Berkebun di Kebun Bibit Senopati

 

 

Salah satu cara mengembangkan kecerdasan naturalis anak adalah mengajak mengekplorasi alam dan melakukan kegiatan berkebun. Di Kebun Bibit Senopati Magelang ini anak-anak akan diajak berkebun dengan fun. Tempat ini beralamat di Jl. Panembahan Senopati, Jurangombo Utara, Magelang Sel., Kota Magelang, Jawa Tengah 56123. Kebunnya indah dan banyak spot yang instagramable.

IMG_20181113_083721

 

IMG_20181113_092449.jpg

IMG_20181113_085118.jpg

IMG_20181113_083858.jpg

 

 

Kunjungan yang  dilakukan dengan kawan-kawan sekolah, pasti seru!!! Ini salah satu kunjungan belajar yang diadakan TK Janitra. Begitu datang, petugas menyambut anak-anak. Mereka dikumpulkan untuk pengarahan lalu diarahkan untuk menanam bunga. IMG_20181113_084350

Kegiatan menamam bunga dipandu oleh seorang petugas. Selanjutnya anak-anak akan diberi sebuah tanaman bunga yang dibawa pulang untuk ditanam di rumah. Selesai tugas menanam, ustadzah mengajak mereka berkeliling kebun.

IMG_20181113_090012_edit

 

Foto-foto tak ketinggalan. Apalagi emak seperti saya, sudah siap dengan gawai yang kameranya tak luput menjepret moment si anak.

IMG_20181113_085435_edit

IMG_20181113_085448

PhotoLab_20181129_161914[1]

PhotoLab_20181129_163419[1]

PhotoLab_20181129_160700[1]

 

Mau coba ke sini? Ajaklah si kecil ke sini,pasti senang. Berlarian dan mengenal aneka flora.

[diary Janitra] Janitra dan Kepedulian Gempa

 

Sore, televisi menanyangkan pengungisan dampak gempa dan tsunami Palu. Ada tenda-tenda yang kondisinya memprihatinkan karena sudah dua hari hujan turun dan air masuk ke tenda. Reporter mengabarkan kondisi terkini.  Janitra menikmati ‘energen’ home made buatan ibu.

Di kepala saya muncul sebuah imaji, Janitra akan bertanya, “ mi, niku kemah napa?” lalu saya akan menjelaskan perihal tenda yang dilihatnya.

Di luar dugaan, saya terkejut, komentarnya bernada prihatin, “mesake”

Maka, saya langsung masuk memberikan umpan balik atas tanggapannya. Agar Janitra yang beruntung lebih bersyukur dan lebih shalihah, serta mendoakan mereka.

Lalu, komentar berikutnya, “Umi, Lombok pun bersih?  Nek kalih niku?” Pertanyaan membandingkan muncul.

Saya jelaskan, Palu lebih parah sebab ada tsunami.

Lagi-lagi Janitra bertanya, “Lombok pun bersih?”

“Tasih terus diperbaiki, ”

“Kurang pinggir-pinggire?” Nah, kalau ini komentar lugasnya ala bocah,

Jujur, saya exited dengan kepedualian dan pemahaman Janitra akan kondisi Lombok dan Palu. Saat terjadi tsunami, saya tidak berada di rumah (menjalani PPG  5 pekan). Dari mana kesadaran dampak bencana yang dilihatnya? Ah, ternyata, Janitra tidak hanya tahu “Upin dan Ipin” saja dari televisi di depannya.

 

#latepost

Tegalsari, 14 Oktober 2018. 17.22

#diaryJanitra_6y3m

 

 

Warga korban gempa melintas di sekitar tenda pengungsian di halaman Masjid Agung, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10)

Warga korban gempa melintas di sekitar tenda pengungsian di halaman Masjid Agung, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10).Berdasarkan data sementara posko induk penanggulangan bencana Makorem 132 Tadulako jumlah pengungsi mencapai 62.359 jiwa. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/foc/18.  (*foto hasil googling))

Catatan Syawal

Ramadhan berlalu beberapa pekan lalu, berganti syawal. Ternyata saya belum bisa istiqomah menuliskan catatan Ramadhan di blog ini. Sebelum Syawal berlalu, ingin sedikit menorehkan sedikit catatan.

Ada kebahagiaan membuncah dengan Ramadhan, sedih ketika ditinggalkan. Kebahagiaan itu makin lengkap sebab di tahun ini Janitra sudah mulai latihan puasa. Alhamdulillah 29 hari full puasa bedhug, puasa duhur  lanjut Magrib. Saya sangat mengapresiasi, melihat begitu penuh warna dan kadang drama saat sahur. Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kali ia mau bangun sahur dengan keadaan seperti di bulan-bulan lain.

Bersyukur kegiatan dauroh Ramadhan membuat Janitra bertanya sekarang, kok nggak ngaji di Ya Bunayya lagi? Tanggal 2 Juni Janitra menutup kegiatan itu dengan semangat yang tidak surut. Siang itu panas, saya mengantar Janitra diiringi gumaman dendangannya. Panas yang terik tidak membuatnya mengeluh. Dia bahkan menyanyi keras dalam perjalanan di lokasi.

20180602_141131

semangat dauroh hari terakhir

 

Meninggalkan daurah, kegiatan yang dinanti-nanti lain adalah mabit pertamanya di TK. Penuh semangat dan sampai di rumah bilang, pingin mabit lagi. Alhamdulillah Janitra bisa mengikuti mabit dengan riang gembira.

20180608_201052

moment mabit yang ditunggu ternyata Janitra nggak berani menyalakan kembang api 😀

 

Jadi ingat bahwa setahun lalu, Ramadhan lalu Janitra harus mabit di rumah sakit sebab diberi ujian sakit. Rasanya haru mengingat itu, betapa banyak nikmat, kebahagiaan, dan kesehatan yang diberikan Allah saat ini.

mabit rsj

tempat mabit rumah sakit 😀

Begitu banyak pelajaran untuk ukuran bocah yang dilakoninya, tak heran jika saat Idul Fitri Janitra menyambutnya dengan buncah. Setiap moment silaturahmi diikutnya dengan riang. “Saya selalu semangat diajak badan (silaturahmi)” ucapnya selalu. Banyak keberkahan dan banyak rejeki yang anak-anak dapatkan di bulan Syawal ini.

Semoga pembelajaran ini dibawanya serta hingga bulan-bulan berikutnya. Aamiin


 

[ Diari Janitra] Cinta Tanpa Syarat

“Itra sayang Ummik,” ujar Janitra yang akhir-akhir ini sering memanggil saya dengan panggilan ummik, sembari memeluk saya.

“Ibuk nggih sayang Itra,” balas saya sambil memeluknya.

“Tapi Itra sering marah-marah,” lanjutnya, membuat saya tertampar.

Nggih Janitra belajar ben mboten marah-marah,” jawab saya sedikit haru.

 

Saya tertampar. Apakah ia menganggap ibunya mencintainya dengan syarat?

Sering saya bilang, ibuk lebih suka jika Janitra shalikhah. Apakah ia menganggap ibunya hanya sayang saat ia shalikhah saja? Sebab sering saya bilang ia suka marah-marah.

 

Saya banyak-banyak istighfar. Semoga saya tidak terjebak dalam labeling terhadap anak. Banyak-banyak berdoa, semoga Allah melimpahi saya dengan  Nur-Nya dalam mendidik anak, memberi tuntunan bagaimana saya bersikap terhadap anak. Aamiin

20161016_095750

 

*Diary_Janitra_5Th2bln

Sore,09092017.

[Diari Janitra]Gowes #2: Dari Tepi Kalibening hingga Kota Magelang

Baru pulang kerja belum sampai rumah, satu sms dari paknda Janitra sudah masuk: “Hari yang cerah untuk pit-pitan”. Maka saya pun bergegas. Begitu tiba di rumah, ganti baju langsung berangkat. Kring…kring.. gowes… gowes.

Sore tadi Janitra yang masih duduk di boncengan bapak menyusuri Secang bagian utara, tepatnya masih kelurahan Jambewangi. Dari rumah Tegalsari, kami masuk Armed Sambung, selanjutnya masuk dusun Mbugel. Keberanian saya teruji ketika menuruni jalan-jalan berlubang dengan tebaran kerikil. Ah, saya ragu, maka saya memilih menuntun sepeda. Ngeri melihat tebaran kerikil, air yang menggenang, dan bopeng di sana-sini. Jalan itu memang sering dilewati truk bermuatan karena tak jauh dari nGugel terdapat lokasi pemecahan batu-batu split untuk bangunan. Lokasi berada di tengah-tengah persawahan.

Ini Pengalaman baru buat Janitra. Setelah menukik di turunan, lepas dari jalanan berlubang, jalan setapak tepi kali sungguh enak dilewati. Kalibening yang tak lagi bening, kami susuri. Tentu saja ini bukan Kalibening yang biasa sebagai tempat pemandian. Kali yang kami susuri ini aliran Kalibening dari kali yang sumbernya masih bening. Kalibening yang berada di daerah “Kalibening yang itu” airnya belum tercemar. Makin jauh mengalir, alirannya makin keruh. Meski begitu, kami mendapat beberapa orang yang memanfaatnya airnya untuk mencuci bahkan mandi.

Pemandangan yang menyegarkan sore itu memanjakan kami. Mata disuguhi dengan persawahan berlatar gunung Sumbing Sindoro.

Image5961

Image5962

Image5963

Menyusuri Kalibening, kami kemudian memasuki Kota Magelang. Perumahan depkes menjadi daerah yang pertama kami susuri.

 

Keluar dari perumahan depkes, Armada Estate menjadi rute selanjutnya. Perumahan itu terbilang asri. Pepohonan menaungi kami sepanjang perjalanan yang terbilang singkat.

Image5970

Keluar dari Armada Estate, istirahat sejenak di Milky Moo dulu. Masing-masing dari kami memilih varian susu yang berbeda.

Image5971

Kami tak lama sebab  minuman itu kami bawa pulang. Berikutnya adalah menyusuri bagian depan Rumah Sakit Jiwa  Dr. Soeroyo, rumah sakit jiwa terbesar di Indonesia. Tempat yang beberapa bangunannya masih klasik itu terbilang teduh.

Image5976

Dari RSJ kami masuk daerah Secang lagi melewati Pagiren. Lokasi SMU 5 Magelang sudah kerap kami lalui setiap kali gowes.

Lagi-lagi menyusuri sungai lagi, Kali Manggis, sampai deh di rumah. Saatnya menikmati Milky Moo yang masih hangat. Segar rasanya, susu tersebut manisnya pas sebab tanpa pemanis buatan. Strawberi yogurt yang dipilih Janitra ternyata yang paling mantab dibanging tiramisu dan green tea yang dipilih bapak ibuk :D.

Image5979

 

#diariJanitra_3,5tahun

 

 

[Diari Janitra] Teman Khayalan

Pekan-pekan belakangan, celoteh Janitra tak lepas dari satu nama: mbak Naila. Entah dari mana Janitra mendapatkan satu nama itu. Entah itu karakter imajinernya ataukah satu nama yang pernah dikenalnya dalam satu masa satu tempat.

Dalam cerita-cerita yang dikisahkan Janitra, mbak Naila menjadi tokoh utamanya. Tak hanya itu, dalam obrolan teleponnya, lakon itu juga hadir. Janitra tak hanya “mengobrol” dengan telepon beneran yang mati, tapi juga telepon rusak, mainan yang dianggap telepon, bahkan chasing hp bagian belakang. Mendengar obrolan teleponnya, saya seringkali terkikik. Hehehe, ya biarkan ia berimajinasi.

#diariJantra_3,5tahun

[Diary Janitra] Eh, Nggak Boleh Nyanyi di Kamar Mandi!

Ada yang membuat saya terperangah lalu tersenyum sepanjang sore tadi. Saya berada di dapur untuk belajar mencoba resep martabak manis (yang hasilnya belum sukses! :D) dan mendengar celoteh Janitra ketika di kamar mandi bersama bapaknya untuk pipis lalu buang air besar. Sembari melakukan aktivitas tadi mereka berdua menyanyikan lagu “awe mo we awe mo we” OST Madagaskar. Mendadak Janitra berhenti dan berkata,” eh…mboten pareng nyanyi teng kamar mandi” (eh, tidak boleh menyanyi di kamar mandi).

Saya pun takjub sendiri, ingat kalau soal adab di kamar mandi tersebut pernah saya sampaikan sekali ketika menemaninya di kamar mandi. Ketika itu Janitra menyanyi dan mendadak terpikir di kepala untuk mulai menyampaikan adab di kamar mandi kepada Janitra. Pikir saya, yang penting saya sampaikan, soal Janitra mengerti atau tidak, saya sudah mencoba untuk mengajarkan soal adab sejak dini. Saya bilang kepada Janitra, “Dek, teng kamar mandi mboten pareng nyanyi nggeh,” Begitu pula ketika Janitra mengucapkan salam di depan pintu kamar mandi untuk “bermain-main”.

Nyatanya, di usia ke-2 tahun 10 bulan (34 bulan) Janitra sudah bisa mengingat informasi penting yang diterimanya dan dimunculkan kembali. Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kami untuk mendidik Janitra, amin.

[Diari Janitra] Mantra

Selain dengan murottal, kadangkala untuk meninabobokkan Janitra, saya harus menyanyi atau bersendung.  Lagu ninabobok kerap saya senandungkan untuk mengantar Janitra ke alam mimpi. Ia layaknya mantra, saya ulang-ulang hingga ia bisa membuat Janitra terlelap. Hanya saja, saya tidak mengambil utuh lagu itu. Nina, tentu saya ganti dengan nama anak saya, Janitra. Satu lagi, saya menganggap kalau lagu nina bobok yang selama ini begitu populer memiliki unsur ancaman…. kalau tidak bobok digigit nyamuk.   Saya tidak setuju dengan pendidikan anak yang mengandung ancaman. Dalam hal menidurkan anak apalagi. Jadi, lirik itu saya ganti dengan kalimat yang lebih ‘ramah’:

Janitra bobok oh Janitra bobok…

Kalau tidak bobok Janitra ngantuk….

 

[Diary Janitra] p a y u n g

Gambar

 

Payung, menempati ruang tersendiri dalam keseharian Janitra. Ia menjadi salah satu benda favoritnya barangkali. Bagi Janitra, payung identik dengan jalan-jalan,  melihat dunia luar. Sejak  Janitra berumur tiga bulan, ia sudah terbisa pergi ke luar rumah. Tentu saja payung adalah benda wajib untuk melindungi dari terik matahari.

Itu sebabnya, setiap kali melihat payung, Janitra selalu exited. Ketika ia belum bisa berbicara, ia hanya akan menunjuk payung dengan bahasa yang belum terdengar jelas. Ia juga akan menunjuk ke luar rumah. Seiring waktu, pelan-pelan Janitra semakin bisa mengeja payung meski dengan suara yang lucu sembari heboh meminta dikembangkan atau minta ke luar.

Kalau di rumah neneknya, di Grabag, setiap kali melihat Payung Janitra akan menyebut juga pasar, sebab neneknya seringkali mengajaknya berbelanja membawa Payung. Mengetahui kakak sepupunya, Salma, memiliki payung kecil yang bisa dipakainya untuk bermain, Janitra semakin exited. Payung itu pun begitu cocok dengan Janitra, berwarna kuning—warna yang begitu klik dengan Janitra—dan bergambar Momon, sebutan kami untuk Monyet, karakter yang sudah diakrabinya dari buku cerita yang sering kami bacakan.

Payung kecil Momon pun menemaninya bermain di suatu siang yang terik di belakang rumah. 

[Diary Janitra] The Amazing Al-Quran

Sejak dalam kandungan, Janitra sudah terbiasa mendengar lantunan Al-Quran. Tiap pagi di sekolah, rutinitas yang saya hadapi adalah mendengar riuh rendah anak-anak menghafal beberapa surat jus 29,lalu menghadapi mereka yang berebut setor hafalan. Saya salut pada mereka yang gigih menghafal hingga tuntas. Beruntungnya mereka, orang-orang dewasa seperti saya tentu kalah dengan mereka: menyimak sembari memegang mushaf :D. Saya menyukai keramaian kelas pada jam tahfidzul Al-Quran. Semangat anak-anak yang menghafal semoga menjalar dalam diri Janitra 🙂

Selain kadang-kadang mendengarkan musik klasik seperti yang disarankan di banyak artikel yang saya baca, di rumah murotal menjadi pilihan utama untuk diperdengarkan janin. Suami selalu berpendapat, lantunan AlQuran adalah musik terbaik,saya setuju.

Janitra kini sudah bisa mendengarkan murotal secara langsung. Begitu amazing lantunan Al-Qura’an. Ketika dia sedikit rewel-nangis2 kecil- menjelang tidur, cara menghadapinya simpel,cetek. . .! saya putar murotal dan mendadak tangisnya berhenti,cep! Dia akan tertidur dengan dengan pulas 🙂 Kalau lagu ninabobok dan rengeng-rengeng lain tak bisa menghentikan tangisnya, lantunan ALQuran begitu menenangkan dan menyejukkan. Berbeda sekali jika saya sendiri yang membacakan surat-surat pendek menjelang tidur, bukannya merem, matanya akan terbelalak menatap saya, penuh rasa ingin tahu. Sesekali saya mendapati mulut kecilnya bergerak-gerak. Barangkali ingin menirukan, atau mungkin malah ingin berkata,” Aduh… bacaan dan suara ibuk  nggak asyik, beda dengan murottal yang biasa Janitra dengar.” 😀

#angkot, 27022013,15.28 repost dari FB