S.E.N.E.W.E.N

Warna hati tak terbaca,entah lara entah hampa sementara. Suara terjepit di ujung katup bibir,sia-sia kalau kata malah menjadi bara. Hanya wajah bisa teraba,ada gurat: lelah? Gundah? Gelisah? Resah? Entah? Atau malah benci? Pada siapa?
Sedang dunia berpaling muka.

22 Maret 2010, 17:53:14

Sms Gusti (adik kost jaman lalu) tiba-tiba datang kemudian , waktunya pas banget,seperti mengiyakan : Lebih baik menulis sampah,daripada menjadi sampah busuk buat pikiran kita-kutipan- hehe!”

Terima kasih Gusti, jadi hilang senewen itu. . . :))

NATO

Ada ungkapan dari ulama salaf: kalau engkau mempunyai gagasan, hendaklah engkau juga memiliki kehendak (azimah) *. Kebanyakan kita memiliki gagasan. Merealisasikan gagasan menjadi sebuah ‘karya’, tentu saja kehendak kuat menjadi faktor penentu. Mempunyai 2 hal itu bagi saya tidak mudah. Gagasan-gagasan itu seringkali hanya terlipat-lipat di almari kepala. Kehendak untuk mewujudkannya terbelenggu oleh rasa malas.

Parahnya, ada yang hanya membicarakan gagasan-gagasan itu,seandainya begini begitu, aku pengen membuat ini itu,dsb,tanpa ada aksi. Akhirnya, yang seperti ini hanya berhenti menjadi orang yang disebut dalam NATO (No Action Talk Only).

So tell me, how to get the ‘azimah’?

*mengutip dari buku Arsitek Peradaban oleh Annis Matta.

Tanggung Jawab Itu Begitu Berat

          Manusia memang harus mempertanggung jawabkan apa yang dilakukannya, diucapkannya, juga ditulisnya. Agaknya ini waktu buat saya mempertanggungjawabkan apa yang pernah saya tulis di blog belasan bulan yang lalu:

aku ingin belajar mencintaiMu  dengan benar
sebelum aku benar-benar mencintai orang yang akan Kau beri untuk mengisi hidupku kelak

            Saya tak sadar tatkala meng-upload kata-kata itu, bahwa tulisan itu membawa konskuensi yang sangat besar. Gaya banget sampai nulis larik-larik itu. Ra ngukur gethoke dhewe. Kesadaran akan konskuensi keinginan itu tiba-tiba muncul saat diberi ujian terserang virus merah jambu. Masya Allah, sampai luluh lantak.  Rupanya saya sedang “diminta” mempertanggungjawabkan” tulisan itu. Disisi lain, saya geli mendapati diri saya harus berhadapan dengan orang yang pertama kali menulis komentar tulisan itu. Orang yang barangkali punya keinginan yang sama, bahwa dia juga ingin diberi keikhlasan menerima soulmatenya kelak.
Subhanallah, hidup ini penuh RencanaNya Yang Mahasempurna.
            Bertanggung jawan itu nyatanya suli…..tttt sekali. Berat sekali merelaisasikan keinginan itu, sebuah pembuktian yang dicobakan dengan ujian pengalaman batin penuh tsunami. Kalau sudah begini, baru terasa, tak ada yang sia-sia segala yang dicptaNya, termasuk sebuah virus merah jambu.
           Bersamaan dengan itu, saya sadar satu hal, TEPATNYA DISADARKAN! Subhanallah Walhamdulillah, untung soal tanggung jawab itu masih diingatkan di dunia ini. Untung saja masih dalam “level” ujian di dunia, harus dihadapi sekarang meski kenyataaannya terasa berat. Kesabaran menghadapinya begitu tipis.Untung…untung…untung…masih di dunia saat ini. Coba kalau baru diingatkan kelak di akhira kelak?
naudzubillah, saya tidak akan siap dan sanggup menanggungnya!