Catatan Syawal

Ramadhan berlalu beberapa pekan lalu, berganti syawal. Ternyata saya belum bisa istiqomah menuliskan catatan Ramadhan di blog ini. Sebelum Syawal berlalu, ingin sedikit menorehkan sedikit catatan.

Ada kebahagiaan membuncah dengan Ramadhan, sedih ketika ditinggalkan. Kebahagiaan itu makin lengkap sebab di tahun ini Janitra sudah mulai latihan puasa. Alhamdulillah 29 hari full puasa bedhug, puasa duhur  lanjut Magrib. Saya sangat mengapresiasi, melihat begitu penuh warna dan kadang drama saat sahur. Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali ia mau bangun sahur dengan keadaan seperti di bulan-bulan lain.

Bersyukur kegiatan dauroh Ramadhan membuat Janitra bertanya sekarang, kok nggak ngaji di Ya Bunayya lagi? Tanggal 2 Juni Janitra menutup kegiatan itu dengan semangat yang tidak surut. Siang itu panas, saya mengantar Janitra diiringi gumaman dendangannya. Panas yang terik tidak membuatnya mengeluh. Dia bahkan menyanyi keras dalam perjalanan di lokasi.

20180602_141131

semangat dauroh hari terakhir

 

Meninggalkan daurah, kegiatan yang dinanti-nanti lain adalah mabit pertamanya di TK. Penuh semangat dan sampai di rumah bilang, pingin mabit lagi. Alhamdulillah Janitra bisa mengikuti mabit dengan riang gembira.

20180608_201052

moment mabit yang ditunggu ternyata Janitra nggak berani menyalakan kembang api ūüėÄ

 

Jadi ingat bahwa setahun lalu, Ramadhan lalu Janitra harus mabit di rumah sakit sebab diberi ujian sakit. Rasanya haru mengingat itu, betapa banyak nikmat, kebahagiaan, dan kesehatan yang diberikan Allah saat ini.

mabit rsj

tempat mabit rumah sakit ūüėÄ

Begitu banyak pelajaran untuk ukuran bocah yang dilakoninya, tak heran jika saat Idul Fitri Janitra menyambutnya dengan buncah. Setiap moment silaturahmi diikutnya dengan riang. ‚ÄúSaya selalu semangat diajak badan (silaturahmi)‚ÄĚ ucapnya selalu. Banyak keberkahan dan banyak rejeki yang anak-anak dapatkan di bulan Syawal ini.

Semoga pembelajaran ini dibawanya serta hingga bulan-bulan berikutnya. Aamiin


 

[Diary Ramadhan #4] Menu Takjil dari Dapoer Ibu Mertua

Ramadhan ke 4,5,6 dan 7 hari ini Alhamdulillah Janitra masih istiqomah belajar puasa bedhug. Lolos dengan tantangan yang sama: bangun sahur. Masih susah makan. Pada hari ke -4 Ahad lalu terbilang mudah, setelah sahur ceria banget. Hanya hari ini, pada hari ke-7 nangis dibangunin. Lama banget bangunnya. Jadi saya beri toleransi adzan subuh berkumandang masih makan. Pelan-pelan saja, untuk pembelajaran, bagi saya perlu menurunkan ekspektasi terhadap anak.

Setiap dibangunin sahur ditanya, mau puasa tidak, sambil merem pasti jawab puasa. Harus puasa sepertinya jadi prinsipnya, hanya untuk sahur perlu perjuangan.  Semangat ketika puasa siangnya selalu full.

Mulai Ahad lalu, Ramadhan ke-4, Janitra mulai mengikuti dauroh menghafal Alquran juz ke-30 di Yayasan Hidayatullah tempat ia sekolah TK. Kami antusias mendaftarkan Janitra untuk mendekatkannya pada Alquran sejak dini, mulai mengenalkan hafalan Alquran. Janitra antusias juga menyambut, ngaji di sekolah. Di hari-hari biasa ia mengaji TPQ di kampung, Ramadhan pun ia masih semangat. Ia bilang, ngaji dua kali. Asal anak semangat, kami tak mau menarget yang muluk-muluk. Asal mau belajar, capaian sesuai kemampuannya.

Ramadhan bulan mulia, bulan penuh pahala. Saatnya kita memberi kesan dan kegiatan positif untuk mendekatkan pada Allah, memperkenalkan keutamaannya.

Mulai Senin sekolah sudah masuk, kegiatannya jadi full. Awalnya saya agak khawatir, melatih puasa sementara saya tidak seharian di rumah karena kerja. Nyatanya, puasanya tanpa hambatan di siang hari karena waktunya terisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Di rumah pun ia punya teman bermain kakak-kakak sepupunya yang tinggal serumah.

Karena kegiatannya full, saya wanti-wanti Janitra untuk terus terang jika merasa capek. Kami tidak mau memaksakan Janitra belajar. Ia harus riang melakukannya. Asal siang pulang sekolah mau tidur, pukul 4 pulang dauroh ia semangat sekali masuk TPQ. Hanya hari ini, Ramadhan ke-7 ia mengaku ngantuk karena tidak mau tidur siang. Kami tak memaksa ketika selesai dauroh ia minta pulang.

Setiap pulang dauroh, pasti ada takjil spesial yang dibawanya. Dengan biaya pendaftaran Rp.130.000 ia akan mendapatkan sertifikat, juz amma kecil full color di hari pertama,  dan free takjil setiap sore. Di TPQ juga ada takjil yang dibawa pulang.  Ibuk tak perlu mencari-cari takjil untuk Janitra, jadi menambah semangatnya berbuka. Seperti Selasa lalu, Ramadhan ke-6, ada menu spesial dari Dapoer Ibu Mertua: cocktail dan siomay.

IMG-20180522-WA0030

Coctailnya seger… cess di waktu berbuka. Sementara siomay selalu jadi makanan favorit kami. Siomay Dapoer Ibu Mertua terasa banget udangnya. Sambalnya juga enyaakk..

Teman-teman punya menu spesial apa?

[DiaryRamadhan #3] Buka Bersama Hajj Chicken

Tantangan terbesar mengajak anak berpuasa di hari ketiga ini masih sama: sahur. Hari ini masih mending, Janitra masih mau makan meski sedikit, tapi rewelnya sama. Gerakan tutup mulut untuk madu dan buah masih. Alhamdulillah semangat puasa bedhug-nya masih full.

Aktivitas pagi dimulai dengan mainan lego, bermain peran dengan kakak-kakak sepupunya (guru murid di sekolah), kemudian bermain pasaran.  Tanpa pengawasan  dari saya langsung karena ada acara pengajian di UPT, Janitra tetap istiqomah sampai duhur. Alhmdulillah.

Iming-iming ikut buka puasa di sekolah ibuk mau nggak mau membuat Janita tidur siang. Nah, tantangan kedua dimulai ketika bangun tidur hujan masih deras turun menjelang ashar. Hingga saya berangkat ke sekolah hujan semakin deras. Sifat manusiawi saya, mengeluh dengan datangnya hujan, sekalipun saya terus membesarkan hati, hujan adalah berkah, jangan mengeluh, tetap jalan meski hujan, ayo nikmati saja jangan menyerah.

Kadung janji mengajak anak, saya berinisiatif mencari becak. Becak tak ada karena sudah sore.  Alternatif  membeli ayam goreng crispi mendadak muncul sebagai pengganti buka puasa di sekolah agar ia mau tinggal di rumah. Ternyata, Janitra kukuh pada pendirian.

Ujian kesabaran dan keteguhan datang. Saya bisa saja pencet gawai¬† dan izin tidak bisa datang menghadapi cuaca yang begitu tak mendukung untuk keluar rumah. Kalau saya datang, sampai di sekolah pasti basah kuyup dan tidak nyaman berseliweran di pikiran. Syukur, pikiran ‘bijaksini’ itu masih terpinggirkan dengan amanah dipundak sebagai guru.

Jika pikiran bijaksini yang bermain, maka menyerah pada hujan akan membawa saya meminta izin tidak datang buka bersama. Bayangkan seandainya semua guru di sekolah saya berpikiran semacam itu: karena hujan deras tidak bisa datang ke sekolah. Apa yang terjadi di sekolah? Anak-anak yang orang tuanya rela menerjang hujan untuk mengantar anaknya ke  sekolah akan berada di sekolah tanpa bapak ibu gurunya. Beruntungnya, para guru selalu dituntun Allah untuk bijaksana bukan bijaksini.

Begitu tiba di sekolah dengan ojek, saya exited melihat anak-anak yang sudah duduk rapi dalam shaf-shaf di masjid. Melihat anak-anak yang ceria datang sekalipun banyak diantara mereka datang  dari rumah yang jauh, dari gunung, dari pelosok desa,  saya merasa beruntung datang ke sekolah berada di tengah-tengah mereka. Di belakang mereka, saya henti merapal istighfar pada Allah, atas keluh saya, atas pikiran-pikiran buruk di kepala, meminta agar Allah menerima puasa saya yang kotor oleh berbagai pikiran buruk.

Selalu ada hikmah di setiap harinya kan ya?

Screenshot_2018-05-20-08-19-58

pinjam foto bu Annida Latifah

Lapar dan dahaga anak-anak terbayar ketika buka tiba. Menu kali ini pasti disukai anak-anak: Hajj Chicken!  Beruntung, di desa saya yang mulai menjamur aneka ayam goreng cripsi dari berbagai merk,  ada outlet Hajj Chicken yang bisa dijadikan pilihan pertama. Outlet yang pusatnya ada di Jl.Sorogenen 11 B Yogyakarta ini membuka cabang di Jl.K.H Shiraj Grabag.  Dijiwai oleh semangat 212, produk ini punya tagline Nikmatnya Berbagi Spirit 212. Sudah pasti dijamin halal, outlet ini tak hanya menawarkan menu ayam crispi dan geprek yang pedasnya mantab. Aneka menu favorit keluarga seperti steak, mie, nasi goreng, spageti, dan aneka minuman bahkan es krim menjadi menu pilihan yang bisa dinikmati bersama keluarga.  Halaman parkir yang luas membuat tempat makan ini nyaman digunakan sebagai tempat berkumpul bersama orang-orang terdekat.

20180519_214849-01

Untuk buka puasa kali ini, anak-anak senang, bapak ibu guru pun senang! ūüėÄ Alhamdulillah, kami kembali ke rumah dengan hati tenang.

 

 

 

[ Diari Janitra] Cinta Tanpa Syarat

“Itra sayang Ummik,” ujar Janitra yang akhir-akhir ini sering memanggil saya dengan panggilan ummik, sembari memeluk saya.

“Ibuk nggih sayang Itra,” balas saya sambil memeluknya.

“Tapi Itra sering marah-marah,” lanjutnya, membuat saya tertampar.

Nggih Janitra belajar ben mboten marah-marah,” jawab saya sedikit haru.

 

Saya tertampar. Apakah ia menganggap ibunya mencintainya dengan syarat?

Sering saya bilang, ibuk lebih suka jika Janitra shalikhah. Apakah ia menganggap ibunya hanya sayang saat ia shalikhah saja? Sebab sering saya bilang ia suka marah-marah.

 

Saya banyak-banyak istighfar. Semoga saya tidak terjebak dalam labeling terhadap anak. Banyak-banyak berdoa, semoga Allah melimpahi saya dengan  Nur-Nya dalam mendidik anak, memberi tuntunan bagaimana saya bersikap terhadap anak. Aamiin

20161016_095750

 

*Diary_Janitra_5Th2bln

Sore,09092017.

[Diary Janitra] Jerawat Ibuk dalam Sketsa

Apakah Janitra berbakat menggambar? Entahlah. Sekarang ia sering asyik menggambar dan mewarnai.

Beberapa hari belakangan, ada jerawat mampir di atas sudut bibir kiri saya. Karena besar dan begitu mencolok, seperti bintang di langit malam (#eaa), ia kerap mengomentari jerawat saya, bahkan menggambar wajah saya di papan tulis kamar.

IMG_20170724_190451

“Ini ibuk, ada jerawatnya, trus ini minyak zaitun,” cerita Janitra soal wajah saya dalam gambar dengan sebuah botol di sampingnya. Minyak zaitun itu adalah obat jerawat untuk ibunya.

Kok mboten jilbaban ibuk?*” tanya suami saya.

Kan ting ndalem, jadi mboten jilbaban,” ** jawab Janitra polos.

 

Kami tersenyum mendengar jawaban Janitra, lebih-lebih melihat gambarnya. Saya menyukai gambar Janitra. Gambarnya mengingatkan saya pada ilustrasi novel anak yang saya sukai.

 

Sebelum menggambar di papan tulis, beberapa bulan yang lalu, Janitra yang gandrung menggambar mencoret-coret di mana saja, di sobekan kertas, bahkan di soal-soal latihan UN milik bapaknya. :D. Melihat gambarnya, rasanya puas.  Ada perkembangan gambarnya yang signifikan, meskipun yang digambar objeknya baru satu jenis yang disukainya, bunga. Setahun lalu masih mewarnai gambar dengan warna satu jenis dan coret moret, sekarang sudah mendingan rapinya.

IMG_20170315_181658 IMG_20170426_193749

 

Tentu, sebab perkembangan seni anak akan terus berjalan, gambarnya tentu lebih baik dibanding gambarnya ketika ia baru suka menggambar matahari pada periode coreng moreng

Saat ini perkembangan seni Janitra ada pada tahap prabagan.

Masa Prabagan (preschematic)  : 4-7 tahun

Kecenderungan  umum  pada    tahap  ini,  objek  yang  digambarkan  anak biasanya  berupa  gambar  kepala-berkaki.  Sebuah  lingkaran  yang  menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki.  Ciri-ciri  yang  menarik  lainnya  pada  tahap  ini  yaitu  telah  menggunakan bentuk-bentuk  dasar  geometris  untuk  memberi  kesan  objek  dari  dunia  sekitarnya. Koordinasi  tangan  lebih  berkembang.  Aspek  warna  belum  ada  hubungan  tertentu dengan  objek,  orang  bisa  saja  berwarna  biru,  merah,  coklat  atau  warna  lain  yang disenanginya.

Penempatan¬† dan¬† ukuran¬† objek¬† bersifat¬† subjektif,¬† didasarkan¬† kepada kepentingannya. Ini¬† dinamakan¬† dengan¬† ‚Äúperspektif batin‚ÄĚ. Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini.

 

sumber dari sini

 

Gambar apa lagi yang esok akan dicoretkannya? Lebih-lebih bulan ini sudah masuk sekolah pertama, pasti seru mengamati perkembangannya.

 

 

 

 

#DiaryJanitra_5tahun

Ket:

*”Kok nggak berjilbab?

**“Kan di rumah, jadi tidak berjilbab

[Diari Janitra] Ini Matahariku!

12781986_10205407017927229_1659728586_n

“Buk, iki apa?” tanya Janitra di depan gambarnya sore tadi.
“Iki mat-ta-har-ri,” jawabnya sendiri sebelum ibuk menjawab.
Ibuk memberi pujian, exited, tak menyangka Janitra akan menyelesaikan coretannya sebentuk matahari. Disangkanya Janitra hanya akan menggambar pororo, figur gambar yang dicoretkan dalam bentuk sebuah lingkaran besar, ada 2 mata di dalamnya dan dua garis yang diartikannya sebagai kaki. Itu yang biasa digambarnya.

“Janitra nggambar pororo,” katanya selalu bangga memperlihatkan gambarnya.

12804402_10205407354335639_1563924501_n

Menarik mengamati perkembangan seni rupa anak. Janitra yang dulunya hanya mengambar garis-garis bertalian semacam benang ruwet atau seperti cacing, heheh sekarang sudah berbentuk minimal seperti kepala dengan dua mata.

Sore tadi ibuk menyangka Janitra akan menggambar pororo. Garis-garis di luar lingkaran yang dicoretkannya bermula dari samping. Ibuk menyangka Janitra akan menggambar telinga. Eh, ternyata berlanjut hingga menjadi sinar.

Ibuk sendiri tidak pernah mengajari Janitra menggambar. Matahari atau pororo yang digambarnya mungkin diketahuinya berdasarkan gambar-gambar yang Janitra lihat. Gambar yang sering digambar ibuk kebanyakan hanya bebek, es krim, dan donat. Menggambar es krim dan donat karena Janitra sering menirukan mbak-mbak dan mas-mas yang belajar dengan bapak ketika menyebut belajar matematika, IPA, dll. Janitra akan meminta hal yang sama dengan ibuk, “Buk, it(r)a belajar matematika.” Maka ibuk akan menggambar sembari berkata, “satu donat ditambah dua donat,” atau “dua es krim ditambah dua es krim,” dan sebagainya. Begitu saja Janitra akan senang dan merasa ia juga les seperti mbak-mbak dan mas-mas. :D. Tidak lebih. Hanya menggambar di buku sembari bermain. Yang penting pegang buku dan pensil, rasanya Janitra seperti anak sekolah.

Saat ini, umur Janitra 3 tahun ¬†9 bulan. Menurut periodesasi dan karakteristik seni rupa anak, gambar yang dicoretkannya masuk masa coreng moreng (2–4 tahun). Paparan mengenai periode ini dapat saya kutipkan dari hasil googling berikut ini:

Masa Mencoreng (scribbling)   : 2-4 tahun

Goresan-goresan  yang  dibuat  anak  usia  2-3  tahun  belum  menggambarkan  suatu  bentuk  objek.  Pada  awalnya,  coretan  hanya  mengikuti  perkembangan  gerak motorik.  Biasanya,  tahap  pertama  hanya  mampu  menghasilkan  goresan  terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal  ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik  anak  yang  masih  mengunakan  motorik  kasar.  Kemudian,  pada perekembangan  berikutnya  penggambaran  garis  mulai  beragam  dengan  arah  yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar.

Periode ini  terbagi ke dalam  tiga tahap, yaitu:

1) corengan tak beraturan,

2) corengan terkendali, dan

3) corengan bernama.

Ciri  gambar yang dihasilkan anak pada tahap  corengan tak beraturan  adalah bentuk  gembar  yang  sembarang,  mencoreng  tanpa  melihat  ke  kertas,  belum  dapat membuat corengan berupa lingkaran dan memiliki semangat yang tinggi.

Corengan  terkendali  ditandai  dengan  kemampuan  anak  menemukan  kendali  visualnya  terhadap  coretan  yang  dibuatnya.  Hal  ini  tercipta  dengan  telah  adanya kerjasama  antara  koordiani  antara  perkembangan  visual  dengan  perkembamngan motorik.  Hal  ini  terbukti  dengan  adanya  pengulangan  coretan  garis  baik  yang  horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.

Corengan¬† bernama¬† merupakan¬† tahap¬† akhir¬† masa¬† coreng¬† moreng.¬† Biasanya terjadi¬† menjelang¬† usia¬† 3-4¬† tahun,¬† sejalan¬† dengan¬† perkembangan¬† bahasanya¬† anak¬† mulai¬† mengontrol¬† goresannya¬† bahkan¬† telah¬† memberinya¬† nama,¬† misalnya:¬† ‚Äúrumah‚ÄĚ, ‚Äúmobil‚ÄĚ,¬† ‚Äúkuda‚ÄĚ.¬† Hal¬† ini¬† dapat¬† digunakan¬† oleh¬† orang¬† tua¬† atau¬† guru¬† pada¬† jenjang pendidikan¬† usia¬† dini¬† (TK)¬† dalam¬† membangkitkan¬† keberanianan¬† anak¬† untuk mengemukakan¬† kata-kata¬† tertentu¬† atau¬† pendapat¬† tertentu¬† berdasarkan¬† hal¬† yang digambarkannya.

Materi yang sama (yang saya kutip) pernah saya baca pula di Modul Perkembangan Seni Rupa dari Universitas Terbuka. Malas ngetik ulang jadi cari di google saja :D.

[Diari Janitra] Gowes #4: Wah, Bocor…Bocor!

Cuaca sore tadi cenderung mendung, namun tekad kami untuk gowes tak terpengaruh kelabu. Untuk berjaga-jaga, kami membawa 1 jas hujan untuk Janitra. Bapak ibuk hujan-hujanan saja bila hujan.

Pukul 4 sore kami berangkat. Dari Tegalsari, sepeda kami kayuh menuju SMU 5 Magelang. Dari sekolah yang mengedepankan bidang olahraga itu, kami melaju masuk Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeroyo. Keluar RSJ, sepeda melaju memasuki Armada Estate lalu Perumahan Depkes. Rute ini sama dengan rute menuju rumah pada gowes #2.

Yang berbeda dari rute gowes #2, dari Perumahan Depkes kami berbelok ke Gintung, Jambewangi, Secang. Gowes kali ini buat saya punya progres yang berarti. Selain saya menaikkan beberapa senti sedel sepeda, 3 kali tanjakan bisa saya lewati.

Di salah satu tanjakan, sayup-sayup saya dengar Janitra berseru, ” ibuk kuat…. ibuk kuat….!” Hehehe, biasanya di puncak tanjakan saya akan berteriak, Yeee… ibuk menang!

Gintung terlewati berikutnya adalah Armed Naga Pakca Sambung. Masuk Armed, dari belakang bapak berseru, “bocor… bocor…!”

Yaa…ban depan bocor! Terakhir, ban belakang bocor dan telah diganti. Kini giliran ban depan minta ganti. ¬†Ya sudahlah, sepeda kami tuntun. Saya juga ikutan jalan kaki deh. Untung sudah sampai Armed, sudah tidak jauh dari rumah.

IMG-20160115-00303

IMG-20160115-00305

Beberapa langkah kami berjalan, terdengar suara terompet. ” Jam 5!” kata bapak. Terompet itu penanda waktu. ¬†Waw, berarti sudah 1 jam kami mengayuh sepeda.
IMG-20160115-00307
Keluar Armed Sambung, kami menyebarang Jalan Raya Secang, melewati POM bensin, warung Jadul, masuk perumahan Sambung, menysuri beberapa petak sawah, menyebrang kali, sampai deh di rumah.

Gowes ini ¬†kami agendakan dua kali dalam sepekan. Kami bertekad menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga dan pilihan olahraga kami adalah bersepeda ūüėÄ

 

 

#diariJanitra_3,5tahun

[Diari Janitra] Gowes #3: Menyusuri Secang Barat

Masih mbolang dari desa ke desa menjelajah Secang, Ahad kemarin kami menjelajah Secang bagian barat, menyusuri dusun, jalan setapak, kali, menyebrang sungai, dan sawah.

Saya baru pulang dari mabit sekolah tanpa istirahat tapi semangat untuk gowes menyingkirkan lelah. ¬†Pukul setengah delapan lebih kami keluar dari Tegalsari menuju Mbugel kemudian menyusuri Kalibening. Ekspektasi saya bisa melihat Kalibening dengan kebeningan yang masih orisinil. Nyatanya, kebeningannya tidak sama dengan pertama kali saya melihat dan takjub karena beningnya. Masih bening tapi tidak sejernih dulu. Ingin mengambil fotonya, namun tidak sampai hati sebab sungai dipenuhi orang. Ada yang mandi dan mencuci. Di satu titik ada bagian yang ‘dikomersilkan’ untuk berenang. Tempat renang itu dilengkapi dengan penyewaan ban. Titik itu tentu saja penuh dengan bocah-bocah bertelanjang dada. Di belakang mereka, waterboom yang terbelengkelai kalah oleh kali yang lebih memberikan keceriaan bagi anak-anak.

Dari Kalibening, melewati SMP 3 Secang, kami melaju hingga tiba di tepi Sungai Progo. Di sekitar sungai, tampak beberapa terpal didirikan sebagai tempat mata pencarian penduduk sekitar. Tampak para lelaki dan perempuan pemecah batu sedang bekerja, mengurai batu besar menjadi kricak, batu kecil-kecil material bangunan.

Di jembatan Trinil menuju Windusari, kami berhenti sejenak. Inginnya saya menikmati sungai, mentadaburi ciptaan Allah, ciee, namun Janitra agaknya takut melihat dan mendengar arus sungai.

IMG-20160110-00284

IMG-20160110-00287

IMG-20160110-00285

Perjalanan pun kami lanjutkan. Kami berbelok menuju Selote. Diturunan, Janitra dan bapak melaju cepat. Mereka sudah terlihat kecil.

IMG-20160110-00289

Spot di tempat ini sayang dilewatkan, maka saya minta jeda. Nah, karena Janitra masih takut dengan sungai–biasanya melihat kali kecil tidak sebesari ini– ia malah minta gendong waktu kami turun dari sepeda, hehe. Kasihan bapak harus ¬†gendong.

IMG-20160110-00294

IMG-20160110-00291

IMG-20160110-00296

Lanjut lagi. Janitra sudah mau naik sepeda. Menyusuri Selote dengan rute yang menanjak, kami harus berkali-kali turun menuntun sepeda.  Asyiknya menyusuri desa kami bisa cuci mata melihat lukisan alam yang hijau di sana-sini, namun saya harus rela ngos-ngosan melewati rute menanjak. Ada yang esktrim turun naik, ada pula tanjakan yang tak begitu tinggi kemiringannya namun lebih panjang.

Dari Selote, kami kembali menyusuri sungai. Nyaman sekali mengayuh di atas jalan setapak di tepi kali.

IMG-20160110-00298

Rute terasa berat dengan tanjakan yang kami temui menjelajah Ngadirejo, Geduang, Kaligeleh lalu senyum melebar saat memasuki Karangboyo, Payaman. Sudah sampai di tepi jalan raya lagi. Artinya sudah dekat dengan rumah. Dari Karangboyo kami menyebrang jalan raya melewati pasar Payaman, menyebrang jembatan Semanggi, masuk Sidorejo dan sampailah di depan rumah Tegalsari! Mengecek jam,  90an menit kami mengayuh sepeda di bawah terang matahari.

Alhamdulillah. Gowes kemarin saya dibuat takjub. Selain mendapati alam Nusantara yang ijo royo-royo, saya terheran-heran dengan rute tak terduga yang dipilih paknda Janitra. Rute baru baginya dan tentu bagi Janitra dan saya itu sepertinya semakin jauh mengayuh semakin menjauh dari ¬†rumah. Ternyata,dari Ngadirejo kami mengayuh berputar dan tak terasa semakin mendekati desa kami. Bapak Janitra selalu bilang,” tenang saja, tahu-tahu nanti sampai depan rumah.” ūüėÄ

#diariJanitra_3,5tahun

 

 

 

 

[Diari Janitra] Gowes:dari Desa ke Desa Jelajah Secang

Ini pertama kalinya Janitra yang diboncengin bapak menempuh perjalanan lumayan jauh di atas boncengan sepeda belakang. Sebagai pendatang baru, ciee, pesepeda baru, ini ketiga kalinya saya bersepeda namun yang ketiga ini rutenya sudah lumayan jauh. Kami menjelajah dari desa ke desa di Kecamatan Secang bagian selatan. Mulai start rumah Tegalsari, kami melewati Sidorejo, Karanggeneng Payaman, Weru Madusari, Candiretno, Canden (Pucang), Nggelayahan,  Bengkung, Manggis, Tegalsari.

Bersepeda menjadi agenda rutin kami, lebih-lebih liburan ini. Nah, kebetulan mbah uti dan kakung juga punya agenda jalan-jalan, maka kami diajak janjian  sarapan di Gleyahan. Desa Pucang terkenal dengan kuliner bebek dan entoknya. Di Gleyahan, ada warung makan yang menjadi favorit keluarga. Dengan melewati rute yang berbeda, harapannya kami akan sampai pada waktu yang bersamaan dan menikmati sarapan. Jadi sekalian ngetrip dengan gowes sekaligus wisata kuliner :D.

Maka dimulailah perjalanan kami kurang lebih pukul 06.30. Sampai SD Madusari Secang, rute pernah kami tempuh. Perjalanan harus berlanjut. Dari Madusari hingga Pucang, kami harus melewati dua tanjakan ekstrim. Hosh… hosh… Berat ketika harus menuntun sepeda. Janitra dengan setia ikut berjalan, diminta tetap dibonceng Janitra tak mau. Sipp nak..¬† Tapi kasihan juga ketika jalan begitu menanjak ūüėÄ

Dari Pucang hingga Gleyahan, jalan yang kami lalui begitu teduh dan asri, melewati pematang sawah dan dusun-dusun dengan jalan setapak. Tak ada rasa lelah. Begitu sampai Gleyahan, kebetulan sesuai prediksi, kami sampai berbarengan, tapi….. warung belum buka. olala! Em.. sebenarnya, kami bisa sarapan di sana hanya saja menu belum komplit karena masih terlalu pagi.

Perjalanan dilanjut. Sarapan harus tetap jalan. Di Warung Johar Sari Gleyahan tak dapat, mbah uti pengen lanjut ke Setia Rasa Pucang. Olala, untuk ukuran saya dan Janitra (meski hanya bonceng) jauh. Berikutnya kami melewati jalan raya Pucang–Magelang.¬† Kring kring gowes gowes lagi.

Alhamdulillah sampai di Setia Rasa Secang, meski belum buka juga, tapi ready. Sarapan pun tiba!

Image5943

Selesai sarapan, membayangkan kembali melewati rute yang sama, rasanya aduuhhh.. capek. Yang saya bayangkan adalah melewati dua tanjakan yang ekstrim. Kasihan Janitra kalau harus jalan, meskipun kalau memang sudah merasa capek Janitra mau saja tetap duduk di boncengan. Melihat begitu jauhnya rute perjalanan, mbah uti dan kakung pulang naik angkot. Saya tawarkan kepada Janitra untuk ikut naik angkot. Kasihan Janitra ketika harus berpanas ria dan berada di belakang boncengan. Untuk ukuran anak kecil yang masih suka bebas, pasti capek dan bosan. Nyatanya Janitra menolak. Janitra yang tabah dan setia bersikeras ikut ibu dan bapak naik sepeda.

Setelah di rasa cukup puas sarapan dan beristirahat, dimulailah perjalanan lagi. Masih melewati jalan raya Pucang-Magelang,kami sempatkan mampir di pasar Pucang, tepatnya di pusat suvenir khas Pucang. Pucang terkenal dengan kerajinan dari tanduk. Di tempat itu, tersedia tak hanya suvenir berbahan tanduk. Aneka suvenir unik dari yang termurah ada. Tak mau pulang dengan tangan kosong, kami membawa oleh-oleh solet kayu untuk memasak :D.

Image5946

Menyusuri jalan raya,  kami kemudian masuk desa Candiretno  melewati Cetokan, Manggis, dan menyusuri sawah dan sungai.

Image5949

Sampai di Manggis, saya lihat Janitra sudah nempel pada bapak. Gawat. Janitra terlihat ngantuk. Saya wanti-wanti jangan tidur dulu. Bapak pun tak henti mengajak ngobrol. Lancar. Kurang dari pukul 11.oo kami sampai di Tegalsari lagi.

 

#diariJanitra_3,5tahun

 

 

 

[Diary Janitra] Janitra, TV, dan Mbah Kakung

Bapak : “Dek, magrib, tivine pateni nggeh.”
Janitra : (sambil merengek) “Aaa…Bang Jalwo….”

Terjadi ‘perseteruan’ antara bapak+ibu vs Janitra yang merengek- rengek bahkan menangis minta nonton Bang Jarwo di televisi atau komputer (video). Dengan usaha kami yang gigih, akhirnya Janitra tak meminta disetelkan tv lagi.

Magrib telah lewat, mbah kakung pulang dari masjid. Sembari melepas lelah, mbah kakung menghidupkan tivi, menikmati program berita dari stasiun swasta penayang berita favoritnya. Sambil tiduran, sesekali bercanda dengan Janitra mbah kakung bisa menyimak berita tanpa ‘dikudeta’ Janitra, sampai tiba-tiba…

Janitra : (dengan nada tinggi) “Mbah Kakooonggg… maglib…,tivine dipateni…!”

Terkekeh, mbah kakung dengan rela mematikan tivi.

ūüėÄ

*diary Janitra 2 tahun 10 bulan.