[gado-gado sekolah #6] 23 Pasang Kamera yang Merekam

Masih geli ingat cerita teman tadi siang. Ada dua siswa yang menanyakan ke teman saya,
“Bu, kenapa sih bu Yani kalau ngajar suka gini-gini?” Teman saya menirukan gerakan tangan siswa menyentil-nyentilkan jari-jari tangan ke meja. Sambil tertawa-tawa dia menirukan gerakan yang konon selalu saya lakukan kala mengajar.

Exited. Saya juga tertawa mendengarnya. Tak bisa berkomentar, cuma tertawa pada awalnya. Tak sadar kalau segala gerak-gerik bu guru dan pak guru di depan kelas itu terekam dalam memori anak-anak. Tapi. . .,how care they are! Sampai-sampai tangan gurunya yang tak pernah mau anteng ini diperhatikannya. Saya memang tak pernah rela membiarkan tangan saya nganggur,entah ngetuk-ngetuk dengan jari,cetak-cetik pulpen yang ada pernya itu,atau. . . entah apa lagi gerakan spontan yang direkam 23 pasang kamera di kelas itu.

[gado-gado sekolah #5] Murid Tanpa Huruf R

Aku punya murid tanpa huruf R, cerita teman saya via sms siang itu.

Murid tanpa huruf R? Saya balik bertanya,belum mengerti arah pembicaraannya. Tiba-tiba inget Novel Tanpa Huruf R,meski baru sebatas kenal judul ^^

Iya, murid tanpa huruf R, alias cadel,lanjutnya. Tapi kalau cuma punya murid cadel saja, dia tak mungkin bela-belain cerita via sms,pasti ada sesuatu.

Menarik, sudah SMU kelas 3, tapi murid teman saya masih cadel, tak bisa mengucapkan huruf R melainkan L. Saya tambah exited dengan lanjutan ceritanya. Uniknya,kecadelan dia merambat juga ke bahasa tulis. Semua kata yang ditulisnya tak mengenal huruf R, tak ada bedanya dengan cara ngomongnya. Oia, masih ada satu lagi, dia hanya bisa nulis satu huruf R dalam bahasa tulisnya, itupun karena terpaksa dan dipaksa, yaitu nulis NAMA di isian lembar jawab UN–dan data-data UN tentunya. Kalau ga dipaksa, apa dia rela ga lulus UN gara-gara salah menulis nama? Sebelumya, namanya yang memang punya huruf R pun selalu ditulis dengan huruf L.

Cerita itu terus bersarang di kepala, habis menarik sih….Subhanallah, fenomena unik dari ayat-ayat-NYA…

[gado-gado sekolah#4] Balik Posisi

Di kelas kedua tempat saya ‘belajar’ untuk mengajar,di tengah-tengah para ABG itu,bukan saya yang mengajar dan anak-anak yang belajar,tetapi saya yang belajar. Tanpa mereka sadari,mereka justru menjadi ‘guru’ bagi saya. Menyadari bahwa banyak kesalahan atau lupa,saya harus banyak belajar. Merekalah yang mengingatkan. Dari merekalah saya menjadi tahu, mengetahui sesuatu yang harusnya saya bagi untuk mereka, namun justru mereka yang membaginya diam-diam. Seringkali malu menelusup,sesal menggugat,tapi Alhamdulillah,saya diberi kesempatan untuk itu. Terima kasih…

[gado-gado sekolah#3]Jangan Main-Main dengan Janji…

Bocah itu pernah ngambek ketika pulang sekolah. Tumben,biasanya dia dengan senang hati pulang sendiri atau bareng temannya. Hari itu ia mengatakan bahwa dia akan dijemput dan dia bersikukuh untuk menunggu jemputannya. Kami yang sudah hafal dengan kebiasaan dia dan keluarganya tentu tidak yakin penjemputnya akan datang tepat waktu. Nyatanya memang begitu. Saya sampai sms ibunya tapi tiada respon.

Dia tetap bersikukuh untuk menunggu. Aneh,tak biasanya begitu. Dia ngotot tetap mau menunggu ketika saya, bu Ambar, dan bu Diah pulang dan menawarinya bareng. Yang tinggal masih bu Umi dan bu Iin. Dari cerita bu Iin,ketika mereka berdua mau pulangpun dan menawari bareng juga,ditolak. Dia ngambek tetap mau tinggal. Akhirnya dia mau bareng bu Iin ketika suaminya membukakan pintu mobil untuknya. Barulah di mobil dia membuat pengakuan akan tingkahnya. Dia menunggu janji ibunya yang menjanjikan mengantar pensil warna ke sekolah,juga menjemput sepulang sekolah. Rupanya,pagi harinya dia menangis minta pensil warna. Karena belum bisa dipenuhi, ibunya menjanjikan akan mengantar pensil itu ke sekolah siangnya. Entah janji itu benar akan dipenuhi atau hanya sekedar membungkam tangisnya,yang pasti janji itu telah luput dari perhatian orang tuanya. Entah lupa atau tidak tahu, orang tuanya abai akan satu hal,bahwa janji di mata anak-anak begitu berarti. Mereka tak mau tahu atau barangkali tak mengenal kata ‘apus-apusan’, bercanda dengan janji.

Ternyata siang itu,orang tua bocah itu mencemaskan keterlambatan kepulangannya. Mungkin, sms saya masuk di hape yang tidak dipegangnya sehingga ibunya menggunakan hape rekannya untuk menelpon bu Ambar. Ah, ibu lupa atau tidak tahu, anak ibu ngambek gara-gara janji ibu beberapa jam sebelumnya!

[gado-gado sekolah#2] Mimpi Kali Yeee…?

“Mimpi kali ye…,” celetuk salah satu siswa dan ditimpali hu…beberapa anak. Tanpa aba-aba,kelas ribut,saling timpal.
“Weits,jangan salah,jangan sepelakan mimpi,” seru saya tak mau kalah. Mereka terpana seketika.

Itu situasi ketika saya membacakan salah satu catatan harian siswa. Pagi itu,saya exited membaca catatan harian yang dikumpulkan Usama Al Faraby. Makanya saya bacakan catatan Fafa di depan kelas. Dia seperti memiliki terobosan tersendiri untuk tulisan di buku hariannya,berbeda dengan catatan-catatan sebelumnya maupun catatan yang ditulis teman-temannya:

Jum’at,30 Oktober 2009
Saya ingin bertemu dengan Christiano Ronaldo,penyerang Portugal. Saya akan bertanya,”maukah kak Christiano Ronaldo menginap di rumahku dan mengajarku bermain bola?”
Di bawah catatannya,dia tempelkan gambar salah satu pemain bola favorit yang ia sebut dalam catatannya. Dalam program penulisan buku harian, saya memang membebaskan anak-anak berekspresi: menyertai catatan mereka dengan coretan-coretan gambar, ditempel gambar, diwarnai sesuka hati, bahkan membuat komik.

Tentang mimpi…saya lalu membeberkannya sedikit, mengambil cerita dari Tetralogi Laskar Pelangi. Tokoh Ikal saya ambil contoh, sebab beberapa di antara mereka, termasuk Fafa, mengaku sudah menonton filmnya–meski umur mereka belum masuk rekomendasi untuk nonton–. Ketika saya tanya, “paham ceritanya?’, meraka mengaku mengerti. Selain Ikal dab Arai yang saya tambahkan, saya menekankan tokoh Lintang dan buaya–sengaja membidik sisi yang menarik di mata anak-anak.

Saya membaca tatapan antusias anak-anak. Diam. Seperti merevisi celotehan mereka terhadap Fafa, yang sebelumnya tersipu-sipu. Semoga mereka mengerti.

Hari berikutnya, saya melihat beberapa anak berani menuangkan mimpi ataupun harapan mereka dalam catatan harian– bolehlah mengekor teman untuk hal-hal yang positif . Kalau biasanya saya membiarkan catatan meraka apa adanya setelah meraka baca, tidak sebagaimana tugas-tugas yang lain, kali itu saya menambahkan beberapa komentar yang membesarkan hati meraka.

Senyum saya kian lebar ketika Fafa lagi-lagi menulis harapannya. Selain ditempeli gambar, kali bahkan ia membubuhkan judul pada catatannya: MIMPI!

Jumat, 13 November 2009

Aku ingin bertemu Fernand Torres. Aku akan bertanya, apakah kaka Torres mau menemaniku jalan-jalan di kota Spain, saat aku berulang tahun ? Pasti asyik ditemani jalan-jalan sama idolaku.

Hm…itu sekelumit mimpi Fafa. Saya ikut mengamini…amin… semoga mimpi itu kelak dikabulkan Allah.

Maka…teruslah bermimpi anak-anak Indonesia…

[gado-gado sekolah #1] Ketika Senyum

Pagi.Masuk kelas tanpa sambutan antusias dari anak-anak membuat semangat saya ikut-ikutkan meluntur. Anak-anak melakukan pembiasaan membaca beberapa surat dalam juz amma dengan ogah-ogahan. Lemezzzz…Beberapa anak bahkan membuat suasana semakin tak kondusif untuk memulai pelajaran. Bete banget! Mereka seolah tak menganggap keberadaan saya di depan kelas, sibuk sendiri dengan teman-teman disekirar masing-masing, berkelompok, mengobrol.

Siapa yang salah? Tingkah mereka yang begitu menyebalkan,salah? kenapa? Atau akukah yang salah karena tak piawai menguasai kelas?

Awal pelajaran muka saya sudah menekuk. Jadikah saya memakai skenario yang sudah saya rancang? Mengkolaborasikan hadist senyum itu ibadah dan cerpen tentang senyuman berjudul “Teman Baru” dari buku Princess Kribo . Aarrrgh, bagaimana saya mau mendongeng tentang senyuman sedangkan mau tersenyum saja susah. Kelakuan beberapa anak membuat selera saya untuk tersenyum benar-benar lenyap. Berat sekali.
Padahal, saya begitu terkesan dengan cerpen itu dan ingin sekali membaginya dengan anak-anak. Saya merasa maju-mundur. Jadi tidak? Jadi tidak ya? Berusaha menumbuhkan senyum nyatanya sulit seklai. Ironis sekali seandainya saya bercerita sementara hati saya enggan tersenyum.

Saya kemudian duduk sebentar, mencatat beberapa hal di buku jurnal pelajaran. Saya berusaha membujuk hati.
Ayo…aku harus profesional!
Aku harus profesional!
Berkali-kali saya merapalkan mantra itu untuk membujuk hati saya, membujuk agar menggerakkan bibir melengkungkan senyum. Pelan-pelan saya mulai membangun “keberanian” untuk melawan bete.
Saya jadi bercerita! Seperti biasa, kelas seperti tersihir oleh dongeng atau cerita. Anak-anak kelas 2 memang suka sekali mendegarkan dongeng atau cerita. Saya melihat wajah-wajah penuh ingin tahu. Saya puas.Tapi…ada sedikit ganjalan ketika mendapati beberapa siswa masih ngisruh, hehehe…menyebalkan!
Dengan bercerita, “kekuasaan” sudah bisa saya genggam. Pelajaran berangsur-angsur mulai mengalir. Alhamdulillah…Tentu, selain jurus dongeng, saya juga “mengancam” mereka dengan poin nilai per kelompok. Sudah menjadi karakter kelas 2-yang begitu saya pahami-: selain suka dongeng, mereka selalu bersemangat menyambut kompetisi antar kelompok!

****foto hasil googling***