[Ultah Cambai : Flash Fiction] Rasa Sesal

Dhe Mari meninggal barusan, emak mau ke sana,” emak tergesa bersiap. Aku yang baru pulang dibuatnya melongo.

Dhe Mari, sepupu terdekat bapak kini telah menyusul pergi saudara-saudaranya, dhe Yo dan dhe Asiah. Dhe Mari teramat dekat dengan bapak sehingga beliau pun begitu gemati dengan anak-anak bapak.

Aku tergugu tiba-tiba, dadaku sesak. Aku ingin meledakkan tangis yang sudah kutahan sejak semalam, saat aku melihat album foto keluarga, mengelus-elus gambarku di pangkuan bapak. Sebenarnya tadi malam aku berencana menengok dhe Mari. Keasyikan menikmati album membuatku melupakan rencana itu. Lagipula aku sibuk dengan perasaanku.

“Aku nyesel, kenapa semalam nggak jadi nengok dhe Mari, nyesel… kalau saja semalam aku sempat nengok….”
Emak mengelus-elus pundakku yang turun naik oleh sedu sedan.
“Sudahlah, doakan saja dhe Mari.Ingat kamu yang selalu bilang agar kita sabar menghadapi kematian.”
“Bukan itu Mak …, kalau saja semalam aku tahu…aku pasti… nitip salam …dan rindu buat bapak.”
Elusan tangan emak terhenti.

Keterangan:
Dhe= dari kata budhe (bahasa Jawa)
Gemati= setia

*tepat 150 di luar judul dan keterangan
Diikutsertakan dalam lomba Ultah Cambai:Flash Fiction yang diadakan uni Dian Onasis

[fiksi kilat] Hanya Memandang

Aku memandanginya, bidadari yang selama ini kurindukan. Wajahnya begitu teduh. Rasanya tak sabar mengikrarkan janji suci sebentar lagi. Setelah melewati berbagai pertentangan keluarga, akhirnya hari ini tiba.

“Sudah siap nak Iqbal?”

Aku mengangguk mantab.

“Baik, segera dimulai.”

Dengan lancar kulafalkan ikrar itu.

Satu kali saja, pak penghulu kemudian berujar,”sah?”

“Sah. . . . . .” serentak saksi menjawab kompak.

Dia kini menjadi istriku. Kutatap wajahnya dengan senyum. Ia semakin cantik dengan binar mata dan wajah penuh senyum. Ingin aku meraih tangan dan mengecup keningnya. . . Tapi kami terhalang jarak samudera dan benua. Aku hanya bisa memandangnya dari layar yang terpasang webcam.

*pernah diikutsertakan dalam:event FF MAYASMARA (long distance love), hanya lolos dalam 127 peserta naskah terpilih dari 392 peserta.

Flash Fiction Contest: Kopi Darat Pertama

Hpku bergetar, sebuah mms masuk.
“Ini aku bareng temanku,” tulis Dara, teman maya yang kini jadi sohib. Berawal dari kegagalan kopdar, lalu sering berkirim sms, selanjutnya hubungan kami mengalir seperti air.
Cantik sekali temanmu, pikirku. Mereka tampak kompak. Dara yang berjilbab, manis, disebelahnya perempuan berambut panjang tersenyum.
“Dia yang sering ngasih semangat nyelesain novelku. Selain nggak keberatan kujadikan objek, dia nggak pernah protes dengan kebawelan investigasiku”, lanjut Dara.
Dara pernah cerita, dia sedang merampungkan memoar diri dan sahabatnya.
“Aku pasti jadi pembaca pertama novelmu.”
“Pasti. Tunggu saja tanggal mainnya. Kau harus datang ke launcingnya dan kukenalkan dengannya.”

***

Ini tanggal mainnya. Bertempat di toko buku, acara ini menjadi 2 moment istimewa, menandai persabatan dia-Dara-aku: launcing novel sekaligus kopdar pertama kami.
“Itu pasti Dara”, kudekati gadis yang sibuk menandatangani tumpukan novel.
“Dara selamat ya!” Dara mendongak, menghentikan coretan penanya lalu memandangiku lekat.
“Senja.”
“Senja..?!”
Kami berpelukan.
“Terima kasih kau datang.” Melepas pelukanku, Dara mengedarkan pandangan.
”Kalima…!” Dara melambai. Sosok cantik itu mendekat.
”Kenalin nih sahabatku”. Kami berjabatan.
“Kalima.”
Kalau belum membaca novel Dara yang datang tepat 2 hari lalu dengan paket kilat, aku pasti terkejut mendengar suara di balik sosoknya yang gemulai: berat dan terdengar kasar, suara khas kaum adam.

#####

*terinspirasi dari kiriman mms seorang kawan MP
(
thanks ya Sobat, ini buat kamu… )
** tokoh Kalima meminjam nama seorang sida-sida dala novel Domonique Lapierre, Negeri Bahagia, Bentang, Yogyakarta, 2008

**FF ini diikutkan dalam
Flash Fiction Contest-Blogfam&MPID-


Photobucket

[fiksi kilat] Di Balik Kaca Merdeka

Perjalanan dengan bus kali ini terasa lambat. Inginku segera sampai toko buku. Kualihkan pandangan ke luar jendela. Melewati sebuah lapangan, sisi kiri kanan jalan dipenuhi ratusan siswa berseragam lengkap. Kulirik arloji, sudah selesai rupanya peringatan proklamasinya. Bus berhenti. Beberapa kakek berseragam veteran masuk. Mereka terlihat gagah.
“Selamat hari jadi Pak Tua….”
Hmm, hari ini aku juga punya cara merayakan hari jadimu, setelah berbulan-bulan waktuku dibelenggu satu kata, deadline!

Inilah saatnya. Hup! Aku meloncat turun.
Kuhirup dalam-dalam wangi toko buku favoritku. Berdebar, kususuri rak demi rak. Sampai di rak tujuan, tak kutemukan buku itu. Mungkin di sana, kudekati display khusus buku baru. Ya, pasti kutemukan. Ah, kok tak ada juga?! Apa belum datang? Jelas di penerbit kemarin pak Andre bilang hari ini buku sudah beredar.
“Cari buku apa?” Seorang petugas mengagetkanku.
Di Balik Kaca Merdeka.”
“Penulisnya?”
“Rainy Senja.” Ehm…agak sungkan menyebut nama sendiri.
“Oh…, buku baru itu ya?” Seru pria berseragam sama mendekatiku.
“Iya, udah masuk sini kan?”
“Udah, tapi ditarik semua.”
“Ditarik semua?! Siapa yang menarik?!”
“Bos bilang orang atas yang memerintahkan.”
“Bos kalian mau saja?” Tanyaku getir.
“Tadinya bos bilang tidak. Tapi barusan orang-orang berseragam datang membersihkannya.”
Suara itu berdengung di telinga, bersaing dengan suara pak Andre di telepon semalam, suara yang tak henti terngiang di kepala.
“Saya pastikan, besok pagi, tepat tanggal 17 kamu bisa lihat bukumu berada di toko buku favoritmu, bahkan tak hanya di sana Senja!”
“Aaarrrggghhh, sayang sekali…, saya terlambat Pak!”



Magelang, 24 Agustus 2010


*FF ketiga yang ikut lomba di http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

[fiksi kilat] Andaikan Aku di Palestina

“Duar duar!”
Selama tarawih berlangsung, di luar, di kejauhan, suara petasan menjadi backsound.
Selesai tarawih,suara petasan semakin ramai, dari yang sayup-sayup hingga yang memekakan telinga.
“Bum…”
“Kayak suara bom,”seru Alfa yang digandeng Sari.
Mereka sudah biasa,begitu pula yang mendengarnya. Maklum. Ah, bagaimana seandainya situasi ini terjadi di Palestina? Tiba-tiba bayangan Palestina melintas di benak Sari. Apakah aku bisa berjalan sedemikian tenang di tengah suara macam ini. Tapi di sana bom. Di sini aku mendengarnya sambil lalu, bisakah aku merasa seperti ini andai di Palestina? Tidakkah rasa khawatir menggelanyut. Seperti menunggu maut, kalau pesawat Israel menjatuhkan bom di pemukiman. Atau harap cemas ketika keluar rumah. Ah, tapi ibu di sana bahagia ketika melepas para lelaki tercintanya menjemput syahid, tidak melarang mereka berjibaku dengan suara letusan. Sebuah sajak melintas di kepala Sari.

Darah mereka tersembur depan kami
Menggenangi kota-kota masa depan
Walau luka mereka adalah kapal yang sedang pulang
Mereka tidak akan kembali lagi*


—–

Hari pertama Ramadhan, anak-anak berkumpul lepas subuh, ada tradisi Ramadhan, jalan-jalan pagi.
“Ibu, Alfa nggak langsung pulang ya.” Alfa berlari mendekati Sari yang keluar masjid. “ Alfa ikut jalan-jalan,pasti ramai hari pertama.” Sari kaget, ada petasan di tangan Alfa. Pasti dibakar sepanjang jalan.
“Ini dikasih Kiki. ”Alfa menebak pandangan mata ibunya.” Ya bu,mumpung libur.”
“Tentu Nak, ibu ijinkan seandainya kita di Palestina dan yang kau sulut nanti bom untuk Israel.”
Alfa terhenyak. Di kepalanya berkelebat anak-anak seusinya yang memegang batu, seperti ditunjukkan Sari dari internet, juga berita-berita yang memperlihakan lumuran darah di tubuh anak-anak dan wanita.

*cuplikan sajak “Berkah yang Tak Pernah Datang” oleh Machmud Darwish, diterjemahkan oleh Abdul Hadi W. M

ikutan lomba FF lagi di http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

[fiksi kilat] Kukirimkan Padamu

“Rani menunggu cerita Ayah, dari setiap tempat yang dikunjungi.”
“Nggak janji. Waktu Ayah tersita untuk liputan, laporan, dan tetek bengek lainnya.”
Aku merengut. Protes.
Ayah nampak berpikir, matanya lalu berbinar. “Oke deh, Ayah usahakan.”
Aku tahu ayah akan sangat sibuk, tapi ayah tidak bisa mengabaikan rasa kangenku. Ayah ternyata punya cara jitu berbagi kabar, lewat kartu pos! Aku jatuh cinta dengan semua kirimannya. Aku lebih menunggunya dari pada email yang sesekali datang. Saat ayah pulang, aku perlihatkan agar ayah mendongeng dari situ. Kalau ayah jauh dan aku kangen, kupandangi dan kubaca pesan singkat nya. Ti amo, pesan tersingkat yang dikirim dari Venice . Pesan terpanjang yang ditulisnya menjadi kiriman favoritku, dari Prancis,

Kukirimkan padamu kartu pos bergambar, anakku
Par avion:
Sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya…
Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka…
Namun ada*


***
Sesibuk apapun, kartu pos selalu datang. Ini pasti kondisi luar biasa. Aku semakin cemas memikirkan ayah, mengingat bagaimana mendan ayah bertugas. Setiap waktu memungkinkan, aku mengecek email dan mengikuti harian tempat ayah bekerja.
“Maaf, ayah belum sempat mencari postcard. Jalanan rawan.” Singkat saja email dari ayah. Semakin cemas memikirkan ayah, aku langsung search berita dari Kabul. Sebuah video baru langsung kuklik. Sebuah bom meledak di jalan Kementrian Dalam Negeri. Tanpa api tapi kedahsyatannya membuat beberapa orang terpental dengan anggota tubuh beterbangan. Sebuah tangan tergeletak. Aku begitu mengenal arloji dan bercak tanda lahir itu. Sebuah kartu pos ada digengaman.




*Sapardi Djiko Damono, sajak “Kukirmkan Padamu”, dalam Perahu Kertas, Balai Pustaka, Jakarta, 1983, hal.15.
Baris pertama seharunya berbunyi: Kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku…
**judul sajak sekaligus penulis ambil sebagai judul FF.

Magelang, 20 Agustus 2010, 21.51

ikut meramaikan lomba FF di rumah mbak Intan http://intan0812.multiply.com/journal/item/185/Hadiah_Lebaran_dari_berkah_membuat_FF

[fiksi kilat] Sepucuk Surat

Aku memberesi lalu memasukkan sisa dagangan ke dalam ransel. Hemm,tak lagi gembung. Kardus juga sudah kosong.
“Tunggu Mas di rumah,sarung baru yang kau impikan untuk tarawih akan segera kau kenakan”,kubayangkan binar mata Arif.”kalau tidak Ramadhan begini, mana bisa Mas buka lapak di sini dan rejeki berlipat.Alhamdulillah”

***

“Arif. . .Arif. . .” aku tak sabar bertemu Arif. Yang dipanggil mendekat, langkahnya enggan.
“Lho kok lemes, tinggal beberapa menit saja,”kulirik jam dinding.
“Coba tebak Mas bawa apa?” kurogoh tas ranselku.
“Taraaa…”
“Arif terkejut, sekilas cahaya terbit di matanya namun sekejap kemudian pudar. Sunyi. Tak ada antusiasme seperti yang kubayangkan.
“Kenapa, sakit?” kusentuh kening adik semata wayangku itu.”Enggak tuh. Mas jadi bignung,kenapa?”
Arif berkelebat masuk kamar dan keluar membawa sebuah amplop. Takut-takut diserahkannya padaku.
“Ada surat dari pak guru,”Arif menunduk.
Penasaran kubuka surat itu.
“Kau buat ulah lagi di sekolah?” Ini kedua kalinya aku menerima surat panggilan. Sejak bapak dan emak mencari rejeki sebagai BMI, aku menjadi wali Arif.
Arif menggeleng ragu.
“Kalau enggak, kenapa mas dapat surat? Jujurlah, Arif berbuat apa?”
“Bukan Arif kok, bukan Arif yang menyebabkan jari Rudi terbakar. Rudi sendiri yang membakar mercon itu dan mengenai tangannya” ujar Arif sambil terisak.
“Mercon? Di sekolah kalian membakar mercon? Astaghfirulloh. Kamu juga ikutan?”
“Bukan, Arif nggak ikutan,cuma. . .cuma. . .mercon itu dari Arif.” Aku sudah bisa menebak dari mana ia dapatkan mercon itu.
“Arif. . ., mas kan sudah berkali-kali bilang, jangan sekali-kali mainan mercon. Sekarang sudah tahu bahayanya kan? Baru percaya sekarang.”
Arif mendogak.”Kalau mercon itu bahaya, kenapa mas jualan mercon? Mas menjualnya sama teman-teman Arif juga kan?”
Aku tercekat memandang Arif dengan sedu-sedannya.

*foto dari googling

[fiksi kilat] Biarkan Ia Punya Mimpi


Dua lelaki tercintaku mulanya heran dengan rencanaku mengajak Iqbal ke bank Senin pagi ini.
“Tumben”, kata ayah.
“Mending main di luar,” tolak Iqbal.“Iqbal harus punya wawasan nyata soal bank, nggak sekedar tahu dari buku pelajaran. Ada kan di buku IPS kelas 3 ini?”. Tentu saja aku sudah menyiapkan alasan. Iqbal maupun ayah tak perlu tahu alasan yang sebenarnya. Merka berdua akhirnya mengangguk.
Ini hari pertama liburan sekolah setelah Sabtu lalu rapot dibagikan. Jaman sekarang sudah tidak ada istilah rapot kebakaran karena semua nilai ditulis seewarna, tapi wajahku yang terbakar! Nilai Iqbal anjlok drastis. Sebabnya tentu bisa ditelusuri. Dia terlalu sibuk main bola. Jadwal turnamen di sekolah bolanya makin padat. Belum lagi kalau ada pertandingan antar klub daerah, Iqbal tak mau ketinggalan nonton bareng saudara-saudaranya. Mau bagaimana lagi, ayah mendukung. Bola sudah menjadi dunia Iqbal. Sampai rumah, bisa ditebak, Iqbal sudah terlalu lelah dan tak punya daya untuk belajar. Aku memang tak mau terlalu menekan Iqbal untuk masalah pendidikan, tapi kalau niainya sampai turun drastis seperti ini, tak boleh terulang semester depan. Iqbal punya potensi untuk menjadi juara kelas.
***

“ Tuh liat, mas-mas yang di sana cakep-cakep,” aku menunjuk beberapa bankir. “Enak ya kerja di sana, duduk manis, nyaman, tempatnya bersih, nggak perlu lari-lari panas-panasan kayak pemain bola di lapangan. Keringeten dan capek kan Nak.”
“Um… tapi bayaranku besok berkali-kali lipat lebih banyak dari mereka,” aku tak menyangka dengan jawaban Iqbal. Suka nonton berita bola bareng ayah juga sih, keluhku dalam hati.
“Iya bener, itu kalau kamu masih muda. Kalau udah tua hayoo, mau gimana? Banyak lho nasib mantan atlet menggenaskan, mudah dilupakan dan jatuh miskin.”
“ Besok ya Bunda, masa muda Iqbal jadi pemain bola. Kalau udah pensiun, Iqbal mau jadi kayak ayah, kerja di rumah dan banyak bangun mesjid,” Iqbal berkata sambil menyimak iklan dari layar televisi di pojok lobi bank.





Magelang, April 2010
*dapat cerita dari seorang wali murid, berterima kasih banyak pada beliau, jadi bahan buat belajar nulis FF ini


**gambar hasil googling

[fiksi kilat] Serpihan Hati

“Masa sih sudah nggak ada serpihan-serpihan emosi itu?”
Pertanyaan yang diucapkan temannya itu terus terngiang. Ia tak begitu mengerti arah pembicaraan temannya yang berseliweran dan selalu pindah dari satu topik ke topik lain. Mereka biasa ngobrol ala gado-gado. Kok bisa sampai pada pertanyaan itu,ia lupa tadi mereka membicarakan apa.
Satu pertanyaan itu meninggalkan jejak di kepala,nyantol terus tak mau pergi. Ah,seolah-olah temannya baru saja melongok ke kedalaman hatinya.

Serpihan-serpihan emosi.., serpihan hati?
Sadar atau tidak-sadar setelah diingatkan temannya?- ia memang punya serpihan-serpihan emosi yang sengaja dibiarkan berserak. Ia punya rentetan alasan kenapa ia membiarkan saja serpihan itu. Toh,meski berupa serpihan ia tetap menjaganya.

Tidakkah berusaha menyatukannya? Pertanyaan memberontak tentu seringkali hinggap.
Tidak! Sekali lagi karena iat punya bergerbong-gerbong alasan untuk itu. Ia hanya lakon di dunia. Ia lebih percaya pada Sang Sutradara yang memiliki skenario yang Maha Sempurna. Waktu mungkin saja tidak berpihak padanya sehingga serpihan-serpihan itu tak berusaha disatukannya. Apa boleh buat,kalau itu yang terbaik,ia akan mohon berlapis-lapis keikhlasan dan kesabaran untuk tetap menjaganya. Jika sebaliknya, Sang Sutradara meminta waktu untuk membentuk serpihan-serpihan itu sempurna,tentu ia akan sangat bersyukur. Dan…semoga syukurnya tak pernah aus. Ia akan mohon pada-Nya agar CINTA membentuknya menjadi keabadiaan.

[Repost from myfb]