[Gado-Gado Sekolah #23] Berlatih Pembagian dengan Menangkap Ubur-Ubur

Pelajaran matematika seringkali menjadi momok bagi anak-anak.  Matematika dasar, seperti perkalian dan pembagian, bila tidak dipelajari dengan serius dan penuh pemahaman, maka hingga materi lanjutan anak akan malas dan menganggap sulit. Belajar matematika dasar dengan menyenangkan  bisa mengubah paradigma anak terhadap matematika.

Ketika ilmu dasarnya sudah dikuasai namun kurang berlatih pun, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Sebagai contoh pembagian. Anak yang sudah menguasai poro gapit namun kurang berlatih, tentu kecepatan dan ketepatan berhitungnya tidak akan maksimal jika kurang berlatih. Pengulangan, hal yang tidak setiap anak mau melakukannya karena bosan atau momok tadi.

 

Sebagai sarana melatih ketrampilan berhitung khususnya anak-anak, saya memberikan permainan menangkap ubur-ubur yang idenya saya dapatkan dari blog Cerivitas. Blog ini penuh dengan ide permainan matematika yang seru dan menyenangkan. Saya terapkan permainan ini pada kelas matematika di Sabtu Ceria.

Dalam permainan menangkap ubur-ubur,anak-anak dibagi dalam kelompok. Anak yang paling banyak menangkap ubur-ubur akan mendapatkan hadiah. Ada kartu-kartu soal pembagian yang harus diambil anak untuk dihitung.  Anak akan menghitung dengan poro gapit atau yang menguasai jarimatika menggunakan jarimatika. Jawabannya  mereka cari pada ubur-ubur. Ubur-ubur yang mereka tangkap mereka warnai.  Di sinilah sisi menyenangkannya. Meskipun mereka harus berjuang menghitung, ketika berhasil mewarnai ubur-ubur anak akan senang. Kompetisi dalam ketrampilan berhitung terlihat dari banyaknya ubur-ubur yang berhasil diwarnai.

20170211_093044-1

Kalau menilik taksonomi Bloom, permainan ini melibatkan ketiga aspek, baik kognitif, piskomotorik, maupun afektif. Kognitif terlihat pada saat anak menghitung, psikomotorik terlihat dari ketrampilan anak mewarnai gambar, dan afektif tentu saja ada pada sifat teliti menghitung, gigih, dan sabar menunggu giliran bermain, sabar menunggu teman menghitung dan mewarnai.

20170204_094242

20170204_094308

Permainan ini disukai anak-anak. Terbukti, pada pertemuan berikutnya anak meminta memainkannya lagi, namun dengan gambar yang berbeda. Anak meminta dibuatkan gambar makanan. Maka, saya mengulang permainan itu dengan gambar aneka makanan dan minuman.

 

 

 

 

[Gado-Gado Sekolah #22] Pekan Wirausaha

Pekan lalu menjadi pekan yang luar biasa seru bagi siswa kelas 5, kelas tempat saya belajar bersama anak-anak. Ada dua program belajar yang selalu disambut sukacita oleh mereka: kunjungan belajar dan hari berjualan (market day). Kebetulan, tema kedua kegiatan itu adalah wirausaha.

Kunjungan ke Rumah Industri Pembuatan Yogurt Mayummy

Kunjungan belajar Senin lalu (14/11) melibatkan tiga materi pembelajaran yaitu:

1.IPS:  Kegiatan Perekonomian

2.IPA: Perubahan Wujud Benda

3. Bahasa Indonesia: menulis laporan pengamatan

Tempat kunjungan belajar Senin lalu sudah pasti disukai anak-anak. Kebetulan rumah industri pembuatan mayumi yogurt di Donorejo, Secang, Magelang dimiliki oleh seorang wali siswa tempat saya belajar, jadi saya tidak perlu kesulitan mencari dan meminta ijin kunjungan ke tempat suatu kegiatan ekonomi yang cocok untuk anak-anak.

Begitu tiba di lokasi, anak-anak disambut ramah  oleh Pak Edi, pemilik rumah industri pembuatan mayummy yogurt. Anak-anak langsung diajak mendekati dapur pembuatan.

20161114_1025141

20161114_1021171

20161114_1022391

Karena dapur pembuatan yogurt tidak muat menampung semua anak, maka Pak Edi, pemiliknya, menunjukkan dan menerangkan di pintu masuk dengan dua gelombang, siswi dahulu diikuti siswa. Ada tempat pasteurisasi besar tepat di depan pintu untuk menyeteril susu hingga maksimal suhu delapan puluh derajat celsius.  Pendinginan susu dilakukan dengan air yang mengalir. Ada kotak-kotak susu besar tempat susu yang sudah dingin diproses menjadi yogurt. Proses berikutnya diterangkan pak Edi hingga tuntas.

Setelah diterangkan prosesnya, anak-anak diajak melihat proses pengemasan yogurt. Bagian ini menyenangkan bagi mereka.  Mereka berkesempatan membantu ibu-ibu yang bertugas membungkus  yogurt menjadi dua jenis kemasan, kemasan Rp500 dan Rp.1000 dan  mengemasnya ke dalam kantong-kantong besar berisi 20 batang.  Di bagian ini, terutama siswi begitu asyik membungkus yogurt dengan enam varian rasa buah.  Ibu-ibu yang merupakan tetangga dekat rumah industri itu dengan ramah dan sabar melayani semua pertanyaan maupun mengarahkan cara pengemasan.

20161114_1037571

20161114_1032121

Mereka belum puas membantu ketika berpindah ke acara berikutnya, yaitu sharing usaha mayummy yogurt. Anak-anak cermat mencatat penjelasan Bapak Edi mengenai segala hal yang berkaitan dengan rumah industri ini, dari proses produksi hingga distribusi. Sesekali anak-anak maupun guru pendamping menungkapkan rasa ingin tahu mengenai bisnis yang terbilang sukses itu.  Suka duka, rintangan, dan tips dari pak Edi cukup memberikan gambaran mengenai dunia wirasusaha, juga inspirasi untuk gigih dan pantang menyerah dalam berbisnis.

20161114_1106441

Sekembali dari kunjungan, tugas mereka melaporkan hasil kunjungan dalam bentuk laporan pengamatan. Jadi belajar Senin itu terasa komplet dan menyenangkan.

20161121_1457571

 

Market Day

Setelah mendapatkan inspirasi dan gambaran mengenai dunia usaha, saatnya mereka belajar menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dengan praktik berjualan. Di sekolah kami, market day sudah menjadi program sekolah.  Tiap semester diadakan sekali  kegiatan market day besar: semester 1 tiga  kelas besar berjualan dan tiga kelas kecil membeli, dan sebaliknya di semester 2. Antusiasme anak-anak terhadap kegiatan ini selalu besar.

Melaksanakan program sekolah, Jumat lalu (18/11) kelas saya, kelas 5, tidak sendiran dalam belajar wirausaha. Ada kelas 4 dan kelas 6 yang dihari itu sangat bersemangat menghadirkan dagangan terbaik mereka.  Dagangan utama dari market day ini adalah makanan. Makanan boleh disiapkan dari rumah maupun dimasak di sekolah. Beberapa siswa juga menjual hasil kerajinan tangan mereka.

20161118_0752461

persiapan kelas 5

20161118_0747451

20161118_0758371

persiapan di kelas 6

Uniknya, masing-masing kelas punya gaya sendiri-sendiri dalam berjualan.  Di kelas 4, ada 5  kelompok  masing-masing siswa dan siswi membuat lapak secara terpisah. Sementara di kelas 5 siswa dan siswi berkolaborasi dan dibagi menjadi 4 kelompok. Yang menarik adalah konsep di kelas 6. Satu kelas berkongsi membuat usaha rumah makan semacam pujasera.

20161118_0854361

20161118_0845351

persiapain tim kasir dan marketing kelas 6

Ada beberapa lapak di kelas 6, dari makanan besar semacam bakso dan spagheti hingga makanan kecil gorengan dan minuman segar. Masing-masing lapak berlabel huruf alfabet. Pembeli yang datang di tiap-tiap lapak akan mendapatkan kartu huruf untuk membayar di kasir. Besarnya harga tiap lapak berbeda. Kartu huruf yang diberikan kepada tim kasir memudahkan proses pembayaran.  Strategi penjualan mereka juga mantab, memberikan suvenir untuk 3 jenis pembelian. Terang saja, kelas 6 dibanjiri pembeli.

20161118_0921251

kelas 6 banjir pembeli

20161118_0904521

lapak-lapak kelas 5

Bagaimana dengan kelas 4 dan 5? Saya melihat kegigihan anak-anak di tengah persaingan. Anak-anak dengan sabar menunggui lapak mereka dengan beberapa siswa berkoar-koar  menawarkan dagangannya dengan gaya masing-masing.

20161118_0852191

20161118_0848101

20161118_0847391

20161118_0847161

tim kelas 5

Kegiatan ini memang sejatinya pembelajaran.  Ranah afektif terutama  benar-benar menonjol dalam pembelajaran ini.  Kerjasama, menghargai, cermat, teliti, telaten, sabar, jujur, gigih, tidak mudah putus asa, dan karakter  lain akan terlihat pada saat siswa menyiapkan dagangan dari rumah maupun di sekolah dan pada proses penjualan.  Lihat saja, kelompok yang tidak sabar ketika melihat lapak lain ramai pembeli dan mulai habis dagangannya serta merta membanting harga atau melakukan obral. Seru ketika melihat sepak terjang mereka :D.  Di saat yang sama, kelompok yang danganganya mulai tak dilirik pembeli tetap tak terpengaruh jika mereka memiliki karakter sabar dan pantang menyerah.  Mereka kemudian memakai strategi menawarkan dagangan dengan berkeliling, membawa dangangan yang tersisa pada nampan.

20161118_0832511

kreasi handycraft

20161118_0827511

kreatifnya siswi, bungkus makanan kecil dibuat pemanis sedotan

Beragam trik yang mereka gunakan pada akhirnya membuat makanan yang mereka jajakan ludes. Yang tersisa adalah barang-barang berupa handycraft. Kami para guru sering berkomentar seusai kegiatan market day yang sudah-sudah bahwa makanan apapun yang dijajakan di sekolah  saat market day pasti laku. Masalah untung ruginya, nanti dulu….  Setelah tanya masing-masing kelompok, beragam jawaban mereka: ada yang untung (cuma dikit), untung lumayan, maupun balik modal saja. Nah, ini lagi letak pembelajarannya!

20161118_0952101

menawarkan dagangan keliling

Bagi anak-anak sendiri, saya lihat untung rugi itu nomer sekian. Mereka begitu senang dan bersemangat melakukan jual  beli. Menerima uang dari pembeli itu berjuta rasanya! Ngetung uang belakangan, yang penting uangnya berjubel-jebel di kasir, hehehe….

[Gado-Gado Sekolah #21]Learning by Doing

Bagi sebagian besar anak, pelajaran matematika punya imej menyebalkan, momok, menakutkan, membosankan, dan sederet kata-kata negatif lain. Bagi mereka rumus-rumus dan angka yang dimasukkan di dalamnya terasa abstrak. Tak hanya matematika, beberapa pelajaran lain pun bagi anak SD terasa jauh dari jangkauan nalar. Itu sebabnya, model pembelajaran yang ideal bagi  anak-anak adalah belajar sambil bermain, belajar sambil melakukan.  Yang terpenting adalah memberikan pemahaman yang nyata bagi anak-anak. Tak perlu jauh-jauh sebenarnya, anak-anak idealnya belajar dari yang dekat dengan mereka.

Pagi ini, dalam usaha mendekatkan konsep pengukuran bagi anak-anak, saya mengajak  mereka belajar di    luar. Dengan Standar Kompetensi “Menggunakan pengukuran waktu, sudut, jarak, dan kecepatan dalam pemecahan masalah,” serta Kompetensi Dasar “Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan waktu, jarak, dan kecepatan “, saya mengajak anak-anak menghitung kecepatan lari tiap-tiap siswa. Setelah menyiapkan alat ukur meteran dan stopwatch, anak-anak mengukur jarak lintasan lari di halaman sekolah. Tidak jauh, jaraknya hanya 24 meter.

20161116_0800361

20161116_0808481

20161116_0809012

Mulailah anak-anak secara bergiliran lari di lintasan. Anak yang tidak mendapat giliran mencatat waktu yang diperlukan temannya untuk berlari pada tabel yang telah disiapkan. Tabelnya berisi no, nama, jarak, waktu, dan kecepatan. Setelah semua anak mendapat giliran berlari, barulah mereka menghitung kecepatan berlari seluruh siswa kelas 5.

Kegiatan semacam ini melibatkan 3 aspek  menurut taksonomi Bloom yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif.  Dari segi kognitif, anak diajak belajar menghitung sesuai materi. Ketika anak berlari, aspek psikomotorik lah yang diasah, sementara dari sisi afektif, anak dilatih bersabar dalam menanti semua temannya berlari dan cermat dalam menghitung.

Pembelajaran semacam ini lebih menyenangkan bagi anak. Belajar melalui pengalaman. Konsep yang abstrak menjadi nyata. Kasus serupa pernah terjadi ketika dalam pembelajaran materi FPB, seorang siswa yang dalam kesehariannya terdepan dalam pelajaran matematika, lambat dalam memahami soal cerita:

Bu Alena mempunyai 45 buah jeruk dan 60 buah manggis. Ia akan mengemas buah-buah tersebut dalam beberapa plastik tersebut dalam plastik. Tiap plastik berisi jeruk dan manggis dengan jumlah yang sama.
        a. Berapa banyak plastik yang diperlukan Bu Alena

         b.Berapa banyak buah jeruk dan manggis tiap plastik?

Setelah pembahasan, siswa tersebut bilang belum paham. Kebetulan, saat itu anak-anak membawa uang logam dan kelereng untuk perlengkapan membatik celup. Maka saya pinjam logam dan uang dari dua siswa. Kami  menjumlah banyaknya benda tersebut  bersama-sama, jumlahnya 50 kelereng dan 20 uang logam. Setelah dihitung FPB-nya, saya meminta anak mengambil plasik sejumlah angka yang didapatkan dari hasil menghitung FPB. Langkah selanjutnya menghitung berapa masing-masing kelereng dan uang logam yang akan dimasukkan plastik. Dengan praktik semacam ini,mereka terlihat mendapat pencerahan,
“Bu, berarti kalau seperti ini harus bisa ngitung FPB ya…,” kata seorang siswa.

“Nah, itulah gunanya matematika,” ujar saya.

Dalam materi menghitung luas, pendekatan ini saya pakai dengan cara menggambar bangun trapesium, belah ketupat, dan layang-layang sebab  siswa yang sedianya mau membawa layang-layang lupa. Gambar itu kemudian digunting sesuai bentuknya, barulah dihitung luasnya. Jadi mereka mereka tidak sekedar menghitung luas gambar namun bangun yang nyata.

20161116_1443001

Apakah pengalaman semacam ini bisa meningkatkan hasil belajar siswa? Bisa jadi iya, bisa jadi belum menjamin, namun saya ingin memberikan pengalaman belajar yang dekat dengan keseharian dan melatih pemahaman siswa. Semoga bermanfaat!

 

[Gado-Gado Sekolah #20] Nggosipin Buku di Perpus Manca Grabag

Kamis lalu (1/9) proses pembelajaran siswa saya laksanakan di Perpustakaan Manca Kecamatan Grabag yang berada di komplek kantor Kecamatan Grabag. Pelajaran Bahasa Indonesia kali itu begitu terasa singkat karena anak-anak enjoy di perpus.

Sebelum berangkat, saya berikan 3 pilihan kegiatan yang akan dilaporkan siswa selesai pembelajaran. Siswa saya ajak untuk membuat laporan membaca buku, laporan pengamatan (lingkungan perpustakaan), dan wawancara dengan narasumber petugas perpustakaan atau pengunjung bila ada.

Heboh tentu saja. Mendapati buku-buku yang beragam ada yang bingung milih-milih buku, berganti-ganti membaca buku, ada yang khusyuk dengan satu buku kemudian menulis laporannya, ada yang cekikikan membaca buku bareng, ada yang takjub kemudian membaginya dengan teman, dan ada yang asyik menulis hasil pengamatan. Kebanyakan mereka nggosipin buku yang menarik buat mereka. Sepertinya seru mendapati satu buku yang bagus kemudian membaginya dengan teman-teman lain. Ambil contoh ketika Salwa menemukan 3 Manula Keliling Singapura, dia cekikikan membaca kemudian diceritakan teman-teman, ” Lucu ini,”

“Bagus itu, ada pengetahuannya,” ujar saya ikut berkomentar.  Sayangnya, saya tidak menemukan edisi keliling Indonesia, 3 Manula Keliling Pantura.

Teman-teman lain pun ikut membaca.

Untuk wawancara hanya satu siswa yang berani melakukannya. Saya dorong-dorong dia supaya berani dan melakukan tanya jawab dengan petugas perpustakaan.

Baiklah, ini adalah proses belajar. Masing-masing anak memiliki ketertarikan yang berbeda-beda. Hal ini terlihat dari pemilihan kegiatan dan pemilihan buku yang mereka baca dan laporkan.  Kamis itu mereka mendapatkan banyak hal dari perpustakaan.

 

20160901_112634[1]

wawancara dengan petugas

yang lagi milih-milih tak pernah puas dengan satu buku 

20160901_105608[1]

20160901_105805[1]

20160901_110806[1]

nggegosip buku yang seru, yang serius juga tak mau kalah 

20160901_115144[1]

 

Ketika Saya Di-complain Wali Siswa

 

Jumat ini ada teguran masuk untuk saya. Seusai piket siang, saya beranjak naik tangga menuju kantor. Di ujung tangga, Pak Kepala Sekolah dengan ekspresi dan nada super biasa menyapa saya,

“ Bu yang ngasih buku ke I (menyebut nama siswa), rangking II, siapa?”

“I… ? saya Pak,” jawab saya

Ada tulisan Marry Chirstmas, lanjut Pak Kepsek. Rupanya bapak siswa tersebut ‘complain’ ke pak kepsek. Kok nggak langsung kepada saya ya? Barusan saya ketemu ibunya diam saja.

“Oh… malah saya nggak tahu, itu buku pengetahuan kok Pak. Biasanya buku itu  juga aman-aman saja.”

“Ya besok kalau mau ngasih buku lebih hati-hati lagi,” lanjut beliau.

“Oke…!”

Baru masuk kantor, bu Nisa bilang, “ Bu, sudah baca WA?”

“Soal buku?”

“Iya.”

“Oh, pak ipul sudah bilang.”

Ooh… rupanya hal itu dishare di grup WA ta? Ngapain? Bilang langsung saja bisa, pikir saya. Saya membuka hp dan klik WA. Ada dua foto ini di grup sekolah.

IMG-20160722-WA0013

IMG-20160722-WA0014

“Itu buku sains kok. Isinya pengetahuan, ujar saya. Kalau ada gambar itu, satu halaman saja, wajar wong yang nulis bukan muslim.”

“Mungkin ada misinya,” lanjut dua teman.

Karena saya belum baca bukunya saya nggak tahu ada misi atau tidak.  Buku seri pertama yang saya baca aman dan isinya bagus kok.

“Oke, besok kalau mau ngasih buku lebih hati-hati deh, harus yang Islamiiiiiii bangetttt!” jawab saya geli.

Saya tak mau berpanjang lebar berkomentar. Tak ada gunanya meski banyak hal berkecamuk di kepala.  Sepertinya tak ada gunanya memuntahkan isi kepala kepada teman-teman. Kesannya nanti saya tidak terima atau sewot, hehe. Lagi pula saya bukan tipe orang yang suka berpanjang lebar berbicara mengeluarkan argumen jika dirasa tak perlu buat orang lain.

Nah, ketimbang segala uneg-uneg itu jadi sampah di kepala, saya tulis saja disini.  Selain jadi terapi buat saya, menghilangkan sampah, menyalurkan ide, mengorganisir pikiran, juga akan menjadi sejarah buat  saya sendiri, ehmmm…  Kalau dikeluarkan secara lisan akan menguap oleh waktu. Dalam tulisan akan abadi, kata Pram.

 

Saya memberikan buku tersebut kepada siswa, buku sains, sebagai hadiah prestasi akademik di kelas. Saya biasa memberikan buku sebagai hadiah prestasi anak untuk menyebarkan virus membaca. Anak tersebut sudah 4 kali ini mendapatkan hadiah buku. Sebenarnya, saya selalu metmilih buku yang  pas untuk siswa saya, biasanya buku sains atau kalau siswi–mereka suka baca novel– saya pilihkan buku Islam buku yang saya berikan untuk siswa tersebut buku sains dan saya punya satu serinya, isinya bagus dan terbilang ‘aman’ jadi saya berikan buku itu sebagai hadiah.

Seandainya saya jadi wali siswa yang mendapat buku itu, saya tidak akan serta merta menganggap satu gambar itu jadi masalah. Dibanding dengan isi buku yang sarat pengetahuan, satu hal itu bisa disikapi dengan bijak. Saya akan menjelaskan arti gambar itu kepada anak saya. Kenapa gambar itu bisa ada di sana. Penjelasan akan melebar ke soal agama, ke soal akidah. Tentang Islam sebagai satu-satunya agama rohmatalil ‘alamin. Tentang sejarah agama lain.  Tentu saja penanaman akidah kepada anak mendapat porsi lebih. Arguman soal misi bisa dipatahkan dengan penyikapan orang tua!  Dengan begitu saya tidak akan buru-buru komplen kepada guru yang memberi buku itu, malah berterima kasih sudah diberi hadiah buku. Susah lho di kota kecil nyari buku seperti itu, halah! 😀

Tidak semua penerbit Islam menyediakan buku-buku bermuatan pengetahuan yang kita butuhkan. Nah, ini PR buat penerbit Islam: menerbitkan sebanyak-banyaknya buku pengetahuan yang anak muslim butuhkan. Nyatanya, buku-buku pengetahuan yang sarat ilmu dan bergizi  diterbitkan oleh penerbit  umum.  Saya sebagai orang tua tidak saklek membelikan buku-buku  untuk Janitra yang berlabel Islami saja. Untuk buku-buku sains lebih banyak dari penerbit segala buku dengan segala label.  Apesnya mungkin di dalamnya ada muatan-muatan yang tidak sesuai dengan visi misi kita mendidik anak, tapi hal itu tidak akan melunturkan akidah kita kan? Selama kita siap argumen berdasar ilmu yang kita yakini. Boleh saja kita mengoleksi buku-buku yang berlabel Islami saja, tapi apa nggak rugi kalau di buku lain banyak ilmu yang akan kita dapatkan?

Jadi kalau di dalam buku-buku sains itu ada secuil hal yang kita anggap gangguan, ya wajar toh.  Wong kita hidup saja bermasyarakat saja kita bertemu dengan keberagaman yang berbeda dengan keyakinan kita.

Oke, itu argumen saya. Saya tidak akan memaksa orang lain menerima argumen saya, seperti halnya wali siswa tersebut yang pastinya punya argumen sendiri soal itu. Kenapa beliau komplen kepada kepala sekolah, pasti punya alasan. Kenapa tidak komplen kepada saya langsung. Beliau tentu punya alasan. Silakan, saya tidak akan balik komplen :D. Kita tidak bisa kan saling paksa untuk menerima argumen masing-masing :D.  Tak ada salah benar soal itu.

Pelajaran buat saya hari ini adalah, pelajaran kesekian selama mendampingi anak-anak kelas saya, saya harus ingat hal ini:

  1. dengan siapa saya berhadapan, kalau memberi hadiah harus hati-hati. Tidak semua orang tua punya pandangan dan pikiran yang sama dengan kita. Menyesuaikan diri itu penting bu guru!
  2. Saya lagi-lagi mendapat tamparan dari Allah.  Ini bukan pertama kalinya saya mendapat komplen dari wali siswa, baik langsung maupun tidak langsung (komplen kok tidak langsung? ). Ini artinya saya sedang diuji oleh Allah. Anak-anak saja naik kelas 5 dari kelas 4 yang saya dampingi, gurunya juga mau naik kelas dong! Dalam perjalanan mengajar, tentu ada kerikil kecil sebagai gangguan, singkirkan saja!

 

Yah, ini uneg-uneg saya. Menulis adalah cara jitu saya untuk melepaskan segala sampah di kepala. Jadi jiwa akan lebih sehat. Menulis juga menjadi sarana untuk mengingatkan diri sendiri.

Dengan menulis, saya lega dan blog jadi ter-update! Wah, terima kasih atas komplen hari ini ya! 😀

Oiya, ada satu hal lagi.  Out of the topic tapi masih berhubungan. Ternyata, teknologi, khususnya gadget telah mewadahi sebuah kebiasaan yang mestinya tak perlu dibudayakan. Banyak hal, banyak masalah yang idealnya bisa disampaikan langsung namun justru dibagi kepada banyak orang di medsos atau grup. Hal-hal yang sepele jadi tranding topic atau jadi bahan bualan.  Masalah yang bisa dibicarakan langsung jadi omong kosong panjang di grup. Contoh kecilnya komplen kepada saya di atas. Untungnya, tidak banyak tanggapan muncul. Saya sendiri malas menanggapi karena hal itu sudah disampaikan langsung face to face.

#BeraniLebih Menahan Marah

Pada suatu kesempatan kuliah, ada kata-kata dari tutor yang teramat membekas di kepala dan ini mendorong saya untuk lebih berani pelan-pelan mengubah sikap dan kebiasaan saya dalam mengajar. Tutor saya berkali-kali bilang, “coba cari definisi anak-anak, anak-anak yang masih suka bermain.Pastikkan kalian tahu, jadi nggak marah-marah kalau mengajar.”

Saya tergugah oleh kata-kata beliau. Kurangi marah-marah itu begitu lekat dalam ingatan. Saya harus #beranilebih melakukan perubahan. Ah, memangnya selama ini saya suka marah-marah ketika mengajar? Tidak sih, tetapi saya sering sebal dan terbawa emosi tersebut ketika ada ada anak yang bermalas-malasan di kelas, menyepelekan guru dan tugas , tidak mau mengerjakan PR, dan terlalu banyak mengeluh ketika ada tugas atau ulangan. Ketika mendengar keluhan anak-anak, tak berkenan ulangan atau malas mengerjakan tugas, saya tidak marah, namun pernah berkata begini:
“Silakan yang tidak mau belajar boleh di luar.”

Tentu saja, anak tidak mau melakukannya dan tetap bertahan di dalam kelas, mengerjakan dengan setengah hati. Bagaimanapun, mereka tahu mereka harus tetap belajar. Terinspirasi dari perkataan tutor saya, tidak seharusnya saya berkata seperti itu. Saya harus #beranilebih mengubah kebiasaan berkata seperti itu terhadap anak. Saya harus #beranilebih menekan emosi saya. Saya harus #beranilebih memahami mereka. Saya bisa mengajak anak-anak berdialog, seperti misalnya ketika saya umumkan:
“Anak-anak sekarang ulangan,”
Seorang anak bernama Yoga mengeluh panjang.“Wahhhh….”

Saya tidak boleh serta merta menawarkannnya pilihan untuk keluar kelas karena tidak mau belajar. Bukankah saya punya tugas untuk memberikan motivasi kepada anak?

Saya bisa memulai bertanya kepada anak, “Kenapa Mas Yoga tidak mau ulangan?”
Saya akan mendengarkan alasannya, lalu memberikan imbal balik. Misalnya, “Ulangan itu untuk Mas Yoga sendiri, bukan untuk bu guru, untuk mengetes sebenarnya Mas Yoga sudah paham belum dengan pelajaran yang bu guru berikan. Kalau nanti nilainya jelek, itu artinya Mas Yoga belum paham dan harus lebih giat belajar lagi. Kalau bagus, alhamdulillah, tandanya Mas Yoga sudah paham.”
Dengan membuka ruang dialog, saya tahu kenapa anak mengeluh, apa yang dirasakan anak. Selama tahu akar persoalan, solusi untuk masalah yang dialami akan ditemukan. Berbeda dengan kemarahan, apa yang akan saya dapatkan? Tidak ada, yang ada malah ketakutan dan semakin menurunnya semangat anak untuk belajar. Untuk anak-anak, kemarahan akan memberikan dampak negatif.

Hal yang sama sudah lama saya lakukan di rumah. Mengahadapi putri saya (2 tahun 10 bulan) yang seringkali keras kepala, saya lebih memilih menepi dan diam. Ketika saya merasa ingin marah karena anak melakukan sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia lakukan dan ia tetap keras kepala melakukannya, saya memilih menjauh. Saya akan diam saja, kebiasaan itu membuat anak saya mengerti, bahwa saya sedang marah dan ada yang salah dengan dirinya. Saya tidak mau anak saya melihat dan mendengar kata-kata kasar keluar dari mulut saya, itu sebabnya saya akan menjauh untuk menetralkan emosi dalam diri saya. Baru kemudian ketika anak sudah tidak merengek dan saya sudah bisa berlapang dada, saya mulai berbicara dengan anak saya.

Bisa menekan emosi dan #beranilebih berlapang dada menghadapi anak-anak membuat saya lebih bahagia dalam mendidik anak-anak dan punya harapan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bertanggung jawab.

Facebook: Sayekti Ardiyani
Twitter: @sayektiardiyani

    Tulisan ini diikutkan dalam

#BeraniLebih

[Gado-Gado Sekolah #19] Anak Tak Mandiri, Salah Nenek?

Dalam sebuah perjalanan pulang, saya berada satu angkot dengan salah seorang ibu wali murid. Kebetulan saya mengajar putra dari ibu tersebut selama satu semester dan menunggui si anak menjalani test psikologi ketika proses seleksi peserta didik baru berlangsung.

“Bagaimana mas D di kelas?” Pertanyaan dari si ibu saya jawab dengan apa adanya.
“Tidak ada masalah Bu, bisa mengkikuti pelajaran saya dan tidak ada hambatan. Mas D sangat mudah untuk dibimbing dan mandiri. Sangat berbeda sekali dengan dulu ketika mengikuti seleksi siswa baru.”

Si D yang saya kenal sekarang begitu bertolak belakang dengan ketika pertama kali saya mengenalnya. D tidak mau masuk kelas ketika seleksi siswa baru. Setelah dia masuk kelas pun. Dia bertingkah tidak seperti teman-teman yang dengan rela menuruti prosedur psikolog, mengikuti serangkaian test psikologi. D tidak mau duduk. Dia ingin terus ditunggui ibunya , bahkan mengamuk ingin keluar dari kelas, naik ke atas meja, dsb. Serangkain tesnya dikerjakan dengan asal-asalan. Lembar kerjanya dicoret- coret dan di kerjakan dengan asal coret.
“Mas D ini memang unik Bu,” cerita si ibu dulu sambil membujuk anaknya. Yang dibujuk tetap tidak mau dan memberontak. Itu sebabbya saya heran. Setelah D mengikuti proses belajar mengajar. Kejadian itu tidak terulang lagi. D justru bisa mandiri. Mengamuk atau memberontak tidak pernah lagi kami temui. Kami para gurunya pun heran.

Keheranan itu terjawab siang itu.
“Ya Bu, mas D dulu itu tidak mau ikut tes masuk. Baginya kata test itu menakutkan, makanya dia ingin lari.”

Ini pelajaran pertama buat saya. Jangan pernah mengatakan kata tes kepada anak TK, anak kecil, atau calon siswa, kepada anak kita yang mau masuk sekolah. Mungkin kita bisa mengatakan, adik mau masuk sekolah, sekarang adik berkenalan dulu dengan sekolahnya, dengan guru-gurunya, kenalan dengan nulis. Atau apalah. Kenyataanya, sekolah kami sebenarnya tidak menerapan test masuk kok. Serangkaian proses yang dilabeli ‘test’ tersebut sejatinya adalah pemetaan si anak sebagai langkah awal masuk sekolah. ‘Test’ psikologi tersebut berguna bagi kami sebagai referensi bagaimana anak tersebut sehingga kita punya ‘sedikit’ bekal atau bocoran mengenai diri anak, sebagai langkah awal tindak lanjut jika pada saat masuk anak mengalami masalah. Kemudian ‘test’ mengaji sejatinya adalah pemetaan kemampuan anak dalam mengaji dan hafalan sehingga kami mudah mengelompokkan anak tersebut dalam belajar mengaji sesuai dengan kemampuannya.

Soal kemandirian D di sekolah, si ibu punya cerita tersendiri. Si D menjadi seorang anak yang berbeda ketika di rumah dan sekolah. Kemandirian yang kami temui di sekolah konon kata si ibu tidak terjadi di rumah. Si ibu bercerita bahwa si D pernah diajak datang ke psikolog untuk berkonsultasi mengenai masalah yang menimpanya, tentang dia yang mengamuk saat seleksi masuk , tentang si D yang bertolak belakang saat di rumah dan sekolah.
Kemandirian yang ditemui di sekolah namun tidak dijumpai di rumah menurut psikolog yang ditemuinya karena adanya prinsip yang berbeda di rumah. Dualisme prinsip itu terjadi antara orang tua sendiri dan nenek/kakek. Orang tua dan nenek tidak sejalan dalam prinsip mendidik anak. Orang tua menerapkan prinsip mendidik yang membentuk karakter mandiri dan tidak manja sedangkan nenek cenderung memanjakan anak karena tidak ingin membuat cucunya sedih, menangis, dan asal senang.

Contoh kasus yang diberikan si ibu adalah ketika bola D hilang. Kedua orangtuanya mengatakan kepada D bahwa bolanya tidak hilang, dicari dahulu pasti ada. Ibu dan ayah sudah satu prinsip. Malangnya, tidak demikian dengan nenek. Nenek yang penuh kasih tidak tega melihat cucunya sedih karena kehilangan bola. Menghibur sekaligus menyelesaikan masalah dengan cara instan dilakukannya dengan memberikan bola baru.

Prinsip yang tidak sejalan dalam mendidik anak dalam sebuah keluarga bisa membentuk pribadi anak yang tidak konsisten pula. Ketika ia jauh dari keluarganya, misal di sekolah ia bisa menjadi anak yang mandiri namun ketika ia berada di tengah-tengah keluarganya kemandirian itu mendadak lenyap.
Menemui akar masalah yang sudah diketahuinya, saya kemudian bertanya pada si ibu solusi apa yang sudah dijalankannya. Pelan-pelan mengkomunikasikan dengan nenek sudah dicoba dilakoni si ibu. Berangsur-angsur proses itu dilakoninya.
“Sekarang sudah mendingan Bu,” ujar si ibu.
“Mas D sebenarnya sudah saya ajak berkonsultasi lagi ke psikolog tapi nggak mau.”

Cerita si ibu menjadi sharing pengalaman yang bermanfaat buat saya yang masih tinggal bersama nenek si kecil. Tulisan ini tentu saja bukan untuk menyalahkan sosok nenek, namun sebagai sebuah peringatan bahwa kasih sayang nenek adakalanya bila menjadi bumerang bagi anak bila tidak sejalan dengan prinsip orang tua dalam menerapkan pola asuh terhadap si anak. Terlebih nenek yang masih berpola pikir lama dan enggan menerima masukan.

[Gado-Gado Sekolah #18] K13 di Mata Anak-Anak

Kesenyapan ujian akhir semester tema 3 subtema 1 dan 2 di kelas VA pagi tadi mendadak pecah oleh pertanyaan seorang siswa di sela-sela mengerjakan.

“Bu, katanya Kurikulum 2013 mau dihentikan ya?”

Saya tak menyangka ada pertanyaan seperti itu, saya tanggapi seperlunya,”semester depan insya Allah kita kembali ke KTSP.”

Suasana gembira seketika menyeruak, ada yang bilang yes, ada yang berseru gembira, ada yang mengangkat tangan, ada yang wajahnya berseri-seri. Sekolah kami baru memberlakukan K13 semester ini, jadi semester depan tentu akan balik ke KTSP.

Saya kemudian balik bertanya, “kalian tidak suka ya dengan kurikulum 2013? Kenapa?”

Riuh, anak-anak mengemukakan tanggapannya sendiri-sendiri. “Belum biasa, bu.”

Emm… kalau soal itu sih, lama-lama juga biasa kan… tapi, dengarkan dulu tanggapan yang ini…

“Bingung bu, jadi nggak fokus belajarnya, “ kurang lebih seperti ini yang dikatakan Asa.

“Matematikanya Bu, nggak enak. Yang satu belum mudeng, sudah ganti materi,” ujar Diwan sambil mecucu.

Nah, kalau yang ini saya setuju. Saya merasakan hal yang sama, emm… gurunya aja mumet, apalagi siswanya. Tentu, itu satu masalah disamping masalah administrasi yang njlimet bagi saya.

Tak puas mendengar tanggapan kontra K13, saya kemudian menyelidik dengan bertanya kepada mereka, “Itu tadi soal ketidaksukaan kalian dengan kurikulum 2013, tapi pasti ada kan hal yang kalian sukai, satu atau dua sisi.”

Mereka punya versi sendiri-diri. “Suka sama IPA Bu, banyak praktik,” jawab Diwan,

“Kalau soal praktik, KTSP juga ada praktik. Kalian waktu kelas 4 kemarin sering praktik kan?” balik saya.

Anak-anak mengangguk.

“Nggak banyak nyatet bu,” seru Syifa dengan senyum.

Saya setuju,tapi,“Pakai kurikulum apapuun, kalau kalian punya buku sendiri-sendiri nggak akan banyak nyatet.”

“Nggak banyak soal,” timpal Sofi sembari tertawa kecil.

Saya sependapat, memang iya. Emm… bagaimana mau memperbanyak soal kalau untuk pembahasan dan pemahaman materi saja terbilang kepontal-pontal (terburu-buru) karena mengejar target tema yang harus diselesaikan? 😀

 

 

 

 

 

 

 

#pengen nambahin foto kenapa galat terus ya?

[gado-gado sekolah #17] Mendongeng Kancil yang Baik, Mestakung!

Gambar

Pagi tadi sebagai pembuka pelajaran, seperti biasanya, saya memberikan dongeng.  Saya memilih Kancil yang Baik oleh Clara Ng. Dongeng ini tidak saja apik ilustrasinya namun pesannya pun dapat. Clara Ng ingin meluruskan dongeng  “Kancil Nyolong Timun” dan “Kancil dan Buaya”  yang tidak mendidik. Dalam dongeng Kancil yang Baik, Kancil ingin membuktikan bahwa dirinya baik. Ini memberikan inspirasi pada anak-anak untuk berbuat baik, bukan berbuat licik dan curang meskipun cerdik seperti Kancil.

Selesai mendongeng, saya masuk ke materi. Kali ini adalah karmina. Anak-anak saya bagi kedalam kelompok  2—3 anak (karena jumlah ganjil)  untuk belajar berbalas pantun.

Ada satu perempuan yang menolak kelompok yang saya bagi, “Nggak mau  Bu, Mas S suka bandel dan usil, saya nggak mau!”

Si lelaki yang dikatakan bandel pun nggak terima dan marah. Ia juga menolak  mau berkerja sama dengan si perempuan. Maka saya dekati si lelaki. Mestakung.   Agaknya dongeng yang telah saya bacakan pas sekali dengan situasi itu.  Saya katakan pada si bocah lelaki bahwa dia harus menunjukkan kalau  dirinya  tidak seperti yang dikatakan temannya. Seperti Kancil, dia bisa membuktikan kalau dirinya baik.

Saya juga besarkan hati meraka berdua, bahwa pemilihan kelompok itu tidak sembarangan. “Bu guru sudah pertimbangakan  kenapa ada kelompok yang  hanya bertiga dan kenapa ada yang hanya berdua, Bu Guru sudah mempertimbangkan berdasarkan kemampuan kalian dalam berpantun.”

Mereka berdua akhirnya berdamai. Ketika saya meminta kepada si bocah perempuan untuk meminta maaf karena mengatakan temannya bandel dan usil, dia dengan senang hati melakukannya. Alhamdulillah, pelajaran berjalan seru. Berikut saya kutipkan  pantun berbalas antar dua kelompok.

Buah rambutan buah nanas

Jika memberi harus ikhlas

 

Buah apel buah kelapa

Jika ikhlas mendapat pahala

 

Buah apel buah mangga

Kita akan masuk surga

 

Kakak pergi ke Jakarta

Di surga akan hidup bahagia

 

Hewan serigala hewan naga

Senang sekali dapat masuk surga

 

Adik sedang bermain di taman kota

Di surga banyak sekali nikmatnya

 

Lampu itu ada di atas

Nikmat di surga tak terbatas

Di akhir pelajaran, ketika saya bilang dalam kegiatan selanjutnya kelompok akan diacak, si bocah lelaki tadi menolak, “jangan buuu…”. nah lho?! 😀

*foto hasil googling

[Gado-Gado Sekolah #16] Kemana Raibnya Kartu Pos dan Surat-Surat Kami?

“Bu, suratnya kok belum sampai?” Tanya anak-anak kepada saya setiap saya masuk kelas 4.  Kalau pekan lalu mereka begitu penasaran ingin ke kantor pos mengirim surat yang mereka tulis untuk ayah bunda mereka, sekarang mereka menanti datangnya surat-surat itu. Sudah satu pekan sejak mereka melakukan kunjugan ke kantor pos, tapi surat-surat itu belum sampai juga, padahal rata-rata anak-anak tinggal di kecamatan yang sama dengan lokasi kantor pos.

Gambar

Ini diluar ekspetasi kami. Program menulis surat dan mengirimkannya langsung ke kantor pos dalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi surat  sudah saya laksanakan setidaknya 3 kali—3 angkatan–. Dua angkatan yang sebelumnya, program berjalan lancar. Mereka begitu exited mendapati surat yang mereka kirim kembali lagi kepada mereka setelah sebelumnya dibaca oleh orang tua. Ah, saya membayangkan bagaimana harunya orang tua membaca ungkapan hati anandanya, ada yang meminta maaf dan berterima kasih.

Mendapati hal seperti ini, saya jadi khawatir, surat-surat itu bernasib sama dengan kartu pos saya.  Nasib sial menimpa beberapa kartu pos beralamat rumah saya tapi hingga kini tak ada kartu pos yang datang. Teman saya, mbak Ari Andari, beberapa kali bertukar kartu pos dengan saya. Hanya satu kartu pos yang datang, 2 yang lainnya tak sampai rumah. Ada juga kartu pos yang dikirim Yana dari Banjarmasin, ke mana perginya? Nasib serupa menimpa kartu-kartu pos yang saya kirim sendiri dari Jogja. Dua kartu pos yang saya kirim di rentang waktu yang ckup lama tak sampai. Anehnya, kali pertama saya mengirim kartu pos dari Bulaksumur  jumlahnya dua, satu sampai berbulan kemudian, satu raib.  Kartu pos yang raib kedua kalinya saya kirim dari kantor pos pusat tak jauh dari  Jogja 0 km, bergambar batik. Saya memang ingin membiasakan mengirim kartu pos dari temppat-tempat yang saya kunjungi. Kartupos itu akan jadi jurnal perjalanan dalam bentuk yang unik.

Untuk kartu-kartu pos yang tak sampai itu, pernah saya tanyakan di kantor pos. Kata petugas kantor pos, “kartupos kan pakai perangko, tanpa resi jadi susah ngelacaknya kalo tidak sampai.”

Nah, dari dua kasus itu, saya jadi menarik kesimpulan bahwa pelayanan kantor pos saat ini mengalami penurunan dalam hal surat-menyuarat  dan benda-benda  berperangko. Apakah era  digital yang serba instan dan cepat saat ini punya andil? Orang kini jarang berkirim kabar dengan surat berperangko sebab sudah ada handphone dan internet.  Kalau berkirim kabar bisa  dalam hitungan detik,  mengapa mesti berkirim surat  via pos?  Kirim uang pun kini sudah instan, ada wesel instan dan tentu saja transfer via ATM/bank. Barangkali, karenanya kini pelayanan kantor pos mengalami perluasan. Kalau hanya  mengalami surat-menyurat atau pelayanan benda-benda pos, barangkali kantor-kantor pos akan sepi.  Kantor pos kini ramai pengujung  yang akan membayar listrik, telepon, air,  speedy,  angsuran kendaraan bermotor, selain juga pelayanan pensiun .Nah, karena sebab itukah  kini perangko tergeser?

Karena saya merasa bertanggung jawab atas program itu, maka kemarin sepulang kerja saya sempatkan mampir ke kantor pos. Petugas pos senyum-senyum  melihat saya mendatanginya, di sampingnya ada seseorang yang masih asing, yang ternyata pak pos baru,“Ada apa, Bu?”

Saya utarakan maksud kedatangan saya, kenapa surat-surat saya belum datang.
“Masih lewat kelurahan,Bu”
“Siswa saya banyak yang rumahnya di sekitar sini, masak sudah seminggu belum sampai. Banyak lho Pak siswa saya yang rumahnya  banyak nggak di ‘daerah’. Jangan-jangan nasibnya sama dengan kartu pos saya dulu,”
“Wah, ya jangan,Bu. Jangan sampai kayak kartu pos itu.”
Setelah ngobrol-ngobrol sebentar,  antara kami bertiga, dan dua petugas itu sendiri, tahulah saya bahwa di kantor pos Grabag, petugas pos yang mengantar surat baru. Saya bisa menyimpulkan juga, bahwa surat-surat itu nyatanya belum sepenuhnya dikirim.  Sudah seminggu belum ada pelayanan? Ada ketidakseriusan mengirim surat anak-anak yang saya tangkap. Sepertinya surat-surat dengan perangko telah dinomerduakan pelayanannya. Entah kalo di kantor pos daerah lain.

Sedikit harapan saya dapatkan tadi pagi ketika masuk kelas 4, seorang siswa mengabarkan bahwa suratnya sudah sampai. Baru satu siswa, semoga yang lain segera menyusul, menghapus stigma saya bahwa pelayanan kantor pos mengalami kemerosotan.