[gado-gado sekolah #15] Tuhan Punya Hati?

“Bu, Tuhan itu punya hati?”
Saya terhenyak mendengar satu pertanyaan dari Rafel, siswa saya siang tadi, begitu di luar dugaan. Pertanyaan yang dilontarkan di sela-sela mengerjakan soal remidi dan pengayaan ulangan harian Bahasa Indonesia itu sejenak membuat saya ‘kelabakan’, mau jawab gimana? Satu soal yang saya ajukan,yaitu melanjutkan sebuah puisi yang menyebut nama Tuhan di dalam satu lariknya agaknya telah memunculkan satu penasaran akan Tuhan.

Untungnya, saya segera ingat Al Quran surat Al-Fatihah ayat ke-3: “ArRahmaan NirRahiim“. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Setelah saya baca ayat tersebut, saya jelaskan, bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Cinta, dan beberapa sifat Allah yang bisa ditumbuhkan juga di dalam hati [manusia]. Sementara, saya tidak [belum] menjelaskan Allah punya hati atau tidak. Sifat-sifat yang dimiliki Allah dalam Asmaul Husna hari ini semoga sudah bisa menjawab rasa ingin tahu Rafel yang kritis.

Barangkali ada yang mau menambahkan? 🙂

[gado-gado sekolah #14] Les

“Bu, kalo les di pak X berapa?” tanya seorang siswa pada saya tadi pagi.
“Coba tanya sama pak X, bu guru kurang tahu. Mas Y mau les?” saya balik tanya.
Dia mengangguk. Saya diam memandangi wajahnya. Pikir saya, kenapa nggak belajar di rumah saja sama ibunya, ayahnya, atau kakaknya? Saya tahu bagaimana keluarganya.

Siang hari, pulang sekolah dia sudah ikut les di pak X. Saya heran, banyak orang tua yang buru-buru mengikutkan putranya untuk les karena ujian sebentar lagi tiba. Untuk anak kelas satu SD tadi, dia terbilang cerdas, bisa belajar secara natural tanpa dijejali les. Apa karena orang tua di rumah merasa kurang bisa menfasilitasi ‘kecerdasannya’? Sayang sekali.

[gado-gado sekolah #13] Serasa Aktris!

Awal masuk sekolah tempat saya mengajar hingga saat ini, saya hanya mendapatkan kontrak 3 bulan. Selama 3 bulan itulah kinerja saya akan dievaluasi,apakah kontrak layak diperpanjang atau tidak. Sekolah itu adalah SD baru, satu–satunya SD swasta di kecamatan–dengan 3 pengajar (satu diantaranya saya) yang baru semua: fresh graduated tanpa pengalaman mengajar sebelumnya. Alhamdulillah, jangankan 3 bulan, 3 tahun berhasil saya lewati. Ini masuk tahun ke-4 karir saya. Angkatan pertama di sekolah itu kini duduk di kelas 4.

Bukan perkara mudah melewati angka 3 itu. Bekerja di luar minat dan bidang adalah beban tersendiri bagi saya. Saya yang tidak pernah berkeinginan menjadi guru dan tidak memiliki bekal pendidikan di bidang itu harus mengajari dan membimbing anak-anak membaca dan menulis. Menjadi pengajar untuk anak-anak tidak cukup berbekal materi seperti mengajar di sekolah menengah. Pemahaman terhadap psikologi anak dan kesabaran menjadi modal penting. Dua hal itu minim saya miliki. Kesabaran itu lebih sering pasang surut. Tiap hari ada saja tingkah anak-anak yang membuat saya geleng-geleng. Tiada hari tanpa mengeluh. Begitulah, daftar keluhan itu bisa bergerbong-gerbong kalau ditulis. Tapi, saya sadar, bagaimana bisa bersyukur kalau yang saya gubris hanya hal-hal yang berpotensi menimbulkan keluh? Mengimbanginya, saya punya kebiasaan membuat jurnal dan daftar apa saja yang sudah saya dapatkan di sekolah, daftar yang tak mungkin saya peroleh di tempat lain. Diantara sederet list itu, ada satu moment yang pernah dan masih menjadi moment favorit. Moment itulah yang ‘membesarkan’ diri saya sendiri dan menguapkan segala keluh kesah: mendongeng.

Saat mendongeng, saya serasa aktris di depan kelas, benar-benar saya nikmati. Saya menikmati tatapan antusias anak-anak, tatapan ingin tahu, penasaran,dan tatapan-tatapan tak terdefinisi :D. Tatapan-tatapan mereka begitu lekat di kepala dan menumbuhkan perasaan puas. Ketika kelas bisa senyap dan mereka terbawa oleh cerita, saya merasa berhasil ‘berakting’! Padahal, saya tidak piawai mendongeng, cerita saya bagi secara apa adanya, tak mampu berekspresi dan menciptakan/menirukan suara-suara aneh dari berbagai karakter dalam dongeng. Dengan penyampaian yang begitu apa adanya saja anak-anak suka, saya bersyukur sekali.

Itu baru mendengarkan. Belum lagi kalau saya memberi kesempatan bermain peran setelah mendengarkan. Mereka berebut maju ke depan tampil pertama. Satu kelompok belum selesai bermain, beberapa anak sudah berdiri di depan tak sabar ingin tampil. Ada juga anak yang selalu minta tampil ulang. Mereka menikmati bermain peran, padahal suara mereka kadang tak keluar, permainan mereka lebih sekedar ‘bermain-main’ sambil bercanda daripada berakting. Namun saya tak pernah keberatan dengan tingkah lucu mereka.

Diantara ulah mereka, pernah terselip ide cemerlang yang meninggalkan tawa dan kesan buat saya. Seorang siswa, Fafa namanya, yang berperan sebagai gajah penolong dalam dongeng ” Ikan dan Gajah”, berkeliling kelas memeragakan adegan gajah mencari sumber air. Sungai tempat hidup ikan kering sehingga gajah berinisiatif mengisi sungai itu dengan air lewat belalainya. Ketika gajah sampai di belang kelas, di mana terdapat sebuah dispenser terletak di atas meja, dia berhenti. Dia mengambil segelas air dan meminumnya, berlagak sebagai gajah mengisap air. Selesai minum dia lari ke depan kelas dan berlagak menyemprotkan air. Spontan kami tertawa menyaksikan tontotan itu. Saya geli bercampur takjub melihat tingkah Fafa. Fafa dan teman-temannya waktu itu masih duduk di kelas 1. Sekarang mereka kelas 4. Tiga tahun berlalu tapi moment itu masih terekam jelas di kepala saya.

[gado-gado sekolah #12] Tutor Sebaya

Alhamdulillah, belakangan rasa kewalahan menghadapi beberapa anak di kelas yang belum lancar baca tulis berkurang. Beberapa anak yang saya minta menjadi tutor sebaya dengan senang hati bersedia membantu. Namanya juga anak-anak, kadangkala mereka tak sanggup mungkin karena nggak mood. Dua hari terakhir, mereka sungguh mengurangi rasa lelah saya.

Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dibanding teman-temannya selesai lebih cepat dalam menyelesaikan tugas. Waktu sisa yang mereka miliki saya minta untuk membantu siswa yang masih mengalami kesulitan. Luar biasa! Saya merasa sangat terbantu. Waktu menjadi sangat efektif. Belajar dengan teman sebaya pastilah lebih mengena dan menyenangkan karena secara pendekatan mereka lebih nyambung. Ada siswa yang masih sulit diajak belajar, tapi dengan teman yang membantu dia malah bersemangat dan tugas selesai dikerjakan. Kalau dengan guru barangkali kadang segan, dengan teman sekelas dia bisa mengerjakan tugas sambil hahahihi, bebas.

Harus Belajar dari Sang Pendidik Teladan!


“Bu, mbak L nggak mau temanan,” lapor R.
Suatu ketika L bersungut-sungut menemui saya, “Bu, mbak R melototin saya.”
Di lain waktu, I datang minta pembelaan, “Bu mbak L dan R bisik-bisik.”
“Bu, mbak I nyubitin saya,” elak L
Begitulah warna kelas IB tempat saya mengajar. Ada saja pertengkaran kecil khas bocah. Namanya bocah, mereka mudah melupakan pertengkaran itu, damai, namun berkonflik lagi. Hampir tiap hari saya mengajak mereka membaca hadist kasih sayang, senyum adalah shodaqoh, dan sesama muslim saudara untuk mengingatkan. Tapi,karena tiap hari pertengkaran itu terjadi, kadang saya kewalahan. Saya butuh referensi bagaimana sikap terbaik menghadapi konflik kecil itu, menjadi “ibu” di sekolah yang bisa mengarahkan dan memberi contoh. Saya temukan buku yang saya harapkan bisa menjawab segala pertenyaan seputar pendidikan anak. Contoh itu datang dari sosok tauladan yang tidak diragukan kesempurnaan akhlaknya, mendidik sebagai seorang ayah dan kakek. Ensiklopedi itupun akan bermanfaat bagi saya kelak sebagai ibu.

Postingan ini diikutsertakan dalam Kuis GriyabukuQ Berbagi Buku: Pilih Sendiri Buku Hadiahmu! Di alamat http://griyabukuq.multiply.com/journal/item/87/

Buku yang dipilih: (Ensiklopedi Keluarga Sakinah XIII: Praktik Rasulullah Mendidik Anak) (http://griyabukuq.multiply.com/market/item/104/_Ensiklopedi_Keluarga_Sakinah_XIII_Praktik_Rasulullah_Mendidik_Anak_)

*Gambar buku dari griyabukuq

[gado-gado sekolah #11] Kehilangan

“Hari ini kita akan kedatangan tamu,” kata saya Rabu pagi,sebulanan yang lalu, di depan anak-anak.
“Siapa bu?” tanya Idham.
“Calon siswa baru dan wali murid.” Hari itu adalah jadwal test untuk calon siswa baru.
“Kelas tiga ada siswa baru nggak bu?” tanya Ari.
“Tidak ada. . .,” jawab saya enggan. Jawaban saya disambut keluhan anak-anak.

Pertanyaan ada tidaknya siswa baru di kelas 3 sudah sering mereka lontarkan. Mereka merindukan teman lagi. Ketika beberapa bulan lalu di kelas 2 ada siswa baru, Wildan, anak-anak kelas 3 begitu iri. Kenapa di kelas 2 terus, kenapa di kelas 3 tidak ada siswa baru, protes mereka.

Dengan jumlah 23 siswa di kelas 3, anak-anak merasa kurang. Apalagi yang putri hanya sembilan anak. Kurang seru dan rame barangkali bagi mereka. Rasa rindu mereka bisa dipahami. Mereka sudah sering merasa kehilangan. Satu-satu teman mereka pergi dari samping mereka. Sejak kelas satu, terbilang 6x mereka kehilangan. Sebaliknya, adik kelas mereka, kelas 2, sudah 3x kedatangan teman baru. Enam kali bukan bilangan sedikit untuk waktu tiga tahun. Rasa kehilangan mereka begitu dalam. Di hari perpisahan dengan beberapa teman yang pindah, mereka bermellow ria seperti kita orang dewasa. Mereka yang pergipun tak rela meninggalkan teman-teman. Beberapa dari 6 anak itu pindah karena masalah yang sebenarnya ada solusinya.

Hingga saat ini, rasa kehilangan itu masih meraka ingat. Mereka masih sering menyebut-nyebut moment-moment kenangan yang mengesankan. Intan bahkan menulis sebuah puisi dalam diarynya-menurut pengakuannya, puisi itu ditulis dengan bantuan kakaknya yang duduk di bangku SMP-

PERPISAHAN

ada pertemuan pasti ada perpisahan
kebahagiaan dan kesedihan melukiskan kehidupan
pertengkaran, canda tawapun menjadi kenangan
waktu memang sudah memisahkan
mendung akhirnya menangis karena keadaan
hatipun tersia-sia
kini kitapun harus melupakan
pintu masa depan telah terbuka

Kala saya membaca diary Intan itu di depan kelas, Intan terlihat menahan rasa di wajahnya. Beberapa teman putri memandangnya dengan tatapan yang. . .yah. . . . Entah mereka protes kenapa harus ‘dibuka’ atau. . .entahlah, wajah mereka pias!

***

Surprised!
Barusan tadi ada sms dengan nomer asing masuk, katanya mau nitip salam. Ketika saya tanya siapa, jawabannya mengejutkan saya:

SAYA FIA BU SAYA MAU TITIP SALAM UNTUK TEMEN SAYA YANG ADA DI SDIT.

Fia, dia gadis kecil yang sudah satu tahun lebih meninggalkan kami. Ternyata kami memang masih saling mengingat. Saya belum lupa, selama dua tiga hari setelah kepindahannya, Fia menyempatkan sms ke nomer saya tiap malamnya, sekedar tanya saya sedang apa. Ah, besok pagi teman-temannya pasti ribut dengan kabar malam ini. . . 🙂

06052010,21:22

[gado-gado sekolah #10] Saya Tak Mau Membuat Mereka Seperti Saya Waktu Itu…

Tersinggung

Bu Guru cantik,
Lihatlah…
Siapa punya suara berdesak-desakan?
Kenapa aku?
Percaya, mereka punya kilau
Tapi kalau sinar mereka bikin silau?

[ruang kelas, 12 April 2002, dengan beberapa pengeditan beberapa waktu setelahnya]

Saya menulis puisi itu diam-diam di suatu jam pelajaran, ketika ibu guru memberikan materi di depan kelas. Selesai menulisnya di selembar kertas yang sudah kumal dan tak utuh bentuknya, saya melipat kertas itu kemudian mengantongi. Baru sampai di rumah saya menyalin puisi itu di buku diary.
Malam ini, posisi saya sudah berkebalikan dengan waktu nulis puisi di atas, bukan lagi seorang gadis berseragam abu-abu putih yang duduk di kelas sambil terkantuk-kantuk bosan tetapi sebagai seorang yang setiap hari berdiri di depan kelas, minus hari Ahad. Ketika membuka kembali buku kumpulan coretan hati, saya tertegun melihat puisi itu nangkring di halaman pertama. Seketika puisi itu menjelma cermin: pernahkah saya membuat anak-anak merasakan seperti apa yang saya tumpahkan dalam puisi itu? Saya lalu mengingat-ingat, pernahkah saya membut tersinggung mereka? Pernahkah saya berbuat pilih kasih? Pernahkah mereka merasa… Bisa jadi sering, astaghfirullah…
Pilih kasih, manusiawi jika seseorang memiliki sifat itu terhadap anak didik. Mungkin perlakuan itu berangkat dari rasa ‘exited’ terhadap kelebihan yang dimiliki sehingga perhatian/sayang ke anak tersebut berbeda porsi dibanding ke yang lainnya. Bukankah anak-anak yang biasa-biasa saja biasanya tidak lebih meninggalkan kesan dibanding anak yang luar biasa? Luar biasa pinter, luar biasa cerdas,luar biasa kreatif, luar biasa cantik, luar biasa tampan, luar biasa nakal, luar biasa bandel, luar biasa malas, dan sederet title luar biasa yang lain. Anak-anak dengan title semacam itu pasti namanya lebih dihafal oleh guru-guru dibanding anak-anak dengan title biasa-biasa saja alias S.T.D. Nha, biasanya yang menjadi anak emas adalah yang punya keluarbiasaan dari sisi yang positif, bukan yang malas atau bandel. Yang luar biasa malas atau bandel biasanya luar biasa disebeli, heheheheh… Saya kira sering dijumpai yang seperti ini.
Kembali saya bertanya dalam sunyi, apakah saya pernah dirasani anak didik saya seperti saya ketika menulis puisi itu delapan tahun silam? Mungkin. Tapi, sejatinya saya tak mau menjadi orang tua model itu. Kalau saya pernah berlaku demikian, saya tak mau mengulanginya lagi. Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah, kesabaran, keikhlasan, keweningan hati dan pikiran, sehingga saya bisa berdiri di depan kelas memandang setiap anak dengan kacamata seobjektif mungkin. Amin…
Ya Allah…
Sehatkan tubuhku
Cerdaskan otakku
Bersihkan hatiku
Indahkan akhlakku…

Amin…

[doa kebangsaan SMU Plus Muthahhari, menyalin dari buku Belajar Cerdas karya Jalaludin Rahmat]

20:15
*curhatan mantan siswa biasa-biasa saja alias S.T.D

[gado-gado sekolah #9] Pengen Lari!

Berada di kelas XII hari ini seperti duduk di kursi panas. Tidakkah mereka lihat, berapa kali saya memegang kepala dan menggerakkan kaki untuk melepaskan tegang. Rasanya pengen segera menghambur keluar, kabur dari ruangan. Uh, begitu lambat waktu berdetak. Soal itu seperti tak pernah sampai pada ujungnya. Benar-benar pengen angkat kaki.

Waktu pelaksanaan UN semakin dekat: mengitung hari. . . .*KD, saya pinjam suaranya *. Dalam waktu yang singkat itu saya diharuskan mengisi mata pelajaran yang guru pengampunya sakit sehingga kelas sering kosong. Dua Minggu saja, sedangkan bekal saya masih minim. Bagaimana mengarahkan mereka mengidentifikasi pilihan-pilihan jawaban dari soal yang membingungkan membuat saya benar-benar stress. Soal menjelma momok di hadapan saya sementara anak-anak tidak seluruhnya peduli, leleh luweh.

Mereka saja cuek bebek, kenapa saya stress? Entahlah. Sabtu pagi lalu, mau masuk kelas perut mulas-mulas. Sindrom Sabtu pagi yang sudah hampir setahun ini menghilang [setahun lalu, Sabtu pagi= menghadapi para ABG super bandel] muncul lagi.

Sudahlah, mungkin karena saya belum terbiasa saja. Aaaarrgh, yang pasti hari ini saya stress. Saya hanya ingin lari dari stress dengan senam jempol di sini.

[gado-gado sekolah #8] Menang Bu, Menangis!

Itu jawaban seorang siswa, mbak Septi, ketika teman saya menanyakan kabar Pesta Siaga sehari setelahnya,di sekolah. He he he,ada ada saja jawabannya.

Kami memang tak membawa hadiah berjudul menang menyandang juara,tapi tak sedramatis itu,sampai nangis. Tidak. Kami justru membawa pulang hadiah istimewa, di mata anak-anak dan saya pribadi. Ketika saya menanyakan kesan mereka, kebanyakan berkesan di sesi terakhir, permainan besar. Sulit, bingung Bu, tapi senang,dapat teman baru, komentar mereka. Ya,tentu moment itu sebuah pengalaman beda buat mereka. Mereka harus mencari teman dari sekolah lain dengan kunci huruf di dada mereka untuk membentuk kata yang ditentukan kakak pembina. Wow, ruwet berjalan dalam lautan seribu lebih siswa. Merekapun mendapatkannya, teman-teman baru. Ada jejak nama dan tanda tangan di balik huruf yang tergantung di depan dada.

Pada ‘permainan kecil’, di kelas, khusus sembilan siswa putri, mereka mendapat hadiah yang barangkali tak mereka sadari tapi membuat saya bersyukur dan lega. Sebelumnya, kesembilan siswa itu ‘terbagi’ menjadi 2 kelompok: ‘ngegank’. Gank mereka layaknya ABG lho, benar-benar ngegep. Fenomena yang sudah terlihat sejak kelas satu itu cukup memprihatinkan kami. Apa daya, usaha kami belum memperlihatkan hasil. Kami sudah berusaha ‘mendamaikan’, dengan membacakan kisah, atau nasehat saat mereka ditimpa masalah.

Masalah? Ya, seperti orang-orang dewasa, mereka sering menghadapi masalah pertemanan. Yang sering terjadi, jika salah satu anak dari salah satu geng sedang perang dingin, anak itu akan mendekat ke geng satunya–jadi datang saja saat butuh–. Nha suatu hari, satu anak itu benar-benar sendiri, tidak diterima di kelompok dua-duanya. Yang kelabakan tentu saja guru-guru, tak tega melihat wajah dia yang suram selama beberapa hari. Kami hanya bertanya-tanya, ada apa? Kami panggil satu anak itu. Saya biarkan dia duduk, lalu saya ungkapkan bahwa kami sedih melihat dia sedih sepanjang hari. Sambil terisak, diapun berbicara apa yang dirasakannya. Hikkss, kami yang di kantor ikut-ikutan terharu dan pengen nangis dengernya, bukan karena ceritanya, tapi karena melihat dia yang…. Hffff. Nha, selesai bercerita, saya panggil teman yang membuat masalah itu terjadi. Kami selesaikan saat itu juga. Selesaikah? Belum, lagi-lagi terulang.

Sampai mereka dipaksa kompak di Pesta Siaga itu. Mereka tahu konskuensinya kalau mereka masih pilih-pilih teman saat maju di depan juri. Mulanya mungkin keterpaksaan. Tapi…sekarang, saya melihat meraka dengan senang hati harus lepas dari geng–sekarang gengnya cuma satu dink– jika ada kerja kelompok. Mereka terlihat sering bermain bareng, bahkan… main ke rumah saya bareng-bareng. Nasehat atau kisah yang kami bacakan nyatanya memang tak mempan. Mereka hanya butuh kebersamaan yang benar-benar nyata…. Ya di lapangan itu, di bawah terik matahari dan guyuran hujan, sepagi, sesiang, hingga sore berbaur dengan ribuan anak sebaya mereka. Bersama-sama berjuang untuk sekolah mereka.

Akhirnya…

[gado-gado sekolah #7] . . .degh. . .degh. . .degh. . .

Setengah tujuh nanti saya harus sudah sampai di tempat kerja.

Degh. . .degh. . .degh. . .

Hari ini 23 pasang kamera itu akan berbaur dengan 1.275an pasang kamera lain di lapangan Ngasinan. Ini akan menjadi kali pertama mereka melihat medan perlombaan.Pesta Siaga.

Bagaimana perasaan mereka? Apakah sedegh-deghan perasaan saya dan teman-teman saya pastinya. Apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Membuat kehebohan di pagi hari karena kebawelan mereka seperti yang biasa mereka lakukan di sekolah? He he he. . .

Saya membayangkan nanti di sekolah,betapa heboh. Saya dan teman-teman pasti juga. 23 pasang kamera itu adalah kamera-kamera pertama dari sekolah kami. Ini baru masuk tahun ke-3. Guru-guru semuanya baru,sedikit fresh graduated, pengalaman baru,sebab dari kami belum ada yang punya pengalaman mengajar,kecuali sebatas PPL. Khusus untuk persiapan pesta siaga inipun serba baru. Baru sebulan lalu memulai latihan seadanya,juga belum ada yang berpengalaman di bidang kepramukaan.

Degh. . .degh. . .
Seheboh apa ya nanti? Saya tidak pernah mengikuti kegiatan kepramukaan di hari Sabtu karena ada tugas di tempat lain, jadi hanya mengikuti latihan-latihan di luar hari itu. Sebulan lalu saja, ketika kegiatan Pramuka mau dimulai mereka heboh,apalagi nanti? He he… Ingat cerita teman saya, sebulan lalu anak-begitu bersemangat dan genit dengan pakaian Pramuka dan atributnya. Ketika jam pelajaran tidak bisa konsen, sedikit-sedikit memegang atribut atau membuka buku saku. Tak kalah heboh waktu di luar kelas,di depan kaca, sedikit-sedikit ngaca-kaca besar- dan bergaya membetulkan atribut yang melekat,belum lagi mainan tongkat! Hi hi,heboh dan gemesin. Gregetan dengernya.

Degh. . .degh. . .
Bagaimana nanti? Pasti lebih heboh dari sebulan lalu :D. Wow, tak sabar melihat mereka. Melihat hasil metamorfosa sebulan ini,dari yang biasanya celelekan,cengengesan, tak mau diatur,tukang protes,he he. Terakhir latihan kemarin, saya tersenyum melihat mereka berbaris dengan keseriusan. Suka banget melihat gaya komandannya 🙂

Semakin degh degh degh sir. . .
Tarik nafas. . .bismillah, dengan semangat penuh mereka,semoga hari ini menjadi ‘hadiah’ untuk hari-hari yang sudah mereka lalui,kalah atau menang. Amin