Sebermula Sudut Baca

giveaway-aku-dan-buku

Sudut baca itu kecil adanya. Hanya ada sebuah rak buku mungil berisi buku-buku anak:  sains,biografi tokoh besar, buku cerita bergambar maupun novel,  buku pengetahuan umum, dan buku agama Islam.  Meskipun seadanya, namun ini adalah langkah kecil kami dalam mewujudkan mimpi membangun perpustakaan.

Mulanya buku-buku itu berada di rak baca  di kamar bersama koleksi buku kami yang lain. Ketika anak-anak les datang, kami keluarkan tumpukan buku-buku itu  begitu saja, namun rasanya tidak efektif. Buku-buku juga berserakan di sana-sini, buku yang selesai atau  yang sedang dibaca. Lalu kami berinisiatif mengeluarkan satu rak berisi buku-buku anak. Anak-anak bebas memilih buku apa  yang mereka inginkan. Tepat sasaran, anak yang mulai keranjingan membaca selalu membawa pulang setiap kali satu buku selesai dibaca.

img-20160324-wa0007

sebelum ada sudut baca

img-20161031-wa0002

sudut baca kami, dari kecil harapannya menjadi sebuah ruang

img-20161031-wa0004 img-20161031-wa0005

20160922_193741

Kami punya mimpi membangun perpustakaan yang tidak hanya berkegiatan membaca namun juga kegiatan seru lain yang memberi asupan gizi bagi otak dan jiwa. Dimulai dari lingkungan terdekat, keluarga, lalu anak-anak yang datang belajar ke rumah, kami perkenalkan budaya  membaca. Karena kampanye membaca saat ini sasaran terdekatnya adalah anak-anak, maka rak buku di ruang depan sementara masih berisi buku anak-anak. Ada dua kelompok belajar di rumah, sore dan malam, yang masing-masing terdiri dari 3 anak.

Bagi kami, melihat 1 dari 3 anak kelompok sore mulai ketagihan membaca itu amat luar biasa. Adanya pojok baca membuat rasa ingin tahu mereka bertambah. Sementara kelompok malam telah terlebih dahulu saya perkenalkan buku lewat tumpukan-tumpukan buku yang kami keluarkan. Dua dari mereka sudah membaca.  Ketika pagi membereskan ruang tamu tempat mereka belajar, sering saya mengecek buku peminjaman. Ada kepuasan tersendiri ketika daftar peminjaman selalu terupdate.

20161110_191941

Kami menyebut pembaca buku perpus mini kami dengan  nama  Klub Buku Janitra. Perpus kecil-kecilan kami beri nama perpustakaan Janitra.   Anak kami, Janitra, adalah anggota klub termuda, sementara mbah kakungnya adalah pembaca buku tertua.  Kebahagiaan tak terkira ketika melihat mbah kakung terjangkiti virus membaca. Beliau selalu terlihat membaca di sela-sela kesibukannya di sawah, berkebun, dan beternak. Mbah kakung punya dunia sendiri saat membaca.

untitled

2

Klub buku Janitra tidak hanya berkegiatan belajar karena tuntutan (les),membaca buku, namun juga berkegiatan lain.  Mengajak mereka memasak, bersepeda, berenang, berkunjung ke perpustakaan kota, ke festival buku, dan touring pernah kami lakukan dan harapannya kegiatan menyenangkan itu akan terus berlangsung.   Yang paling sering kami lakukan adalah bersepeda bersama.  Angan-angan kami kelak ketika mimpi itu terealisasi, perpustakaan itu tidak sekedar ruang baca, namun ruang belajar dalam arti luas.

IMG-20151108-00206

membaca sembari bermain di perpus kota Magelang

IMG-20151108-00213

klub buku Janitra di fesbuk (festival buku) Magelang 2015

20160505_073312

Gowes Klub Buku Janitra

img-20151108-00232

Tour Candi Mendut

Untuk menambah koleksi buku, kami selalu memburu event obral buku yang akhir-akhir ini marak di Magelang.  Berburu giveaway buku juga menjadi hobi saya karena impian itu tentu membutuhkan penambahan buku terus-menerus. Senang ketika saya mendapatkan hadiah buku. Alhamdulillah rejeki buku sering Allah berikan berkat ngeblog maupun mainan instagram dan twitter.  Karena pernah posting foto klub buku Janitra,  saya mendapat kejutan paket buku dari seorang  sohib. Wuihh… buntelan buku selalu menghadirkan rasa yang membuncah. Terima kasih buat teman-teman yang secara langsung mendukung impian kami 🙂

12899716_10205547544680310_131181322_n

2 buku anak hadiah GA Jejak Kaki Misterius

mbah

hadiah dari sohib

“Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku

[Review] Anakku Sehat Tanpa Dokter

20160929_153213

Judul                           : Anakku Sehat Tanpa Dokter

Penulis                        : Sugi Hartati, S.Psi

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   1, April 2013

Tebal                           :  192 halaman

ISBN                           :  978-602-7572-14-0

 

Setiap orang tua pasti mengingkan yang terbaik untuk anak mereka. Lebih-lebih untuk kesehatan. Pun ketika anak mereka sakit, bagaimana cara  menyembuhkan anak secara cepat. Terkadang berapa uang yang mereka keluarkan tak mereka pedulikan. Datang ke dokter terbaik biasanya solusi yang mereka pakai.

Tak hanya itu, orang tua yang memiliki balita atau batita sering kali sudah menyediakan obat ‘bebas’ yang biasa di simpan di rumah untuk menangani penyakit-penyakit yang umum diderita anak, seperti panas, demam, pilek, atau batuk.  Tidak sedikit ibu yang memiliki persediaan antibiotik di rumah sebab obat itu jamak diberikan dokter ketika para ibu datang dengan keluhan anak panas atau demam.

Kepanikan seorang ibu atau ketidaktahuan ibu akan penyakit yang diderita anak, sekalipun ringan, berdampak pada kesalahan penanganan.  Ketika anak panas mereka terburu-buru memberikan antibiotik karena obat itu dikenal ampuh meredakan panas. Atau terburu-buru membawa ke dokter terbaik biasanya dianggap sebagai solusi jitu. Sayangnya, tidak banyak dokter di Indonesia yang memberikan kesempatan kepada pasien atau ibu pasien untuk menelusur latar belakang penyakit. Dalam buku ini diceritakan, misal untuk penyakit panas, pasien akan diberikan oleh antibiotic dan obat pereda sakit yang bersangkutan (misal batuk atau flu). Ketika beberapa hari kemudian  anak belum sembuh, dokter akan meminta pasien datang lagi dan akan diberi obat lagi. Banyak kasus terjadi, pasien terkesan dijadikan kelinci percobaan.

Dokter bukan penemu obat, dokter hanya akan mengaitkan gejala yang diderita pasiennya dengan pengetahuan suatu obat yang didapatnya dari sang penemu obat. Dokter akan memilihkan obat yang lain untuk dicobakan kembali kepada pasien. Jika belum sembuh, maka dokter akan mengganti dengan obat yang lain lagi, demikian seterusnya. (hal. 37)

Antibiotik, yang sering diberikan ke dokter, atau malah disimpan di kotak obat di rumah untuk diberikan kepada anak jika sewaktu-waktu perlu, ternyata memiliki banyak efek. Antibiotik disamping menyembuhkan juga dapat merugikan. Bisa jadi obat yang diberikan kepada anak dalam jangka waktu yang lama tidak menyembuhkan penyakit tetapi justru melemahkan ketahanan tubuhnya. (hal.11).  Pada dasarnya antibiotik hanya efektif membunuh bakteri atau kuman. Jika digunakan pada anak-anak yang menderita demam ataupun sakit lain yang disebabkan oleh virus, maka antibiotik berakibat fatal. Bakteri baik yang semestinya berfungsi membantu tubuh malah ikut terbunuh. (hal. 16). Nah, penyakit yang disebabkan oleh virus tapi diberi antibiotik, tentu tidak tepat sasaran. Dalam buku ini penulis memberikan penjelasan mengenai efek samping dari obat, khususnya antibiotik. Informatif sekali! 😀

Yang paling penting adalah ibu harus tahu latar belakang penyebab penyakit, apakah karena bakteri atau virus agar tepat penangannya.

Jadi, apakah sebaiknya kita tak perlu ke dokter?

Perlu! Tapi janganlah mengunjungi dokter dengan tujuan mencari obat tapi mencari jawaban atas pertanyaan “Anak saya sakit apa? Apa yang menyebabkannya? Bagaimana penyebaran penyakit tersebut sehingga bisa menyerang anak saya?” (hal. 58).  Kita jangan begitu saja menerima apa yang dituliskan dokter dalam resepnya. Sebaiknya kita tahu obat apa saja yang diberikan, cara kerja, efek samping, dan bila perlu harga obat tersebut. (hal. 53)

Meskipun buku ini bukan ditulis oleh dokter atau ahli kesehatan, namun buku ini cukup lengkap memaparkan tentang latar belakang beragam  penyakit yang sering diderita oleh  anak dan penangannya. Buku ini ditulis  berdasarkan pengalaman penulis sebagai ibu dan  dari berbagai pengetahuan kesehatan yang didapat dari berbagai sumber (buku, artikel di internet).

Buku ini lebih menekankan pada pencegahan sebuah penyakit.  Ada fakta bahwa sebenarnya sebagian besar penyakit disebabkan karena makanan yang masuk ke tubuh (hal. 45) jadi  penulis banyak memeberikan tips pencegahan dan penanganan penyakit dengan memberikan makanan yang tepat.  Apa saja makanan yang sehat dan tidak sehat untuk anak dijabarkan lengkap oleh penulis. Buku ini dilengkapi dengan menu-menu makanan sehat, baik buah sebagai food therapy maupun menu makanan penunjang. Komplet! Selain menu makanan, pelengkap yang lain dari buku ini adalah akupresur (teknik pemijatan dengan menggunakan jari-jari tangan pada titi-titik tertentu pada tubuh) menyehatkan bagi anak. Ada manfaat, cara, dan foto yang menyertai bab akupresur.

Buku ini sangat memadai untuk dimiliki para ibu. Sebagai ibu yang memiliki balita, saya seperti dikuatkan oleh penulis.  Bahwa menghadapi anak yang sakit kita tak perlu panik dan khawatir berlebihan.  Penyakit pasti berlalu, tanpa obat tanpa dokter, bisa!

 

Resensi ini diikutsertakan pada campaign #AkuCintaBuku bersama Stiletto Book  dan Riawani Elyta 

 

 

[Review] Broken Vow

Judul                           : Broken Vow

Penulis                        : Yuris Afrizal.

Penerbit                      :  Stiletto Book

Cetakan                      :   Januari 2016

Tebal                           :  271 hlm.

ISBN                           : 978-602-7572-41-6

 

 13052440_10205794354250395_1122596870_o

Amara, Nadya, dan Irena adalah tiga sahabat dengan karir mapan. Mereka berkumpul dalam pesta pernikahan Nadya. Nadya menikah hanya untuk memenuhi tuntutan orang tua dan pertanyaan-pertanyaan yang menganggunya. Ia menikah secara terpaksa, dengan sahabat yang dimintanya menjadi suami. Dion seorang fotografer yang menanjak karirnya begitu mencintai Nadya meskipun ia tahu Nadya belum mencintai dirinya.

Nadya  pernah menjalin hubungan dengan Leo namun tanpa kejelasan status setelah Leo memutuskan bekerja di Prancis. Ada kerinduan terhadap sosok Leo. Hal ini menimbulkan konflik batin dalam dirinya. Pernikahan yang pada awalnya dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah dengan orang tua, malah membuat ia stress.

“Atau mungkin aku tambah stress? Menikah sama sekali tidak membantu mengurangi stressku ini. Mungkin karena aku menikah bukan dengan seseorang yang aku mau, bukan dengan orang yang aku inginkan, dan bukan dengan orang yang aku cintai.” (hal.42)

Tanpa rencana, Nadya hamil. Ia  mulai membenci situasi tersebut, kerap  menyesali pernikahan dan kehamilannya.  Beberapa kali konflik hati tersebut menyulut perang mulut dengan Dion.

Semakin besar kehamilannya, diam-diam Nadya mulai menerima sosok Dion. Begitupun Dion secara rahasia  menyiapkan apartemen yang lebih luas untuk Nadya dan calon bayinya. Namun di hari ketika Dion memberi kejutan apartemen tersebut, Leo kembali. Ia meminta bertemu dengan Nadya,  merengek-rengek memohon  kembali padanya. Adegan yang dipaksakan oleh Leo di depan apartemen Dion membuat Dion salah sangka.

Kata cerai tercetus dari mulut Dion karena kejadian yang hanya sepotong dilihatnya.  Nadya hanya menunggu waktu hingga kelahiran bayinya tiba untuk menjadi seorang janda.

Sementara itu pernikahan Nadya membuat Amara mengingat awal perkenalannya dengan Nathan Adiwinata, seorang Don Juan, putra pemilik kerajaan bisnis nomer lima di Indonesia. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama pada pesta tahun baru di sebuah hotel berbintang.  Nathan memandang Amara berbeda dengan perempuan-perempuan yang dikenalnya. Hanya Amara yang berani menolak ajakannya. Nathan pun melabuhkan cintanya pada Amara.

“Ibu Nathan, sang nyonya besar merasa aku telah mengubah Nathan, membuatnya menjadi anak baik-baik. Nathan  yang suka main wanita, Nathan yang sering mabuk, dan Nathan yang suka menghambur-hamburkan uang. Katanya, saat denganku Nathan berubah. Sejak bertemu denganku, dia menjadi berbeda dan begitu patuh pada orangtuanya.” (hal. 25)

Kebahagiaan Amara bersanding dengan Don Juan tidak lama. Bukti-bukti mengarah pada perselingkuhan Nathan. Amara memiliki Irene dan Nadya sebagai sebagai sahabat berbagi cerita, namun ia ragu untuk menceritakan masalahnya. Takut hanya akan ditertawakan, Amara memilih Xanax, obat yang bisa mengurangi rasa sakit sebagai penawar penderitaannya.

“Aku butuh sahabat-sahabatku. Tapi rasa gengsiku mengalahkan semuanya. Aku terlalu malu menghubugi mereka. Aku tidak mau ada belas kasihan dari siapapun.” (hal. 201).

Tak kalah rumitnya masalah yang menimpa Irena, si superwoman yang memiliki karir menanjak sekaligus menjadi ibu rumah tangga.  Lelah dengan peran yang dilakoni dan melihat anak-anaknya tidak terurus membuat Irena memutuskan berhenti berkerja untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. Saat Irena mengutarakan rencananya untuk berhenti bekerja, Juna, suaminya justru mencegahnya. Keanehan mulai dirasakan ketika Juna kerap berada di rumah dan sikapnya mulai emosional.

Kekerasan demi kekerasan menimpa Irena. Belakangan diketahui bahwa Juna dipecat dari bank tempatnya bekerja karena korupsi. Dalang semuanya adalah  Arlan, adik Juna yang selalu merusuhi  keuangan keluarga Irena.

Kondisi ini membuat keluarga Irena berantakan. KDRT yang dialami Irena membuat sahabat-sahabatnya berpikiran bahwa sudah saatnya Irena mengakhiri rantai kekerasan itu. Namun, titik ini justru membuat hubungan ketiganya retak. Semua masukan dari sahabatnya membuat Irena malah balik menyerang mereka berdua, mencerca  dengan masalah-masalah yang dialami masing-masing sahabatnya.

Kompleks. Novel ini mengetengahkan masalah-masalah yang jamak dialami perempuan di dunia pernikahan.  Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama masing-masing tokoh, pembaca bisa menyelami dunia batin dan perasaan masing-masing tokoh.  Penggunaan bahasa  lugas yang digunakan penulis membuat pembaca larut dalam alur kompleks yang dijalin. Perpindahan peristiwa dan sudut pandang antar tokoh tetap membuat jalinan alur mengalir natural.  Dari dialog dan deskripsi perasaan masing-masing tokoh, pembaca dengan mudah mendapatkan gambaran karakter tokoh. Perpaduan antara penokohan dan setting yang dibangun cukup jelas menggambarkan dari kelas sosial mana ketiga perempuan dalam novel itu.  Kehidupan yang dipaparkan penulis dalam novel itu merupakan representasi kehidupan para perempuan papan atas, termasuk kehidupan selebriti.

Tidak ada gading yang tak retak, begitu pula dalam sebuah pernikahan dan persahabatan. Segala lika-liku serta rasa iri  diam-diam mewarnai hubungan tersebut.

“Kenapa lagi dia? Hidupnya yang paling enak di antara kami. Punya suami yang luar biasa kaya dan tampan, kurang apa coba? Tak ada lagi yang perlu dia keluhkan. (hal.51)

“Jadi siapa bilang hidupku enak? Siapa bilang hidupku sempurna? Pernikahanku sudah tak memiliki wujud lagi. Bolehkah aku iri pada kedua sahabatku? Mereka hidup seperti manusia normal lainnya. Menikah dengan orang-orang biasa pada umumnya. (hal.88)

“Aku melihat mata seseorang yang merindu, seseorang yang begitu mencinta. Aku menelan ludahku. Dalam keadaan hamil oleh laki-laki lain, Nadya masih dicintai Leo. Bolehkah aku iri?” (hal. 231)

Tiga sahabat ini berhasil melewati semua proses yang pada akhirnya membebaskan hati dari belenggu konflik.  Memilih untuk bahagia, adalah satu hal penting yang disampaikan novel ini. Pilihan hidup yang diambil oleh perempuan-perempuan dalam novel  ini mencerminkan mereka perempuan kuat dan mandiri.

“Tak ada hidup yang sempurna. Hidup itu pilihan, begitu juga dengan kebahagiaan.” (hal.270)

 

Tulisan ini diikutkan dalam Broken Vow Book Review 

BV BookReview