[Fiksi Kilat] Pada Secangkir Kopi

13293005_10205989687013592_702559419_n

“Mutia, mom bawa tamu spesial..!” step mom yang baru datang berseru sembari masuk.

Mom masuk bersama seorang perempuan berjilbab hijau.

“Kak Yanti?!”

Aku bertemu kak Yanti baru setahun. Kak Yanti sudah seperti saudaraku. Bertemu dengan orang sebangsa, terlebih satu daerah asal di negeri orang sama dengan bertemu saudara. Berkumpul dengan sesama mahasiswa  Indonesia menjadi  pengobat rindu pada tanah air.

“Assalamu’alaikum Mutia. Aku baru saja pulang kampung lho. Aku bawa oleh-oleh spesial buat kamu. Ngobrol sore ini bakalan makin seru.”

“Wa’alaikum salam. Pulang kampung Kak?” terbesit rasa iri. Kembali ke Indonesia, keinginan itu sudah lama ada tapi keberanian untuk melakukannya masih ciut.  Mom mengangatku sebagai anak ketika ia bekerja sebagai relawan di Indonesia ketika aku masih SMP. Mom meberiku kehidupan baru sebab waktu itu aku tak punya siapa-siapa di Indonesia. Jadi kemana jika aku pulang kampung?

Kak Yanti menuju dapur.

“Aku bikin kopi buat kamu.” Rumah ini sudah seperti rumah sendiri bagi teman-temanku. Beruntung aku memiliki keluarga yang selalu welcome terhadap siapapun.

Kak Yanti kembali dengan dua cangkir yang mengepul.

“Hemmm….aromanya… sepertinya….”

Aku mengingat-ingat…sudah lama sekali….

“Ayo tebak, pencinta kopi sepertimu pasti tahu…”

Pelan-pelan aku menyerutup…

Rasanya…,dan bayangan itu berkelebat…

Pagi yang hangat. Aku dengan senang hati membuatkan kopi untuk abi, menunggu diam-diam sampai abi selesai menyerutup untuk menikmati sisanya.

“Tidak salah, ini kopi gayo!” Aku meletakkan cangir dengan sentakan. Kak Yanti tertegun, cangkir kopinya menggantung di depan dagu.

Kopi dalam cangkir menjelma pusaran…memekat, makin besar… guncangan yang begitu dahyat membuat pagi kami tercerai berai, lalu air, gelap, sendiri.

 

 

#Catatan:

Suka banget dengan ilustrasi karya mas Aufa Aqil Ghani untuk FF saya dalam Mahakarya:Kumpulan Flash Fiction Ninelights Vol.1 (2013) yang digawangi oleh mbak  Rana Wijaya Soemadi

kover FF versi 3

Diantara 9 FF saya yang ada dalam buku itu, saya paling suka FF ini. Cerita bertema kopi selalu saya sukai, termasuk kopi, walaupun belakangan jarang ngopi. Malam ini dibuatkan segelas kopi oleh suami jadi pengen posting ff ini 😀

 

 

 

 

[Fiksi Kilat] Perjalanan

“Lha, oleh-oleh buat kamu sendiri mana?”
“Di sini dan sini,” aku menunjukkan note bututku dan kamera digital saku. Seperti biasa, pertanyaan yang sama dari ibu dan jawaban yang sama pula dariku, tiap kali saudara-saudaraku mengerubungiku membongkar tas ransel sepulang melakukan perjalanan. Antri suvenir.

Belanja selalu masuk daftar kesekian dalam rencana travellingku. Sebelum berangkat, aku sudah menolak request oleh-oleh.
“Males, ranselku tak bisa menampungnya. Maaf ya…aku mau jalan-jalan bukan mau shopping!” begitu kataku selalu.
“Kali ini, plis deh, mau ke Nusa Tenggara gitu loh, bawakan kenang-kenangan dari pulau eksotis itu,” Rani, sepupuku merayu sambil mengantarku ke terminal. Baiklah untuk kali ini.

Buat aku, cukup satu atau dua benda khas dari daerah tujuan dan tidak terlalu memenuhi isi ransel yang kubawa pulang. Ada satu lagi sebenarnya. Begitu pulang kali ini, masuk ruang tengah, aku mencari-cari benda itu, biasanya tergeletek di meja dekat TV, tempat strategis yang bisa dilihat siapa saja di rumah ini. Siapa tahu sudah datang. Nihil.

Hari-hari berikutnya pak pos menjadi laki-laki paling kunanti. Aku mengharapkan ada kejutan tergeletak di samping TV kala pulang bepergian.

Terdengar suara motor memasuki pekarangan rumah, aku menghambur keluar. Temannya kak Nuno datang, aku balik lagi, cemberut.
“Yes!” aku bersorak ketika hari berikutnya laki-laki yang kutunggu itu datang, gagah dalam seragam PT.POS. Aku keluar dengan senyum dikulum.
“Bu Asiah, ” pak pos menyerahkan amplop colklat padaku. Senyumku memudar. Surat dari Taspen untuk ibu.

Aku mengharapkan pak pos datang di sisa liburanku, biar aku sendiri yang menerima kiriman itu. Kalau aku pulang dari bepergian dan pintu dalam keadaan terkunci, seharian rumah kosong karena kesibukan kami masing-masing, aku mengharapkan ada yang terselip di bawah pintu. Tapi selalu nihil.

Di akhir pekan, akhir liburanku, akhir penantianku, sudah 3 kali aku bolak-balik menyambut deru motor masuk halaman. Keempat kalinya, kubirakan saja, sampai namaku dipanggil lengkap dengan suara khas yang kurindukan.

“Rainy Senja Ramadhan,” aku bergegas keluar.
“Akhirnya.”
“Wis nunggu-nunggu?” Pak Pos bertanya dengan tawanya yang berat. Beliau sudah hafal dengan kiriman-kiriman yang datang untukku. Kali ini kiriman kesekian kali yang akan menambah koleksiku: prasasti di mana saja aku pernah singgah.
Pak pos menyerahkan sepotong senja di Pantai Kalaki, Bima. Sebuah kartu pos bernama pengirim sama: Rainy Senja Ramadhan. Kukirimkan di hari terakhirku di Bima dari sebuah kantor pos.

5kalaki

foto mengambil dari sini
tulisan ini diikutkan dalam Tantangan Menulis FlashFiction – Tentang Kita Blog Tour”

[Prompt #43] Januari

Pram menyingkirkan kalender duduk 2013 di meja kerjanya.  Kalender baru bernuansa black and white sudah bertengger menggantikan.

Resolusi…resolusi…kata  itu yang selalu didengung-dengungkan di akhir tahun dan  awal bulan ini.

“Kalau Pram sih pasti resolusinya satu, menikah!” seru sepupunya sembari tertawa dalam pertemuan keluarga  tiga hari lalu.

“Apa sih Pram yang kau tunggu, kurang apa sih Kikan. Cantik, pinter, baik, pintar membawa diri, mapan.  Tunggu apa lagi?” tanya buliknya.

Pram hanya tersenyum. Tidak semudah itu.

Resolusi. Tekad Pram sudah kuat. Kali ini dia menuliskan di daftar teratas.  Menikah. Harus! Dia harus bergerak dari titik yang sekarang membuatnya jalan di tempat.

Ia menimbang-nimbang sebuah cincin di tangannya. Berkali-kali ia mengajak Kikan untuk membicarakan hal itu dengan kedua keluarga, namun Kikan selalu menolak. Belum siaplah, tunggu S2-nya  selesai lah, karirnya sedang menanjak lah. Sederetan alasan yang membuat hubungan mereka stag.  Dan mereka tetap bertahan. Pram tak mau kehilangan Kikan.  Kikan tahu benar akan hal itu.  Makanya Kikan tetap kukuh pada pendiriannya.

                                                                                               ***

Gambar

gambar pinjam dari sini


Malam ini Pram sudah rapi, cincin tak lupa dibawanya serta. Apapun yang terjadi, malam ini ia harus menemui kedua orang tua Kikan untuk secepatnya meresmikan hubungan mereka. Hati sudah ditata, siap menerima apapun jawaban dari Kikan.

“Pram, kenapa harus sekarang? Kita terlalu terburu-buru.”  Lagi-lagi jawaban itu. Pram menghela nafas. Kemungkinan itu sudah diperhitungkannya.

“Ya, harus sekarang. Atau… kita…” Pram sudah lelah dengan tarik-ulur itu. Ia tak mau lagi bertele-tele.  Ia sudah merasa lelah tanpa arah.

“Kenapa Pram?”

“Kita akhiri saja hubungan kita!” Beban berat itu menggelinding.

“Kita, putus? Maksud kamu? Kamu mau mutusin aku sekarang? Apa sih yang kurang dari aku buat kamu?” Kikan terlalu percaya diri untuk mengucapkannya. Ia tahu pasti, sebab Pram menganggap Kikan sudah sempurna untuknya.

“Hanya satu kekuranganmu, maaf” lirih,  terdengar seperti bisikan. Dikuatkannya hatinya.

Kikan menunggu

“Komitmen,”Ujar Pram tegas.

*meminjam judul lagu Januari Glenn Fredly

**diikutkan dalam Monday FlashFiction Prompt #43: Let’s Move On

[fiksi kilat] Balon Merah Hati

“Kamu ngapain sih beli balon? Mau buat Rani, ponakan kamu?”

Senja  menggeleng.

”Duduk yukkk… di sana.” Senja  menunjuk bangku taman.

Inilah yang ditunggu Senja beberapa hari ini, meluapkan segala beban di kepala, melelehkan  segala sesak hati dengan es krim dan Arin di sampingnya, sembari memandang lalu lalang jalanan.

Senja tak sabar ingin menjilat es krim favoritnya, tapi tunggu dulu. “Tolong pegangin bentar yak.”

Arin mengangkat alisnya. Tapi diterimanya juga cone es krim dari tangan Senja.

Sebuah notes ditariknya dari tas, Senja menyobeknya selembar. Mata Arin tak lepas dari kertas yang di atasnya dituliskan sesuatu. Selesai, diikatkannya pada balon di tangan.Mantab Senja melepaskan balon itu, tanpa memandang ke mana ia terbang. Lepas. Matanya  tak bergeser seincipun  dari jalanan di depan. Arin mengelus-elus pundaknya. Besok adalah hari pernikahan Rhe dan Dinda.  Tak akan pernah ada air mata tumpah.

 ***

                        “Om..Ommm…. liat ada balon….ada balon mau jatuh,” seru Ade dari halaman.

“Sini deh bentar. Asyik nemu balon…” Ade menarik tangan Rhe.

Hup, Ade menangkap balon  kehabisan karbit.

“Waw, ada kertas, pesan mungkin Om.” Ade nampak antusias, serasa menemukan pesan rahasia.

Mereka  berdua merubung kertas itu.

Sontak,  jantung Rhe berdebar.  Namanya tertulis rapi, Ramadhan Rhendra . Rhe begitu mengenal tulisan itu. Begitu lekat.

[fiksi kilat] Sang Juara

 

 

“Bersedia, siap yak…!”Berjubelan dengan yang lain, aku pun berlari.

 

Terus berlari

 

                “Pluk…” tiba-tiba sebuah tangan menempeleng  kepalaku.

 

                Ups, aku tak mau kalah, kusikut ia dengan siku tangan kananku.“Hihi… kena!”  Ia jatuh, mungkin kemudian terinjak teman-temannya.

 

                “Gubraaak…!” Kurang ajar!  Rupanya kali ini ada yang menjegalku. Aku tak mau terinjak oleh yang lain, susah payah aku berdiri dan segera melesat.

 

                Hosh hosh…. lari, lari, dan terus melesat.

 

                Para pesaingku  tak tanggung-tanggung, di depanku mereka juga saling  jegal, saling sikut, yang lain bertumbangan yang lain terus melaju.

 

                Hosh.. hosh… aku harus menyusul, kalahkan mereka. Sepenuh daya.

 

                Aku ingin sebentuk hadiah itu… hanya itu…. Menerabas dan kulibas mereka.

 

                “Fininsh!”

 

Aku tak percaya, kakiku satu-satunya yang menapak garis finish.

 

                                                                                ***

 

                “Selamat ya Bu… “

 

                Mata bidan berbinar sembari  mengulurkan tangan kepada  perempuan muda itu” Ibu positif hamil.”

 

[FF Ninelights] Cinta Satu Malam, Oh!

“Cinta satu malam oh …,” bapak sumingrah bersenandung meski dini hari ia baru pulang dan capek.
“Deu… dulu yang anti, sekarang…, dangdutan mlulu,” ibu menggoda. Minggu pagi seperti sekarang, kumpul keluarga menjadi saat langka.
” Ingat dulu Bapak alergi dangdut, rasanya pengen ngeledekin waktu kampanye. Pakai joget-joget segala, enjoy banget nyanyi bareng sama…, “ sambung Radit.
“Eh iya, sekarang sombong banget tuh biduan, udah nggak mau manggung lagi,” sela Rani.
“Ngapain lagi nyanyi kalo kebutuhan sekarang sudah terpenuhi,“ sambar bapak spontan, namun cepat –cepat ia menyibukkan diri dengan koran di depannya.
“Ada klien EO yang ngotot pengen ngundang biduan Mela buat kampanye. Tuh, kampanye bapak jadi inspirasi,” cerocos Rani.
“Bener kamu dulu, bagi duit nggak efektif, rakyat sekarang butuh hiburan.” Bapak mendongak. “Dangdut membawa berkah.”
“Dan bencana! “ seru Radit. Bapak terperangah.
“Pak Bupati makin sibuk, jarang pulang! Kapan dong waktu buat kita.“ Radit protes.
“Bapak sudah jadi milik rakyat, ibumu saja nggak protes, malah kamu yang protes. Ya kan Bu?” kilah Bapak
Ibu mengangguk penuh pengertian meski ia membenarkan perkataan Radit.

***
Calon walikota yang diceritakan Rani tempo hari begitu ngotot ingin menghadirkan Mela si ‘Cinta Satu Malam’ dalam kampanyenya. Ia tak mau tahu kalau Mela sudah berhenti manggung. Apa boleh buat, mereka mendatangi rumahnya, bahkan calon walikota itu diajaknya serta.

Mela terlihat kaget melihat kedatangan Rani c.s
“Silakan masuk,” katanya canggung.
Rani yang pertama kali masuk terlonjak tak kalah kaget, dari ruang tamu, ia melihat siluet yang begitu dikenalnya sedang duduk santai di depan TV.
“Bapak?!!!!!”

jumlah kata : 248
terinspirasi dari berita ini untuk diikutkan dalam Lomba FF Ninelights

[fiksi kilat] Sebatang Pohon Tumbuh di Rumahku

Di masa lalu, kami bertetangga. Kami tinggal di kompleks rumah dinas. Jendela samping rumah kami berhadapan. Suatu sore, beberapa hari setelah dia menghuni rumah samping dan saling berkenalan, kami bercakap dari balik jendela masing-masing. Kami mengobrol sambil makan buah. Habis buahnya, dalam canda tanpa sengaja dia melempar biji buahnya ke arahku, eh masuk ke rumah.

Lama-lama biji itu tumbuh besar. Betapa tidak, tiap pagi dan sore dia rajin menyiraminya dengan sapa dan tawa. Dari jendela ke jendela kami semakin sering bercanda. Tak terasa waktu begitu berpihak pada biji itu dan tumbuhlah menjadi sebatang pohon. Begitu pesat ia mengembangkan setiap batang, dahan, dan rantingnya. Pucuk-pucuk daun muda pun bermekaran, rindang. Sungguh nyaman aku berteduh di bawahnya, lebih-lebih saat aku letih.

Sekarang, dia sudah pindah rumah. Dia yang tak lagi menghuni rumah yang sama dengan kedua orang tuanya, punya rumah baru dengan penghuni baru yang menemani selamanya. Karenanya, aku ingin mencabut pohon itu. Ah, rupanya, itu bukan perkara mudah. Lajur-lajur akarnya begitu kuat mencengkram setiap butir tanah di rumahku. Gawat, kalau tidak segera dicabut, pohon itu akan tumbuh terus menjadi pohon terlarang. Ingin sekali aku datang ke rumahnya dan meminta, maukah kau datang ke rumahku sebentar sekedar mencabut pohon itu? Hff, kalau saja dulu aku tahu, sebuah biji bernama senyum itu ternyata biji kualitas nomer wahid.

###FF pertama yang saya tulis ketika MP sedang rame2nya dengan FF dua tahun silam…penasaran juga pengen belajar nulis

gambar pinjam dan ngedit dari sini

[Batam FF Rindu–Secret Admirer]

Tangannya menggeragap, mencari-cari HP di ranjang. Sedari tadi ia hanya tiduran. Hatinya tak karuan.

Jempolnya lincah berpindah dari satu tuts ke tuts, mengetik beberapa kata yang dirasanya bisa mengobati segala galau, sekedar menayakan kabar sekalipun. Selesai, tanpa mencari ia temukan satu nama yang sengaja diletakknya paling atas di daftar telepon. Nama yang menyebabkan hati dan kepalanya dipenuhi satu kata. Sebelum send dipencet, ditimbangnya lagi, kirim tidak kirim tidak kirim…

Klik. Pada akhirnya ia menyerah pada pilihan: exit. Secara otomatis satu pesan itu masuk ke draft.

Lalu di ketiknya lagi beberapa kata. Tak mau menyerah, diluapkannya segala gelisah, curhat. Di pilihnya satu nama yang selama ini selalu meminjamkan bahunya. Mungkin dengan mengirim uneg-uneg itu dadanya akan melapang lalu bisa kembali meneruskan pekerjaannya.
Lagi-lagi bimbang. Penting nggak sih?
Bisa-bisa ia malah diledek habis-habisan. Pada akhirnya nasib pesan keduapun masuk di kotak draft.

Katanya gak mau ngeluh lagiiiiii….? Begitu pasti ejeknya!

Ia menjabak rambutnya. Aaaarrrrgggg…. rasa ini, menganggu saja!
Rasa itu akan menjadi sampah di kepala andai tak dibuangnya jauh-jauh. Apa yang harus kulakukan saat gelombang ini menyerangku?

Ke kamar mandi, kakinya mengikuti pilihan hati. Menenggelamkan kepalanya ke bak, ia tiba-tiba ingat sesuatu.

Keluar dari kamar mandi, tak hanya muka dan kepalanya saja yang basah. Kedua belah lengan dan telapak kakinya terasa segar terbasuh.

“Allah, ijinkan aku mengeluh.. sebab hanya Engkau yang pasti mengerti perasaan hamba. Hanya Engkau yang mau mengerti. Allah…. aku rindu dia. Tak bolehkah aku mengeluhkan rasa ini, di depanMu saja ya Allah?!”
Di atas sajadah, gundah itu akhirnya tumpah.

#tepat 250 kata di luar judul, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

[Batam FF Lebaran–Sedekah Lebaran]

“Ma, di luar ada pengemis, “ seru Nina.
“Pengemis? Waduh, jatah THR-nya sudah habis pagi tadi.” Bu Sarah melongok ke luar. Seorang perempuan bersimpuh di teras .
“Kasih makanan aja Ma,” usul Nuno tanpa menggeser matanya dari laptop, asyik facebooking.
Bu Sarah menyambar beberapa ketupat dan makanan lalu dimasukkan plastik.

“Maaf Bu. Saya sudah dapat banyak ketupat dari orang-orang kampung.“ Pengemis memperlihatkan ketupat-ketupat dan makanan dalam gendongan begitu Bu Sarah sampai di hadapannya. “Kalau ada uang saja, Bu.”
Mata bening Nina mengawasi diam-diam.
Bu Sarah mengernyitkan kening, “ Tadi saya memang bagi-bagi THR buat anak-anak dan tetangga. Sekarang udah habis jatahnya. Sayang sekali, coba datang agak tadi.”
“Udah, nih, Nina aja yang kasih.” Nina memberikan lembaran dua ribuan baru.
“Makasih Nduk, makasih….” Pengemis berlalu. Ketupat dan makanan di lantai tak disentuhnya.

“Nina dapat uang banyak dari tante Mira. Kasihan deh Ma pengemis itu. Masak teman-teman Nina yang bajunya bagus-bagus Mama kasih … e… pengemis itu malah nggak dapet, “ ujar Nina polos, menjawab berbagai tanya di wajah mamanya.
“Memang jatahnya sudah habis. Kalau buat saudara sih masih. Semua pengeluaran harus terencana. Besarnya THR sudah mama anggar masak-masak, Nina. “
“Alah Ma, cuma satu aja. Pengemis itu lebih butuh kan?”
“Nina mana ngerti Ma sama rencana anggaran, rencana pengeluaran. . . ,” sela Nuno.
“Sayang, bukanya Mama nggak mau ngasih sedekah, tapi….”
“Lihat…. Ma… lihat… banyak pengemis datang,” potong Nina tiba-tiba saat matanya tak sengaja melayang ke luar.

Baru dalam hitungan menit perempuan tadi berlalu, beberapa pengemis berbondong-bondong memasuki halaman rumah.

#tepat 250 kata di luar judul, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam

Batam FF Perjuangan–Rumit

“Selama masih kulihat statusnya R U M I T, aku nggak mau banyak berharap darinya,” tegas Maya.
“Hah, omong kosong dengan profil di dunia maya! Kenapa kau jadi underestimet begitu?”
“Bukan underestimet, tapi membayangkan aku hanya salah satu dari sekian perempuan yang memperumit hidupnya… maaf, aku lebih baik mundur.”
“Hahaha…begitu aja nyerah. Justru kau harusnya menjadi salah satu bagian dari kerumitan benang di hatinya. Tidakkah kau ingin menjadi pemenangnya?”

Maya tercenung

“Buatlah benang itu makin rumit lalu kau sendiri yang mengurainya. MENGURAINYA May!”

Kata-kata Maya hilang mendengar ketegasan Rani. Sebuah benang ruwet tergambar di kepalanya. Hening lindap diantara mereka.

Rani berhenti berkicau, agaknya ia ingin memberi Maya kesempatan menekuri lantai.
Rani ada benarnya,” gumam Maya. Lirih. Kasak-kusuk di antara perempuan-perempuan itu sudah sering didengarnya. Merebut hati Jo bukan perkara gampang. Makin banyak saingan makin menantang.

“Baiklah, aku akan buat benang itu makin ruwet, hingga dia tak bisa mengurainya, aku yang akan mengurainya, pelan-pelan, satu-satu hingga tinggal sehelai benang tersisisa di hatinya. Aku mau jadi benang itu.”
“Itu Maya yang kukenal selama ini.”

Binar mata mereka mengambil alih percakapan.

Seperti yang sudah-sudah kau selalu mendukungku Ran, Maya bersorak dalam hati.

Akhirnya! Aku sudah lama menunggu saat ini. Kita lihat nanti, siapa yang akan menjadi sehelai benang itu, aku atau kamu! Rani menarik ujung bibirnya, samar.

#215 kata, diikutkan dalam Lomba FF Persembahan Mpers Batam