Headset Kesayangan, Riwayatmu Kini. . .

Barusan kaget mendapati headset kesayangan tergeletak protol. Headset itu tak berubah tempat sejak saya bangun tidur pagi tadi. Ada di samping bantal. Baru sadar kalau sebuah kecerobohan saat bangun tidur telah membuat saya kehilangan benda kesayangan. Headset itu tak ubahnya sohib. Ia tak hanya mengasingkan saya dari dunia sekitar kapanpun saya mau, menepikan diri dari hiruk pikuk tapi juga memberikan rasa yang berbeda saat menikmati musik. Ini yang paling saya butuhkan. Keberadaan benda itu di kedua telinga mendekatkan saya dengan dunia suara yang menakjubkan. Detil dan keunikan musik yang mengalun terdengar begitu jelas dan kentara. Sesuatu yang seringkali terlewatkan jika musik begitu saya mengalir dari ponsel tanpa benda itu di kedua telinga.

Bagaimana satu bulatan kecil itu terputus dari kabelnya sungguh diluar sepengetahuan. Memiliki kebiasaan berangkat tidur dihantar murotal dari ponsel via headset, tak jarang kabel itu melilit leher ketika bangun tidur. Tanpa rasa bersalah, seringkali saya asal menarik lilitan itu sembari bangun. Sudah berulangkali terjadi, agaknya pagi tadi ia diam-diam protes. Jadilah malam ini saya berangkat tidur tanpa sumpelan telinga. 😀

Kecewa, tentu saja. Ada sih banyak ganti di counter hape. Tapi, nilai benda itu yang tak bisa tergantikan. Saya tipe orang yang tak mudah berganti ke lain benda jika satu benda itu sudah lekat dengan keseharian. Lebih-lebih headset itu ‘ori’ bawaan ponselnya. Rasanya nggak rela nantinya headset yang nyolok di ponsel bukan pasangan yang datang sekerdus dengannya 😀

It’s in Me!

Saya selalu suka Sabtu sore, ujung pekan yang begitu dekat dengan Ahad yang kosong dari ‘dinas’. Terlebih Sabtu ini, bahagia dan lega sekali. Ada keputusan besar yang saya ambil di tempat kerja: rekomitmen.

Alhamdulillah, saya bisa melewatinya dengan ringan tanpa beban. Bekerja di dua tempat mengharuskan saya memilih satu ‘option’ yang ditawarkan Yayasan. Memilih mengabdi menjadi guru tetap di Yayasan mengharuskan saya melepaskan satu pekerjaan ‘pendamping’. Merasa berat kalau harus meninggalkan sekolah satunya, saya memilih dua-duanya tetap jalan. Sepahit apapun pengalaman yang sudah terlewati, berat jika melepas begitu saja. Konskuensinya, hak yang saya terima akan jauh berbeda dengan teman-teman, tidak peduli dengan masa bakti yang sudah saya lewati.

Sebab hidup dipenuhi dengan berbagai pilihan, saya harus berani memilih. Ya, hari ini –mendadak sekali acara rekomitmen itu–, saya merasa telah berhasil melewatinya. Bersyukur Allah memantabkan dan meringankan langkah saya. Tidak ada rasa sesal dan harapannya pilihan itu terbaik untuk satu tahun ke depan.

Menghadapi saat semacam tadi, ketika diri dihadapkan pada pilihan, saya selalu ingat sebuah kutipan dari novel Tarian Bumi racikan penulis Bali, Oka Rusmini. Ketika butuh semangat, saya suka membacanya sebagai ‘charge’ jiwa. Tentang keberanian, kutipan itu saya tulis di agenda semasa kuliah dan tentu saja, di diari. Ini dia kata-kata sakti itu:

Sayekti, kau harus berani!
Kau harus berani. Hidup ini keras…dan jadi perempuan itu sulit. Tapi kalau kita tabah dan siap untuk kalah dalam setiap pilihan kita, maka kita bisa menikmati hidup. Kemenangan dan kekalahan bukan hadiah, tapi bagian dari hidup yang harus kita bayar. Itu kewajiban kita kepada hidup.

Pulang

Seringkali, dalam sebuah perjalanan ada semacam perasaan sia-sia menyergap. Pertanyaan-pertanyaan berbalut penyesalan mengusik,
“Kenapa saya harus datang ke tempat ini, jauh-jauh,tapi gak dapat apa-apa?”
“Kenapa Allah membiarkan saya melakukan perjalanan ke sini?”

Kalau sudah begini, saya akan mengais-ais hikmah dari apa yang sedang saya jalani (jeleknya saya!). Saya akan mencari-cari, bukankah tak ada yang sia-sia dan Allah selalu memberikan hikmah? Apa yang Allah berikan kali ini? (jeleknya, selalu minta imbalan!)

Bagaimanapun juga, sebuah perjalanan selalu menjadi ruang kontemplasi bagi saya. Ketika saya berjarak dengan rumah, dengan segala rutinitas di rumah dan pekerjaan sehari-hari, saya bisa memikirkan dan menguraikan banyak hal, termasuk kepenatan. Barangkali itu yang saya sukai dari sebuah perjalanan. Di bus dalam perjalanan berangkat atau pulang bepergian, ketika bertemu dengan banyak orang dengan ragamnya, ketika melewati berbagai tempat dengan segala keunikannya, banyak hal baru masuk di kepala dan hati, mengusik untuk di renungkan saat itu juga. Begitu juga dengan perjalanan kemarin dari Solo. Merasa tak dapat apa-apa dan kecewa, di bus dalam perjalanan pulang saya melamun sementara percakapan di sekitar diam-diam masuk di telinga. Penumpang di sebelah tempat duduk asyik mengobrol tentang berbagai bencana di Indonesia. Penjaja makanan wira-wiri menawarkan makanan. Seorang anak seusia siswa SD menjajakan koran. Ah, tidak asing, anak sekecil itu sudah berjuang mencari uang?

Potret di perjalanan itu menghadirkan rasa syukur. Betapa beruntungnya saya masih punya orang tua yang memiliki rumah tempat saya pulang. Betapa bersyukur saya mempunyai orang tua yang menanti kedatangan saya di rumah. Betapa beruntung saya bisa beristirahat malam dengan nikmat, di atas kasur kapuk yang memberikan kehangatan, ‘bersembunyi’ di bawah selimut lawas dengan bau khasnya, berbantal beruang biru yang sedang hibernasi, lembut. Kangen rumah, rasa itu yang kemudian menyergap. Rasa kangen semacam itu selalu saya sukai. Pulang, menjadi hal yang selalu saya rindukan ketika jauh dari rumah ( kalau kemarin, padahal cuma di bus beberapa kota dari rumah). Yah, senikmat apapun perjalanan, seindah apapun pemandangan di depan mata, seenjoy apapun jalan-jalan itu, pulang pasti menjadi hal yang dirindukan.

Malam harinya, ketika sudah berbaring mengendapkan penat, betapa rasa syukur itu berlipat adanya, dengan kilasan-kilasan perjalanan di luar rumah yang berkelebatan. Ah, inilah saya, sudah berada di tempat aman itu. Sudah pulang! Hangat.

Lomba Menulis dan Jilbab Pertama: Kenekatan yang Meluluhkan Hati

“Mau pinjam jilbab lagi.” Kata saya pada saudara sepupu suatu kali di masa SMU.
“Buat apa?”
“Pengaian Ahad.”
Saudara saya memperlihatkan beberapa jilbab untuk saya pilih. Saya selalu memilih jilbab itu,sederhana tapi adem dipakai, sebuah jilbab dengan bordir di keempat sisinya. Sebulan sekali, SMU tempat saya belajar mengadakan pengjian Ahad. Saya selalu antusias mengikutinya. Alasannya simple: karena hanya pada kegiatan itu saya bisa berjilbab ke sekolah. Yeah, meskipun sekali-kali penutup kepalanya masih pinjam. Ya baru pinjam sebab waktu itu saya baru memiliki 2 potong kain jilbab yang saya milki sejak SD. Waktu itu saya belum berjilbab tetapi keinginan berjilbab sudah mengakar kuat dalam hati.

Keinginan berjilbab mulai muncul sejak saya mengenal majalah Annida. Majalah itu diperkenalkan seorang teman SMP yang kakaknya berlangganan dari SMUnya. Sebelumnya, saya memang belum mengetahui kewajiban menutup aurat bagi muslimah. Ah, betapa dangkal pengetahuan agama saya. Kelas 2 SMP, beberapa teman sudah mendahului berjilbab tapi saya baru menjadi “penonton”. Beberapa saudara dari bapak sudah bejilbab, ponakan laki-laki bahkan rajin kampanye jilbab. Tapi, saran saja tanpa hidayah dan niat tulus mana ada hasilnya. Baru pada kelas 3 SMP saya mulai membeli Annida lewat kakak yang duduk di SMU dan berlanjut ketika saya mengikuti jejak kakak bersekolah di sebuah SMU negeri di Magelang.

Selain ponakan laki-laki—kakak dia sudah berjilbab sejak SMEA–, beberapa yang rajin kampanye jilbab adalah kakak-kakak kelas dari ROHIS. Diantara mereka, ada mbak Arum yang paling care dengan saya. Selain memang ramah, mbak Arum sekelas dengan kakak dan kami bisa akrab. Begitu gencar mbak Arum mengajak adik-adik kelasnya berjilbab, sampai-sampai ketika saya memendekkan rambaut dia berkomentar,

“Wah dipotong rambutnya, mau pake jilbab kok ya…”

Nggak nyambung kan komentarnya? Saya balas komentarnya dengan senyum. Dalam hati saya mengamini. Keinginan itu memang sudah ada kok. Saya hanya belum siap, belum siap dengan pakaian panjang untuk sekolah. Kalau untuk di rumah tidak ada masalah karena sudah ada beberapa baju muslim pemberian sepupu dan saya sudah mulai memilih celana panjang atau baju panjang ketika dibelikan baju baru. Ketidaksiapan yang paling berarti sebenarnya adalah ijin ortu. Tiap kali saya mengutarakan keinginan, emak selalu bilang,

Ijeh kaya ngono kok nggo jilbab.” (Masih kayak gitu kok pakai jilbab)

Kayak gitu yang dimaksud emak adalah sikap saya yang dilihatnya masih semau sendiri. Tingkah sehari-hari saya barangkali dilihatnya masih jauh dari kesan alim, citra yang selau menempel pada muslimah berjilbab. Padahal, bukankan berjilbab itu sebuah proses? Kalau nunggu alim dulu, kapan berjilbabnya karena diri selalu merasa kurang? Bukankah dengan jilbab kita akan belajar menyesuaika, belajar memperbaiki diri?

Saya tak bisa melawan, belum punya kekuatan lebih. Tapi semakin saya membaca majalah Annida semakin kuat kerinduan saya akan jilbab. Boleh dibilang, kampanye dengan mulut tidak lebih mengena daripada bacaan-bacaan yang saya lahap. Saya tipe orang yang lebih suka membaca daripada mendengar. Cerpen-cerpen dalam majalah Annida banyak memberi inspirasi mengenai hidup. Kala itu, banyak penulis-penulis kondang seperti Helvy Tiana Rosa—sebagai pimred–, Asma Nadia, Sakti Wibowo tulisannya wira-wiri di Annida. Dari Annida pula saya mengenal HTR dan noveletnya yang ngeboom: Ketika Mas Gagah Pergi. Ajakan berjilbab dalam cerpen itu sangat menyentuh tanpa menggurui.

Hidayah itu mahal, jadi ketika hidayah itu menyapa, jangan pernah sia-siakan. Kata-kata yang sering saya baca itu selalu terngiang. Siang itu, saya ngobrol dengan kakak. Saya utarakan keinginan kuat itu. Kakak meskipun belum berjilbab mendukung saya untuk terus maju, bahkan akan membantu saya saat menghadap emak lagi. Saat itu juga saya mantab, mulai besok pagi dan seterusnya saya harus mengenakan jilbab di sekolah dan di rumah. Siapa yang tahu umur seseorang berakhir kapan kalau niat baik itu tidak segera dilaksanakan?

Berkaca-kaca mata saya. Emak [lagi-lagi] belum berkata ya saat saya utarakan keinginan saya.
“Seragam saja belum punya.” Begitu alasannya.
“Aku bisa beli sendiri.”
Setengah hati emak memberi kebebasan pada saya dengan nada menantang:
“Terserah, tapi urusin semuanya sendiri.”
Ini hanya tantangan kecil. Saya memiliki emak yang seislam dan seiman dengan saya. Tantangan itu tak ada apa-apanya dibanding ujian nabi Ibrahim yang ayahnya berbeda keyakinan. Emak sebagai orang tua yang kadang over khawatir mungkin hanya cemas kalau saya hanya main-main, belum siap untuk istiqomah. Tekad saya makin kuat. Bukankah Allah akan menolong hamba-Nya yang juga menolong agama-Nya( melaksanakan perintahnya)? Saya selalu yakin akan hal itu.

Saya berani melangkah sebab saya menyimpan tabungan beasiswa sekolah. Itu rezeki dari Allah yang mempermudah jalan saya. Tanpa uang itu, saya tak berani bilang bisa beli sendiri sedang uang saku saja masih diberi. Dengan diantar kakak, saya berkeliling pasar untuk mencari pakaian seragam yang saya butuhkan. Baru dapat satu stel seragam putih abu-abu kami pulang. Yang lain belum cocok. Untuk jilbab saya belum membeli meskipun baru memiliki 2 jilbab putih. Sambil jalan saya akan mengumpulkan dan jilbab Pramuka sementara pinjam dahulu dari ponakan, bekas seragam SMEA-nya. Pikir saya, pasti jilbab itu masih ada.

Pulang sebentar meletakkan seragam baru, saya langsung menuju rumah sepupu untuk mengutarakan niat saya. Keluarga sepupu terkejut dan menyambut gembira rencana hijrah saya. Sepupu justru memberikan jilbab yang akan saya pinjam ditambah 2 jilbab lagi.Alhamdulillah.
Kembali lagi ke rumah, emak tidak menyangka kalau saya tidak main-main. Beliau sudah melihat sendiri kalau bocah wedok yang masih diangapnya pupuk bawang berani mengambil keputusan besar dalam hidup. Begitu mudah Allah membolak-balikkan hati hamba-Nya. Setelah bertanya jawab mengenai seragam dan tabungan beasiswa, hati emak luluh. Siang itu juga, beliau sendiri kemudian yang mengantar saya balik ke pasar melengkapi seragam yang belum terbeli—satu pasang seragam OSIS dan Pramuka– tanpa saya minta. Subhanallah, hari itu menjadi hari yang membahagiakan buat saya. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya melangkah sendiri?

Bulan Maret 2000. Tanggal tepatnya saya lupa. Yang saya ingat, kakak-kakak kelas 3 sedang melaksanakan ujian Pra-EBTA ketika untuk pertama kalinya saya mengen
akan jilbab. Terutama mbak Arum, kakak-kakak dari ROHIS tentu terkejut senang. Mereka semua mengucapkan selamat dan mendoakan. Allah begitu mudah membukakan jalan saya. Rezeki bertubi-tubi datang. Sepupu saya yang lain memberikan 3 jilbab dan mbak Fatim, sohib kakak di kelas, memberikan satu jilbab cantik. Saya tak pernah khawatir dengan langkah saya selanjutnya. Emak menjadi pendukung saya. Beliau bahkan meminta kakak mengikuti jejak saya. Hidayah itu barangkali belum menyapa sehingga keinginan emak belum tercapai.

Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi berjilbab bagi saya masih menjadi proses belajar. Keimanan masih pasang surut tapi saya mensyukuri hidayah yang terus teraga. Jujur saya masih suka terpengaruh, ada model baju tertentu kadang kepengen memakai. Namun, apapun jenis pakaian saya, rok, celana, atau gamis, apapun jenis penutup kepala saya: model dan gaya apapun, saya tetap ingat rambu-rambu dari Allah: menutup dada dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh. Berjilbab toh bukan berarti tak bisa berekspresi dalam berpakaian—nyeni.

Alhamdulillah, emak yang dulu jadi penentang dan kini pendukung selalu memahami selera berjilbab putrinya. Beliau yang meskipun belum bisa kaffah berkerudung tak mau lagi memilih dan membeli jilbab ukuran kecil untuk dipakainya. Lumayan, kami bisa bertukar jilbab oblong. Malah saya yang lebih sering meminjam jilbab oblongnya untuk acara santai.

Magelang, 10-10-2010
Dedicated to my beloved emak

**tulisan ini ikut memeriahkan Lomba Jilbab Pertamaku di rumah bu Dian

***foto novel dari googling

Nikmat yang Manakah yang Kau Dustakan?

Seperti demam yang datang di masa pancaroba,ada ngilu menyergap setiap kali bulan ke tujuh menjelang.

Begitulah,setiap mendekati Juli, ada perasaan sedih membayangi, semakin mendekati tanggal 1 semakin murung rasanya. Tak ada kebahagiaan membuncah seperti bocah menantikan perayaan ultahnya. Seperti tak rela menghadapi pergantian usia, tak rela karena bilangan tahun umur bertambah dan jatah hidup berkurang sementara perbaikan kualitas diri belum terlihat signifikan. Saya merasa belum memdapatkan apa-apa di usia yang terus merambat ke kepala tiga. Itu sebabnya saya paling tidak suka merayakan hari lahir. Apanya yang dirayakan? Pencapaian apa yang pantas saya banggakan? Mungkin belum ada. Oleh karenanya, saya lebih suka bersunyi diri mengingat hari lahir, mensyukuri segala yang ada pada diri atas pemberian Allah, mengingat titik-titik yang saling terhubung menjadi garis hidup hingga detik ini. Emm. . .lagipula saya memang tak mengenal pesta perayaan ‘kurang tahun’ dalam hidup, belum pernah seumur-umur.

Bukan berupa pesta, tapi ada beberapa Juli, beberapa titik yang meninggalkan jejak dalam pada garis hidup saya. Juli 2008, saya menyebutnya sebagai ironi. Bulan itu gerimis tak henti membasahi hati. Ah, tapi saya tak mau membahasnya panjang lebar. Takut ada yang ngintip dari luar sana ( hayyah sopo. . .GR wae). Malu ah.

Mundur kebelakang beberapa tahun, Juli 2002. Titik itu begitu punya peran besar hingga saya menjadi seperti sekarang. Malam itu adalah malam yang esok paginya saya harus bertempur bersama ribuan peserta lain demi merebutkan bangku kuliah di universitas negeri. Tak tahan menahan kantuk di sela-sela mengulang soal-soal dalam kumpulan soal UMPTN,saya jatuh tertidur. Berdua saja saya dengan teman SMU yang kebetulan masih saudara, berada di kost kakak di Yogyakarta. Belum sepenuhnya saya membuka gerbang mimpi ketika kakak membangunkan saya. Setengah melek saya melihat kakak membawa kotak kecil. Surpriseee. . .! Dibukanya kotak itu, ada kue ultah mungil berbentuk hati. Itu kali pertama dalam hidup-dan baru sekali-saya meniup lilin ulang tahun. Kakak memberikan selamat disertai doa kesuksesan ujian esok hari. Teman-teman kosnya menghambur masuk kamar dan mengikuti jejak kakak. Tak ketinggalan teman seperjuangan saya. Doanya sama, sukses yaaa…. Deu haru, teman saya sampai iri, mau ujian banyak yang doain, pas hari lahir pula! Sebulan kemudian, ketika saya membeli koran bareng dan menemukan nama kami ada di lembar pengumuman, teman saya nyeletuk, wah doa-doa itu makbul. Alhamdulillah, ada selaksa syukur.

Tak kurang indahnya Juli sebelumya, 2001. Justru tahun itu saya mendapatkan hadiah terindah sepanjang usia, tempatnya pun istimewa: di puncak gunung Telomoyo. Meski Telomoyo hanya gunung kecil di belakang rumah dengan jarak tempuh beberapa jam saja, tapi yang namanya naik gunung tetap saja jadi unforgetable moment.

Setelah menempuh perjalanan dengan jeda sebentar-se
bentar saja, mengagumi goresan tangan-NYA,mengirup udara segar di antara hutan pinus,sampailah saya dan rombongan kecil pemuda kampung di stasiun transmiter puncak gunung Telomoyo.

Sambil melepas lelah, makan minum dengan berbagi, mas Agung (ponakan tapi secara umur lebih tua) mengucapkan selamat ulang tahun pada saya. Bukan haya mas Agung, ada mbak Lani, Anah, Edwin, dan Abib. Ucapan ulang tahun itu diikuti oleh ucapan selamat dari mas Agung atas keberhasilan saya di sekolah. Kebetulan hari sebelumnya adalah penerimaan rapot SMU dan sebuah peringkat di kelas sekaligus peringkat paralel berhasil saya sabet. Benar-benar komplet momentnya. Masa remaja yang indah.

Tak disangka, mas Agung mengeluarkan al-Quran kecilnya dari dalam tas,
“Mas Agung nggak bisa ngasih apa-apa, hanya bisa ngasih ini,”
Subhanallah, luar biasa istimewa. Mas Agung membacakan surat Ar-Rahman sebagai hadiah. Haru mendengar surat cinta-Nya dibacakan di puncak gunung di pergantian usia saya sebagai hadiah.
…fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban

*foto gunung Telomoyo diambil dari belakang rumah dengan hp.
**tulisan ini diikutkan dalamLomba Ulang Tahun

Sekedar Corat-Coret

Menghadapi beberapa situasi, kadang hati berasa gemes pengen curhat, mengeluarkan apa yang terpikir atau terasa. Kalau sudah begini, kadang hp yang jadi sasaran, ketik-ketik trus disend ke teman[s]. Coret-coret di bawah ini hasil uneg-uneg saat bete karena sibuk, bengong, dan bosan menunggu.

Yang ini lagi sibuk:

Merindukan waktu yang berjalan mengendap
beriringan detak tubuh dan denyut detik…

Yang ada, khawatir dan takut menjadi kawan sejalan

Harusnya aku bisa menghalaunya tanpa gesa

Ah, bagaimana bisa kupelankan langkah
sementara rasa cemas itu seakan kereta
yang mengajakku melaju tanpa jeda




16062010, 06.00
*hiks, masih berkutat dengan angka




ini lagi bosan menunggu:

ketika doing nothing tak lagi punya seni

waktu mengendap

jari-jari berontak pengen diberi eksistensi

kuberikan ia sekotak layar dan deretan tuts

sudah, mau kau apakan?

tapi tanpa ada sang koreografer,

ia seperti cacing melata di titik nadir cahaya

menggelinjang

mengunyah sepi

menunggu hidup tercerabut


24062010, 10.56
*bosan…. aku dengan penat….

nha, yang ini lagi bengong:

KAPAN
:anonim


aku menunggu suatu masa yang kita nanti dengan teka-teki

namun kita angankan serupa sketsa

sketsa itu bisa saja kita lanjutkan bersama

atau mungkin malah usang lebih cepat dari sebuah tebak-tebakan


10072010, 20.31.31

*foto hasil googling

Sekotak Jendela Dunia dalam Genggaman

Jendela dunia dalam gengaman itu hanya berukuran sekian centimeter kali sekian centimeter, begitu sempit dibandingkan luasnya dunia yang bisa saya sibak. Kalau di Multiply ini kita punya istilah blogwalking, di Facebook saya punya istilah notewalking,hehehe. Keduanya sama menyegarkan kepala. Di Facebook saya menemukan keasyikan sendiri ketika mengetahui isi kepala penulis-penulis ternama. Hanya dalam hitungan menit, dengan ponsel dalam genggaman, saya bisa mengetahui pikiran beberapa orang yang dulu mungkin hanya tahu nama saja. Sekarang, dunia maya memberi kesempatan pada kita untuk berinteraksi seandainya menginginkan, lewat kolom komentar, inbox, atau email kalau beruntung.
Lumayan, malam ini bisa menyimak uraian GM dan Ariel Heryanto yang berbicara tentang Sri Mulyani, cerpen asyik karya Leila S Chudori yang dimuat di majalah Kartini–tuturannya sederhana tapi ngena!–, Alireza Alatas yang menulis wawancara seru Ahmadinejad tentang Bin Laden, ada Ade Armando yang mengungkap pandangannya yang berubah mengenai agama lain, Linda Christanty yang memberitahu tentang buku kumpulan cerpennya yang baru, juga Puthut EA yang menjawab soal permasalahan rokok yang beberapa waktu lalu menghebohkan. Seru notewalking malam ini. Saya selalu suka mengetahui beragam pandangan mengenai bermacam persoalan, yang ditulis orang-orang ternama itu. Melihat dunia dari berbagai sudut pandang. Setelah sore tadi blogwalking dilanjutkan notewalking, rasanya kepala segar. Terakhir, saya sempat terkikik melihat fb saya sendiri masuk ke dalam kolom teman yang disarankan. Jeruk minum jeruk? Saya memang pasang 2 fb, satu khusus ‘reunian’ (halah, padahal ga pernah bersay koment sama teman-teman, update juga jarang), satunya memakai nama imajiner, khusus add orang-orang besar, wartawan, penulis, sastrawan, ataupun koran, untuk mengintip isi kepala mereka lewat status maupun note. Nha fb imajiner ini malah yang justru ngangenin untuk dikunjungi. Saya tak mau add saya, jadi saya abaikan saran itu 😀

Buku dan Cantik

Satu hal yang membuat saya akan bodoh dan akan tetap bodoh adalah merasa pintar. Ketika saya berhadapan dengan sebuah buku yang tidak membangkitkan selera baca (di luar selera baca saya), yang muncul di benak saya adalah pikiran:”ah, paling isinya cuma ini…atau itu…. Udah tahu ah!”

Sok tahu banget kan?

Padahal, baca buku tidak harus (dan tidak boleh) didahului oleh asumsi bahwa buku itu isinya mungkin sudah saya ketahui atau belum, berguna atau tidak ( beda dengan “ah…sudah pernah baca”). Apa sih susahnya membaca? Saya tinggal menyediakan mata, otak, dan sedikit waktu untuk melakukannya. Masalah sudah tahu atau belum, berguna atau tidak, urusan belakangan. Pasti akan ada sesuatu yang akan saya dapatkan dari membaca. Apa pun itu. Secuil ataupun banyak pengetahuan.

Masalahnya, pikiran itu selalu hadir sebagai kambing hitam kemalasan. Ya…, kadang saya malas membaca buku di luar jenis buku kesukaan saya alias pilih kasih terhadap buku. Nah, alhamdulillah, sekarang saya sudah punya trik ketika masalah semacam itu muncul. Sekarang saya bisa menghalau pikiran buruk itu dengan berpikir: “Katanya pengen pinter, ayo dong baca. Kalau sok tahu terus kapan beneran tahunya? Kapan beneran pinternya kalau sok pinter?” ironis banget pengen pinter tapi sok pinter.

Yang paling jitu adalah dengan berpikir:” Katanya pengen “cantik”?” (he…he…jujur banget)

Kok cantik sih? apa hubungannya baca dengan cantik?

Ada!

Dalam serial cintanya di majalah Tarbawi, Pak Annis Matta menulis tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Malik bin Nabi terhadap buruh-buruh kasar yang didatangkan dari Aljazair ke Prancis. Mulanya wajah para pekerja-pekerja itu tidak menarik. Berangsur-angsur wajah mereka menjadi lebih indah. Sorot mata dan garis-garis wajah mereka menjadi lebih indah karena pengetahuan dan membaca. Pengetahuan yang diajarkan oleh pemikir muslim asal Aljazair itu membuat mereka tampak lebih indah.

Lebih lanjut Pak Annis Matta menulis, pemikir muslim tersebut menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan dan keindahan. Menjadi indah adalah efek pengetahuan. Pengetahuan membuka ruang kemungkinan lebih luas dan menambah kemahiran sehingga membuat manusia lebih berdaya. Keberdayaan meningkatkan harapan dan kepercayaan yang akhirnya mewariskan kegembiraan jiwa.Inilah yang membuat senyum para pekerja-pekerja itu lebih renyah. Senyum renyah itu memancar dari kepercayaan diri yang beralasan dan harapan yang permanen.

Itulah, kalau pengen PD dan cantik, Iqra’! Masih males baca?

Yogya, 2 Feb 2006

Referensi: Tarbawi edisi 125 tahun 7 Muharam 1427H

Thanks buat Teh Mila atas Tarbawinya.

repost dari: http://boemisayekti.blog.friendster.com/2006/03/buku-dan-cantik



akhir catatan:

Selamat Hari Buku Nasional
22 Mei

Teruslah membaca Indonesia!!!

Amplop Pembawa Masalah?

Belakangan, beberapa hal menyebalkan menimpa hp punya saya, uh jadi keki 😦

Pertama, beberapa waktu lalu ketika ditelpun saya mendapati suara dari hp yang masuk ke telinga pecah-pecah, ‘njeber-njeber’ ga enak di dengar. Entah apa sebabnya saya kurang tahu. Mungkin karena tergencet bagian speaker ketika membuka chassing,atau sebab lain,entah. Kejadian itu membuat ribet kalau ada telpun masuk, harus diloudspeaker kalau ingin mendapatkan suara jernih. Konskuensinya, orang-orang sekitar akan ikut mendengarnya, rasanya risih dan mengganggu. Cara yang kedua harus pake headset,huh ribet kalau ada telpun mesti nyari uwel-uwelan kabel dan memasangnya. Harusnya saya menservis hp itu, tapi males kalau harus datang ke graha-jauh je- dan membiarkan hp mabit di sana. Ini satu-satu hp yang ada di tangan, jadi kalau tak ada hp komunikasi susah. Tak tahu, rasa malas itu anehnya mengalahkan keribetan itu.

Kedua, tak ada angin tak ada hujan,tiba-tiba saya mendapatkan sms dari 9011-kalau tak salah,sms langsung saya delet-. Sms itu berisi info seputar artis. Kaget waktu itu. Saya cek pulsa, gubraakk nyaris habis. Kok bisa? Saya yakin belum pernah mengikuti layanan sms berlangganan yang berembel-embel REG itu, tapi dari mana asalnya sms itu bisa nyasar? Jengkel tentu. Kalau dibiarkan terus, setiap isi pulsa habis muspro. Mau distop? Pengalaman adik ipar kakak dan teman saya, sms itu tak bisa distop dengan UnREG. Lalu? Satu-satunya jalan ya tak usah isi pulsa telpun, saran kakak. Aaaarggh…, tapi sampai kapan? Saya cuma tak habis pikir kok bisa dapat sms semacam itu? Apakah karena saya sering akses internet dengan hp ini kemudian ada ‘konspirasi’ tersembunyi? Hehehe, entah. Hari ini saya terpaksa isi pulsa telpun karena harus menghubungi teman secepatnya, yaelah, sms itu datang lagi!

Ketiga, yang terbaru nih. Ahad pagi ini, membuka hp yang semalaman mati karena lowbath dan baru bangun tidur dices, saya menemukan satu amplop kuning mejeng disamping indikator batere. Pesan baru. Saya buka inbox, pesan itu tak bernama dan polos saja, hanya segaris blok hijau- thema hp berwarna hijau-. Saya klik open, tak bisa terbuka pesan itu. Hp saya tak bisa mensuport pesan itu, jadi ada pertanyaan untuk mendelet. Ya sudah, saya biarkan, siapa tahu nanti bisa. Kemudian hal janggal terjadi. Saya tak bisa mengakses internet dari bookmark. Loadingnya luamaaa banget. Karena lama saya klik cancel kemudian exit, ga bisa! Tetep loading. Saya terus menekan tuts exit diikuti tuts lain tetep loading,ga bisa mati. Oke, saya banting-banting di kasur ( beraninya di kasur,hahaha), eh tetep cuek,masih aja jalan. Karena dimatikan juga tak mau,akhirnya saya buka saja chassing dan saya ambil kartunya sejenak lalu saya hidupkan lagi. Beres! Amplop satu itu masih nangkring. Berkali-kali dibuka tetep tak bisa. Selanjutnya, saya mencoba-coba akses internet lewat opera mini juga gagal, sama seperti tadi, proses tak berkesudahan, tak mau diexit. Jadi berkali-kali musti mematikan hp. Yah, apakah tamat riwayat ngenet via hp? Ga bisa ngempi,yman, akses info, dan sebagainya? Saya teringat teman yang memiliki hp setipe dengan saya, tamat riwayat juga. Jujur khawatir juga, sampai saya putuskan membuka lagi amplop itu dan mengiyakan perintah hp untuk mendelet pesan itu. Pikir saya, jangan-jangan amplop itu yang membuat hp ini bermasalah tadi. Ternyata bener! Meniadakan amplop itu membuat akses internet kembali lancar,alhamdulillah. Yang tersisa sekarang,rasa penasaran: apa isi amplop dan siapa yang mengirimya kemarin malam sehingga hp saya tak kuat ‘mensuportnya’?

[gado-gado sekolah #10] Saya Tak Mau Membuat Mereka Seperti Saya Waktu Itu…

Tersinggung

Bu Guru cantik,
Lihatlah…
Siapa punya suara berdesak-desakan?
Kenapa aku?
Percaya, mereka punya kilau
Tapi kalau sinar mereka bikin silau?

[ruang kelas, 12 April 2002, dengan beberapa pengeditan beberapa waktu setelahnya]

Saya menulis puisi itu diam-diam di suatu jam pelajaran, ketika ibu guru memberikan materi di depan kelas. Selesai menulisnya di selembar kertas yang sudah kumal dan tak utuh bentuknya, saya melipat kertas itu kemudian mengantongi. Baru sampai di rumah saya menyalin puisi itu di buku diary.
Malam ini, posisi saya sudah berkebalikan dengan waktu nulis puisi di atas, bukan lagi seorang gadis berseragam abu-abu putih yang duduk di kelas sambil terkantuk-kantuk bosan tetapi sebagai seorang yang setiap hari berdiri di depan kelas, minus hari Ahad. Ketika membuka kembali buku kumpulan coretan hati, saya tertegun melihat puisi itu nangkring di halaman pertama. Seketika puisi itu menjelma cermin: pernahkah saya membuat anak-anak merasakan seperti apa yang saya tumpahkan dalam puisi itu? Saya lalu mengingat-ingat, pernahkah saya membut tersinggung mereka? Pernahkah saya berbuat pilih kasih? Pernahkah mereka merasa… Bisa jadi sering, astaghfirullah…
Pilih kasih, manusiawi jika seseorang memiliki sifat itu terhadap anak didik. Mungkin perlakuan itu berangkat dari rasa ‘exited’ terhadap kelebihan yang dimiliki sehingga perhatian/sayang ke anak tersebut berbeda porsi dibanding ke yang lainnya. Bukankah anak-anak yang biasa-biasa saja biasanya tidak lebih meninggalkan kesan dibanding anak yang luar biasa? Luar biasa pinter, luar biasa cerdas,luar biasa kreatif, luar biasa cantik, luar biasa tampan, luar biasa nakal, luar biasa bandel, luar biasa malas, dan sederet title luar biasa yang lain. Anak-anak dengan title semacam itu pasti namanya lebih dihafal oleh guru-guru dibanding anak-anak dengan title biasa-biasa saja alias S.T.D. Nha, biasanya yang menjadi anak emas adalah yang punya keluarbiasaan dari sisi yang positif, bukan yang malas atau bandel. Yang luar biasa malas atau bandel biasanya luar biasa disebeli, heheheheh… Saya kira sering dijumpai yang seperti ini.
Kembali saya bertanya dalam sunyi, apakah saya pernah dirasani anak didik saya seperti saya ketika menulis puisi itu delapan tahun silam? Mungkin. Tapi, sejatinya saya tak mau menjadi orang tua model itu. Kalau saya pernah berlaku demikian, saya tak mau mengulanginya lagi. Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah, kesabaran, keikhlasan, keweningan hati dan pikiran, sehingga saya bisa berdiri di depan kelas memandang setiap anak dengan kacamata seobjektif mungkin. Amin…
Ya Allah…
Sehatkan tubuhku
Cerdaskan otakku
Bersihkan hatiku
Indahkan akhlakku…

Amin…

[doa kebangsaan SMU Plus Muthahhari, menyalin dari buku Belajar Cerdas karya Jalaludin Rahmat]

20:15
*curhatan mantan siswa biasa-biasa saja alias S.T.D