Rindu Diari

Ada baiknya saya kira, sebuah diary  dibawa kemana-mana. Ketika kita membutuhkan sebuah ‘tempat’ sampah untuk mengungkapkan apa yang berkecamuk di dada. Ketika kita membutuhkan ruang yang begitu privat untuk menyendiri dan curhat, ruang yang tidak bisa digantikan oleh seseorang, pun sosial media apapun.

Diary lama saya, sudah kurang lebih dua tahun saya tidak menyentuhnya. Mendadak saya rindu benda satu itu. Tempat saya bisa menuliskan apapun. Apapun. Apa saja. Membutuhkan buku kesayangan itu. Sekarang.

[Diary Janitra] p a y u n g

Gambar

 

Payung, menempati ruang tersendiri dalam keseharian Janitra. Ia menjadi salah satu benda favoritnya barangkali. Bagi Janitra, payung identik dengan jalan-jalan,  melihat dunia luar. Sejak  Janitra berumur tiga bulan, ia sudah terbisa pergi ke luar rumah. Tentu saja payung adalah benda wajib untuk melindungi dari terik matahari.

Itu sebabnya, setiap kali melihat payung, Janitra selalu exited. Ketika ia belum bisa berbicara, ia hanya akan menunjuk payung dengan bahasa yang belum terdengar jelas. Ia juga akan menunjuk ke luar rumah. Seiring waktu, pelan-pelan Janitra semakin bisa mengeja payung meski dengan suara yang lucu sembari heboh meminta dikembangkan atau minta ke luar.

Kalau di rumah neneknya, di Grabag, setiap kali melihat Payung Janitra akan menyebut juga pasar, sebab neneknya seringkali mengajaknya berbelanja membawa Payung. Mengetahui kakak sepupunya, Salma, memiliki payung kecil yang bisa dipakainya untuk bermain, Janitra semakin exited. Payung itu pun begitu cocok dengan Janitra, berwarna kuning—warna yang begitu klik dengan Janitra—dan bergambar Momon, sebutan kami untuk Monyet, karakter yang sudah diakrabinya dari buku cerita yang sering kami bacakan.

Payung kecil Momon pun menemaninya bermain di suatu siang yang terik di belakang rumah. 

[Gado-Gado Sekolah #16] Kemana Raibnya Kartu Pos dan Surat-Surat Kami?

“Bu, suratnya kok belum sampai?” Tanya anak-anak kepada saya setiap saya masuk kelas 4.  Kalau pekan lalu mereka begitu penasaran ingin ke kantor pos mengirim surat yang mereka tulis untuk ayah bunda mereka, sekarang mereka menanti datangnya surat-surat itu. Sudah satu pekan sejak mereka melakukan kunjugan ke kantor pos, tapi surat-surat itu belum sampai juga, padahal rata-rata anak-anak tinggal di kecamatan yang sama dengan lokasi kantor pos.

Gambar

Ini diluar ekspetasi kami. Program menulis surat dan mengirimkannya langsung ke kantor pos dalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi surat  sudah saya laksanakan setidaknya 3 kali—3 angkatan–. Dua angkatan yang sebelumnya, program berjalan lancar. Mereka begitu exited mendapati surat yang mereka kirim kembali lagi kepada mereka setelah sebelumnya dibaca oleh orang tua. Ah, saya membayangkan bagaimana harunya orang tua membaca ungkapan hati anandanya, ada yang meminta maaf dan berterima kasih.

Mendapati hal seperti ini, saya jadi khawatir, surat-surat itu bernasib sama dengan kartu pos saya.  Nasib sial menimpa beberapa kartu pos beralamat rumah saya tapi hingga kini tak ada kartu pos yang datang. Teman saya, mbak Ari Andari, beberapa kali bertukar kartu pos dengan saya. Hanya satu kartu pos yang datang, 2 yang lainnya tak sampai rumah. Ada juga kartu pos yang dikirim Yana dari Banjarmasin, ke mana perginya? Nasib serupa menimpa kartu-kartu pos yang saya kirim sendiri dari Jogja. Dua kartu pos yang saya kirim di rentang waktu yang ckup lama tak sampai. Anehnya, kali pertama saya mengirim kartu pos dari Bulaksumur  jumlahnya dua, satu sampai berbulan kemudian, satu raib.  Kartu pos yang raib kedua kalinya saya kirim dari kantor pos pusat tak jauh dari  Jogja 0 km, bergambar batik. Saya memang ingin membiasakan mengirim kartu pos dari temppat-tempat yang saya kunjungi. Kartupos itu akan jadi jurnal perjalanan dalam bentuk yang unik.

Untuk kartu-kartu pos yang tak sampai itu, pernah saya tanyakan di kantor pos. Kata petugas kantor pos, “kartupos kan pakai perangko, tanpa resi jadi susah ngelacaknya kalo tidak sampai.”

Nah, dari dua kasus itu, saya jadi menarik kesimpulan bahwa pelayanan kantor pos saat ini mengalami penurunan dalam hal surat-menyuarat  dan benda-benda  berperangko. Apakah era  digital yang serba instan dan cepat saat ini punya andil? Orang kini jarang berkirim kabar dengan surat berperangko sebab sudah ada handphone dan internet.  Kalau berkirim kabar bisa  dalam hitungan detik,  mengapa mesti berkirim surat  via pos?  Kirim uang pun kini sudah instan, ada wesel instan dan tentu saja transfer via ATM/bank. Barangkali, karenanya kini pelayanan kantor pos mengalami perluasan. Kalau hanya  mengalami surat-menyurat atau pelayanan benda-benda pos, barangkali kantor-kantor pos akan sepi.  Kantor pos kini ramai pengujung  yang akan membayar listrik, telepon, air,  speedy,  angsuran kendaraan bermotor, selain juga pelayanan pensiun .Nah, karena sebab itukah  kini perangko tergeser?

Karena saya merasa bertanggung jawab atas program itu, maka kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir ke kantor pos. Petugas pos senyum-senyum  melihat saya mendatanginya, di sampingnya ada seseorang yang masih asing, yang ternyata pak pos baru,“Ada apa, Bu?”

Saya utarakan maksud kedatangan saya, kenapa surat-surat saya belum datang.
“Masih lewat kelurahan,Bu”
“Siswa saya banyak yang rumahnya di sekitar sini, masak sudah seminggu belum sampai. Banyak lho Pak siswa saya yang rumahnya  banyak nggak di ‘daerah’. Jangan-jangan nasibnya sama dengan kartu pos saya dulu,”
“Wah, ya jangan,Bu. Jangan sampai kayak kartu pos itu.”
Setelah ngobrol-ngobrol sebentar,  antara kami bertiga, dan dua petugas itu sendiri, tahulah saya bahwa di kantor pos Grabag, petugas pos yang mengantar surat baru. Saya bisa menyimpulkan juga, bahwa surat-surat itu nyatanya belum sepenuhnya dikirim.  Sudah seminggu belum ada pelayanan? Ada ketidakseriusan mengirim surat anak-anak yang saya tangkap. Sepertinya surat-surat dengan perangko telah dinomerduakan pelayanannya. Entah kalo di kantor pos daerah lain.

Sedikit harapan saya dapatkan tadi pagi ketika masuk kelas 4, seorang siswa mengabarkan bahwa suratnya sudah sampai. Baru satu siswa, semoga yang lain segera menyusul, menghapus stigma saya bahwa pelayanan kantor pos mengalami kemerosotan.

Tentang Sebuah Cerpen, Deadline, dan Secangkir Kopi

Rasanya gemas dengan perasaan yang berkecamuk semalam, tak terdeinisi, campur aduk. Saya yang jarang ngeblog, kali ini tak tahan pengen mengeluarkan uneg-uneg di sini. J

Seharian kemarin, kepala rasanya pening.  Beberapa kali saya keluhkan pada suami.

“Kenapa sih pusing?”

“Hari ini deadline giveaway.” Suami sudah tahu giveaway apa yang saya maksud.  Hadiahnya  buku-buku dari penulis favorit kami.

“Masak pusing bukan karena anak, bukan karena pekerjaan tapi cuma karena lomba.” Suami geli. Sebelumnya suami sudah sering mengingatkan soal itu, namun memang belum ada energi untuk menulis. Energi saya sudah terkuras dengan pekerjaan siang harinya.

“Itu jadi obesesi dan pengen menaklukan,”ujar saya sambil meninabobokan Janitra sementara suami berbaring di sebelah.  Ya, giveaway itu begitu ingin saya taklukan karena temanya berbicara mengenai sastrawan Indonesia yang karya-karyanya saya kagumi. Saya ingin menjadi bagian dari perayaan itu, ikut menulis untuk sastrawan besar itu.  Sementara soal hadiah, itu soal rejeki. Di luar sana, banyak penulis-penulis jago yang tulisannya berkelas juara.

Waktu penyelenggaraan giveaway itu cukup panjang, dua bulan.  Saya begitu berharap durasi lomba diperpanjang karena  peserta sepertinya baru sedikit, namun kemarin saya cek ternyata pengumuman masih sama. Sudah ada tulisan di komputer yang sedianya akan saya ikutkan. Satu tulisan fiksi akan saya kembangkan dari flash fiction lama. Nyatanya waktu dua bulan itu sudah tersita oleh pikiran persiapan akreditasi sekolah. Sampai rumah energi sudah habis.  Hari belakangan saya luangkan waktu untuk mengeksplorasi FF itu, tapi macet di pembukaan dan pada akhirnya saya malah berpikir kalau tema itu tidak cocok dengan ketentuan lomba.

Sejak pagi di angkot, sambil membaca Guru Gokil Murid Unyu karya J. Sumardianta saya terus mencari ide. Dalam buku itu tersebar banyak kisah-kisah penuh keteladanan yang humanis, bisa dikembangkan menjadi cerpen. Maka sepulang sekolah, di angkot lagi, saya lanjutkan membaca sambil terus berpikir. Buku hadiah milad itu sudah berhasil mencuri perhatian saya.  Terima kasih kepada kawan saya, Nurhid yang sudah menghadiahkannya.  Agaknya, saya memang membutuhkan banyak buku-buku semacam itu untuk dibaca.

Gambar

Bisakah saya menulis cerpen dalam hitungan jam? Pikir saya begitu sampai rumah dan disibukkan dengan pekerjaan domestik. Namun, keinginan untuk menaklukan tantangan itu begitu kuat. Saya tak ingin menyesal karena melewatkan deadline itu, begitu saja berganti bulan tanpa mengikutinya.

“Kalau saya ngopi tambah pusing nggak ya?” Tanya saya pada suami disela-sela mencuci piring dan menyeteril botol-botol susu Janitra setelah si kecil bobok.

“Pengen ngopi?”

“Yang pasti pengen ‘doping’ buat nulis,” tekad saya.

Maka tadi malam, suami mendadak menjadi ‘barista’ untuk saya, meracik kopi superduper spesial. Kalau soal kuliner, suami memang lebih telaten. Kopi sumatera oleh-oleh dari paklik saya yang menjadi trasmigran di pulau Arca di-mix  dengan susu UHT Ultra.  Kehangantan kopi tetap dijaga dengan memanaskan dulu susunya di atas air mendidih. Lalu jadilah secangkir kopi itu…. Rasanya teramat spesial, seger dan membuat ketagihan.  Maturnuwun buat Panda Janitra J

Begitu pekerjaan domsetik selesai, saya olah ide dari buku Guru Gokil Murid Unyu.  Ada kisah sebuah keluarga brayut di bagian Il Jardinero yang meninggalkan kesan mendalam.Tentang keluarga yang terselamatkan oleh jasa rentenir. Ide itu saya padukan dengan ide lain yang ekspolarsinya saya lakukan dengan berkali-kali melakukan dialog dengan suami.

Selama proses menulis, berkali-kali saya melirik jam dinding, berkejaran dengan waktu.  Saya belum terbiasa menulis cerpen, bahkan cerpen sekali jadi. Merasa belum piawai menulis cerpen, beberapa cerpen yang pernah saya tulis saya kerjakan dengan berkali-kali.  Pukul sebelas malam, cerpen selesai kemudian saya edit dari segi penulisan.  Dari segi isi, saya tidak tahu bagaimana rasa cerpen saya.  Karena ditulis untuk mengejar deadline, saya merasa belum bisa menghidupkan cerpen saya.  Mungkin garing, tanpa soul.  Saya tak mau membaca ulang cerpen saya, takut dengan banyak hal. Setengah dua belas, saya masih harus mengedit untuk tulisan nonfiksi.  Karena kopi mata saya masih menyala.  Tidak seperti hari-hari sebelumnya, saya bisa melewatkan malam dengan menulis.

Sembari mengedit, saya buka jaringan internet. Sempat khawatir karena koneksi tidak bisa saya lakukan.  Harusnya bisa karena pulsa sudah saya isi. Menyangka ada masalah dengan pulsa, rasa putus asa dan jengkel sempat hinggap. Untunglah 15 menit sebelum pergantian hari, masalah koneksi selesai. Cepat-cepat saya publish dan setor di komentar pengumuman giveaway, takut terdiskualifikasi karena kalah cepat dengan jarum jam.  Saya juga harus  menulis membuka Twitter untuk konfirmasi ikut lomba.  Semua sudah saya lakukan. Maka saya baca-baca ulang kembali pengumuman giveaway itu.  Hari sudah berganti. Saat itulah saya merasa seperti disengat.  Dengan huruf kapital,  tertulis bahwa deadline giveaway diperpanjang hingga  akhir Oktober! Kyaaa……  mendadak ada kecamuk di dada. Antara masgul, kecewa,  sesal, dongkol, ingin ngomel-ngomel, dan bersyukur!

Apapun perasaan yang berkecamuk, ada satu perasaan lega memenuhi dada, merasa menang karena  bisa membuktikan pada diri saya bahwa saya masih bisa menulis, saya bisa berusaha menulis cerpen dalam hitungan jam,  merasa menang  karena tantangan menulis di akhir September bisa saya taklukan, merasa menang karena saya bisa menaklukan tantangan mengikuti giveaway itu. Ada rasa percaya diri tumbuh, bahwa saya bisa!

  #foto hasil googling

[Diary Janitra] The Amazing Al-Quran

Sejak dalam kandungan, Janitra sudah terbiasa mendengar lantunan Al-Quran. Tiap pagi di sekolah, rutinitas yang saya hadapi adalah mendengar riuh rendah anak-anak menghafal beberapa surat jus 29,lalu menghadapi mereka yang berebut setor hafalan. Saya salut pada mereka yang gigih menghafal hingga tuntas. Beruntungnya mereka, orang-orang dewasa seperti saya tentu kalah dengan mereka: menyimak sembari memegang mushaf :D. Saya menyukai keramaian kelas pada jam tahfidzul Al-Quran. Semangat anak-anak yang menghafal semoga menjalar dalam diri Janitra 🙂

Selain kadang-kadang mendengarkan musik klasik seperti yang disarankan di banyak artikel yang saya baca, di rumah murotal menjadi pilihan utama untuk diperdengarkan janin. Suami selalu berpendapat, lantunan AlQuran adalah musik terbaik,saya setuju.

Janitra kini sudah bisa mendengarkan murotal secara langsung. Begitu amazing lantunan Al-Qura’an. Ketika dia sedikit rewel-nangis2 kecil- menjelang tidur, cara menghadapinya simpel,cetek. . .! saya putar murotal dan mendadak tangisnya berhenti,cep! Dia akan tertidur dengan dengan pulas 🙂 Kalau lagu ninabobok dan rengeng-rengeng lain tak bisa menghentikan tangisnya, lantunan ALQuran begitu menenangkan dan menyejukkan. Berbeda sekali jika saya sendiri yang membacakan surat-surat pendek menjelang tidur, bukannya merem, matanya akan terbelalak menatap saya, penuh rasa ingin tahu. Sesekali saya mendapati mulut kecilnya bergerak-gerak. Barangkali ingin menirukan, atau mungkin malah ingin berkata,” Aduh… bacaan dan suara ibuk  nggak asyik, beda dengan murottal yang biasa Janitra dengar.” 😀

#angkot, 27022013,15.28 repost dari FB

Believe or Not: Be A Mother

Ketika pagi disibukkan dengan aktivitas domestik: bangun tidur dini hari nyuci baju,pakaian-pakaian Janitra beraroma ompol sembari menyiapkan makan buat Janitra, menyeteril botol susunya, lalu menghadapi tumpukan piring kotor,berasa sibuk. Di sela-sela itu sering terlintas pikiran,beginilah seorang ibu, inilah aku,sudah menjadi seorang ibu. Rasanya antara percaya nggak percaya, saya sudah menjadi ibu?!

Ada satu sisi yang berbeda dari diri saya dengan peran itu tapi di sisi lain,kok rasanya tak ada yang berbeda dengan ketika masih lajang. Rasane kok yo mung ngene. Apa itu, pola pikirkah dalam hal-hal tertentu? Entah, sukar untuk mendefinisikan. Ketika pagi seperti bergelut dengan waktu, masih ngantuk, pekerjaan belum beres, anak sudah bangun dan butuh ditangani, sementara hari semakin pagi dan harus segera bersiap ke tempat kerja, hem…inilah menjadi seorang ibu. Bukan hanya saya yang mengalami hal demikian, ibu-ibu di luar sana pun tak berbeda, merelakan sebagian waktu istirahatnya demi keluarga tercinta.

#angkot, 06.27 [repost dari FB, belum bisa ngeblog WP dari HP]

Maaf, Uang Saja!

Menjumpai kembalian sejumlah seratus atau dua ratus rupiah yang diwujudkan dalam bentuk permen sudah sering saya jumpai di supermarket-supermarket, bahkan toko kecil. Beberapa kali saya mengalami. Dalihnya pasti tak ada receh. Ah, tahu kalau mengembalikan uang kecil itu hal yang biasa dalam transaksi kenapa mereka tidak mau menyediakan receh? Saya pernah bilang pada mas fotokopian yang menukar receh dengan permen,”mas, berarti besok saya boleh bayar dengan permen?”
Eh, dia begitu enteng menjawab, “boleh tapi permennya se-truk.”

Itu baru permen untuk sekeping 200 atau 100 rupiah. Siang ini, saya dibuat mengernyit ketika menjumpai kasir salah satu swalayan berjenis ‘mart’ di Jalan Pahlawan Magelang memberikan Fulo. Hah? Untuk lima ratus rupiah kasir itu pun tak mau mengembalikannya? Ibu di depan saya mau saja menerima wafer itu. Tiba giliran saya yang hanya membeli air mineral dan 2 snack ringan sejumlah Rp 8.400, kasir itu menawarkan hal yang sama. Dia hendak mengambil wafer sejenis Fulo dengan merk yang berbeda sembari berkata, “kembaliannya enam ratus rupiah ini saja Mbak?”
Dengan tegas saya tolak, “Emm. . .uang saja mbak!”
Dia pun memberikan enam ratus rupiah dan struk belanjanya. Enak saja memaksakan transaksi,pikir saya. Toh mereka juga menyediakan uang receh. Berapapun uang kembalian, itu hak konsumen dan mereka harus mengembalikannya. Tak perlu gengsi untuk memintanya. Kendati hanya receh kecil, toh ia juga menggenapi uang kita manakala kita membutuhkan sejumlah tertentu dan terjadi kekurangan.

Saya kemudian berpikir, kalau setiap konsumen seperti ibu di depan saya, berapa konsumen saja yang telah dipaksa membeli barang yang tidak mereka butuhkan? Pemborosan. Di mata kasir, itu cara mengambil keuntungan dengan pemaksaan yang halus.

Saya pernah membaca tulisan semacam ini di rumah mbak Nesia. Siang ini, saya begitu geram dan ingin menumpahkannya juga di sini.

[Diari Bumil] Berganti Nama

Bangun tidur pagi tadi, suami komentar kalau saya nampak lebih ceria, aura ceria begitu terlihat. Kenapa? Ehm… keceriaan itu awalnya saya rasakan sejak semalam. Rasanya ingin tersenyum terus begitu keluar dari ruang periksa. Perasaan lega,bahagia, dan berjuta syukur menjadi senandung hati mengetahui hasil USG. Bukan untuk mengetahui apa jenis kelamin si kecil, hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja di dalam perut ini.

Selesai di-USG begitu saya duduk, Dr. Adi langsung membaca hasil USG. Saya maupun suami belum sempat bilang apa-apa, bahkan kalau kami tidak ingin mengetahui jenis kelamin si kecil. Beliau mengatakan, bagus, sehat, posis normal, organ lengkap, plasenta bagus, ketuban bagus, dan jenis kelamin…. Degh, seketika hati ini mencelos mendengar jenis kelamin yang berkebalikan dengan harapan. Yah… sebenarnya saya memang menduga kalau si kecil berjenis kelamin seperti yang dokter katakan kalau menilik dari pola makan saya sebelum menikah—sebelum hamil—, tapi namanya punya harapan boleh kan?

Apapun itu, yang pasti kami tetap bersyukur… berjuta syukur untuk kesehatan anak kami, kebahagiaan yang tak ternilai bagi saya mengingat saya selama ini begitu khawatir dan deg-degan mengalami beberapa keluhan-keluhan kecil yang sebenarnya wajar dan normal dialami bumil. Kalau bercakap-cakap dengan para ibu yang sehat dan mudah menjalani kehamilan saya sangat termotivasi. Sebaliknya, ketika ingat dua sahabat saya yang mengalami masalah kehamilan, satunya menderita kista di rahim dan satu lagi plasenta bermasalah, saya jadi takut.
Alhamdulillah keluhan-keluhan kecil itu tidak berefek pada si kecil.

Selanjutnya, setelah tahu–prediksi saja sih, Allah Maha Berkehendak dan USG belum tentu benar—jenis kelamin si kecil, sejak semalam kami mengganti nama panggilan si kecil. Kami sudah siapkan dua nama, namun nama yang selama ini kami panggil adalah nama dengan jenis kelamin yang [sedikit] kami harapkan. Dalam doa sih laki perempuan sama saja yang penting sehat, sempurna, sholih/shalihah, amin…

2011, Tahun Keajaiban

Menyambut tahun 2012, saya ingin sedikit mereview tahun 2011 yang baru beranjak semalam. Betapa banyak anugerah dan moment penting yang Allah berikan di tahun ini. Sebuah awal dari mimpi yang sedikit dinyatakan-Nya maupun sebuah langkah baru dari kehidupan sesungguhnya.

Juli 2011
Milad tahun ini Allah memberikan hadiah luar biasa, sebuah event menulis yang saya ikuti di jejaring sosial yang hingar bingar oleh event kepenlisan berhasil membuahkan satu antologi yang di dalamnya satu FF karya saya menjadi satu diantara 111 FF lainnya.

Antologi pertama saya, harapannya dari langkah kecil itu kemudian semangat menulis terus menyala. Baru berani nulis keroyokan dan mengikuti proyek-proyek menulis yang sifatnya sosial, paling tidak jejak kata itu sudah tertoreh dalam hidup.
Antologi itu diikuti oleh beberapa antologi yang lain. Kesemuanya mewakili dunia saya. Dunia flash fiction yang saya kenal dari MP dan begitu menarik ingin tahu saya untuk menaklukkannya.


My Home Town #1 berisi tentang sekelumit cerita dan mimpi kecil di kampung halaman saya, Grabag.


Kepadamu Pahlawanku, dunia tulisan kecil di dalamnya saya dedikasikan untuk dua pahlawan besar dalam hidup saya, almarhum bapak dan emak.


Put Your Heart Into Teaching, adalah antologi yang berisi berbagai pengalaman para pendidik dari grup Put Your Heart into Teaching di Facebook. Pendidikan, dunia yang didalamnya saya sedang berproses, belajar bersama anak-anak.


Dear Love for Kids, antologi cerita anak, persembahan untuk anak-anak Indonesia. Dunia anak begitu dekat dengan keseharian saya dan menulis cerita tentang dan untuk meraka menjadi satu impian saya.

Ramadhan 1432 H
Wow, saya boleh bilang ini Ramadhan terindah dalam hidup saya. 20 Ramadhan menjadi milad saya di tahun hijriah. Sehari setelahnya,tepatnya 21 Ramadhan, orang yang saya nanti dalam tiap lipatan doa saya hadir di hadapan kami. Kepada emak diutarakannya niat tulusnya untuk menjadi bagian dari hidup saya. Proses perkenalan kami tidak lama. 2 hari sebelum Ramadhan, dua teman kerja saya memperkenalkan saya dengan teman meraka. Allah mempermudah jalan kami. Dari tak ada perasaaan sama sekali, Allah memantabkan hati kami. Tak henti berdoa dan meminta yang terbaik pada Sang Sutradara Hidup, langkah kecil ini mau saja menapaki jalan yang memang harus saya lalui. 24 Ramadhan malam, hati saya semakin mantab dengan kedatangan keluarganya. Proses khitbah berjalan lancar. Selanjutnya langkah kami semakin mantab.

11.11.11
Sebuah awal hidup baru terbuka lebar dihadapan kami. Hari Jum’at, 11 November 2011 alhamdulillah saya resmi melepas masa lajang saya. Proses akad nikah di mushola depan rumah dan sedikit syukuran diikuti dengan resepsi di tempat keluarga suami pada Ahad, 13 November 2011. Resmi menjadi istri, setelahnya saya sering tidak percaya kalau status dan hidup sudah berubah, memasuki keluarga baru yang tidak pernah terbanyangkan sama sekali.


Kebahagiaan kami makin lengkap ketika sebulan setelahnya, di Ahad dini hari, 11 Desember 2011, kami melakukan test kehamilan. Bergetar kaki dan hati mendapati dua strip merah tergaris jelas di test pack. Alhamduillah, Allah tidak menunda pemberian amanah pertama untuk kami berdua.

Betapa tahuh 2011 banyak hadiah yang diberikan Allah, saya dan suami menyebut tahun 2011 sebagai tahun keajaiban.
Semoga segala kebahagiaan dan hadiah dari Allah akan diikuti berjuta berkah, hidayah, dan tahun yang lebih baik di 2011, amin

*semua foto buku mengambil dari penerbit