Ia yang Enggan Menyandang Gelar

Meskipun peringatan maupun perayaan hari Kartini sudah lewat, dalam upacara tadi pagi pembina upacara merefleksi peringatan hari Kartini. Refleksi peran Kartini dalam ‘amanat pembina upacara’ tersebut baru tadi pagi dilaksanakan sebab Sabtu lalu sekolah kami tidak mengadakan acara peringatan. Dalam menyebut nama Kartini, pembina upacara menyebutnya lengkap beserta gelar kebangsawanannya, Raden Ajeng. Berkali-kali mendengar nama beserta gelar itu, telinga saya kok rasanya ‘keri’. (Padanan kata keri untuk Bahasa Indonesia apa ya yang paling tepat? Geli buat saya belum mewakili :D).

Saya teringat buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, juga cuplikan surat Kartini yang pernah saya baca. Dalam surat kepada Stella, tertanggal 25 Mei 1899, Kartini menulis:
“Aku seorang pekerja biasa, Stella. Pekerja biasa. Ya, namaku hanya Kartini. Sebab itu, panggilah aku Kartini saja, tanpa gelar, tanpa jabatan.”
Kartini menentang segala bentuk feodalisme, itu sebabnya ia hanya mau dipanggil Kartini saja. Panggil Aku Kartini Saja, dari ucapan Kartini sendiri kemudian dipilih Pram untuk judul buku biografi Kartini sebab penulis itu sama-sama menentang feodalisme.