Piala Dunia vs Deadline!

Di kelas, saya seringkali menemui masalah siswa yang gagal fokus. Harusnya belajar malah mengobrol, menggambar, membaca komik atau novel, atau melakukan kegiatan lain yang mengalihkan konsentrasinya dalam belajar. Bagaimana mengatasi masalah itu, jujur saya sendiri belum menemukan ramuan jitu untuk mengembalikan fokus siswa ke belajar 😀 Mengajak belajar lagi sih iya, tapi saya tidak menjamin seratus persen mereka fokus pada pelajaran.  Motivasi terbesar dan terbaik bukankah dari diri sendiri, sekalipun guru telah berusaha keras mengajak mereka kembali belajar dan memotivasi.

Jangankan siswa, saya sendiri termasuk dalam golongan yang susah fokus bahkan gagal fokus. Blog ini dan foto di bawah ini satu contoh kegagalan saya dalam fokus belajar.

20180623_191229-01 (1)

Suami sudah menyiapkan kopi. Jendela netbook sudah terbuka. Besok siang pukul 12.00 WIB tugas kuliah daring PPGDJ 2018 pertama harus sudah selesai. Tapi apa yang terjadi, saya malah sibuk mainan  foto, bahkan mendadak ngeblog. Sudah dua hari yang lalu niat nyicil tugas sudah ada, namun setiap buka komputer malah membuka file-file naskah, ide menyerang dan rasanya ingin menulis. Oh godaan emak! Dibanding tugas, saya malah asyik ikut lomba: menulis essay dan menyelesaikannya segera lalu sore tadi submit naskah. Setelah upload, maunya bisa lebih fokus.  Tapi sama saja.

Jadiii… jangankan salahkan siswa ya kalau sering gagal fokus!

Ah, tapi yang penting tanggung jawab itu ada kan, ya… tugas pasti selesai, belajar tetap meski disambi-sambi #pembelaan

Di ruangan yang sama,  kegiatan lain yang menggambarkan situsasi malam ini adalah foto ini

20180623_202532-01
Demam piala dunia mewabah. Tak bisa mengakses lewat tivi, gawai pun jadi. Malangnya, netbook suami rusak di speaker jadi video streamingnya bisu. Gawai jadi andalan. Menariknya pemandangan malam ini, gawai disulap jadi tivi flat dengan double tip di rak buku 😀 Sama dengan saya, suami pun sebenarnya juga punya tugas menumpuk yang harus segera diselesaikan sebelum ujian semester ini. Nah, kan!

Ah, guru juga manusia! #pembelaanlagi

Belajar pada usia emak-emak dan bapak-bapak memang banyak godaannya yaa… 😀

[DiaryEmak] Gara-Gara Kentang?

20180510_095852-02

 

Pernah nggak sih merasa dongkol dan kepingin marah sendiri gara-gara rencana pagi yang disusun berantakan? Trus sibuk nyari-nyari kambing hitam, bahkan kentang yang nggak salah apa-apa pun berubah jadi kambing?

Untuk bekal Janitra, Senin kemarin sudah saya rencanakan bikin perkedel kentang. Janitra request dibuatkan. Pukul 3 dini hari saya bangun, ternyata setengah empat saatnya masuk dapur, sudah ada yang mendahului berkativitas di dapur. Saya tipe ibu yang suka beraktivitas pagi dalam suasana sepi jadi bebas ‘menguasai’ dapur. Jadilah saya enggan masuk dapur nunggu selo.

Ah, memang nasib emak-emak yang sifatnya kayak saya ini ketika harus tinggal serumah dengan mertua dan saudara jadi harus bisa mencari celah agar tetap bisa berekspresi.  Ketika apa yang kita punya,apa yang di depan mata, apa yang kita tempati harus berbagi dengan orang lain, ketika harus berdamai dengan hiruk pikuk sementara kita terbiasa dengan kesunyian dan kedamaian, maka pintar-pintarnya emak memenejemen hati.

Jarum jam sudah beranjak di angka 4. Mau nggak mau saya harus siap di dapur apapun yang terjadi. Pertama saya hidupkan kompor. Goreng kentang kan bisa disambi nyuci beras untuk persiapan masak nasi dan nyuci piring dan gelas di bak cucian.

Rasanya sudah lama kentang digoreng dan dibolak-balik, tapi olalaaa…ternyata susah ditumbuk, keras. Rupanya saya salah memilih kentang, padahal dari segi penampakan besar dan mulus. Masalah kentang ini cukup menyita waktu. Biasanya sekali tekan dengan ulekan kentang hancur, lha ini butuh dipukul-pukul.  Jadilah kentang jadi sasaran kedongkolan saya, pukul-pukul keras hingga sedikit hancur. Saya pukul sembari meluapkan kekesalan.  Hasilnya, setelah dibulat-bulat masih ada ada bagian-bagian kentang yang benjol-benjol karena tumbukan yang tak sempurna halus.

Nyatanya, subuh menjelang perkedel belum siap. Kalau biasanya setelah subuh semua persiapan bekal sekolah anak beres. Lha ini, goreng kentang saja belum kelar.

Jadilah kedongkolan saya mencapai ubun-ubun. Satu saja episode pagi tidak sesuai timing, maka runtutan episode selanjutnya akan bergeser. Mendadak semuanya terasa salah di mata. Nah, inilah peran setan ketika menghembuskan api di kepala. Kudu banyak-banyak istighfar. Emak-emak pekerja dan punya anak kecil, harus menyiapkan sekolah, rentan cepat tua dan banyak dosa kalau stok sabar tidak terus diperbarui. Pagi adalah masa-masa kritis, menentukan apakah senyum ataukah amarah yang akan menjadi catatan amal di awal hari itu.

Kalau kalian, apa catatan pagimu, semoga senyum yang tertoreh! J

[Diari Emak] Godaan

Godaan  selalu datang ketika melaksanakan tugas setrika setumpuk. Mendadak ingin sekali membaca buku. Dalam hati kemudian membuat syarat, “boleh baca buku asal selesai sekarang juga!”

Seri buku  Tempo Natsir: Politik Santun di antara Dua Rezim ngawe-ngawe untuk segera diselesaikan karena pengen segera membaca The Lady in  Red karya Arleen A.  Tinggal separo lagi buku Natsir selesai dan sudah ada antrian mbah kakung Janitra yang akan membacanya.

20160829_204948[1]

Setrika masih lanjut sembari kepikiran godaan itu. Eh, mendadak teringat soal ulangan untuk besok pagi yang sama sekali belum diedit. Yaelah, emak-emak sudah di rumah kok ya masih punya tanggungan kerjaan dari sekolah.

Pada akhirnya, setrika terhenti, membuka file soal untuk diedit. Malam ini harus rapi karena jam ke-2 harus dikerjakan anak-anak. Godaan itu pun datang, melipir mampir update blog! Dasar! 😀

Di luar godaan itu, sebenarnya godaan terbesar hanya satu: kantuk!