[Gowes #6] Jelajah Museum BPK RI

Ini salah satu cara mengisi liburan di rumah, ngeblog menuliskan catatan perjalanan yang sekian waktu tertunda. Mengubek-ubek foto lama yang tersimpan. Gowes ini sudah lama sekali,sekitar setahunan silam ketika club buku Janitra masih suka ngumpul melakukan kegiatan bersama.

Dimulai dari Tegalsari, kami menyusuri sungai hingga Kebonpolo, menyebrang hingga rindam. Di rindam berhenti sejenak menikmati car free day dari atas jembatan plengkung.

IMG_20170723_083413

IMG-20170728-WA0029

Jenak mengambil jeda kami lanjutkan perjalanan menyusuri dusun Boton dan sampailah di Museum BPK RI.

Museum BPK RI yang kami kunjungi kini berbeda jauh dengan musem yang terakhir saya kunjungi sendiri bertahun-tahun silam, sekitar 2008-an. Museum yang berlokasi di Kompleks Karisidenan Kedu, Jl. Diponegoro No.1 Magelang, Jawa Tengah ini sejak 2016 memperhatikan tren museum post-modern. Punya tagline “BPK Pengawal Harta Negara” museum ini awalnya merupakan kantor BPK RI.

IMG_20170723_091051

Merunut sejarah, penempatan kantor BPK RI di Magelang bukan tanpa alasan. Pasca proklamasi, kondisi ibu kota Jakarta tidak kondusif sehingga pada awal 1946 memindahkan pusat pemerintahan ke Yogyakarta. Kantor-kantor kementrian/lembaga pun tersebar di sekitar Yogyakarta. Magelang dipilih sebagai kantor BPK RI. Awalnya, kantor bertempat di perusahaan listrik umum Hindia Belanda, kemudian berpindah ke Gedung Bea Cukai Maglang dan berlanjut di Kompleks Karisidenan Kedu terakhir pindah ke Gedung Klooster.

Museum BPK diresmikan pada 4 Desember 1997. Dari tahun ke tahun museum mengalami perluasan hingga kini berpenampilan modern. Pengelola museum adalah Unit Pekaksana Teknis (UPT) Museum BPK dengan kepala museum pejabat eselon IV. Pengelolanya berada di bawah Biro Humas dan Kerjasama Internasional BPK.

Ruangan-ruangan BPK RI memiliki penamaan tersendiri. Dimulai dari lobi sebagai pintu masuk lanjut ke Ruang Audio Visual, Ruang Wajah BPK, Ruang Titik Nol, Ruang BPK, Ruang Rekam Jejak serta terdapat Kids Museum, ruang perpustakaan, storage dan konservasi, ruang temporary exhibition, toko suvenir, kafetaria, dan paling ujung adalah kantor pengawai penglola museum.

Bagaimana rupa dalamnya? Pengunjung akan dibuat berdecak kagum dengan konten museum yang edukatif, tertata rapi,  dan apik. Para penggemar selfi akan menemukan spot-spot yang indah untuk berfoto. Yuk kita intip isi dalamnya…

IMG_20170723_091741

ruang lobi

IMG_20170723_092023

dwi tunggal di balik berdirinya BPK

 

IMG_20170723_091947

filosofi tugas BPK yang digambarkan dalam lukisan batik

IMG_20170723_092831

Ruang wajah BPK RI menampilkan profil BPK dengan visualisasi desain panel yang interaktif, mudah dimengerti, dan paritisipatif.

IMG_20170723_092509

IMG_20170723_092906

dalam Ruang Wajah BPK pengunjung bisa belajar sembil bermain

IMG_20170723_093211

Ruang Titik Nol menampilkan perjalanan sejarah BPK dari titik awal

IMG_20170723_093414

IMG_20170723_094027

ruang BPK berisi profil badan berdasarkan periodisasi

IMG_20170723_093921

IMG_20170723_094513

IMG_20170723_094555

Ruang Rekam jejak menampilkan pengaruh hasil pemeriksaan BPK bagi pengelolaan dan tanggung jawab keuangan. Kliping surat kabar tertata apik

IMG_20170723_094636

a bpk 2

a bpk 1

Kids Museum diusung ringan, edukatif, dan menyenangkan bagi anak. Selain konten visual ada konten audio visual lewat film animasi

IMG_20170723_095540

 

IMG_20170723_102506

 

IMG_20170723_101733

perpustakaan yang tak kalah menyenangkan

IMG_20170723_094935IMG_20170723_093037IMG_20170723_094238

Nah, menyenangkan bukan jelajah di museum BPK RI. Pengunjung mendapatkan banyak ilmu tanpa dipungut biaya sepeser pun sebab tidak ada tiket masuk menuju museum.

IMG_20170723_113124

Puas belajar sembari bermain, kami pun melanjutkan perjalanan menuju alun-alun kota kemudian pulang. Hati riang dan badan sehat.

 

 

 

 

 

 

Gowes #5: Melintasi Jembatan ‘Imigrasi’ Kabupaten—Kota Magelang

Sebagai referensi tempat-tempat menarik di sekitar, saya suka stalking IG yang memajang tempat-tempat wisata. Dari IG Magelang misalnya, ada jembatan gantung yang kelihatan apik di foto. Maka, kami merencanakan gowes rute ke sana.

Waktu itu senin pagi, bertetapan dengan hari Maulud Nabi, 13 Desember 2016  dari Tegalsari Jambewangi Secang sepeda kami kayuh menuju Mbugel kemudian Klontong. Dua dusun itu masih berada di desa yang sama dengan tempat tinggal kami. Sepeda mulai masuk kota ketika memasuki kawasan perumahan Depkes. Jembatan sudah dekat tatkala daerah Ngembik Kramat Selatan, Kota Magelang.

 

img-20161218-wa0003-1

img-20161218-wa0002

 

Sampailah di jembatan itu.  Jembatan yang panjangnya sekitar 100 meter dengan lebar 1,5 meter itu ternyata rame dilintasi penduduk dari dua desa di sekitar.   Tinggi jembatan dari permukaan sekitar 20 meter. Kebayang kan tingginya?

Untuk menyebrang, kami harus bergantian sesuai kuota yang ditulis di ujung jembatan. Kuota itu tentu saja untuk menjaga keselamatan pelintas. Ada kejadian di bulan November 2011 yang menelan korban jiwa dan kendaraan ketika jembatan itu putus.

Ada sensasi tersendiri ketika melintasi. Ketika berpapasan, saya harus menunggu yang lain lewat duluan. Goyangannya itu… serong kanan serong kiri. Menyebrang kali Progo di atas jembatan  sepanjang itu  merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sebelumnya, saya hanya pernah menyebrang jembatan kali Manggis yang panjangnya kira-kira sepertiganya.

Sampai di seberang, yang berarti saya telah sampai di Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, saya merasa terkejut mendapati ternyata ada pos. Yang terlintas di benak adalah pengalaman Agustinus Wibowo ketika melintasi batas negara.’ Kantor’ imigrasi seadanya yang dijaga oleh tentara. Hihihi…jauh banget yang ngebayanginnya.  Pos itu dijaga seorang petugas.

img-20161218-wa0008-1

img-20161218-wa0001

Para penduduk yang melintas dikenai biaya untuk kas perawatan jembatan. Mereka adalah penduduk sekitar yang melintas dari kabupaten ke kota Magelang atau sebaliknya.

 

“Satu orang lima juta rupiah,” kata lelaki necis tinggi besar itu kepada saya. Ahahaha, memang bapak lima anak itu penuh humor. Maka, saya bayarkan 1500 rupiah untuk saya, Janitra, dan bapaknya. Kami tak langsung meninggalkan tempat itu. Menyempatkan diri ngobrol dengan bapak di sela-sela membuka tutup plang , saya mendapatkan semangat pada dirinya.

“Saya ini, nggak bisa ngaji. Nggak mau anak-anak saya seperti saya makanya saya saya masukan anak saya ke pesantren.”

img-20161218-wa0010

Sambil istirahat, kami melihat-lihat susanan berkeliling. Sungai Progo di bawah jembatan nyatanya memang apik. Beberapa anak terlihat bermain di tepi sungai yang berbatu kecil-kecil,semacam pantai yang berkerikil berpasir hitam.  Matahari pagi menimbulkan kilau pada air sungai.

img-20161218-wa0006

Puas menikmati Progo, kami lanjutkan perjalanan.    Karena memang pengalaman pertama menyusuri daerah itu, kami main blusukan saja. Mengandalkan plang  petunjuk atau bertanya penduduk sekitar adakalanya kami kesasar.  Tapi, pengalaman blusukan dan kesasar itu menjadi seni tersendiri ketika gowes. Kalau nggak paknda Janitra, bukan blusukan namanya, kata suami suatu ketika saat saya protes karena melintasi gang yang sempit.

img-20161213-wa0035

Ada pengalaman mentok ketika kami mencari penyebrangan Progo menuju   Mbugel, Kec. Secang Kab Magelang   . Menyusuri kebun sawah, ternyata kami bertemu jalan buntu di sawah. Untunglah ada seorang kakek  baik hati yang mengantar kami dan menunjukkan jalan. Berbalik dari sawah kami kemudian memasuki dusun.

Kakek mengajak kami melintasi rumah-rumah penduduk dan menuju papringan lanjut ke sawah di belakang kampung.  Kakek itu menunjukkan agar kami melintasi sawah  lalu menyusuri kali. Blusukan kebun lagi, kami akhirnya sampai di tepi kali Progo. Terus saja kami melintasi kali sesuai petunjuk, akhirnya kami sampai di anak Sungai Progo yang kecil.

img-20161213-wa0029

img-20161213-wa0032

img-20161213-wa0031

Tak ada jembatan di kali itu. My trip my adventure. Kami harus turun kali dan menyebrang bersama sepeda kami. Terlebih dahulu saya dan Janitra yang menyebrang. Secara bergantian paknda Janitra menyebrangkan sepeda kami. Wah…seru….

img-20161213-wa0017

img-20161213-wa0026

img-20161213-wa0021

img-20161213-wa0024

Sejenak Janitra bermain di kali. Anak-anak ketika bertemu air tidak afdol kalau tidak bermain. Mentas dari kali, saya melihat beberapa tumbuhan yang menarik untuk dikenalkan kepada anak. Belajar di alam, saya perkenalkan tumbuhan putri malu yang di mata anak-anak pasti mengasyikan ketika menyentuhnya.

Menyusuri sawah lagi, sampailah kami di jalan bercor. Sepeda kami kayuh, akhirnya tiba di jembatan gantung lagi.  Goyang lagi, kali ini tidak seseru di  Jembatan Kramat. Tak ada petugas di sana. Pos penjagaan tanpa penghuni. Dari jembatan, sudah terlihat kawasan pemecah batu.

img-20161213-wa0018

img-20161213-wa0019

Masuk ke Kelurahan Jambewangi lagi, dusun yang kami lewat adalah Mbugel kemudian masuk komplek Armed lanjut Sambung. Menyebrang jalan raya Yogya-Semarang, melewati perumahan sampailah kami di rumah lagi.

Pengalaman yang seru. Moment Maulud Nabi membuat trip gowes kami tambah berkesan. Perjalanan kami diringi syair syair khas Maulud Nabi yang bergema dari desa ke desa.

[Diari Janitra] Gowes #4: Wah, Bocor…Bocor!

Cuaca sore tadi cenderung mendung, namun tekad kami untuk gowes tak terpengaruh kelabu. Untuk berjaga-jaga, kami membawa 1 jas hujan untuk Janitra. Bapak ibuk hujan-hujanan saja bila hujan.

Pukul 4 sore kami berangkat. Dari Tegalsari, sepeda kami kayuh menuju SMU 5 Magelang. Dari sekolah yang mengedepankan bidang olahraga itu, kami melaju masuk Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeroyo. Keluar RSJ, sepeda melaju memasuki Armada Estate lalu Perumahan Depkes. Rute ini sama dengan rute menuju rumah pada gowes #2.

Yang berbeda dari rute gowes #2, dari Perumahan Depkes kami berbelok ke Gintung, Jambewangi, Secang. Gowes kali ini buat saya punya progres yang berarti. Selain saya menaikkan beberapa senti sedel sepeda, 3 kali tanjakan bisa saya lewati.

Di salah satu tanjakan, sayup-sayup saya dengar Janitra berseru, ” ibuk kuat…. ibuk kuat….!” Hehehe, biasanya di puncak tanjakan saya akan berteriak, Yeee… ibuk menang!

Gintung terlewati berikutnya adalah Armed Naga Pakca Sambung. Masuk Armed, dari belakang bapak berseru, “bocor… bocor…!”

Yaa…ban depan bocor! Terakhir, ban belakang bocor dan telah diganti. Kini giliran ban depan minta ganti.  Ya sudahlah, sepeda kami tuntun. Saya juga ikutan jalan kaki deh. Untung sudah sampai Armed, sudah tidak jauh dari rumah.

IMG-20160115-00303

IMG-20160115-00305

Beberapa langkah kami berjalan, terdengar suara terompet. ” Jam 5!” kata bapak. Terompet itu penanda waktu.  Waw, berarti sudah 1 jam kami mengayuh sepeda.
IMG-20160115-00307
Keluar Armed Sambung, kami menyebarang Jalan Raya Secang, melewati POM bensin, warung Jadul, masuk perumahan Sambung, menysuri beberapa petak sawah, menyebrang kali, sampai deh di rumah.

Gowes ini  kami agendakan dua kali dalam sepekan. Kami bertekad menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga dan pilihan olahraga kami adalah bersepeda 😀

 

 

#diariJanitra_3,5tahun

[Diari Janitra] Gowes #3: Menyusuri Secang Barat

Masih mbolang dari desa ke desa menjelajah Secang, Ahad kemarin kami menjelajah Secang bagian barat, menyusuri dusun, jalan setapak, kali, menyebrang sungai, dan sawah.

Saya baru pulang dari mabit sekolah tanpa istirahat tapi semangat untuk gowes menyingkirkan lelah.  Pukul setengah delapan lebih kami keluar dari Tegalsari menuju Mbugel kemudian menyusuri Kalibening. Ekspektasi saya bisa melihat Kalibening dengan kebeningan yang masih orisinil. Nyatanya, kebeningannya tidak sama dengan pertama kali saya melihat dan takjub karena beningnya. Masih bening tapi tidak sejernih dulu. Ingin mengambil fotonya, namun tidak sampai hati sebab sungai dipenuhi orang. Ada yang mandi dan mencuci. Di satu titik ada bagian yang ‘dikomersilkan’ untuk berenang. Tempat renang itu dilengkapi dengan penyewaan ban. Titik itu tentu saja penuh dengan bocah-bocah bertelanjang dada. Di belakang mereka, waterboom yang terbelengkelai kalah oleh kali yang lebih memberikan keceriaan bagi anak-anak.

Dari Kalibening, melewati SMP 3 Secang, kami melaju hingga tiba di tepi Sungai Progo. Di sekitar sungai, tampak beberapa terpal didirikan sebagai tempat mata pencarian penduduk sekitar. Tampak para lelaki dan perempuan pemecah batu sedang bekerja, mengurai batu besar menjadi kricak, batu kecil-kecil material bangunan.

Di jembatan Trinil menuju Windusari, kami berhenti sejenak. Inginnya saya menikmati sungai, mentadaburi ciptaan Allah, ciee, namun Janitra agaknya takut melihat dan mendengar arus sungai.

IMG-20160110-00284

IMG-20160110-00287

IMG-20160110-00285

Perjalanan pun kami lanjutkan. Kami berbelok menuju Selote. Diturunan, Janitra dan bapak melaju cepat. Mereka sudah terlihat kecil.

IMG-20160110-00289

Spot di tempat ini sayang dilewatkan, maka saya minta jeda. Nah, karena Janitra masih takut dengan sungai–biasanya melihat kali kecil tidak sebesari ini– ia malah minta gendong waktu kami turun dari sepeda, hehe. Kasihan bapak harus  gendong.

IMG-20160110-00294

IMG-20160110-00291

IMG-20160110-00296

Lanjut lagi. Janitra sudah mau naik sepeda. Menyusuri Selote dengan rute yang menanjak, kami harus berkali-kali turun menuntun sepeda.  Asyiknya menyusuri desa kami bisa cuci mata melihat lukisan alam yang hijau di sana-sini, namun saya harus rela ngos-ngosan melewati rute menanjak. Ada yang esktrim turun naik, ada pula tanjakan yang tak begitu tinggi kemiringannya namun lebih panjang.

Dari Selote, kami kembali menyusuri sungai. Nyaman sekali mengayuh di atas jalan setapak di tepi kali.

IMG-20160110-00298

Rute terasa berat dengan tanjakan yang kami temui menjelajah Ngadirejo, Geduang, Kaligeleh lalu senyum melebar saat memasuki Karangboyo, Payaman. Sudah sampai di tepi jalan raya lagi. Artinya sudah dekat dengan rumah. Dari Karangboyo kami menyebrang jalan raya melewati pasar Payaman, menyebrang jembatan Semanggi, masuk Sidorejo dan sampailah di depan rumah Tegalsari! Mengecek jam,  90an menit kami mengayuh sepeda di bawah terang matahari.

Alhamdulillah. Gowes kemarin saya dibuat takjub. Selain mendapati alam Nusantara yang ijo royo-royo, saya terheran-heran dengan rute tak terduga yang dipilih paknda Janitra. Rute baru baginya dan tentu bagi Janitra dan saya itu sepertinya semakin jauh mengayuh semakin menjauh dari  rumah. Ternyata,dari Ngadirejo kami mengayuh berputar dan tak terasa semakin mendekati desa kami. Bapak Janitra selalu bilang,” tenang saja, tahu-tahu nanti sampai depan rumah.” 😀

#diariJanitra_3,5tahun

 

 

 

 

[Diari Janitra]Gowes #2: Dari Tepi Kalibening hingga Kota Magelang

Baru pulang kerja belum sampai rumah, satu sms dari paknda Janitra sudah masuk: “Hari yang cerah untuk pit-pitan”. Maka saya pun bergegas. Begitu tiba di rumah, ganti baju langsung berangkat. Kring…kring.. gowes… gowes.

Sore tadi Janitra yang masih duduk di boncengan bapak menyusuri Secang bagian utara, tepatnya masih kelurahan Jambewangi. Dari rumah Tegalsari, kami masuk Armed Sambung, selanjutnya masuk dusun Mbugel. Keberanian saya teruji ketika menuruni jalan-jalan berlubang dengan tebaran kerikil. Ah, saya ragu, maka saya memilih menuntun sepeda. Ngeri melihat tebaran kerikil, air yang menggenang, dan bopeng di sana-sini. Jalan itu memang sering dilewati truk bermuatan karena tak jauh dari nGugel terdapat lokasi pemecahan batu-batu split untuk bangunan. Lokasi berada di tengah-tengah persawahan.

Ini Pengalaman baru buat Janitra. Setelah menukik di turunan, lepas dari jalanan berlubang, jalan setapak tepi kali sungguh enak dilewati. Kalibening yang tak lagi bening, kami susuri. Tentu saja ini bukan Kalibening yang biasa sebagai tempat pemandian. Kali yang kami susuri ini aliran Kalibening dari kali yang sumbernya masih bening. Kalibening yang berada di daerah “Kalibening yang itu” airnya belum tercemar. Makin jauh mengalir, alirannya makin keruh. Meski begitu, kami mendapat beberapa orang yang memanfaatnya airnya untuk mencuci bahkan mandi.

Pemandangan yang menyegarkan sore itu memanjakan kami. Mata disuguhi dengan persawahan berlatar gunung Sumbing Sindoro.

Image5961

Image5962

Image5963

Menyusuri Kalibening, kami kemudian memasuki Kota Magelang. Perumahan depkes menjadi daerah yang pertama kami susuri.

 

Keluar dari perumahan depkes, Armada Estate menjadi rute selanjutnya. Perumahan itu terbilang asri. Pepohonan menaungi kami sepanjang perjalanan yang terbilang singkat.

Image5970

Keluar dari Armada Estate, istirahat sejenak di Milky Moo dulu. Masing-masing dari kami memilih varian susu yang berbeda.

Image5971

Kami tak lama sebab  minuman itu kami bawa pulang. Berikutnya adalah menyusuri bagian depan Rumah Sakit Jiwa  Dr. Soeroyo, rumah sakit jiwa terbesar di Indonesia. Tempat yang beberapa bangunannya masih klasik itu terbilang teduh.

Image5976

Dari RSJ kami masuk daerah Secang lagi melewati Pagiren. Lokasi SMU 5 Magelang sudah kerap kami lalui setiap kali gowes.

Lagi-lagi menyusuri sungai lagi, Kali Manggis, sampai deh di rumah. Saatnya menikmati Milky Moo yang masih hangat. Segar rasanya, susu tersebut manisnya pas sebab tanpa pemanis buatan. Strawberi yogurt yang dipilih Janitra ternyata yang paling mantab dibanging tiramisu dan green tea yang dipilih bapak ibuk :D.

Image5979

 

#diariJanitra_3,5tahun