta II

telah terbit bintang di sepasang telaga beningnya
yang padanya kejujuran bisa berkaca
adanya ia di tepi telaga
adalah energi yang membuatnya berpijar senantiasa

Dari buku yang sama, buku Sapardi, saya mendapatkan ide untuk membuat satu lagi puisi. Hari itu teman duduk SMU saya berulang tahun. Saya ingin memberinya kado sebuah puisi (sayangnya, saat itu puisi tersebut belum saya kirimkan karena subuah alasan, puisi itu kemudian saya hadiahkan pada teman saya yang lain.) Saat keinginan itu muncul, segera saya ambil buku Perahu Kertas dan saya baca beberapa puisinya sambil terus berpikir. Kata-kata apa yang akan saya pilih ? Alhamdulillah, setelah corat-coret, jadilah puisi itu

sajak hari lahir

waktu kembali memetik satu daun
dari pohon kehidupanmu
akankah ke bumi ia kembali?
menjadi pupuk bagi hidup
mendewasakan diri
ataukah hanya melayang sebagai daun kering?
terbang bersama angin
hilang bersama debu

***
Di sela-sela meng-entry buku di perpustakaan fakultas sebagai tenaga freelance, seringkali saya membuka-buka buku dan membaca sekilas buku yang menarik perhatian. Suatu waktu, ada buku yang membuat keingintahuan saya bangkit. Buku itu berjudul Sastra Melawan Slogan karya Abdul Wahid BS. Saya buka-buka secara acak untuk mengetahui isi buku itu. Tiba pada suatu dengan sub judul “Ritus Bahasa”, saya tersenyum membaca dua paragraf dari sub judul itu. Baiklah, saya salin dua paragraf itu:

Syahdan, Dylon Thomas, tatkala akan menulis sajak, dijajarkannya sajak karya Charles Boudelaire, Arthur Rimboud, Paul Verlaine, John Done dan sajak lain yang ia gandrungi. Dia melakukan pembacaan berulang-ulang terhadap sajak dihadapannya itu, seakan ia seorang ahli kimia kata-kata, campur ini campur itu. Begitulah upacara penemuan bahasa atau ritus bahasa ia jalani, sampai sajak ia hasilkan.

Apakah ia melakukan penyontekan? Mulanya iya, tapi ritus itu menadi proses, dalam menjalani ritus bahasa ia leka (hanyut) kediriannya, tatkala sajak jadi, ia tersentak, “dalam sajak, aku ada.” Sejarah mencatat, ia salah seorang sastrawan penting Inggris dengan hasil sastra yang diperhitungkan dunia, tanpa kritikus harus menilainya sebagai plagiat Boudelaire.

Ah, ternyata bukan hanya saya yang ketika belajar bagaimana menulis puisi harus membuka-buka dan membaca buku-buku puisi karya sastrawan favorit. Bahkan sastrawan sekaliber Dylon Thomas melakukan apa yang disebut ritus bahasa. Saya memang belum kenal siapa Dylon Thomas, tapi paling tidak saya belajar darinya dari dua paragraf yang saya kutip tadi.

***

Agustus 2010

Multiply heboh! Lomba flash fiction yang diadakan mbak Intan berhasil menyedot perhatian ratusan MPers, saya salah satunya! Penasaran sekali dengan lomba dengan 3 tema itu: ayah dan anak, Ramadhan, dan 17 Agustus. Rasanya tertantang ingin menaklukan lomba itu: bukan kemenangan akan juara, tapi kemenangan berhasil eksis! Ikut saja.

Setelah melewati fase cenat-cenut dan perjuangan rasa malas serta ketidaksabaran dalam proses menulis, Alhamdulillah 3 FF berhasil saya ikutkan,meski ketiganya tidak masuk nominasi,. Buku dan kegiatan membaca tak bisa saya lepaskan dari proses itu. Saya bisa menulis ketiganya dengan sebelumnya menemukan ide dari membaca. Ketiga FF yang saya tulis punya sumber rujukan sendiri-sendiri:

FF #1 : “Andaikan Aku di Palestina”

Judul itu saya tulis dengan ingatan akan sajak Goenawan Mohamad yang populer: “Andaikan Aku di Sarajevo”. Sajak itu bertahun-tahun lalu pernah saya baca, isinya lupa tapi judulnya teramat lekat dalam ingatan. FF yang bercerita tentang maraknya petasan di bulan Ramadhan dikontraskan dengan bom jihad di Palestina itu saya lengkapi dengan cuplikan puisi dari note di Facebook Abdul Hadi WM.

FF #2: “Kukirimkan Padamu”

Lagi-lagi puisi, kali ini puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Kukirimkan Padamu” dari buku Perahu Kertas—lagi!–. Puisi tersebut bercerita tentang kartu pos yang dikirim seseorang kepada istrinya. Di FF saya, puisi yang ditulis dalam kartu pos itu dikirim ayah kepada anaknya. Sang ayah adalah wartawan yang kerap bertugas ke luar (negeri). Si anak selalu meminta cerita dari ayahnya. Sang ayah yang tidak punya waktu banyak memakai cara jitu: kartu pos.
Di bagian ending–maksa sih– si anak menunggu kartu pos dari ayahnya. Ayahnya berada di Kabul, Afganistan yang rawan. Tak mendapatkan kabar dari ayahnya, dia search berita dari internet dan mengklik sebuah video peledakan bom. Ada sepotong tangan dengan arloji dan tanda lahir yang dikenalnya, menggenggam selembar kartu pos. Bagaimana gambaran peledakan dan situasi Kabul saya dapatkan dari buku Selimut Debu tulisan Agustinus Wibowo.

FF #3: “Di Balik Kaca Merdeka”

Ini FF terakhir yang saya buat. Saya tidak bisa tenang sebelum menulis tema 17 Agustus. Saya ingin menyampaikan makna merdeka. Berkali-kali coret-coret namun tidak selesai, pusing. Tapi saya ingin sekali menaklukan tantangan itu. Maka saya ambil Catatan Pinggir 2 punya Goenawan Mohamad untuk mendapatkan referensi mengenai makna merdeka atau percikan-percikan cerita Proklamasi. Barangkali ada.

Saya mulai membaca dengan menelusuri dari indeks Soekarno. Tak mendapatkan apa yang saya harapkan, saya kemudian membuka-buka buku itu acak. Ada bab Kemerdekaan. Mantabs! Saya mendapatkannya! Di banyak negara, termasuk Indonesia tentu, pelarangan maupun sensor itu selalu ada. Lalu ingatan saya melayang pada Gurita Cikeas, buku-buku Pramoedya Ananta Toer, dan majalah Tempo yang pernah dibredel. Dari situ kemudian saya mulai menulis. Ada buku yang terbit di hari 17 Agustus sebagai bentuk perayaan-bagi penulis buku itu-, namun di hari itu juga bukunya ditarik. Ketika selesai menuliskan cerita itu, saya belum memiliki judul. Judul buku rekaan dalam cerita itu pun belum- sekaligus akan menjadi judul FF-. Judul itu harus mewakili fatamorgana sebuah kemerdekaan. Pikiran seketika melesat pada buku karya Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca. Akhirnya jadilah judul FF di atas. Merdeka hanya di balik kaca, benarkah kita sudah merdeka?

Tak bisa dielakkan, buku menjadi inspirasi besar untuk karya-karya kecil saya, karya pribadi yang belum dikenal pembaca di luar. Sebab begitu besarnya insiprasi dari buku-buku yang berjejer di rak, akan saya tambah seiring dengan harapan akan karya-karya kecil lain yang terus tumbuh. Tak peduli dengan karya-karya kecil belum ada yang go public, saya akan terus menulis beriringan dengan menyapa aksara dalam buku-buku.

#Ikut serta meramaikan Mozaik Blog Competition: Arti Buku Buatku

Catatan:
Tulisan di bagian April 2006 hasil daur ulang dari tulisan di blog lama: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/04/buku-dan-inspirasi/